The Promise: 2. Shira

There are fixed points throughout time where things must stay exactly the way they are. This is not one of them. This is an opportunity! Whatever happens here will create its own timeline, its own reality, a temporal tipping point. The future revolves around you, here, now, so do good!—The 11th Doctor.

“Ares marah banget ya?” tanya Danu pelan setelah Ares menghilang di ujung lorong. Saat istirahat memang pemuda itu mengatakan bahwa dia tidak bisa pulang bersama mereka karena ia harus mengikuti kursus di dekat rumahnya. Danu hanya bisa menatap kepergian temannya sambil mengelus-ngelus puncak kepala yang tadi dijitak oleh Ares.

“Buruan minta maaf gih! Jangankan Ares, gua aja malu punya temen kaya lu!” ujar Bima dingin yang langsung membuat Danu menundukkan kepalanya dengan muram.

“Ra, emang si Chelsy penting bagent ya, sampe gua tiba-tiba dimusuhin dua temen gua kayak gitu?” gerutu Danu mencari pembelaan. Shira yang ditanya langsung menghela nafas panjang dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Gua tetep mau jadi temennya Chely, dan karena itu lu harus perbaiki dulu tuh otak lu, klo nggak, gua juga gak bakal mau jadi temen lu lagi!” tandas Shira final yang akhirnya membuat Danu menggangguk kalah. Bagaimanapun juga Shira juga tahun kalau Danu sebenarnya bukan orang jahat, tapi tetap saja kalau candaan pemuda itu sudah mencapai tingkat keterlaluan, mau tak mau mereka sbagai teman-temannya harus tegas memberi pelajaran yang dapat meluruskannya. Tapi Chelsy sendiri juga menarik.

Tidak satupun dari dia atau teman-temannya pernah ditempatkan di kelas yang sama dengan gadis itu di kelas sepuluh atau sebelas, dan kebanyakan orang-orang yang pernah sekelas dengannya selalu memiliki pandangan yang sama tentang gadis itu. Gadis itu suram dan tidak pernah punya teman.

Hal inilah yang membuat Shira cukup penasaran dengan Chelsy. Dia ingin mencoba menjalin pertemanan dengannya. Manusia itu mahluk sosial. Mereka membutuhkan manusia lain untuk bertahan hidup, dan Shira yakin Chelsy tidak dapat dikecualikan dalam kasus ini.

Di satu sisi, Shira ingin berteman dengan gadis itu karena Shira sendiri tidak pernah punya teman dekat wanita—dikarenakan kedekatannya dengan Ares yang merupakan sahabatnya dari kecil. Chelsy pun dikabarkan tidak pernah memiliki teman. Kalau gadis itu tidak mempermasalahkan persahabatannya dengan Ares, gadis itu jelas bisa menjadi salah satu kandidat terbaik untuk menjadi sahabatnya. Shira sudah jengah memiliki teman-teman yang hanya berjenis kelamin laki-laki. Terutama teman laki-laki macam Danu dengan sikap menyebalkannya tadi pagi. Di sisi lain, saat melihat Chelsy masuk ke kelas mereka tadi pagi, mau tak mau sebuah ide cemerlang muncul di kepalanya, dan ia yakin jika ia berhasil berteman dengan Chelsy, ide itu tidak sulit untuk direalisasikan.

“Kau terlihat bahagia ...” bisikan Bima langsung menyentakkan Shira dari fantasinya. Mereka sudah berpacaran selama hampir delapan bulan, dan selama delapan bulan itu, Bima selalu berhasil mengembalikannya dengan cepat ke dunia nyata. Siapa pula yang mau berlama-lama di dunia fantasi jika di dunia nyata pacar seperti Bima selalu setia menunggu.

“Bima, kamu tau gak cara terbaik untuk ngedeketin Chelsy gimana?” tanyanya spontan, yang langsung dihadiahi Bima dengan usapan lembut di kepalanya. Salah satu kebiasan Bima yang paling Shira sukai.

“Kau dapat ide untuk proyek gelapmu ya? Kau tahu kalau idemu ini tidak berjalan dengan baik, Chelsy bukannya menjadi temanmu tapi bakal jadi musuhmu, kan?” tanya Bima yang langsung membuat Shira tersenyum.

“Kalaupun Chelsy nantinya jadi musuhku, kau tetap akan menolongku dengan ide gila ini kan?” tanyanya sambil menatap kedua mata Bima lekat-lekat yang langsung membuat Bima tertawa.

“Kau putusin pun aku pasti bakal menolongmu!” ujar pemuda itu disela tawanya. Shira dapat merasakan usapan lembut di puncak kepalanya menjadi sedikit kasar. Senyum di wajahnya langsung menghilang.

“Rambutku berantakan!” gerutunya sebal. Bima hanya tertawa sebelum kemudian berhenti mengacak rambutnya dan kini mencubit kedua pipinya.

“Kau putusin pun aku bakal tetep ngacak rambutmu!” ujar Bima sebelum menjulurkan lidah dan kemudian menjatuhkan sebuah kecupan singkat di pipi Shira sebelum kemudian berlari kecil mengejar Danu. Shira dapat merasakan kedua pipinya memerah.

“Heh! Siapa yang bakal putus denganmu, hah?” serunya lantang yang hanya disambut oleh gelak tawa Bima yang sudah berhasil menyusul Danu dan kini berjalan pergi sambil merangkul pemuda itu. Shira mau tak mau ikut berlari kecil menyusul keduanya.

“Kalian berdua menyebalkan!” tandas Danu sebal yang kini berdiri di antara Shira dan Bima. Shira hanya bisa tertawa mendengarnya. Besok dia pasti akan berhasil menjadikan Chelsy sebagai temannya. Ia yakin dengan hal itu.

ù

“Gua harus ngejitak pala lu tiga kali, dan abis itu lu harus minta maaf ama Chelsy!” perkataan Ares yang dilontarkannya pada Danu langsung menyambut Shira begitu ia memasuki kelas. Wajah Ares yang tampak datar memberi tahu Shira bahwa permintaan Ares barusan adalah sesuatu yang sudah dipikirkannya semalaman dan sudah menjadi keputusan finalnya. Shira tahu bahwa Ares pasti sudah memaafkan Danu pagi ini, tapi dia juga sudah memutuskan memukul kepala Danu tiga kali dan memaksa pemuda itu minta maaf pada Chelsy. Entah apa yang terjadi setelah pulang sekolah kemarin tapi hal itu jelas sudah membuat sahabat kecilnya itu jadi orang yang cukup menyebalkan pagi ini.

“Huah, mood-mu jelek banget!” serunya pada Ares seraya berjalan ke tempat duduk. Bima yang sudah duduk di bangku sebelah langsung tersenyum dan mengacak rambutnya begitu ia duduk. Menyebalkan, tapi Shira tetap menyayangi pemuda menyebalkan itu.

“Ra, tolongin gua dong, masa si Ares mo mukul kepala gua?” rengek Danu tepat ketika pukulan pertama Ares jatuh ke puncak kepalanya. Tidak keras memang, dan Shira yakin pukulan Ares sama sekali tidak sakit, tapi tetap saja tindakan itu menyebalkan. Ares bahkan benar-benar memukul kepala Danu tiga kali. Shira jadi penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada sahabat kecilnya itu kemarin.

“Sudah puas?” tanya gadis itu akhirnya ketika Ares mengambil tempat duduknya yang juga berada di samping bangku Shira. Terang-terangan tidak menghiraukan gerutuan protes Danu yang mencak-mencak terhadap perlakuan Ares tadi.

“Belum” jawab Ares singkat yang rasanya ingin membuat Shira tertawa.

“Lu mau cerita?” tanya gadis itu lagi yang kali ini hanya dijawab dengan gelengan kepala dari pemuda itu. Shira hanya tersenyum melihat gelagat sahabatnya itu. Jika dia belum yakin sebelumnya, sekarang dia sudah benar-benar yakin kalau masalah Ares pasti ada hubungannya dengan cewek. Ares hanya tidak mau menceritakan permasalahannya dengan Shira jika permasalahan itu ada sangkut pautnya dengan gadis yang menarik perhatiannya.

Shira tahu bahwa cepat atau lambat dia pasti akan berhasil mendapatkan detil cerita hal yang menjadi permasalahan Ares, tapi Shira tidak mau menggalinya sekarang. Sekarang Shira ingin menjalankan misi untuk mendapatkan teman wanita pertamanya dan Chelsy baru saja memasuki kelas mereka.

“Hai, nama gua Shira, lu Chelsy, kan?” tepat seperti janjinya, begitu Chelsy duduk dibangkunya, Shira langsung mendatangi bangku gadis itu dan memperkenalkan dirinya. Bima tampak berdiri di sampingnya dan Danu--dengan membuang muka--tampak berdiri di belakang Bima. Shira dapat menangkap tatapan aneh Ares, yang memang duduk di belakang Chelsy, tapi memutuskan untuk menghiraukan pemuda itu untuk saat ini. Shira sadar betul bahwa formasi mereka jelas lebih terlihat seperti penindas ketimbang gadis yang ingin mengajak Chelsy untuk berkenalan, tapi Shira sama sekali tidak ambil pusing dengan hal itu.

Selama beberapa saat Chelsy tampak tak memberikan reaksi terhadap keagresifan Shira, namun saat Shira mengulurkan tangannya ke arah gadis itu, Chelsy akhirnya mengangkat kepalanya dan menatap Shira denegan ekspresi bingung. Sesuatu yang sebenarnya merupakan penampakan yang hampir tak pernah terlihat, atau bahkan tak pernah terlihat, di sekolah mereka. Chelsy terkenal tidak mempunyai ekspresi, karena itu perubahan ekspresi datar menjadi bingung di wajahnya jelas langsung menarik perhatian tiga orang di depannya.

“Err, nama gua Shira dan gua pengen temenan sama lu, makanya gua ngenalin diri!” tembak Shira cepat seolah ingin memancing ekspresi lain dari wajah gadis itu, namun Chelsy bergeming. Ekspresinya seolah terhenti pada ekspresi bingung—yang sebenarnya membuatnya tampak bodoh dan lucu. Shira yang mendapat reaksi seperti itu hanya mampu berdiri tanpa mengatakan apa-apa lagi. Tangannya tetap terulur ke arah Chelsy, tapi dia ragu kalau gadis itu akan menyambutnya.

Setelah beberapa saat berselang, yang terasa seperti berjam-jam bagi Shira. Chelsy akhirnya menggerakkan jari ke arah telinganya dan saat itulah Shira menyadari ear piece yang tertanam dalam telinga gadis itu. Earphone wireless.  Gadis itu bukannya tidak memberikan reaksi. Gadis itu hanya tidak mendengarnya.

Benar saja setelah gadis itu melepaskan salah satu ear piece  dari telinganya. Gadis itu kembali menatap Shira dan melakukan sesuatu yang sangat benar-benar tak pernah diduga oleh Shira ataupun teman-temannya. Gadis itu berbicara. Sesuatu yang menurut pengetahuan Shira, amat sangat jarang dilakukan oleh Chelsy.

“Maaf, kalau boleh diulang, tadi kamu bilang apa ya?”

Shira menatap gadis di depannya dengan tatapan kosong selama beberapa saat sebelum kemudian menarik kedua ujung bibirnya dan melemparkan senyuman termanis yang mungkin dapat ditunjukkan oleh gadis yang sebenarnya sangat cantik itu. Bima yang menyadari hal itu tampak mundur beberapa langkah diikuti oleh Danu yang juga tampaknya menyadari gelagat aneh dari Shira.

“Chelsy, kan? Kenalin gua Shira!” ujar Shira cepat dengan senyum yang masih terkembang di wajahnya. Chelsy menatap wajah Shira selama beberapa saat sebelum kemudian menatap tangan Shira yang terulur ke arahnya. Tanpa pikir panjang gadis itu menyambut uluran tangan Shira.

“Ya, aku tahu, kok. Kemarin kan kita satu-satu udah ngenalin diri. Errr, kalau boleh perlu tahu, kamu ada perlu apa sama aku?” tanya Chelsy polos, yang langsung membuat Bima menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat dan Danu berbalik seolah ingin mengambil ancang-ancang untuk lari. Ares yang duduk di belakang Chelsy tampak menghela napas panjang.

“Gua punya permintaan buat lu, Chels!” ujar Shira cepat.

“Ya?” Chelsy yang seolah tak menyadari reaksi dari Bima dan Danu hanya menatap Shira dengan tatapan bingung.

“Gua mo nyubit dua-dua pipi lu, boleh?” tanya Shira dengan senyum yang tetap mengembang di wajahnya.

“Hah?” kali ini ekspresi Chelsy tak lagi kebingungan. Gadis itu tiba-tiba menyadari keberadaan dua orang pemuda yang berdiri tidak terlalu jauh di belakang Shira, dan tiba-tiba saja ia dapat merasakan bulu-bulu kuduk di tengkuknya berdiri.

“Gua mo nyubit dua-dua pipi lu, abis itu kita temenan!” ujar Shira kali ini dengan senyuman yang tidak lagi manis, tapi lebih menyerupai seringai para pembunuh di film horor. Chelsy mendorong mundur tubuhnya ke samping hanya untuk menyadari kalau dia duduk di samping tembok, dan itu artinya Shira menutupi satu-satunya jalan keluar dirinya dari bangku itu. Kepalanya langsung berputar untuk mencari cara melarikan diri, tapi saat kepalanya mencerna kembali kata-kata Shira, mau tak mau ia kembali menatap gadis itu dengan tatapan bingung.

“Eh?” hanya itulah yang akhirnya keluar dari bibirnya. Dia benar-benar tidak dapat membaca suasana apa yang sebenarnya sedang ia hadapi sekarang.

“Gua ganti kata-kata gua, gua gak jadi minta. Gua mo nyubit dua-dua pipi lu, abis itu kita temenan, dan lu gak boleh nolak!”

“Eeeh?”

ù

Diusianya yang akan menginjak tujuh belas tahun, Ares merasa kalau persahabatannya dengan Shira dapat dikatakan luar biasa. Shira tiga bulan lebih tua dari dirinya, dan orang tua gadis itu adalah sahabat dekat keluarganya, ditambah dengan rumah mereka yang berdekatan, Ares selalu merasa kalau hubungannya dengan Shira jauh mendekati saudara ketimbang sahabat. Bagi Shira, Ares adalah adik laki-laki kembarnya yang hanya  berbeda orang tua, dan bagi Ares, Shira adalah kakak perempuan yang menyebalkan.

Mengingat hal itu, tingkah laku Shira yang tak terduga seperti saat ini bukanlah hal dadakan pertama yang pernah disaksikannya. Saat Shira duduk di bangku taman kanak-kanak, gadis itu pernah memutuskan untuk menciptakan kue coklat dari tanah liat dan memaksa Ares untuk memakannya. Ares tentu saja menolak, tapi Shira bersikeras menyatakan bahwa kue buatannya adalah kue coklat terenak di dunia dan untuk membuktikannya gadis itu dengan nekat memakan sendiri kue tanah liat yang dibuatnya, sesuatu yang membuat Ares akhirnya ikut memakan kue tanah liat itu karena penasaran. Jelas hal ini berujung pada kehebohan luar biasa di kelasnya, tapi hal itu jelas tidak mengubah kepribadian Shira.

Saat gadis itu masuk ke sekolah dasar, gadis itu bertekat untuk bertukar seragam dengan Ares, sesuatu yang begitu idenya dilontarkan oleh Shira, langsung ditolak mentah-mentah oleh Ares. Shira tetap menjalankan misinya, tentu saja. Entah bagaimana caranya, hari itu Shira muncul di sekolah dengan menggunakan seragam Ares. Ares pun ikut diseret ke ruang kepala sekolah karena sekalipun tidak menggunakan rok, di seragam atasan Ares tampak tertulis nama jelas Shira tanda bahwa ia terlibat dalam pertukaran seragam itu.

Tidak cukup sampai disitu, Ares dan Shira bahkan pernah berpacaran di masa SMP hanya karena Shira ingin tahu rasanya berpacaran. Hasilnya, baru satu minggu mereka berpacaran, Ares akhirnya mengayunkan bendera putih, tanda menyerah dalam menanggapai seluruh keinginan gadis itu. Sesuatu yang mungkin menjadi salah satu alasan kenapa Ares sedikit was-was dalam menjalin hubungan dengan orang lain.

Tapi dari semua kegilaan Shira, melihat Chelsy, dengan kedua pipinya yang tampak merona merah, duduk di hadapannya, adalah salah satu yang mungkin dapat melonjak ke peringkat pertama dalam daftar tindakan-tindakan aneh yang pernah dilakukan Shira. Gadis mana yang dengan entengnya mencubiti kedua pipi orang yang baru dikenalnya dan kemudian menantang—bukan meminta—orang itu untuk menjadi temannya? Terutama jika orang yang ditantang untuk menjadi temannya itu adalah seorang gadis seperti Chelsy yang keberadaannya di sekolah ini sendiri dianggap sebagai sebuah keanehan. Ares sama sekali tidak keberatan dengan perkembangan ini tentu saja, tapi tetap saja ia tidak benar-benar ingin membuat Chelsy harus terlibat dengan Shira.

“Jadi, ayo kita ulang dari awal, nama gua Shira dan gua mau lu jadi temen gua!” ujar Shira lantang dengan penuh semangat. Mereka kini berada di kantin, karena setelah aksi Shira yang mencubiti kedua pipi Chelsy terpotong oleh masuknya guru untuk memulai pelajaran, begitu jam istirahat pertama berbunyi Shira langsung menyeret Chelsy ke kantin dan mendudukkan gadis itu di hadapan mereka. Hanya dengan melihat wajahnya saja Ares tahu kalau gadis berpenampilan suram itu merasa sangat tidak nyaman di tempat duduknya.

“Errr, namaku Chelsy, tapi kalau boleh tau, kenapa tiba-tiba ... kau mau jadi temanku?” tanya gadis itu akhirnya yang cukup membuat Ares takjub. Ia sempat mengira kalau gadis itu akan tetap duduk di depannya tanpa mengatakan apa-apa. Sesuatu yang dilakukan gadis itu selama jam kursus kemarin kepadanya.

“Nggak tiba-tiba kok! Dari kemaren juga gua pengen temenan ama lu! Gua denger lu gak punya temen, gua juga gak punya temen jadi kita bisa temenan dong!” cerocos Shira cepat. Ingin sekali rasanya Ares menjitak kepala Shira saat itu juga. Danu dan Bima juga duduk di meja yang sama dengan mereka jadi tentu saja kata-kata Shira barusan sama sekali tidak berbasis.

Chelsy pun tampaknya memiliki pendapat yang sama dengan Ares karena kali ini gadis itu kembali memasang ekspresi datar yang mungkin dapat menjadi tanda kalau gadis itu tidak mempercayai satu pun perkataan Shira. Dari sikap itu juga Ares dapat menerka kalau, seperti yang ditakutkan Ares, gadis itu merasa Shira akan menindasnya sehingga gadis itu kini memasang sikap defensif.

Ares mau tak mau menghela nafas panjang sembari memberi tendangan kecil ke kaki Danu yang juga duduk di depannya. Pemuda itu tampak tersentak sejenak dan melontarkan tatapan heran ke arah Ares yang memang sedang memandangnya, seketika itu juga pemuda itu menyadari apa yang diinginkan Ares darinya.

“Errr, anu Chelsy, soal kelakuan gua kemarin, yang udah ngejegal kaki lu, gua minta maaf ...” ujar pemuda itu akhirnya yang langsung membuat Ares dan kedua temannya yang lain tersenyum lega sementara Chelsy yang mendengarnya kembali memasang ekspresi bingung. Chelsy sempat melontarkan pandangannya ke arah Ares tentu saja, tapi tidak sampai satu kedipan, gadis itu kembali memfokuskan tatapannya pada Shira.

“Intinya gini Chels, pacarku ini, Shira, sebenarnya sudah dari kemarin ingin berkenalan dan jadi temanmu. Yang dimaksud Shira dengan ‘tidak punya teman’ adalah, Shira tidak pernah punya teman berjenis kelamin wanita sebelumnya, dan karena dia sering mendengar kalau kau tidak punya teman, jadi dia ingin menjadi temanmu,” Bagaikan malaikat, Bima yang sedari tadi hanya memilih diam akhirnya membuka mulutnya, “Danu disini, karena kemarin dengan sengaja menjegal kakimu, merasa menyesal, dan sebenarnya sudah dari kemarin ingin meminta maaf padamu, tapi karena kau sepertinya sibuk kemarin, jadi kami memutuskan untuk mencegatmu hari ini ahahaha ...” tandas Bima yang diakhirinya dengan tawa. Begitulah Bima, pemuda berpembawaan tenang yang baru dikenal Ares di tahun keduanya di SMA itu selalu dapat menjadi penengah dan pembimbing di saat-saat yang tepat. Dari dalam hati Ares melayangkan ucapan terima kasih pada pemuda yang kurang lebih berhasil menaklukkan Shira itu.

“T, tapi kenapa aku? Aku memang tidak punya teman tapi ...” kata-kata menggantung yang terlontar dari mulut Chelsy mau tak mau membuat Ares menarik nafas dalam-dalam. Mungkin memang sudah saatnya ia yang berbicara, lagipula diantara rombongannya memang hanya dia yang belum bersuara dari tadi. Dia mungkin bisa dikatakan gagal kemarin, tapi itu sama sekali bukan berarti kalau dia tidak boleh kembali mencoba, dan kali ini, dengan keberadaan teman-temannya dia dapat mengumpulkan kepercayaan diri yang tidak dapat dikumpulkannya kemarin.

“Kenapa tidak? Apa kau merasa kami tidak pantas untuk menjadi temanmu?” tanya Ares datar. Chelsy tampak tersentak mendengarnya.

“Bu, bukan begitu ... hanya saja--”

“Kau merasa kau yang tidak pantas berteman dengan kami?” tanyanya lagi tanpa memberi Chelsy kesempatan untuk membela diri. Ares tentu saja bisa salah menilai orang, tapi dimatanya, Chelsy tampak seperti seseorang yang sudah terlalu lama menjadi objek hinaan orang-orang disekitarnya hingga gadis itu sendiri kehilangan kepercayaan diri untuk mengangkat kepalanya. Jika tebakan Ares benar, maka gadis itu butuh dorongan orang-orang yang tepat untuk mengembalikan kembali rasa percaya dirinya itu. Dia mungkin terlihat seperti orang bodoh kemarin, tapi kali ini dia harus membuktikan bahwa dirinya kemarin dan dirinya hari ini adalah orang yang berbeda.

“Chelsy, kita mungkin belum saling mengenal, tapi kau mau mencoba untuk berteman dengan kami kan?” tanya Shira akhirnya seraya melontarkan senyuman hangat yang juga membuat Ares ikut tersenyum. Tak ada ‘lu-gua,’ mungkin itu adalah langkah awal yang harus mereka ambil untuk berkomunikasi dengan Chelsy, dan Ares menyetujuinya. Danu mungkin masih tak menyukai ide mereka saat ini, tapi dengan Bima yang juga ada dipihak Shira, pemuda itu tak punya pilihan lain selain ikut menyetujui gagasan Shira.

Chelsy menatap mereka berempat selama beberapa saat. Mulutnya sempat terbuka seolah untuk menyampaikan sesuatu, tapi akhirnya gadis itu menutup mulutnya dan mengangguk. Sesuatu yang membuat Ares tersenyum puas. Pemuda itu jelas mengingat senyuman Chelsy kemarin, dan tahu bahwa tindakan yang dilakukannya kemarin adalah tindakan yang bodoh, tapi untuk tindakannya hari ini, dia yakin dia sudah mengambil tindakan yang tepat.

Getaran dari saku celananya membuyarkan Ares dari rasa puas yang sempat dirasakannya. Pemuda itu dengan cepat mengecek smartphone-nya dan menemukan sms dari Shira terpampang di layarnya. Pandangannya seketika terlontar ke arah Shira yang kini sedang dengan gencar menanyai berbagai hal pada Chelsy sebelum kembali menatap layar smartphone-nya dan membaca pesan dari Shira.

Lu ama Chelsy. Gw gk tau ada apa sama kalian kemren tapi lu harus cerita ama gua!

Ares menghela napas panjang dan kembali melontarkan tatapannya pada Shira. Gadis yang sudah hampir seumur hidupnya menjadi sahabat terdekat Ares. Salah satu alasan kenapa gadis itu menjadi salah satu orang yang paling mengenalnya adalah, karena, sekalipun Ares masih belum bisa menemukan cara gadis itu bekerja, tapi Shira selalu berhasil membaca pikirannya.

“Jadi, Chelsy, setelah kita cukup mengenal satu sama lain, kamu mau gak jadi pacar boongannya Ares?” dan saat Shira melontarkan pertanyaan inilah, Ares tahu bahwa sekali lagi, entah untuk keberapa kalinya dalam hidupnya, Shira jelas akan berhasil mempermainkannya lagi.

Read previous post:  
6
points
(2602 kata) dikirim IreneFaye 5 years 30 weeks yg lalu
30
Tags: Cerita | Novel | teenlit | #Drama #Romance #SliceofLife
Read next post: