The Promise: 3. Penindasan Chelsy

So much mental traffic in the universe. Solitude is the only peace”—The 12th Doctor

Chelsy berusaha mencerna sebagian besar kejadian yang terjadi padanya hari ini. Seperti biasa dia berangkat ke sekolah diiringi makian dan amukan dari ibunya. Bersyukur karena kakaknya menghadiahinya dengan earphone wireless di ulang tahunnya yang ke-16, tahun lalu, dan meredam semua caci-maki dan kata-kata menyakitkan itu dengan lagu-lagu Imagine Dragons dan American Authors yang memenuhi playlist-nya. Dia tiba di sekolah sekitar lima menit sebelum jam masuk, dan mengambil tempat di tempat duduknya. Dia ingat bahwa dia baru akan mengeluarkan buku American’s God pinjamannya, saat Shira tiba-tiba mengulurkan tangan padanya dan mengajaknya berteman. Kalau saja Shira tak mencubit kedua pipinya saat itu, Chelsy pasti mengira dirinya saat ini sedang bermimpi.

Chelsy bukanlah seseorang yang bisa menjadi teman orang lain. Dia tahu cara bersosialisasi, jika terpaksa, tentu saja, tapi gadis itu sama sekali tidak bisa menjadi seorang teman. Usahanya yang terakhir adalah di tahun terakhir masa SMP-nya dan hal itu hanya membuat hatinya hancur. Hanya dengan memikirkan hubungan pertemanan saja ia sudah dapat membayangkan berbagai ekspresi kekecewaan yang akan ditunjukkan oleh calon teman-temannya.

Dia tak pernah bisa memenuhi janji pertemuan dengan teman-temannya, tak pernah bisa diajak jalan di akhir pekan, tak pernah mengambil inisiatif untuk menghubungi temannya terlebih dahulu, tak pernah ingat tanggal ulang tahun teman-temannya, tak pernah memberikan hadiah yang tepat untuk temannya, dan lebih dari semua itu, dalam berberapa kasus ia menemukan bahwa ia bahkan tidak dapat menulis nama lengkap teman-temannya dengan benar. Chelsy bukannya tak ingin berteman, tapi orang-orang yang berusaha menjadi temannya selalu dibuat kecewa olehnya. Itu jugalah alasan mengapa, walaupun dia memiliki beberapa teman yang dapat dikatakan dekat dengannya di masa SMP, tak satupun dari mereka ada yang masih berhubungan dengannya. Dia tak berani lagi mencoba untuk berteman Dia tak ingin menambah panjang daftar orang-orang yang kecewa dengannya.

Tapi kini Shira mengajaknya berteman. Lebih tepatnya Shira memaksanya untuk berteman. Chelsy tentu saja tidak tahu apa yang harus dilakukan saat ini. Dia bukannya tidak tahu kalau setelah ia mengecewakan beberapa siswi yang berusaha menjadi temannya di kelas sepuluh dulu, hampir seluruh isi sekolahnya menganggapnya orang aneh dan menjauhinya. Dia sadar benar kalau dia terkucilkan, dan tak ada orang yang mau berteman dengannya, tapi dia juga tahu kalau Shira adalah orang yang berbeda dari siswi-siswi lain di sekolahnya. Shira adalah gadis dengan rasa percaya diri yang tinggi. Walaupun gadis itu berteman dengan Ares yang dapat disebut sebagai pangeran SMA-nya, tak ada yang berani macam-macam dengannya karena Shira memiliki aura yang menunjukkan bahwa dia bukanlah orang yang bisa dianggap enteng.

Shira juga terkenal sebagai siswi yang sangat ramah dan ceria. Jika Chelsy selalu tampil suram—yang sebenarnya sama sekali bukanlah kesan yang dibangun secara sengaja olehnya, Shira selalu tampil berbinar. Hampir seluruh siswa dan guru di sekolah ini menyukainya, dan sebagian kecil yang mungkin tak menyukainya selalu menjaga jarak karena segan dengannya. Apapun itu tak ada satupun orang di sekolah ini yang berani terang-terangan menjauhi gadis itu. Berteman dengan tiga orang pria sekalipun sama sekali tak membuatnya dicap jelek oleh siswi-siswi di sekolahnya, karena pembawaan gadis itu yang acuh tak acuh tapi selalu terlihat segar. Alih-alih dijauhi, gadis itu justru menjadi inspirasi siswi-siswi lain di sekolahnya. Chelsy mengetahui hal ini, karena terlepas dari kenyataan bahwa orang-orang mengucilkannya, hal itu jelas tidak menghentikan mereka untuk bergosip di sekitarnya. Chelsy yang walaupun bukan seseorang yang bisa berteman dengan orang lain, sebenarnya adalah seorang pendengar yang baik. Sesuatu yang mulai dipertanyakannya saat Shira tiba-tiba mengalihkan seluruh pembicaraannya ke satu topik, dan topik itu adalah memintanya untuk berpura-pura menjadi pacar Ares.

“Kau bilang apa?” tanyanya akhirnya setelah mengulang kata-kata Shira di kepalanya sebanyak lebih dari sepuluh kali. Tak satupun kata-kata gadis itu terdengar nyata di kepalanya. Dia kini mulai mempertanyakan rasa sakit dari cubitan Shira yang membuat kedua pipinya berdenyut. Mungkin seorang yang sedang bermimpi memang bisa merasakan rasa sakit. Dia sendiri pada dasarnya adalah orang aneh, jadi siapa yang dapat membuktikan padanya bahwa dia tak bisa dibangunkan dengan stimulus rasa sakit.

“Shira ... Lu sarap ya?” kata-kata Ares yang dalam langsung menarik perhatiannya. Dia juga ingin menanyakan hal yang sama pada Shira, tapi dia merasa dia belum cukup dekat dengan gadis itu untuk mengatakan bahwa gadis itu sudah gila, secara langsung pada Shira.

“Dengerin dulu, Chels, Res! Ini ide yang sangat bagus! Kalian berdua harus dengerin rencana ini, soalnya ini adalah ide brilian! Bima aja setuju ama ide gua!” seru Shira cepat yang sama sekali tak terdengar seperti sesuatu yang masuk akal di telinga Chelsy. Kalau saja Ares tak tampak pucat di tempat duduknya saat ini, Chelsy jelas sudah mengaggap bahwa Shira dan teman-temannya pasti sedang mengerjainya.

Dia adalah siswi yang terkucilkan, dan Shira dan teman-temannya adalah kelompok yang dapat dikatakan menguasai sekolah mereka. Kalau kelompok itu menindasnya saat ini, tak akan ada orang yang akan menyelamatkannya. Plot klasik sinetron tontonan ibunya.

Ingin sekali saat itu juga Chelsy melarikan diri dari bangkunya, tapi Danu—pemuda dengan tubuh paling besar dan paling berotot diantara ketiga pemuda yang duduk di meja mereka—tampak  tak berhenti memandanginya sekarang, dan Chelsy bukanlah seorang petarung. Dia jelas akan kalah telak kalau Danu tiba-tiba berdiri dan menghadangnya. Chelsy hanyalah seorang pengecut. Dia bahkan tidak tahu bagaimana dia bisa berani bertingkah sok-sokan terhadap Ares kemarin, mungkin karena buku Neil Gaiman berhasil melumpuhkan saraf malunya, tapi yang pasti gadis yang kemarin berbicara secara terang-terangan dengan Ares itu bukan Chelsy. Chelsy hanyalah seorang gadis kutu buku pengecut yang hanya berani berbicara dengan penjaga perpustakaan dan pembicaraan itu sendiri biasanya hanya terjadi saat gadis itu meminjam atau mengembalikan buku.

“Shira, lu gak bisa tiba-tiba nyuruh orang jadi temen lu, dan lu jelas gak bisa secara tiba-tiba nyuruh orang yang sama jadi pacar gua! Lu beneran gila ya?” omel Ares sangar yang membuat Chelsy memutuskan untuk tetap duduk di bangkunya. Chelsy sering mendengar gosip bahwa Ares adalah seorang karateka sabuk hitam. Chelsy mungkin tak terlalu sering mendengar gosip tentang Bima, tapi setelah dipikir-pikir, melarikan diri dari tiga orang pemuda sepertinya bukanlah ide yang bagus. Lagipula Shira masih berbicara dengan nada bersahabat dengannya. Mungkin jika dia bersedia mendengarkan gadis itu sedikit lebih lama, gadis itu akan melepaskannya secara baik-baik.

“Dengerin gua dulu Res, gini loh, gua kan mo temenan sama Chelsy, nah gua gak bisa ngelakuin itu tanpa Chelsy selalu ada disekitaran kita, dan lu tau sendiri kan gimana reaksi anak-anak cewek di sekolah kita kalo ada cewe baru di sekitaran kita?” pertanyaan Shira membuat Ares terdiam. Chelsy pun ikut memikirkan pertanyaan gadis itu.

Ah, kasus yang membawa Ares ke ruang kepala sekolah tahun lalu. Chelsy tak tahu detilnya, tapi dari pembicaraan siswi-siswi di kelasnya saat itu, mantan pacar Ares katanya menampar pacar Ares yang baru karena katanya cewek itu ngeduain Ares dengan cowok lain. Yang membuat heboh tentu saja adalah kenyataan bahwa cewek yang dituduh ngeduain Ares itu sebenarnya sama sekali bukan pacar Ares dan ternyata hanya cewek yang sedang dekat dengannya karena mereka berada di kelompok belajar yang sama. That’s extreme. Chelsy tak ingin terlibat dengan hal seperti itu.

“Kalo lu dan Chelsy bilang secara terang-terangan ke orang yang nanyain kenapa Chelsy dekat dengan kita, kalo lu dan Chelsy pacaran, mereka gak akan heboh. Seperti kemarin-kemarin mereka bakal damai sendiri! Lu bisa belajar tanpa harus mikirin pacar seperti kemauan lu, dan gua dan Chelsy bisa temenan!” jelas Shira penuh semangat. Gadis itu jelas merasa bahwa idenya adalah ide yang sangat berlian. Chelsy hanya merasa mual.

“Tadinya Shira mau ngebikin Danu jadi pacar pura-puranya si Chelsy, tapi ngeliat tingkah Danu kemarin, kayanya lebih masuk akal klo lu, Res, yang jadi pacar Chelsy, lagian lu kan emang harus nyari pacar baru biar lu bisa belajar!” perkataan Bima ini jelas bertujuan untuk memperhalus masalah, tapi hal itu jelas hanya membuat Chelsy merasa dipermainkan. Dia benar-benar ingin melarikan diri dari tempat itu sekarang.

“Ra, lu sadar gak lagi ngepermainin perasaan orang sekarang? Lu ama Chelsy aja belum tentu beneran temenan, dan sekarang lu nyuruh dia jadi pacar boongannya gua? Lu sadar gak satupun dari kata-kata lu ngeperhatiin perasaan Chelsy? Lu udah nanya ama dia kalo dia mau lu gituin gak? Lu ada nanya masukan dia dalam rencana lu ini? Lu sadar lu lagi nge-bully anak orang gak?” risau Ares yang membuat Chelsy tertegun. Dia sama sekali tak menyangka kalau pemuda itu menyadari ketidak nyamanannya.

“Ini kan gua lagi nanyain ke dia ...” gerutu Shira pelan yang entah mengapa justru membuat Chelsy yang merasa bersalah. Gadis itu jelas memiliki bakat untuk membuat orang-orang disekitarnya merasa tidak nyaman saat dia tak mendapatkan apa yang diinginkannya. Penasaran juga Chelsy apa ada orang yang bisa menolak permintaan Shira. Mungkin Ares dan Bima. Mungkin Danu juga bisa menolak permintaan gadis berwajah sendu itu. Mungkin persahabatan mereka berempat didasarkan pada kemampuan mereka untuk menjaga Shira dari usahanya untuk menguasai dunia.

“Chelsy, lu denger gak omongan Ares tadi?” pertanyaan yang secara tiba-tiba terlontar dari Danu langsung menyentakkan Chelsy dari lamunannya. Yup, inilah salah satu alasan kenapa Chelsy tidak memiliki teman. Chelsy jarang sekali dapat fokus dalam diskusi yang tengah terjadi diantara teman-temannya.

“Si Ares tadi nanya, gimana pendapat lu tentang omongan gilanya si Shira tadi? Gua tadi bilang ide Shira gila, terus gua akhirnya sadar lu kayanya gak denger omongan kita!” jelas Danu, yang membuat Chelsy kembali sadar bahwa pemuda itu dari tadi terus-menerus memperhatikannya. Danu, seseorang yang mungkin tidak seperti penampilan luarnya.

“Chelsy, jadi menurut kamu gimana? Kamu mau gak ngikutin ide aku?” tanya Shira akhirnya dengan lembut. Chelsy jelas masih tidak tahu bagaimana cara menanggapi pertanyaan itu.

“Gua rasa dia lagi Shock! Lu pernah mikir gak Shir klo lu itu orang yang agak nyeremin! Gua yakin si Chelsy saat ini lagi ketakutan setengah mampus ama lu!” vonis Danu yang langsung memancing tatapan sinis dari Shira. Danu tidak salah, tentu saja, tapi Chelsy juga tidak tahu apa yang harus dikatakannya sekarang.

“ Beri dia waktu, kurasa semua ini agak terlalu berat untuk dicerna” perkataan Bima yang lembut seolah menjadi angin segar pertama Chelsy hari ini. Kepalanya terasa penuh, dan dia yakin dia tak bisa mengambil keputusan saat ini. Waktu jelas adalah sesuatu yang sangat dibutuhkannya sekarang.

“Ambil sebanyak mungkin waktu yang kau butuhkan, Chels. Aku yakin kita pasti bisa jadi teman!”

Shira meraih kedua tangan Chelsy dan menggenggamnya dengan erat. Seulas senyum terlukis di wajahnya dan tatapan mata gadis itu terlihat sangat tulus. Chelsy tidak tahu keputusan apa yang harus diambilnya untuk tawaran Shira mengenai Ares, tapi untuk menjadi teman Shira. Chelsy tahu dia menyukai ide itu.

Chelsy tidak mampu berkata-kata saat ini, jadi dia hanya menarik napas panjang. Membalas senyuman Shira dengan senyuman yang menurutnya adalah senyum terbaiknya dan menganggukkan kepalanya, dan karena bel tanda istirahat pertama berakhir ikut berbunyi saat itu, Chelsy pun berdiri dari tempatnya dan berjalan pergi sebelum salah satu dari calon teman-teman barunya mengambil inisiatif untuk memaksanya berjalan bersama mereka ke kelas.

Read previous post:  
0
points
(3199 kata) dikirim IreneFaye 5 years 30 weeks yg lalu
Tags: Cerita | Novel | teenlit | #Drama #Romance #SliceofLife
Read next post: