The Promise: 4. Pilihan

Sometimes the only choices you have are bad ones, but you still have to choose.—The 12th Doctor.

“Aku tahu kau akan ada di sini ...”

Ares tersenyum puas saat menemukan Chelsy di perpustakaan. Untung saja dia tidak melupakan percakapannya dengan Chelsy kemarin, kalau tidak dia pasti akan kesulitan untuk mencari gadis itu hari ini. Tidak banyak murid yang mau datang ke perpustakaan. Terutama karena koleksi perpustakaan sekolah mereka tidak terlalu lengkap, dan siapa pula yang mau repot-repot pergi ke perpustakaan kalau mereka bisa menemukan informasi yang mereka inginkan melalui smart phone mereka.

Chelsy yang tampaknya baru mengembalikan buku pinjamannya sama sekali tak menggubris keberadaan Ares dan kini berjalan ke rak buku fiksi terdekat untuk mencari buku baru yang akan dipinjamkannya. Ares jadi penasaran kenapa gadis itu mau repot-repot ke perpustakaan. Ares tahu Chelsy juga memiliki smart phone, Ares sudah melihat gadget yang berwarna hitam itu beberapa kali, jadi Ares juga tahu bahwa jika Chelsy ingin membaca buku, gadis itu bisa mendapatkan buku apapun yang diinginkannya hanya dengan mencarinya di situs pencari, dan membaca melalui handphone-nya.

Pemuda itu mengikuti Chelsy ke rak buku yang sedang ditelusurinya dan memeriksa satu per satu judul yang terpampang di punggung buku-buku di depannya. Dia hanya pernah memasuki perpustakaan ini sebanyak dua kali sebelumnya. Pada tahun pertama dan tahun kedua dalam pelajaran bahasa Indonesia. Dalam kedua kunjungannya pun Ares selalu memiliki pandangan yang sama, koleksi buku-buku di perpustakaan ini tak ada yang menarik. Buku-buku berbahasa Inggrisnya, hampir semua sudah Ares miliki dan baca, dan buku-buku Indonesianya, yang jelas sekali merupakan sumbangan para alumni, karena sebagian besarnya adalah fiksi remaja, bukanlah buku-buku yang menjadi santapan sehari-hari Ares. Tepatnya Ares tidak menyukai buku-buku itu. Karena itulah Ares cukup terkejut saat Chelsy mengeluarkan sebuah buku yang ditulis oleh penulis Indonesia, tapi bukan berasal dari kelompok fiksi remaja. Buku itu juga bukanlah novel klasik dengan cerita penuh inspirasi seperti karya Andrea Hirata, tapi sebuah novel fiksi fantasi yang ditulis oleh penulis yang tak pernah didengarnya.

“Kau suka cerita fantasi?” tanya Ares akhirnya, penuh rasa ingin tahu. Chelsy hanya menoleh ke arahnya dan kemudian mengangguk. Gadis itu tampaknya masih ingin mencari buku lain yang ingin dipinjamnya, dan Ares menemukan dirinya berhadapan dengan masalah baru. Ia ingin mengenal lebih jauh tentang gadis itu.

“Kau punya rekomendasi buku untukku?” tanyanya penasaran. Kali ini ia berhasil menarik perhatian gadis itu karena Chelsy kini menatapnya dengan tatapan bingung.

“Aku penasaran kenapa kau pergi ke perpustakaan untuk mencari buku. Buku Neil Gaiman yang kau baca kemarin sebenarnya bisa kau baca melalui hapemu, jika kau tak tahu situs untuk mencari bukunya, aku bahkan bisa menunjukkannya padamu, tapi kau tetap pergi ke perpustakaan yang koleksi buku-buku fiksinya saja tidak lengkap. Lalu kau memilih buku itu, jadi aku rasa, kau pasti menyukai koleksi buku fantasi perpustakaan ini, dan jika itu benar, dan kau sudah melakukan hal ini dari kelas sepuluh kemarin, maka kau pasti punya satu atau dua buku yang bisa kau rekomendasikan, kan?” jelas Ares yang langsung membuat Chelsy berbalik dengan cepat dan kembali menekuni rak buku di sampingnya. Ares baru akan menegurnya lagi, takut bahwa penjelasannya tadi membuat Chelsy tidak nyaman, tapi gadis itu tiba-tiba berbalik kembali ke arahnya dan kini dengan dua buah buku lain di tangannya.

“Fantasy Fiesta tahun 2010, dan 2011, kumpulan karya-karya fantasi penulis Indonesia! Aku tidak tahu kenapa kedua buku ini disumbangkan ke perpustakaan, tapi yang aku tahu buku-buku ini jelas memiliki cerita-cerita yang akan mengubah sudut pandangmu terhadap karya penulis fantasi Indonesia!” seru Chelsy penuh semangat. Ares menatap kedua buku di depannya itu dengan tatapan takjub, dan sebelum ia melakukan kesalahan, pemuda itu langsung membawa kedua buku tadi ke konter pengurus perpustakaan.

“Aku pinjam dua buku ini!” serunya dengan lantang yang langsung membuat pengurus perpustakaan itu menatapnya dengan tatapan sinis sementara Chelsy tertawa melihat tingkah lakunya. Mau tak mau Ares dapat merasakan wajahnya memerah.

ù

“Tapi buku berat untuk dibawa-bawa!” kontra Ares sambil melambaikan kedua buku di tangannya ke depan Chelsy. Belum apa-apa saja dia dapat merasakan tekanan beban pada pergelangan tangannya.

“Ares, kau tak mengerti! Kau bisa menyentuh dan mencium aroma buku betulan. Kau juga dapat menikmati keindahan buku-buku itu saat dijajarkan dengan rapi di lemari buku, dan beberapa kover buku-buku ini bahkan memiliki cetakan judul yang memberikan sensasi berbeda saat membacanya, dan jika kau membaca buku betulan di depan umum, kesan orang terhadap dirimu meningkat drastis, dan juga dapat membantu orang untuk mengetahui buku apa yang sedang kau baca tanpa harus menanyakannya padamu, karena judulnya tercetak jelas di buku yang sedang kau baca!” protes Chelsy gemas, sambil memamerkan buku yang sedang dipegangnya.

Mereka masih di perpustakaan saat ini, karena setelah bel tanda istirahat berakhir, dalam perjalanan kembali menuju kelas mereka, speaker sekolah mereka berbunyi dan memberikan informasi bahwa guru-guru akan mengikuti rapat sekolah mendadak, dan untuk satu jam pelajaran, setiap murid di sekolah ini diharapkan untuk belajar mandiri. Hal ini tentu saja diartikan murid-murid sebagai perpanjangan masa istirahat dan mengembalikan Chelsy yang diikuti Ares ke perpustakaan. Entah bagaimana pembicaraan mereka sekarang justru menjerumus kearah perdebatan antara keuntungan dan kekurangan membaca buku betulan ketimbang membaca ebook melalui aplikasi.

“Chelsy, kau punya lebih dari 300 buku di dalam hapemu! Berhentilah bertingkah kalau kau lebih menyukai buku betulan ketimbang ebook!” geram Ares yang langsung membuat Chelsy memutar bola matanya.

“Aku tak sekaya itu untuk membeli semua buku yang kuinginkan Ares, tentu saja jika aku dapat mendapatkannya secara gratis aku akan men-download dan menyimpannya dalam hapeku! Tapi bukan berarti aku tidak menginginkan buku betulannya! Sayangnya karena aku sampai hari ini belum memiliki penghasilan sendiri, buku fisik yang dapat kumiliki adalah buku yang kudapat dari pemberian orang, atau buku yang kubeli dengan menghemat uang jajanku! Karena itulah untuk memenuhi keinginanku dalam merasakan buku-buku lainnya secara keseluruhan, aku pergi ke perpustakaan dan meminjam buku-buku yang ingin kubaca. Lagipula buku-buku berbahasa Indonesia masih sulit ditemukan dalam bentuk ebook,” gerutu Chelsy sebal yang mau tak mau membuat Ares berusaha menahan tawa. Baru dua hari dia mencoba mengenal gadis itu, tapi setiap kali dihadapkan dengan ekspresi-ekspresi baru yang tak pernah dilihatnya sebelumnya, Ares selalu ambruk terpukau dengan keunikan ekspresi wajah gadis itu. Seperti saat ini misalnya, gadis itu menggembungkan kedua pipinya sambil membuang muka. Andai saja dia Shira, Ares pasti akan langsung mencubiti kedua pipi itu. Tapi dia bukan Shira, dan dia tidak mau menjadi Shira. Otaknya benar-benar tak dapat diandalkan.

Mengingat Shira membuatnya teringat akan ide gila sahabat kecilnya itu. Entah apa yang sebenarnya sedang dipikirkan gadis itu. Ares bukannya tidak senang menjadikan Chelsy pacar pura-puranya, tapi permasalahannya adalah pada titik pura-pura. Ares amat membenci kepalsuan, dan sekalipun hal itu dilakukan untuk kenyamanan Chelsy, tapi Ares tak ingin melakukannya jika hal itu hanya untuk mempermudah pertemanan Chelsy dengan Shira.

“Ares, apa aku boleh menanyakan sesuatu?” tanya Chelsy yang akhirnya menyadarkan Ares dari lamunannya sejenak. Lamunan yang sama sekali tak dapat dipercayainya. Apa coba maksud pikirannya tadi? Apa dia secemburu itu dengan Shira?

“Selama kau tak menanyakan siapa yang kubunuh di tahun terakhirku SMP, kau boleh menanyakan apa saja!” jawab Ares asal yang langsung membuat Chelsy cemberut. Tentu saja Ares hanya bercanda, dia hanya membutuhkan sebuah distraksi untuk mengalihkan pikirannya dari hal yang tidak-tidak.

“Jika kau sudah selesai cengengesan, aku mau bertanya tentang pendapatmu mengenai ide Shira?” ujar Chelsy yang langsung membuat Ares sepenuhnya fokus terhadap kata-kata gadis itu.

“Bagian kau menjadi pacar pura-puraku?” tanya Ares berusaha memastikan. Chelsy langsung mengangguk dan langsung membuat pemuda itu menarik napas panjang.

“Jujur aku tidak tahu,” mulainya pelan. “Aku menyukai ide Shira untuk mendapatkan teman baru, dan aku senang Shira memilihmu sebagai temannya—karena dari pembicaraan kita selama beberapa saat ini, kurasa kau bisa menangani Shira dengan baik—tapi Shira juga benar soal jika kau menjadi temannya, dan dekat dengannya, maka ada kemungkinan kau akan diserang dengan ... aku tak percaya aku akan mengatakan ini, tapi memang sebagian besar orang yang menyerang teman-teman berjenis kelamin wanita di sekitarku adalah penggemarku ...” Ares harus berhenti. Dia tidak percaya dia baru saja mengakui bahwa dirinya memiliki penggemar. Yang benar saja, memangnya dia ini anggota boy band? Memikirkannya saja sudah membuat wajahnya memerah.

“Kurasa kau tak perlu menyangkal hal itu. Aku memang tidak punya teman, tapi dari apa yang kudengar, sebagian besar siswi di sekolah ini memang menganggapmu menarik. Apa kau tidak ingat kalau kau pernah dinobatkan sebagai siswa yang paling diincar sebagai pacar? Aku sempat mengira kalau kau atau temanmu menyuap komite mading sekolah untuk menulis artikel itu!” ujar Chelsy yang langsung membuat Ares ingin mengubur dirinya di liang terdekat.

Ares tentu saja tahu artikel apa yang disebut Chelsy. Itu adalah hasil keisengan Shira yang saat itu merupakan salah satu anggota pengurus mading. Gadis itu dengan sembarangan menantang seluruh siswi di sekolah untuk men-voting, siapa siswa favorit yang ingin mereka pacari di sekolah, dan memasukkan nama siswa idaman mereka dalam sejenis kotak suara yang diletakkannya di depan ruang mading. Ares awalnya menganggap hal itu sebagai suatu kekonyolan, sampai saat Shira membuka sendiri kotak suara itu di depannya dan membacakan nama-nama siswa yang tertulis di dalamnya. Hasil voting menyatakan dirinya unggul dua belas suara dari Bima, yang berarti dia berhasil mendominasi sepertiga suara yang terkumpul, lawan-lawannya bahkan tak ada yang berhasil menedekati kedudukan namanya, termasuk Bima yang hanya cengengesan karena ia berhasil menduduki peringkat kedua—yang menurut Shira disebabkan oleh kenyataan bahwa Bima sudah memiliki pacar dan Ares saat itu menjomblo. Hal itu juga yang sepertinya menjadi alasan kenapa Danu semakin sering menggodanya.

“Terlepas dari hal itu. Aku tidak menyukai ide Shira yang seolah-olah ingin memperalatmu untuk kepentinganku. Aku harus mengakui kalau aku memiliki pacar, kuharap kehidupan tahun terakhirku di SMA ini akan lebih tenang, tapi aku juga tidak mau menghabiskan tahun terakhirku ini untuk memenuhi keinginan-keinginan pacarku. Aku terakhir kali putus dengan pacarku karena mantanku itu terus-terusan memintaku menghubunginya hampir setiap saat dan memaksaku untuk berkencan dengannya minimal satu kali setiap minggunya. Itu gila! Aku harus menghadapi ujian nasional! Aku tidak bisa memenuhi keinginan-keinginan gila pacarku!” seru Ares geram. Ia masih ingat alasan absurd mantannya yang meminta putus dengannya karena menganggapnya tidak peka dan kurang perhatian. Setelah ia menghabiskan sebagian besar waktu, tenaga, dan uang untuk menyenangkan gadis itu, gadis itu malah menganggapnya tidak perhatian? Gadis itu jelas gila dan Ares mungkin memang lebih baik tidak lagi berhubungan dengannya.

“Intinya, memiliki pacar bohongan mungkin akan sangat membantuku. Pacar hanya akan menjadi status belaka, tanpa ada ikatan khusus di belakangnya, tapi aku juga merasa Shira sama sekali tidak memikirkan dirimu saat ia mengatakan hal itu, dan kurasa idenya kali ini benar-benar gila!” tandas Ares akhirnya. Pemuda itu mengalihkan pandangannya dari Chelsy. Ia tidak berani menatap mata gadis itu. Takut untuk menemukan ekspresi yang mungkin tak ingin dilihatnya muncul di wajah gadis itu.

“Apa ada yang pernah mengatakan padamu bahwa kau adalah seorang yang egosentris?” pertanyaan yang tiba-tiba terlontar dari mulut Chelsy itu langsung membuat Ares kembali menoleh kearah gadis itu. Ekspresi Chelsy kini  tampak takjub dan penuh rasa ingin tahu.

“Maksudmu?” tanyanya dengan penuh hati-hati.

“Yah, kau merasa kalau Shira melakukan ini untukmu. Aku tidak menyangkal kalau dia mungkin merupakan sahabat baikmu, tapi kurasa dia mencetuskan ide ini sepenuhnya untuk kepentingannya pribadi. Dia ingin seorang teman, dan ingin memancingku untuk menjadi temannya. Bagaimana caranya? Menjadikanmu sebagai umpan,” jelas Chelsy yang langsung membuat Ares mengerutkan dahinya. “Bagaimanapun kau adalah pemuda nomor satu yang dinyatakan sebagai siswa yang paling diincar untuk dijadikan pacar di sekolah ini, jadi kenapa tidak menggunakan dirimu sebagai iming-iming untuk menarik perhatianku agar mau menjadi temannya. Dari apa yang kudengar dari Shira tadi, kurasa Shira ingin mengatakan padaku bahwa jika aku menjadi temannya, aku bisa jadi lebih dekat denganmu. Shira sedang menyuapku untuk menjadi temannya!” tandas Chelsy yang mau tak mau membuat Ares ternganga.

“Ba, bagaimana kau bisa berpikir seperti itu?!” tanyanya tak percaya. Chelsy langsung tertawa.

“Kemampuan Shira untuk mencari teman baru kurasa sama buruknya dengan diriku. Kami teman yang payah, dan jika kami ingin mencari teman, kurasa cara terbaik untuk melakukannya adalah menyuap calon teman kami dengan sesuatu yang mungkin  menarik perhatiannya. Waktu aku kecil, hal ini kulakukan dengan membawa hape model terbaru ke sekolah, dengan harapan teman-temanku akan tertarik dengan gadget kecil itu, ingin meminjamnya, dan kemudian di saat yang bersamaan menjadi lebih dekat denganku. Shira mengambil langkah yang lebih ekstrim, dia tahu bahwa banyak anak perempuan yang ingin berdekatan denganmu, tapi disaat bersamaan mereka juga merasa terintimidasi dengan kepribadian Shira, jadi dia mencari orang sepertiku yang sepertinya tidak terlalu terpengaruh dengan aura mengintimidasinya, dan membuat seolah-olah jika aku mau berteman dengannya, Ares boleh menjadi mainanku!” jelas Chelsy yang akhirnya membuat Ares kehabisan kata-kata.

Seberapa kuat pun ia ingin menentang kata-kata Chelsy barusan. Entah mengapa, sebagai seseorang yang telah mengenal Shira selama hampir seumur hidupnya, penjelasan yang ditawarkan Chelsy lebih masuk akal ketimbang pemikirannya yang menganggap Shira melibatkan dirinya untuk membantunya. Walaupun Ares tahu bahwa Shira menyayanginya sebagai sahabat, Ares tak dapat memungkiri bahwa Shira juga amat sering mempermainkannya. Shira memiliki dunianya sendiri, dan dalam dunianya Ares termasuk sebagai seorang sahabat yang setara dengan mainan. Ares sudah mengetahui hal ini seumur hidupnya, tapi tetap saja mendengarkan hal itu dijelaskan secara lantang oleh orang lain membuat jantungnya terasa ditusuk secara langsung dengan pedang. Mengingat hal itu membuatnya tak ingin menyangkal kata-kata Chelsy.

“Ada satu hal lain yang ingin kutanyakan padamu Ares, menurutmu pacaran itu apa?” tanya Chelsy yang berhasil membuat Ares menutup mulutnya yang sempat ternganga. Setiap kata-kata yang keluar dari mulut gadis itu mau tak mau membuatnya tertegun. Ares berusaha mencerna setiap kata dari pertanyaan itu dan mencari jawaban pertanyaan itu dalam benaknya, tapi ia tak mendapatkan apa-apa.

“Aku tidak tahu,” jawab pemuda itu akhirnya. “Tadinya aku ingin menjabarkan pacaran sebagai suatu hubungan berkomitemen untuk memperdalam hubungan antara dua orang yang saling menyukai, tapi setelah aku memikirkannya lebih dalam lagi, kata pacar tidak memiliki arti sekuat itu. Kurasa kata pacar hanyalah sebuah label yang bersifat semu tanpa dasar yang kokoh untuk menguatkannya ...”

Ares menatap dalam-dalam mata Chelsy yang juga balik menatapnya. Seulas senyuman terukir di wajah gadis itu. Senyuman kecil namun penuh makna yang membuat Ares bertanya-tanya. Apa yang sebenarnya sedang dipikirkan gadis itu.

“Kurasa aku akan menyetujui ide Shira!” ujar gadis itu yang langsung membuat Ares tersentak. “Tapi aku tidak ingin ada kepura-puraan. Jika aku harus dikenal sebagai pacarmu, aku lebih mau menjalaninya secara serius ketimbang dipenuhi kepalsuan yang jelas akan berakhir buruk untuk kita berdua, bagaimana menurutmu?”

Read previous post:  
0
points
(1844 kata) dikirim IreneFaye 5 years 30 weeks yg lalu
Tags: Cerita | Novel | teenlit | #Drama #Romance #SliceofLife
Read next post:  
Punya ide tentang lanjutan karya ini ? Saat ini belum ada yang menulis lanjutannya. Ayo lanjutkan karyanya.