Kepatahhatian Duro (Bagian II)

Oscar - Tak Ada Gading yang Tak Retak

 

Wajah Oscar lebih banyak kusutnya daripada menikmati apa yang sedang ia baca. Sementara Benjamin telah menemukan dunianya sendiri saat membaca konten koran yang baru saja terbit hari ini. Sebuah meja panjang dari kayu memisahkan dua buah kursi yang sama panjangnya, dan di sanalah Oscar dan Benjamin duduk. Berhadapan. Tidak sampai Oscar membaca paragraf kesekian dari novel di hadapannya, suasana masih hening, lalu keluhan Oscar memecah:

Tak ada gading yang tak retak. Sepertinya pepatah manusia yang ini tak bisa diterima nalar hewaniku,” kata Oscar yang kemudian meletakkan novel tersebut di atas meja. Lalu ia menoleh pada Benjamin. Seakan mengharap tanggapan atas argumennya.

Benjamin menatap Oscar. Dalam hatinya ia merasa bahwa terkadang kawan dinosaurusnya yang satu ini suka merepotkan.

“Aku sependapat dengan pepatah itu,” kata Benjamin singkat. Ia meneguk secangkir kopi dan sebuah kacamata melekat di wajah anjingnya, memberikan kesan yang kuat bahwa Benjamin adalah seekor anjing yang terpelajar.

“Apa kau yakin, Benji? Buktinya Suhepi, anak almarhum Suhepo yang dulu menjabat sebagai pimpinan koloni gajah di selatan, gadingnya masih mulus. Tak retak sedikit pun. Menurutku, pepatah ini tak bisa dipercaya.”

“Sebuah fakta yang harus kau tahu, Oscar, bahwa gading gajah itu akan retak jika ia sudah dewasa. Para gajah akan mulai bertarung dengan sesamanya: untuk merebut jabatan kepemimpinan, untuk kawin pada musimnya, dan tak jarang untuk mengusir gajah dari koloni yang berbeda. Kau tahu kan kalau Suhepi itu masih berumur lima tahun? Wajar saja kalau gadingnya mulus.”

“Tapi tetap hal itu tidak mengubah kenyataan kalau Suhepi adalah bukti otentik bahwasanya ada gading yang tak retak.”

Benjamin tak menanggapi, ia lebih memilih membaca korannya. Kadang kala sifat Oscar yang selalu mencari subjek—atau objek—untuk didebatkan, membuat Benjamin merasa enggan untuk berbicara dengannya.

“Heran dengan jalan pemikiran kalian para hewan pasca Mesozoikum. Harusnya tulisan-tulisan seperti ini tidak perlu diterjemahkan ke dalam bahasa kita,” kata Oscar. Ia mengeluhkan novel yang dari tadi ia baca—sebuah novel romansa karangan Zainal Barker; salah satu penulis manusia yang terkenal dalam cerita ini.

“Lalu kenapa kau hampir selesai membacanya?” kata Benjamin tanpa menoleh sedikit pun dari korannya.

“Kau sendiri yang mengatakan, bahwa untuk seekor yang baru belajar membaca, ada baiknya menikmati bacaan-bacaan yang mendidik sekaligus menghibur. Novel ini adalah rekomendasi darimu, Kawan. Selama membaca, terlalu banyak kalimat yang dilebih-lebihkan: “Bulan menangis”-lah, “Matahari tersenyum”-lah, “Rambutmu yang menari-nari”-lah. Kalau bukan karena kau yang menyarankan, sudah lama buku ini aku kembalikan ke perpustakaan kota. Dan sebagai catatan, tak ada sesuatu yang menghibur yang kudapat selama membaca buku ini. Tokoh utamanya terlalu gampang menangis dan hampir setiap saat mendramatisir keadaan. Padahal tak harus seperti itu kan? Dan lagi—“

“Baiklah, Oscar Uepai, apa sebenarnya yang kau inginkan?” kata Benjamin sambil sedikit menghentak koran yang ia baca. Agaknya ocehan Oscar mulai mengusik ketenangannya.

“Aku sudah tak sabar untuk membaca buku ilmu pengetahuan, Kawan. Novel sepertinya tak cocok untukku. Sampai kapan kau hanya membolehkanku membaca cerita sampah seperti ini?”

“Itu bukan sampah, itu adalah cerita romansa,” Benjamin mendesah, “Harus berapa kali kukatakan padamu, bahwa dalam proses menuntut ilmu, kau harus mulai dari yang paling mudah dulu. Terlebih lagi kau ini adalah hewan peninggalan masa Mesozoikum. Kosa katamu masih sedikit. Aku khawatir … jika kau menyentuh bacaan eksakta tanpa adanya pengetahuan mendasar, mulut kritismu itu akan lebih banyak mengucap pertanyaan daripada memberikan jawaban. Paham?” Benjamin menjelaskan dengan sekali tarikan napas.

“Oke. Jadi kau ingin aku menerima dengan nalar bahwa bulan itu bisa menangis, matahari itu kadang tersenyum, dan dalam kondisi tertentu, rambut seorang wanita akan terlihat seperti sedang menari-nari, begitu?”

“Ya. Dan itu namanya majas personifikasi.”

“Jujur saja, sejauh yang kubaca, novel ini tidak begitu mendidik.”

“Selesaikanlah novelnya, lalu akan kupertimbangkan untuk memberimu bacaan yang lebih mendidik,” kata Benjamin sambil memberi tanda kutip pada kata “mendidik” dengan kedua kaki depannya.

“Dan aku minta tolong padamu, Benji, agar jangan kau berikan buku yang di dalamnya ada angin yang bisa membisikkan rindu.”

“Akan kupertimbangkan, Oscar.”

“Dan satu lagi.”

“Hmmmmm,” sahut Benji tak acuh.

“Jika itu adalah novel romansa lagi, tolong berikan yang ceritanya sesuai dengan gaya bercinta para hewan zaman Mesozoikum. Kami tak suka berbasa-basi dalam bercinta terlebih mendramatisirnya. Zaman itu terlalu banyak predator dan berbasa-basi dalam asmara dapat membuatmu terbunuh. Secara harfiah terbunuh.”

Benjamin menatap Oscar lekat-lekat, lalu ia berkata, “Akan ku-per-tim-bang-kan, Oscar. Sekarang bolehkah aku meminta tolong padamu untuk memberikanku sedikit waktu membaca koran ini? Dengan sangat?”

“Baiklah. Aku sudah selesai, Kawan.”

Lalu kembali Benjamin berkutat dengan korannya. Akhirnya Oscar bisa diam dan hal ini membuat Benjamin lega.

“O, ya, aku lupa—“

“A-s-t-a-g-a, Oscar! Demi Tuhan, apalagi?”

“Kau masih ingat dengan rusa yang di kafe kemarin? Saat kita kebetulan bertemu dengan Duro.”

“Ya.”

“Namanya Godam dan aku ada kencan dengannya sepuluh menit lagi.”

“Lantas?”

“Ayolah, Kawan, tempatnya ada di pusat kota—“

Hmf … baiklah, berapa ongkos yang kau butuhkan?”

“Kau memang sahabatku yang terbaik.”

Benjamin merogoh sakunya dan memberikan beberapa lembar uang kepada Oscar. Lebih dari cukup. Hal ini ia lakukan agar cepat-cepat menyingkirkan Oscar yang hari ini lebih cerewet dari biasanya. Benjamin ingin segera menikmati waktu sendiri bersama kopi dan koran yang dari tadi belum benar-benar dibacanya.

Sebelum Oscar berlalu, Benjamin mengerutkan kening. Agaknya ada satu hal yang mengganjal perihal rusa yang akan Oscar kencani.

“Tunggu dulu, Oscar!”

Oscar yang sudah setengah berlari mencari tumpangan berhenti. “Aku sudah terlambat, Benji! Ada apa?”

“Bukankah rusa itu jantan? Dan begitu pula denganmu?”

“Iya, memangnya kenapa? Asal kau tahu, kau tidak punya banyak pilihan jika menjadi salah satu spesies hewan yang terbilang punah. Lagipula, walau Godam itu jantan, setidaknya ia mempunyai naluri betina. Dan itu sudah cukup buatku.”

“Tapi itu kan—“

Tanpa membiarkan kalimat Benjamin selesai, Oscar berlalu. Benjamin hanya bisa mendoakan agar sahabatnya itu baik-baik saja. Setidaknya ia masih memiliki keinginan untuk bercinta, walau—jika dikatakan dalam hal tata krama dan peraturan tak tertulis tentang hubungan asmara hewani—spesies dan jenis kelamin yang ia pilih sebagai pasangannya itu terlarang. Mau dikata apalagi? Oscar benar. Sebagai spesies yang sudah punah, Oscar memang tak punya banyak pilihan jika berbicara soal cinta.

Oscar dan Godam berjanji akan bertemu di sebuah kedai kopi pilihan Godam. Setelah turun dari mobil angkutan, Oscar menoleh ke kiri-kanan untuk mencari kedai yang dimaksud teman kencannya. Badannya sedikit gemetar. Ia tak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Mungkin karena hewan yang akan ia temui adalah spesies yang sangat berbeda dengan dirinya. Apalagi Oscar adalah seekor karnivora dan Godam hanya makan daun hijau. Bukan kombinasi yang sempurna. Untungnya, Oscar adalah pribadi yang tidak memusingkan kesempurnaan.

Di sana, di salah satu meja-meja yang berjejer di samping trotoar jalan raya, Godam menunggu. Oscar melihatnya, namun Godam tak sadar akan hal itu. Lamat-lamat ia memperhatikan penampilan Godam dari ujung kaki sampai ujung tanduknya. Cukup menarik, pikirnya—dan sangat feminim. Lalu Oscar menyeberang dan mendatangi teman kencannya dengan sikap setenang mungkin.

Godam tersenyum. “Hai, Oscar.”

“Hai,” balasnya. “Boleh aku duduk?”

“Tidak boleh,” canda Godam.

Dan dengan polosnya, Oscar tetap berdiri. Melihat kelakar Oscar membuat Godam tersenyum-senyum. Oscar, seekor dinosaurus pra-sejarah terlihat linglung—sebagai predator pada zaman itu seharusnya kata “linglung” tak ada dalam kamusnya. Oscar semakin salah tingkah dengan memainkan bunga yang ada di atas meja. Sesekali Oscar melirik ke jalan dan memukul-mukul pahanya. Karena tak tega melihat teman kencannya berdiri seperti orang bodoh, Godam pun berkata,

“Baiklah, Oscar, sekarang kau boleh duduk.”

“Terima kasih. Maafkan aku. Sudah lama aku tak melakukan ini … eee … sebenarnya aku tak pernah melakukan ini. Pada zamanku, kami tak tahu ‘kencan’, hal seperti ini terlalu berisiko untuk kelangsungan hidup,” kata Oscar yang kemudian memperbaiki posisi duduknya.

“Hahahaha, kau lucu.” Kini air mata tawa mengintip dari tepi mata Godam. Cepat-cepat ia melapnya dengan tisu. “Aku janji tak akan menggodamu lagi, Oscar.”

“Terima kasih, Godam,” kata Oscar sambil menghela napasnya.

“Tidak perlu berterima kasih.”

“Oh, maafkan aku.”

“Dan meminta maaf.”

“Oh-uh, baiklah. He-he-he.”

“Hihihihi.”

Mereka berdua terkekeh entah karena apa. Terkadang kau tidak tahu apa yang sedang kau tertawakan bersama teman kencanmu dan seperti itulah yang sedang terjadi pada mereka berdua.

“Jadi, Oscar, apa ceritamu?”

“Maksudmu?”

“Selama ini, hanya kamu yang kulihat berbeda dengan jenis reptil lainnya. Kau lebih besar, lebih tinggi, dan fitur yang lucu dari dirimu adalah tanganmu yang mungil itu. Aku suka.”

“Oh, hahahahaha. Sebenarnya aku tak pernah benar-benar menggunakan tangan ini. Sejauh yang aku tahu, para hewan dan manusia memanggilku dinosaurus. Seekor dinosaurus. Tapi, aku tak suka itu.”

“Apa karena itu menyinggung perasaanmu, Oscar?”

“Tidak sama sekali. Aku hanya tak suka apabila orang membuat penilaian kepadaku tanpa mengenalku lebih dulu.”

Kata-kata Oscar membuat Godam sedikit kagum. Baru kali ini, Godam—seekor rusa jantan yang bernaluri betina—menemukan lelaki yang berbicara jujur apa adanya.

“Kukira semua orang pasti begitu, Oscar. Tak ada yang suka dinilai tanpa dikenali lebih dulu,” kata Godam, mukanya terlihat murung.

“Boleh kutanyakan sesuatu yang agak pribadi?” kata Oscar.

“Apa ini tentang kepribadianku yang feminim?”

“Ya. Maafkan bila aku menyinggung perasaanmu.”

Godam terkekeh. “Tidak kok, Oscar. Jujur, aku juga sudah lupa kapan aku mulai merasa seperti betina. Terkadang ada hal-hal yang kau lakukan atau kau rasakan tetapi tidak benar-benar kau pahami,” lalu Godam menyeruput secangkir kopi yang ada di atas meja, “Oscar, apa kau benar-benar tertarik kepadaku? Atau hanya karena aku satu-satunya hewan yang setuju untuk kencan denganmu?”

Oscar menarik napas dalam-dalam. Pertanyaan ini seperti sebuah pertanyaan yang retoris—atau jebakan. Akan tetapi, setelah ia memperhatikan baik-baik wajah Godam yang serius, maka dengan seksama Oscar memikirkan jawaban yang tidak menyinggung perasaan teman kencannya.

“Aku tidak sampai terpikirkan alasan untuk tidak mengencanimu. Maafkan bila aku lancang, tapi menurutku, kau terlihat seksi. Mungkin, karena postur tubuhmu,” kata Oscar.

“Ha ha ha … Oscar …,” kata Godam tak kuasa menahan tawanya, lalu ia melanjutkan, “pesanlah sesuatu, aku yang traktir.”

Oscar dan Godam pun larut dalam obrolan mereka yang asyik. Mereka saling bertukar cerita. Kebanyakan Oscar yang berbicara mengenai kehidupannya saat zaman dinosaurus dulu dan Godam sangat tertarik mendengarkannya. Hal-hal seperti burung yang dengan kibasan sayapnya dapat menggerakkan pohon-pohon besar, koloni brachiosaurus yang jika berjalan akan terasa seperti gempa, dan bunga-bunga beracun: dari yang mematikan sampai yang meningkatkan nafsu seksual, membuat Godam betah dengan teman kencannya.

“Kau tahu kan, kalau yang kita lakukan ini: berkencan, beda spesies, itu terlarang,” kata Godam.

“Iya, aku tahu itu.”

“Apa dulu di zamanmu banyak juga hewan yang menjalin hubungan terlarang?”

“Aku pernah melakukannya,” kata Oscar—mulutnya penuh dengan cangkir kopi. Setelah ia meletakkan kopi tersebut di atas meja, Oscar melanjutkan, “Waktu itu aku pernah bertengkar dengan kekasihku. Ia sejenis denganku dan betina, jadi hubungan kami normal. Karena aku dapati ia berburu dengan pejantan lain, aku memutuskan untuk tidak mengajaknya bicara.”

“Lalu?”

“Saat itulah aku berkenalan dengan Fynali. Seekor pterodactyl.”

“Kau menjalin hubungan dengan makhluk angkasa? Astaga, Oscar, Hahahaha.” Tawa Godam sempat membuat pengunjung lain di kedai itu menoleh ke arahnya. “Jadi, bagaimana hubungan kalian, Oscar?”

“Lebih buruk dengan kekasihku. Aku dan Fynali hampir selalu bertengkar saat memutuskan tempat untuk kawin. Ia lebih suka jika melakukannya di atas pohon … dan … itu adalah pekerjaan yang berat untukku.” Oscar menatap langit, mencoba mengingat-ingat kenangannya bersama Fynali. “Aku putus dengannya dan kembali lagi dengan kekasihku yang sejenis. Setidaknya kekasihku itu tidak pernah memintaku untuk kawin di atas pohon.”

“Zaman Mesozoikum tidak banyak peraturan seperti sekarang ini. Maksudnya kami benar-benar buas,” kata Oscar menambahkan.

Mereka terus berbincang hingga waktu hampir siang. Dan saat itulah tiba-tiba terdengar teriakan dari arah seberang kedai.

“HENTIKAN PREDATORISME!”

Oscar dan Godam terkejut dan menoleh ke arah sumber suara. Di sana terlihat gerombolan hewan-hewan dari berbagai spesies berdiri sambil berteriak-teriak. Birgin seekor antelop memegang spanduk yang bertuliskan: Kami Sudah Muak Dimangsa!

Spanduk Morgon—seekor wild the beast—dan kawan-kawannya bertuliskan: Katakan Tidak! Katakan Tidak! Katakan Tidak! Untuk Predatorisme!

Suasana menjadi semakin gaduh karena gerombolan hewan itu memblokir jalan raya. Mereka berdemo di depan kantor AHAH (Administrasi Hak Asasi Hewan) yang bersampingan dengan kedai kopi tempat Oscar dan Godam sedang berkencan. Oscar dan Godam setuju untuk menjauh dari tempat itu. Kemudian tanpa sengaja Oscar melihat sahabatnya: Duro, yang maju ke depan barisan para hewan lalu mengambil mikrofon dan berpidato:

“Kawan-kawan sekalian, terima kasih sudah bersedia untuk hadir pada kesempatan siang ini. Terutama kepada para hewan nokturnal yang rela begadang supaya berpartisipasi dalam unjuk rasa kita.”

Bimbop si kelelawar dan Koba si burung hantu mengangguk bangga, walau terlihat jelas mata mereka yang sayu.

“Hari ini adalah hari di mana predatorisme bangsa kita harus dihapuskan!”

“Betul!” sorak partisipan demo hampir bersamaan.

“Karena masih banyak alternatif lain untuk para karnivora!”

“Betul!”

“Dan omnivora!”

“Betul!”

“Dan segala jenis hewan lain yang memangsa hewan lain!”

“Betul!”

“Maka mari kita rapatkan barisan kawan-kawan! Kami menuntut agar pimpinan AHAH segera menindaklanjuti aspirasi kami!”

“Betul!”

Gerombolan hewan itu mulai menyuarakan protes mereka dengan yel-yel. Penjaga kantor AHAH bersiap siaga di depan gerbang untuk mengantisipasi tindakan yang tidak diharapkan dari para demonstran. Dalam waktu singkat gerombolan tersebut menarik perhatian hewan-hewan lain. Massa semakin bertambah. Oscar dan Godam masih di sana. Penasaran. Ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

 

~Bersambung~

Read previous post:  
103
points
(2381 words) posted by Nine 6 years 11 weeks ago
73.5714
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | kehidupan | Cinta | dongeng
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Shinichi
Shinichi at Kepatahhatian Duro (Bagian II) (5 years 29 weeks ago)
80

tersebab sudah terjadi diskusi yg sangat alot di Line, saya hanya tinggal menjejakkan langkah di postinganmu ini. pembahasan soal konflik itu lebih kepada cerber ini secara utuh. sedangkan untuk bagian ini, saya cukup bilang soal kepadatan. mungkin terlupa, bahwa di bagian awal penulis suka kesan nyeletuk, istilah-istilah umum yg membangkitkan rasa lucu. di sini, tampak lebih serius. dan biar dirimu enggak lupa, adalah tokoh utamamu Duro. sebaiknya dalam cerber yg diposting terpisah, jangan lupa menyertakannya sekalipun dalam pengandaian.
sekian saja, Bung.
menanti tulisanmu yg lain dengan ide lain biar beragam.

Writer hidden pen
hidden pen at Kepatahhatian Duro (Bagian II) (5 years 30 weeks ago)
100

Kalem bang :v maaf saya sudah lama ngeelirik tetapi bingung mau komen apa. Bang shin minta member kekom panjang-panjang komennya sii. Aku kan ribet. #ngeyel #alasan #plaakk

Saya suka part ini, bukan berarti part sebelumnya kurang suka. #plaaakk
Hanya saja aku merasa sudah masuk perdebatan dengan argumen argumen yang beragam.
Karena ceritanya dimasukin humor segar, mungkin banyak. Jadi gk bosen bacanya.
Semacam anjing. Memakai kacamata #bwhakk

----

saya juga sempat mengira pepatah itu hanyalah ungkapan atau pemanis aja. Tiada gading tak retak, ya udah itu aja di atas.

Namun, ternyata dibahas kenapa gading retak. Aku salah mengira jadinya #plaakk

Ok bang maaf bila ada yg salah ya, maklum orang rumahan gk terbiasa komunikasi yang enak buat orang di sekitarnya #plaakk

Kkaabbuurr...

Writer The Smoker
The Smoker at Kepatahhatian Duro (Bagian II) (5 years 31 weeks ago)
80

WTH, Zaenal Barker? / Jadi inget komplotan grup di sebelah. Hihi
.
Di sini terasa ngalir sii Nine, daripada yg di cerita Pak Manda. Jadi saya bisa ikutin aja liukannya #plaks. Good Job.
.
Saya nggak pake bekal ingatan apa2 mengenai bentuk animal2 di sini. Dinosaurus dengan Kijang semeja, misal, dibebasin aja ikutin cara kerjanya. Hihi. Kalo untuk yg lainnya sii, masih agak kaku aja di beberapa bagian dalam penggambaran sikap kali yak, entah.
Mohon maaf kalo nggak berkenan dan kalo ada yg salah itu berarti jaringannya.
Udah itu aja dulu, masii bersambung kan.