Burungnya Berdiri

Ia tertawa, dan bertanya dalam kepala: judul macam apa ini? Ia cukup mengenal penulisnya, yang kadang—lebih seringnya—menulis cerita tidak senonoh, tapi tidak terlalu vulgar seperti cerita dewasa yang banyak bertebaran. Penulis itu lebih ke arah tidak tahu diri daripada ahli dalam cerita demikian. Kalau suka cerita seperti itu, kenapa tidak menulis yang benar-benar seperti itu saja. Jika tidak suka, jangan sok menulisnya. Seperti orang munafik. Ingin, namun berkata tidak ingin, tapi masih ingin dekat. Macam penyakit anak muda.

Sebenarnya, tulisan penulis tersebut tidak terlalu bagus. Ada beberapa kesalahan umum tapi fatal yang masih dilakukan. Salah tulis huruf, atau kalimat-kalimat yang masih tidak efektif. Ada pula ketidak-konsistenan tokoh. Mereka lebih mirip boneka yang ikut saja apa yang dimau orang yang memainkan. Tidak berdiri dan punya pikiran sendiri. Penokohan penulis ini masih rendah. Latarnya biasa saja. Gayanya, tidak parah, tapi tidak bisa dibilang bagus juga. Standar. Menengah.

Penulis yang katanya lahir dan besar di desa ini tidak pernah menulis tentang desa. Padahal itu bahan bagus untuk sebuah cerpen autentik. Menjadikan cerita itu terasa sangat nyata, meski hanya bercerita tentang belalang atau capung di atas padi yang menguning. Atau ular yang sedang memangsa kodok di pematang. Beberapa bulan lalu, ada orang tewas terbakar bersama tebunya di desa tempat tinggal penulis tersebut. Namun, betapa bodohnya menyia-siakan hal itu. Hanya tertinggal di kolom koran lokal sebagai berita utama dalam satu hari.

Andai penulis ini merangkum kejadian itu dalam sebentuk cerita. Pasti akan baik sekali. Korban kebakaran itu akan terus hidup di kepala orang-orang yang membacanya. Dijadikan pelajaran singkat tentang perjuangan petani untuk merawat tebu mereka, hanya untuk memproduksi gula yang sebagian besar dinikmati orang lain. Tambahan rasa manis pada pahitnya kopi dan membuat kue tak lagi beraroma amis telur.

Ia kemudian bertanya-tanya. Sudah sampai ke paragraf ke lima, tapi tidak ada tanda-tanda "burung berdiri". Apakah penulis ini sudah tobat, atau sedang mempermainkannya saja? Ia mulai berpikir untuk tidak melanjutkan membaca. Bisa jadi cerita ini hanya bualan tak berguna. Menguras waktunya yang berharga, seperti sebelumnya. Penulis ini kadang melakukan itu untuk kesenangan. Melupakan rasa getir kehidupan dengan mengambil waktu orang lain.

Ia lalu tertawa dan merasa hina. Bagaimana bisa dirinya mengharapkan untuk membaca cerita dewasa dari penulis ini? Apakah dirinya memang menyukai cerita seperti itu, atau penulis ini yang membuatnya demikian? Ia kemudian kembali membaca judul di atas. "Burungnya Berdiri". Kalimat itu yang membuatnya berpikir bahwa cerita tersebut tidak senonoh seperti yang sudah-sudah. Di situlah masalahnya.

Burung memang selalu berdiri dengan kedua kakinya, bahkan saat mereka tidur. Namun kalimat itu seakan tidak menegaskan hal itu. Judul tersebut sedikit memberi kesan pada keadaan yang berubah. Tadinya tidak berdiri, kemudian berdiri. Burung apa yang dalam keadaan tidak berdiri, kemudian bisa berdiri?

Lagi-lagi ia tertawa. Cukuplah ia membaca bualan ini, tidak mau melanjutkan lagi. Pasti kalimat-kalimat cerita itu pun tidak berarti, seperti yang sudah-sudah, seperti sebelumnya. Ia sudah mengalaminya satu kali—atau beberapa kali—tidak mau mengulanginya lagi.

Namun, ia masih merasa jengkel. Ia ingin protes. Mengkritik judul itu yang menjurus ke pikiran kotor. Tapi ia tak memiliki bukti kuat. Tidak ada tanda terang judul itu memang mengondisikan keadaan yang berubah: tadinya tak berdiri, kemudian berdiri. Andai ada nama laki-laki di tengah-tengah dua kata itu. Itu akan menjadi bukti tak terbantahkan. Biar penulisnya membantah bahwa kata "burung" itu untuk binatang yang berparuh dan bisa terbang. Penulis tersebut akan kalah. Burung selalu berdiri dengan dua kaki, sementara kalimatnya sedikit mengesankan keadaan yang berubah. Dari yang tadinya tidak berdiri, menjadi berdiri.

Ia akan menang dalam perdebatan itu. Pasti.

Penulis macam itu, sesekali memang harus diberi pelajaran karena selalu mempermainkan pembacanya. Itu bukan kelakuan yang baik. Tidak seperti dirinya, yang selalu menampilkan cerita terbaik. Karena ia adalah penulis yang baik.

Setiap hari ia menyempatkan diri untuk sekedar menulis tiga sampai lima halaman. Kalau sedang dalam keadaan baik, dan memiliki waktu yang melimpah. Tiga puluh halaman pun sanggup ia tahlukan. Tidak seperti penulis itu, yang mungkin dari malasnya tidak pernah menampilkan cerita baik. Penulis tersebut mungkin menulis satu minggu sekali, atau dua minggu. Bahkan mungkin tiga bulan sekali. Penulis macam apa itu? Kalau menulis itu seperti makan, penulis yang memakai judul menjurus ini pasti sudah dikuburkan dari jauh-jauh hari.

Seperti makanan, begitu ia menganalogikan kegiatan menulisnya. Setiap hari ia harus makan agar hidup. Setiap hari ia harus menulis agar sehat. Bukan hanya harta benda dan bantuan tenaga yang bisa diberikan pada orang lain, tapi juga pemikiran, ide, pemahaman, dan ilmu. Ia memberikannya dengan jembatan bernama cerita. Menjadi berguna untuk orang lain. Menolong mereka.

Ia kemudian jatuh kasihan pada penulis itu, yang kerjaannya hanya menipu pembaca. Setidaknya, kalau penulis tersebut menulis setiap hari, pasti akan mengerti. Sebuah cerita bukan hanya berisi hiburan, tapi juga pemikiran penulisnya. Jika tanpa itu, cerita tersebut seperti awan mendung yang tak menurunkan hujan. Hanya menghalangi cahaya matahari tanpa memberi air. Tak berguna, malah merugikan. Seperti makanan tanpa nutrisi dan vitamin. Percuma saja memakannya. Rasanya pun tidak terlalu enak. Meski kenyang, tapi bohong.

Ia tergerak untuk menegur penulis itu sekarang. Agar sadar, bahwa dalam sebuah tulisan tidak hanya berisi hiburan, tapi juga ada hal lain yang lebih berguna bagi pembaca. Tidak perlu menekankan pesan, atau memaksakan pemikiran, cukup bersikap bijaksana saja saat menulis. Jangan berpikir menulis itu hanya main-main belaka. Untuk hiburan semata. Boleh sekali-dua kali seperti itu, tapi waktu yang lain seriusilah tulisan itu.

Ia harap penulis tersebut mengerti dengan apa yang ia katakan. Ia tulis lebih tepatnya, karena cerita itu ada di situs daring khusus untuk penulis. Situs yang sudah cukup lama berdiri, tapi sekarang sedikit sepi. Apalagi dengan munculnya situs serupa dengan berbagai inovasi dan kemudahannya. Belum lagi dari penerbit besar yang menjaring penulis muda dari situs demikian. Namun, ia merasa bentuk apresiasi di situs ini lebih dari situs-situs sejenisnya.

Yang membuatnya sedih adalah, apresiasi yang menjadi bagian penting untuk pertumbuhan penulis tersebut—selain latihan menulis setiap hari dan membaca sebanyak-banyaknya—seakan kian pudar. Padahal itu langkah awal untuk berdiskusi, saling membagi pikiran. Bentuk sosialisasi yang tepat dan bermanfaat antar penulis.

Ke mana perginya para pengapresiasi itu? Tidakkah mereka merasa rindu pada saat masih bersama, saling memberi pendapat dan komentar, kadang bercanda karena diskusi sudah selesai?

Penulis yang menggunakan judul menjurus ini tidak akan mengerti. Ia sangat yakin akan hal itu. Penulis tersebut bahkan tidak pernah bersikap serius pada tulisan, apalagi untuk mengapresiasi. Itu seperti pergi ke Mars dengan bertelanjang kaki.

Ia tertawa lagi, tapi getir. Baru saja ia menghakimi seseorang yang tak ia kenal dengan baik. Bertatap muka pun belum pernah. Namun, ia sudah tahu orang seperti apa penulis itu dari cerita dan tulisannya. Karena bagaimana pun, sebuah cerita fiksi sedikit atau banyak berisi kehidupan dan pemikiran penulisnya. Itu tidak bisa dibantah.

Sekarang, ia hanya perlu menulis lima kode untuk proses verifikasi, dan memilih tombol save untuk mengakhirinya. Komentarnya akan tampil, dan penulis itu akan membacanya. Namun, tidak ada perubahan apapun pada layar. Ikon tanda tersambung ke jaringan masih berputar. Ia kemudian melihat jam dinding. Jarum jam di sana menunjukkan pukul dua belas malam lewat lima. Paket internetnya telah habis lima menit yang lalu. Betapa cerobohnya. Mungkin ini takdir, pikirnya. Ia menutup halaman di layar, dan mematikan komputer. Membuat ruangan gelap kembali.

Mungkin, sekarang bukan saatnya untuk menghentikan ketidakseriusan penulis itu. Ia akan membiarkannya untuk beberapa saat. Mungkin, penulis itu juga sedang berjuang dengan caranya sendiri untuk menjadi penulis. Benar-benar menjadi penulis. Seperti dirinya. Seperti teman-temannya. Dan seperti mereka di luar sana yang juga ingin menjadi penulis sesungguhnya.

Namun, kapan perjuangan itu akan berhenti? Ketika sudah tak sanggup lagi berjalan—menyerah—atau saat sudah mencapai tujuan? Apakah yang dilakukannya sekarang ini mampu membuatnya meraih cita-cita itu? Ia belum mengetahui jawabannya.

Tiba-tiba, judul tulisan yang baru ia baca mengetuk pelan. Dirinya merasa seperti burung yang sedang berjuang untuk terbang. Burung itu tidak serta merta mengepak-ngepakkan sayapnya begitu saja dan terbang. Tapi, ia harus berdiri kokoh terlebih dahulu di atas tanah. Berdiri tegak dan mantap. Angin sekencang apapun tidak akan membuatnya goyah. Kemudian, perlahan ia akan mengerakkan kedua sayap. Merasakan deru angin. Bersalaman dengan udara. Kemudian melompat.

Ia mengepak-ngepakkan sayapnya sekuat tenaga. Meninggalkan bumi. Menuju langit. Sayap itu akan terus bergerak sampai pada ketinggian yang pas. Namun, sayap itu tidak akan berhenti begitu saja. Ia akan menggerakkan sayap itu saat tubuhnya mulai turun. Berusaha bertahan di udara. Ia akan terus berjuang untuk berada di langit. Melihat bumi dari ketinggian, seperti yang pernah ia impikan.

Burung itu memang harus berdiri terlebih dahulu, sebelum belajar untuk terbang.

 

 

 

 

Malang, 07:41 21 Maret 2016

Dalam kungkungan lagu-lagu mereka.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Tadaigami Shishō
Tadaigami Shishō at Burungnya Berdiri (4 years 38 weeks ago)
50

Kalo ini dishare di khayalak banyak (FB, Line, Instagram, dll) yang kejaring banyak.
Tapi di tempat pencarian jati diri seperti ini? Entahlah~

Writer kartika demia
kartika demia at Burungnya Berdiri (4 years 48 weeks ago)
80

Curahan hati seorang gadis lugu dari gondanglegi, sebut saja namanya Bunga. Bukan korban perkosaan, maupun kotban perselingkuhan. Juga bukan pelaku pembuat bakso boraks.

Ngorek sekonik: menyia-siakan -->> menyia-nyiakan.

Writer The Smoker
The Smoker at Burungnya Berdiri (4 years 48 weeks ago)
80

Emang nggak dielus-elus dulu burungnya?
.
Ini semacam entahlah, ada rasa kesal penulisnya #enak aja nuduh *slap*
Ada situs kepenulisan yg kita tau juga, yang kenyataanya dari dulu juga udah disebut sepi. Terlantar.

Ya gitu deh

Writer hidden pen
hidden pen at Burungnya Berdiri (4 years 48 weeks ago)
70

Muahaha, hadeuh aku di nasehati sejak awal :v
Kyaaa ampyuuunn :v