Hujan

Kamu menatap langit yang mulai menggelap, awan-awan kelabu mulai bertebaran menutupi langit sore yang tadinya biru. Kamu tidak bisa berbuat apa-apa saat tetes hujan mulai menghantam tubuhmu, awalnya lembut dan pelan, tapi dalam hitungan detik, semua kelembutan itu hilang dan digantikan dengan amukan yang mengerikan. Tubuhmu terasa sangat sakit terkena air hujan, dan kamu tidak bisa bergerak kemana-mana. Pasrah menatap langit yang sedang marah, atau bersedih?

“Mama, lihat bunganya kehujanan.” Kamu mendengar seorang anak kecil manusia berbicara.

“Tidak apa-apa sayang, bunga butuh air untuk hidup. Sama seperti manusia.” Kamu mendengar sang induk, ah, bukan induk sebutan yang digunakan oleh manusia. Apa namanya, ah, orang tua. Kamu mendengar orang tua anak itu menjawab. Mereka berdiri tepat di belakangmu, oleh sebab itu kamu bisa mendengar suara mereka meski hujan cukup deras.

“Apa lagi yang butuh air buat hidup, Mama?”

Kamu tidak mendengar jawaban sang orang tua, sebab sekarang fokusmu teralihkan ke sosok yang berdiri di sebelah orang tua-anak itu. “Astaga, beneran di tempatmu mati air? Ahahahaha, padahal lagi ujan badai gini, kok bisa sih?” Manusia bicara ke sebuah benda kotak yang ia tempelkan ke telinganya. Kalau kamu tidak salah ingat, bunga Mawar pernah menjelaskan kepadamu kalau benda itu namanya telepon genggam. Manusia menggunakan benda kotak itu untuk berkomunikasi.

Berbeda dengan para bunga yang menggunakan kupu-kupu, lebah bahkan angin sebagai media komunikasi. Hanya jika kalian ingin berkomunikasi dengan sahabat kalian yang jauh, tentunya. Kalau kalian bersebelahan, kenapa harus sibuk dengan alat komunikasi jika kalian bisa langsung berkomunikasi tanpa menggunakan alat? Kamu terkadang tidak paham dengan pola pikir manusia. Tapi manusia adalah makhluk yang menarik, kamu ingin mengetahui lebih banyak tentang mereka. Tapi apa daya, kamu hanya bunga liar yang tumbuh di tepi jalan. Bukan seperti Mawar yang dijadikan lambang cinta, apalagi Anggrek yang berasal dari hutan. Kamu hanya bisa mendengarcerita-cerita tentang manusia dari bunga-bunga yang sering berinteraksi dengan manusia.

Pastinya kamu tidak termaksud dalam kategori itu.

Kamu hanya bisa menunggu kematian datang menjemputmu secara alamiah, atau karena ada manusia iseng yang memisahkanmu dari Bumi. Ini juga yang membuatmu tidak paham dengan manusia, mereka merawat dan melindungi kaummu, hanya untuk mereka bunuh dikemudian hari. Mereka melakukan hal itu dengan alasan karena kaummu itu indah. Jika kaummu memang indah, kenapa manusia membunuh kalian?

Ah, manusia, mereka memang makhluk yang aneh.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Hujan (4 years 30 weeks ago)
80

Ada tiga bagian yang menurut saya bisa dibagi-bagi.
Pertama bagian awal yang rasanya digunakan untuk melatakkan posisi "kamu". Siapa dia atau apa dia, dan bagian ini menjadi titik timbulnya kesan pada bagian dua. Bagian ini terasa biasa, mungkin karena fokus untuk membangun bagian dua.
.
Bagian dua sendiri sangat bagus. Pola pikir bunga liar yang seakan seperti manusia, dan merasakan perasaan. Tapi posisinya tetap bunga liar, dan memposisikan dirinya di antara manusia. Cantiklah, apalagi ada kesan berfilsafat dan pesan yang dalam di sini.
.
Bagian ketiga adalah kalimat terakhirnya, yang menurut saya kurang sekali. Ada alasannya kenapa saya bilang demikian, padahal kalimat pamungkas dalam cerita yang amat pendek perlu perhatian lebih.
Ada sebuah pernyataan dalam cerita yang mengatakan manusia itu menarik. Dan pernyataan pada kalimat pamungkas berbeda: manusia itu aneh.
.
Dan "aneh" di sini saya rasa kurang tepat dengan pandangan bunga liar yang sudah dibeberkan pada bagian dua, maupun satu (awal).
.
Ah, kesannya saya menggurui, dan mengarahkan saudari ini ke selera saya, bukan?
Biar lebih terkesan menggurui, hehe, saya akan tambahkan kalimat revisi (versi saya) yang saya sebutkan tadi.
.
"Ah, manusia, mereka memang makhluk yang menarik, sekaligus rumit."
.
Maaf jika tidak berkenan, salam **

Writer Nine
Nine at Hujan (4 years 30 weeks ago)
100

Melihat manusia lewat perspektif sebuah bunga. Rasanya ada yang kurang, mba dwi. Mungkin karena nggak ada yang memuncak di sini (subjektif). Kyaknya itu aja, mba. Mohon maaf kalau ada salah paham atau yg kurang berkenan.

Writer puTrI_keg3lapaN
puTrI_keg3lapaN at Hujan (4 years 30 weeks ago)

Gak apa-apa kok, santai :). Ini juga saia lagi balik latihan nulis lagi, setelah belakangan ini sibuk main game #eh
Mungkin harusny endingny si bungany dipetik sama anak kecil itu yah #eeeeeh

Writer Nine
Nine at Hujan (4 years 30 weeks ago)

Hok'oh, mba. Semacam gitu2. Yang bikin tegang-tegang dikit. Hihihihi

Writer vanzoelska
vanzoelska at Hujan (4 years 30 weeks ago)
2550

Manusia tidak sadar membunuhmu, mereka juga tidak sadar kalau kamu itu hidup. Mereka hanya tau kamu bertumbuh, itu saja.

Hihi ceritanya keren, lantunannya indah hehe.
Salam penaa