Pada Akhirnya

“Enggak, pasti ada cara lain!” Sam berteriak marah. Genggamannya ditangan Lara semakin kuat.

“Sam,” bisik Lara lelah. “kamu tahu kalau tidak ada cara selain ini.” Ia menatap ke belakang, ke portal warna biru dan hijau yang bercahaya. Langit sore ini mendung, angin bertiup sangat kencang. Apakah ini gejala alam biasa, atau kehadiran sihir di kota ini yang membuat cuaca menjadi kacau?

“Kita bisa mengalahkan monster-monster itu dengan senjata seperti kemarin-kemarin!” teriakan Sam semakin kencang, sebab dia harus melawan gemuruh petir dan desiran angin. “Tentara-tentara itu akhirnya percaya sama kita dan mereka udah siap melawan monster-monster itu!”

Lara tertawa pelan, tapi Sam benar. Meski pada awalnya semua orang di kota, ah di negara ini, tidak percaya kalau ada monster yang keluar dari sebuah novel, tapi sekarang mereka sudah bersatu dan siap melawan monster-monster menyeramkan itu. Setelah selama hampir sebulan hanya Lara dan keenam sahabatnya (sebetulnya mereka bukan sahabat, mereka saling bermusuhan satu sama lain di dunia asal mereka. Tapi ketika tiba di dunia asing ini, mereka sepakat untuk bekerja sama demi menemukan jalan pulang. Jalan pulang yang sekarang terbuka lebar di belakang Lara) yang berasal dari dunia novel itu saja yang bertarung melawan monster-monster itu.

“Ya, kita memang bisa melakukannya. Tapi kamu tahu kan, kalau hal itu percuma. Monster-monster itu akan kembali lagi, menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Jika kita tidak menghancurkan sumber sihir di kota ini, pertarungan itu akan sia-sia.” Lara tersenyum pahit. “Dan sebelum portal sihir itu hancur, aku dan yang lainnya harus pulang ke dunia kami. Atau kami akan mati di sini.”

“Di dunia sana kalian juga bisa mati kan?!” teriak Sam. “Apa bedanya kalau kalian mati di sini?!” Sam terkesiap, tidak percaya kalau dia baru saja mengucapkan kalimat itu. “Maaf, aku tidak...”

“Kau serius saat mengucapkan hal itu, tidak apa-apa.” Lara meremas tangan Sam. “Kau benar, kami memang bisa tewas di mana saja. Tapi setidaknya, jika kami tewas di dunia kami, tidak akan ada keanehan yang terjadi di duniamu. Tentunya kau masih ingat apa yang terjadi setelah kita berhasil mengalahkan Julius bukan?”

Sebetulnya bukan hanya Lara dan keenam temannya saja yang muncul di dunia Sam. Seorang raja dari dunia mereka, Julius Whiplash, yang di dunia mereka terkenal sangat adil dan agung, berubah menjadi orang serakah dan haus akan kekuatan. Tidak ada yang mengerti apa yang menyebabkan perubahan Julius yang sangat drastis. Bisa jadi karena sihir di dunia ini sangat kacau, tapi mereka tidak punya waktu untuk melakukan percobaan.

Sebulan yang lalu, jika ada orang yang mengataan kalau dirinya akan mengeluarkan beberapa karakter dari dalam novel dan Yogyakarta akan dipenuhi oleh monster-monster yang selama ini dia lihat hanya dalam video game atau film, Sam pasti akan tertawa terbahak-bahak dan bertanya apakah orang itu masih waras atau tidak. Tapi itulah yang terjadi kepada Sam tepat tiga puluh satu hari yang lalu. Ketika dia sedang menunggu sepupunya di perpustakaan kota, dia menemukan sebuah novel tua. Baunya saja sampai membuat Sam bersin-bersin. Tapi dia penasaran dengan buku itu, terlebih lagi dia tidak pernah mendengar nama percetakan yang mencetak novel itu. Dia pikir ini novel turun temurun dari era Kolonial, makanya Sam tidak pernah mendengar nama penerbitnya.

Alangah terkejutnya dia saat dia membuat halaman pertama novel itu, cahaya keeman keluar dari dalamnya. Sam mengira kalau hal seperti ini hanya terjadi di dalam novel atau video game! Novel berjudul Eterno itu terjatuh di dekat kaki seorang perempuan berambut panjang dan berpakaian serba hitam. Dia terlihat sangat bingung dan ketakutan saat melihat lingkungan di sekelilingnya. Semenjak itu Sam membantu Lara untuk menemukan jalan pulang ke dunianya. Sepanjang perjalanan, mereka bertemu dengan keenam orang (kaakter?) yang berasal dari dunia yang sama dengan Lara. Oh, mereka juga menemukan monster dan ternyata mereka bisa menggunakan sihir.

Sekarang, apa yang mereka cari selama sebulan akhirnya berhasil ditemukan. Tapi kenapa mereka menjadi enggan untuk pulang ke rumah mereka?

"Kami tidak bisa berada di dunia ini. Sebab di dunia ini, kami hanyalah sebuah cerita." Lara tersenyum sedih. "Cerita yang pada akhirnya harus kembali ke dalam cerita. Sebab disanalah kami hidup, bukan di sini, di dunia nyata. Bukan di duniamu."

Karin, salah satu tokoh yang juga keluar dari dalam novel yang sama dengan Lara, menggeram kesal. “Aduh, lama banget sih mereka! Kalau enggak cepat-cepat nanti portalnya keburu ketutup!” desisnya.

Thomas, musuh bebuyutan Lara, tertawa. “Pasti kau iri, iya kan? Aku melihatmu sering menatap Sam. Lupakanlah pria itu, toh dia bukan dari dunia yang sama dengan kita, plus dia sudah memilih Lara. Aku yakin dunia kita belum kehabisan stok pria.”

Karin pura-pura muntah. “Please, tidak semua orang seputus asa itu yah. Aku tidak peduli meskipun harus melewati hidup ini sendirian. Sebagai seorang archer, aku sudah terbiasa sendiri, bahkan sengaja menghindari orang.”

Tawa Thomas makin kencang. “Oke-oke, aku percaya kepadamu.” Dia tidak berhenti tertawa meski Karin menatapnya dengan tatapan membunuh. Sang archer sedang memikirkan bagaimana cara untuk membunuh sang monk dan membuatnya terlihat seperti kecelakaan.

“Kenapa Lara tidak membawa Sam dengan kita saja? Aku rasa itu lebih baik.” Tanya Senrei, sang healer.

“Kita tidak tahu apa yang akan terjadi jika kita membawa seseorang atau sesuatu yang tidak berasal dari dunia kita. Sam bisa saja tidak selamat jika melewati portal ini.” Jawab Marder, sang Impagteus. Impagteus adalah sebutan bagi orang yang bisa menggunakan sihir dan memiliki kekuatan fisik diatas rata-rata pengguna sihir pada umumnya.

“Tapi kita bisa selamat?” tanya Thomas. “Dari mana kau tahu kalau kita bisa selamat?”

“Uh, karena kita dari sana?” balas Karin.

“Tapi aku penasaran,” Xerxes, sang mage bicara. “Jika kita kembali ke dunia kita, apakah kita akan kembali seperti dulu lagi? Saling bermusuhan? Apakah ingatan kita akan dunia ini akan menghilang?”

Alexandria menghela napas. “Itu artinya kita akan berjumpa lagi di medan perang,” sang warrior mengedarkan pandangannya ke lingkaran kecil di hadapannya. “sebagai musuh.” Pedang raksasa di punggungnya terasa jauh lebih berat setelah dia mengucapkan kalimat tersebut. Meski dia jarang bicara dan dianggap dingin serta tidak memiliki perasaan, sebetulnya Lexa sudah mulai menganggap keenam orang ini lebih dari sekedar teman seperjuangan. Mereka sudah menjadi seperti keluarga yang tidak pernah dimiliki oleh Lexa sebelumnya.

“Waow, semudah itu dirimu melupakan petulangan kita selama sebulan di dunia ini?” tanya Thomas marah. Atau pura-pura marah. “Aku tahu kalau kau memang tidak punya perasaan!”

“Memangnya apa yang bisa kita lakukan, Thomas?!” balas Lexa dengan nada suara tinggi.

Semua orang terkejut, karena ini kedua kalinya mereka melihat Lexa emosi. Yang pertama saat Julius mengatakan kalau dia yang membunuh keluarga Lexa.

“Kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Kita hanya punya dua pilihan: kembali dan menjadi musuh lagi hingga akirnya mati di dunia kita dengan damai, atau tetap tinggal di sini melawan monster-monster yang semakin kuat dan mati dengan membawa bencana untuk dunia ini.” Tangan Lexa terkepal erat. “Tentu saja aku memilih yang pertama! Setidaknya jika aku mati sendiri di dunia kita, tidak akan ada monster yang muncul setelah tubuhku hancur!”

Thomas tidak berkata apa-apa, dia hanya membuang muka. Sementara Senrei berusaha menenangkan Lexa, tapi tentu saja tangan pria itu langsung ditepis oleh Lexa. Karin melototi Thomas, Xerxes menghela napas panjang sementara Marder hanya melirik sekilas sebelum kembali menatap Lara dan Sam di kejauhan.

Mereka masih ingat dengan jelas, setelah mereka kewalahan melawan Julius, tubuh sang raja tiba-tiba menghilang dan begitu cahaya putih yang menyelimuti tubuh sang raja menghilang, muncul monster-monster yang jauh lebih kuat dibandingkan monster-monster yang mereka lawan sebelumnya. Heck, bahkan monster-monster itu lebih kuat dibandingkan Julius. Jika saja tentara negara ini tidak datang, mereka bertujuh pasti sudah tewas saat itu juga. Itulah yang menyebabkan para kesatria dari dunia Eterno sadar bahwa setiap kali mereka mengalahkan musuh dari dunia mereka, akan muncul yang lainnya. Itu bisa memberi sedikit penjelasan mengenai kenapa jumlah monsternya tidak pernah berkurang, dan kenapa mereka tambah kuat.

“Hei, aku kira kita sudah menjadi sahabat sekarang.” Suara Lara berhasil mengalihkan perhatian mereka semua. “Kenapa kalian berteriak-teriak segala?”

“Apa kau sudah siap untuk kembali ke duniamu?” tanya Marder pelan.

Lara melirik ke belakang, dia melihat Sam sedang ditarik oleh teman-temannya agar menauh dari kawah yang terbentuk di halaman istana presiden. “Sebetulnya, aku belum siap.” Lara tersenyum sedih. “Tapi jika kita kembali sekarang, kesempatan ini tidak akan datang lagi. Dan kita tidak tahu kapan kesempatan ini akan datang lagi.”

“Bagaimana kalau kita ternyata tidak kembali ke dunia kita? Tapi malah muncul di dunia lain?” tanya Xerxes gugup.

Lara menyeringai. “Aku rasa monster-monster yang kita kalahan dari sebulan silam itu sangat familier, bukan? Tapi kau benar, ada kemungkinan kita tidak kembali ke dunia kita. Tapi aku rasa, itu lebih baik dibandingkan tetap tinggal di sini dan membuat dunia ini tambah kacau.”

“Kau ingin membuat kekacauan di dunia lain?” tanya Marder bingung.

Lara tertawa. “Tidak, tentu saja tidak. Aku berharap kalau kekacauan yang akan kita buat selanjutnya adalah di dunia kita sendiri.” Tangannya langsung menyentuh pangkal pedangnya. “Meski aku berharap kita tidak akan menciptakan kekacauan lagi. Cukup kekacauan di dunia ini saja.”

Terdengar suara ledakan dari dalam portal, membuat ketujuh kesatria itu mundur beberapa langkah, tangan mereka secara refleks langsung mengambil senjata masing-masing. Setelah ledakan tersebut, cahaya yang keluar dari portal semakin redup. Yakin tidak akan ada monster yang keluar dari portal, mereka memasukkan kembali senjata mereka.

“Oke, aku rasa ledakan barusan itu pengingat kalau kita harus segera pergi dari sini.” kata Thomas dengan resah.

“Ya, kau benar.” Lara memasukkan kembali dual sword miliknya. Pilihan senjata yang cukup unik untuk seorang Dark Knight. “Sudah siap untuk pulang ke rumah?”

Keenam sahabatnya mengangguk, Lara tersenyum. Dia memimpin kelompoknya berjalan menuju ke portal, dan sebelum dirinya benar-benar masuk ke dalam portal tersebut, dia menoleh ke belakang sekali lagi. Berharap dia bisa melihat Sam untuk yang terakhir kalinya. Tapi tentu saja tidak semua harapan bisa terkabulkan. Senyum sedihnya berubah menjadi senyum bahagia saat melihat keenam sahabatnya bermandikan cahaya keemasan.

.

.

.

Tubuh Lara terpelanting setelah gagal menahan serangan dari Lexa.

“Apa hanya ini kemampuanmu, Dark Knight?” tanya Lexa dengan nada merendahkan.

Lara terbatuk-batuk, tapi darah yang keluar bukan warna merah seperti darah orang pada umumnya. Darahnya hitam, itu adalah tanda dan kutukan untuk para Dark Knight. Mereka yang tidak memiliki tuan selain gelapnya malam dan kengerian peperangan. Walau tubuhnya terasa seperti hancur berkeping-keping, Lara tertawa terbata-bata. “Seranganmu sangat lemah. Tidak peduli sebesar apa senjata yang kau gunakan.”

“Cih,” Lexa mencibir. “kalian para Dark Knight hanya parasit yang menganggu keseimbangan dunia.”

“Oh maksudmu karena kami tidak mau menjadi peliharan para raja-raja serakah yang menciptakan perang atas nama kesejahteraan rakyat?” Lara menggeleng geli. “Tanyakan kepada mereka yang menjadi korban perang, dan siapa yang akan mereka katakan sebagai penganggu dan paraasit yang sebenarnya di dunia ini.”

Lexa menghantam rahang Lara menggunakan pangkal pedangnya. “Banyak omong.”

.

.

.

“Raja Thomas, kenapa Anda tidak pernah mau menggunakan pedang saat bertarung?” keluh healer kerajaan sambil mengobati tangan Thomas yang terluka.

Yang ditanya tertawa. “Aku lebih nyaman saat meninju lawanku. Lagipula–“

Thomas tidak sempat menyelesaikan kalimatnya saat sebuah panah api mendarat beberapa senti dari kakinya. Sang healer terpekik, sedangkan Thomas langsung loncat dari kursinya dan berlari ke arah balkon. Dia memperhatikan semua pohon yang bisa dia lihat dengan matanya, berusaha mencari seseorang atau sesuatu, tapi tidak ada apa-apa, atau siapa-siapa.

Thomas menggeram marah. “Jadi sekarang Marder sudah beralih menggunakan panah, huh?”

.

.

.

Karin menarik napas panjang. Seharusnya dia tidak menerima tawaran pekerjaan ini, tapi dia tidak bisa menolak. Giginya bergemeletuk saat ingat ancaman yang diberikan oleh Raja Julius. Siapa yang mengira kalau raja yang dikenal baik hati dan adil itu ternyata memiliki sisi gelap? Dia menawan keluarga Karin, dan satu-satunya cara bagi Karin untuk menyelamatkan keluarganya adalah dengan melaksanakan perintah sang raja. Tapi dia mulai ragu untuk melakukannya sekarang.

Dia diperintahkan untuk membunuh seorang mage dari kerajaan tetangga. Awalnya Karin mengira kalau mage itu sudah tua atau setidaknya pernah membunuh orang dengan kekuatan sihirnya. Tapi tidak, mage yang ingin dibunuh oleh Raja Julius masih berusia lima belas tahun! Karin tidak paham kenapa Raja Julius ingin membunuh sang mage.

“Senrei, ayo cepat!” Xerxes mengentakkan kaki dengan tidak sabaran. Pagi ini akademi sihir sedang sepi, sebab sudah masuk musim liburan.

Tangan Karin gemetaran, dia tidak pernah segugup ini! Ini bukan pertam kalinya dia menerima pekerjaan untuk membunuh seseorang, tapi ini adalah pertama kalinya ada orang yang ingin membunuh anak-anak. Karin menelan ludah. “Maafkan aku,” bisiknya sebelum melepaskan anak panah ke arah Xerxes.

.

.

.

“Saaaaaaaaam! Aku baru beli game Tomb Raider yang baru nih!” teriak Isman dari luar kamar Samuel.

Pria berusia 20-an itu menggeram marah. “Man, ini masih pagi!”

“Hah, Lara Croft tidak kenal yang namanya pagi atau malam!” Isman tiba-tiba sudah masuk ke dalam kamar Sam, bahkan dia sudah menyalakan laptop Sam.

“Terseraaaah!” Sam menutup kepalanya menggunakan bantal. Dia tahu kalau Isman itu cinta mati sama Lara Croft, makanya dia kecewa berat waktu tahu kalau ternyata arkeologi di dunia nyata itu tidak seperti yang digambarkan dalam saga Tomb Raider.  Tapi memang Lara Croft itu cantik sih, apalagi ada gosip yang bilang kalau filmnya mau di-remake dan Daisy Ridley bakalan jadi the new Lara Croft. Hmmm, Lara Croft, Lara. Lara...

Kenapa tiba-tiba Sam jadi merinding yah setelah menyebutkan nama Lara? Pria itu melempar bantal yang tadi ia gunakan untuk menghalangi sinar matahari ke kepala Isman, membuat pria itu mengeluarkan sumpah serapah. Sam tertawa dan duduk di kasurnya, memperhatiakn Isman mengutak-atik laptop-nya demi bermain game.

Lara, Lara, Lara...

Sam pernah kenal dengan seorang Lara, tapi namanya bukan Lara Croft. Lara yang lain. Siapa yah? Rasanya teman kuliah Sam tidak ada yang namanya Lara. Mantan-mantan Sam juga. Hum, kenalan di internet? Ah, tidak. Atau itu cuma mimpi? Sam kenal dengan seorang Lara? Kenal, bahkan hampir mencintainya?

In the end, we’re just stories...

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer budi11
budi11 at Pada Akhirnya (2 years 44 weeks ago)

Lumayan bagus cerita novel ini, lanjutkan karyawamu nak

____________________________________
Jual alat bantu inhalasi / pernapasan Omron Nebulizer NE C30 terlengkap dan murah di Gesunde Medical

Writer Suwoko
Suwoko at Pada Akhirnya (4 years 31 weeks ago)
50

berkomentar