Waltz untuk Soremu (bag.2)

Pulang cepat hari ini hanya blabla belaka. Tentu saja. Selalu ada alasan untuk mencegah pekerja kelelahan semacam kami agar membereskan pekerjaan supaya bisa liburan akhir tahun dengan tenang. Iming-iming liburan yang kerap kali berhasil mengusik orang yang haus hiburan dan jalan-jalan. Lalu uang yang ditabung selama setahun kemarin minus kembali di tahun yang baru nanti. Semacam lingkaran setan.

Kubereskan meja dan mengemasi barang-barang ke dalam tas. Di meja lain beberapa masih sibuk, ada juga yang sudah mulai berkemas. Lampu di sebagian ruangan lain telah padam hingga pemandangan jutaan lampu di luar lebih terang terlihat. Seperti kunang-kunang.

"Beres, Fay?" Niko menghampiriku sambil mencangklong tasnya.

"Yukk," Terakhir, kumatikan lampu di meja lalu berdiri mengambil tas. Kami berjalan ke luar ruangan setelah pamit pulang duluan pada rekan yang lain. Melewati koridor menuju ruang utama mencapai meja resepsionis yang sudah sepi. Hanya ada satu satpam jaga sedang duduk bermain game di komputer resepsionis, menyapa kami ketika berjalan menuju lift, hanya sebentar lalu sibuk kembali.

Di lobby lantai dasar masih ramai orang, gerai makanan dan minuman masih buka. Orang-orang masih sibuk. Hilir mudik, duduk-duduk, memilih baju di butik, berbincang sambil mengudap.

Langit gelap, ramainya lampu ditambah suara bising lalu lintas segera saja menyambut kami sekeluarnya dari halaman gedung. Trotoar memang kurang menjanjikan rasa nyaman, tapi setidaknya harus ada yang membuatnya tetap ada. Sebelum dirampok pemotor dan orang-orang kurang adab. Banyak pekerja yang juga hilir mudik mencari jalan pulangnya sendiri-sendiri di trotoar. Entah itu menuju halte, stasiun, tempat karaoke, pusat perbelanjaan, rumah makan atau tempat paling jorok di sudut-sudut kota.

"Makan apa kita, nih?"

"Terserah elu deh, gue pengen ngopi aja sih."

"Nggak usah pake-pake diet, kurusan gitu lu." Niko mulai menyulut rokok yang dikeluarkan dari sakunya.

"Apaan diet, nggak ada deh gue. Tempat yang kita makan kemaren udah buka belum?"

"Oh, ya udah ke sana aja kita,"

Tangan Niko meraih lenganku buru-buru ketika lampu penyeberangan mendadak merah. Di jam sibuk seperti ini serasa bodoh jika hanya duduk-duduk dalam kendaraan pasrah saja pada kemacetan. Pilihan orang yang terlanjur frustasi pada lalu lintas mungkin jalan kaki seperti kami lalu naik bus. Lagipula untuk apa milyaran lampu itu dipasang kalau tidak untuk dinikmati. Berjalan sepulang kerja sudah jadi semacam relaksasi, menghabiskan berbatang sigaret dan minuman kemudian mengaduknya dalam obrolan yang random.

"Ih, meong.." Seekor kucing tiga warna duduk di atas pagar taman di depan halaman sebuah gedung pemerintahan. Ia lari sewaktu kudekati.

"Coba lu manggilnya, Nak, gitu. Gak bakalan lari dia.." Asap rokoknya mengepul tebal sambil cekikikan.

"Eh, kucing kalo dipiara dari kecil bakal mikir kita induknya lho, Nyet."

"Emang dia manggil, mamah... mamah lapar.." Niko kembali cekikikan.

"Serius, Nik. Emang gitu,"

"Iya, gue juga serius... elu kurusan, hahaha.."

"Ih. Napa sih, lu... ketularan Surya? Nemu anak SMA lagi?"

"Beuuh, cewek-cewek SMA... Mereka itu... ibarat suplemen, Fay. Buat semangat kerja, tapi nggak boleh lu konsumsi untuk waktu lama.."

"Bikin penyakit hati dan ginjal gitu? Haha.."

"Kebanyakan maunya, mereka... sebagian besar maunya ada di mall. Padahal mau gue cuma di hotel ato di jok mobil doang, merekanya minta baju, minta makan, minta nonton, minta ke klab.." Niko tertawa sementara aku cuma mengumpat dan menggeleng, menahan tawa juga.

"Heran gue sama lu,"

"Gue juga heran sama cara pikir anak SMA zaman sekarang, ck.." Air mukanya menerawang, kepalanya menggeleng tak habis pikir. Tentu saja cuma bergaya.

"Jadi, udah berapa lu kenal sama Ikbal?" tanyanya.

Di remang lampu trotoar kulihat siluet asap mengembus dari bibirnya yang setengah terbuka, dari hidungnya juga. Dua orang pejalan kaki lain menerobos kami dengan gegas, takut ketinggalan bus barangkali. Ketika itu juga aku merasa rambutku sudah mulai lepek dan kusut, ingin segera sampai rumah. Keramas dan berendam. Tapi bagaimana dengan rencana makan kami barusan? Ah, iya.

"Apaan.."

Ia tersenyum meledek. Mataku menyasar langit lalu halaman gedung dan lampu-lampu. Lalu silau karenanya, membuatku terpaksa mengadu pada paving blok yang acak dan diam. Berharap ada rongga yang cukup besar untuk melesakkan tubuhku ke dalamnya.

"Kadang-kadang..," Ia menggantung kalimat lalu mengisap kembali sigaret yang tinggal beberapa senti. Agak lama. Lama yang dibuat-buat.

"Apaaa?" ujarku.

Ia tersenyum, hingga senyumnya menjadi tawa. Sementara aku cuma diam melihatnya begitu.

"Kadang-kadang... gue asal nebak doang kaya tadi."

Bibirku menyengir, lamat-lamat kudengar suara hak sepatuku bergemeletuk gemas.

"Dan kadang-kadang, respon lu udah ngasih jawaban yang lebih dari cukup." Tawanya kembali menciut jadi senyum lalu berbaur dengan asap yang berkejaran dari bibir.

"Tetap aja itu kadang-kadang, kan?"

Tak terasa kaki kami sudah beradu dengan undakan jembatan penyeberangan menuju halte bus. Beruntung ketika sampai di halte, antrean di loket dan pintu elektronik tidak sepanjang biasanya. Beberapa pekerja yang lelah, pulang membawa cerita seharian di dalam tas dan saku bajunya, sempoyongan. Kami langsung menuju ke antrean pintu elektronik sembari mengeluarkan kartu langganan masing-masing. Seorang perempuan berblazer merah berdiri sambil terus saja sibuk dengan telepon seluler di tangan. Jiwanya terhisap ke dalam gawai, enggan pulang kembali pada realita yang barangkali dirasanya begini-begini saja. Bapak berbaju batik di belakangnya sampai harus menepuk bahunya agar ia bergerak maju di barisan antrean. Dengan wajah masam si perempuan mengingsut malas. Ia sadar, semasam apa pun ia tetap akan mendapat pemakluman sebagaimana perempuan cantik diperlakukan. Halte selepas jam kerja, apalagi yang bisa ditawarkan selain aroma keringat bercampur parfum yang memudar.

Niko mengeluarkan ponsel dari sakunya, lalu ikut sibuk seperti si blazer merah. Hanya tinggal beberapa orang lagi menuju palang pintu, semoga pula bus datang tepat waktu. Teleponnya berbunyi. Kulirik jam. Sepuluh menit lagi bus datang. Tidak begitu kuperhatikan Niko bicara dengan siapa, namun sepertinya ia menawarkan ajakan bertemu di tempat kami makan nanti.

"Yoi, ketemu di sana... sama temen kantor gue. Lu kayanya kenal deh,"

Dahiku berkerut. Beberapa temannya memang aku kenal. Namun sesuatu yang tersimpan di ujung matanya terasa sedikit berbeda.

"Okeh, Vrohh.."

Demikian. Sambungannya mati. Dan aku sudah berada di depan petugas tiket berwajah tak ramah, bergesa menempelkan kartu elektronik lalu membuka palang. Berlalu dari sana diikuti Niko, menunggu bus datang.

"Mau ketemu temen juga, lu?"

Ia tersenyum sambil mengantongi kembali gawainya.

"Ikbal."

Kupandangi wajah-wajah kuyu di sekitar sambil membayangkan siapa saja kiranya yang sedang menunggu kedatangan mereka. Anak istri? Kekasih? Teman? Orang tua yang sakit-sakitan? Ataukah hanya setumpuk cucian yang teronggok di dekat mesin cuci dan berbotol bir di kulkas dalam apartemen atau flat sempitnya? Niko menyulut kembali sebatang sigaret sambil melirik ke arah si blazer merah yang berdiri dengan cantiknya. Pada rok yang setengah paha itu tepatnya. Bukan tak mungkin akhir minggu nanti rok itu bakal tersingkap seluruhnya, mencelat di sudut kamar temanku. Sepulang nanti aku benar-benar butuh berendam. Pasti. Tentu setelah kami makan dan entah bakal ada obrolan atau yang lainnya. Entah. Shit, Niko!

*****

Sensoria, Desember 2015

Read previous post:  
82
points
(1280 words) posted by vinegar 5 years 5 weeks ago
74.5455
Tags: Cerita | Cerita Pendek | cinta | Kehidupan | obrolan | sore
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer nusantara
nusantara at Waltz untuk Soremu (bag.2) (4 years 25 weeks ago)
70

Bagusan yang pertama, hehe, iya, beneran

Writer rian
rian at Waltz untuk Soremu (bag.2) (4 years 33 weeks ago)
80

Enak dibaca kayak biasa. Tapi karena memang suasananya enggak syahdu kayak di "Flame", misalnya, atau di "Pertemuan", jadi kurang suka. Rasanya cepet aja terus selesai gitu doang. Konflik dan tokoh yang belum jelas juga bikin pengalaman membaca kurang berkesan (saya udah baca yang pertama, tapi masih belum ngerti arah ceritanya ke mana; salah saya sih). Tapi mungkin ini memang sekadar dimaksudkan jadi potongan random hidup tokohnya. Yang penting enak dibaca lah.

Sekian. Sekadar ninggalin jejak aja ini.

Writer daniswanda
daniswanda at Waltz untuk Soremu (bag.2) (4 years 35 weeks ago)
90

Hmm, mau komen apa ya, dah keduluan ama yg laen.
Di paragraf awal sebetulnya kurang mulus sih. Saya sempet baca 2x paragraf awalnya soalnya ga paham :)
Tapi dialog antar tokohnya mengalir asyik setelah itu dan saya bisa menikmatinya.
Dah itu aja deh dr saya. Matur Nuwun

Writer vinegar
vinegar at Waltz untuk Soremu (bag.2) (4 years 34 weeks ago)

Memang saya sering bikin orang salah paham #eh..
Setidaknya ada yang bisa dinikmati dari tulisan yg nggak seberapa ini. Makasih sudah membaca dan komen yak :)

Writer Wanderer
Wanderer at Waltz untuk Soremu (bag.2) (4 years 35 weeks ago)
100

Kelamaan di lapak sebelah sepertinya membuat kemampuan mengkritisiku jadi tumpul. Huhu.
Tapi aku tetap cinta ceritamu, Kak Vin. Senang bisa membaca lanjutannya :D

Writer vinegar
vinegar at Waltz untuk Soremu (bag.2) (4 years 34 weeks ago)

Ya Wander, nungguin kamu ga nglanjut2in sih ;).. Miss you wander, sama nona satunya juga. Salamin yak :v

Writer kartika demia
kartika demia at Waltz untuk Soremu (bag.2) (4 years 35 weeks ago)
90

.
Lah, saya gak sempat liat angka (2)nya di judul. Langsung aja baca ini. XD
Tapi ini nyambung kok buat saya, meski belom sempat baca bab sebelumnya. Seperti kata mbak Nur, ini ala2 pembukaan novel. Dan katanya gaya penuturanmu disini lebih awam ya? Saya gak tahu, mau baca karya2 lawasmu buat perbandingan, tapi udah deleted semua. *penontonkuciwa :D
.
Eh iya mengenai isi, sebenarnya saya gak begitu ahli mengomen secara subyektif ^^ . Tapi yang saya rasa saat membaca ini: kalimat2nya mulus, pasti. Mengalir dan enak dibaca. Lalu si penulis jeli sekali menulis tiap2 adegan, begitu sabar mendeskripsikannya. Saya malah kayak melihat film daripada membaca cerpen disini. Dan realita terlihat jelas, bukan cerita yang di-teenlit2kan, atau di-chicklit2kan. Lalu mengenai si blazer yang cantik, saat diperlakukan istimewa menurut si penulis, jelas sekali penulis curhat ya? XD Tapi agaknya menurut saya tidak semua wanita cantik diistimewakan begitu sih. Saya juga cantik, tapi semuanya biasa2 ajah.. Halah #plak. #digampar XD
Oiya, tampaknya si blazer ini bakal muncul di bab selanjutnya ya? Boleh request dinamain Demia gak? #gamparlagi
.
Sedikit koreksi:
"Yukk," Terakhir, (jika di akhir dialog pake koma, tag dialog harusnya pake huruf kecil)
.
"Heran gue sama lu," (jika gak ada tag dialog, jangan pake koma tapi pake titik. Lalu jika dilanjut tag dialog, memakai huruf kapital)
.
Oiya, penulisan elipsis juga harusnya memakai tiga titik.
.
Udah gitu aja mbak vip~
Jika ada kata yang menyikut hati, saya terima caci.
Salam manis :v

Writer vinegar
vinegar at Waltz untuk Soremu (bag.2) (4 years 34 weeks ago)

Wah, tulisan lama saya sebagian ada di kompleks sebelah tuh. Sila mampir kalau berkenan kak dem..
Sebagai wanita yang ga cantik, pantaslah kiranya saya ngenvy.. itu lebih ke kesirikan daripada curhatan :v :v #jujuramat. Kalau dialog tag, dan tanda elipsis itu memang sengaja diplesetin #ngeles.

Sebelum saya kebanyakan ngetik tagar, saya cukupkan. Makasih komennya kak demimor..

Writer The Smoker
The Smoker at Waltz untuk Soremu (bag.2) (4 years 35 weeks ago)
90

Vinegar :D
Seneng membaca karyamu kembali.
Saya tidak berharap apa2 sii di ceritamu, saya ngejar kesan aja. Dan kesan yang saya dapatkan, entahlah, ini semacam kerinduan ke entah apa lantas ada yg membasuhnya. Lebay apa nggaknya tergantung jaringan dan paket internet yak, jangan protes.
.
Kalau saya mau protes,
Kenapa harus pake nama Niko sii karakter model gw itu?
Jelek ah, namanya, Nyet.
Ngahaha.

Writer vinegar
vinegar at Waltz untuk Soremu (bag.2) (4 years 34 weeks ago)

Deuh, kerinduan ke entah apa. Bilang aja rindu sama saya.. susah amat ngomong gitu doang #plakk #dikeroyokfansorangganteng

Soal nama, kenapa Niko yaa bcos it has to be Niko. Ngga sampe karakter juga sih bah, ribet kalo harus nebak2 karakter orang dulu. Minjem keslengean gaya obrolanmu aja.

Thanks ya :)

Writer The Smoker
The Smoker at Waltz untuk Soremu (bag.2) (4 years 34 weeks ago)

Kemaren belum kangen, gatau kalau habis mandi nanti, vip.

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Waltz untuk Soremu (bag.2) (4 years 35 weeks ago)
80

Saya mencium gelagat Abah di sini? #apacoba?
.
Bagaimana, ya? Ini agak berbeda dari bagian pertama. Suasana di sini lebih ke arah kesal atau bosan dengan realita kehidupan. Mungkin karena waktunya pulang kerja, jadinya suasananya dimuat begitu. Sementara yang lain, ini terasa seperti bab baru dari sebuah novel (saya bahkan menyangka ini dari sudut si laki-laki berkemeja biru). Atau mungkin yang lain pula, karena sudut pandangnya diubah.
.
Maaf kalau tidak berkenan, salam **

Writer vinegar
vinegar at Waltz untuk Soremu (bag.2) (4 years 34 weeks ago)

Hihi. Memang ada beberapa sentilan2 yang meminjam anuismenya abah itu. Ini sebenarnya semacam side-story karena rikues orang tua itu saja, cerpennya yg asli sudah selesai di bagian pertama. Dilanjutin lagi feelnya udah beda sih :v :v

Makasih komennya ya mba nur :)

Writer saya_waktu
saya_waktu at Waltz untuk Soremu (bag.2) (4 years 35 weeks ago)
70

hai, Alison. ada rasa terburu-buru di sini. membuat aku merasa kehilangan sesuatu, tapi mungkin juga gegara part pertama sudah mengendap lama. yang aku cermati, penggunaan bahasa lebih cair dan awam coba kamu pakai ya. tidak seperti biasanya. *mencoba gaya baru?
tapi jujur saja, dengan bahasa macam itu kamu memberi saya prasangka Waltz ini akan berlanjut sampai beberapa babak. entahlah. jadi apakah memang tulisan ini direncanakan akan berlanjut?

Writer vinegar
vinegar at Waltz untuk Soremu (bag.2) (4 years 35 weeks ago)

Hai, saya.. Ya ampun, saya masih belum tahu jati dirimu di klub sebelah :(
Iyaa..ini seratus persen terburu2. Bagian awal dibikinnya sudah lama, ga diapa2in di laptop lalu tadi tanpa sengaja dibuka dan dilanjutkan beberapa waktu sebelum posting. Less than two hours. Feelnya sudah ilang memang. Sedang tidak dalam mood menulis juga belakangan.
Sebenarnya yang direncanakan mau dibuat cerpen2 yang saling berkaitan bukan ini. Tapi karena ditagih terus sama temen di sini ya sudaah diposting aja yang ada. Hihi.

Dankeschön saya_waktu :) :)