Chapter 1: Frozen

Kegelapan, hal pertama yang ia lihat. Entah sejak kapan kegelapan selalu menyambut di kala pertama gadis itu membuka mata. Tapi rasanya sudah lama sekali. Picingkan mata, maka jeruji es yang berikutnya menyambut. Dan akhirnya, suara gemeletuk giginya sendiri. Dingin. Seandainya saja bisa terus tidur, itulah satu-satunya harapan agar dia tidak harus tersiksa lagi dengan semua es itu.

Perlahan gadis itu menyentuh telapak kakinya. Darah sudah kembali mengering, tapi akan kembali mengucur saat dia harus berjalan keluar dari selnya. Tangannya bergerak pelan menuju lapisan jerami tipis tempatnya tidur. Ia tergoda untuk mengambil sebagian jerami itu untuk membungkus kaki, seperti yang dulu ia lakukan. Tapi jika ia melakukannya, jeraminya akan habis sama sekali dan giliran tubuhnya yang akan terkoyak oleh dinginnya es setiap malam. Ia menghela napas panjang sembari memeluk lututnya lebih erat, takut tubuhnya akan menyentuh celah lapisan jerami yang menampakkan lantai es. Ia menatap lama keremangan cahaya di balik jeruji es. Cahaya kuning berpendar lemah. Rambut merah gadis itu jatuh menutupi sebagian matanya yang berwarna senada. Tapi ia membiarkannya, tangannya tidak bisa bergerak karena kehabisan tenaga.

Suara berkelontang terdengar di kejauhan, disusul suara berdebum. Lantai beku yang ada di bawahnya bergetar sesaat. Hening. Lalu mulai bergetar lagi. Hening lagi. Terus berulang hingga getaran itu terasa kian kencang disertai suara gemeretak es. Getaran itu... Langkah kaki. Gadis itu tiba-tiba ingat. Ketika pagi tiba, maka akan ada cahaya kuning merekah di cakrawala. Kehangatan menyebar ke seluruh penjuru. Tapi itu hanyalah memori samar. Kini getaran langkah kaki mahluk itu saja yang jadi bukti pagi tiba.

Suara geraman menggema di lorong gelap yang membeku. Menggetarkan langit-langit. Beberapa paku es yang menggantung di langit jatuh dan hancur tepat di depan mata merahnya. Alih-alih menutup mata, dia hanya menatap kosong. Malah berharap salah satu paku itu langsung jatuh menembus tengkorak kepalanya saja. Seandainya dia tidak terlalu takut, mungkin dia akan memilih mengakhiri dirinya sendiri, sama seperti teman-temannya yang lain. Mereka yang seharusnya satu sel dengannya.

Ia bangkit berdiri dengan pelan. Tertatih-tatih menghampiri jeruji es dengan gigi yang terus bergemeletuk tanpa henti. Meringis ketika lantai beku merobek sedikit demi sedikit kulit kakinya. Sesuatu yang hangat mengalir di pipinya. Gadis itu mengabaikannya, karena rasa hangat itu hanya sekejap.

Getaran itu berlanjut. Mahluk yang membuat langkah kaki itu pun menampakkan diri. Sesosok monster es bertubuh besar berjalan melewatinya. Tubuhnya yang bening, memantulkan bayangan benda di sekitarnya. Sekilas gadis itu bisa melihat beberapa luka gores di wajahnya yang barusan ia dapat. Semua darah yang keluar dari luka telah beku. Memenuhi wajahnya dengan garis-garis tegak merah. Kemudian pemandangan berganti dengan kilat kuning dari mata raksasa es yang membungkuk. Menatap si gadis dengan seksama, memastikan dia masih hidup. Kemudian raksasa itu pergi. Meninggalkan semua kabut dingin di belakang. Gadis itu mendekap tubuhnya sendiri. Tubuhnya yang membeku masih menolak beradaptasi dengan kabut itu yang lima kali lebih dingin dari suhu ruangan itu.

Tidak lama, terdengar suara dentuman disusul suara es pecah. Kemudian, sesosok tubuh nampak melayang cepat dari arah si monster menuju arah ia masuk tadi. Bunyi tulang yang patah terdengar jelas ketika tubuh itu menghantam dinding dengan keras. Lalu raksasa itu kembali berjalan. Makin jauh dari sel si gadis. Beberapa kali hal yang sama terjadi. Bunyi es yang pecah, disusul tubuh yang melayang menabrak dinding. Awalnya satu. Dua. Tiga. Lima. Delapan. Bayangan buruk ketika semua teman gadis itu meninggal dan dibuang terbesit di benaknya lagi. Entah sudah berapa hari. Atau berapa bulan. Atau mungkin tahunan. Ingatan buruk itu sudah melekat erat lama sekali. Dan akan terus menghantuinya. Setiap pagi... hingga malam. Bahkan dalam mimpi. Untuk seterusnya. Selamanya. Hingga hatinya serasa binasa dalam tubuh.

"Kapan aku bisa mati?" bisiknya sambil menitikkan air mata, yang langsung membeku di sudut matanya.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer kartika demia
kartika demia at Chapter 1: Frozen (4 years 23 weeks ago)
70

Mengalir, rapi. Tapi kurang menarik untuk opening bab-nya. Gak ada yang bikin penasaran. Gak bisa ngintip konflik. Tapi gak tau untuk bagain keduanya. Tapi klo ini dijadiin prolog mungkin pas.

Mahluk--> makhluk

Writer daniswanda
daniswanda at Chapter 1: Frozen (4 years 23 weeks ago)
80

Seorang gadis terbangun dalam penjara es. Ada monster es lewat. Si Gadis menangis. Udah, cuma itu aja yang saya dapat dari bagian pertama ini. Maaf sebelumnya, tapi rasanya nggak ada keinginan untuk lanjut baca ke bagian berikutnya. Mungkin karena konflik di akhir kurang bikin penasaran, atau mungkin gara-gara yg saya dapat terlalu sedikit di bagian pertama. Secara teknis penulisan dan diksi saya rasa nggak ada masalah. Cuma cara penyajian dan pemotongan cerita yg kurang tepat menurut saya. Cheers.

Writer Wynfrith
Wynfrith at Chapter 1: Frozen (4 years 23 weeks ago)

i see.. thanks for the comment ^^

Writer ddearst
ddearst at Chapter 1: Frozen (4 years 24 weeks ago)
90

gw benci baca cerbung, gantung. gatau next chapternya kapan. kaya di-phpin doi, gatau dikasih kejelasan kapan #curcol pfft.
abaikan.

Writer Wynfrith
Wynfrith at Chapter 1: Frozen (4 years 23 weeks ago)

errr... okay.. wkwkwkkw
thx buat pointny anyway wkwkwk