Empat Perempuan Pembawa Kiamat (Brian Aldiss)

Terjemahan iseng dari cerpen “Four Ladies of the Apocalypse” karya Brian Aldiss.

***

INI harus kau petakan dalam pikiranmu. Ini terjadi nun jauh di masa lampau, nun jauh di masa depan. Ini terjadi sekarang ini.

Zaman-zaman raksasa diukir dengan eksentrisitas kaum Cthonia[1] menjadi hieroglif berbahaya yang terbuat dari basal. Abad-abad aneh Bizantium diletakkan di bawah tapak kaki seperti linoleum litik. Udaranya sendiri, takterhirupkan bagi empat perempuan yang tengah melintasinya, kondensasi asap dan apsintus dan letusan gunung berapi. Bagi tiap mata dalam tengkorak, jarak pandang akan begitu minim. Bagi indra dalam karapas, kenyataan akan begitu minim.

Hanya untuk menuju ke sana saja harus terlebih dahulu melintasi jejaluran yang sarat akan entropi abadi. Warnanya cokelat kusam, hijau kekuningan, merah lendir, hartal, dan warna-warna lainnya yang menetaskan ketakeleganan. Melalui labirin-labirin tersebut para perempuan tadi melangkah, empat perempuan dan satu lagi, berjalan kaki, tanpa lelah, tanpa gentar.

Sebuah gapura belulang berdiri dan membentuk seseok figur, di mana kuku, susu, kepala, paha, tanduk, geligi, karburator, betis, paha seukuran raksasa, muka, tulang paha, kuartal belakang sewujud mimpi buruk, semua seakan dirancang oleh sekelompok pelukis psikotik Polandia yang lumpuh. Melalui gapura tersebut keempat perempuan melintas, memasuki lantunan musik yang menuntut suatu keberanian ganjil.

Di suatu taman yang agung di mana, pada sebuah danau, suatu sekoci eboni tertambatkan begitu saja, sebuah matahari dengan tekun memusatkan sinar lembutnya pada sekelompok orang yang tengah berpiknik. Mereka duduk di rerumputan paling hijau yang pernah terciptakan. Di antara mereka, dengan pantat terlindungi dari kontak dengan tanah oleh empat bantal silkette[2], duduk diktator terakhir dan terbesar dunia.

Yang menemaninya, indah dan lincah dan dapat bergonta-ganti kelamin, semuanya simulakra. Kepala artifisial mereka langsung berpaling dari arah kedatangan empat perempuan dan satu lagi. “

Kami berpiknik dengan keju dan buah,” kata sang diktator dengan ketenangan dari dalam. “Buah-buahanya pir dan rasberi, kejunya Dolcelatte, rotinya dari tanah sederhana yang paling akrab dan paling saya cinta. Sudikah bergabung dengan saya, nona-nona, sebelum kalian semua dimusnahkan karena melintasi batas suci yang sudah saya jaga?” bunyi ucapannya menggelincir di antara kecepatan pidatonya.

Dia tertawa dengan nada falseto, sekalipun mukanya, produk bedah, berwarna merah pekat dan ungu testis.

Lantas bicaralah keempat perempuan secara berurutan. Perempuan pertama yang tangguh, yang kerangka kurusnya terlapisi baju besi, “Tuan, kami tak mampu takut pada ancamanmu sebab kau semata-mata produk samping dari ciptaan kami. Kami agen kehancuran, sementara kau cuma tahi lalat dari kehancuran.”

Perempuan kedua bicara dengan nada dalam dari kedalaman sebuah ketopong logam besar, yang hanya menampakkan kilatan mata kucingnya yang berwarna kuning.

“Tuan, kami datang langsung kepadamu karena patron kami, empat penunggang kuda, kelelahan akibat tugas konstan yang dibebankan selama berabad-abad. Demikian pula, keempat tunggangan mereka yang kini telah menjadi bayang-bayang semata.”

“Kalian seharusnya tak ikut campur,” kata sang diktator. Suara bicaranya begitu dalam seakan menadakan laut tak berujung dan monster berbagai bentuk tengah hidup di sana. “Di tempat ini kalian bisa dipenggal kalau mengutarakan sesuatu yang sia-sia.”

Lalu bicaralah perempuan ketiga, wujud skeletal yang hanya menggunakan sebuah cawat plastik, menampakkan payudaranya yang aus dan tiada guna. “Sayalah wujud kelaparan di dunia ini. Nama saya Kelaparan. Apa yang gagal dimusnahkan oleh saudari-saudari saya dengan perang, saya yang turun tangan. Dunia yang dulu kayak akan segala sekarang tinggal ladang abu dan bangkai. Inilah pencapaianmu, dalam persekongkolan dengan banyak manusia sefasik dirimu, kalau bukan seberkuasa.”

“Tak ada yang seberkuasa aku,” kata sang diktator. Suatu unsur ketakpastian kentara pada sauaranya, sambil mengamati keempat perempuan khayali, dan yang satunya lagi, di hadapannya.

Perempuan keempatan adalah sesosok hantu tulus berkulit kering dan layu, dari mana air mancur nanah meletus. Dia bicara dengan bisikan nyalang, “Pendahulu kami yang laki-laki menunggangi empat kuda, satu putih, satu merah, dan satu hitam, pendahulu saya menunggangi seekor kuda pucat. Sayalah penghujung keempatnya dan nama saya Sampar. Segala hal yang mengerikan akan berujung pada saya. Semua nasib senator dan menteri berakhir dalam jarak satu ubin saja dari telapak kakiku, sel-sel mereka meredup seperti lilin yang hendak mati. Akan saya biarkan kau bernapas pelan-pelan dan pelan-pelan kau memuai.”

“Kau tak lagi punya nyawa untuk dinapaskan, nenek jahanam!” teriak sang diktator. Tapi kemudian tamu kelima bicara, sosok kekanak-kanakan dengan rambut pirang yang keriting dan panjang dan wajah serupa labu kecil yang diukir. “Saya sekedar anak-anak,” katanya dengan suara tikus. “Saya dibawa ke hadapanmu untuk memberitahumu bahwa apa yang telah kau capai atas nama kehancuran semata-mata karena kau adalah perwujudan dari puncak aspek jahat umat manusia, dari mereka yang tak punya belas kasih pada penderitaan orang lain. Nama saya Empati dan saya sudah mati.”

***

“MAKA kau akan mati lagi,” teriak sang diktator, melempar roti lapis keju Dolcelatte-nya dan melompat beridir. Dia sambar pedang besar yang tengah terbaring di sampingnya. Dia tebaskan pedang itu dengan segenap tenaganya. Pedang itulah yang dia cintai lebih dari semua senjata pemusnah massal yang ada, sebagaimana pedang tersebut telah membawanya begitu dekat pada detik-detik kematian banyak orang. Dia bisa menikmati kematian, dia bisa merasakannya melalui pedangnya. Kematian selain itu sekedar abstrak belaka.

Tapi keempat perempuan itu tak kunjung mati. Diri mereka sendiri tak lebih dari abstraksi belaka. Betapapun mereka dibelah, dilibas menembus tengkorak, ditebas sampai lepaas anggota badan—mereka akan pulih seketika. Saat mereka pulih, mereka lantangkan tawa yang mengerikan. Mereka tidak terluka, mereka tak bisa terluka.

Dia ayunkan pedang buasnya dan terus mengayun. Dia tak pernah lelah. Dia terus mengayunkan pedangnya.[]

***

[1] Makhluk fantasi yang sumber awalnya berasal dari karangan-karangan H. P. Lovecraft dan kemudian digunakan oleh pengarang-pengaran fantasi lain dalam cerita mereka.

[2] Sejenis bahan isian bantal.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
80

Terjemahan dari cerita menarik yg dibangun dari legenda Four Horsemen of the Apocalypse. Benerin typo nya biar tambah oke ya. Cheers.

90

Wow terjemahan yang rapi dari cerita yang sangat menarik.

Sekedar--> sekadar. Cek lagi ^^