Rendezvous

Parkiran sekolah yang ditingkat sudah hampir jadi. Pak kepala sekolah tak jadi dipecat. Ketua pengurus yayasan nampaknya malu, dia memilih pindah keluar kota dan Reyhan juga ikut. Jadinya pemuda kaya itu pindah sekolah. Itu artinya jabatan ketua OSIS berpindah ke wakilnya, yang saat itu adalah Aji. Hal menarik lainnya, Reyhan sudah putus dengan Sinta. Gara-garanya, pemuda kaya itu nggak bisa kalau LDR (Long Distance Relationship). Tentu saja itu kesempatan yang baik dong buat Luki. 
Tapi di sisi lain, pemuda itu sedikit ragu juga. Ini tentang keputusan yang sebenarnya, bukan sekedar karena rasa kesepian. Bukan keputusan yang hanya akan pasang surut. Keputusan yang bisa saja menganggu waktu, kebersamaan, dan pertemanan, apalagi ketika nanti menjadi saat-saat yang sulit. Belum lagi kalau Sinta masih tak percaya, bagaimana? Kalau Sinta masih belum bisa berpindah ke yang lain gimana? Ini kan terlalu cepat, juga? Kalau dia masih trauma gimana? Lalu bagaimana?
Luki bingung juga. Makanya pagi itu dia sengaja pergi ke rumah Hadinda sambil bersepeda. Pasalnya, Hadinda selain pandai main piano, pinter bulutangkis, juga buka konsultasi cinta. Katanya, dia nggak mau kalah sama tetangga sebelah yang lagi buka konsultasi dan pengobatan alternatif. 
Pemuda itu akhirnya tiba juga di rumah Hadinda. Rumahnya bagus, besar, dan kelihatan nyaman juga. Ada taman yang banyak bunga, pohon, sama ayunannya. Luki ngelihat Hadinda lagi nyiramin bunga di taman. Wah, rajin juga ya gadis itu.
“Lagi sibuk mbok? Majikannya ada?” Tegur Luki lalu terkekeh, Hadinda melotot.
“Ngapain kesini Luk?” Tanya Hadinda judes
 “Widiih... judes amat!”
“Abisnya, tiap kamu kesini kamu sukanya ngeledek! Nggak bawa apa-apa lagi!”
“Jadi itu sebabnya? nggak bilang sih! Besok-besok deh aku bawain oleh-oleh! Mumpung baju-baju kotorku masih menggunung!” Ujar Luki lalu tertawa lagi. Sementara Hadinda melotot kesal.
Luki duduk di teras taman, sambil ngelihatin Hadinda yang nggak berhenti nyiram bunga. Cukup lama juga, tapi Hadinda nggak selesai-selesai nyiramnya sampai Luki jadi haus. Apalagi, tadi dia kesini dengan mengayuh sepeda.
“PDAM mati ya Din? Aku haus nih!”
“Nggak kok! Itu ada keran!” Hadinda menunjuk keran di taman.
“Yaelah! Yang berasa dong Din!”
“Nggak bawa apa-apa, malah minta-minta? Ambil sendiri sana, di kulkas! Sekalian bikinin ya!”
Luki cengengesan, “Beres bos!”
Lalu pemuda itu masuk ke dalam, tak lama kemudian sudah balik bawa dua gelas es sirup jeruk. Pagi-pagi kok sudah minum es? Tampaknya Hadinda sudah selesai nyiram bunganya. Dia sudah duduk-duduk ngaso di teras taman.
“Tante Ana kemana Din?” Tanya Luki sambil menyodorkan minuman yang dipegangnya.
“Keluar kota kemarin, balik besok!”
“Sendirian dong! Berani?”
“Berani dong! Ngapain takut?”
“Benar-benar cewek perkasa ya?”
“Enak aja!” Hadinda meninju lengan Luki, yang ditinju ngeles sambil ketawa. Es sirupnya tumpah, dia sampai gelagapan. Hadinda yang sekarang tertawa.
Beberapa saat sempat terdiam. Luki sedang melap tumpahan es sirupnya.
“Gimana kamu dengan Sinta? Sinta sudah putus sama Reyhan, bukan?”
Luki langsung tampak sedih, “Itulah Din, kenapa aku kesini! Aku mau konsultasi!”
“Kenapa Luk? Bukannya malah kesempatan baik?”
“Sinta baru saja putus Din, aku juga nggak tahu gimana perasaan Sinta sama aku sekarang? Aku juga takut, apa kata orang nanti tentang Sinta. Baru putus sudah jadian lagi?”
“Bukannya banyak ya cewek jaman sekarang yang kayak gitu ya Luk? Baru putus, besok sudah jadian lagi sama yang lain”
“Aku pernah ngobrol sama Sinta, dia nggak mau yang kayak gitu Din! Dia selalu mikir mateng buat ngambil keputusan! Dia pingin satu hubungan yang lama!”
Hadinda diam nggak menjawab.
“Aku juga nggak enak sama anak-anak Din, biasanya akrab sebagai teman! Aku takut kalau masalah cinta bisa ngerusak kekompakan kami!”
“Kamu terlalu banyak takut Luk! Belum dicoba juga kan?”
Luki menghela nafas panjang, lalu memandang kosong ke depan.
“Kenapa kamu nggak ngajak Sinta buat rendezvouz aja? Kalian ketemuan, empat mata, di waktu yang tepat dan situasi yang tepat! Kamu ceritakan isi hatimu beserta ketakutanmu! Kalian bisa ambil keputusan dari situ, bisa jadian atau tetap jadi teman dekat yang makin kompak! Tak ada yang bisa menebak apa yang diinginkan seseorang jika tak mengatakannya kan? Kamu bisa belajar dari pengalaman kamu dengan Sinta dulu kan? Tanpa saling mengatakan maksud hati, akhirnya malah berantakan” Hadinda tersenyum
Luki ikut tersenyum, “Kamu cerdas Din!”
Pemuda itu buru-buru pamit pulang, dia mau nyiapin rendezvouz-nya katanya.
*****

Senin yang masih sangat pagi, Luki sudah meluncur ke sekolah. Dia sengaja datang pagi sekali agar bisa ketemu Sinta dan bicara empat mata dengan Sinta buat bikin rendezvouz. Biasanya kan, gadis cantik itu datanganya selalu pagi-pagi sekali, dan keseringan yang pertama kali. Pintu gerbang belum dibuka pun, dia keseringan sudah datang. Sampai bela-belain manjat pagar. Ekstrim juga ya anak itu?
Tapi pagi itu Luki ngerasa nggak berhasil, entah angin dari mana Kemed dan Ghopur kompakan datang pagi-pagi juga. Sementara Sintanya malah datang agak siangan. Sepanjang jam pelajaran, Luki jadi nggak konsen. Dia terus mikirin gimana caranya biar bisa ngobrol berdua sama Sinta. Saat istirahat pertama juga demikian. Masih saja nggak ada kesempatan. Sinta malah asyik dengerin curhatannya Riri. 
“Ah, Riri ganggu saja!” Gerutu Luki sambil mengamati dari bangkunya.
Saat istirahat kedua, Sinta lagi sendirian di kelas. Dia sibuk nyalin catatan. Anak itu memang kelewat rajin ya, di saat yang lain sibuk main atau makan di kantin. Dia malah masih nyalin catatan. 
Ternyata ada Luki yang lagi gusar di depan kelas. Ini kesempatan, pikirnya. Tapi nggak tahu kenapa, dia jadi gerogi. Jantungnya deg-degan. Dia menghela nafas panjang, membulatkan tekad, lalu memberanikan diri. Kakinya berat, tapi dicoba untuk masuk ke dalam kelas.
“Sinta? Nggak ke kantin sama anak-anak?”
Gadis itu melirik Luki, “Nanti Luk, masih nyalin catatan! Tinggal dikit kok!”
Luki mendekat, menarik satu kursi diletakkan di depan meja Sinta, lalu mendudukinya.
“Sin, aku pingin ngomong!”
“Ngomong aja Luk, pakai ijin segala!” Sahut Sinta masih terus nunduk sambil terus menulis.
“Aku pingin bikin...”
“Hey Luk? Ngapain?” Teriak Kemed di pintu kelas mengagetkan.
“Ada Sinta juga, kalian nggak ke kantin? Ghopur lagi ulang tahun, dia lagi diikat di pohon! Ayo kesana, kita ngerjain Ghopur!” Ujar Kemed girang.
“Oh ya? Ayo kesana Luk!” Sahut Sinta yang juga tampak girang
“I-iya!” Luki tersenyum kecut, rencananya gagal lagi.
“Kenapa sih anak-anak ini? Mengganggu saja? Ghopur juga gitu, kenapa pakai ulang tahun di hari ini coba? Nggak bisa pilih hari lain apa? Kemed juga, kenapa merayakannya saat istirahat kedua? Kenapa nggak pas pulang sekolah saja sih?” Luki menggerutu saat berjalan ke kantin paling belakangan.
Saking suntuknya, jam pelajaran terakhir makhluk itu bolos pelajaran. Dia nongkrong di kantin. Kebetulan kantin lagi sepi. Dia pesen es jeruk lalu ngambil tempat duduk yang rada pojokan, biar nggak kelihatan guru kalau kebetulan gurunya bolos ngajar juga. 
Lagi asyik-asyik ngelamun sambil nyeruput es jeruk, tiba-tiba ada yang nepuk bahunya. Saat ditengok, ternyata itu Sinta.
“Sinta?” Ujar Luki kaget “Kamu bolos juga?”
Gadis itu ngangguk, “Sekali ini aja kok!”
Tiba-tiba Sinta celingukan lihat kesana kemari “Jangan bilang siapa-siapa ya Luk! Aku pingin ngajakin rendezvouz sama kamu!” Ujar Sinta, Luki kaget
“Tapi aku takut ketahuan yang lain. Dan nggak tahu kenapa, aku jadi aneh? Ngajakin kamu aja jadi susah! Padahal biasanya nggak gini! Oh ya, tadi kamu mau ngomong apa? Mau bikin apa?” Berondong Sinta
“Mau bikin rendezvouz buat kita berdua juga, Sin! Kok kita samaan ya?”
Sinta tersenyum, dan mereka berdua akhirnya mengatur janji pertemuan sampai bel pulang sekolah berbunyi. Mereka memutuskan buat nonton. Kayaknya tempat yang bagus buat ngobrol secara sembunyisembunyi. Setelah bel sekolah bunyi, mereka balik ke kelas satu-satu, biar nggak ketahuan yang lain.
*****

Beberapa saat setelah bel pulang sekolah berbunyi, Sinta sudah hilang dari peredaran sekolah. Anak itu memang sukanya pulang cepat. Tidur siang, les privat, lalu belajar. Membosan kan ya?
Tapi, pulang cepat kali ini lain dari yang lain. Ini karena Luki. Ah selalu saja gadis cantik itu melakukan sesuatu untuk makhluk usil itu? Ini berkaitan sama rendezvouz yang sudah mereka susun. Sinta sengaja pulang cepat karena mau siap-siap. Dia mau dandan yang secantik-cantiknya. Maklumlah, hal seperti itu jarang terjadi. Kesempatan langka. Bisa janji ketemuan sama Luki.
Sementara pemuda yang bikin Sinta kayak gitu, malah lagi asyik main sepak bola. Sebenarnya, dia juga pingin pulang cepat. Tapi, saat lagi keluar kelas Kemed langsung nyeret Luki ke lapangan.
“Med, apaan sih? Aku mau pulang nih!”
“Kayak anak perawan aja pulang cepet?” Ujar Kemed tak peduli
“Ngapain sih?”
“Kelas kita lagi diadu sama kakak kelas! Kita kurang orang!”
“Kita mau tawuran?” Luki kaget, pikirannya langsung terbang ke pasar Blimbing. Membayangkan preman gede besar bertato bunga mawar di bahunya, lengkap sama akarnya di bawah ketiaknya. Dan Luki harus terkena bogem mentah preman itu. Hiii....
“Ngawur!” Sahut Kemed, “Kita mau diadu sepak bola!”
“Luki meronta-ronta hingga tangannya terlepas.
“Aku nggak bisa Med, aku harus pulang cepat!”
“Ah,kamu nggak solid! Ini demi kelas Luk, demi kekompakan, demi kebersamaan, demi kemenangan kelas kita! Masak kamu ninggalin gitu saja kelas kita lagi berjuang!”
“Tetep nggak bisa Med, aku harus pulang kali ini!”
“Memang kenapa sih? Kamu mau kencan?”
Luki kaget, mukanya pucat, “Eng-enggak kok!”
Akhirnya Luki meng-iyakan untuk ikut, karena takut semakin didesak, takut bakal ketahuan kalau mau rendezvouz sama Sinta.
Gangguan buat rendezvouz-nya nggak cuman sampai situ. Saat pulang Kemed, Keceng, Rizky, dan Ghopur menahan Luki buat pulang meski hari sudah sore. Itu karena Ghopur berniat mentraktir di hari ulang tahunnya. Luki memakai seribu alasan buat nolak. Tapi dia terdesak lagi.
“Tumben-tumbenan kamu nolak traktiran? Memang kenapa sih? Ada janji lain? Kamu mau kencan?”
“E-enngak kok! Cuman mau nganterin Ibu aja!” Jawab Luki gelagapan.
Tapi, kali ini dia berhasil ngeles dan nggak ikut traktiran. Setelah berhasil lolos, dia segera meluncur ke rumah untuk siap-siap. Lebih baik nggak dapat traktiran daripada rendezvouz-nya dengan Sinta gagal.
*****

Saat itu masih di sore yang sama. Luki tergesa-gesa turun dari motornya dan membunyikan bel di depan pagar rumah Sinta. Saat belnya bunyi, dengan cepat gadis si pemilik rumah muncul. Sinta sudah siap, dia bergegas membuka pintu gerbang.
“Maaf ya Sin lama!” Ujar Luk melas
“Syukurlah, aku takut kenapa-napa! Kita berangkat sekarang yuk! Keburu telat filmnya!”
Luki mengangguk. Dua makhluk itu akhirnya meluncur menuju bioskop yang murah. Berharap teman-temannya nggak berminat ke tempat itu. Kan ini rendezvouz rahasia, jadi harus milih tempat yang aman dari gangguan teman-teman sekolahnya.
Saat sampai di bioskop, nampaknya film sudah dimulai lima menit. Luki sempat membeli tiket.
“Nggak apa-apa mas telat lima menit?” Tanya kasir bioskop itu
Luki melirik Sinta, gadis itu mengangguk 
“Nggak apa-apa mbak” Ujar Luki.
Saat masuk, lampu bioskop sudah mati. Soundtrack pembuka film sudah di mulai. Luki menggandeng Sinta mencari tempat duduk yang ditunjuk petugas bioskop dengan laser. 
Selama film diputar, Luki malah nggak konsen sama filmnya. Dia teringat niat sebenarnya. Pemuda itu ingin bicara tentang isi hati dan ketakutannya.
“Sin?”
“Iya Luk?”
“Aku ingin ngomong sesuatu!”
“Sebenarnya aku juga pingin ngomong sesuatu Luk sama kamu! Tapi kamu dulu deh!”
“Oke, gini Sin! Aku mau jujur tentang sesuatu!”
Jantung Luki berdebar kencang. Mulutnya tiba-tiba keluh, sulit untuk berucap. Keringat dingin keluar dari kening dan telapak tangannya. Luki sampai terdiam beberapa saat.
“Kok diam Luk?” Tanya Sinta 
“A-aku...”
Luki memejamkan mata, sulit melanjutkannya.
“Aku bingung Sin, kenapa jadi gugup? Padahal biasanya aku bisa ngobrol lancar sama kamu! Aku bisa bercanda, ketawa, dan seru-seruan sama kamu! Aku bingung, kenapa susah sekali buat jujur sama kamu? Padahal cuman harus bilang sayang kamu saja kok susah?”
“Luk?”
“Bentar-bentar Sin, aku masih nyiapin mental buat ungkapin isi hatiku!”
“Tadi kamu sudah bilang isi hatimu!”
Luki kaget, dia mengingat apa yang sudah dia katakan. 
“Asataga...” Dia menepuk jidatnya
“Aku juga...”
“Tunggu-tunggu Sin!” Potong Luki, “Sebelum kamu jawab apa-apa aku mau minta maaf! Maaf, kamu jadi tahu yang saya rasakan! Tapi saya nggak pingin kekompakan kita keganggu hanya karena ini! Saya juga takut sama pendapat teman-teman! Kamu kan baru saja putus juga! Mungkin kamu bisa saja nggak bakal nerima saya! Nggak apa-apa Sin! Saya bisa terima! Asal kita tetap bisa temenan deket, bercanda dan ketawa bareng! Sekarang saya siap terima apa jawaban kamu!”
Sinta tersenyum geli, “Kamu memang nggak ada romantis-romantisnya!” jar Sinta sambil menggenggam telapak tangan Luki yang berkeringat.
“Idiiih...sampai berkeringat segala!” Protes Sinta
Luki berusaha melepaskan tangannya karena malu.
“Mas, Ini ada tissu!” Ujar seorang cowok di bangku sebelah.
“Oh iya mas, terima kasih!” Luki mengambil tissudan melap tangannya. Cowoknya aneh, ke bioskop bawa tissu? Padahal fil action. Ah, masa bodoh! Tapi maksud Sinta tadi? Tanya Luki dalam hati.
“Jadinya Sin? Jawabn kamu?”
“Huh dasar!” Sinta pura-pura mendengus kesal, “Kamu mau kita putus saja sekarang?”
“Putus? Jangan dong! Jadian aja belum!” Luki terdiam, dia kaget saat menyadari maksud ucapan Sinta.
“Kita jadian Sin?” Tanya Luki girang
Sinta mengangguk dalam gelap. Luki senang sekali, sampai ingin teriak sambil lompat-lompat. Untung Sinta berhasil menahannya.
Pemuda itu akhirnya berani menggenggam tangan Sinta sampai film berakhir.
Saat lampu bioskop menyala, Luki ingin mengembalikan tissu yang tadi diberikan penonton di sebelahnya. Betapa kagetnya dia saat tahu yang di sebelahnya orang yang sangat dikenalnya, Kemed. 
“K-kemed?”
Sinta yang ikutan ngelihat jadi kaget juga, “Kemed? Sama siapa kamu disini?”
“Jadi kamu cowok norak yang nembak tadi Luk!” Ujar seseorang dari kursi bealakang, dan ternyata itu adalah Riri. Dan ternyata nggak cuman Riri, ada Keceng, Ghopur, Rizky dan teman-teman lainnya juga.
“Bukannya kalian lagi pada traktirannya Ghopur ya!” Tuduh Luki
“Kan traktirannya nonton Luk!” Sahut Ghopur
Memang ya? Sepandai-pandai cicak manjat dinding, pasti bisa nyungsep juga. Apalagi kalau kenajepret karet! Dan Luki yang sudah niat nggak ikut traktiran si Ghopur demi rendezvouz-nya dengan Sinta, akhirnya ketahuan juga. Dia nggak nyangka. Biasanya traktiran itu berkaitan sama makan-makan kan?
Tapi, untungnya teman-teman Luki anaknya baik-baik juga. Mereka nggak ngelarang Luki sama Sinta jadian. Sebenarnya sudah sejak lama mereka juga sadar kalau Luki sama Sinta memang sama-sama suka. Malahan, mereka juga meyakinkan kalau pacaran bukan berarti arti kekompakan bersama teman bakal berkurang atau bahkan sampai menghilang.
Saat keluar pintu bioskop Kemed berujar “Berhubung traktiran Ghopur nonton bukan makan, sekarang giliran kamu Luk nraktir makan! Kan baru saja jadian?”
Anak-anak yang lain ikut menyorakinya. Luki cemberut bercampur kesal. Tapi akhirnya dia rela merogoh kocek demi syukuran hari jadinya dengan Sinta. Lagian, nggak ada salahnya kan berbagi saat kita bahagia. Masak berbagi saat sedang duka saja!
Dan ternyata, seindah-indahnya rendezvouz yang kita rancang, lebih indah rendezvouz yang dikaryakan Tuhan. Penuh kejutan dan bumbu-bumbu yang menyedapkan. Karena itu lah, jangan pernah menyia-nyiakan suatu pertemuan. Mungkin kita tak membuat janji pertemuan itu. Tapi percayalah, Tuhan yang merancang rendezvouz itu. Dan pastinya selalu punya arti. Coba saja Luki tak pernah dipertemukan dengan Sinta? Dengan Hadinda? Kemed? Keceng? Ghopur dan yang lainnya. Pasti cerita-cerita bahagia tak akan pernah terukir di masa-masa yang dianggap paling menyenangkan dalam kehidupan seseorang.masa-masa SMA.
Tapi bukan berarti harus menganggap pertemuan dengan orang-orang yang pernah membuat hati kecewa atau rendezvouz Tuhan yang kita anggap tak pernah menyenangkan sebagai satu hal yang tak perlu diingat dan harus dilupakan. Karena percaya saja, pertemuan itu nggak pernah sia-sia. Coba kalau Sinta nggak ketemu Reyhan, mungkin Luki nggak pernah sadar akan perasaannya yang harus diperjuangkan.

Read previous post:  
26
points
(769 words) posted by kukuhniam 4 years 13 weeks ago
65
Tags: Cerita | Cerita Pendek | teenlit | Berharap Lucu | lukiluck
Read next post:  
Be the first person to continue this post