Horor Toilet

Setiap rumah hantu menyimpan kisahnya masing-masing. Beberapa rumah pernah menjadi lokasi pembantaian. Kisah-kisah tentang keluarga yang tewas dibantai perampok, perselingkuhan yang berakhir dengan pembunuhan, atau hukuman-hukuman mati pada zaman kerajaan selalu menimbulkan teror yang residunya menggaung sepanjang zaman. Sebagian rumah lainnya menyimpan kisah tentang keputusasaan, kehancuran semangat hidup manusia di hadapan kerasnya dunia: penghuni rumah yang bunuh diri karena dikhianati, laki-laki yang meracuni anak-istrinya dan kemudian menembak kepalanya sendiri, atau sekte keagamaan yang melakukan ritual bunuh diri massal karena merindukan surga. Namun, semua kisah itu tidaklah sepadan dengan rumah hantu yang kutinggali saat ini.

 

Rumah yang baru saja kubeli sebulan lalu ini bukan sebuah kastil, bukan pula rumah besar dengan tiang-tiang putih besar dan lantai marmer yang harganya selalu naik setiap hari Senin. Rumahku hanyalah rumah kecil di pinggiran ibukota yang kubeli secara angsuran lewat pinjaman bank. Tidak ada yang menyangka bahwa rumah ini adalah rumah hantu, bahkan mungkin rumah hantu paling menyeramkan yang pernah keketahui.

 

Aku terpaksa tinggal di rumah ini seorang diri karena tuntutan pekerjaan, sementara istriku masih harus mengurus kepindahannya dari tempat kerja dan anakku harus menunggu liburan semester di sekolahnya sambil mencari sekolah baru. Memang, satu minggu sekali aku masih bisa bertemu mereka, tapi bukan di situ masalahnya. Masalahnya adalah kamar mandi rumahku.

 

Kamar mandi di rumah ini bermodel sederhana, khas rumah perkampungan. Sebuah bak mandi ukuran satu kali satu meter, keran air, dan toilet jongkok yang bagian bawahnya agak ditinggikan. Tidak ada yang spesial. Meski begitu, anak dan istriku selalu cerewet soal kamar mandi. Selain kamar tidur, kamar mandi adalah bagian rumah yang paling esensial. Mereka selalu memiliki keinginan khusus tentang kamar mandi. Anakku, misalnya, meminta agar aku memelihara ikan-ikan di dalam bak mandi seperti yang dilakukan pamannya. Sementara itu, istriku meminta dipasangkan shower, sebab salah satu impiannya adalah mandi di bawah air pancuran saat sedang dirundung masalah pelik, seperti di film-film.

 

Keganjilan di kamar mandiku bermula pada suatu pagi di hari Senin. Aku baru saja selesai buang air besar dan mandi pagi, kemudian bersiap mengenakan kemeja kerjaku. Saat aku kembali ke kamar mandi untuk mematikan lampu, tiba-tiba saja langkahku terhenti, mataku terbelalak. Aku menemukan kotoran manusia mengambang di atas toilet, padahal aku ingat benar bahwa aku telah menyiram milikku tadi. Selain itu, aku juga sedang tidak mencret. Meski setiap hari hanya makan di warteg pinggir jalan dan hidangan katering di kantor, tapi pencernaanku tidak mengalami masalah. Kotoran siapa itu? Sambil terus termenung, aku menyiram kotoran mencret itu hingga ia berputar-putar masuk kembali ke lubangnya.

 

Bila hal itu hanya terjadi satu kali, aku mungkin akan mengabaikannya. Wajar, sepandai-pandai tupai melompat, sesekali akan terjatuh juga. Sepandai-pandainya manusia, sesekali pasti lupa menyiram toilet juga. Namun tidak. Fenomena itu terjadi selama lima hari berturut-turut.

 

Pada hari kelima, seorang temanku sempat berniat untuk mampir ke rumah baruku, sebab katanya ia juga ingin mencicil rumah di daerah yang sama. Dengan segala daya dan upaya aku pun menolaknya. Tentu saja ia sangat heran. Dengan bercanda, ia sempat mengatakan bahwa jangan-jangan aku menyembunyikan sesosok mayat di rumahku. Dia tidak tahu. Menyembunyikan mayat adalah alasan yang jauh lebih meyakinkan daripada menyembunyikan tahi misterius di kamar mandi sendiri.

 

Akhirnya, kuputuskan untuk memanggil tukang sedot WC berdasarkan rekomendasi tiang listrik tetangga sebelah. Saat tukang sedot WC datang, aku menceritakan segala keluhanku. Namun setelah mencoba melakukan penyedotan, mereka menyimpulkan bahwa sebenarnya tanki pembuanganku masih relatif kosong, masih belum perlu disedot. Kucoba meyakinkan mereka atas apa yang aku alami, tapi mereka hanya menunduk sambil menggelengkan kepala. Pada saat itu, sekujur tubuhku merinding. Perasaan merinding yang mungkin dirasakan korban kesurupan yang pergi ke dokter, lalu sang dokter berkata, “Kami tidak menemukan penyakit apa-apa. Gangguan yang Anda alami tidak dikenal dalam dunia medis kami.” Kegelisahan di dalam diriku pun semakin besar selama pertanyaan itu belum terjawab. Mencret siapa itu sebenarnya?

 

Kotoran gaib. Itulah kesimpulanku. Aku bukan orang yang mudah percaya pada hal-hal mistis, tapi penjelasan apa lagi yang bisa kuterima? Aku tinggal seorang diri di rumah dengan saluran pembuangan yang lancar, pencernaanku pun normal, tapi setiap pagi aku selalu menemukan mencret seseorang di toiletku. Bila makhluk halus bisa mengganggu manusia lewat darah yang mengucur tiba-tiba dari keran wastafel, rambut panjang yang jatuh dari loteng, atau potongan jari yang merayap di kolong tempat tidur, kenapa mereka tidak bisa menggunakan feses sebagai medium teror mereka?

 

Setelah peristiwa penyedotan WC itu, gangguan yang aku alami semakin menjadi-jadi. Mungkin “ia” merasa terganggu, mungkin ia marah dengan tindakanku, atau mungkin ia hanya iseng menggodaku. Pagi itu, saat aku sedang mencukur kumis di depan cermin di kamar mandi, setangkup kotoran mencret meluncur cepat dan menghantam dinding di sebelahku. Jantungku terasa berhenti selama beberapa detik. Kuperhatikan kotoran itu. Sebagian menetes ke lantai kamar mandi, sementara sebagian lainnya membentuk suatu pola berwarna cokelat kekuningan. Aku terperanjat. Kuperhatikan lekat-lekat, lalu aku menyadari bahwa cipratan kotoran itu ternyata membentuk seraut wajah. Wajah dengan senyum menyeringai dan gigi-gigi yang tajam.

 

Aku tidak bisa tidur selama beberapa hari. Setiap kali hampir terlelap, aku mendengar suara-suara ganjil dari kamar mandi. Mulai dari suara buang angin hingga suara mencret. Begitu pula dengan bau-bau tak sedap yang membuatku mual-mual sepanjang malam. Bahkan, dalam satu mimpiku, aku menyaksikan bagaimana kotoran gaib itu meluber keluar dari sela-sela pintu kamar mandi, masuk ke kamar tidurku, kemudian membuatku tenggelam dan tak bisa bernapas.

 

Tentu aku sudah berusaha menyelidiki fenomena ganjil ini sampai ke akarnya. Orang yang menjual rumah ini kepadaku menghilang secara misterius. Mungkin ia takut aku menuntut ganti rugi kepadanya, atau mungkin ia sudah menemui ajalnya dalam suatu akhir yang tragis: tenggelam dalam septic tank atau tersedak tinja. Satu-satunya petunjuk yang kudapatkan berasal dari para tetangga.

 

Satu orang tetanggaku mengaku, bahwa jauh sebelum aku menempati rumah ini, pernah terjadi sebuah tragedi memilukan. Penghuni rumah ini dahulu adalah seorang pria yang sangat miskin dan menderita suatu penyakit. Para tetangga tahu bahwa ia sedang sakit, tapi tak ada seorang pun yang tergerak untuk membantunya. Di masa itu, kehidupan memang sedang sulit. Jangankan untuk membantu pengobatan orang lain, menjaga kesehatan keluarga sendiri pun harus dilakukan dengan susah payah. Akhirnya, pada suatu pagi, terciumlah bau busuk dari rumah ini. Para tetangga yang sudah tak tahan lagi mencium bau tersebut akhirnya mendobrak masuk. Mereka menemukan si penghuni sudah meninggal dunia di kubangan kotorannya sendiri. Tampaknya ia memang telah lama memiliki penyakit pencernaan yang sangat parah. Kondisi kekurangan cairan, kelaparan, tidak adanya pengobatan, dan ketidakpedulian orang-orang di sekitarnya telah membuat ia mati dalam kondisi paling mengenaskan.

 

Siapa yang tahu? Mungkin ia menyimpan dendam atas kematiannya. Mungkin ia kesepian. Mungkin ia membutuhkan seseorang yang dapat membuat kepergiannya menjadi lebih tenang. Namun bagaimana caranya? Aku tidak tahu cara menyembuhkan diare pada makhluk halus. Bahkan beberapa “ahli supranatural” yang kutemui pun tidak menyanggupi hal ini. Mereka spesialis dalam berkomunikasi dan mengusir roh halus, bukan menyembuhkan penyakitnya.

 

Sebentar lagi waktuku akan habis. Istri dan anakku akan segera pindah ke sini. Aku tidak ingin mereka mengalami teror yang sama denganku, tapi aku juga tidak tahu bagaimana menjelaskan semua ini kepada mereka. Selama aku belum bisa menenangkan arwah penasaran itu, cuma ini satu-satunya solusi yang bisa kulakukan. Aku akan menutup kamar mandi ini secara total menggunakan semen dan batu bata, lalu aku akan membuat kamar mandi baru dengan ukuran yang lebih kecil di sudut lain. Karena letaknya di pojok belakang, mungkin anak dan istriku tidak akan menyadari dinding aneh ini. Mereka mungkin masih akan mendengar suara-suara aneh atau bau-bau tidak sedap, tapi setidaknya, mereka tidak akan menyaksikannya dengan mata kepala sendiri.

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer nusantara
nusantara at Horor Toilet (1 year 11 weeks ago)
70

tidak selucu yang diharapkan dan tidak seseram yang diharapkan...
tidak semisteri yang diharapkan juga...
hehehe
bisa jadi itu ulah orang yang bersembunyi di atap rumah dan numpang mencret di kamar mandi setiap hari, ahak ahak..
kkkkkkk...
bikin cerita tema tinja dengan nuansa horor itu memang susah banget

Writer rian
rian at Horor Toilet (4 years 25 weeks ago)
80

Numpang ketawa, ya:D Lucu, kecuali endingnya.

Writer kukuhniam
kukuhniam at Horor Toilet (4 years 26 weeks ago)
90

Ketika banyak yang memilih darah, kepala lepas, tangan, mata, kaki, tanpa wajah, dan rambut sebagai teror cerita horor. Anda dengak sukses memilih tinja sebagai terornya.
deg degannya kerasa, ngalir, jadi pingin baca terus. Sewmakin penasaran dengan ending di setiap paragraf, yah tapi kok endingnya nggak lucu? berharap bisa lucu aja sih bang meski sudah tahu ini horor. Apalagi setelah efek terornya.

Writer kartika demia
kartika demia at Horor Toilet (4 years 26 weeks ago)
100

Wah, bang riv setor juga? Padahal aku ngarep goger darimu bang... Suerrrrr... XD

Oke, dari awal ini udah asyik, horkomnya dapet maximal. Tapi endingnya gak maximal.
Lalu mengenai ibukota & putusasa, itu bukannya dipisah ya? ^^

Writer Nine
Nine at Horor Toilet (4 years 26 weeks ago)
100

Sama seperti om smo, endingnya nggak nendang, bang. Narasinya nyosor, beberapa bagian sy jadi ketawa-ketiwi. ^^
.
Overall ceritanya menghibur, bang. Kurang di ending saja. Klo bagian horrornya di saya masih kurang ngena, dominan komedinya saya rasa.
.
Sekian, bang, mohon maaf kalau ada yg nggak berkenann^^

Writer mas_er
mas_er at Horor Toilet (4 years 26 weeks ago)
80

Ide yang oriinil dan cerdas.

*Masih aktif rupanya, lanjutkan Vai ^^

Writer The Smoker
The Smoker at Horor Toilet (4 years 26 weeks ago)
80

Bruakakaka.
Bangriv, posting juga, padahal pengen liat dirimu goger, bahaha #dirinsolangsung#murtadkesenior
.
Sedap euy, mulus, ngalir. Saya ngakak pas tau terornya sebongkah kotoran. Idenya itu lho, syyiiiipppttt!
.
Tapi saya kuciwa dengan endingnya, dilempengin gitu aja.
.
Sekali agi, idenya mantap! Haha