Cerita Yang Ada Kesurupannya

Cerita Yang Ada Kesurupannya

 

Sekolahku bukan tempat yang angker. Kami tidak pernah melihat sosok makhluk halus berseliweran di sekitar bangunan sekolah, pun gangguan-gangguan gaib dari mereka. Bahkan beberapa murid berani belajar bersama hingga larut malam. Di sini juga ada pohon beringin tua. Batangnya besar dan sulurnya panjang-panjang—seperti rambut yang tidak terawat. Walau terlihat seakan pohon itu adalah hunian makhluk gaib, satu-satunya teror yang ada di situ adalah kumpulan senior yang sering memalaki murid lain pada jam istirahat, bukan dari kuntilanak, pocong, atau upin-ipin (sebutan kami untuk tuyul).

Tapi … hari itu berbeda.

*

Pelajaran matematika dibawakan oleh Pak Rahman. Seperti biasa, mayoritas penduduk kelasku jika tidak mengantuk mereka bermain handphone. Hanya murid-murid yang duduk di bangku depan terlihat serius memperhatikan penjelasan Pak Rahman yang hari ini sedang membahas Matriks. Murid-murid bangku belakang menggosip, tidur, ada juga yang onani sambil menonton film dewasa—barangnya digesek-gesek di pinggir meja. Edan!

Melihat kebanyakan muridnya tidak peduli dengan segala—yang kami anggap—omong kosong keluar dari mulut Pak Rahman, beliau memutuskan untuk mulai menunjuki beberapa murid yang terlihat tak acuh.

“Acok!” teriak Pak Rahman.

Si Acok yang sedang tenggelam dalam dunia mimpi terbangun dan mengusap iler di sekitar mulutnya. Matanya merah lalu ia balas teriak, “Hadir, Pak!”

“Coba kerjakan soal di papan!”

Murid yang lain sontak fokus pada Acok. Dengan langkah gontai—sebab ia masih mengantuk—Acok maju ke depan. Penghapus papan tulis diambil oleh Acok.

“Itu soalnya mau dikerjakan atau dihapus, Cok?” kata Pak Rahman. Ia terlihat geram.

Garuk-garuk kepala, celingak-celinguk, murid-murid lain tertawa. Acok segera mengganti penghapus dengan spidol. Berdiri lama di depan papas tulis, Acok mematung seolah-olah sedang berpikir. Aku berani bertaruh, ia hanya menunggu sampai Pak Rahman menyuruhnya duduk kembali.

“Ke kamar mandi dulu, Cok, cuci muka,” kata Pak Rahman.

Seiring Acok berlalu, murid-murid lain tertawa. Suasana kembali seperti semula. Hening. Sampai teman dudukku—Ramitha—tiba-tiba berteriak histeris.

“Aaaaaaakkhhhh!”

Aku kaget bersama dengan semua yang ada di dalam kelas. Air muka Pak Rahman terlihat kesal lalu ia berjalan ke arah bangku kami.

“Kenapa, Ramitha?” tanya Pak Rahman.

“Keluar kalian semua! Keluar!” bentak Ramitha pada Pak Rahman. Penduduk kelas kaget bukan kepalang.

Aku yang duduk di sebelah Ramitha bergeser sedikit. Mata Ramitha merah. Kupikir itu karena sedari tadi memang ia tertidur. Desah napasnya memburu. Kudengar jelas suara geraman dari tenggorokan Ramitha. Sekali lagi ia teriak.

“K-e-l-u-a-r!”

Yap, mungkin ini saat yang tepat untuk keluar. Aku dan beberapa murid lain berdiri. Siap-siap keluar. Belum sempat mengambil langkah pertama, Pak Rahman cepat-cepat mencegah kami.

“Mau ke mana?” tanya beliau.

“Keluar, Pak!” jawab beberapa dari kami yang berdiri. Serentak.

“Enggak usah. Ini cuma akting. Duduk kembali!”

“Saya bilang KELUAR!” teriak Ramitha sambil melempar meja duduk di depannya. Meja itu terbang melayang lalu mendarat di depan kelas setelah menghantam papan tulis. Oke, Pak Rahman, sepertinya ini bukan akting.

“Anak-anak tenang. Jangan panik dulu.”

Kemudian Pak Rahman menunjuk ketua kelas kami: Indra, untuk ke ruang guru dan mencari Pak Hasyim (guru agama). “Kalau tidak ada di ruang guru, cari di kelas lain. Bilang kalau ada yang kesurupan di sini,” tambah Pak Rahman.

Geraman Ramitha semakin liar. Matanya makin melotot. Ia mengarahkan pandangan ke seisi ruangan dengan gerakan kepala yang cepat dan kadang-kadang lambat. Sepertinya ini setan harimau. Dan benar saja, selepas Indra keluar dari kelas, Ramitha tiba-tiba melompat dari tempat duduknya ke atas mejaku. Wow! Cepat sekali!

Teman-teman yang tadinya tidur sekarang melek. Yang menggosip semakin menjadi-jadi. Bisik-bisik dan suara-suara ketakutan dari murid perempuan mengisi ruangan. Keadaan mulai gaduh. Ramitha—yang kini sedang berada di atas mejaku—kembali teriak, “Arrrrggggghhhh! Keluar! Ini rumah saya!”

Pelan-pelan, Ramitha kemudian berpose seperti harimau. Tangannya mencakar-cakar meja dudukku. Kuku Ramitha patah-patah, namun bekas cakarannya dalam. Benar-benar seperti harimau yang sedang mencakar. Harusnya sekarang aku menyingkir sebelum tangan itu berpindah target ke wajahku namun, sulit untuk tidak terpaku melihat pose yang sedang diperagakan Ramitha sekarang benar-benar erotis. Tubuh Ramitha memang molek dan wajahnya—walau tidak cantik tapi—cukup menggairahkan. Apalagi pakaian seragamnya yang ketat dan roknya yang selutut makin memperjelas lekuk pinggulnya. Sekarang aku tidak tahu, apakah bulu roma yang merinding ini karena takut atau nafsu.

“Ramitha, kamu kenapa, Ramitha?” tanya Pak Rahman. Nada suaranya terdengar ragu.

“Ramitha, sadar, Ramitha!” teriak yang lain.

Kembali Ramitha mengaum seperti harimau!

Ramitha, oh, Ramitha, batinku—dan aku masih juga terpaku di tempat duduk.

Tangan Ramitha kemudian menyambar lengan Pak Rahman. Syat! Dan kemeja guru matematika itu robek bersanding kulitnya yang ikut berdarah. Pak Rahman mundur ke belakang. Oke, sekarang Ramitha tidak lagi seksi, ia benar-benar menakutkan. Matanya semakin merah—dan kini aku yakin itu bukan sisa-sisa tidur lelapnya. Cepat-cepat aku menyingkir dari Ramitha. Sedetik kemudian Ramitha melompat lagi—kali ini lompatannya benar-benar tinggi. Ramitha melayang dan menghantam plafond, langit-langit kelas kami bolong karena itu. Kemudian tubuhnya mendarat di atas Pak Rahman. Mereka berdua kini di lantai: Pak Rahman di bawah Ramitha yang seakan-akan sedang mencoba memangsanya. Ramitha teriak lagi!

“Jangan ganggu rumah saya! Keluar! Grrrrr!”

Untung Pak Hasyim dan Indra—dan ada juga si Acok yang baru kembali dari kamar mandi—segera muncul sebelum Ramitha semakin menjadi-jadi. Dengan sigap, Pak Hasyim memegang kepala Ramitha dengan satu tangan dan tangan yang lain ditempelkan ke dahinya. Bibir Pak Hasyim komat-kamit merapalkan ayat-ayat Al-Quran—aku mendengarnya samar-samar. Ramitha menepis tangan itu dan melompat ke belakang. Tinggi! Lagi-lagi plafond rusak.

“Jangan terkam aku, Ayah!” teriak Rino. Ia salah satu murid laki-laki yang bernaluri wanita. Rino berlari menyingkir dari tempat Ramitha mendarat.

Ramitha mengaum lagi. “Keluar! Atau saya makan kalian!”

Karena kalimat itu, para murid perempuan berteriak histeris. Kelas menjadi sangat ribut. Suara kaki-kaki berlarian, meja-meja dan kursi yang terdorong ke sana ke mari, kegaduhan ini terdengar ke penjuru sekolah. Murid-murid dari kelas lain mulai berdatangan untuk menonton.

Pak Hasyim mengeluarkan selembar kain lusuh dari dompetnya. Kain itu membungkus sebentuk batu. Lalu Pak Hasyim memijit-mijit batu tersebut sambil mulutnya komat-kamit. Sontak Ramitha seperti bereaksi dengan tindakan Pak Hasyim barusan. Pose harimau Ramitha hilang dan badannya kini berbaring di lantai. Ia menggelepak-gelepak seperti ikan yang keluar dari air.

“Sudah! Sudah! Ampun!” keluh Ramitha—atau lebih tepatnya setan yang ada di dalam tubuhnya.

Pak Hasyim kemudian menghentakkan tumit kakinya ke lantai. Dalam setiap hentakannya, Ramitha semakin mengeluh kesakitan. Pak Rahman menyuruh beberapa murid laki-laki yang lain untuk memegang tubuh Ramitha yang masih berontak. Saat tubuh Ramitha terkekang oleh genggaman teman-teman, Pak Hasyim mendekat dan kembali memegang kepala Ramitha dengan satu tangan sementara tangan satunya ditaruh di dahi Ramitha.

Selang beberapa detik, tubuh Ramitha yang berontak mulai tenang. Napasnya yang memburu perlahan melambat dan kembali normal. Tubuhnya keringatan. Baju seragam putih abu-abu yang dikenakannya kotor di sana-sini.

Pak Hasyim melap keringat di wajahnya. Teman-teman yang lain juga mulai tenang. Murid perempuan tidak lagi histeris. Dan Pak Rahman mengelus-elus dadanya. Aku? Dari tadi asyik memakan wafer punya Ramitha sambil menonton. Kupikir dia tidak membutuhkannya lagi. Terutama setelah kesurupan dashyat seperti tadi.

Kelas kembali diatur seperti semula. Semua kembali ke tempat duduk masing-masing. Pak Rahman, Indra, dan Acok membawa Ramitha ke ruang UKS. Setelah Pak Hasyim memberikan kami sedikit tausiah singkat mengenai cara-cara untuk membentengi diri dari gangguan makhluk halus, ia pamit. Tak lama setelah itu, teriakan kembali terdengar, kali ini dari kelas sebelah.

“Akkkkhhhhhhh!”

Pak Hasyim geleng-geleng kepala.

Satu teriakan lagi terdengar dari deretan kelas IPS, “Arrrrghhhh!”

Lalu menyusul lagi teriakan dari kelas X, “Akkkhhhh!”

Tak lama berselang, teriakan demi teriakan terdengar hampir dari tiap kelas dan sekolah menjadi semakin gaduh. Murid-murid keluar dari kelas beserta para guru. Staf-staf tata usaha dan ibu-ibu penjual di kantin sekolah juga penasaran dengan apa yang sedang terjadi. Semuanya panik. Kacau-balau. Orang-orang berlarian ke sana ke mari. Ada yang membawa sebotol air mineral, ada yang membawa daun kelor, ada juga yang menenteng Al-Quran. Tiba-tiba terdengar suara Pak Kepala Sekolah dari loudspeaker.

“Semuanya jangan panik. Tenang. Tolong pak satpam, guru, dan murid laki-laki membawa yang kesurupan di musala. Yang lain tetap di dalam kelas. Jangan membuat kegaduhan. Pihak sekolah sudah menghubungi Pesantren Fastabiqul Khoirat untuk datang membantu. Jangan ada yang membolos! Sekali lagi …”

Komando dari Kepala Sekolah diterima dan aku melihat beberapa murid lain mulai menenteng yang kesurupan ke musala. Ada juga yang sibuk mengejar murid kesurupan di halaman upacara. Ada yang bertingkah seperti monyet, ada yang melompat seperti kodok, ada yang meliuk-liuk seperti ular. Semua yang kesurupan adalah perempuan. Hingga tempat ini terlihat seperti kebun binatang saja.

Sebenarnya, aku lebih memilih untuk bolos. Tidak perlu lompat pagar. Tinggal menyelip pelan-pelan dan keluar lewat gerbang sekolah. Walau kalian menganggapku sebagai orang yang sama sekali tidak memiliki jiwa sosial yang baik. Aku tak peduli. Aku lebih memilih berada di atas kasurku yang empuk dan bermimpi, ketimbang mengurusi orang-orang yang sedang kesurupan ini. Namun, semua itu tak jadi kulakukan saat melihat dia juga ikut kesurupan: Rika.

Rika adalah salah satu wanita idaman di sekolah ini. Dia berbeda kelas denganku. Banyak pria yang mengincarnya; dari yang ganteng-kaya, ganteng-miskin, jelek-kaya-raya-sekali, jelek-miskin, ganteng-gaul, jelek-gaul (intinya, sebutkan semua tipe-tipe pria di SMA dan akan kau temukan semua dari spesies-spesies itu pernah mencoba untuk mendapatkan hati Rika). Tak terkecuali denganku. Dan harus kuakui, Rika benar-benar menganggapku seperti bongkahan batu—atau jeroan lebih tepatnya.

Kupikir ini saat yang tepat untuk mulai mengenalnya lebih dekat. Karena saat ini, aku sedang memegang bagian pahanya dan ikut menenteng Rika ke musala bersama dengan pria-pria ngarep yang lain (yang saat ini juga sedang ikut menenteng Rika). Persetan dengan Mamat yang memegang bagian dekat dengan buah dada Rika. Persetan!

Di dalam musala panas sekali. Bau keringat dan matahari bercampur aduk. Kulihat beberapa guru agama di sekolah ini sedang mencoba melakukan penanganan terhadap korban-korban kesurupan. Jangan kau bertanya apa yang sedang terjadi di dalam sini. Tapi untuk lebih jelasnya silahkan bayangkan suasana tawuran anak SMA namun kejadiannya bertempat di dalam musala dan semuanya sedang kesurupan. Suara-suara geraman, teriakan histeris, ancaman, makian, ancaman lagi, dan makian lagi. Benar-benar bikin pusing. Untungnya ada wajah Rika yang menjadi semacam pelipur lara di tengah kekacauan ini.

Pandangan pertamaku dengan Rika memang tidak seromantis yang selama ini aku bayangkan (matanya yang sedang malu-malu-mesra menatapku dengan penuh gairah dan aku membalasnya. Lalu kami bercumbu dan … ya kukira kau dan aku membayangkan hal yang sama). Realitanya, Rika menatapku dengan tatapan melotot dan matanya merah. Berapa kali ia mencoba untuk menggigit pergelangan tanganku dan ancaman demi ancaman ia semprotkan ke arah kami (para lelaki yang kini sedang menahan tubuhnya yang berontak).

Pak Ipul bertugas untuk menangani Rika. Tidak, Pak Ipul bukan salah satu guru agama di sekolah ini. Beliau mengajar biologi. Hal ini membuatku heran apa yang sedang ia lakukan di sini. Mencoba merelaksasi sel-sel neuron otak Rika dengan pengetahuan biologinya? Kukira itu tak akan berhasil. Karena aku yakin, setan yang saat ini sedang bersemayam di dalam tubuh Rika, sudah lupa dengan pelajaran biologi. Tapi dari yang kudengar, Pak Ipul memang mempunyai benda-benda berkekuatan mistis. Tiap kali ia mengajar biologi, lebih dominan ia menjelaskan tentang perjalanan spiritualnya dan beberapa benda-benda yang ia dapatkan: cincin sakti, batu ajaib, kalung supranatural. Pak Ipul juga salah satu guru yang humoris menurut cerita-cerita yang kudengar. Ia lebih sering melawak ketimbang mengajarkan biologi berdasarkan standar kurikulum. Kuharap … Rika baik-baik saja di tangan orang ini.

Pak Ipul mengeluarkan sebuah batu berwarna merah gelap dari sakunya. Sambil menempelkan batu itu di salah satu jempol kaki Rika—ia menekannya dengan sekuat tenaga—Pak Ipul memulai ruqyah-nya.

“Keluar kau setan!” bentak Pak Ipul.

“Ah, persetan kau laki-laki tua!” balas si setan dalam tubuh Rika.

“Kau yang setan!”

“Kau! Kau yang setan!”

Sampai di sini, aku mulai meragukan metode ruqyah yang digunakan guru biologi ini. Tapi tubuh Rika makin berontak. Kulihat urat-urat nadi Pak Ipul menonjol dari kulitnya yang sawo matang, semakin keras ia menekan batu itu di jempol kaki Rika.

“Bagaimana sekarang? Masih mau tinggal?” kata Pak Ipul seakan mulai memenangkan pertarungan ini.

“Akkkhhh! Sakit! Setan kau laki-laki tua!”

“Kau yang setan! Keluar cepat!”

“Tidak mau! Saya tidak akan keluar! Ahahahaha!”

Suara tawa Rika terdengar seperti suara lelaki.

“Kalau kau tidak mau keluar! Saya nyanyi nih! Saya nyanyi goyang dombret!” ancam Pak Ipul.

Benar-benar orang ini. Keadaan lagi genting, dia masih saja mencoba melawak.

“Saya tidak peduli!” balas Rika.

“Oke,” Pak Ipul berdehem. Ia menatap Rika dalam-dalam lalu, sambil telunjuknya ia arahkan ke wajah Rika, Pak Ipul mulai bernyanyi, “Goyang dombreeeet~ Goyang dombreeet~ Aw! Aw! Goyang dombreet~ …” Tidak lupa kepala Pak Ipul juga digeleng-gelengkan seakan mengikuti irama dangdut. Aku terkekeh. Apa memang ada jenis manusia seperti ini? Dan harus kuakui, suara dan cangkokan dangdut Pak Ipul tidak bisa dibilang jelek.

Rika makin berontak. Kekuatannya benar-benar dashyat. Kami kewalahan menahan Rika. Sementara orang kesurupan yang lain juga makin menjadi-jadi. Beberapa ada yang mencoba memanjat di dinding seakan ia punya kekuatan super seperti manusia laba-laba. Bah!

Tangisan pilu, tawa terbahak, teriakan-teriakan, menjadi semakin keras. Seperti ada yang akan meledak. Telingaku semakin tidak tahan mendengarnya. Dan saat itu juga, Rika terlepas dari cengkeraman kami. Ia berdiri dan berpose seperti gorila. Lalu kemudian ia berontak, memukul-mukul, dan berlari ke sana ke mari di dalam musala. Begitu pula dengan korban kesurupan yang lain. Mereka mulai main tangan, menggigit, mencakar. Kami yang berada di dalam tidak mampu menahan kekacauan itu. Terpaksa, dengan arahan Pak Hasyim, kami semua disuruh keluar dan mengunci korban kesurupan di dalam musala.

Beberapa murid—setelah kami berhasil keluar dan mengurung yang kesurupan di dalam—terlihat babak belur dan berdarah. Kami menunggu bantuan dari Pesantren Fastabiqul Khairat. Pemandangan di depanku benar-benar mengerikan. Melihat tingkah yang kesurupan semakin liar. Mereka mencakar-cakar. Melompat-lompat. Dari sela-sela jendela musala yang dipasangi terali besi kulihat seisi musala menjadi porak-poranda. Mendengar semua suara-suara ganjil dari dalam membuatku merinding. Semakin lama, mereka terlihat benar-benar berubah menjadi binatang. Untungnya, selang beberapa menit, orang-orang dari pesantren datang. Syukurlah.

Rombongan orang-orang dari Pesantren Fastabiqul Khairat datang mendekat ke musala. Sepertinya mereka sekitar dua puluh orang. Berikut dengan santri-santrinya.

“Pak Ustaz, terima kasih sudah datang,” kata Pak Kepala Sekolah sambil menyalami tangan orang itu. Sepertinya ia ketua pondok pesantren.

“Tidak perlu sungkan, Pak. Jadi semua yang kesurupan ada di dalam musala?”

“Ia, Pak Ustaz. Sudah hampir satu jam sejak kesurupan massalnya mulai.”

“Masih belum terlambat. Saya minta yang di luar ikut berdoa, mudah-mudahan ini segera selesai,” kata Pak Ustaz kepada kami.

Lima orang dari rombongan pesantren masuk ke dalam musala. Semuanya memakai busana muslim lengkap. Saat di dalam, kulihat mereka membentuk semacam formasi, memejamkan mata, dan mulut mereka mulai komat-kamit. Orang-orang kesurupan mulai bereaksi. Beberapa dari mereka mencoba melukai para ustaz. Kemudian kalimat-kalimat tauhid mulai diteriakkan keras-keras. Zikir-zikir dirapalkan ke arah murid yang kesurupan. Kami yang di luar semakin cemas dan surah-surah pendek mulai terdengar dari mulut beberapa murid dan guru.

Apa yang terjadi di dalam musala cukup seru menurutku. Seperti menonton film laga, para ustaz itu memasang kuda-kuda dan seakan-akan sedang menghembuskan sesuatu atau melemparkannya ke arah murid yang kesurupan. Sayang sekali, adegan ini tidak didukung special effect—karena akan membuatnya kelihatan semakin seru. Aku bergeming. Takjub.

Menit demi menit berlalu, dan belum ada hasil yang didapat. Berkali-kali rombongan pesantren bergantian untuk masuk ke dalam musala. Tidak ada yang bisa menetralisir keadaan.

“Maaf, Pak Kepala Sekolah. Jinnya terlalu banyak. Ada ratusan ribu. Kami kewalahan, Pak. Sepertinya ini akan makan waktu lama.” Pak Ustaz menjelaskan.

Dari rombongan pesantren, seorang pemuda—sepertinya ia seusia denganku—maju dan berbicara pada ketuanya. Aku mendengar ia menawarkan diri untuk mencoba masuk ke dalam dan menetralisir suasana.

“Kamu masih belajar. Saya takut, nanti kamu ikut kesurupan di dalam,” kata Pak Ustaz melarang.

“Jangan khawatir, Pak. Izinkan saya mencoba.”

Pak Ustaz berdiam sejurus. Setelah menghela napas, ia berkata, “Baiklah, tapi kamu harus ditemani.”

“Tidak usah, Pak. Saya masuk sendiri saja.”

Pak Ustaz mengerutkan keningnya. Demikian pula denganku. Seperti ada perasaan percaya yang timbul dari kata-kata si santri namun, di saat yang bersamaan aku ragu ia bisa melakukannya. Akhirnya jawaban Pak Ustaz menjawab rasa penasaranku.

“Oke. Kamu masuk ke dalam, tapi lima menit tidak bisa, kamu saya tarik kembali.”

“Saya hanya butuh paling lama dua menit, Pak,” kata santri itu mantap. Kemudian ia berjalan ke depan pintu musala. Ia berhenti sejenak. Kami semua menatap penuh harap pada santri itu. Ia membuka pintu musala dan … ia pun masuk.

Dari luar, kulihat si Santri berjalan dengan tenang. Ia mencari tempat tepat di tengah-tengah musala. Para korban kesurupan masih membuat onar di dalam tapi seakan tidak mempedulikan kehadiran si Santri. Mungkin, setan-setan itu juga berpikiran sama dengan kebanyakan dari kami: bisa apa manusia kurus kering, kulit hitam, muka polos, seperti itu?

Santri itu duduk bersila di tengah-tengah musala. Ia memejamkan matanya.

Satu detik

Dua detik

Tiga detik

Kami semua menonton dalam keheningan. Hanya suara ribut dari dalam musala yang terdengar.

Satu menit kemudian …

Aku tidak percaya dengan apa yang barusan terjadi. Semua korban kesurupan tiba-tiba pingsan. Tidak ada perlawanan sama sekali. Tidak seperti para ustaz yang sebelumnya. Memasang kuda-kuda, membentuk formasi, tapi gagal. Si Santri hanya duduk bersila dan semua yang kesurupan menjadi tak sadarkan diri. Kami takjub. Aku benar-benar takjub dengan orang itu.

Si Santri berjalan keluar dari musala. Semua mata menatap padanya. Hati saya entah kenapa jadi berdebar-debar melihat orang itu. Aku merasakan aura yang sangat berbeda saat sebelumnya ia mencoba masuk ke musala.

Pak Ustaz datang menyalami si Santri, dan aku mendengar cukup jelas percakapan mereka.

“Allahuakbar. Saya menyesal sudah meragukan kamu, Nak,” kata Pak Ustaz.

“Tidak apa, Pak. Yang penting sekarang semua sudah tenang.”

“Kalau boleh tahu, kamu baca ayat apa di dalam?” tanya Pak Ustaz—air mukanya benar-benar penasaran.

Si Santri terdiam sejurus, lalu ia menjawab, “Saya hanya membaca doa makan, Pak.”

Pak Ustaz terharu dan menitikkan air mata.

Cukup logis menurutku. Setan mana yang mau dimakan sama santri kerempeng nan hitam. Pantas saja semua setan itu langsung lari saat tau doa yang dibaca si Santri adalah doa sebelum makan. Genius.

*

Semua berbeda sejak kejadian itu. Setidaknya, ada satu-dua murid yang kesurupan dalam kurun waktu dua bulan di sekolahku. Tidak ada yang tahu sebabnya. Senior-senior tukang palak yang sering nongkrong di bawah pohon beringin tua, tak pernah lagi terlihat di sana. Aku dan Rika jadian. Walau hanya bertahan selama dua minggu karena ia pindah sekolah. Rika salah satu murid yang biasanya kesurupan semenjak peristiwa itu.

Di suatu sore, setelah selesai latihan basket, aku ke kamar mandi untuk buang air kecil dan membersihkan wajah. Lantunan ayat-ayat dari masjid mulai terdengar. Saat berjalan keluar dari gerbang sekolah, aku melewati pohon beringin tua. Di sana kulihat seorang wanita cantik dan rambutnya bergelombang. Ia memakai seragam sekolahku lalu tersenyum kepadaku. Kakinya tidak menapak tanah. Malam itu, saat akan tidur, aku kesurupan.

Keesokan harinya, aku melihat kedua orangtuaku dan semua keluarga dekat sedang menangis. Di depan batu nisan yang bertuliskan nama lengkapku.

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Shinichi
Shinichi at Cerita Yang Ada Kesurupannya (5 years 20 weeks ago)
90

sekurang-kurangnya ada tiga hal penting yang bisa saya sampaikan untukmu, Bung.
.
pertama, saya ngakak abis baca ini. semua bermula dari sound "syat". ahak hak hak. lalu tawa saya tak terbendung lagi. saya terpingkal-pingkal di teras, padalan saya lagi sembunyi dari kejaran Pak RW (belum nyerahin fotokopi KTP).
.
kedua, saya enggak tau tuntutan tantanganmu seperti apa. namun jika horor komedi musti Libra, ini jelas berat di komedinya. porsi horor lenyap, sekalipun ending itu. malah ending itu mengagalkan komedinya. sumpah. jadi, kan malah kentang. padalan sudah asik. lalu soal guru Biologi, itu merusak, Bung. keseriusanmu mengarang komedi, lantas hancur gara-gara ulah aktor eks OVJ. itu pilihan yang buruk.
.
ketiga, pulpen ilang butuh bantuanmu. kalian belajarlah yg rajin dan serius sama komedi. bakat kalian di situ saya pikir. ahak hak hak.
.
kip nulis dan kalakupand

Writer latophia
latophia at Cerita Yang Ada Kesurupannya (5 years 24 weeks ago)
2550

Menurutku sih cukup lucu pas anak sekelas galau antara keluar ngikut Ramitha atau enggak. Walaupun kayaknya bisa lebih maksimal lagi kalau Ramitha dan Pak Rahman debat ngotot-ngototan antara keluar atau enggak, dan anak sekelas makin galau, errr... hanya saran ngawur abaikan saja

Endingnya bikin nganga... Kok malah mati? Kenapa engga selesai dengan si santri hitam keluar dengan gagahnya aja? Kayaknya itu aja sih protesnya... Semoga berkenan^^

Writer The Smoker
The Smoker at Cerita Yang Ada Kesurupannya (5 years 24 weeks ago)
80

Aduh, udah lupa mau komen apa, dari semalem sii bacanya. Bentar tak inget2 Dulu.
Pertama iaa, setuju sii sama kedua makhluk di bawah, menyoal awal yg katanya bertele-tele dan beberapa bagian yg garing itu.
.
Soal bagian awal mungkin itu buat pembangunan suasana kali yak, serasa bertele-tele mungkin karena kepanjangan porsinya dibandingin yg lain, tapi penceritaannya serasa lambat dan misal itu dipangkas, nggak ngaruh. Tapi bagi saya nggak sebertele-tele itu. Mungkin itu nggak menarik aja untuk dibahas, atau cara penyampaianmu yg membuatnya begitu.
Terus menyoal guru biologi itu, itu sebenarnya godaan, Nine, jangan kejebak sama godaan macam itu, kecuali emang dunianya keliwat jayus dari awal. saya ketawa pas itu, tapi lebih ke 'kok maksa sii,' gitu... *slap*soktau*
.
Lantas ending, emh... itu seperti emang penulisnya sengaja segera mengakhirinya ke arah sana. Istilahnya nggak mau pusing lagi, Haha...
.
Oiya, horkomnya, standar lah... Karena Emang diburu waktu bikinnya, kan.
Well, terhindar deh goyang gergaji Dan poto belahan pantatmu, anak muda, ngahahaha...

Writer daniswanda
daniswanda at Cerita Yang Ada Kesurupannya (5 years 25 weeks ago)
90

Komedinya dapet nih. Horornya kurang sih. Tapi ketutup sama narasi yang enak dibaca. Gue ngakak pas adegan kesurupan Ramitha. Cuma ada bbrp yg agak garing seperti nyanyian goyang dombret dan doa makan. Buat gue jadi mood killer joke2 yg uda mantap sebelum2nya. Trus masalah ending. Knp si aku harus mati, Naen? Nggak ngerti. Perlu masuk bedah cerpen kayaknya nih hihihih. Sekian dan maap2 kalo ada salah kata.

Writer kartika demia
kartika demia at Cerita Yang Ada Kesurupannya (5 years 25 weeks ago)
100

.
Wow.... Keren ini keren. Endingnya klimaks banget ^^
Namun di pembukaan terlalu bertele-tele Naen, kesan yang saya dapet pas bagian akhir aja. Btw itu tadi kamu kepleset nulis 'saya' dalam narasi. Cuman satu sih.

Koreksi ya:

plafond--> plafon
ke sana ke mari --> ke sana-kemari
silahkan--> silakan
menghembuskan--> mengembuskan
mempedulikan--> memedulikan