Drama Tiga Babak: BARA (Babak I)

I

 

KURSI GOYANG BERAYUN-AYUN TANPA ADA YANG MENDUDUKI. IBU MENARI DENGAN GERAKAN LAMBAT. TATAPANNYA KOSONG.

 

IBU

Selalu saja demikian apabila sedang tidak ada yang saya kerjakan, apabila sedang tidak ada yang bisa saya kerjakan: saya hanya menari dan sesekali menembang kalau-kalau saya sedang merasa ingin.

(Menari dengan gerakan lambat sambil menembang.)

Sêpi rumangsane ati

Njojoh ragang, ngrowak sukma

Nganti dong wêngi

Tan wruh kang kudu taklakoni

Tansah kèlingan, tansah ngêntèni

Tanpa kanca, tanpa asih

Mung ana sêpi

Njojoh ragang, ngrowak sukma

(Menghela napas panjang, kemudian duduk di kursi goyang.)

Saya ini perempuan tua; kesepian lantaran sendirian. Sungguh membosankan; hari-hari tidak ada hal berarti yang bisa saya kerjakan, tidak ada yang bisa saya ajak bicara. Maka, malam-malam begini, manakala semua pekerjaan rumah yang tidak seberapa banyaknya itu sudah saya selesaikan dengan selamban mungkin—dari matahari terbit hingga terbenam—saya duduk menunggu kantuk di kursi goyang ini selepas menari dan sesekali menembang kalau-kalau saya sedang merasa ingin; seperti sekarang ini.

Putri saya; dia sudah pamit dari saya dan rumah ini, mungkin juga sudah pamit dari segala kenangan yang ada di sini sejak menikah dua tahun yang lalu. Sekarang dia tinggal bersama suaminya, juga anaknya yang baru lahir kira-kira dua pekan yang lalu. Dikabarkannya berita perihal kelahiran anak pertamanya kepada saya beberapa hari yang lalu lewat tilpun.

Malam itu, sehabis mandi, ketika saya sedang mengeringkan rambut saya yang sudah mulai memutih, saya dikagetkan oleh dering tilpun. Kala saya mengangkat, saya dengar suaranya yang datar dari seberang berkata demikian: “Ibu, cucu pertamamu sudah lahir pekan lalu. Dia perempuan dan cantik. Kapan-kapan akan saya bawa dia menemuimu.”

Tidak, putri saya tidaklah kurang ajar. Memang hanya dengan cara itulah dia dapat mengabari saya. Bukan salahnya pula apabila saya tidak bisa ikut mengantarkannya ke bidan. Dia dan keluarga kecilnya tinggal jauh di kota lain, di pulau lain lantaran dinas suaminya. Perlu dua-tiga hari untuk mencapainya dengan kapal laut. Saya tidak diajaknya tinggal bersama sebab dia tahu kalau sudah barang tentu saya tidak mau ikut—dengan bujuk rayu macam apa pun. Pertama, karena saya mesti menumpang kapal laut. Dan, kedua, karena saya harus meninggalkan rumah ini.

Saya tidak mungkin meninggalkan rumah ini. Rumah ini akan kosong, juga jorok dan porak-poranda lantaran tidak ada yang mengurusi saban hari. Lagipula, di mana Bara akan tinggal jika dia pulang? Dan, bagaimana saya bisa tahu kalau Bara pulang jika saya tidak senantiasa menunggunya di sini? Saya harus selalu siap. Setiap detik saya siagakan untuk menyambut kepulangannya.

Ah, Bara; kepulangannya tentu saja akan kembali menghangatkan rumah ini seperti sedia kalanya.

Rumah ini telah menjadi sedemikian dingin. Sejak dua belas tahun yang lalu, tidak ada lelaki yang menginjakkan kakinya di sini, kecuali satu tahun sekali oleh teman sepermainan Bara yang tinggal empat rumah dari sini, juga sesekali oleh tukang yang memperbaiki pintu yang rusak atau genteng yang bocor, atau pegawai pemerintahan yang bertanya-tanya mengenai perihal yang kurang penting.

Rumah ini telah menjadi sedemikian dingin, sedemikian beku sebab perempuan saja di dalam rumah mustahil mampu mencairkan apa pun, menghangatkan apa pun. Hanya lelakilah yang mampu—lelaki dengan tawanya, lelaki dengan citanya, lelaki dengan cintanya, lelaki; kanak-kanak maupun dewasa, muda maupun tua. Sungguh, hanya lelakilah yang mampu—lelaki dengan tawanya, lelaki dengan citanya, lelaki dengan cintanya, lelaki; kanak-kanak maupun dewasa, muda maupun tua.

Read previous post:  
Read next post:  
Writer nusantara
nusantara at Drama Tiga Babak: BARA (Babak I) (2 years 10 weeks ago)
70

bagus

Writer durronn
durronn at Drama Tiga Babak: BARA (Babak I) (5 years 14 weeks ago)
60

Geli juga baca ini. Nais poem