Drama Tiga Babak: BARA (Babak II)

II

 

IBU MASUK DENGAN KANTUNG BELANJAAN BERISI KAIN DAN KUE BASAH. PEMUDA IKUT DI BELAKANGNYA.

 

IBU

Agak kotor. Saya belum sempat menyapu dan mengepel tadi pagi; maaf. Saya takut toko kain keburu tutup kalau saya tidak berangkat pagi-pagi. Aneh sekali; para pedagang itu hanya buka setengah hari pada akhir pekan.

Silakan duduk, Nak, dan menunggulah sebentar.

 

PEMUDA DUDUK DI KURSI DENGAN CANGGUNG.

 

IBU

Saya tinggal ke dapur sebentar.

(Pergi ke dapur dengan kantung belanjaan berisi kue basah.)

 

TIDAK LAMA KEMUDIAN, IBU KEMBALI DENGAN MEMBAWA SECANGKIR TEH DAN SEPIRING KUE BASAH.

 

IBU

Mengenai toko-toko di pasar; bagaimana menurutmu? Aneh sekali, bukan? Mereka hanya buka sampai tengah hari, padahal suami-suami hanya bisa mengantarkan istri mereka untuk berbelanja pada akhir pekan. Mereka memang tidak cinta uang.

 

PEMUDA

Begitulah, Bu.

 

IBU

(Meletakkan cangkir dan piring di atas meja.)

Silakan. Jangan sungkan-sungkan.

 

PEMUDA

Terima kasih, Bu.

 

IBU

(Berjalan menghampiri mesin jahit, mengambil mistar dan alat tulis.)

Bagaimana? Sudah punya calon?

 

PEMUDA

Sudah, saya kira, tapi dia masih sekolah perawat.

 

IBU

Dan, kamu sekolah dokter. Kalian akan jadi pasangan serasi.

(Berjalan menghampiri PEMUDA.)

 

PEMUDA

(Berdiri.)

Semoga saja.

 

IBU

(Mengukur tubuh PEMUDA dengan mistar sambil sesekali mencatat.)

Kapan kamu akan melamarnya?

 

PEMUDA

Belum ada rencana, Bu. Kami ingin menyelesaikan sekolah dulu.

 

IBU

Kalian ini; seperti sekolah itu tidak dapat menunggu saja. Menunda-nunda itu tidak baik. Kasihan orangtuamu. Mereka tentu sudah tidak sabar untuk menimang cucu. Nanti tulang orangtuamu sudah keburu keropos dan tidak kuat untuk menggendong bayi kalau kamu berlama-lama.

 

PEMUDA

Biarlah mereka bersabar sedikit. Kami tidak ingin tergesa-gesa.

 

IBU

Bukan tergesa-gesa. Ah, sudahlah, itu, kan, calon istrimu. Maafkan saya; memang beginilah perangai perempuan tua. Kerjanya hanya menasihati.

(Selesai mengukur dan mencatat.)

Sudah selesai. Duduklah.

(Meraih kantung belanjaan berisi kain.)

 

PEMUDA DUDUK DI KURSI, LALU MINUM DENGAN CANGGUNG.

 

IBU

(Mengeluarkan kain dari kantung belanjaan, memperlihatkannya kepada PEMUDA.)

Bagaimana menurutmu? Bagus?

 

PEMUDA

Ibu tidak pernah salah membeli kain.

 

IBU

Ya, kualitas kain memang yang paling utama. Saya harus berkeliling untuk menemukan kain sebagus ini. Tapi, kualitas kancing, benang, dan jahitan juga tidak boleh sembarangan.

Kamu tahu, saya akan membuatkan Bara seragam safari yang indah—halus, namun tetap kokoh—dengan kancing kuningan yang bergambar jangkar. Seragam safari mirip seperti yang dipakai oleh para pelaut; pelaut yang tangguh, gagah.

Kamu tahu, sebenarnya saya agak kaget juga waktu dulu kamu bilang kamu sekolah dokter sebab saya pikir, kamu akan menjadi pelaut pula. Sungguh, kalian tidak pernah bermain dokter-dokteran saat masih kecil. Yang saya ingat, kalian hanya bermain pelaut dan bajak laut.

 

PEMUDA

Cita-cita tentu saja dapat berubah, Bu.

 

IBU

Ah, ya, tentu saja. Lagipula, akan aneh juga kalau kalian bermain dokter-dokteran. Itu, kan, permainan anak perempuan dengan boneka-bonekanya; di samping masak-masakan, tentu saja.

Makanlah. Sudah saya bilang, jangan sungkan-sungkan.

 

PEMUDA

Terima kasih, Bu.

(Makan kue basah dengan canggung.)

 

IBU

Hanya dengan menyuguhimu teh manis dan kue basah yang saya beli di pasarlah saya bisa menyampaikan rasa terima kasih kepadamu, Nak. Bayangkan; sebelas tahun itu bukan waktu yang sebentar; dan, kamu masih mau membantu saya.

 

PEMUDA

Tidak apalah, Bu. Sebenarnya, Ibu tidak perlu repot-repot. Saya, kan, hanya diukur-ukur tubuhnya. Itu bukan kerja berat sama sekali; hanya setahun sekali pula.

 

IBU

Andai Bara sudah pulang, tentu kamu tidak perlu repot-repot begini. Saya merasa sangat tidak enak hati mengganggu akhir pekanmu. Seorang calon dokter, kan, semestinya menggunakan akhir pekannya untuk beristirahat atau barangkali belajar. Dokter berurusan dengan nyawa pasiennya—bukan main—; bukankah demikian?

 

PEMUDA

Begitulah, Bu.

 

IBU

Andai Bara pulang, tentu dapat saya berikan semua baju yang pernah saya jahitkan kepadanya, semua baju yang belum sempat saya berikan kepadanya. Cuma, saya juga merasa waswas apabila ternyata tubuhmu dan tubuhnya tidak lagi sama besarnya. Ah, tidak apalah. Yang paling penting, dia tahu betapa setiap tahun saya menjahitkan pakaian untuknya, untuk hadiah ulang tahunnya.

 

PEMUDA

Bu, bukan maksud hati saya tidak merasa nyaman berada di sini. Saya mesti pulang. Ada yang harus saya kerjakan di rumah.

 

IBU

Ah, ya, tentu saja. Maafkan saya malah meracau begini; dan, sungguh, maafkan saya karena saya sudah menyita waktumu. Pulanglah dan selesaikanlah urusanmu. Saya juga harus membuat pola. Sembilan hari lagi Bara berulang tahun. Saya ingin pakaian ini sempurna tepat pada waktunya.

Mari, biar saya antar kamu ke pintu.

 

PEMUDA BERDIRI. IBU MENGANTARKAN PEMUDA KELUAR RUMAH.

 

IBU

Terima kasih, Nak.

(Tertegun di depan pintu.)

Astaga, Bara. Dua belas tahun kamu tidak kembali. Tidakkah kamu rindu kepada ibumu ini? Tidakkah kamu rindu pada rumahmu?

Bara; dulu saban hari dialah yang menghangatkan rumah ini dengan hentakan kaki dan tawanya yang menyerupai kicauan burung camar, celotehnya mengenai teman-teman sepermainannya, juga cita-citanya—seorang pelaut, dan mengenai pelajaran berhitungnya di sekolah.

Dapat saya bayangkan anak yang pandai itu menahkodai kapal laut, dan saya—perempuan tua yang hanya sudi naik kapal laut apabila Bara yang menahkodai—akan selalu mengikutinya ke mana pun dia berlayar; saya akan duduk di sebelahnya yang sedang menahkodai kapal laut dan dengan bangga mengagumi kegagahannya.

Dapat saya bayangkan pula Bara melarang saya pergi ke geladak malam-malam karena tidak ingin saya terkena angin yang ganas, padahal begitu ingin saya bilang kepada orang-orang kalau anak sayalah yang menahkodai kapal laut yang sedang mereka tumpangi.

Ah, Bara yang sudah dua belas tahun tidak pulang, Bara yang sangat saya rindu, Bara yang begitu saya nantikan kepulangannya. Setiap detik saya siagakan untuk menyambut kepulangannya.

 

TELEPON BERDERING. IBU MENGANGKAT TELEPON.

 

IBU

Halo.

(Mendengar.)

Bagaimana kabarmu, Nak?

(Mendengar.)

Dan, anakmu? Dia sudah berusia lima bulan, kan?

(Mendengar.)

Tentu saja boleh. Bawalah dia besertamu.

(Mendengar.)

Kapan?

(Mendengar.)

Tentu saja. Akan Ibu siapkan kamarmu.

(Mendengar.)

Tidak, Ibu tidak repot. Ibu hanya akan menjahitkan Bara seragam safari; itu saja.

(Mendengar.)

Jangan memulai.

(Mendengar.)

Sudah Ibu bilang, jangan memulai. Suamimu akan ikut?

(Mendengar.)

Sayang sekali.

(Mendengar.)

Berhati-hatilah naik kapal laut, Nak. Laut itu kejam.

(Mendengar.)

Ya.

(Mendengar.)

Jaga dirimu dan anakmu baik-baik.

(Mendengar.)

Ya.

(Meletakkan gagang telepon, tertegun di depan telepon.)

Laut—jahanam itu—; entah sudah berapa banyak badan yang ditelannya, entah sudah berapa banyak rindu yang diciptanya.

Laut pernah menelan suami saya, lantas memuntahkannya kembali dua belas tahun yang lalu—oh, tubuh yang tidak lagi bernyawa; oh, kuda jantan itu sungguh tidak lagi bernyawa. Laut pula yang telah memisahkan saya dari Bara. Dua belas tahun; bukan waktu yang sebentar. Tapi, sungguh saya masih ingat segalanya seperti baru kemarin terjadi.

Waktu itu Bara baru akan berusia sembilan tahun ketika dia bersikukuh ingin ikut bapaknya berlayar. Kalau tidak dituruti, dia tidak bersedia disunat. Maka, ketika bapaknya lagi-lagi ditugaskan untuk memimpin penyeberangan dari Jawa ke Sulawesi, sembilan hari sebelum hari ulang tahunnya yang kesembilan, dia ikut.

Saya masih ingat betapa bahagianya Bara ketika saya mengantarkan dia dan bapaknya keluar rumah sebelum akhirnya mereka naik bis menuju pelabuhan laut di utara. Gusti, saya betul-betul tidak punya firasat saat itu bahwa tidak lama lagi laut akan memisahkan saya dari dua lelaki yang amat berarti buat hidup saya; kuda jantan saya, burung camar saya yang sekarang tentu telah berubah menjadi burung elang.

Saya baru saja selesai menjahitkan setelan serba putih untuk Bara sebagai hadiah ulang tahunnya saat saya kaget bukan kepalang mendengar kabar bahwa kapal yang dinahkodai suami saya karam. Bukan main; dada saya seperti ditusuk-tusuk jarum. Tubuh saya lemas—sekujurnya—sejadi-jadinya sehingga untuk berdiri pun saya tidak sanggup.

Setiap hari menjadi penantian yang mengerikan. Setiap hari adalah hari yang penuh doa permohonan agar Bara dan suami saya kembali dalam keadaan masih hidup. Setiap hari adalah neraka karena berita-berita tidak penting di surat kabar mengenai pencarian korban yang terus berlangsung, namun tidak pula membuahkan hasil, setidaknya bagi saya; berita-berita mengerikan mengenai kesaksian korban yang ditemukan selamat.

Astaga, Gusti; sungguh, mereka bercerita mengenai kapal laut yang, sebelum miring dan tenggelam, mula-mula terbakar sehingga asap hitam mengepul, membakar lambung kapal sehingga lantai geladak bawah yang terbuat dari besi itu panas membara. Mereka bercerita bagaimana para penumpang yang panik kocar-kacir di geladak bawah, dan yang lupa mengenakan alas kaki; mendidih kakinya. Daging mereka terbakar, meleleh, lengket, dan mereka terjebak di sana; menjerit-jerit minta tolong sementara tidak ada yang menolong karena masing-masing orang sudah repot menolong diri sendiri, lalu mati entah karena sakit yang teramat sangat atau dibunuh oleh keputusasaan.

Mereka bercerita bagaimana para anak buah kapal yang kurang ajar itu sibuk menurunkan sekoci yang tidak seberapa banyaknya itu untuk diri mereka sendiri, lalu kabur tunggang-langgang. Mereka bercerita mengenai sekoci-sekoci yang kelebihan penumpang dan sempat terbalik, membikin banyak di antara mereka yang tidak bisa berenang mati tenggelam. Tapi—astaga—tidak ada satu pun cerita mengenai suami saya ataupun Bara. Sungguh, suami saya itu nahkoda! Mengapa tidak ada yang melihatnya dan bercerita mengenainya?

(Tertegun.)

Setiap hari juga adalah bangsat karena tilpun yang tidak kunjung berhenti berdering oleh tilpun sanak-saudara yang menyampaikan rasa prihatin. Bukan itu yang saya mau. Tilpun dan rasa prihatin mereka tidak mengembalikan Bara dan suami saya.

Barulah pada pekan kedua pencarian korban, saya dikabari kalau suami saya telah ditemukan dalam keadaan tidak lagi bernyawa. Saya ambruk di hadapan tubuh yang sudah membusuk itu, yang sudah hampir tidak bisa saya kenali lagi. Benar-benar saya ingin menolak mengakuinya sebagai suami saya, kuda jantan saya. Namun, saya tidak dapat berbuat apa-apa selain menerima kala saya melihat cincin perkawinan kami yang masih terpasang pada jadi manisnya.

Lalu, hari pemakaman suami saya adalah yang paling kurang ajar daripada semua hari. Bayangkan saja; saya harus menyaksikan suami saya dikubur di hadapan saya sementara saya tidak diberi kepastian mengenai keberadaan Bara—oh, burung camar itu, burung camar saya yang sekarang tentu telah berubah menjadi burung elang.

Dengan tega, mereka menyatakan bahwa Bara belum ditemukan. Lalu, dua pekan kemudian mereka bilang bahwa pencarian telah diberhentikan dan dengan yakinnya mereka bilang kalau korban-korban hilang itu tentunya sudah meninggal dunia seperti mereka adalah Tuhan. Saya ingin mengamuk, tapi tidak tahu harus kepada siapa, tidak tahu pula harus memakai tenaga dari mana. Maka, saya pun hanya bisa diam, sebagaimana yang dilakukan oleh keluarga korban yang lain.

(Tertegun.)

Dan, rumah ini pun menjadi semakin dingin dari hari ke hari, menjadi semakin beku dari pekan ke pekan. Saya sungguh tidak dapat berbuat apa-apa untuk mencairkan segalanya, menghangatkan segalanya; tidak pula anak perempuan saya. Maka, dalam dingin dan dalam kebekuan, saya menanti dalam diam sebab hanya itulah yang bisa saya kerjakan; bukankah demikian; bukankah demikian?

Read previous post:  
13
points
(538 words) posted by bintangnatnib 5 years 18 weeks ago
43.3333
Tags: Cerita | Drama | drama
Read next post:  
Be the first person to continue this post