Yang Terlupakan #1

          “Toloooong ... Tolooong … Siapapun! Tolong aku!!!”

          “Aku datang Mona … Aku datang! Tunggu aku!!!”

***

          Kusibakkan perlahan kelopak mataku yang berat, remang-remang kulihat langit-langit kamar yang berwarna ­cream. Sayup-sayup nyanyian burung di depan rumah terdengar memberi sambutan di pagi ini. Selimut hangat yang menutupi sebagian tubuhku kulepaskan. Kemudian kutarik tanganku ke atas dan kakiku ke bawah untuk meregangkan otot-ototku yang sempat mengendur ketika aku tertidur. “Hoaahhmmm…!” Nyenyak sekali tidurku kali ini.

          Kukucek lagi mataku untuk lebih mempertajam fokusnya. Tiba-tiba kurasakan seberkas cahaya menusuk mataku dari arah jendela. Di sana aku melihat ibu sedang membukakan gorden. Ah, lagi-lagi sebuah hari yang biasa. Rutinitasku setiap pagi. Ibu membukakan jendela kamar, kemudian membangunkanku sambil marah-marah karena aku kesiangan.

          Kuangkat tubuhku untuk sekedar duduk. Entah kenapa aku merasa sangat lemas dan tidak bertenaga. Serasa habis berenang berpuluh-puluh kilometer jauhnya. Bahkan untuk bangun pun begitu sulit. Lalu kurasakan sesuatu menempel di pergelangan tanganku. Ada selang kecil yang menusuk menembus kulitku di sana. Benda itu tersambung pada botol yang tergantung pada sebuah tiang. Tunggu dulu, ternyata di lubang hidungku juga ada. Apa ini?

          Kulempar pandanganku kepada ibu. Ibu sedang memandangiku dengan raut wajah yang aneh. Dia hanya terpaku di sana sambil menatapku. Belum sempat aku menanyakan ada apa, ibu segera berlari menghampiri dan langsung memelukku erat.

          “Nak! Akhirnya … Akhirnya kamu bangun, Nak!” ucapnya padaku. Suaranya berubah parau. Aku tidak mengerti.

          “Bu, memangnya, apa yang terjadi denganku?”

          Ibu tidak langsung menjawabnya. Dia masih terisak-isak menangis. Ada apa sebenarnya? Tidak biasanya ibu memelukku seperti ini di pagi hari. Apa yang membuatnya menangis? Beberapa saat kemudian, ibu menjawabnya dengan suara yang serak.

          “Kamu… kamu sudah tertidur selama dua bulan.”

***

          Seminggu kemudian …

          “Tomiii!!!” teriak Sasha dengan suaranya yang melengking.

          Pertama kali masuk sekolah setelah dua bulan. Benar-benar konyol. Aku merasa biasa-biasa saja. Namun jika dilihat dari ekspresi Sasha dan Ale ketika aku masuk kelas, sepertinya benar yang dikatakan ibu tiga hari yang lalu. Kalaupun begitu, aku masih belum mengerti. Apa yang membuatku bisa tertidur selama itu? Aku tidak bisa mengingat apapun. Sementara ibu tetap tidak mau memberitahukannya.

          “Tomi!!! Aku senang sekali kamu sudah masuk sekolah lagi!!” tutur Sasha padaku. Sepertinya kelakuan anak ini tidak berubah semenjak terakhir aku melihatnya. Apakah benar aku telah tertidur dua bulan lamanya?

          “Tom, kamu yakin sudah mau sekolah lagi? Kamu kan baru saja sembuh,” timpal Ale, sahabat karibku. Kata ibu, lelaki hitam tinggi ini selalu datang menjengukku hampir setiap hari. Termasuk kemarin, dia terkejut ketika ternyata aku sudah sembuh.

          “Tenang saja, Le. Aku sudah kuat lagi kok. Hanya mungkin kali ini aku tidak akan ikut mata pelajaran angkat beban.”

          “Memangnya ada mata pelajaran seperti itu ya? Haha…!” Ale tertawa.

          “Wah, Tom! Rambut kamu sudah gondrong banget! Aku sampai pangling melihatnya!” ujar Sasha. Spontan aku membelai-belai rambutku. Benar juga. Rambutku sudah sangat lebat. Aku harus segera bercukur sebelum dicukur paksa oleh pembina OSIS.

          Aku memandang ke seisi kelas. Dinding yang dulu pudar dan penuh coretan kini telah berganti menjadi warna hijau muda yang cerah. Selain itu, jendela kelas pun sekarang memakai gorden. Sepertinya karena Ale selalu mengintip ke luar saat pelajaran berlangsung. Yang luar biasa adalah, papan tulis pun telah bertransformasi dari yang dulu memakai kapur, kini memakai spidol. Aku benar-benar takjub. Dalam dua bulan yang cukup singkat ini, telah terjadi begitu banyak perubahan. Seakan-akan aku sedang hidup di dunia yang berbeda.

          Lalu aku alihkan pandanganku ke bangku itu. Sebuah bangku di depan kelas. Bangku itu kosong. Dia tidak ada di sana. Aku pun menoleh ke luar jendela. Menunggu kedatangannya. Kunikmati detik demi detik dalam penantian ini. Orang yang sangat berharga dalam hidupku. Alasan terbesar mengapa aku masuk sekolah hari ini. Untuk melihat wajah mungilnya, lengkungan senyumnya yang manis, lesung di pipinya ketika ia tertawa, susunan gigi-gigi serinya yang rapi, kerutan di dahinya ketika aku memberikan lelucon garing kepadanya, aku ingin melihatnya sekali lagi. Padahal, serasa baru kemarin aku bertemu dengannya. Namun untuk beberapa alasan, aku merasa sangat merindukannya, seolah-olah telah terpisah selama bertahun-tahun lamanya.

          Menit demi menit berlalu, jam demi jam berganti. Aku menantinya dengan perasaan harap-harap cemas. Sampai Pak guru masuk dan keluar lagi, dia tak kunjung datang. Ah, mungkin dia terlambat. Aku tetap menunggunya dengan sabar. Aku tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh Pak Anjun di depan kelas. Yang ada di pikiranku saat ini hanyalah dia. Beberapa waktu kemudian, jam pelajaran berganti. Seorang guru baru masuk, dan sampai guru itu keluar lagi, orang yang kunanti masih belum datang.

          Selama istirahat pertama berlangsung, aku hanya duduk terdiam di luar kelas. Semakin aku merenung, semakin aku yakin, dia tidak akan datang. Aku belum mendapat kabar tentangnya. Bahkan sampai waktu pulang sekolah, tidak ada tanda-tanda darinya.

          Aku segera mengambil tas selendang coklatku untuk pergi. Aku akan pergi ke rumahnya sekarang juga. Di jalan aku berpapasan dengan Joni yang juga satu sekolah denganku.

          “Hai, Tom!” sapa Joni.

          “Eh, Jon. Kamu tahu Mona ke mana hari ini?”

          “Siapa?” tanya Joni. Dia kelihatan tidak yakin dengan apa yang barusan kutanyakan.

          “Mona. Monalisa.”

          “Yang mana?” tanyanya lagi.

          “Mona, yang satu sekolah dengan kita. Teman dekatku.”

          “Mona? Kamu yakin?” Joni bertanya untuk yang ke sekian kalinya. Kakinya mulai bergerak, sepertinya dia sedang terburu-buru.

          “Maksudmu? Yakin bagaimana?”

          “Setahuku, tidak ada yang bernama Monalisa di sekolah kita,” jawab Joni sambil beranjak pergi menjauh. Meninggalkanku seorang diri, yang hanya diam karena semakin diliputi rasa tidak mengerti.

          Bersambung…

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer duvernoy
duvernoy at Yang Terlupakan #1 (5 years 35 weeks ago)

Yah nanggung ceritanya =')
Belum kelihatan konflik nya yah? Ehm.. Mnrt saia kok agak datar narasinya, waktu tokoh aku tertidur dua bulan, ato waktu dikasih tau monalisa nggak ada, agak gimana gitu (?) wkwk (abaikan)
Lanjutin ceritanya kaka >.<
Salken btw :3

Writer ihsan_fikrie
ihsan_fikrie at Yang Terlupakan #1 (5 years 34 weeks ago)

hehe.. makasih komennya. Kira-kira baiknya gimana ya supaya emosinya lebih dapet?