Ada Apa Dengan Gugun?

Sebenarnya, saya kurang percaya diri dengan cerita satu ini. Berkali-kali baca terasa kurang puas. Entah apa alasannya? Mungkin karena berantakan dan tidak menarik kali? Bisa jadi! Tema selingkuh dan pengembangan karakternya yang payah? Bisa jadi! Atau mungkin karena saya yang tak pandai selingkuh? 
Bagi yang minat, selamat membaca. Semoga tidak sakit mata, apalagi sakit hati.

 

 

Bu Rukiana patut khawatir pada putra semata wayangnya. Biasa, kekhawatiran seorang Ibu yang belum pernah menjumpai putranya memperkenalkan seorang perempuan. Sebenarnya sudah lama, namun dipendam begitu saja. Tak enak hati menanyakan. Takut mengganggu belajar putranya. Setahu Bu Rukiana, ke kampus itu memang untuk belajar. Apalagi Gugun kelihatan selalu sibuk dengan urusan di kampus. Kelihatannya sih. 

Kamis pagi itu, rasa khawatirnya meledak sudah. Tak terbendung lagi. Itu, setelah mendengar tentang kelainan hubungan sesama jenis dari berita koran pagi itu, yang dibacakan Mak Tuka, mertuanya. Sengaja, sejak pagi dia sudah didampingi Mak Tuka, menunggu Gugun yang sedang bersiap-siap ke kampus.

Bu Rukiana sudah gelisah di ruang makan. Jangan dikira, ada banyak macam sarapan di atas meja makan. Tidak ada. Maklum, tanggal tua. Hanya ada segelas susu untuk Gugun. Dibuatkan oleh Emaknya, Mak Tuka. Panggilan ‘Emak’ sebenarnya untuk Ibu. Akibat sudah terbiasa sejak kecil, jadi terbawa sampai dewasa.

Maka dari itu, saat Gugun baru saja menampakkan diri di ruang makan, dia sudah diteror dengan pertanyaan kapan mengenalkan gadis ke Ibunya. Pertanyaan yang belum disiapkan jawabannya. Gugun terpaku, sebentar saja, lalu bisa menguasai diri. Dia jawab saja penuh keengganan, dengan maksud menyudahi percakapan pagi itu. Tapi apa jadinya?

“Astaghfirullah Gusti… Nyebut le! Nyebut! Iling… Iling…!”

Langsung saja Bu Rukiana tak henti-henti menasehati kalau hubungan sesama jenis itu tidaklah baik. Bukan hanya tak baik, itu sudah dilarang agama. Tuhan kan menciptakan berpasang-pasangan. Pasangan lelaki ya perempuan. Bukan lelaki dengan lelaki. Hewan saja bisa patuh pada kodratnya. Yang jantan ya mengejar si betina. Tapi kenapa manusia yang berakal budi harus ingkar. Bahkan ia sampai meneteskan air mata saking sedihnya.

Gugun bengong.

Beberapa kali ia ingin menyangkal, tapi Ibunya sudah terlanjur sedih dan tak ingin mendengar alasan putranya. Baginya, apapun alasan itu, memilih sesama jenis tidak ada pembenarannya.

Gugun sampai bingung sendiri. Bagaimana tidak bingung, berkali-kali sudah menjelaskan, kalau dia punya kekasih, seorang perempuan. Ibunya masih saja tak percaya. Gara-gara namanya Maul, padahal kan panjangnya Maulida. Ibunya baru diam saat Gugun mengeluarkan foto gadis cantik dari dompetnya. Gadis cantik yang menerima apa adanya keberadaan Gugun.

Benar sekali, Maul terbilang gadis cantik yang populer di kampus. Dikatakan menerima dengan apa adanya itu juga sangat benar.

Sebenarnya, cinta sejati itu memang bukan dilandasi alasan ‘karena’, namun dilandasi alasan ‘walaupun’. Kita mencintai seseorang walaupun kekurangannya ada. Benar bukan? Dan Gugun ini merupakan tipe lelaki yang baik pada wanita. Dia segan kalau harus membuat Maul itu repot. Makanya, dia dengan senang hati dan tulus ikhlas menyediakan banyak kekurangan. Jadi, Maul tak perlu repot-repot lagi mencari kekurangan Gugun. Dia tinggal terima beres. Kurang enak gimana coba?

Oleh sebab alasan walaupun itu lah banyak yang merasa kagum dengan hubungan mereka berdua. Terutama pada Gugun. Setiap kali jalan berdua selalu saja ada yang bergumam dalam diam.

“Hebat sekali ya si Gugun! Peletnya manjur! Kasihan si Maul!”

Untungnya, hubungan dua insan itu masih langgeng sampai sekarang.

Bekas air mata di pipi Bu Rukiana sudah mengering. Akhirnya dia bisa tersenyum lega. Apalagi saat putranya berjanji nanti malam akan mengajak Maul makan malam di rumah. Saking girangnya, Bu Rukiana berlari ke kamar, memecahkan celengan satu-satunya. Itu untuk belanja. Dia ingin masak istimewa. Gugun pun senang saat melihat Ibunya seperti itu. Dia bisa lega untuk pergi ke kampus.

Celaka, karena keasyikan bercerita Gugun hampir lupa dengan kuliahnya. Saat melihat jam, kurang lima belas menit lagi kelas akan masuk. Buru-buru saja dia pamit pada Ibu dan Emaknya. Namun, saat baru akan meninggalkan pintu, Mak Tuka memanggil.

“Gun, susunya belum kamu minum!”

“Oh iya!”

Dengan cepat Gugun sudah kembali ke meja makan. Sedikit terburu-buru dia meminum susu itu. Bukannya ditelan, susunya justru menyembur ke meja makan.

“Mak, susunya kok asin?”

“Oh itu? Iya, gulanya habis! Jadi pakai garam! Untung bukan terasi!” Jawab Mak Tuka santai, sambil masih terus membaca koran.

***

 

Malam spesial pun telah tiba. Teramat spesial bagi keluarga Gugun yang hanya ada tiga penghuni rumah.  Lantaran malam sabtu ini akan kedatangan tamu istimewa. Lhoh, bukannya seharusnya malam jum’at? Seharusnya demikian, namun dengan suatu alasan acara makan malam itu ditunda. Bukan lantaran malam jum’at terkesan horor. Lebih karena Gugun harus mengikuti kegiatan tahlilan rutin di kampungnya. Kan lumayan bisa makan gratis.

Malam itu, Maul datang dengan begitu cantik. Rambut terurai sebahu, dengan gaun panjang terusan warna ungu tapi nggak norak. Make upnya juga tipis dan terkesan natural. Meski sebenarnya, wajah Maul juga sudah cantik alami meski tanpa make up sekalipun. Pancaran wajah bahagia menambah kesan bercahaya. Ini pertama kalinya dia diperkenalkan kepada keluarga lelaki. Sungguh momen yang istimewa.

Ruang makan sudah disulap menjadi sangat rapi. Meski sempit tapi masih terkesan nyaman.  Semua hidangan lezat sudah dikeluarkan. Ada ayam panggang, ayam goreng, ayam rica-rica, ayam kecap, sop ayam, dan ayam-ayaman lainnya. Kebetulan saat itu harga ayam memang sedang murah. Virus flu burung juga sih yang jadi penyebabnya.

Waktu menyantap hidangan pun sudah tiba. Mak Tuka yang sedari tadi sibuk membaca koran di dapur akhirnya ikut bergabung. Sedikit heran saat melihat keberadaan Maul. Matanya lama mengamati. Guratnya seperti mengingat-ingat sesuatu.

Maul tersenyum ramah memperkenalkan diri.

“Cantik ya!” Ujar Mak Tuka, Maul sampai tersipu

“Tapi kok kayaknya kemarin berkerudung?”

Seisi ruangan kaget. Lebih-lebih Gugun dan Maul. Kapan Maul memakai kerudung? Tunggu sebentar, bukankah ini baru pertama kalinya dia bertemu keluarga Gugun.

Lalu siapa perempuan yang berkerudung kata Mak Tuka itu?

Siapa?

Seseorang yang pernah diceritakan teman kampusnya? Perempuan yang pernah digandeng Gugun? Bukan! Itu nenek-nenek yang dibantu Gugun menyeberang. Ia pernah mengklarifikasi itu.

Cinta pertama Gugun, tetangganya itu? Masak Gugun di usia begini masih mengejar layangan yang nyasar ke rumah perempuan itu? Masak mereka bernostalgia seperti pertemuan pertama mereka dulu?

Tetangganya? Adik tingkatnya? Seperti gosip-gosip yang beredar. Bagaimana bisa Gugun setega itu?

Bisa ditebak, suasana makan malam pun menjadi dingin setelah itu. Bahkan sampai Gugun mengantarkan Maul pulang, gadis itu tak pernah bersuara lagi. Hanya saat di kamar dia menangis sejadi-jadinya.

***

Jika ada yang namanya pagi kelabu, mungkin senin itu menjadi sangat kelabu bagi Gugun. Sudah dua hari sejak dia didiamkan Maul. Tubuhnya sudah sangat lemas, hanya bisa duduk sambil menidurkan badannya di atas meja kantin. Saat itu kantin belum buka.

Dia tak sadar kalau ada langkah panjang dan cepat menghampirinya.

“Jadi, kamu sembunyi di sini?” Tegur Maul sampai membuat Gugun terbangun. Wajah gadis itu masih ketus.

“Maul” Gugun mencoba tersenyum ramah, tapi wajah ketus Maul tak berubah.

“Sudah, sekarang kamu ngaku saja! Siapa perempuan berkerudung itu? Tak perlu berpura-pura lagi! Tak usah mencari-cari alasan! Ceritakan saja apa adanya! Siapa gadis berkerudung itu?”

Gugun masih diam.

“Kenapa diam? Tak bisa berkata apa-apa ya? Yah, kamu memang sudah ketahuan belangnya! Ini salahku, seharusnya dari awal aku mendengarkan apa kata orang kalau kamu itu playboy. Pantas saja kamu sibuk menjadi asisten dosen, biar bisa ngejar-ngejar adik tingkat, bukan? Entah, sudah berapa banyak yang jadi korban kamu?”

Sebenarnya Gugun tidak terima dimaki-maki seperti itu tanpa pembelaan. Sayangnya, ia sama sekali tak diberi kesempatan untuk mengucap sepatah kata pun. Lantaran Maul terus marah-marah. Mengomel kesana kemari. Sampai akhirnya dia berhenti sendiri karena lelah.

“Sudah?” Tanya Gugun

“Iya! Dan Saya minta putus!”

Deg… Gugun kaget.

“Eh, sabar dulu dong! Jangan seperti anak kecil gitu mikirnya!”

“Jadi, menurut kamu saya nggak dewasa? Nggak sabaran? Kurang sabar apa lagi saya buat kamu, hah?”

“Bukan! Kamu sudah dewasa dan teramat sabar! Sayang, kali ini semua itu ketutup oleh emosi. Sekarang kamu tahu sendiri, bagaimana kondisi rumah saya yang kecil? Bagaimana kondisi ekonomi saya? Meski hanya jadi asisten dosen, itu untuk mencari nafkah. Untuk kamu, untuk masa depan kita nanti. Sudah sibuk seperti itu, mana sempat saya mendekati cewek-cewek yang kamu bilang?”

Maul jadi diam. Dia memang paling tak tega kalau sudah mendengar kesibukan Gugun mencari tambahan uang. Bahkan di luar menjadi asisten, dia masih sering melihat Gugun sibuk mengerjakan proyek dari kampus. Tapi masih ada yang mengganjal. Gadis berkerudung yang disebut oleh Emak Gugun. Gadis berkerudung yang mencurigakan. Yah, siapa dia? Tak bisa begitu saja diterima pembelaan dari Gugun.

“Lalu, bagaimana dengan gadis berkerudung itu?”

“Aduh Maul, seharusnya kamu juga tahu kalau Emak saya sudah tua. Daya ingatnya sudah tak begitu tajam. Sudah sering berhalusinasi dan salah melihat. Lagian, masak kamu ragu sih dengan saya? Baru kamu seorang perempuan yang saya ajak ke rumah! Kamu satu-satunya yang saya kenalin ke Ibu saya!”

Kali ini Maul jadi terharu. Dia benar-benar merasa bersalah. Keduanya membisu untuk beberapa saat.

“Maaf ya Gun! Kamu juga, kenapa nggak ngejelasin dari awal?”

Gugun membantah, dan itu pantas. Bagaimana dia bisa menjelaskan jika sejak makan malam itu Maul begitu dingin, cuek, dan tak bersedia mendengar apapun yang diucapkan Gugun. Lalu, bagaimana bisa Gugun menjelaskan semuanya?

Kini Maul hampir menangis, apalagi saat setelah Gugun bercerita kalau dia rindu berat meski hanya dua hari diabaikan. Rasanya benar-benar kehilangan. Perihnya bukan main.

Untuk beberapa saat, dua insan itu sama-sama membisu lagi. Meresapi suasana yang jadi haru.

Sampai suasana haru itu terusik dengan kedatangan salah satu teman kampus Gugun.

“Akhirnya ketemu juga! Susah sekali nyarinya. Ternyata kamu di sini? Oh iya, ini ada nenek kamu sedang nyariin!”

Gugun sempat heran. Memang benar saja, Mak Tuka muncul, lalu menghampiri Gugun. Teman yang mengantarkan Mak Tuka pun undur diri.

“Aduh, susah sekali kamu dicarinya! Oh iya, Emak lupa, maklum sudah tua. Surat yang amplopnya biru ini buat siapa? Buat Irma anak Bu RT atau Arini yang tetangga baru itu? Atau yang Merah ini yang buat Arini? Aduh Emak masih bingung. Seharusnya kamu kasih nama dong di amplopnya! Apa sih isinya? Surat cinta ya? Aduh, hari gini masih pakai surat cinta? Mbah Kakungmu dulu saja nggak pakai surat cinta segala. Oh iya lupa, Emak sudah terima uang tutup mulutnya soal yang berkerudung kemarin. Tapi itu kurang, seratus ribu bisa dapat apa? Emak kan juga perlu dandan buat ngeceng di ujung gang!”

Maul langsung melotot ganas ke arah Gugun. Tak berkata apa-apa lagi, ia langsung melangkah pergi.

Read previous post:  
40
points
(0 words) posted by kukuhniam 5 years 28 weeks ago
66.6667
Tags: Cerita | Cerita Pendek | kehidupan | lain-lain
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Shinichi
Shinichi at Ada Apa Dengan Gugun? (5 years 27 weeks ago)
60

saya pikir udah banyak masukan buatmu, meski saya enggak baca semua komentar yang ada. tapi yakin, kalau itu udah cukup kalakupand. ahak hak hak.
saya cuma bisa berpendapat dirimua enggak usah bikin komedi. maksud saya, coba yang lebih serius, yg bukan komedi. kelak, setelah beberapa banyak tulisan, jika memang komedi jadi takdir habitatmu, justru saat itulah tulisam komedimu, semoga, bisa greget. enggak garing kayak begini.
kip nulis

Writer kukuhniam
kukuhniam at Ada Apa Dengan Gugun? (5 years 26 weeks ago)

terima kasih om sudah mampir
kayaknya saya memang nggak bakat jadi pelawak
hahaha
Iya om, akan saya coba lebih serius bukan ngelawak garing

Writer Shinichi
Shinichi at Ada Apa Dengan Gugun? (5 years 26 weeks ago)

iya. tulisan yang serius, yang sedih, yang horor, dan yang menegangkan. apa aja, tp membahas hal-hal serius.

Writer alcyon
alcyon at Ada Apa Dengan Gugun? (5 years 27 weeks ago)
100

maaf poin dulu ya. mau beli makan dulu. hehe

Writer latophia
latophia at Ada Apa Dengan Gugun? (5 years 28 weeks ago)
90

Saya kalo komedi mah asal senyum2 berarti bagus aja :D
Dan ini lucu kok, walaupun agak maksa tapi biarlah... yang penting lucu XD

Writer herjuno
herjuno at Ada Apa Dengan Gugun? (5 years 28 weeks ago)
60

Halo, saya datang.
.
Ini mau jadi komedi, ya? Kalau menurut saya,sih, adegan atas sama bawah kurang nyambung. Sama kayak kata Shin, jadi kayaknya pemikiran Bu Rukiana bahwa Gugun gay itu hanya for the sake of comedy aja, tapi enggak dibahas lagi dan ujung-ujungnya ngambang.
.
Tapi saya suka adegan penyelesaian pertengkaran Maul dan Gugun, di mana Gugun berupaya menenangkan Maul, dan Maul "fell for it". Adegan ini terasa believable menurut saya. Meski bagian terakhirnya, di mana ada ibu-ibu nge-rant tentang amplop dan uang itu, seperti kata The Smoker, agak maksa.
.
Tepok tangan karena udah nyelesaihe.

Writer kukuhniam
kukuhniam at Ada Apa Dengan Gugun? (5 years 28 weeks ago)

terima kasih om Her
Seperti memang dipaksakan semua ya, dari awalpun saya ngerasanya begitu
Soal Gugun yang Gay itu ingin saya jadikan pengantar kalau seolah Gugun itu tipe pria pendiam yang seolah nggak tertarik perempuan. tapi sebenarnya ada sisi lain dari Gugun gitu. begitu om, tapi ternyata gagal,

Writer herjuno
herjuno at Ada Apa Dengan Gugun? (5 years 28 weeks ago)

Oh gitu, mungkin bisa pakai alternatif lain yang lebih nyambung lain kali?

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Ada Apa Dengan Gugun? (5 years 28 weeks ago)
60

Halo, Kuku, salam kenal (aku masih bingung memanggilmu dengan apa?)
.
Aku rasa ini cerpen pertama darimu yang aku baca, jadi tidak bisa menganunya dengan cerpen-cerpen yang lain milikmu (apa coba?).
.
Hal yang membuatku bertanya-tanya adalah kelogisan dalam cerita.
.
Bagaimana, ya, hm... aku juga kesulitan menjelaskan ini...hehe.
.
Pada awal cerita pembaca diperkenalkan pada masalah Bu Rukiana yang khawatir terhadap anak lelakinya yang tampaknya tidak tertarik pada perempuan, namun masalah ini kemudian tenggelam tanpa penyelesaian. Lebih tepatnya mungkin diserobot masalah lain, dan tanpa disadari menyelesaikan masalah itu tanpa kejelasan..
.
Gugun yang tadinya "berbaju(apa istilah tepatnya, ya, figur, sosok)" lelaki yang tak nampak tertarik pada perempuan (dari sudut pandang tokoh Bu Rukina) berubah menjadi lelaki beruntung yang memiliki kekasih cantik (ini seharusnya memberi dampak pada asumsi pertama tokoh Bu Rukina, dan dalam cerita di sini cukup berhasil. Bu Rukina senang).
.
Namun sosok Gugun kembali dirubah menjadi playboy (secara perlahan, dimulai dari sudut pandang tokoh Mak Tuka yang keceplosan bicara). Bagian ini cukup memberi pancingan pada pembaca, membuat mereka menduga-duga. Secara sederhana cerita memberi dua opsi pilihan: Mak Tuka rabun: Gugun lelaki setia, atau Gugun Playboy: Mak Tuka keceplosan.
.
Dan cerita berlanjut dengan dua opsi itu di dalam pikiran pembaca, membuat mereka merasa tertarik untuk melanjutkan. Nilai plus dalam cerita.
.
Namun, aku menemukan titik "noda (jangan noda, berasa apa gitu, bagaimana kalau 'lubang'? [apa lagi ini?] )". Kalau cerita ini memang dimaksudkan demikian, lalu apa fungsi dari tokoh Bu Rukiana?.
.
Kalau memang Gugun Playboy, atau bahkan ia setia hanya Mak Tuka yang tak bisa membedakan orang, tokoh Bu Rukiana tidak akan merasa khawatir akan anaknya tersebut. Mak Tuka yang adalah neneknya bisa tahu Gugun punya pacar, ibunya pasti lebih tahu, atau ia memang dalam keadaan tidak tahu. Tapi kenapa saat Mak Tuka keceplosan Bu Rukiana seakan diam saja? Seharusnya hal itu memberi dampak juga padanya, seperti pada Maul, mengingat betapa khawatirnya ia pada Gugun di awal cerita.
.
Di sinilah aku bertanya-tanya, ada apa dengan Bu Rukiana?
.
ah, aku terlalu banyak bicara, ya? Maaf, tidak bermaksud untuk membuatmu tidak nyaman, apalagi sakit hati.

Salam.

Writer kukuhniam
kukuhniam at Ada Apa Dengan Gugun? (5 years 28 weeks ago)

terserah anda mas mau dipanggil apa, kukuh boleh, niam juga boleh
Sepertinya anda faham maksud saya dengan membuat karakter Gugunnya.
Intinya, saya ingin Gugun terlihat pendiam, tak dekat dengan wanita, bahkan dengan ibunya. Hidupnya hanya untuk sekolah. Sosoknya diluar rumah jadi misteri untuk ibunya. Tertutup gitulah. Bahkan banyak misteri lainnya.
endingnya saya mau bilang, Gugun ini playboy (master)
Meski muka ngepas selalu berusaha meluluhkan hati wanita
Tapi saya pancing pelan-pelan, kan nggak enak kalau ujug-ujug ketahuan. Makanya ada insiden keceplosan. Itu semata-mata agar orang tau ada sisi lain di gugun selain pendiam dan kelihatan setianya itu.

Soal mak tuka, saya buat karakternya nyentrik, jadi biar gak heran kalau dia serba tahu. Seperti nenek2 hobi baca koran (biasanya kan kakek)
Susu dengan garam
keceplosan itu
Dan berujung nyari Gugun dikampus
Tapi rupanya karakter Mak Tukanya gagal,haha

Soal Bu Rukiana saat keceplosan itu, tadinya saya buat shok juga. Tapi akhirnya saya musnahkan karena takut bikin konfliknya jadi dobel. Padahal yang ingin saya tunjukkan konfliknya kan antara Maul dan Gugun

Sekian penjelasan saya mas
Ngomong-ngomong, orang malang kah mas?

Writer kartika demia
kartika demia at Ada Apa Dengan Gugun? (5 years 28 weeks ago)
90

Yang neneknya datang ke kampus sambil bongkarin semua ama bilang mau mejeng itu kok dipaksain banget ya, ya.. Jayus juga sih.
Sebelum sapaan kasih koma ya

Writer kukuhniam
kukuhniam at Ada Apa Dengan Gugun? (5 years 28 weeks ago)

tumben nggak panjang tan?

Writer daniswanda
daniswanda at Ada Apa Dengan Gugun? (5 years 28 weeks ago)
80

Begini deh kalo keseringan nulis luki. Namanya si Gugun, tapi kebayangnya Luki. Haha. Menurut saya ini lucu sih. Atau lebih tepatnya, lebih lucu dibanding cerpen Luki. Mas Kukuh ini kan influence-nya Hilman yak, jadi kerasa balik ke taon 90an saya, nyengir2 sambil baca interview with the nyamuk. Overall saya suka!

Secara teknis biar Mak Dem aja yg bantai :D

Writer kukuhniam
kukuhniam at Ada Apa Dengan Gugun? (5 years 28 weeks ago)

ah, si akang ini terlalu baik. Kayaknya kebagian peran jadi anjelnya ya?
Iya sih kang, keseringan Luki
Gugunnya jadi nggak berkarakter
Oh yang itu, tapi saya sukanya yang pertama "Tangkap daku kau kujitak" itu ya? lupa sih.
90'an? Brasa muda lagi dong ya?

Writer kartika demia
kartika demia at Ada Apa Dengan Gugun? (5 years 28 weeks ago)

Lagi malas bantai teknis, Dan. Pengennya ngebantai orangnya langsung XD

Writer kukuhniam
kukuhniam at Ada Apa Dengan Gugun? (5 years 28 weeks ago)

tante satu ini serem!

Writer The Smoker
The Smoker at Ada Apa Dengan Gugun? (5 years 28 weeks ago)
70

Wakkak
Lebih ke jayus sii ini. Tapi lumayanlah gw nyengir. Ahihihi.
Apa ya, penyelesaian konflik dan penyebabnya umum yah, atau apa istilahnya (jadul, eh). Maksa juga rasanya di beberapa bagian, misal emak2 datang ke kampus sambil bawa amplop nanyain buat siapa2nya dan ngoceh tentang uang suap.
.
Terus Sken pembuka di ruang makan, nggak kerasa juga. Tapi lumayanlah.. Setidaknya ada. Haha...
.
Well, selamat aja udah kelar tantangannya ya..

Writer kukuhniam
kukuhniam at Ada Apa Dengan Gugun? (5 years 28 weeks ago)

entahlah om....
Memang masih butuh banyak belajar menulis secara terikat gitu (ada tantangannya)
Biasanya kan nulisnya ngasal (asal nemu ide) jadi lebih lepas (meski hasilnya jelek juga)
Kedepannya segera disusun om proposal-proposal tantangan berikutnya, biar yang awam gini segera berkembang