Afeksi LINE

Pada pagi hari bulan Mei, aku mendapatkan pengakuan cinta dari seorang gadis bermata sipit dengan kulit sawo matang. Perpaduan yang cukup ganjil, mengingat mayoritas orang-orang bermata sipit memiliki kulit seputih salju, sementara orang-orang berkulit sawo matang mempunyai mata belok yang menawan. Namun tidak bisa disangkal, perpaduan unik itu membuat wajahnya terlihat manis. Apalagi saat tersenyum, mengakibatkan sinar kecantikannya tercurah sempurna.

Ia teman kelasku selama dua tahun. Tahun pertama bangkunya tepat berada di depanku. Tahun kedua ia pindah dua bangku di sampingku. Kami tidak kenal dekat. Tidak pula memiliki sahabat yang sama. Ia sering bersama dua temannya yang memiliki potongan rambut yang sama. Poni menutupi dahi. Namun ia, Surina, tidak memiliki poni. Rambut hitamnya ia biarkan apa adanya, menutupi setengah pipi, dan mendarat anggun di pinggang dan sebagian dada. Tipe rambut yang kusuka.

Namun sebelum aku merasa senang secara berlebihan, atau merayakan hari tanpa cinta dari seorang gadis sejak lahir ke dunia, aku tidak percaya begitu saja Surina mengatakan cintanya padaku. Apalagi lewat aplikasi LINE. Bisa saja itu adalah temannya yang sedang iseng dan ingin mengerjainya, sekaligus mengerjaiku juga. Atau Surina yang sedang iseng, ingin mengerjai seseorang. Sial, korbannya adalah aku.

Di sisi lain, aku menolak gagasan tersebut yang akan membuat status jombloku melekat lagi. Aku tahu akun LINE Surina. Saat kami baru masuk tahun pertama, teman-teman sekelas saling berbagi akun media sosial, dan ia tidak pernah sekalipun mengganti akun. Ia tipe gadis yang setia. Salah satu kriteria pasangan yang kusuka. Jelas akun yang mengirimiku pengakuan cinta itu milik Surina. Tetapi, yang menulis dan mengirimnya apakah benar ia?

Aku tidak tahu dan hal itu menggangguku.

Pesan itu aku biarkan terbaca saja, tanpa dibalas. Mungkin lima atau sepuluh menit lagi akan ada pesan baru, memberitahukan kekeliruan. Pesan pengakuan cinta itu tidak benar, hanya keisengan teman yang tanpa sepengetahuannya menulis dan mengirimkan pesan tersebut padaku. Surina tidak mencintaiku. Realita yang entah kenapa membuat hatiku terasa sakit, meski belum benar-benar menghadapinya.

Namun pesan yang kutunggu tidak kunjung datang. Sudah hampir dua jam berlalu. Tidak ada pesan baru. Hal itu sedikit demi sedikit memupuk harapanku. Surina yang yang menulisnya, dari lubuk hatinya paling dalam. Ia mencintaiku. Gadis itu jatuh cinta padaku. Aku akan memiliki pacar yang manis dengan mata sipit dan kulit sawo matang. Kami akan berkencan.

Tetapi, aku baru ingat bahwa Surina bukanlah tipe orang yang mempercayai kata-kata yang ditulis. Ia tidak percaya pada pesan cinta, karena hal itu rentan dengan kebohongan. Mudah sekali menulis kata itu dengan menyentuh huruf di layar atau papan ketik, tetapi apakah orang yang mengetiknya benar-benar mengambilnya dari hati, dan apakah orang yang membacanya bisa merasakan seutuhnya cinta itu?

Aku mendengarnya berkata demikian satu bulan yang lalu di kelas. Saat itu kelas kosong. Guru yang seharusnya mengajar tidak masuk. Aku sedang berusaha menyelesaikan misi terakhir pada permainan telepon genggamku di bangku belakang. Surina sedang mengobrol dengan dua temannya, membahas pacar salah satu temannya yang setiap hari mengirim ucapan cinta.

Surina adalah tipe gadis yang akan mengatakan langsung perasaannya di hadapan orang yang ia cintai. Ia gadis seperti itu, bukan seperti gadis yang beberapa jam yang lalu mengirimiku pengakuan cinta lewat aplikasi LINE. Harapanku untuk memiliki pacar, pupus kembali.

Aku memutuskan untuk membiarkan pesan itu, tetapi ada perasaan bersalah. Jika Surina benar-benar mengirimnya, ia akan merasa terluka. Diabaikan. Bagaimana bisa gadis yang dengan berani mengatakan cinta pada seorang laki-laki diamkan begitu saja, tanpa jawaban "ya" atau "tidak". Aku seharusnya membalas pesan itu. Setidaknya untuk memastikan apakah benar pesan itu dari Surina, dan ia mencintaiku? Namun aku tidak berani.

Aku ke luar rumah. Mencari udara segar di hari Minggu yang cukup cerah. Meninggalkan pesan itu di dalam kamar. Selama perjalanan, aku memikirkan beberapa skenario kenapa pesan itu bisa berbunyi demikian, dan kenapa aku? Juga beberapa cara untuk membalas tanpa menunjukkan rasa senang yang berlebihan, atau harapan atas kebenaran pesan tersebut. Aku baru pulang menjelang sore hari. Di depan rumah ada adikku yang sedang bermain dengan kucing tetangga. Ia menatapku sambil tersenyum senang. Tanda ia baru saja menyentuh barang-barangku dan meletakkannya di tempat yang salah, atau malah merusaknya. Hal yang selalu membuatku jengkel.

Namun kali ini lain. Ia berkata sambil mengibaskan rambut panjangnya bahwa telah membantuku untuk memiliki pacar, di umur 17-ku yang penuh kelabilan. Ia membalas pesan Surina. Tak terbayangkan apa yang ia tulis pada gadis bermata sipit itu, mengingat adikku itu memiliki sifat kemayu. Korban sinetron-sinetron minim moral yang selalu ia tonton di televisi.

Aku berjalan gontai ke kamar. Berharap balasannya tidak terlalu memalukan. Setidaknya cukup normal seperti "aku juga cinta padamu". Namun yang kudapati lain. Adikku menulis sebuah pesan yang cukup panjang.

"Jika kamu benar-benar mencintaiku, bukankah sebuah kalimat yang ditulis dari lima huruf berbeda itu tidak benar-benar menunjukkan perasaanmu yang sesungguhnya? Katakanlah perasaanmu dengan suara, agar dapat kudengar lewat telinga, kurekam gerakan di bibirmu dengan mata, kuhirup aromanya, kuraba dengan tangan, dan kucecap rasanya. Cinta bukan untuk dibaca, tapi dirasa dengan seluruh indra."

Adikku benar-benar membuat segalanya makin rumit. Aku hampir membentaknya ketika berada di depan pintu kamar sambil menunjuk ke ruang tamu. Tanpa suara mulutnya berkata: Surina ada di sini sambil tersenyum genit. Di tangannya ada sebuah novel yang pasti diambil dari rak bukuku. Benda yang memberitahuku bahwa balasan yang ia kirim berasal dari sana. Bukan dari sinetron yang mempersempit waktu belajarnya.

Aku pergi ke ruang tamu dengan perasaan campur aduk. Surina tidak pernah ke rumahku, sama halnya dengan diriku yang tidak pernah ke rumahnya. Jika ia ke rumahku pasti ada hal yang penting, dan aku tahu apa itu.

Ia duduk sambil memandang ke sekeliling. Berdiri saat melihatku dan mengucapkan salam. Aku duduk agak jauh. Tak bisa berkata, bahkan untuk bertanya kenapa ia di sini. Kami saling diam, lalu tersenyum kikuk. Aku mendengar tawa tertahan di ruang tengah. Adikku pasti sedang mengintip. Aku tidak berani membayangkan apa yang akan ia katakan pada orang tua kami saat mereka pulang dari urusan masing-masing.

"Mungkin kamu kaget aku datang ke sini tanpa pemberitahuan," kata Surina tiba-tiba.

"Tidak juga."

"Mungkin, aku mengganggu hari liburmu."

Ia mengatakannya dengan nada setengah bertanya, membuatku tidak tahu harus berkata apa.

"Sebenarnya, aku datang ke sini untuk membicarakan hal yang penting."

Duduknya mulai gelisah. Membuatku sedikit gemetar. Jika diperhatikan lebih jauh, wajah Surina memang manis. Menyenangkan melihatnya di depanku seperti ini. Ia satu-satunya gadis yang bisa membuatku tertarik pada perempuan. Mungkin ia memang cinta pertamaku yang terlambat dan sekarang ia akan mengatakan cinta itu padaku. Aku berharap, tidak langsung pingsan saat mendengarnya.

"Anu …."

"Katakan saja," pintaku. Tidak sabar mendengar kata cinta itu terlontar dari mulutnya yang setengah tipis.

"Aku dengar kamu pandai dalam pelajaran TIK."

"Iya." Apa?

"Bisa minta tolong untuk memulihkan akun LINE-ku?"

Apa?

"Telepon pintarku dicuri saat pulang sekolah hari Sabtu kemarin, dan aku lupa password akun LINE-ku. Aku sudah berusaha untuk memulihkannya sendiri, tetapi tetap tidak berhasil. Aku tidak mau kehilangan akun itu, karena stikernya sudah banyak. Sayangkan kalau buat yang baru dan harus beli stiker lagi?"

"I-iya."

"Kamu bisa memulihkan akun tersebut?"

"Bisa. Kamu punya e-mail yang sudah didaftarkan pada akun itu, kan?" Surina mengangguk. "Aku ambil laptop dulu. Lebih mudah dengan alat itu."

Aku pergi dari ruang tamu. Meninggalkan Surina, juga kepingan hatiku di lantainya. Di ruang tengah aku lihat wajah adikku yang muram. Ia melihatku dengan rasa bersalah. Aku menepuk pundaknya dan membisikkan sesuatu.

"Inilah kenyataan. Tidak akan pernah sama dengan sinetron-sinetron yang setiap malam kamu tonton."

Kulihat ia meremas novelku, dan aku suka wajahnya. Wajah-wajah orang yang telah sadar akan kebohongan-indah tayangan televisi. Ia tidak akan lagi menghalangiku untuk menonton MotoGP demi seni peran murahan itu. Ia akan menjadi adikku yang berbeda. Namun bagaimana denganku setelah kejadian ini? Aku tidak tahu.

Aku masih sama. Berjalan dengan dua kaki di lantai ruang tengah. Masih mengenali pintu kamarku. Masih bisa menutup pintunya. Namun, ada air mata yang jatuh ke lantai, bersamaan dengan hujan di halaman.

Langit, berusaha menggantikanku untuk menangis.

Mlg, 23-05-16 16:11

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer nusantara
nusantara at Afeksi LINE (4 years 20 weeks ago)
70

Nemu kata "dada" lagi. Hehe.
Buat sesuatu yang lain yang melihat dada dari sisi lain.
Kita harus belajar dada yang bukan objek seksual tapi lebih dari itu. Cinta lebih luhur dari hasrat seksual yang sering salah diterjemahkan sebagai cinta. Hehe. Kalo surina item terus mata juling dan dada kempes apa tokoh utamanya disini bakal cinta? Hha.
Kata-kata dari tokoh adik itu keren. Tapi, itu tidak mencakup ruang bahasa secara keseluruhan. Bgmn dgn orang bisu? Hehe. Ahaha, terlalu berlebihan komennya. Xixi.
Eumh, nganu..
Air susu ibu (asi) itu dari tuhan. Ehehe lupa pake te besar (T).

Writer nusantara
nusantara at Afeksi LINE (4 years 20 weeks ago)

Misalnya gini,
(komedi) SAKA AND DIANA
Sepasang muda-mudi saling beradu pandang di meja makan di sebuah restoran.
D:"Jangan melihatku seperti itu. Aku malu. Matamu naik-turun seperti lift saja."
D:"Hhm, kamu adalah bidadari, Diana. Matamu menawan dan dadamu membuatku tak tahan."
D:"Itu tidak sopan untuk kencan pertama, Saka."
S:"Maksudku bukan itu, Diana. Aku ingin merasakan sesuatu dibalik kain yang menutup dadamu, debar jantungmu, apakah sama denganku? Aku gugup, Diana."
D:"Kejujuran bagiku adalah segalanya."
S:"Aku juga. Dada bukan segalanya."
D:"Aku tak yakin dengan kata-katamu."
S:"Aku yakin kamu akan menjadi istri yang sempurna untuk anak-anakku. Memberi mereka ASI terbaik."
D:"Aku pulang. Maaf, kita akhiri saja pembicaraan ini dan kita tidak usah bertemu lagi."
S:"Tidak. Tunggu. Aku salah bicara. Maafkan aku, Diana."
D:"Aku tak bisa memberi ASI, saka. Kata-katamu membuatku tak nyaman."
S:"Itu soal mudah. Ada susu sapi. Sepertinya kamu kurang paham dengan kata-kataku. Aku benar-benar ingin menikahimu. Segera. Besok aku ke rumah orang tuamu."
D:"Aku... Bukan perempuan biasa."
S:"Sudah pasti. Aku tahu sejak awal. Kamu perempuan luarbiasa."
D:"Aku punya tongkat kecil."
S:"Selamat tinggal. Aku pulang. Semua sudah kubayar."
Diana terdiam sendiri, Saka salah paham. Diana belum selesai bicara. Tongkat kecil itu maksudnya pensil ajaib. Diana terkena kanker payudara sejak lima tahun yang lalu. Dadanya hanya tempelan busa.

Writer nusantara
nusantara at Afeksi LINE (4 years 20 weeks ago)

Perempuan itu terdiam duduk tak bergerak. Sendiri. Hanya sendiri. Ia tak merasakan sedang berada di mana pun. Ia juga tak merasakan orang-orang disekitar. Seolah raga tak menapaki bumi lagi. Kosong tatap matanya menatap kedepan tempat dimana lelaki tak punya hati itu berdiri menggeser kursi. Ingin berteriak. Ingin berontak. Namun, itu berarti kalah telak. Ia harus menguasai emosi agar tak menyalak. Setetes jatuh. Dua tetes jatuh. Ia biarkan mengalir agar orang lain tahu batinnya mengaduh. Bibirnya bergetar di wajah yang teduh.
Tanpa ia sadari seorang waiter memerhatikan sedari awal.
"Are you oke?"
"Saka anjing!!!"
waiter itu jatuh ke belakang lalu buru-buru lari. Waiter itu adalah aku.
@seru. Jd tkg ngayal belaga jd pahlawan. Hehe.

Writer vinegar
vinegar at Afeksi LINE (4 years 21 weeks ago)
80

Bisa ya satu akun line diaktikan di dua devices? #apasih

Kadang2 saya merasa dirimu lebih nyaman nulis cerita2 ringan begini dibanding Numa dkk yang lebih gelap, namun berbalut lolitaisme :v. Entah karena lebih dekat dengan kenyataan atau apa gitu, silakan dijawab sendiri. Hihi.

Komen seadanya, semoga maklum.

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Afeksi LINE (4 years 21 weeks ago)

Tidak tahu juga, tapi kalau satunya lewat web sepertinya bisa #hipotesis.
.
Mungkin, faktor konsumsi,ya. Akhir-akhir ini saya sering mengonsumsi yang ringan-ringan. Atau karena terlalu banyak nonton video PV. hehehe...
.
Tapi, lolitaisme itu, apa benar saya demikian?

Writer nyamuk
nyamuk at Afeksi LINE (4 years 21 weeks ago)
100

Lucu:D

Cara ceritanya efisien, nggak maksa. plng suka sama balasan adiknya itu:)

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Afeksi LINE (4 years 21 weeks ago)

terima kasih,
padahal niatnya nggak mau melucu, ah gagal ... hehehe

Writer kartika demia
kartika demia at Afeksi LINE (4 years 22 weeks ago)
100

Gak mau komen.

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Afeksi LINE (4 years 22 weeks ago)

gak mau balas

Writer daniswanda
daniswanda at Afeksi LINE (4 years 22 weeks ago)
90

Tema sederhana yang dikemas dengan gayamu yg tak biasa. Saya senang sekaligus kecewa. Seneng karena tulisan ini bagus. Kecewa karna nggak ada tag 18+ seperti biasa.

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Afeksi LINE (4 years 22 weeks ago)

terima kasih,
untuk tag 18+-nya ditunda dulu, mungkin dua sampai tiga bulan ke depan, tapi kalau mendesak akan ditampilkan (apa coba?)
.
salah satu teman kita ada yang nge-tag 18+, silahkan dicicipi

Writer kartika demia
kartika demia at Afeksi LINE (4 years 22 weeks ago)

Cek line, urgent.

Writer citapraaa
citapraaa at Afeksi LINE (4 years 22 weeks ago)
80

-
Seperti biasa, tipe orangnya begini. Tapi seenggaknya cerita ini bisa meng...isi archive bulanan.

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Afeksi LINE (4 years 22 weeks ago)

tipe seperti apa?

Writer The Smoker
The Smoker at Afeksi LINE (4 years 22 weeks ago)

Tipe si aku-nya?

Writer kukuhniam
kukuhniam at Afeksi LINE (4 years 22 weeks ago)
100

keren mas, awalnya terhipnotis dengan alunan ceritanya. Penasaran sama ending ceritanya.
Tapi pas inget cerita tato kucing, jadi sadar diri dengan gaya nulis 'njenengan'
Dan benar saja,
Ending yang menggelitik dengan sebelumnya dibuat berdebar-debar dulu

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Afeksi LINE (4 years 22 weeks ago)

terima kasih,
tapi debaran di sini lain dengan tato kucing, kan? aku harap demikian, kalau tidak, bahaya itu...hehehe...