Permainan Cinta

Tubuhku pasrah mengayun. Seirama dengan ayunan di depan rumah, masih belum melewati pagar, di bawah pohon trembesi. Saking pasrahnya, sudah tak ada daya untuk mengatur kecepatan ayunan.

 
Linglung
 
Tau linglung?
 
Seperti raga tanpa jiwa, tapi bukan kesurupan. Entah sudah melayang kemana? Meski rasanya masih sisa sedikit dengan mata kosong memandang ke depan. Bagiku tanpa ekspresi. Sepertinya, orang melihatku sedang murung.
 
Biasanya tak seperti ini. Aku lebih sering ceria. Orang-orang tampak bahagia kalau melihatku ceria. Aku juga ikut bahagia. Meski ada juga yang bahagia kalau melihatku jatuh lalu menangis. Kakakku. Siapa juga yang tak menangis kalau jatuh? Kan sakit!
 
Kali ini bukan ulahnya aku jadi murung. Ini justru karena Mama. Padahal dia sosok pertama yang selalu ingin membuatku bahagia.
 
Tak habis pikir, justru Mama yang kali ini jadi alasan tak ada senyum tersungging dari  bibirku yang kata orang mungil. Padahal, kata orang senyumku itu manis dan lucu.
 
Bagaimana bisa Mama berpikir kalau Adrian belum pantas untukku?
 
Dia lelaki tampan, baik, dan pintar seperti Papa. Bahkan dia penurut pada Ibunya. Tak mudah membantah. Bukan orang yang urakan pula. Bukankah susah mencari lelaki yang seperti dia?
 
Apa Mama menganggap bukan cinta yang serius? Masih cinta main-main yang hanya untuk bersenang-senang saja?
 
Kurang serius bagaimana lagi yang dilakukan Adrian? Dia sudah gentlement dengan mengutarakan perasaannya langsung padaku, dan itu dilakukan di depan Mama. Dia tulus mengutarakan betapa inginnya dia jadi kekasihku.
 
Sekarang, wanita mana yang tak meleleh diperlakukan seperti itu? Dan Ibu mana yang tidak luluh ada seorang lelaki ingin menjaga putrinya sedemikian rupa? Tapi, ternyata ada juga yang tida luluh. Yah, Mama.
 
Ingin rasanya aku jadi pemberontak. Tetap kupaksakan Adrian menjadi kekasihku. Meski itu sembunyi-sembunyi. Tapi aku tak mau durhaka. Aku masih ingat pelajaran hidup pertamaku dari guru ngaji dulu, membantah "Ah" saja sudah fatal.
 
Andaikan Utari tidak tidur siang sampai sore. Sahabatku itu hilang terlalu lama di hari minggu ini. Padahal aku sedang butuh tempat cerita. Bangunlah Utari! Hibur diriku!
 
Kenapa sih, dunia seolah membuat kesepakatan untuk menjadikanku pemurung hari ini?
 
Lalu terdengar suara Mama menyuruhku mandi karena sudah sore.
 
Aku diam saja. Tak menggubris. Seharusnya tak boleh sikapku ini. Tapi masih jengkel dengan ulah Mama. Lagian, kan tidak bilang "Ah".
 
Mama memanggilku lagi. Mengingatkanku akan PR-ku untuk besok. Itu justru membuatku semakin enggan mendengar suara Mama. Bagaimana dia tak peka dengan perasaan putrinya? Bagaimana bisa dia lebih memikirkan PR yang remeh itu dibandingkan kebahagiaan putrinya? Padahal kan hanya PR mewarnai.
 
"Dinda, ayo mandi sayang!"
Panggil Mamaku sekali lagi.
 
"Iya-iya Ma!" Sahutku masih sedikit jengkel. Aku takut semakin dosa kalau mendiamkan panggilan Mama sampai tiga kali.
 
Nafasku menghela dengan sendirinya. Seiring ayunanku yang mulai berhenti.
 
 
Semoga Adrian tidak malu besok di playgroup saat bertemu. Semoga masih tegar setelah mendapat penolakan dari Mama. Kasihan dia.

Read previous post:  
40
points
(0 words) posted by kukuhniam 6 years 6 weeks ago
66.6667
Tags: Cerita | Cerita Pendek | kehidupan | lain-lain
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Permainan Cinta (6 years 3 weeks ago)
70

Begini, ya, Sam (lah, sok akrab padahal mau bilang pendapatnya sama dengan Wanda dan Kartika). Bahasanya terlalu dewasa untuk anak kecil, lebih tepatnya suduh pandang anak kecil.
.
Penulis mungkin ingin masuk, atau membuat suasana, atau mengesankan tokoh utama adalah anak kecil dengan memberikan beberapa keadaan (mental), seperti bermain ayunan, menangis saat jatuh, atau teman yang tidur siang, tapi itu semua adalah pandangan umum (dewasa) pada anak kecil, bukan pandangan tokoh utama (apalagi ini menggunakan sudut pandang orang pertama). Saya rasa itu masalah pertamanya, karena penulis lebih fokus untuk menuliskan pandangan umum bukan pandangan tokoh apalagi dengan sudut pandang orang utama.
.
.
Selanjutnya adalah diksi yang dipakai, terutama "gentlement" dan "urakan" yang rasanya mustahil maknanya bisa dimengerti anak playgroup.
.
.
Maaf kalau tidak berkenan, Salam satu jiwa, Sam.

Writer kukuhniam
kukuhniam at Permainan Cinta (6 years 3 weeks ago)

Salam satu jiwa sam
Iya sam, setelah dibaca-baca lagi, penekanan sudut pandang aku yang ternyata masih kecil memang cenderung kurang.
sebenarnya sih, ingin membuat yang galau itu anak kecil yang sok dewasa gitu.

Writer kartika demia
kartika demia at Permainan Cinta (6 years 4 weeks ago)
80

Pov anak kecilnya kurang dapet, meski sempat shock juga aku tadi pas membacanya di ending. Tapi, ya, janggal.
kemana--> ke mana
nafas--> napas

Writer kukuhniam
kukuhniam at Permainan Cinta (6 years 4 weeks ago)

gitu ya tante
oke lah, masuk dapur

Writer gita nisma puspita
gita nisma puspita at Permainan Cinta (6 years 4 weeks ago)
80

Tidak ada cinta yang seindah cinta saat playgroup.. hehhe lucu ceritanya

Writer kukuhniam
kukuhniam at Permainan Cinta (6 years 4 weeks ago)

terima kasih sudah mampir

Writer alifwood
alifwood at Permainan Cinta (6 years 5 weeks ago)
70

Jadi inget ibuku... :(

Writer daniswanda
daniswanda at Permainan Cinta (6 years 5 weeks ago)
70

Maksud endingnya si "aku" itu anak TK ya? Rada nggak cocok sama narasi, berasa uda gede soalnya. Kalo bener gitu, twist di akhir gagal menurut saya. Tapi lumayan kaget nemuin tulisan beda dari mas Kukuh kali ini. Salam.

Writer kukuhniam
kukuhniam at Permainan Cinta (6 years 5 weeks ago)

wah gitu ya mas, padahal sudah coba saya buat bahasanya se childis mungkin, seperti yang nangis kalau jatuh, senyumnya yang manis lucu, temannya utari yang tidur siang, ternyata masih gagal masuk diakal ya.
mencoba keluar dari kotak mas, nambah ilmu,hehe

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Permainan Cinta (6 years 3 weeks ago)

Mbak Wanda dan Mas Kuku... aw aw aw ... hehehe... (komen saya di atas, ya)

Writer kukuhniam
kukuhniam at Permainan Cinta (6 years 3 weeks ago)

Daniswanda itu mbak ta?
maaf nih, kirain mas mas...haha