Miss Joyle

Jadi, saya mencoba mengutak-atik rule, haha

Pertama, dikatakan bahwa "Karakter utama membawa pacarnya untuk makan malam dengan keluarganya", tapi tidak dibatasi apakah keluarganya ini adalah orang tua si karakter utama, neneknya, atau anaknya

Kedua, karena saya agak-agak enggan bikin si karakter utama beneran selingkuh, akhirnya saya bikin si karakter utama dianggap selingkuh dan ada adegan dia ketahuan oleh pacarnya.

Here it is. Enjoy. :3

 

***

 

Kali pertama Frank Taylor bertemu dengan wanita itu adalah di sebuah restoran di tempatnya bekerja musim dingin tahun lalu.

Namanya adalah Judith. Ia berumur tiga puluh empat tahun saat itu—tujuh tahun lebih muda dari Frank—dan, sama sepertinya—Judith sudah pernah menikah. Judith memutuskan untuk menceraikan suaminya karena tidak tahan dengan kebiasaan berjudi dan bermain perempuan suaminya, sementara Frank  bercerai karena tidak tahan dengan keluhan istrinya. Istri—ralat, mantan istri—Frank adalah seorang pengeluh akut, dan ia selalu bisa menemukan sesuatu untuk bisa dikeluhkan, seperti bagaimana ia merasa bahwa Frank selalu lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja daripada untuknya, atau, ini yang membuat Frank benar-benar tidak tahan, bagaimana pendapatan Frank sebagai pramusaji selalu tidak pernah cukup untuk membesarkan seorang gadis berusia sembilan tahun. Dan ketika pada suatu hari Frank mendengar mantan istrinya kembali mengomel setelah sebuah hari yang buruk di restoran, ia menjadi silap. Seakan melepaskan katup uap yang selama ini tertutup, Frank murka. Ia membentak balik istrinya, memukulnya tepat di pipi, dan setelah itu, memaki-maki balik istrinya. Bisa ditebak, tidak butuh waktu lama hingga mereka akhirnya bercerai.

Namun, itu lima tahun lalu. Empat tahun setelah peristiwa tersebut, Frank menemukan Judith. Mereka berdua mulai berkencan sekitar dua bulan setelah bertemu, dan sekarang, Frank merasa bahwa sudah saatnya ia memperkenalkan Judith kepada putrinya, Alice. Alice sendiri sekarang sudah beranjak remaja—ia akan berusia 15 tahun bulan depan—dan Frank merasa bahwa Alice memerlukan figur seorang ibu. Itu sebabnya, pada suatu Minggu yang panas di bulan Desember,  Frank mengundang Judith untuk makan malam di rumahnya, sekaligus memperkenalkan Alice kepada calon ibu barunya. Frank berpikir bahwa Alice pastilah senang apabila ia memiliki seorang ibu lagi; seseorang yang dapat ia ajak berbicara mengenai hal-hal-khusus-perempuan yang, tentu saja, tidak ia mengerti.

Namun, perkiraannya meleset.. Alih-alih menyambut Judith dengan girang, Alice justru...menekuk wajahnya.

“Siapa itu, Dad?” tanya Alice ketika ia melihat Judith di meja makan. “Siapa yang bersamamu itu?”

“Oh ini Judith,” sahut Frank sembari bergeser sedikit agar Judith dapat dengan lebih leluasa melihat putri tunggalnya itu. Judith tersenyum singkat kepada Alice, dan, setelah itu, melambaikan tangannya sejenak. “Ia temanku. Teman spesial. Aku sengaja mengundangnya untuk makan malam bersama kita. Sekarang duduklah. Aku membuat spageti dan sup krim untukmu. Judith juga membawakan lamington, jadi kita bisa memakannya bersama-sama setelah makan ma—”

“Bukan itu, Dad. Maksudku, kenapa dia ada di sini? Kenapa dia makan malam bersama kita?”

“Karena aku mengundangnya, Sayang,” sahut Frank, masih sambil memandang Alice. Sekarang kemari dan duduklah. Nanti spagetimu dingin.”

Alice tidak segera menanggapi. Ia bergantian memandangi ayahnya dan wanita asing yang baru pertama kali ia temui. Gadis itu pada awalnya tampak ragu untuk mengikuti kata-kata Frank, tetapi, pada akhirnya, ia patuh. Perlahan, ia beranjak menuju kursi terdekat yang bisa ia ambil dan  duduk di sana. Ia hanya terdiam ketika Judith menuangkan sup ke mangkuk, begitu pula ketika wanita itu menyendokkan pasta ke  piring spageti miliknya.  Barulah setelah Frank menegurnya, gadis itu mengucapkan “terima kasih” lirih kepada Judith.

“Jadi, Alice,” ucap Frank, sementara ia mengaduk-aduk kuah krim supnya. “Bagaimana sekolah? Kau masih sibuk dengan tim volimu? Alice ini ikut serta dalam tim voli sekolahnya, Judith.” Frank menghirup sup krimnya, menambahkan sedikit garam, dan setelah itu, kembali berkata, “Ayo, Alice, ceritakan tentang bagaimana kau ikut pertandingan itu—apa namanya? ATVC?—awal bulan ini. Judith pastilah ingin tahu ceritamu.”

“Namanya AVSC, Dad. Australian Volleyball Schools Cup,” ralat Alice. “Oh, semuanya berjalan...baik. Kami dilatih intensif oleh pelatih pengganti kami—Miss Joyle—berhubung Miss Hemsworth dirawat di rumah sakit setelah jatuh saat bermain ski Juli lalu. Namun, aku lebih suka cara Miss Joyle melatih kami,” ia menambahkan sembali memilin-milin spagetinya. Sesuatu yang ia lakukan terus menerus, karena alih-alih melahap spageti itu, ia justru mengamatinya. “Miss Joyle baru empat bulan menjadi pelatih pengganti, tapi aku sudah menyukainya.”

“Oh, mengagumkan sekali.” Kali ini, giliran Judith yang berbicara. “Orang seperti apa Miss Joyle ini? Kenapa kamu menyukainya?”

“Dia baik,”  jawab Alice, masih sambil memperhatikan spageti yang ia main-mainkan. “Dia selalu bisa membuat kami tertawa atau bersemangat dengan cerita-ceritanya, dan selalu ada jika aku mengalami kesulitan,” ujarnya lagi, sebelum kemudian, ia—akhirnya—mengangkat spageti itu dan lalu mengunyahnya. “Dan, kau tahu, Dad, kurasa, dia cocok untukmu. Kau harus menemuinya kapan-kapan.”

Frank nyaris saja tersedak kuah supnya sesaat setelah mendengar Alice berkata demikian. Ia tidak tahu mengapa, tetapi, seharusnya, Alice tahu bahwa ketika ia menyebut Judith sebagai “teman spesialnya”, maka itu berarti, ia sedang mengencani Judith. Bagaimana bisa anak ini justru menyebut-nyebut tentang wanita lain di hadapan Judith?  Sepintas, Frank melirik ke arah Judith. Judith sendiri sepertinya juga terlihat terkejut seperti dirinya, meski ia bisa dengan cepat mengendalikan keterkejutannya dan mengubahnya menjadi senyuman.

“Tapi, Alice, kau tahu, ayahmu dan aku...kami memiliki hubungan spesial,” kata Judith serta-merta. “Jadi, tentu saja, ada batasan-batasan yang perlu kami jaga. Betul, kan, Frank?”

“Ah, ya, ya, betul sekali,” jawab Frank. “Judith juga orang baik. Ia ramah, dan ia juga bisa membuatku tertawa dengan lelucon-leluconnya. Aku yakin, kau pasti juga akan menyukainya, dan kalian berdua pasti bisa akrab dengan cepat.”

“Tapi aku menyukai Miss Joyle,” sahut Alice. Ia kemudian berganti memandang ke arah Judith—sesuatu yang jelas sekali ia hindari sedari tadi—dan, setelah itu, berkata kepadanya, “Dan aku tidak menyukaimu.”

Belum, Sayang,” Frank buru-buru meralat. “Kau hanya perlu memberi Judith waktu dan kesempatan hingga—”

“Kau tidak mengerti, Dad,” sergah Alice. “Aku tahu kalau Miss Joyle jauh lebih baik daripada wanita ini. Kaulah yang perlu memberikanku waktu dan kesempatan untuk membuktikannya.”

“Alice, Sayang....”

“Aku sudah selesai,” potong Alice seraya beranjak dari kursinya. “Terima kasih untuk spageti dan supnya, Dad. Oh ya, omong-omong, pastanya terlalu manis, seperti biasa,” tambahnya. Tanpa memandang ke arah baik Frank maupun Judith, ia lantas berjalan meninggalkan ruang makan  menuju tangga. Tak lama kemudian, Frank mendengar bunyi pintu dibanting dari lantai dua, yang disusul dengan gerung kemarahan putrinya itu.

Dan bagi Frank Taylor, makan malam yang seharusnya menjadi ajang perkenalan Judith kepada Alice itu telah berubah menjadi sebuah bencana.

 Frank sendiri sempat berniat untuk berbicara dengan Alice tentang perkara  ini setelah ia dan Judith selesai makan malam, tapi, pada akhirnya, ia memutuskan untuk menyimpannya hingga esok. Ia tahu bahwa tidak ada gunanya untuk berbicara dengan Alice apabila gadis itu tidak mau mendengarkan. Lagi pula, Frank sudah terlalu letih untuk sebuah drama, dan, jika ia harus memulainya, ia akan memulainya besok, ketika ia sudah meminum segelas susu dan menyantap beberapa potong roti yang diolesi Vegemite.

 

***

 

“Kau membuatku malu kemarin, Alice,” tegur Frank keesokan paginya dari ruang makan ketika ia melihat Alice menuruni tangga. “Sikapmu kemarin buruk sekali. Aku tidak peduli apa yang akan kaukatakan, tapi kau dihukum. Kau ingat tentang konser Cat Urban yang mau kamu hadiri awal tahun ini? Well, kau bisa melupakannya.”

“Apa? Itu tidak adil!” seru Alice. “Aku hanya berkata bahwa aku tidak menyukainya! Apa itu salah?”

“Tentu saja kau salah. Kau tidak tahu apakah kau akan menyukainya atau tidak kalau kau belum memberinya kesempatan, kan?” balas Frank. Sepintas, ia melirik ke arah jam dinding yang terletak di dekat jendela. Sudah hampir pukul delapan, dan ia bisa terlambat bekerja jika harus meladeni omong kosong ini. “Intinya, kau dihukum. Dan kau harus bersikap baik dengan Judith, karena aku berpikir untuk menjadikannya ibumu.”

Alice mengerang. Ia tetap merasa bahwa hukuman itu tidak adil. Ia sudah merencanakan untuk menonton konser itu sejak jauh-jauh hari bersama kedua sahabatnya, dan, semuanya rusak hanya gara-gara ia berkata bahwa ia tidak suka dengan Judith itu. Kecuali... “Oh, baiklah, tapi dengan satu syarat,” ujar Alice. “Kau harus menemui Miss Joyle, dan beri tahu apa kesanmu terhadapnya.”

Frank mengernyitkan dahi. “Sayang, kau kan tahu kalau aku sekarang mengencani Judith, jadi....”

“Apa salahnya, Dad? Aku hanya memintamu menemui dia sekali saja,” sela Alice sambil memutar bola matanya. “Aku benar-benar serius waktu aku berkata bahwa dia cocok denganmu. Kalian sama-sama suka Rick Astley, dan, kudengar, salah satu acara teve favoritnya adalah, apa namanya, Funny Squad? Yang tentang polisi-polisi itu.”

Funky Squad,” ralat Frank. “Tunggu sebentar, dia suka Funky Squad? Memang berapa umurnya?”

“Aku tidak pernah bertanya,” sahut Alice. “Lagi pula, menanyakan umur ke seorang perempuan itu hal yang kasar. Tapi kalau-kalau kau tertarik, dia jelas-jelas belum lima puluh tahun.”

Frank tidak menanggapi. Tentu saja, dia memiliki Judith, tapi mungkin ia bisa menemui Miss Joyle ini sebagai sesama penyuka Funky Squad. Tidak banyak orang yang menyukai Funky Squad, jadi tidak ada salahnya menemui sesama fans, bukan? “Baiklah, kau menang,” kata Frank. “Aku akan menemui Miss Joyle-mu ini, tapi, hanya karena kami sesama penyuka Funky Squad dan Rick Astley—selain karena kau tidak bisa berhenti bicara tentangnya,” tambah Frank “Dan aku masih berharap kamu mau menerima Judith. Dia perempuan yang menyenangkan.”

“Akan kupikirkan itu,” balas Alice sembari mengangkat kedua bahunya.

Frank sebenarnya hendak menjawab, tetapi, ketika dilihatnya jam sudah menunjukkan hampir pukul setengah sembilan, ia langsung tersadar bahwa ia telah amat terlambat berangkat ke tempat kerjanya. Ia buru-buru bangkit dari kursi, mengingatkan Alice untuk tidak lupa mengunci pintu sebelum berangkat, dan, setelah itu, berjalan menuju pintu dengan tergopoh-gopoh.

“Oh ya, Dad” panggil Alice tiba-tiba, yang membuat Frank berhenti dan menoleh kepadanya. “Omong-omong, namanya adalah Keith Urban, bukan Cat Urban!”

 

***

 

Hari ini adalah hari Sabtu, dan, itu berarti, hari ini adalah hari ketika Frank bertemu dengan “Miss Joyle”.

Alice-lah yang mempersiapkan pertemuan ini. Putrinya itu yang membantunya mencarikan tempat (‘Gemelle Ristorante!’) dan menentukan waktunya (‘Sabtu malam pukul delapan!’). Frank tidak tahu mengapa Alice sangat bersemangat untuk mempertemukan dirinya dengan “Miss Joyle”—ia sudah berkali-kali mengatakan bahwa ia sekarang memacari Judith, dan, ia tidak berniat memacari orang lain.  Frank sendiri melakukan hal ini hanya untuk menyenangkan Alice semata (di samping rasa penasarannya tentang sesama fans Funky Squad, tentu saja). Lagi pula, sekali lagi, ini bukanlah kencan. Setidaknya, ia tidak menganggapnya demikian. Ia bahkan baru sekali melihat wajah “Miss Joyle” dari foto tim voli Alice yang putrinya itu kirimkan kepadanya. Dengan cermat, diamat-amatinya wajah tersebut. Ia bisa melihat bahwa “Miss Joyle” kira-kira sepantaran dengan Judith, hanya saja, ia memiliki rambut berwarna kenari alih-alih burgundy. Ia juga terlihat lebih tinggi dan atletis daripada Judith.

“Permisi, apa kau Frank Taylor?”

Frank menengadah, dan ia bisa melihat seraut wajah yang sama persis dengan yang baru saja ia amati. Wanita itu—”Miss Joyle”—telah tiba, dan ia baru saja menyapanya. “Ah ya, tentu,” sahutnya sembari berdiri. “Aku Frank Taylor, dan Anda, maaf, ‘Miss Joyle’?”

“Kurasa, begitulah murid-muridku memanggilku,” sahut wanita itu. “Laura Joyle. Panggil saja aku dengan Laura. Boleh aku memanggilmu Frank?” tambahnya, seraya  mengulurkan tangannya kepada Frank.

Frank dengan segera menyahut uluran tangan Laura. “Tentu, tentu saja,” jawab Frank. “Ah di mana sopan santunku? Silakan duduk. Aku belum mulai memesan. Pelayan!” Frank  menjentikkan jarinya. Tak lama kemudian, ia sudah memesan Fiorri di Zuccini, sementara Laura memesan Melanzone alla Parmigiana ('Aku sedang mencoba menjadi vegan,' ucapnya).

“Jadi, Laura,” Frank memulai percakapan. “Aku menemuimu karena putriku, Alice, mendesakku untuk melakukannya. Dia pikir, kita berdua akan—bagaimana mengatakannya...cocok?—karena kita sama-sama suka Funky Squad dan Rick Astley,” tambahnya. “Anak-anak zaman sekarang.... Mereka pikir mereka bisa seenaknya mengatur orang tua mereka.”

“Tapi kamu pastilah ayah yang baik,” ucap Laura. “Kau menyisihkan waktu untuk memenuhi permintaanya. Maksudku, kamu mungkin terpaksa melakukan ini, tapi kamu tetap melakukannya.”

“Oh, tidak, aku tidak terpaksa,” Frank buru-buru meralat, berupaya mencegah wanita yang baru pertama kali ia temui itu merasa tidak enak. “Yah, anggap saja ini pertemuan sesama fans Funky Squad. Tapi....” Ia menggaruk-garuk dagunya yang dipenuhi janggut-janggut pendek. “Well, Aku dan Alice mungkin kadang-kadang bertengkar, dan aku mungkin terkadang terlalu keras kepadanya, tapi dia tetaplah gadis kecilku yang istimewa. Terlebih semenjak aku bercerai, aku....”

“Frank? Apa yang kaulakukan di sini?”

Frank terperanjat. Ia kenal suara itu—sebuah suara yang sudah setahun ini senantiasa ia dengar. Suara Judith. Mengapa dia ada di sini?

“Apa yang, oh—”  Judith langsung terdiam tatkala melihat Laura yang sedang duduk di kursi yang ada di hadapan Frank. Mulutnya terkatup, alisnya bertatut, dan tanpa pikir panjang, ia langsung memandang tajam Frank, sebelum kemudian berucap, “Frank, teganya kau. TEGANYA KAU.”

“Judith, aku bisa menjelaskan. Ini bukan seperti kelihatannya....”

“Menjelaskan apa? Bahwa kau selingkuh dengan...dengan...wanita ini? Sudah kuduga, semua laki-laki sama saja!”

“Judith, dengarkan....”

Tapi, Judith tidak mau mendengarkan. Alih-alih, ia berteriak kepada Frank untuk menjauhinya, dan, dengan segera, menderapkan langkahnya menunju pintu keluar, meninggalkan Frank yang tengah berdiri mematung di lantai.

“Ah, maaf aku...tidak menyangka akan seperti ini,” kata Laura, setengah terbata. “Le...lebih baik, aku pulang saja. Aku tidak ingin memberikanmu lebih banyak masalah,” tambanya lagi. Tanpa menunggu jawaban dari Frank, Laura menyahut tas tangannya, dan  setelah itu, berjalan menuju kasir untuk membayar makanan yang bahkan belum sempat terhidang.

Sementara itu, Frank termangu, mencoba memikirkan bagaimana ia bisa menjelaskan kesalahpahaman ini kepada Judith nanti....

 

***

 

Pada akhirnya, justru Judith-lah yang memutuskan Frank.

Judith mungkin baik dan ramah di mata Frank, tapi ternyata, ia menyimpan satu kekurangan besar yang tidak bisa ia toleransi: ia amat alergi dengan segala hal yang berkaitan perselingkuhan—dampak dari pengalamannya dengan mantan suaminya pada pernikahan sebelumnya. Bahkan meskipun sesuatu itu hanyalah terlihat seperti perselingkuhan, tetapi, hal itu sudah sangat cukup untuk membuatnya histeris. Frank sendiri tidak yakin dengan apa yang ia rasakan dengan keputusan Judith itu.  Di satu sisi, ia merasa kehilangan Judith, tapi di sisi lain, ia bersyukur tidak menjadikan Judith sebagai istrinya. Frank tidak bisa membayangkan bagaimana seandainya ia menikahi Judith; ia pasilah harus menghadapi ketakutan dan kekhawatiran Judith dua-puluh-empat tujuh.

“Oh, hai, Dad,” sapa Alice ketika dilihatnya Frank sedang duduk di meja makan, dua hari setelah Natal usai. “Jadi...uh, bagaimana? Semua baik-baik saja, kan?”

“Oh, aku? Tenang saja, pria tuamu ini baik-baik saja,” balas Frank. “Sungguh. Kemarilah.”

Alice menurut. Ia lantas melangkahkan kakinya menuju ruang makan, dan, setelah itu, duduk di hadapan ayahnya. “Dengar, Dad, aku tidak bermaksud untuk membuat kau dan Judith berpisah. Aku hanya merasa cocok dengan Miss Joyle, dan aku berpikir bahwa alangkah menyenangkannya jika kau bisa menikahinya dan menjadikannya ibuku. Maksudku, bukannya aku membenci Judith, aku hanya merasa bahwa Miss Joyle lebih sesuai untukmu--dan untukku. Karena itu, aku....”

“Oh, sudahlah, Nak,” sela Frank. “Ini bukan salah siapa pun. Kau hanya berusaha membantuku, kan? Aku tahu itu,” ujarnya. Ia kemudian tersenyum ke arah Alice, dan, sembari membuka lengannya, berkata, “Pelukan besar?”

“Pelukan besar,” jawab Alice. Ia kemudian meraih rangkulan Frank, dan, tak lama berselang, mereka sudah saling berpelukan satu sama lain, dengan senyum merekah di bibir masing-masing.

“Oh iya, Alice, kau masih menyimpan, eh, nomor telepon Miss Joyle, kan? Yah, kau tahu, kalau-kalau aku membutuhkannya.”

 

***

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer nusantara
nusantara at Miss Joyle (2 years 15 weeks ago)
70

membaca selewat lalu..
cukup baik tapi membosankan

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Miss Joyle (5 years 24 weeks ago)
70

Maaf, telat.
Risiko orang telat, tidak bisa komen banyak.
.
Saya suka kalimat pertamanya. "Pancingan" yang menggiurkan, namun setelah baca hampir setengah, ada rasa bosan meski tetap sedap untuk dibaca. Anehnya, saya tidak bisa menyebutkan alasannya. Aneh, ya?.
.
Demikian. Maaf, dan salam.

Writer alcyon
alcyon at Miss Joyle (5 years 25 weeks ago)
100

poin aja dlu, baru sedikit2 bacanya, mohon maaf master.

Writer Wanderer
Wanderer at Miss Joyle (5 years 25 weeks ago)
80

Waduh sudah banyak yang mengulas, jadi bingung mau komentar apa hehe. Terlepas dari gaya penulisan ala terjemahannya yang lugas (selain dua-puluh-empat tujuh yang terasa janggal), aku penasaran mengapa Frank yang melakukan KDRT malah bisa dapat hak asuh atas Alice? Terus pelafalan 'Keith' dalam aksen Australian itu lebih ke 'kit' daripada 'keit' yang mirip 'ket' dalam 'Cat', sehingga kurasa humornya agak memaksa. Sisanya no comment deh sudah bagus dan rapi menurutku. Salam kenal (lagi) :D

Writer herjuno
herjuno at Miss Joyle (5 years 25 weeks ago)

Iya ini juga agak flaw sebenarnya. Saya baru ngeh kalau untuk urusan child custody law ini saya agak kurang risetnya, haha.
.
Anyway, thank you udah mampir. :3

sijojoz at Miss Joyle (5 years 26 weeks ago)
90

nyumbang poin aja~

Writer vinegar
vinegar at Miss Joyle (5 years 26 weeks ago)
70

Hallo, bang Herjuno. Ternyata temanya memang makan malam bareng sama selingkuhan, elaah baru ngeh.

Gaya berceritanya terjemahan banget, padahal yang saya perhatikan kalau novel terjemahan juga ga gitu amat gaya tulisnya. Kaya komen paling bawah itu maksud saya, pelukan besar, dua-puluh-empat/tujuh. Rada ga enak bacanya, kalo saja saya baca novel yang terjemahannya gitu mungkin udah saya rating jelek di gudrid :v :v

Mungkin memang cerpen ini disengaja lebih menonjolkan gaya penceritaan daripada ragam konfliknua. Jika misal settingnya diubah jadi serba lokal, barangkali akan jatuh pada keklisean. Demikian, maaf kalo sotoy dan kurang berkenan :).

Writer herjuno
herjuno at Miss Joyle (5 years 26 weeks ago)

Iya itu emang sotoyyyy yang bagian itu Harusnya emang kalau terjemahan kontekstual, tujuh hari seminggu, cuma saya mau iseng2 coba.
.
Thank you udah mampir :D

Writer nyamuk
nyamuk at Miss Joyle (5 years 26 weeks ago)
80

Bagian Judith marah itu lucu:)

Konfliknya datar. background tokohnya kyk cuma tempelan aja, latarnya jg, jd nggak berkesan buat saya.

Tapi ini ttp menghibur sekali kok:D

Writer herjuno
herjuno at Miss Joyle (5 years 26 weeks ago)

Emang harusnya kalau cerpen enggak begitu ngubek2 bekgron sih. Saya masih kebawa aturan bikin novel.
.
Thank you udah komen :D

Writer kukuhniam
kukuhniam at Miss Joyle (5 years 26 weeks ago)
90

Halo om... Malam...
Saya belajar banyak dari cara berceritanya om Her
Meski terkesan terjemahan, tapi bahasanya renyah
yang paling menarik menurut saya, logika berpikirnya di sini hidup. Saling terkait antara satu logika dengan yang lainnya. Seperti ketika Alice dilarang nonton konser, lalu beralih ke syarat bertemu Miss doyle, ayahnya menolak dengan alasan rasional (jika dipaksakan menerima, rasanya kurang wajar karena seorang ayah biasanya tegas dan terkesan otoriter) tapi berhasil diluluhkan dengan logika sesama penyuka Funky squad. Itu hanya salah satu contoh yang menurut saya rasional.
Ohya, kenapa konfliknya dibuat hanya begitu saja om? Terasa sederhana dan singkat, begitu saja, tahu-tahu Judith sudah pergi, Laura juga, dan sudah pisah begitu saja.
Tapi karena alice, saya setuju dengan akhir Frank tidak jadi dengan Judith.
Mohon maaf om kalau ada salah ngomong

Writer herjuno
herjuno at Miss Joyle (5 years 26 weeks ago)

Udah mepet jumlah kata, kalau konfliknya nambah bakal bablas.
.
Thank you udah komentar :)

Writer latophia
latophia at Miss Joyle (5 years 26 weeks ago)
80

Misi om... *lepas sendal
Saya agak ngeri mampir di lapak senior ^^"

Saya sih agak merasa janggal karena awal2 konon si Frank pekerjaannya pramusaji, tapi seperti gak ada masalah keuangan ya... anaknya bisa nonton konser, trus makan di resto itali dg menu yg kayaknya mahal (karena pake nama itali? o___o) point terakhir mgkn karena saya yang gak pernah makan di resto itali aja sih ya^^"

Writer herjuno
herjuno at Miss Joyle (5 years 26 weeks ago)

Ah iya benar juga. Saya gak kepikiran itu. Thanks for pointing that out

Writer The Smoker
The Smoker at Miss Joyle (5 years 26 weeks ago)
80

Hallo bang her..
Saya perhatiin prosesi makan keluarga itu. lumayan hidup.
Saya udah sempat nyangka sii bang her akan ngambil seting luar, haha entah kenapa. #sokdukun *slap*
.
Mungkin sama kayak brodanis, tentang di awal yg terkesan deskriptip. Terlalu tumpah di situ.
.
Andai saja porsi Alice banyak ya, suka dengan karakternya. Rasanya kalaupun dia yg 'hidup' sendirian di cerita ini Bakalan gapapa. Dia mampu, walaupun cuma baru keliatan potensinya aja, belum seberapa kerasa. Ah saya meracau. Tapi yap, back to rule, ini tentang pov 3 lelaki haha..
.
Mungkin kurang panjang, saya belum bisa nangkap kesan apa2 untuk ceritanya, tapi memang mulus *deuh jadi inget syahrini*

Writer herjuno
herjuno at Miss Joyle (5 years 26 weeks ago)

Iya, mau masukkin background characternya. Cuma kurang smooth kelihatannya jadi kerasa infodump.
.
Saya emang basic-nya cerita remaja, sih. Makanya kayak lebih kelihatan Alice-nya daripada Frank-nya, haha.
.
Thank you buat masukannya btw

Writer kartika demia
kartika demia at Miss Joyle (5 years 26 weeks ago)
80

.

Di awal-awal gaya terjemahan banget ya, muluuuuusssss. ^^
Tapi, pas di tengah konflik ketahuannya selingkuh (meski gak selingkuh) kok jadi cerita ala2 ftv sih. Kayak jomplang saya bacanya pas ke situ. Meski sudah dijelaskan Judithnya cemburuan, tapi kesannya kayak menarik kesimpulan aja sih soal cemburunya itu. Saya rasa untuk konflik batin Frank setelah diputusin Judith itu terlalu terburu atau kurang panjang lompatan narasinya. *Dasar laki-laki, cepet banget move on. Belum juga satu hari XD
.
Oh iya, kenapa banyak sekali kata-kata yang diitalic? Padahal itu bukan kata serapan, masuk juga dalam kbbi.
Lalu banyak pula penggunaan koma yang tidak perlu. Contohnya ini;
~Judith tersenyum singkat kepada Alice, dan, setelah itu, melambaikan

~Frank menghirup sup krimnya, menambahkan sedikit garam, dan setelah itu, kembali berkata,

Perhatikan lagi penggunaan elipsis. 4 titik hanya digunakan di akhir kalimat/dialog saja.

Wes yah :-D

Writer herjuno
herjuno at Miss Joyle (5 years 26 weeks ago)

Saya gak tahu adegan ketahuan selingkuh yang gak FTV. Gak pernah bikin soalnya >.<
.
Dimiringin itu buat penekanan. Ada kok penjelasan di EyD kalo gak salah.

.
Ah itu emang saya dari dulu kebiasaannya pakai koma-koma. Untuk variasi tindakan aja. Cuma di sini kebanyakan, ya?

Writer kartika demia
kartika demia at Miss Joyle (5 years 26 weeks ago)

sebelum kemudian berucap, “Frank, teganya kau. TEGANYA KAU.”

dialognya ituloh kayak ftv banget ^^

oh, baru tau kalo italic buat penekanan juga?
iya, komanya agak mengganjal buat saya :)

Writer herjuno
herjuno at Miss Joyle (5 years 26 weeks ago)

Line “Frank, teganya kau. TEGANYA KAU." itu kan benernya terjemahan dari "Fran, how dare you? HOW DARE YOU?"
.
Yep, buat cerita ini, saya mikir beberapa dialog pakai bahasa Inggris, baru ditulis ulang ke bahasa Indonesia.
,
Mungkin beda gaya tulis ajja kali, haha.
.
Thanks buat masukannya btw.

Writer daniswanda
daniswanda at Miss Joyle (5 years 26 weeks ago)
90

Halo bang Herjuno. Ini pertama kalinya saya baca tulisan anda. Narasi tulisan ini deskriptif sekali. Sampai saya kewalahan baca di awal, soalnya terkesan buru-buru dalam mendeskripsikan Taylor dan Judith. Tapi lepas dari situ mulai enak dibaca. Mengalir mulus sampai akhir.

Ada sedikit "polisi tidur" di tengah-tengah yg bikin dahi saya berkerut, yaitu penerjemahan kata-kata bahasa inggris yg kedengaran ganjil; seperti 24/7 jadi dua-puluh-empat tujuh dan "big hug" jadi pelukan besar.
Entahlah, mungkin sayanya aja nggak biasa.

Makasih udah ikutan ngeramein even abal2 ini.
Sering2 posting yak.

Writer herjuno
herjuno at Miss Joyle (5 years 26 weeks ago)

Halo, halo.
Iya memang bagian awalnya itu banyak telling-nya, karena saya berusaha memberikan background ke karakternya, haha.
.
Itu saya emang sengaja, biar kasih rasa terjemahan. Enggak tahu apa di style terjemahan itu benernya umum atau enggak. 'A')
.
Tapi menariknya, orang (khususnya dikau) bisa ngerti kalau dua-puluh-empat tujuh itu 24/7, ya, bukan 24-7 atau 24.7. Padahal sama sekali gak ada tanda Slash (/) di sana. :3
.
Thanks buat masukannya btw.