Night of Anberin

Night of Anberin

Vincent

Baginya, tidak ada wanita yang lebih sempurna daripada Sara. Vincent mengaguminya. Vincent sangat mencintainya. Cinta sejak pandangan pertama dan itu cukup untuk menjadikan alasan mengangkat Sara menjadi istrinya. Menjadi calon ratu bagi negerinya.

Gebrakan meja mengejutkannya. Pria yang duduk di ujung meja perjamuan itu, para pemimpin sepuluh Ayah, Barzack yang Tua, menatapnya geram dan kecewa. Dia beberapa kali mengumpat, menghentakkan tangan sampai semua hidangan disana bergemerincing jatuh.

“Vincent! Mengapa kau lakukan ini padaku?!” sambil menunjuk dua pasangan itu, Barzack kembali mengumpat, “Kau bawa darah kotor kesini! Kau menghinakan perjamuan kita dengan membawa budak?!”

Vincent tahu ini yang akan terjadi. Barzack tidak akan mau menerima gadis dari Ras Bersayap di keluarganya. Tidak setelah kaum mereka saling berperang sejak enam ratus tahun lalu. Luka yang tersisa masih menganga.

“Ayah, kumohon. Ada Sara disini. Besok hari pengangkatannya menjadi ratu. Kukira kita sudah sepakat bahwa aku bebas memilih…”

“Kau bocah dungu idiot!!!” bentak Barzack sampai tersengal. Paul, pelayan setianya menuangkan anggur ke cawan sebelum dia tersedak. “Dulu kau membawa kebanggaan yang luar biasa dengan memenggal raja mereka. Tapi kini kau runtuhkan semua itu dengan mengangkat mereka menjadi ratu! Betapa kau telah melecehkan harga diri ayah-ayahmu!!!”

Satu lagi gebrakan kuat dan hampir semua hidangan disana berantakan. Sara yang begitu ketakutan sampai-sampai memeluk lengan Vincent kuat-kuat. Vincent tidak terima tunangannya dilecehkan begitu saja.

“Ayah! Aku adalah penguasa Anberin! Akulah Raja dan ini keputusanku! Ras bersayap bukan musuh lagi! Cerita penaklukkan mereka sudah selesai seratus tahun lalu! Kini aku berhak untuk menebus pembantaian yang kulakukan dengan memilih dari mereka seorang istri!”

Barzack langsung berdiri, tapi dia mendadak duduk kembali sambil memegang dadanya kuat-kuat. Anthony dan Luca yang duduk disebelahnya langsung memegang kakak tertua mereka. Barzack tetap memaksakan diri.

“Cukup bicaramu kau anak tidak berbudi! Kami yang mengangkatmu menjadi Raja dan kini kau berkata seolah kau yang paling tahu hak?! Apakah mencabuli Cordelia, adikmu sendiri sampai gila juga termasuk hakmu…!?”

Semua yang hadir, terutama Sara, begitu terkesiap. Anthony dan Luca segera berdiri menenangkan kakaknya. Vincent yang tidak terima aibnya dibuka di perjamuan ini hendak menyumpah balik sebelum saudara-saudaranya menahannya. Barzack kembali mengumpat lagi.

“AKU TIDAK SUDI MENERIMA DARAH KOTOR ITU SEBAGAI KELUARGA KITA!!! AKU TIDAK PEDULI MESKIPUN DIA RATU! ISTRIMU! AKU BERSUMPAH AKAN MELAKUKAN APAPUN UNTUK MENGUSIR PEREMPUANMU!!!”

“Kakak…, bersabarlah,” Anthony segera menawari Barzack secawan anggur sebelum amarahnya kian menjadi-jadi. Tetapi alih-alih ucapan terima kasih, malah semprotan amarah yang didapatnya.

“Kau…? Kau kira kau pria paling suci di keluarga ini? Apa kau lupa dengan puluhan gundik pria yang kau sembunyikan…”

“Kakak…, kumohon…” Luca ikut bertindak sebelum Anthony berubah beringas, “ada tamu dari seberang disini… Jangan bawa aib keluarga di perjamuan…”

“Aib? Kalian semua aib! kalau kau tidak sebejat itu berselingkuh dengan Ratu Canaan dan merusak gencatan senjata yang membuat negeri kita hampir binasa…”

“Paul…,” Luca memandang si pelayan, “tolong obatnya.”

“Obat…? Kalian berusaha membunuhku! Vincent…, aku tahu kau hanya menginginkan kekuasaan kami! Ini semua gara-gara kau Vincent! Kau dan gundikmu itu! Kau…kau…”

Obat penenang yang diberikan Paul mulai bekerja. Selekasnya, Anthony dan Paul segera membawa pria tua itu keluar dari ruangan, memberi kesempatan bagi yang lain melanjutkan santapan.

Luca, yang ketiga tertua, memandang Sara, “Maafkanlah kakakku, Yang Mulia. Tidak mudah menahan emosi bagi pria berusia delapan ratus tahun. Mari kita lanjutkan perjamuan di ruang sebelah.”

***

Barzack

Dia sadar. Dia benar-benar lepas kendali di perjamuan itu. Tidak seharusnya dia mengatakan hal-hal yang tidak layak bagi seorang yang dituakan di keluarga. Dia seharusnya jadi panutan.

Ini semua gara-gara perempuan itu. Sihir apa yang dia gunakan sehingga putra tersayangnya menjadi seperti kerasukan. Dia tidak pernah sudi menerima mereka. Tidak setelah apa yang mereka lakukan kepada istrinya. Dia ingin membunuh mereka. Dendamnya tidak selesai. Tidak sekalipun sang anak telah membumihanguskan negeri mereka dan membawakannya kepala dari penguasa yang telah menyelingkuhi istrinya.

Dadanya terasa sakit lagi. Dia perlu minum obat. Jantungnya sudah tidak sebugar dulu. Seharusnya dia meminum obatnya, tetapi gadis didepannya benar-benar nikmat. Dia tidak bisa meninggalkan kenikmatan ini. Barzack tak bisa menyangkal betapa luar biasanya dia. Dia benar-benar tahu bagaimana memperlakukan pria tua sepertinya. Setiap erangan kesakitan yang dilontarkannya membuat Barzack semakin terangsang. Dia mengeluh nikmat. Meskipun jantungnya tidak mau bekerja sama, dia tetap merasa seperti pria muda.

Tadi, dia baru saja menghabiskan sebotol anggur sebelum pintu diketuk.

Gadis itu berdiri penuh ketakutan, tidak berani masuk selangkahpun sebelum Barzack mengizinkannya. Seharusnya Barzack yang memberi hormat kepada ratunya dan mempersilahkan masuk. Tapi harga dirinya menolak. Dia cuma memberi ekspresi terkejut mengapa wanita itu berani mengunjungi kamarnya setelah semua yang terjadi tadi. Sepertinya semua keadaan ini yang memaksanya harus bertemu calon ayahnya. Dia tahu bahwa, meskipun bukan Raja, Barzack punya kekuasaan melebihi Raja.

Lalu entah kenapa semuanya berakhir begini. Gadis itu mengatakan dia sangat mencintai Vincent dan tidak ingin ayah tertuanya tidak merestui hubungan mereka. Dia sangat ingin membahagiakan Vincent. Dia ingin mendukung Vincent menjadi raja. Dia ingin menghabiskan sisa kebahagiaannya bersama Vincent. Dia rela berbuat apa saja asalkan tidak dipisahkan dari Vincent.

Dia rela berbuat apa saja.

Barzack semakin bernafsu, erangan kesakitan dari sang ratu mengingatkannya akan kemenangan Vincent terhadap ras bersayap. Setiap tamparan keras memberikan kepuasan luar biasa bagi Barzack. Dia merasa terbalaskan. Dia merasa semua dendam kesumatnya terbayarkan.

Dia terus menyerang. Menerkam bagaikan singa liar. Dia tidak memberi ampun. Dia ingin wanita itu membayar semua sakitnya. Membayar semua dendam yang terkubur selama enam ratus tahun. Membayar semua perselingkuhan yang dilakukan rajanya dengan istrinya. Dia ingin semuanya.

Tapi tiba-tiba pintu digedor keras. Di puncak syahwatnya, dia mendengar Raja berteriak-teriak dari luar. Dia dipaksa membuka pintu atau didobrak. Anaknya mengatakan sesuatu yang membuatnya sangat terhina. Dia mengatakan bahwa istrinya ada di dalam bersamanya dan tengah diperlakukan selayaknya gundik-gundik ayahnya. Dia mendengar anaknya bersumpah kesetanan akan membunuhnya.

***

Sara

 Pria itu tidur dengan sangat tenang disisinya. Setelah kepuasan luar biasa sebagai suami-istri, Sang Raja akhirnya terlelap. Sara memandang wajah tampan itu dengan perasaan sedih. Dia tahu dia tidak akan selamanya bisa memeluk tubuh ini. Dia tahu si tua itu akan bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Dia tahu, meskipun Vincent seorang raja, tidak ada yang bisa dia lakukan ketika Barzack berkehendak. Esok, dia bisa saja diusir atau dibunuh tanpa sepengetahuan Vincent.

Sara beranjak dari tempat tidur. Dia ingin membuat kesepakatan dengan si tua itu. Dia sangat takut. Dia tidak pernah berhadapan langsung dengan seseorang yang begitu mendendam hebat kepada rasnya. Dia bisa saja dilenyapkan saat itu juga. Dia bisa saja tidak pernah melihat Vincent lagi. Tapi bagaimanapun, demi menghindari pertengkaran yang lebih panjang, dia harus menemukan kesepakatan dengan pemilik negeri ini.

“Yang Mulia? Anda yakin dengan tindakan ini?” Luca yang ditemuinya di tengah jalan, kini menemaninya menuju ruang peristirahatan Barzack.

“Anda mendapat semua persetujuan dari kami. Aku dan Anthony, kami yang tertua setuju dengan sikap Raja. Anda tidak perlu mendengarkan Barzack. Dia hanyalah pria tua yang sudah mendekati ajal sementara masa depan Vincent bersama Anda masih jauh terbentang.”

Sara hanya menebar senyum senang. Meskipun hatinya dipenuhi kegundahan, dia bahagia mendapati para ayah yang lain mendukungnya.

“Aku akan baik-baik saja”

Sara bisa melihat Luca tidak sepenuhnya setuju dengannya. Luca hanya bisa memberi hormat dan melangkah pergi sebelum Sara mengetuk pintu.

Dan kini pintu itu telah didobrak kuat saat Sara sedang berhubungan dengan mertuanya sendiri. Dalam keadaan penuh syahwat itu, dia melihat suaminya seperti kehilangan kewarasan. Dia melihat suaminya mencabut pedangnya. Dia melihat ayah mertuanya yang sangat terkejut hingga tersentak. Hampir saja Raja menebas leher ayahnya sendiri kalau saja sang ayah tidak ambruk terlebih dahulu karena serangan jantung.

***

Luca

Luca baru saja tiba saat dia mendengar pintu kamar peristirahatan kakaknya didobrak. Dia menyuruh pasukan yang bersamanya memanggil bantuan sementara dia sendiri mencoba mengatasi masalah keluarga ini. Tapi ketika dia melihat apa yang telah terjadi. Dia hanya terdiam.

Dia melihat Raja yang tertegun menatap tempat tidur Barzack. Dia mendapati calon ratu tanpa busana di atas ranjang kakaknya. Dia menatap setengah tak percaya pada tubuh yang tergeletak tak bernyawa disamping sang Ratu.

“Kakak?” Luca mendekati tubuh yang terkapar di lantai dan telanjang itu, “Kakak!”

“Apa yang terjadi…?” Luca memandangi Vincent dan Sara bergantian. Tidak mendapat jawaban, Luca mencabut pedangnya. Emosi, bingung, dan kalut, dia arahkan pedangnya ke wajah Sara yang tertegun ketakutan.

“Apa yang telah kau perbuat kepada kakak?! APA YANG TELAH KAU LAKUKAN?!” Luca berteriak ke arah Sara. Sara hanya diam membisu. Tatapannya penuh kebingungan. Vincent segera mencabut pedangnya juga dan menghalangi pedang Luca yang terarah ke wajah istrinya.

“Ayah, kumohon! Dia istriku!”

“Istri yang telah berselingkuh di belakangmu! Apa kau buta membela seseorang yang telah mengkhianatimu! Dia telah… menusukmu dari belakang, Vincent! DIA TELAH MEMBUNUH AYAHMU!”

Luca melihat wajah Vincent yang mulai ragu. Dia menatap Sara yang menunduk dan mulai menutupi tubuhnya dengan selimut.

“Maafkan aku…,” bisik Sara, “Aku hanya ingin membuat kesepakatan…”

“Dan kau membunuhnya!”

“Dia mati karena serangan jantung, Ayah! Aku melihatnya sendiri! Jangan terus menyalahkan Sara!”

Luca menatap Vincent tajam, “Benar kata Barzack, kau benar-benar dungu idiot! Setelah semua ini kau masih membelanya!?”

“Aku… aku yakin dia punya alasan…, dia…”

“Kalau kau tak punya nyali menghabisi pengkhianat kotor ini, aku punya!” potong Luca tidak puas. Dia mendorong tubuh Vincent hingga terjungkal. Diarahkan kembali pedangnya untuk memotong leher Sang Ratu.

Sara berteriak. Vincent tidak terima. Dia segera mencabut pistol di sabuknya. Dilontarkannya tembakan ke arah Luca. Satu peluru menghantam lengan Luca dan melepaskan pedang dari genggamannya. Pria tua itu menjerit. Tetapi dia segera membalas serangan mendadak itu dengan ikut mencabut pistolnya. Dia melihat Vincent hendak mengayunkan pedang ke arahnya. Tetapi pistol Luca masih terisi penuh.

Satu tembakan menghantam wajah Vincent. Satu butir peluru tepat bersarang di kepalanya. Darah bermuncratan kemana-mana. Sang Raja telah gugur.

Luca hanya bisa terpana dengan tindakan yang telah dia lakukan. Dia masih memegang senjata ketika tubuh Vincent ambruk diatas Barzack. Dia menatap Sara yang hanya terpana bisu. Suara desingan senjata membuat beberapa  pasukan bergegas menuju tempat kejadian.

Dia melihat Anthony yang pertama kali mengguncang tubuh sang Raja, berharap seakan Raja hanya pingsan. Dia melihat, meskipun tidak begitu mendengar, saat Anthony berteriak kepadanya menanyakan apa yang telah terjadi. Dia seperti sedang berhalusinasi. Sara-lah yang menyadarkan kalau kondisinya saat ini tengah gawat. Ratu berteriak kepada Anthony bahwa Luca telah membunuh Raja. Sara menunjuk ke arah pria tua itu sambil meneriakkan kata-kata pembunuh berulang kali sembari berusaha menjauh dari tempat Luca berdiri.

Luca melihat Anthony mengacungkan pedang ke arahnya. Luca melihat bagaimana amarah tak wajar dari Anthony menguasai kedua bola matanya. Luca melihat bagaimana gencarnya tusukan dari pedang Anthony menembus jantungnya berulang kali.

Luca menatap Sara yang berdiri tegak di belakang Anthony. Luca melihat bagaimana wajah cantik itu memberikan senyum terakhir ketika ajal menjemput dirinya.

Saat Vincent memperkenalkan Sara pertama kali padanya, Luca tidak pernah begitu tertegun melihat kecantikan gadis itu. Dia teringat Frederica, ratu Canaan yang begitu dia puja. Wanita paling sempurna di dunia. Sayang, wanita itu harus berakhir gantung diri saat suaminya mendapati dirinya dan Luca tengah berduaan tanpa busana.

Entah bagaimana kesepakatan itu dibuat. Tahu-tahu Luca sudah menunggangi calon menantunya. Sara sudah dihimpitnya. Batang kejantanannya sudah memenuhi rahim calon istri anaknya. Semua kenikmatan luar biasa membuat Luca seperti lupa diri. Luca baru tahu kalau wanita dari ras bersayap memiliki kehebatan dalam bercinta. Luca merasakan sensasi yang tak dapat diungkapkan. Luca merasakan seakan-akan Frederica yang tengah meraung di depannya. Luca merasakan dia tengah bersetubuh dengan Frederica.

“Apakah kesepakatan kita masih berjalan?” Sara mulai berbicara sesudah persenggamaan mereka berakhir sembari membersihkan hasil ereksi Luca di wajahnya.

“Kau… akan bercinta dengan Barzack. Buatlah seakan kamu tengah diperkosa untuk sebuah kesepakatan. Sehingga ketika aku memanggil Vincent, dia melihatmu tengah diperkosa dan pitamnya naik untuk menikam Barzack.”

“Dan, Raja? Aku akan membunuhnya sesuai kesepakatan kita kan?”

“Ya. Bunuhlah dia demi pembalasan dendammu atas apa yang dia lakukan pada Rajamu. Tapi ingat, buatlah seakan Barzack sendiri yang menarik picunya! ”

“Kau juga bukannya dendam pada Raja?”

“Ya…, setelah apa yang dia lakukan terhadap putriku Cordelia…, tapi aku ingin tanganku tetap bersih. Sekarang, aku hanya ingin posisi Barzack dan mengangkat diriku menjadi Raja sepeninggal suamimu.”

“Lalu, bila kesepakatan tidak berjalan sebagaimana semestinya?”

Luca menatap Sara lekat seakan-akan tidak ada kompromi lagi untuk kesepakatan ini, “Kau buat Vincent membunuh Barzack dan Barzack membunuh Vincent. Bila itu tidak terjadi, bila salah satu dari mereka masih hidup saat aku masuk kedalam… berhati-hatilah bila itu yang terjadi!”

***

Anthony

Perjamuan malam ini seharusnya meriah. Seharusnya ada pesta yang luar biasa. Seharusnya ada perayaan yang mewah atas diangkatnya Ratu yang baru yang akan mendampingi sang Raja. Seharusnya setelah itu ada perayaan pernikahan mereka yang akan diselenggarakan selama tujuh hari tujuh malam.

Itu semua tidak pernah terjadi. Sekarang tinggal Anthony sendiri yang berdiri terpaku memimpin perjamuan makan terkelam dalam hidupnya. Para anggota keluarga yang hadir menunjukkan rasa berduka yang luar biasa. Tapi tetap saja Anthony yang merasa paling terpukul. Dia tidak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini.

Anthony sadar bahwa penyimpangan seksualnya dengan mengintip orang lain bersenggama suatu saat akan memberikan manfaat baginya. Dia pernah melihat bagaimana Luca mencabuli Frederica. Dia ingat bagaimana Vincent memperkosa Cordelia. Dan sekarang dia ingat bagaimana percakapan cabul yang dia dengar ketika Sara dan Luca bersenggama seperti binatang.

Dia tahu rencana jahat dua orang itu. Dia seharusnya melaporkan itu semua kepada Vincent demi keselamatan putranya. Tapi dia tidak melakukannya. Tidak setelah apa yang dilakukan Vincent kepadanya.

“Kau akan memilih Ratu???”

Vincent yang terbaring telanjang bersimbah keringat disamping Anthony mengangguk. Anthony yang tadi  berbaring di dada Vincent langsung terduduk.

“Sudah saatnya Ayah, aku memilih pendamping hidup. Seorang Raja tidak pantas memerintah sendiri.”

“T-ta…tapi…,” Anthony seperti baru saja disambar petir, “Aku… aku mencintaimu… Apa aku tidak cukup untukmu?”

“Aku juga mencintaimu, Ayah. Tapi kau harus paham kalau hubungan kita ini tidak bisa dilanjutkan kesana.”

“Tidak!!! Aku tidak terima!!! Aku tinggalkan semua gundik-gundikku demi dirimu. Aku lenyapkan mereka semua sesuai inginmu! Tapi kenapa kau malah mencoba mengkhianatiku?!”

Vincent memeluk tubuh ayahnya dan menjilati dada kekar itu sekali lagi sambil menunjukkan wajah memelas. Wajah mengiba. Wajah dari seekor anjing kecil yang menginginkan persetujuan majikannya. Anthony menjadi sangat lemah. Anthony tidak tahan melihat betapa manisnya wajah itu ketika memohon. Anthony terangsang. Anthony terlena saat Vincent mulai melayaninya lagi.

Vincent terengah-engah kesakitan. Dia meminta lagi dan lagi saat Anthony menungganginya dengan penuh kepayahan. Dari semua pria yang pernah dicintai Anthony, hanya Vincent yang memenuhi semua kualifikasi itu. Vincent, sebagaimana Anthony, sangat mencintai ayahnya. Vincent, sebagaimana Anthony, penuh dengan hasrat yang membara atas ayahnya. Nikmatnya klimaks persenggamaan membuat Anthony jadi kehilangan akal.

“Aku izinkan, Vinnie. Aku rela kau memilih Ratu. Tapi kau harus tetap mencintaiku.”

“Ten-tu Ayah…, tentu!” ucap Vincent sambil mengeluh kencang ketika Anthony ereksi didalam duburnya.

Dan sekarang pria itu marah sejadi-jadinya. Seharusnya saat itu dia tidak mengizinkan Vincent mengangkat wanita busuk itu menjadi Ratu. Seharusnya ketika itu Vincent memberitahukan rencana busuk itu meskipun wajah manis anaknya itu akan dipenuhi kesedihan. Seharusnya dia tidak bersikap egois.

“Te-terima kasih, Ayah,” dia disadarkan oleh suara tercekat dari gadis yang hanya menutupi tubuhnya dengan selimut itu. “Ku…kumohon…, ini semua salah sangka…, Ayah Barzack yang memaksaku berbuat ini dan Vincent…, dia mencoba membelaku.”

“Kau kira aku bisa terperdaya oleh wajah manismu? Kau kira aku tidak tahu apa yang kau dan Luca rencanakan?”

Anthony bisa melihat raut muka gadis itu berubah sangat drastis. Anthony tahu Sara telah mengkhianati Luca yang sudah bersepakat dengannya. Anthony tahu Sara juga telah mengkhianati Vincent dari awal mula mereka menjalin cinta.

Anthony gelap mata saat menyadari anak kesayangannya telah dikhianati oleh wanita yang menjadi alasan Vincent mengkhianati cintanya. Anthony mengambil pedang yang tertancap di tubuh Luca dan memenggal kepala calon istri anaknya.

Perjamuan malam ini begitu kelam. Suara gemeretak piring dan garpu begitu terdengar sendu. Anthony meneteskan air mata berkali-kali saat mengingat wajah terakhir Vincent yang hancur karena tembakan. Wajah itu seharusnya meninggal dalam keadaan manis semanis dia hidup. Anthony menutup matanya. Anthony berusaha untuk tidak menangis tersedu.

Paul menawari secawan anggur untuk menenangkannya. Tanpa basa-basi dia meneguk habis anggur itu, berharap itu dapat mengurangi kedukaan mendalamnya atas kematian Vincent. Tapi alih-alih ketenangan, dia merasa mulutnya mendadak sangat panas.

Dia merasa organ dalamnya terbakar. Dia merasa tubuhnya dicabik-cabik. Dia terjatuh dari kursinya. Dia menggeliat-geliat seperti orang ayan di lantai. Matanya melotot. Mulutnya mengeluarkan busa. Anthony, sang ayah kedua, telah wafat karena racun.

***

Paul

Acara perkabungan telah selesai dan kini hanya dia sendiri di depan peti mati. Diletakkannya cawan yang sedari tadi digenggamnya itu diantara dekapan tangan yang terbujur tenang di atas tubuh Barzack. Cawan yang  biasa diisi dengan anggur paling disukai tuannya itu kini akan menemaninya dalam tidur abadinya. Paul berusaha tidak menangis meskipun sulit. Barzack sudah seperti ayah baginya. Seperti teman baginya. Seperti kekasih baginya.

“Tuan, aku sudah memenuhi semua keinginan terakhir Tuan.”

Paul teringat malam itu ketika dia dan Anthony mengantarkan Barzack dalam kamarnya. Paul ingat bagaimana hebatnya pria tua itu menyetubuhinya berulang kali sebagaimana malam-malam sebelumnya. Tetapi setelah itu, dia dapati tuannya sangat letih daripada sebelumnya.

“Aku yakin…, salah satu dari tiga pria itu mengincar posisiku saat ini.”

“Tuan, saya mohon jangan menuduh mereka. Kecurigaan hanya akan memperparah jantung Tuan.”

“Aku tidak asal bicara, Paul. Aku yakin malam ini…, salah satu dari mereka akan membunuhku! Mereka bertiga…, entah kenapa setuju dengan mengangkat pelacur itu menjadi Ratu. Aku curiga mereka akan menemuiku sesudah perjamuan dan menusukku dari belakang.”

Paul berdiri sambil mengenakan kembali baju dan celananya.

“Perintah Anda, Tuan?”

“Awasi tiga keparat itu! Aku tidak ingin mereka dekat-dekat denganku malam ini!”

Paul mengangguk mengerti. Sebelum dia hendak pergi lagi, Barzack menahan langkahnya.

“Apabila aku mati dan ada satu saja dari tiga orang itu masih berdiri di perjamuan malam besoknya. Bunuh dia! Berikan dia anggur dengan racun yang kau tuang ke cawanku karena ini adalah pembalasan dendamku. Aku tidak sudi kursiku direbut oleh tangan-tangan kotor mereka dan aku yang akan membunuh dia yang mencoba mendudukinya!”

Paul mengangguk pasti. Meskipun berisiko, meskipun harus mengkhianati seluruh keluarga besar kerajaan, dia akan melakukan apapun demi kekasihnya.

Ditatapnya wajah tua yang sudah terbaring tenang itu, Paul mencoba tersenyum. Dia mengambil pistol yang terselip di balik sakunya. Diarahkan moncong pistol itu ke dalam mulutnya. Untuk apa dia hidup kalau kekasih yang disayanginya sudah tiada?

***

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer dede
dede at Night of Anberin (4 years 48 weeks ago)
100

Ini cerita yg berputar putar antara 1 keluarga, tp saya bisa menikmati sampai akhir... well, ini keren
.
Ga nyangka, paul yg d awal hanya disebut secuil, jadi penuntas cerita yg punya peran lumayan...
Yg saya masih bingung, ini makhluk apa toh? Ayah bisa sampe 3? Apa istrinya boleh poliandri ato gmn?
Trus ada makhluk dr ras bersayap... apa ini sekelumit cerita dr fiksi fantasi?
Sepertinya ada sedikit kesalahan nama pd bagian anthony. Yg harusnya d tulis anthony, tp yg tertera vincent...
.
Terus berkarya di kekom ya, biarlah saya hanya jd penikmat setia d sini... hehe

Writer kartika demia
kartika demia at Night of Anberin (4 years 48 weeks ago)
80

Cuma mau komen penulisan; disini, disana <--btw itu salah penulisannya.
Udah.
#digaplok

Writer aocchi
aocchi at Night of Anberin (4 years 48 weeks ago)
80

Hyaaan~ Lama banget nggak baca ceritanya Bos Al, ternyata sudah jadi seepic ini.

I mean, this story is so messed up. Tapi, jalinannya bisa saya pahami walaupun mengambil multiple PoV. Ghosh, ceritanya bikin saya teringat GoT. Bunuh saja semuanya -_-"

Ini masalah selera sih. Dan Motivasi setiap karakternya sebenarnya masuk akal. Saya cuma nggak terlalu sreg aja sih kalau masalah semua-karena-cinta. Ya, masuk akal, cuma terlalu absurd buat saya #digaplok

Writer daniswanda
daniswanda at Night of Anberin (4 years 48 weeks ago)
90

Keluarga yg absurd...
Okeh, selamat, kamu adalah penulis cerita terpanjang di tantangan kali ini. Tapi kamu cukup cerdik untuk membuat rentetan tragedi terjadi di sini, ngebuat saya betah bacanya. Cuma agak kurang bulet aja ceritanya. Soalnya di awal2 nggak ada clue tentang si Paul ini. Padahal dia yg nutup cerita tragedi ini. Sekian dan terima kasih udah ikut tantangan.

Writer citapraaa
citapraaa at Night of Anberin (4 years 48 weeks ago)
100

Cerita yang rumit, jujur kelabakan dengan orang-orangnya. Tapi keren, jadi banyak skandal.
(Ketika situ terbatasi dengan 3000kata, w malah harus nambah-nambahin kata :/)

Writer The Smoker
The Smoker at Night of Anberin (4 years 48 weeks ago)
60

Waduh2, haha..
Pertama saya skrol ke atas setelah hentakan ke dua si Barzack tua di meja makan. Di hentakan pertama: "Dia beberapa kali mengumpat, menghentakkan tangan sampai semua hidangan disana bergemerincing jatuh."
Terus di hentakan ke dua : "Satu lagi gebrakan kuat dan hampir semua hidangan disana berantakan ."
Bukannya hidangan udah pada jatuh semua di hentakan pertama?
.
Semangat, mas Al... X)

Writer kukuhniam
kukuhniam at Night of Anberin (4 years 48 weeks ago)
80

bingung mau komentar apa.
begini saja, saya suka dengan banyak karakter tapi memiliki peran penting masing-masing. Sayangnya, saya merasa pengemasannya kurang mulus. banyak alur-alur melompat-lompat secara dadakan. banyak flash back dadakan pula. mungkin kalau jadi film bagus kayaknya.
skandal semua tokoh yang terungkap boleh juga, tapi kenapa di awal tidak diberikan clue agar tidak terkesan tahu-tahu punya skandal. semisal sorot mata cemburu (entah gambarinnya gimana) antony ke vincent. perlakuan luca pada sara yang dibuat mencolok misalnya. misal lhoh ini.

Writer alcyon
alcyon at Night of Anberin (4 years 48 weeks ago)

pengemasan, alur, flashback, bagaimana caranya mengemasnya dengan mulus dalam 3000 kata? panitia2 itu yang membatasi sampai2 karyaku tidak bisa ekspansi...maafkan aku... telah mengecewakanmu, pembaca.
btw, terima kasih komentarnya mas, salam kenal.