Wajah-wajah dalam catatan

Wisnu

 

Lukisan itu menatapku. Gambar liukan garis dengan berbagai bentuk aneh yang tidak dimiliki realita. Mungkin sebentuk mahkluk dengan mata hitam berbentuk segi delapan berkepala lonjong. Sulit mengerti arti dari lukisan itu.

“Orang yang melahirkan surealis untuk pertama kali, pastilah kehilangan kewarasannya atau terlalu tolol untuk melukis hal-hal nyata.” Katanya dengan nada mencemooh.

Suara itu lagi. Pemiliknya menatapku dari balik gelas berisi anggur berwarna hitam. Matanya yang gelap dan sayu menimbulkan kesan memuakkan.

“Berhenti bicara!”

“Kenapa? Telalu takut untuk mengungkapkan kebenaran di hadapan mereka?” Ia mengarahkan gelasnya ke luar jendela lantas memberi hormat dengan sopan santun yang dibuat-buat.

“Tidak!”

“Lantas?”

“Berhenti bicara! Kau membuat kepalaku pusing!”

“Jangan berlagak seperti banci begitu. Bicara lantang dengan sarkasme super kejam padaku tapi bermanis-manis pada mereka. Jujurlah pada dirimu sendiri!”

“Apa yang kau tahu tentang kejujuran?”

“Ooh, aku tak tahu apapun, aku hanya membuktikannya saja. Tapi kau lebih pandai berteori dan menjilat daripada siapapun. Ketika seseorang berada di tingkat lebih rendah darimu, kau akan menginjaknya. Tapi khusus untuk mereka yang lebih tinggi, lebih pandai, lebih...lebih...dan lebih, kau akan menjilat bokong mereka. Dasar kotoran!”

“Keparat, keluar kau sekarang!”

“Astaga, berhentilah merengek seperti anak kecil.”

“Diam! Diam! Diam!”

Kepalaku terasa pening. Entah bagaimana ruangan ini seolah begitu sempit hingga tidak mampu menampung luapan emosiku. Kebobrokan yang baru saja diungkapkannya mungkin adalah salah satu fakta yang menggambarkan diriku secara tepat. Aku merasa seperti telanjang, seperti dipaksa mengakui kesalahan di hadapan seluruh dunia.

Sementara di sana, di ujung ruangan, laki-laki itu menatapku hampir kasihan. Menghabiskan anggur di tangannya dan melempar gelasnya ke arah dinding. Menghamburkan ribuan pecahan kaca.

“Kau bukan orang pertama yang kutahu memiliki pikiran busuk. Berbahagialah karena itu.” Ia mengeluarkan sebatang rokok, dan menyalakannya. Menghembuskan asap kelabu tebal dari hidungnya. “Aku akan menunjukkan padamu apa itu kejujuran.”

 

............

 

Catatan:

Kantor polisi,  09 Oktober 2000

 

Mereka menanyaiku tentang banyak hal. Dan aku menjawab sesuai yang kuketahui, yaitu: tidak tahu tentang apapun.

Pagi ini, aku bangun dari tempat tidur dengan tulang punggung seperti remuk. Seolah ada seekor gajah melompat-lompat di atasnya. Selanjutnya, mereka mendobrak pintu dan menyeretku ke sini. Lengkap dengan piyama dan surat kabar terselip di sela kaki. Harusnya aku menuntut mereka karena itu.

Kata mereka, semalam salah seorang petinggi perusahaan tempatku bekerja, tewas di apartemennya dengan keadaan mengerikan. Sebelah lengannya putus setelah dihantam benda tumpul berkali-kali dengan kekuatan si manusia hijau Hulk, sayatan terbuka di perut, dan tusukkan di mata hingga tembus belakang kepala. Melihat foto yang ditunjukkan para polisi itu sama sekali tidak lebih buruk daripada mendengar mereka memberikan deskripsi. Demi neraka, bahasa mereka jelek sekali.

Setelah lebih dari tiga jam tertahan di kantor polisi, mereka membebaskanku.

 

...................

 

Wisnu

 

“Sejarah telah membuktikan banyak hal, seperti aku membuktikan padamu apa yang bisa kulakukan untuk merubah keadaan.”

“Apa kau tidak bisa diam?”

Ia menghisap rokoknya dalam-dalam, lalu menghembuskan asap yang jauh lebih tebal daripada sebuah knalpot bus bobrok.

“Cukup banyak bagian busuk yang kuketahui daripada seluruh isi otakmu dijadikan satu.”

“Aku sudah sering mendengar omong kosong semacam itu. Simpan saja bualanmu untuk ahli sejarah. Sekarang lebih baik kau tutup mulut.”

“Cih, kau hanya pengecut yang takut akan kebenaran dan bersembunyi di balik topeng. Dasar mahkluk rendah”

“Kuberitahu sesuatu tentang sejarah, aku menjadikannya pondasi untuk bertahan hidup. Belajar dan beradaptasi melalui hal yang kuketahui dan kupelajari.”

“Menangislah atas pengetahuanmu yang amat sempit itu, dan berbahagialah karena banyak pemimpin terdahulu juga berkata seperti yang kau katakan. Gajah mada bermulut besar, mengumandangkan sumpah yang hampir mustahil dilakukan manusia. Apa yang dilakukannya untuk memenuhi ambisinya yang meluap seperti comberan diguyur hujan?” Ia mematikan rokoknya. “Ini bagian yang tidak kau -atau siapapun- tahu, Gajah Mada meminta bantuan setan. Mengutuk jiwa para prajurit dan jiwanya sendiri. Ia menaklukan seluruh daratan dengan merubah pasukannya menjadi gerombolan manusia liar yang haus darah. Dan apa yang dilakukannya setelah sumpahnya terpenuhi? Jangan salah sangka, dia sama sekali tidak menatap langit dan tersenyum lega. Ia memburu dan membunuhi prajurit yang telah membantunya mencapai ambisinya dan menghapus kebenaran. Demi apa semua itu dilakukannya? Cih, sama sepertimu. Dia belajar dari para pendahulunya. Membersihkan namanya dari cacat. Agar siapapun mengumandangkan namanya sebagai orang suci.”

“Omong kosong!”

“Butuh bukti lain? Baik, kuberi yang kau mau.”

 

................

 

Catatan:

Ruangan, 16 November 1995

 

Cipratan darah di dinding, seonggok tubuh tergeletak di sisi tempat tidur, dan pisau lipat di tangannya. Bukankah ini mengerikan? Sayangnya aku buka penulis novel horor yang hebat, segalanya kulihat dari sisi yang berbeda. Yah, tidak perlu novelis tangguh untuk menulis catatan kecil seperti ini.

Lengannya lemas, pisau itu jatuh dari genggamannya. Ia mendekati tubuh yang diam di atas tempat tidur. Ia mengenalinya. Perutnya tiba-tiba serasa diaduk-aduk melihat siku lengan itu bergerak ke arah sudut yang mengerikan karena luka potong yang menghancurkan tulang. Merasa bahwa cukup bukti konkret kalau bukan ia yang melakukan pembantaian sadis ini. Tidak ada manusia yang cukup kuat untuk menghancurkan tulang hanya dengan pisau lipat. Membutuhkan tenaga super kuat untuk itu.

Dan ia –tentu saja- bukan Superman! Setidaknya untuk saat ini ia hanya laki-laki kurus yang selalu terlihat canggung. Jadi sesegera mungkin ia melarikan diri sebelum apa atau siapapun menyadari kalau dirinya pernah berada di tempat dan waktu yang salah.

 

................

 

Wisnu

 

“Kau! Aku ingat kau sekarang!”

“Wow, selamat! Butuh waktu lama untuk membuat orakmu bekerja, eh?”

“Kau yang membuatku melakukan ini semua! Kaulah orangnya!”

“Yayaya, teriakkan saja pada seluruh dunia. Biar aku tenar!”

Aku beringsut menjauhinya. Mendekati pintu. Mengguncang-guncangkan gagangnya dengan kalut.

“Jangan bergerak! Atau aku akan melakukan kekerasan.” ancamku.

“Dengan apa? Tidak ada otot tersisa dari tubuhmu. Berhentilah berteriak-teriak, tidak akan ada yang mendengarmu!”

“Jangan mendekat lagi! Kuperingatkan padamu! Tolong...tolong!”

“Seperti kukatakan tadi, Tidak akan ada yang menolongmu. Nah jika kau mau mendengarkan sebentar, aku-“

“Tidak, jangan racuni aku dengan omonganmu lagi! Aku tidak akan terpengaruh dan jangan kau berani maju selangkah lagi saja, atau aku akan benar-benar mengambil tindakan yang akan kausesali.”

“Apa contohnya?”

Sejenak aku ragu. Kemudian menemukan sesuatu yang bisa kujadikan senjata.

“Aku akan menusukmu dengan pecahan gelas ini!”

Ia memandangku ragu. Mungkin menimbang-nimbang tingkat kenekatanku. Lalu tanpa berpikir kalau aku adalah sesuatu yang penting, mengalihkan pandangannya pada hujan yang mulai turun di balik jendela.

“Kau tidak akan punya keberanian semacam itu. Kutantang kau untuk membuktikan!”

 

............................

 

Catatan:

Kamar mandi, 1 Januari 2011

 

Aku membersihkan darah dari tubuhku. Sayatan ini tidak berarti apa-apa dibanding luka yang kuhasilkan. Dia memang keparat! Aku seharusnya melenyapkan dia duluan. Sekarang aku lemah. Sama lemahnya seperti ikan dalam toples.

Yaah, sebenarnya aku sendiri menikmati hanya dengan membayangkan saat-saat melihatnya terkapar. Darah memenuhi lantai keramik dan mengalir melewati kakiku. Rasanya seperti berada di atas sungai di surga. Berada di atas segalanya. Tetapi bayangan itu menghantuiku. Kepolosannya menilai sesuatu seperti menjadi racun dalam kepalaku.

Keparat!

Sayangnya kenyataan tidak pernah sebegitu simple. Kebaikan hanya menang dalam dongeng.

 

......................

 

Wisnu

 

“Uhm..., puas dengan sayatan kecil ini? Tidak mau melanjutkan lagi? Aku bisa melakukan ini sepanjang malam hingga kita berdua mati.”

Deru napasku terdengar begitu keras sampai telinga. Jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya. Lengannya terluka, aku berhasil melukainya. Tapi dia juga berhasil melukai lenganku. Bukan pertanda baik.

“Bagaimana? Bisa aku bicara sekarang?”

“Tidak ada yang perlu dibicarakan. Mundur sebelum aku melukaimu lagi!”

“Yang berarti, kau sedang berusaha melukai dirimu sendiri.”

“Jangan bicara ngawur!”

“Jangan memaksaku memberi bukti lagi. Kau bisa mati!”

“Apa maksudmu?”

Wajahnya mulai menampakkan paras tak sabar. Aku sama sekali tidak perduli selama dia menjaga jarak dariku saat ini.

“Sudah bercermin akhir-akhir ini? Kurasa belum. Bercerminlah!”

“Dan mengalihkan perhatianku darimu sehingga kau bisa membunuhku? Tidak terima kasih.”

“Baik, aku akan mundur dan membalikkan tubuh. Kau bisa menggunakan kamar mandi dan mengunci dari dalam. Aku tak akan bisa masuk.”

Mungkin aku bodoh, tapi kulakukan yang disarankannya. Paling tidak dengan berada di dalam kamar mandi terkunci membuatku merasa lebih nyaman. Jauh darinya dan kegilaan yang disebarkannya.

 Cermin yang dimaksudnya berada di sudut sana, lengkap dengan wastafel berwarna putih yang halus. Kulihat wajahku dan membuktikan satu hal.

 

..............

 

Catatan:

Kamar, 5 Januari 2011

 

Menunggu memang bukan hal yang menyenangkan. Dasar bodoh! Harusnya aku sadar kalau dunia ini bukan tempat dimana orang meletakkan janji sebagai hutang, tetapi sebagai komoditas yang laris diperjual-beli-kan.

Dia dalam perjalanan. Setelah tahu siapa dirinya, dia mulai bisa menerima keadaan dan kami-pun menjadi partner yang baik dalam hubungan yang lumayan aneh. Tidak perlu dikatakan hubungan seperti apa itu, yang jelas dia membuat semua menjadi lebih menenangkan bagiku.

Satu jam sampai akhirnya wajah cemberut bermata sayu itu menampakkan diri. Sesuatu dalam langkahnya mengisyaratkan bahwa sesuatu telah terjadi. Ah, benar saja. Keparat itu melakukan sesuatu. Darah membasahi seluruh tubuhnya. Ia menatapku dengan pandangan aneh sebelum akhirnya roboh.

 

.............

 

Wisnu

 

Pintu berderit terbuka dan aku keluar dengan kekagetan luar biasa. Sementara laki-laki itu tersenyum dan dengan santainya menatapku sambil bersandar pada dinding. Mengepulkan asap dari sela bibirnya.

“Apa maksudnya ini?”

“Maksud dari apa?”

“Ini!” Aku menunjuk pada wajahku yang kali ini baru kusadari bukan wajahku.

“Ooh, itu wajahku.”

“Wajahmu? Lalu bagaimana bisa ini jadi wajahku?”

“Kita bertukar tempat, ingat?” Jeda, ia menghisap rokoknya sekali lagi. “Itu prosedur yang harus kau penuhi. Pertukaran tempat, tubuh, wajah, kelamin, semuanya. Dengan kata lain kau jadi aku, dan aku-“

“Jadi aku yang membunuh orang-orang itu?”

“Well, secara hukum, akulah yang membunuh mereka, sementara kau ada di sini. Mengisi catatan harian kegiatan tersembunyi, merokok dan minum segelas anggur  lalu memecahkan gelasnya karena kesal pada orang idiot yang suka lupa ingatan!”

“Ini pasti mimpi buruk.”

“Bodoh. Aku akan senang mendengarmu meratapi betapa cerdasnya dirimu meminta bantuanku selama ini tapi aku terlalu lelah untuk itu. Sekarang kembalikan semua yang kau pinjam karena aku ingin segera beristirahat.”

“Tapi..., aku..., bagaimana caranya?”

“Kukatakan, itu efek samping yang ditimbulkan bila kau terlalu sering mengutuk dirimu sendiri. Bukankah tadi sudah kuceritakan tentang Gajah Mada?”

“Lalu bagaimana cara mengembalikan semuanya?”

“Mudah, kau bisa melakukannya dalam satu langkah."

Itu kalimat terakhir yang kudengar sebelum sebuah kepalan menghancurkan kesadaranku.

..................

 

Kepalaku terasa berputar di tempat. Dunia miring dan semakin miring. Nyawaku sepertinya belum berkumpul. Tiba-tiba ingatan semalam menghapiriku. Kontan aku berlari menuju kamar mandi, mendapati wajahku sudah kembali.

Aaaah. Aku rindu si kurus ini. Tubuh kering penuh dendam dan kehausan akan hasrat menusuk. Andai aku penulis novel handal, mungkin ini akan menjadi kisah horor yang menarik dibaca. Sayangnya bukan begitu keadaannya. Cih, aku sama sekali tidak tertarik menulis sekarang ini. Jam menunjuk pukul 15:49. Masih sore. Masih cukup waktu untuk mandi dan menyiapkan peralatan. Aku butuh penyegaran, mungkin sedikit pembunuhan?

Bagaimana menurutmu?

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer nusantara
nusantara at Wajah-wajah dalam catatan (3 years 26 weeks ago)
80

wow, ceritanya wow, wow, wow,
wah, baca sebentar tapi...
butuh waktu khusus untuk membaca ini

Writer Wanderer
Wanderer at Wajah-wajah dalam catatan (6 years 15 weeks ago)
2550

:))

Writer Nine
Nine at Wajah-wajah dalam catatan (6 years 15 weeks ago)
100

Aseeeek, pakabar, bang? ^^ sama seperti emak di bawah, sy msh blum sepenuhnya mengerti kejadian2 yg terjadi, dan korelasi antara dua tokoh yg berbincang2 sepanjang cerita. Hmmmmm, menyoal pertukaran wajah, sy jdi ingat film john travolta sama nick cage (ya klo nda salah), sama dengan ini, bertukar wajah juga. Klo dri ketegangan, penasaran iya, cman krna sepanjang pembacaan sy msi mikir2 apa yg terjadi dan hubungan antara satu kejadian ama kejadian lain, kurang bsa masuk di thrillernya. Sekian komen yg ngawur ini, bang. Jadi, mulai posting lgi nih? ^^

Writer arsenal mania
arsenal mania at Wajah-wajah dalam catatan (6 years 15 weeks ago)

Kabar baik om sarjana tampan. Ahahaha, cuma posting doang kok om :D

Writer Nine
Nine at Wajah-wajah dalam catatan (6 years 15 weeks ago)

Amin, bang, Amin. ^^ ahahaha

Writer kartika demia
kartika demia at Wajah-wajah dalam catatan (6 years 15 weeks ago)
90

.
Thrillernya dapet, saya suka adegan darah-darahnya. Tapi saya kurang nangkep karakter aku-nya. Dia punya kepribadian ganda atau gila? @.@
.
menghembuskan--> mengembuskan
merubah--> mengubah
menghisap--> mengisap
perduli--> peduli
kami-pun--> kami pun
Perhatikan lagi penulisan emdash