Tantangan Bintang: Perahu Bapak [Expired]

Read previous post:  
77
points
(167 words) posted by daniswanda 5 years 10 weeks ago
77
Tags: Cerita | Cerita Pendek | cinta | prosa
Read next post:  
100

Baca tulisan ini tuh, kadang pikiran saya gini:
"Kapan ini selesai?"
"Kontempelasi-kontempelasi (kayak tahu artinya aja :v) di tulisan ini agak menuh-menuhin."
"Widih gila, kok bisa mikir gini idenya?!"
"Yak, selesai. Ternyata begitu, toh, oke."
.
Pada akhirnya, saya nikmatin cerpen ini dalam waktu dua kali 12 jam. Tidak bisa habis sekali duduk. Tapi mungkin itu saya doang XD
.
Terus menulis, Mbak( '-')9
Salam lemper(?)

Ahahah, ngebosenin yak Thiya? Maksudmu kontemplasi? ora mudeng saya.
.
Kalo bole jujur, memang cerita ini agak blur sih konfliknya. Jadi nggak ketauan kapan akan selesai pas bacanya. Tau2 uda abis aja :D
.
Yuk ah, salam cucur

80

habis ngapain kok keringetan?
.
hm, kesan dalam pembacaan saya seperti karet yang ditarik agar sesuai dengan apa yang diharapkan (apa coba?) dan hanya karet, tidak ada benda lain.
.
intinya, hampir sama dengan kesan Z, kecuali "paradoks mesin waktu"-nya. Buat saya itu penegas akhir dari tak ada awal dan akhir dalam cerita, tapi tentu cerita ini memiliki awal dan akhir (another paradoks). Bwahahaha.
.
sekian, maaf jika tidak berkenan.

Seperti karet yak, hmmm, mungkin maksudnya inti ceritanya terlalu luas ya. Emang sih. Saya bikinnya nggak pake plot khusus. Cuma dibagi 2 kejadian aja intinya, pas si bujang kecil sama pas dia remaja.
.
Yap, paradoks itu emang uda saya incer dari awal nulis, jadi ujungnya memang mau dibawa ke situ.
.
Sip dah El, selalu berkenan.

90

Secara ide saya suka, karena meski panjang seolah banyak konflik yang nggak bikin bosen.
Banyak pula petuah-petuah yang seolah wajar dari ayah kepada anaknya di setiap kisah.

Tapi, saya jadi sedikit sependapat dengan om smo. Terasa banyak ide, jadi terkesan terlalu luas.
Memang sih perjalanan di laut itu pasti panjang dan banyak yang ditemui.

Iyap. Saya ambil kejadian-kejadian yg negesin karakter si Bapak aja di sini sih.
Makasih komennya Mas Kukuh.

100

Saya kasih poin penuh dulu buat yang ikutan. Review lengkap tunggu tanggal 23 ye~

90

Gw sempet mikir,
Ini semacam paradoks mesin waktu... yg muter aja terus (si bujang dan ayahnya) karena nggak ada sama sekali clue mengenai latar keduanya di awal. Istri, rumah, ibu si bujang, dll. Pertama gw mikir itu yg kosongnya dari cerita ini, tapi pas gw mikir kemungkinan tentang paradoxial itu, Gw sedikit tenang dan bisa buka jam 12 siang #digodog
Tapi, lantas, barangkali, gw kuciwa (kuciwa nggak terlalu sii, maksudnya herman aja) berangkat dari pembacaan sekilas gw yg pertama... Fungsi2 kepulauan wanita naked sama harta karun itu cuma buat karakterisasi tokoh aja yak?
Kirain awalnya mereka2 itu ada sedikit hubungannya dengan latar si tokoh, masa lalu, asal usul.. (ya ini muncul pertama sebelum gagasan paradox itu)
Kalau benar gagasan gw yg kedua, cerpen lu sepi, sekaligus terlalu lebar pulak rasanya. Intinya masih bisa dipadetin.
.
Betewe, Gw suka ikan yg buat penghitung umur itu... dan ide perputaran monoton asal usul mereka, haha..
*Salaman*peluk*remesgorden*

Idenya mau bikin yang agak surealis gitu, Bro. Bapak-anak hidup di atas perahu seumur hidupnya dan berulang gitu terus. Si anak belajar jadi "Bapak" ngikutin teladan Bapaknya. Jadi adegan di pulau-pulau itu semua buat nuatin karakter si Bapak aja. Cuma itu sih fungsinya.

Masih terlalu lebar yak? Ahahah.
Okelah nanti gw pikirin gimananya.
Makasih masukannya Bro.

90

Di awal pov anak kecilnya kurang dapet, Dan. Lalu adegan pas si aku pertama kali liat perempuan2 telanjang itu kok datar, gak da ekspresi kaget ato apa gitu. Komennya ngirit aja yak, yang laen2 biar dikoreksi ama jurinya. Hehe

Kurang dapetnya di mana, Kart? Apa kata-katanya kurang sederhana?
Soal reaksi si Bujang itu soalnya gw mikirnya dia kan bertualang terus, jadi dah biasa liat org berbusana minim atau enggak sama sekali. Jadi waktu liat perempuan polos pertama kali ya ga terlalu kaget juga.
Suwun masukannya.

Diksimu terlalu oke buat pov anak2. Misal; Gelap malam meluruh sejauh mata memandang, dll.

Apakah hanya karena tokohnya pernah jadi anak-anak lalu dewasa, ketika masih anak-anak povnya harus dibuat seolah anak-anak mbak kar?
Terus, semakin bertambah umur gaya penulisannya juga harus berbeda?
Numpang cari ilmu sih!

Seperti komen smoker, latar pergantian usia tokoh kurang jelas.
Misalnya jika, di awal tetep pake diksi berat, tapi ada,keterangan 'pikirku kala itu' dlsb yang menunjukkan tokoh aku lagi nostalgia/bercerita tentang masa kecilnya.