[Extra Sequence ~ <Another Dream> : Side E, Part 1-3]

Part 1

 

Malam itu tak ubahnya seperti pagi hari, namun dengan balutan angkasa yang kelam alih-alih biru cerah. Dua buah bulan tampak penuh dan bercahaya, seolah tidak butuh iring-iringan ribuan bintang di belakang mereka. Pada malam-malam seperti ini, mereka yang tinggal di bawah atap langit tidak memerlukan penerangan lain kecuali untuk di dalam ruangan.

 

Lagipula, kebanyakan manusia sudah terlelap di waktu malam. Beraktivitas di malam hari diyakini menyalahi kodrat manusia, bahwa ‘pagi hari adalah waktu bagi umat manusia, sementara malam hari adalah waktu bagi para dewa’.

 

Namun di tengah kesunyian malam hari ini, sesosok berjubah kumal tampak menyusuri hutan, meninggalkan sebuah desa di daerah perbukitan.

 

Keluar dari hutan, yang menyambutnya adalah area berkabut pekat, di mana cahaya bulan pun tampak enggan membantu mata melihat ke depan. Bagi kebanyakan orang, menembus area berkabut ini sama saja dengan menyesatkan diri sendiri – perumpamaannya hampir sama seperti seseorang yang akan kehilangan arah saat berada di tengah-tengah gurun pasir luas. Tidak ada yang mau mengambil risiko tersesat menyusuri tempat yang tak bersahabat dengan manusia, apalagi di malam hari yang rentan akan bahaya dari mahluk asing yang merajai malam.

 

Tapi sang sosok berjubah sudah terbiasa dengan hal tersebut. Justru di malam-malam seperti inilah ia senang melakukan perjalanan ini.

 

Semuanya berawal dari sebuah ketidaksengajaan, saat ia berniat lari sejauh-jauhnya dari desa karena satu dan lain hal. Dituntun takdir, upayanya untuk menghilang dari dunia dengan ditelan kabut malah mengantarnya ke sebuah tempat yang ia kira hanya mitos turun-temurun dari para penduduk desa.

 

Sebuah danau di puncak bukit.

 

Terlindungi oleh kabut di sekelilingnya, dinaungi oleh dua buah bulan yang menerangi di atasnya, memantulkan bayangan mereka di atas permukaan danau.

 

Di danau inilah ia bisa merasa sendiri. Seluruh dunia untuk dirinya sendiri.

 

Pada hari inipun, kembali ia mengutarakan keluhannya tentang kehidupan sehari-hari. Tentang hal-hal yang sebenarnya remeh untuk dibicarakan. Tentang masalah yang umum terjadi di antara masyarakat dunia. Tentang apa saja.

 

Baginya, danau ini sudah seperti sahabatnya sendiri.

 

Dan malam itu tanpa sengaja ia meminta dalam hati. Agar dewa, atau siapapun yang dapat mendengar pintanya, menghadirkan seseorang untuk menemani.

 

Baru saja ia berpikir demikian, tiba-tiba saja dari dalam danau timbul sebuah riak. Memecah bayangan dua buah bulan, kemudian mewujud di atas permukaan sebagai sebentuk mahluk yang tak dapat dijelaskan dengan kata-kata.

 

Ia tidak pernah melihat mahluk seperti ini seumur hidupnya. Tidak bertulang, tidak berdaging, tidak berwarna. Hanya sebuah gumpalan yang muncul begitu saja dari danau, seperti tidak tahu harus mengambil wujud apa untuk menampilkan diri. Apakah ini entitas yang menghuni Danau Kabut selama ini?

 

“Siapa kau?” tanyanya tanpa memikirkan apakah sosok yang hadir di depannya ini dapat berkomunikasi atau tidak. Beruntung baginya, karena ia dapat mendengar sebuah suara membalas,

 

“Aku adalah roh penghuni danau ini,” jawab gumpalan air(?) tersebut. “Wahai manusia, selama satu tahun ini kau terus mendatangiku hampir setiap malam purnama, berbicara panjang lebar dengan mulut boros seperti air terjun yang tidak bisa berhenti. Kau tahu, sudah berabad-abad aku tertidur di sini, hanya untuk dibangunkan oleh mahluk remeh sepertimu. Sebenarnya apa maumu?”

 

“Jadilah temanku!”

 

“…ha?”

 

 Bahkan sang roh penunggu danau(?) tidak menyangka balasannya secepat itu.

 

“Tunggu, tunggu. Kau tidak pernah dengan cerita soal Danau Kabut ini? Tentang monster yang akan memakan siapapun yang menceburkan diri ke dalam danau?”

 

“Memangnya kenapa dengan itu?”

 

“Kau tidak bisa menebaknya? Akulah monster itu! Aku terutama senang sekali memakan daging gadis-gadis muda, dan dengannya mereka memberiku kemudaan abadi, sehingga aku bisa hidup selama-lamanya. Dan aku bisa mencium dari baumu kalau kau juga seorang gadis yang bisa kusantap setelah sekian lama. Kalau kau menurut, tidak akan sa—“

 

“Kalau kau mau, makan saja aku.”

 

“….huh?”

 

Lagi, sang monster pemakan gadis(?) larut dalam keheningan sesaat.

 

“Silakan,” ujar gadis itu, menyibak tudung dari jubah yang ia kenakan, dan menampakkan sesosok wajah. Kulit gelap, hidung besar, bibir tebal, kantung mata lebar, mata sipit, rambut berantakan seperti binatang liar, penuh jerawat dan bau tak sedap….sebut saja segala hal yang mendefinisikan sebuah ‘wajah buruk rupa’.

 

Namun, ia tersenyum lebar. Suaranya pun sama sekali tidak menunjukkan ketakutan, seakan tidak peduli siapa mahluk asing yang muncul di hadapannya dan apakah yang ia katakan adalah kebenaran atau kebohongan. Semua itu sama sekali tidak menjadi pertanyaan di pikiran sang gadis.

 

“Kenapa? Apa gadis jelek sepertiku bukan makananmu?” tantangnya lagi. “Apa aku tidak punya harga sama sekali, bahkan di mata mahluk yang bukan manusia sepertimu?”

 

Kali ini gumpalan air di tengah danau kehilangan suara. Ia kembali melebur ke dalam danau, sebelum kemudian muncul kembali di tepi danau, kini dengan wujud hampir serupa dengan sang gadis, hanya saja tanpa warna selain yang terpantul oleh cahaya bulan.

 

Mahluk penunggu danau itu kemudian bertanya lagi,

 

“Kau serius ingin menjadi temanku? Terakhir kuingat sebelum aku tertidur untuk waktu panjang, semua manusia yang datang ke sini selalu datang untuk bunuh diri, dan aku hanya membantu menuruti keinginan mereka dengan menarik mereka ke dasar danau, menemaniku tidur selamanya. Saat kau pertama kali datang dulu sekali, kukira kaupun berniat bunuh diri pula. Baru kali ini aku mendengar ada manusia yang ingin berteman denganku. Apa kepalamu baik-baik saja?”

 

“Aku baik-baik saja. Atau mungkin, aku tidak baik-baik saja. Terserah kau menganggapku yang mana,” ujar sang gadis, masih tidak mengendurkan senyumannya. “Tapi yang jelas, keinginanku untuk berteman denganmu bukan main-main. Aku jamin.”

 

Ia mengulurkan tangannya. Sang monster air tampak ragu, walau hanya untuk sesaat. Tangan basahnya pun menyambut genggaman sang gadis, meski lebih tepatnya menelan tangannya di dalam air alih-alih menggenggam.

 

Hangat.

 

Lebih hangat dari apapun di tengah dinginnya udara malam ini.

 

“Hehe, dengan begini, kita sudah resmi berteman, ya,” kata gadis itu riang. “Kenalkan, namaku Eve. Eve Constella. Senang bertemu denganmu, Mira.”

 

“Mira?”

 

“Ya. Kamu pasti tidak punya nama kan? Daripada sebutanmu berubah-ubah terus dari roh penunggu danau, monster air, atau apalah itu, lebih mudah kalau kau punya nama panggilan. Namamu Mira, karena sosokmu bagaikan cermin yang memantulkan cahaya untukku. Bagaimana?”

 

“Mira, eh… Boleh juga. Kedengarannya indah.”

 

Andai sang mahluk yang baru saja bernama Mira ini memiliki wajah, mungkin iapun kini akan tersenyum bersama Eve.

 

Di bawah cahaya dua bulan, dua sosok di tepi danau malam ini telah menjadi sepasang teman.

 

“Jadi…apa yang harus dilakukan oleh seorang ‘teman’?”

 

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
70

dibaca awalnya udah kelihat kalo ceritanya bagus,

Writer sandas
sandas at [Extra Sequence ~ : Side E, Part 1-3] (4 years 44 weeks ago)
90

boleh juga ceritanya dan seru

____________________________________
Dapatkan segera harga Tali Lanyard Murah Meriah di Tenggilis Mejoyo Selatan X / M03 Surabaya

ceritanya lumayan juga gan untuk disimak

_________________________________
Jual Patung Manekin | Mikroskop Binokuler Murah