Mangata

TUKANG tangyuan keparat! batinku. Semangkuk bola-bola manis dari tepung beras itu telah membuatku sakit perut. Entah dicampur bahan apa oleh penjualnya, hingga membuat kepalaku berputar, berdenyut-denyut tak keruan. Rasanya isi perutku pun berdesakkan di pangkal tenggorokan, ingin keluar lagi untuk menghirup udara bebas. Dan itulah yang terjadi. Di Danau Barat, tempat festival musim gugur yang meriah sedang digelar, aku memuntahkan beberapa butir tangyuan yang gagal kucerna. Makanan terkutuk itu mengambang pelan di atas permukaan air yang tenang, seolah ingin bergabung dengan bayangan bulan di tengah danau sana.

          Aku terbaring lemas di atas rerumputan yang berjajar rapi di sepanjang bibir danau. Terengah-engah. Udara malam yang dingin mulai mengusik di sela-sela rusuk-rusukku, tanpa memedulikan tiga lapis pakaian yang melekat di badan. Hingar-bingar keramaian festival juga masih menggema di belakang. Sementara purnama tengah bergantung dengan congkaknya di atas langit hitam, yang sekarang berhiaskan warna-warni letupan kembang api, berdentum-dentum tanpa permisi di malam syahdu.

          "Apa kamu baik-baik saja?" tanya sebuah suara. Perempuan. "Aku melihat kamu muntah-muntah tadi."

          Aku mencoba mengangkat kepala yang masih berat dan menoleh ke belakang. Beberapa langkah dari tempatku berbaring, sebuah raut muka cemas sedang menanti jawaban, berdiri dengan sedikit membungkuk ke arahku. Cantik, luar biasa cantiknya. Itu adalah kesan pertama yang kutangkap. Apakah dia seorang bidadari khayangan? Bibirku kelu, seperti lupa harus menjawab apa. Sampai akhirnya aku menggeleng —yang segera kukoreksi menjadi anggukan, begitu ingat pertanyaan apa yang dilontarkan oleh perempuan itu.

          "Aku tak apa-apa." Cepat-cepat aku menjawab, menjelaskan isyarat kepala yang membingungkan barusan.

          Bidadari yang menanyakan keadaanku itu sekarang tersenyum lega, seakan-akan ia sungguh-sungguh khawatir. Padahal kami sama sekali tak mengenal satu sama lain. Senyumnya membuat kecurigaanku menguap, walau masih menyisakan rasa heran. Ia mengenakan baju terusan tanpa lengan berwarna putih dengan rambut bergelombang yang tergerai mengesankan. Dan di sampingnya berdiri seorang perempuan lain, jauh lebih muda darinya. Mungkin berusia sebelas atau dua belas tahun. Hampir sama cantiknya seperti gadis yang pertama, yang kutebak berusia awal duapuluhan. Seusia denganku.

          "Malam ini meriah sekali ya." Perempuan bergaun putih itu mendekat dan duduk di atas rerumputan, hanya beberapa jengkal dari tempatku duduk, terlihat tak peduli kalau bajunya yang putih cemerlang itu kotor.

          Aku yang tiba-tiba merasa kikuk hanya menjawab dengan gumaman tak jelas. Benarkah ada seorang wanita cantik yang sedang mengajakku berbincang? Ingin rasanya aku menampar pipiku sendiri untuk menyadarkan diri dari mimpi ini —kalau benar aku memang sedang bermimpi.

          "Apa kamu turis?" tanyanya lagi sambil mengerling ke arah backpack-ku yang bersandar di dekat kursi taman.

          Butuh beberapa detik sebelum aku paham apa yang ia maksud.

          "Oh, anu … bukan. Aku baru sampai sore ini. Anu … maksudku, aku tinggal di sini. Ah, bukan di taman ini … anu, maksudnya Hangzhou kampung halamanku."

          Tiga "anu" kontan membuat gadis itu tergelak sambil memegangi perutnya. Aku dan muka bodohku cuma bisa mengutuki diri sendiri sambil menunggunya selesai terbahak.

          "Kamu lucu." Akhirnya ia berkata sambil masih menahan senyum. "Namaku Heng'e, dan itu adikku Xiaoqing." Ia lalu melambaikan punggung tangannya ke arah adiknya itu, seperti menyuruhnya pergi. Xiaoqing segera beringsut menjauh, berjalan menghilang ditelan kerumunan pengunjung danau yang membeludak.

          Setengah mati aku berusaha mensinkronkan otak dan mulutku untuk mengucapkan, "Aku Ying, Xu Ying."

          Pada saat-saat seperti ini, aku selalu bingung apakah harus menyodorkan tangan selayaknya orang berkenalan atau tidak. Sebab beberapa orang yang kutahu kadang enggan bersalaman dengan orang asing. Akibat keragu-raguan itu, tanganku mengambang di udara. Maju-mundur. Persis robot yang sirkuitnya terbakar karena arus pendek. Namun, Heng'e mengagetkanku dengan beranjak mendekat dan lekas menggengam erat tanganku dalam kehangatan. Aku terperanjat saat merasakan kehalusan kulitnya, halus sekali, rasanya bagaikan membelai sutra. Aku bisa membayangkan mukaku yang pasti langsung memerah bak pantat buah persik matang. Heng'e yang menyadari itu langsung melepaskan genggamannya dan tersenyum lagi.

          "Ma—maaf, ini pertama kalinya aku bersentuhan dengan wanita cantik," tukasku dengan jujur. Terlalu jujur.

          Begitu menyadari kata-kata yang meluncur dari mulutku tadi, spontan, aku langsung menampar pipi sendiri. Penyakitku kambuh lagi: apa yang kupikirkan bisa terucap tanpa filter dari mulutku jika sedang merasa canggung. Sial. Tindakanku itu malah membuat Heng'e terpingkal. Kedua pipiku tambah mendidih dibuatnya. Ingin rasanya aku menenggelamkan diri saja ke dasar danau.

          "Jadi Xu Ying, jika kota ini adalah kampung halamanmu, dari mana kamu datang sore tadi?" tanya gadis itu lagi setelah tawanya reda.

          "Umm, anu—ah, bukan anu … maksudku," aku menarik napas, "aku baru datang dari Shanghai. Aku baru menyelesaikan sekolahku di sana."

          Heng'e menganggukan kepala tanda mengerti. Matanya berbinar-binar, membuat jantungku berdenyut kelabakan seperti dikejar setan.

          "Heng'e," aku mengumpulkan keberanian untuk berbasa-basi, "apa kamu juga tinggal di Hangzhou?"

          "Tidak. Aku ke sini karena ingin melihat festival ini saja," jawabnya sambil memandang ke arah keramaian di dekat kami duduk. Kembang api masih berpendaran di sana-sini. Warna-warni percikannya tercermin jelas di kedua bola mata Heng'e yang sejernih kaca. Tiba-tiba saja tubuhku terasa ringan sekali, serasa mampu terapung dengan mudah di udara, mengitari rembulan yang terlihat sedang menyunggingkan senyumnya untuk kami berdua. Ya Kwan Im1 yang suci, apa aku sedang jatuh cinta? Secepat inikah prosesnya? Tak perlu menunggu makhluk kecil bersayap pengidap obesitas muncul sambil membawa busur dan anak panah? Ataukah balita gendut itu sudah menghujamkan anak panahnya ke tubuhku sedari tadi?

          "Kamu kuliah apa di Shanghai?" Pertanyaan susulan Heng'e membuyarkan lamunanku.

          "Umm, bukan kuliah. Hanya sekolah apoteker biasa. Otakku terlalu bodoh untuk menjadi seorang dokter, maka menjadi seorang apoteker pun tak apalah. Yang penting aku bisa membantu para pasien."

          Gadis itu menatapku penuh arti, lalu dengan gerakan lembut dan terkendali, ia menyentuh lenganku, "Nilai seseorang bukan diukur dari kepintarannya, Xu Ying, tapi dari kebaikan hatinya. Dan aku bisa menilai bahwa kamu adalah orang baik."

          Demi tujuh lapisan nirwana, dalam angan-angan terliarku, rasanya masih lebih mungkin bagi kesebelasan negeri ini untuk memenangi Piala Dunia dibanding kemungkinan seorang gadis cantik mengatakan kata-kata seindah untaian mutiara itu kepadaku. Dan—entah karena mukjizat atau nasib baik— yang terwujud lebih dulu adalah yang terakhir. Pertanda apa ini? Apakah kiamat sudah dekat?

          Aku tak mampu membalas pujian Heng'e, dan aku yakin sekali rona wajahku sekarang lebih merah dari pantat buah persik yang busuk. Buru-buru kualihkan pandangan kepada bayangan bulan yang memantul di tengah-tengah danau sambil menahan gejolak yang bergolak dan berteriak kesenangan di dalam dada. Aku tenggelam dalam diam. Kegirangan dalam bungkam.

          "Sudah malam, aku harus kembali ke hotel," ujarnya sembari berdiri. Ia terlihat ragu sejenak, seperti ingin mengatakan sesuatu, namun tertahan di ujung lidahnya. "Xu Ying … apa … aku boleh jadi istrimu?"

          Halilintar bagai menyambar, mengoyak tubuhku hidup-hidup. Aku tersedak ludahku sendiri dan mulai batuk-batuk dengan keras. Orang-orang yang lalu-lalang di dekat kami mulai melihat dengan pandangan menuduh, seolah aku pasien TBC akut yang menunggu ajal. Tapi, aku tak salah dengar, kan? Gadis yang baru kukenal lima menit yang lalu itu baru saja mengajakku menikah? Ini pasti mimpi, kataku membatin. Kalau bukan mimpi, dunia pasti sudah gila. Aku pasti sudah gila. Atau jangan-jangan dia yang gila?

          Mataku langsung memindai ke sekitar, mencari-cari kamera tersembunyi. Menanti Heng'e tertawa terpingkal-pingkal karena telah berhasil mengerjaiku dan mengakui kalau kami sedang berada dalam acara Hidden Camera. Tetapi, ia diam saja. Air mukanya terlihat serius dan tak ada tanda-tanda bahwa ia sedang bercanda.

          "Anu … ka—kamu serius? Kita baru kenal beberapa menit yang lalu dan kamu sudah mau jadi istriku? Ini bukan lelucon, kan?"

          "Aku tahu," ia berhenti sejenak, seperti sedang memilih kata-kata yang tepat, "ini terdengar main-main. Tapi aku yakin kamu lelaki baik-baik, dan penilaianku tidak pernah salah."

          "Kamu bisa menilai aku lelaki baik-baik hanya dari tiga pertanyaan tadi?" Selidikku skeptis. Namun, ia tidak terlihat tersinggung. Malahan tersenyum.

          "Aku tahu kamu lelaki baik-baik dari pertama kali melihatmu." Heng'e menukas dengan kalem.

          "Ya, artinya sejak lima menit yang lalu, kan?" timpalku, tak kalah kalemnya. "Lalu dari mana aku tahu kalau kamu … umm, kalau kamu …" Aku terdiam, tak mampu menyusun kalimat untuk menyampaikan maksudku tanpa menyinggung perasaannya.

          "Kalau aku perempuan baik-baik?" Ia melanjutkan kalimatku yang tertahan di kerongkongan. "Begini saja, besok kamu temui aku di tempat ini jam sepuluh pagi. Kita bisa habiskan waktu seharian untuk mengobrol dan kamu bisa mengenalku lebih jauh. Setelah itu, silahkan kamu putuskan untuk menerima lamaranku atau tidak," ujar Heng'e dengan ketenangan yang tak biasa.

          Mendengar ucapannya, aku bisa mencium keseriusan Heng'e. Tetapi logikaku masih berontak, tak mau mempercayai semua ini begitu saja. Aku merunut lagi urutan kejadian ganjil malam ini. Aku baru pulang dari Shanghai dan memutuskan untuk datang ke festival ini sebelum pulang ke rumah orang tuaku. Aku makan onde-onde basi dan kemudian muntah-muntah. Lalu seorang perempuan cantik muncul dan menanyakan apakah aku baik-baik saja. Kami bertukar tanya-jawab selama kurang lebih lima menit, dan sekarang, ia memintaku untuk jadi suaminya. Oke, besok pasti kiamat, kataku dalam hati.

          Akan tetapi, aku kembali menimbang-nimbang sarannya. Sebab menghabiskan satu hari dengan perempuan secantik Heng'e bukanlah ide yang buruk. Apalagi kalau besok benar-benar kiamat. Toh aku tak punya agenda apa-apa. Terlepas dari masuk akal atau tidaknya kejadian ini, aku merasa nyaman berada dekat perempuan itu, dan hati kecilku sangat ingin bertemu dengannya lagi. Sarannya itu sama sekali tak merugikanku. Maka tanpa bersuara, aku membuat keputusan dengan mengangguk, sambil berusaha tidak terlihat terlalu antusias.

          Heng'e tersenyum lagi, menampilkan dua lesung pipit yang membuat kecantikannya makin tak terbantahkan. Dadaku kebat-kebit. Hatiku bagai ditumbuhi bunga-bunga musim panas yang mekar berbarengan.

          "Bagus. Kalau begitu, sampai bertemu besok, Xu Ying." Ia segera pamit dan melangkah pergi ke dalam kerumunan manusia yang masih padat di sekitar taman dekat danau. Manusia-manusia yang tak akan pernah tahu betapa senangnya hatiku malam ini.

          Ayah dan ibu telah menunggu di ruang tamu ketika aku sampai di rumah. Mereka menanyakan apa aku sudah makan malam dan bagaimana hasil ujian akhirku di sekolah. Aku bilang aku sudah makan dan ujianku gagal total. Aku harus mengulang tahun depan jika masih ingin menjadi apoteker. Ayahku terlihat kecewa dan marah, sementara ibu segera berusaha membesarkan hati dengan mengatakan bahwa kegagalan adalah hal biasa dan merupakan kesuksesan yang tertunda. Lalu kusampaikan pula kemungkinan untuk menikah dengan seorang gadis cantik yang kutemui di pinggir danau tadi. Mereka menanyakan kenapa mereka belum pernah mendengar tentang pacarku itu. Dan lekas kujawab kalau aku baru bertemu dan mengenalnya selama beberapa menit saja malam ini. Ayah terbengong-bengong mendengar penuturanku, sedangkan ibu terkulai lemas sambil memegangi jantungnya yang hampir copot. Sedangkan aku? Aku tak peduli dan langsung masuk ke kamar, tak sabar menunggu hari esok tiba.


* * *

 

Read previous post:  
77
points
(167 words) posted by daniswanda 5 years 24 weeks ago
77
Tags: Cerita | Cerita Pendek | cinta | prosa
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer nusantara
nusantara at Mangata (2 years 25 weeks ago)
60

bagus

Writer Robospider_no6
Robospider_no6 at Mangata (5 years 12 weeks ago)
80

Bagus. Narasinya rapi. Tapi haruskah mulai dengan adegan muntah tangyuan, padahal ini cerita roman. Lebih baik gambarkan setting dan waktu cerita. Pacingnya udah rapi. Lalu adegan ciuman dan hilang dihaluskan dong, kan adegan klimaks. Setting diperkuat. Endingnya lumayan lah. Aku suka.

Writer daniswanda
daniswanda at Mangata (5 years 10 weeks ago)

Wah, makasih masukannya bang robot laba-laba. Akan saya pertimbangkan.

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Mangata (5 years 14 weeks ago)
80

Saya tidak tahu Legenda Ular Putih (anak abad 21) tahunya Pokemon GO, jadi tidak bisa mengambil referensi itu.
.
Sejauh pembacaan saya, entah kenapa lempeng. Tidak ada tokoh atau unsur cerita yang bisa membuat saya berkata "maknyus". Mungkin karena akhir-akhir ini saya begadang, ngejar Pokemon. (abaikan komentar ini).
.
Salam.

Writer daniswanda
daniswanda at Mangata (5 years 10 weeks ago)

Gw jg jadi males baca sama nulis gara2 pokemon, El. ngeheheh
.
Ngomong2 ini uda dua hari nggak ada yg ngomen di mari ya, ckckck...

Writer The Smoker
The Smoker at Mangata (5 years 15 weeks ago)
80

gw mah kalo nggak ada si Kart yang ngomong dan penjelasan dari lu, brad, bahwa ini idenya dari siluman ular putih... mungkin akan lolos aja. hahaha... generasi brazzer gw mah kali yak, bukan 90an.
.
jujur aja sii, gw tersendat ngikutinnya di awal itu. entah mungkin lu nggak cocok mendayu-dayu begini, atau gwnya aja yang belum mandi dari SD yak...
.
*tring*ngilang ikutan ke bulan nyari si ular putih*

Writer daniswanda
daniswanda at Mangata (5 years 15 weeks ago)

Generasi purba, Bang XD

Writer lost_boy
lost_boy at Mangata (5 years 15 weeks ago)
90

siliman ular putih, jadi inget tontonan jaman kecil dulu (ketahuan deh anak 90an-nya)

justru menurutku kayaknya lebih banyak komedinya...
aku soalnya juga nyoba bikin buat romcom2an ini malah komedinya yg punyaku lebih dikit (belum daftar biar ga ngutang).

Kalau ceritanya sih menurutku udah dapet ngalirnya jadinya walau lumayan banyak katanya, jadi enak di ikutin.

kalo yang lain-lain kayaknya aku masih hijau buat urusan ini.

Writer daniswanda
daniswanda at Mangata (5 years 15 weeks ago)

Hmm banyak ya komedinya, tapi kadar kelucuannya kurang kayaknya. hahah.
Makasih komennya Bro.

Writer kartika demia
kartika demia at Mangata (5 years 15 weeks ago)
90

Ya ampun.. aku jadi inget drama Siluman Ular putih dan Sun go kong. Wkwk.. Latarnya detail banget, jadi aku ngebayangin film2 jadul itu. Komedinya.. ya, dikit2 nyengir sih. Tapi gak bisa ketawa lepas. Nah, lalu mengenai keegoisan wanita. Itu si Heng'e minta tak ada dusta di antara kalian kan ya, tapi dianya begitu, gak cerita asal usulnya, gak mau jujur. Sabar ya author, diterima aja nasibnya, bagaimanapun wanita itu selalu benar. XD
.
'berdesakkan' apa 'berdesakan'?
.
Sementara purnama tengah bergantung dengan congkaknya di atas langit hitam, yang sekarang berhiaskan warna-warni letupan kembang api, berdentum-dentum tanpa permisi di malam syahdu. (Nggak ada yang salah sih dengan narasi ini, tapi kalau aku lebih memilih kata 'menggantung' daripada 'bergantung'.)
.
"Apa kamu turis?" tanyanya lagi sambil mengerling ke arah backpack-ku yang bersandar di dekat kursi taman. ( Nggak ada yang salah lagi, tapi kalau aku lebih memilih memakai kata 'tersandar' daripada 'bersandar')
.
Menghujamkan--> menghunjamkan
Menghisap--> mengisap
.
Eh iya, tadi kamu kepeleset nulis kata 'dia' padahal sebelumnya memakai 'ia'. Wes ngono ae. *lempar ketupat*

Writer daniswanda
daniswanda at Mangata (5 years 15 weeks ago)

Idenya emang dari cerita siluman ular putih, Tan. Lalu tak pelesetkan ke legenda putri bulan, Chang'e, yg sempet nongol juga di sun go kong jadi cem-cemannya chu pat kay.
.
Soal komedi, hmm ya porsinya emang lebih sedikit buat nonjolin sisi romance-nya. Bosen komedi melulu soalnya.
.
Duh, masih banyak salah EYD-nya yak. Matur nuwun koreksinya.
.
Masalah "ia" sama "dia" itu memang nggak boleh dicampur, ya? Harus seragam?
.
Sungkem dulu, sambil minal aidin. Maap2 kalo tulisanku telah melukai hatimu selama ini *halah*