Luna

"Nur ... mandiin Luna sana, gih!" suara emak menggelegar membangunkanku di pagi hari. Ugh! Padahal di hari Minggu ini aku masih ingin molor. Dengan malas aku bangun dan bergegas menjalankan mandat dari emak.

"Luna ..., yuhuuu ...!" aku memanggilnya dengan suara yang kubuat mesra, kalau tidak si Luna tak bakalan mau diajak mandi. Akhirnya, setelah panggilan ketiga dariku dia bangun dan dengan semangat mengikutiku.

Di Minggu yang cerah ini Luna terlihat begitu bersemangat, saking semangatnya dia yang lebih dahulu tiba di kali. Sungai itu membentang diapit area persawahan. Di jalan menanjak yang kulewati tadi telah diaspal oleh pemerintah. Jadi aku tak perlu takut lagi jika ban ontel-ku gembos kala berangkat kerja ke puskesmas.

Air dingin sungai itu tak menyurutkan semangat Luna untuk mandi. Aku menamainya Luna karena aku nge-fans banget dengan Luna Maya. Sambil bersiul, kugosok sekujur kulit kerbauku itu. Lantas dia mendesah keenakan.

Aduh, sial! Tiba-tiba perutku mulas. Setelah melihat kanan-kiri dan dirasa aman, langsung saja aku membuka celana dan jongkok. Sialnya, ada sedan merah melaju dari arah barat. Oh, tidak! Langsung kutunda ritual boker-ku, setelah memakai celana lagi aku berdiri. Sedan merah itu berjalan pelan sekali, dengan jendela yang terbuka di kemudi, sepertinya sembari menikmati panorama pedesaan yang menarik hati.

'Sialan, nggak usah slow motion gitu napa? Nggak tahu kalau nasib eek-ku ini sudah di ujung tanduk!'

Saat mobil itu melewatiku, ternyata sedan itu disetir oleh seorang gadis jelita, wajahnya mirip sekali dengan Luna Maya. Aduh, aku sampai terpesona!

Matanya, dagunya, bibirnya ... uh! Aduhai ... sampai aku senyum-senyum sendiri dibuatnya. Benar-benar Luna Maya KW Super! Sampai sedan itu pergi melewatiku, aku masih terpesona olehnya, dan tersenyum dengan eek di celana.

***

"Mas Nur, tunggu!" suara Shinta mengejutkanku dari arah belakang saat aku mengayuh ontel-ku. Gadis itu memakai baju kurung, berlari dengan background di antara persawahan--orang-orang tampak menanam padi. Nah, sudah mirip banget, kan, dengan video klip lagu dangdut? "Nanti pulang kerja bisa, kan, Mas Nur ke rumah?" Shinta tampak ngos-ngosan.

"Ngapain?"

"Disuruh bapak betulin pagar."

"Oh, bisa," ujarku lalu mengayuh sepedaku lagi.

"Mas," Shinta menarik ontel-ku.

"Apa lagi?"

"Ini," Shinta memberiku sekotak bekal, "ini bekal nasi buat Mas Nur, dimakan, ya!"

Aku dapat menangkap serona merah di rautnya, dia terus menunduk lalu buru-buru pergi. "Gadis aneh," ujarku akhirnya.

Kotak makan itu berwarna pink, terbuat dari plastik dengan gambar singa di bawahnya, aku pikir itu trademark. Isinya; nasi putih, bali telor, sayur nangka dan ikan asin. Gajiku sebagai perawat di posyandu kecamatan tak seberapa, jadi lumayanlah kalau si Shinta membekaliku makan.

Saat di tempat kerja, aku hampir tersedak saat melihatnya. Gadis itu sedang memilih makanan di kantin, Luna Maya KW!

"Itu dokter yang dari Jakarta itu, ya?" bisik-bisik para perawat cewek terdengar di seberangku.

Jadi dia dokter? Dan dinas di sini? Aduhaiii ...!

***

"Nama saya dr. Luna, mohon bantuannya, ya."

Gadis jelita itu memperkenalkan diri di kantor. Tak kusangka, bukan saja wajahnya yang mirip Luna Maya, tapi namanya juga mirip! Dia menyalami semua pegawai sembari tersenyum ramah. Beberapa pegawai laki-laki mendekati, terlihat sok jaim dan sok ganteng, cih! Oke, jika ini mau kalian, kita harus bertarung secara jantan. Aku yakin, aku akan mendapatkan sang Luna! Luna kerbauku di rumah, jangan jealous, ya!

"Dok, saya bawain teh hangat, nih!" ujar seorang perawat laki-laki siang itu. Dokter Luna membalasnya dengan senyuman, seraya mengucapkan terima kasih. Sial, aku keduluan! Saat itu aku langsung mengemut teh celupku yang belum kuseduh.

Esoknya, pegawai lelaki lain memberi Luna sekotak roti bolu. Sial, aku keduluan lagi! Langsung saja saat itu aku menelan bulat-bulat kue apem yang dibawakan oleh Shinta. Sepertinya aku harus mencari tak-tik lain untuk mendekati Luna. Aku tak mau ditikung oleh rekan-rekanku yang wajahnya di bawah standar SNI itu.

Aku pulang dengan ontel berkaratku--peninggalan abah. Saat melewati tikungan jalan, di sungai di mana aku memandikan Luna kerbauku kemarin, aku melihat sedan merah yang tak asing. Mobil itu berhenti tepat di depan sungai itu. Dokter Luna! Ya, itu pasti sedan dokter cantik itu. Sedang apa dia di sini? Berhenti tepat di kali. Masa iya dia mau boker? Ah, ngasal sekali aku!

Segera kukebut ontel-ku mendekatinya. Tampak olehku dia sedang menelepon seseorang, " Ya, Tuhan ..., yang benar saja," cerocosnya.

"Dok," kusapa dia.

Setelah berkutat bicara di teleponnya dengan wajah masam, dia memandangku. Ya, Tuhan, cantik sekali dia. Pandangan matanya menusuk jantungku. Lalu, terdengarlah tabuhan gendang di dalam hatiku. 'Dag dig dug' stop! Jangan keras-keras tabuhannya! Nanti dia dengar!

"Nur?" Luna menatapku ramah, lalu memandang ontel-ku.

Kubalas senyumnya, dengan senyum manisku yang kutambahi pemanis buatan dan boraks biar awet manisnya. "Dokter ngapain di sini?"

"Mobilku mogok, aku telpon bengkelnya, mungkin dua atau tiga jam baru mau ke sini." Wajah Luna berubah masam lagi.

Tangan Luna mulus sekali dengan hiasan arloji perak di pergelangannya. Aku menelisik jemarinya. Sudahkah ada cincin yang melekat? Pertanda bertunangan atau apa saja. Aku tak mau mengejar-ngejar wanita yang akhirnya cintaku kandas karena dia telah dimiliki oleh lelaki lain. Di tangan kanan tidak ada. Di jemari tangan kiri belum aku lihat, belum kelihatan. Tak kusadar intaianku seperti detektif saja, dan membuat Luna bertanya-tanya, "Ada apa?" Dia kebingungan, "kamu mencari sesuatu?"

"Oh, tidak ..., tadi kayaknya ada semut, deh."

"Di mana?"

"Di tangan Dokter," lah ... sekarang aku macam orang bego.

Lantas Luna memeriksa tangannya, nah! Sekarang aku bisa menelisik jemarinya, tak ada cincin satu pun di jari-jari itu. "Yes!" Aku berseru.

Luna menatapku, penuh tanda tanya, "Kamu ngerjain aku, ya?"

Aku gelagapan, duh, kenapa juga aku teriak-teriak 'yes'. Mending teriak-teriak 'no' saja tadi. Lah ....

"Ah, enggak. Itu ... anu--" sekarang aku jadi grogi dibuatnya. "Eh, mau saya antar pulang tidak, Dok?" Luna melihat ontel-ku, seperti tidak yakin kalau sepeda itu mampu menopang beban dua orang manusia. Dia tidak sadar bahwa sepeda ini hanya tidak mampu menopang beban hidupku yang masih jomblo.

"Ayo," kuulang lagi ajakanku.

Lalu dia pun naik sepedaku, "Kosan Dokter di mana?"

"Di rumah Pak Camat."

"Oh, iya ya. Kemarin saya betulin pagar di rumah itu."

"Kamu kerja sambilan juga?" tanyanya.

"Iya, dong. Saya kerja apa saja."

Setelah itu hening tercipta, aku tak tahu lagi harus ngobrol tentang apa. Aku rasa dia juga sedang menikmati panorama desa. Sesampai di rumah Pak Camat, Luna turun dari boncengan seraya mengucapkan terima kasih.

"Besok saya jemput, ya, Dok!" tiba-tiba saja kalimat itu tercuap dari mulutku. Akhirnya aku kikuk sendiri.

"Mobilku, kan, nanti diperbaiki," jawabnya sambil tersenyum. "Tapi ... boleh juga, sih, kalau berangkat naik ini lagi," dia mengelus ontel-ku.

Apa itu artinya dia menerima tawaranku? Selepas itu dia berjalan masuk ke dalam rumah, lalu berhenti sebentar dan memandangku, "Panggil aku Luna saja kalau di luar, dan bahasanya jangan terlalu formal."

***

Aku tak menduga kalau hari itu adalah awal kedekatanku dengan Luna. Setiap hari dia kubonceng berangkat dan pulang kerja. Rekan kerjaku pun tak tinggal diam, mereka selalu menawarkan Luna untuk pulang bareng; dengan motor Vixion, Ninja, dll (dan lainnya lupa). Si Luna pun hanya membalas dengan senyuman. Dan aku membalas dengan kemenangan.

Saat itu aku memandikan Luna di kali. Bukan si Luna dokter, tapi Luna kerbauku. Kalau si dokter itu kapan, ya, aku bisa memandikan dia? Bukan memandikan seperti mayat loh, ya! Tapi mandi sama-sama. Nah ... fantasiku mulai liar lagi.

Luna kerbau yang mendesah keenakan saat kugosok kulitnya, memainkan ekornya ke aliran sungai sampai air-air terciprat ke dadaku. Aku selalu bertelanjang dada saat memandikannya, kalau tidak si kerbau ini tidak akan mau mandi. Dia sejenis kerbau mesum, suka lihat-lihat body six-pack-ku. Bukannya sok atletis atau apa, kenyataan aku yang selalu bekerja serabutan seperti mengarit rumput dan sebagainya, membuat badanku kekar begini. Ya, sebelas duabelas lah, dengan bintang iklan L-Men di tivi.

"Nur!"

Suara perempuan terdengar memanggilku, suara yang sangat kukenal. Seorang gadis dengan rok mini dan topi warna yang senada sedang berlari dengan background persawahan di belakangnya. Kali ini bukan seperti video klip lagu dangdut lagi, melainkan lagu pop. Iya, pemandangan itu terlihat lebih modern karena model video klip itu tanpa rias menor ala-ala dangdut. Dialah Luna, gadis cantik itu berlari ke arahku. "Hai!" ucapnya.

"Luna? Sedang apa?"

"Nyariin kamu," semburat merah tercipta di wajahnya. Entah karena malu atau kepanasan oleh terik matahari.

Aku memasang senyum termanisku, "Ada apa nyariin aku?" sok-sok jual mahal dan kubuat sok cool diriku. Aku sadar, Luna terpesona oleh otot kekarku.

"Aku bosen, aja, Minggu begini nggak ada kerjaan."

"Ya sudah, temenin aku mandiin Luna, ya!"

"Apa?!" Luna melotot.

"Eh, begini. Kerbauku ini namanya Luna," mendengarnya wajah Luna terlihat masam, "jangan salah sangka. Kunamai Luna karena aku nge-fans banget dengan Luna Maya."

"Oh," jawabnya pendek.

Aku merasa bersalah karena menyamakan namanya dengan kerbau, "Eng ... kamu juga mirip dengan Luna Maya, Lun," jawabku akhirnya.

Luna hanya diam, aku tak tahu apa yang ada di pikirannya. Mestinya aku bohong saja soal nama kerbauku tadi, bodoh sekali.

"Kamu nggak punya pacar, Nur?"

Hah? Aku cuma melongo mendengar pertanyaannya. "Aku ...?" suaraku gelagapan, "mana ada yang mau denganku," jawabku sekenanya. Aku menyembunyikan raut merahku dengan sibuk menggosok-gosok kulit kerbauku. Untung kulitnya tebal, kalau tidak sudah melepuh dari tadi! "Kamu sendiri, punya pacar, nggak?"

Luna terdiam, aku menatap wajahnya yang menunduk. Apakah aku salah bicara? Ya, Tuhan ... aku salah lagi? Kenapa lelaki selalu salah? Tidak, ini tak boleh terjadi. Aku harus mengatakan sesuatu kepadanya. Masih dengan menggosok-gosok kulit kerbauku, aku bicara lagi, "Lun, aku suka kamu."

Kerbauku meringkik senang.

Sial! Bukan Luna kerbau yang aku maksud! "Lun, maukah kamu jadi pacarku?" ujarku akhirnya sambil memegangi tangan Luna.

Gadis itu terkesiap, matanya berkaca. "Aku nggak sesempurna yang kamu kira, Nur."

"Aku juga bukan lelaki sempurna, tetapi cintaku sempurna untukmu," masih dengan menggenggam tangan Luna. Tiba-tiba Luna kerbau menyenggol pantatku hingga aku terjatuh ke sungai, dia cemburu! "Dia tidak suka kalau aku dekat dengan cewek!" Mendengar itu Luna hanya terbahak tanpa mau menolongku.

Saat itu aku dan Luna sudah resmi berpacaran. Ketika malam minggu, aku bertandang ke kosannya. Masih dengan ontel-ku aku berkayuh ke rumah Pak Camat. Kala itu Shinta yang membukakan pintu, "Mas Nur," Shinta terlihat sumringah. "Masuk, Mas, aku bikinin teh dulu.

"Tidak usah, habis ini mau keluar, kok," jawabku ramah.

"Oh, ya sudah. Aku ganti baju dulu, ya." Shinta terlihat senang sekali.

"Mau ke mana, Shin?" tanyaku.

"Ya terserah Mas Nur mau ngajakin ke mana," jawabnya malu-malu. Saat itu Luna datang dengan penampilan rupawan yang membuat hatiku bertambah deg-degan dibuatnya. "Mbak Luna mau pergi?" tanya Shinta.

"Iya, sama Nur." Lalu Luna menggandeng tanganku, "Ayo berangkat, Sayang."

Aku tak bisa berkata apa-apa saat Luna sudah menggiringku pergi meninggalkan Shinta dengan tatapan melongo memandangi kami.

Aku mengajak Luna menonton layar tancap. Kami duduk di barisan belakang dekat dengan pohon nangka. Selain penonton, lapangan itu dipenuhi oleh pedagang. Kami membeli kacang dua bungkus sebagai camilan. Dua jam pertunjukan itu tampak seperti dua menit saja. Cepat berlalu. Hingga malam sudah mengantarkan kami untuk pulang. Setelah berpamit pada Luna di kosannya, yang saat itu dapat kulihat sekilas bayangan Shinta sedang mengintip dari balik jendela, aku mengecup kening Luna dan berlalu meningggalkannya. Sumpah, aku tak bisa tidur setelah kejadian itu. Malamnya aku bermimpi indah, aku menikahinya hingga memiliki anak kembar empat. Luna tampak seksi dengan memakai daster, lalu anak-anak kami berebut minta nenen.

Nyatanya itu hanyalah mimpi kosong. Esoknya, tiba-tiba saja Luna memutuskanku. Tanpa sebab dan tanpa alasan.

Luna menyeka airmatanya, "Aku dipindah tugaskan, dan lusa aku sudah harus pergi dari sini."

Aku tak bisa menerima alasannya, hanya karena dia dipindah tugaskan, lalu hubungan kami kandas?

"Aku ingin pasangan yang benar-benar serius denganku," ucapnya dengan mata sembab.

"Apa aku tak serius terhadapmu? Kapan aku tak serius, Lun?"

"Semua tak semulus seperti yang kamu pikirkan, Nur."

Aku menatapnya tajam, "Apa yang ada di pikiranmu?"

"Kamu akan kecewa denganku."

Ya ya ya, alasan klise seperti itu. Seperti sinetron-sinetron murahan di tivi; 'aku tak seperti yang kauharapkan', 'aku bukan cewek sempurna' dan lain sebagainya yang pada kenyataannya hanya sebagai alasan bagi cewek untuk memutuskan pacarnya. "Carilah wanita yang lebih baik dariku, kamu akan bilang seperti itu, kan?" cecarku dengan mata yang semakin menajam.

Luna mengangguk dengan butiran airmata, aku memberinya jeda untuk berkata lagi, nyatanya dia hanya diam.

"Aku sayang kamu, Lun," ujarku tanpa melihat matanya. Luna terdengar sesenggukan.

"I love you too ..."

"Buktinya?"

"Kamu mau bukti?" Luna menyeka airmatanya. "Jika kamu sudah tahu cacatku, apa kamu masih mencintaiku, Nur?"

Aku menatapnya dari ujung kepala hingga kaki, terlihat sempurna. Tak ada cacat sama sekali. Apa ini ada hubungannya dengan keluarganya? Atau masa lalunya? Apakah dia pengidap AIDS? Atau dulu dia pernah diperkosa? Atau bapaknya penjahat? Koruptor?

"Nur ..." Luna membuyarkan lamunanku.

Sekarang aku tahu, dibalik senyum cerianya dia pasti punya masalah yang sangat berat. Suatu 'cacat' yang melekat pada dirinya yang tak kutahu itu apa. Tapi nyatanya aku sangat menyayanginya. Aku langsung menyentuh lembut kedua pipinya, "Jangan menangis lagi," ujarku. Langsung kudekap gadis itu dalam pelukan erat, memberi kehangatan padanya, kenyamanan. "Aku mencintaimu, Lun." Luna hanya bergeming, tak mengucap sepatah pun. Lantas kukecup rambutnya, "Katakan apa masalahmu?"

Tubuh Luna bergetar, kembali tenggelam dalam tangisan, dia memelukku erat.

"Katakan, Lun ..."

"A--ku ..." Luna terbata. Aku mengelus rambutnya, sabar menunggunya bicara. Suara Luna terdengar berat, lalu bicara lagi, "Aku trans-gender ..."

***

Aku menggosok-gosok kulit Luna di kali, lalu aku melihat lagi anu-nya, meyakinkan lagi kalau dia benar-benar betina, bukan trans-gender seperti si Luna lainnya. Jijay banget, kan, kalau Luna kerbau menyukai tubuh six-pack-ku gara-gara mengira aku ini gay? Dia mendesah keenakan saat kugosok.

Mungkin aku akan mengganti namanya saja. Memakai nama Luna membuatku geli. Mengingatkanku pada dr. Luna saja. Bagiku cewek jadi-jadian itu sama seperti kolak, jika dilihat dari luar manis dan segar ... eh, tapi dalamnya ada pisangnya.

Dari seberang, aku melihat model video klip dangdut lagi, berlari di antara persawahan dengan baju kurung dan dandanan menor menghampiriku.

"Mas Nur ...!"

-Kelar-
10 juli 2016

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer nusantara
nusantara at Luna (2 years 14 weeks ago)
50

saya ga biasa komen bagus,
apalagi untuk yang ini,
gimana ya?
misalnya kalau saja saya ini luna maya terus membaca cerita ini, akan seperti apa ya komennya?
hahaha,

Writer samalona
samalona at Luna (3 years 7 weeks ago)
80

Tentang unsur komedi: penekanan pada cara bercerita; kelucuannya lebih banyak timbul dari gaya penceritaan si narator. Plot twistnya sendiri tidak menggelitik, menurut saya. Mungkin juga karena saya mengomentari cerita ini di zaman yang berbeda. Bagaimanapun, anti-klimaksnya pas menurut saya. Dan penekanan kelucuan melalui gaya penceritaan narator bukan hal yang buruk (saya sendiri belum tentu bisa menghasilkan karya selucu ini); saya hanya mengemukakan apa yang menurut saya berfungsi sebagai sumber utama kelucuan cerita ini. Tentunya ini akan lebih lucu lagi bila dikombinasikan dengan unsur lainnya juga, misalnya setting cerita yang absurd, atau pembaca dibuat lebih penasaran lagi dengan 'kekurangan' yang dimaksud oleh dokter Luna, atau twist yang lebih heboh dan hiperbolik, karena terus terang jawaban dari misteri dokter Luna ini adalah tebakan pertama yang terlintas dalam benak saya.
Hal lain: ada kalimat yang bertentangan dengan kalimat berikutnya, dan dialogue tag yang pleonastis. Yang saya maksud adalah ini:
* Esoknya, tiba-tiba saja Luna memutuskanku. Tanpa sebab dan tanpa alasan. (Setelah kalimat ini, ternyata Luna menyatakan alasannya)
* "Ini," Shinta memberiku sekotak bekal, "ini bekal nasi buat Mas Nur, dimakan, ya!" (pengulangan 'bekal')
* "Ah, enggak. Itu ... anu--" sekarang aku jadi grogi dibuatnya. (saya kira pembaca sudah tahu kalau Nur sedang grogi)
Kalimat-kalimat yang bagus dan dialogue tag yang variatif dalam cerita ini tentu saja lebih banyak.
Menyinggung kembali situasi yang absurd, sebenarnya ada satu dalam cerita ini, yaitu kekebetulanan wajah yang mirip dengan artis dan ternyata namanya juga sama, lalu nama yang sama itu juga kebetulan dimiliki oleh tokoh utama wanita dan tokoh satu-satunya kerbau. Jadi kritik saya yang tadi mohon diabaikan saja.
Salam.

Writer Robospider_no6
Robospider_no6 at Luna (4 years 50 weeks ago)
40

Terlalu berat untuk komedi. Memang banyak indikasi komedi, tapi ceritanya agak gelap sebenarnya. Masalah transgender memang agak serius. Kalau cowok jadi cewek karena alasan konyol bisa masuk tapi ini jelas dikatakan transgender. Masuknya dark comedy banget. Jadi masuknya drama dan berat. Lagipula cowoknya nggak sensitif sama sekali jadinya Komedi tragis juga nggak masuk. Stylenya sebenarnya cukup unik.

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Luna (5 years 3 days ago)
70

Nganu ... sebenarnya udah mau komen bahkan sebelum cerita ini di pos, tapi nganu ....
Yang jadi perhatian pertamaku sih tidak adanya tanda-tanda bahwa Luna ini sejenis gituan, tanda itu datang dari Luna sendiri, bukan pengataman tokoh utama atau keadaan atau orang-orang sekitar. Gitu sih, yah, gitulah.

Salam

Writer kukuhniam
kukuhniam at Luna (5 years 1 week ago)
90

komedinya singkat-singkat ya mbak kar. Maksudku, memang ada banyak poin komedi, tapi terasa satu kalimat, lalu lenyap begitu saja.

"Aku transgender" itu seharusnya menimbulkan efek kaget dan mungkin ada komedinya, iya gak sih mbak kar? atau saya salah ngasih efek, hehe..
intinya, pilihan katamu untuk komedi kayaknya terlalu berat deh mbk. jadi terasa kurang luwes.

saya malah suka tulisanmu yang semacam dinas malam, ingat? mungkin horor, tapi justru terasa ada komedinya. Selain ada efek kagetnya, bahasanya juga gak jelimet. menurut saya sih. ampun lho mbak kalau salah.

Writer kartika demia
kartika demia at Luna (5 years 1 week ago)

Yang Dinas Malam itu aku nulisnya pure horor malah jatuhnya komedi yak? Hiks..
oke, dicatet krisarnya. Susah banget ya bikin orang ketawa, kecuali kalo digelitikin langsung. hehe..
sangkyu Sam Kukuh

Writer daniswanda
daniswanda at Luna (5 years 1 week ago)
90

Komedinya banyak yg jayus sih. Tapi bbrp ada yg "kena" dan bikin nyengir.
.
PoV1 cowoknya agak kemayu melayu gimana gitu, rasanya lebih cocok dia yg jadi transgendernya di banding si Luna, Kart.
.
Lalu soal twistnya emang klise sih. Tapi lu nyampeinnya enak. Gue nggak ngerasa "biasa aja" di dua paragraf terakhir. Eksekusi lu yg nge-skip reaksi si Nur waktu denger pengakuan Luna itu terasa pas. Jadi lbh mulus dan lebih kerasa komedinya.

Writer kartika demia
kartika demia at Luna (5 years 1 week ago)

Iya jayus T.T
Pov1 nya kemayu ya? Berarti aku nulisnya kurang macho. Suwun koreksinya Dan

Writer The Smoker
The Smoker at Luna (5 years 2 weeks ago)
90

ish, najis.. ngahahhahha, kolek!
lah...
nah...
tapi ya, kalo mau nyemplung komedi absurd atau jayus. cerita ini nanggung karena gw nya masih nyari logika. tapi lumayan bikin gw ngakak nggak bersuara, keselek doang dengan beberapa ungkapan dalam cerita, dikit sii.
.
terus kenapa idemu sedangkal, atau masih berkutat di dunia gay, transgednder, banci sebagai twist atau pemicu apa-gitu. untungnya sii di sini endingnya si Shinta itu mayan manis.
well,
*salaman*remesgorden*

Writer kartika demia
kartika demia at Luna (5 years 2 weeks ago)

Aku kalau disuruh bikin komedi pasti larinya ke jayus. Gak tau kenapa, padahal gak ada niatan juga dijayus2in. Hiks..
Soal romance juga, geli sendiri aku bikin adegannya, jadi larinya ya ke absurd. Kalau nggak gay, humu atau transgender. Yah, gimana lagi. Aku angkat tangan kalau disuruh bikin ide yang romantis2an. Hiks(2)
.
Terima kasih, selalu berkenan :')