Aku... Mencintaimu...

Note: 1. Banyak amburadulnya soalnya nggak fokus banget ngerjakannya tapi tetep mohon koreksinya...

           2. sudah di edit hasil masukan-masukan (thanks to kartika demia)

 

Sinar matahari yang telah menembus melalui jendela dan sela sela kayu yang menjadi dinding di kamarku pagi ini, telah memaksaku terbangun dari lelapnya tidur semalaman. Hawa pagi Desa Gardeux yang segar ini pun memaksa diriku untuk bangun.

Segera kutinggalkan tempat tidur dan kulihat sekeliling rumah yang telah sepi. Aku sendiri tak heran dengan keadaan ini karena penghuni lain di rumah ini pasti sudah ke kebun terlebih dahulu pagi-pagi tadi.

Tanpa berpikir banyak aku menuju sumur di belakang rumah, untuk mandi menyegarkan diri. Kutanggalkan semua pakaianku dan mulai menimba air untuk diguyurkan ke tubuhku. Namun ketika baru guyuran yang kedua terdengar suara derit pintu yang menuju sumur belakang rumahku itu membuka.

“Ngriek.”

Dengan terbata-bata aku menengok ke arah pintu itu. Kulihat sesosok pemuda berambut coklat sedikit acak-acakan dengan baju yang telah kotor oleh tanah.

“Ah, Lucy,” hanya itu yang diucapkan pemuda itu dan hanya mematung beberapa saat.

Betapa setengah mati malunya diriku, sampai sampai seketika itu pula rasanya keringat dingin seperti mengalir deras dari tubuhku.

“Hyaaaaaaaa…” Teriakku, sambil melemparkan berbagai benda yang ada di dekatku. Mulai ember, sabun, palu, batu, serta benda apapun yang bisa kugapai untuk bisa kulemparkan ke pemuda itu.

“Ahh, maaf Lucy,” seketika itu dia langsung menutup pintu yang menuju sumur dengan wajah yang ketakutan melihat berbagai benda yang terbang menghampirinya.

“Brak!!!  bak! bak! bak!”

“Kevin bodoh! Idiot! Tolol! Mesum!” Umpatku ke pemuda itu.

“Aduh, kan udah aku bilang maaf, nggak sengaja tadi itu,” kata Kevin dari balik pintu.

“Nggak sengaja kok terusan lihatnya!” protesku.

Aku segera mengambil kain selimut kering yang terjemur di jemuran pakaian, untuk menutupi tubuhku sementara waktu. Kemudian segera aku masuk rumah menghampiri Kevin dengan amarah yang memuncak. Seketika itu pula Kevin yang melihatku masuk seperti ketakutan.

“He… tu… tunggu Lucy!”

“Nggak ada tunggu-tungguan!” Teriakku sambil melepaskan sebuah kepalan tangan ke kepalanya.

“Bruak!”

Seketika itu pula dia ambruk dan tak sadarkan diri beberapa saat.

Dia adalah Kevin, satu-satunya penghuni lain dalam rumahku ini. Meskipun serumah namun hubungan kami tak lebih dari teman saja, karena dahulu kedua orang tua kami adalah teman dekat. Kami tinggal dalam satu atap karena kejadian lima tahun yang lalu. Saat itu kedua orang tua kami pergi ke Ibukota Kerajaan. Di tengah perjalanan pulang, kereta kuda mereka dihadang kawanan perampok. Dan kedua orang tua kami meninggal saat perampokan itu. Uang penjualan hasil kebun keluarga kami pun juga dikuras habis.

Aku sendiri sebenarnya waktu itu benar-benar bingung bagaimana akan menjalani hidup ini. Terlebih lagi waktu itu para buruh tani yang dipekerjakan orang tua kami juga belum dibayarkan gaji mereka. Dan sering meminta kepadaku yang waktu itu masih 12 tahun untuk membayarkan gaji mereka.

Namun Kevin yang waktu itu juga masih seumuranku. Justru dengan beraninya dengan menjual rumah dan sebagian kebun keluarganya kepada Pak Kepala Desa untuk membayarkan gaji para buruh tani itu. Karena waktu itu aku kagum dengan keberaniannya, kupersilahkan dia untuk tinggal di rumahku juga. Apalagi semenjak itu dialah yang mengurus kebun keluargaku tanpa bantuan seorang pun buruh tani.

Mengingat hal-hal itu entah kenapa kupikir aku sedikit berlebihan dengan memukulnya barusan. Namun di sisi lain aku juga sebal. Akhirnya daripada bingung dengan perasaanku ini kulanjutkan lagi mandiku.

Selesai mandi aku langsung menuju meja makan untuk memakan sarapanku yang tadi pagi disiapkan Kevin. Di saat itu pula kulihat dia terbangun dari pingsannya tadi.

“Aduduh, Lucy, tadi kan udah minta maaf, ewwh,” keluh Kevin sembari mengelus pipinya yang tadi kupukul.

“Iya, iya, lagian ngapain sih, nggak biasanya kamu pulang dari kebun lebih cepat kayaknya?” Tanyaku.

“Ahh lebih cepat? Oh iya… tadi Pak Kepala Desa bilang ada orang dari Universitas Republik yang dimintai kerajaan untuk memberi penyuluhan pertanian di depan rumahnya, jadinya aku mau mandi dulu, eh apa tadi aku pingsan lama?”

“Hmm iya lumayan, dari aku mandi sampai makan sekarang,” jawabku setelah menelan bubur gandum dengan labu rebus.

“Gawat udah pasti telat nih, Lucy ayo ikut kesana, bagaimanapun tanah kebunnya kan punyamu.”

“Heeh, aku juga? “

“Ayolah, kumohon,” rengeknya.

“Iya deh iya, sana bersihin dulu dirimu itu,” dengan terpaksa aku menyanggupinya. Aku menyanggupinya karena aku tau ketika urusan bertani, akan membuat Kevin menjadi lupa segalanya. Mungkin itu adalah caranya melepas kesedihannya kehilangan keluarganya.

Setelah persiapan kami segera berangkat menuju rumah Kepala Desa. Dan memang, aku dan Kevin terlambat, namun itu tak mengurangi antusias Kevin sedikitpun. Namun aku sedikit kesal dengan hal ini. Apalagi yang di depan memberi penyuluhan adalah seorang sarjana muda yang cantik. Ketika Kevin begitu bersemangat memperhatikannya, ada sedikit perasaan tidak senang atau mungkin kesal yang muncul dalam diriku. Bahkan perasaan kesal ini terbawa sampai waktu kami berjalan kembali ke rumah.

“Vin, dirimu senang banget yah?”

“Tentu saja dong, Cy, aku nggak pernah menduga, ternyata masih banyak hal yang aku belum ketahui dari ayahku dulu…”

Bagian selanjutnya aku tak begitu memperhatikannya, karena dalam hatiku yang ingin kutekankan adalah senangnya adalah kesenangannya melihat sarjana cantik tadi. Yang entah mengapa sedikit mengusik perasaanku.

“Dan juga Lucy, apa kau tau? Sarjana itu katanya akan tinggal sekitar seminggu di desa ini, jadinya tadi Pak Kepala Desa memintaku supaya dibolehin tinggal di rumah,” kata Kevin.

“Rumah siapa?”

“Rumah kita lah,” jawab Kevin dengan santai.

Seketika itu aku seperti tersambar petir sejenak. Tadi saja melihat Kevin sumringah melihat wanita itu saja aku sudah enggan, apa lagi sekarang akan disuruh tinggal satu atap dengan dia. Namun jika aku pikir ulang, kenapa aku pusing, kan aku hanya teman dengan Kevin. Ya, hanya teman.

“Ya… ya… bo… bo… leh saja,” jawabku dengan sangat kacau.

“Lucy, mukamu aneh banget jawabnya.”

“Ah.. berisik!” Reflek seketika itu aku memukul kepalanya. Seketika itu dia jatuh lagi. Untungnya kali ini tidak pingsan. Jika pingsan bisa-bisa aku harus menyeretnya hingga rumah.

Sore harinya Sarjana muda itu datang ke rumahku bersama Kepala Desa mengantarkannya. Dia datang lengkap dengan jubah merah dengan pin emas berbentuk elang berperisai yang merupakan lambang Universitas Republik. Dari mukanya, terlihat Sarjana itu begitu datar ketika berjalan ke rumahku. Begitu juga Kevin yang gembira dengan melambai-lambaikan tangannya kepada mereka.

“Hooh… kalian nampaknya sedang senang sekali ya, hahah. Oh iya Vin, sudah kau bilang ke Lucy kan tadi?” Kata Pak Kepala Desa yang baru datang langsung memulai pembicaraan.

“Tentu boleh kok tadi Lucy bilang,” jawab Kevin dengan tersenyum.

Di dalam hatiku aku sebenarnya ingin berteriak bahwa sebenarnya aku menolaknya, tapi karena ini permintaan Pak Kepala Desa. Mau tak mau aku merasa harus memenuhinya. Dengan bersusah payah aku berusaha menahan emosiku saat itu.

“Perkenalkan, namaku Evelyn Caven,” kata Sarjana itu dengan datar.

“Kalian semua yang akrab ya selama Evelyn tinggal di desa kita, hwahaha,” Pak Kepala Desa seketika itu meninggalkan kami bertiga, seperti tanpa dosa.

 “Masuk saja jangan sungkan-sungkan, anggap saja rumah sendiri,” langsung saja Kevin mempersilakan Evelyn.

“Woi, ini kan rumahku, kenapa kamu yang mempersilakan!” Protesku sambil memukul Kevin.

Kulihat dia tetap tenang walaupun dia juga melihat Kevin sampai ambruk barusan. Cukup dingin juga perempuan ini pikirku.

“Apa kau tidak suka aku tinggal di sini?” tanya Evelyn tiba-tiba. Aku bingung akan menjawab apa.” Aku melihatnya,” tambahnya.

“Ya… bu… bukan begitu…”

“Demi Dewa Sephiron, perempuan ini nyeremin!” Teriakku dalam hati ketika itu, tatapan mata Evelyn membuatku takut dan tak bergedik untuk beberapa saat. Untung saja Kevin langsung bangun dan mencairkan suasana.

“Woaa, udahlah ayo masuk, sudah mau gelap,” Kali ini dalam hati aku berterima kasih pada Kevin untuk mengeluarkanku dari situasi yang canggung ini. Dan langsung saja Kevin membawakan tasnya Evelyn masuk ke rumah yang kemudian diikuti Evelyn. Saat itu pula aku langsung mengembuskan napas lega. Ah, setelah seorang yang bodoh sekarang ditambah orang nyeremin di dalam rumahku, kondisi macam apa ini!

Kondisi rumah dalam hari pertama Evelyn di rumah tidaklah terlalu berbeda dari hari-hari biasa. Mungkin karena Evelyn yang cenderung diam jika tidak menjelaskan seperti waktu di rumah Pak Kepala Desa. Yang berbeda, hanyalah Kevin yang selalu bertanya mengenai pertanian kepada Evelyn setiap ada waktu luang.

Namun pada hari kedua, terjadi suatu hal yang benar-benar membuat aku terbingung dengan perasaanku. Semua itu dimulai ketika Kevin memintaku untuk membawakan makan siangnya ke Kebun Labu.

“Lucy, nanti siang bawakan makananku ke kebun ya, soalnya aku sedikit sibuk di kebun hari ini,” begitulah pesan yang ditinggalkan Kevin di meja makan. Pada mulanya aku tak begitu mempermasalahkannya, karena terkadang memang dia memintaku untuk membawakannya.

Tak ada perasaan apapun ketika aku berangkat. Namun sesampainya aku di kebun, aku melihat sesuatu yang membuat perasaanku sakit. Aku melihat Kevin menggendong Evelyn di depan dan mereka saling bertatap mata cukup lama.

Aku tahu, aku hanyalah teman bagi Kevin. Tapi perasaan apa ini. Aku seperti iri dengan Evelyn. Aku ingin yang digendong Kevin adalah aku. Sampai-sampai aku ingin tahu sebenarnya sudah ada hubungankah antara dia dengan Kevin?

Aku langsung menaruh rantang berisi bubur gandum dan labu rebus yang kubawa di pinggir kebun. Dan segera kutinggalkan mereka. Sempat kudengar Kevin berteriak memanggilku ketika aku sudah berlari menjauh dari kebun. Namun tentu saja karena perasaanku yang sedang tidak karuan ini membuatku tidak menghiraukan teriakkannya. Aku langsung pulang dan mengunci kamarku karena perasaan ini. Tanpa terasa air mata meleleh perlahan di pipiku. Bodoh kenapa aku menangisinya!

Aku terus di dalam kamar hingga sore menjelang, dan kudengar suara Kevin dan Evelyn telah datang.

“Lucy, apa kau di rumah?” Kudengar Kevin memanggilku.

“Iya… a…,” dengan sedikit terisak.

Tak lama kemudian terdengar pintu kamarku diketuk.

“Oi Cy, apa kau baik-baik saja? Kok suaramu kayak gitu tadi jawabnya?” Tanya Kevin. Aku kira Kevin bertanya seperti itu karena aku menjawab tadi dengan seperti sedikit menangis.

“Enggak apa-apa, aku lagi ngiris bawang.”

“Ngiris bawang kok di kamar?”

Dengan segera aku membuka kamarku. Dengan kondisi antara marah dan menangis aku menjawabnya segera setelah membuka pintu, “Memang nggak boleh ngiris bawang di kamar?”

“Emm, coba kulihat.”

“Brakk,” seketika itu langsung kutarik pintu kamarku dan menguncinya.

“Nggak boleh, udah sana kamu mandi dulu! Bukan urusanmu ini!” Kataku dengan membentaknya. Saat itu aku sadar, Evelyn melihatku dengan tatapan datarnya. Entah apa yang ingin dikatakannya. Yang jelas dia hanya diam.

Makan malam waktu itu pun, Kevin berusaha menanyai keadaanku. Namun aku tetap mencari segala alasan untuk tidak menjawabnya. Dan akhirnya Kevin malam itu langsung menyerah dan tidur setelah menghadapi sikapku ini.

Esoknya seperti biasa mereka berdua telah pergi meninggalkanku pagi-pagi buta sebelum aku bangun. Dalam hati aku masih penasaran dengan apa yang kulihat kemarin. Walau aku juga takut jika aku melihat lagi keduanya seperti kemarin. Namun karena rasa penasaranku lebih besar, sehingga kuputuskan untuk diam-diam melihatnya di kebun. Namun di kebun kulihat hanya Kevin yang sibuk dengan labu-labu di kebunku.

Esoknya lagi aku kembali diam-diam ke kebun. Dan hari ini kudapati Kevin sedang Duduk di pinggir kebun bersama Evelyn. Kulihat mereka sedang membicarakan sesuatu. Karena penasaran kucoba mendekatinya perlahan. Namun belum sempat cukup dekat untuk mendengar pembicaraan mereka, kakiku tersandung labu dan jatuh dengan keras.

Tentu saja bunyi terjatuh tadi membuat Kevin dan Evelyn menyadari kedatanganku, “Oh Lucy, ada apa kok ke kebun?” Tanya Kevin.

Namun yang membuatku seketika kikuk adalah pandangan Evelyn. Seakan pandangan datarnya itu menunjukkan keenggannannya atas keberadaanku saat ini. Sehingga secara insting aku langsung pergi meninggalkan mereka berdua pulang. Tentu saja ketika di rumah aku kembali menyalahkan diriku sendiri dengan tindakanku ini.

Akhirnya sepulang Kevin dari kebun. Ketika dia sedang duduk di kursi kayu, kucoba menayakannya.

“Vin, emangnya tadi ngomongin apa sama Evelyn?”

“Oh gini, Lucy, sebelumnya kau ingin kebun kita ini lebih hebat bukan daripada yang sekarang ini?”

“Tentu saja, terus kenapa?” Jawabku.

“Aku ingin pergi ke Leraschap, aku ingin belajar pertanian lebih lagi di Universitas Republik,” Kata Kevin. Saat itu aku melihat Kevin begitu serius dengan ucapannya namun aku tetap menayakan keyakinnannya.

“Serius?”

“Hmm… iya aku serius, nanti ketika Evelyn pulang dari sini, aku akan ikut dengannya ke Kota Leraschap.”

Mendengar rencananya akan pergi bersama Evelyn seketika itu emosiku menjadi kacau. Aku tak tau apakah perasaanku ini sedih, marah, atau benci. Aku memutar isi kepalaku, mencari alasan supaya Kevin mengurungkan niatnya.

“Vin, kalo kamu pergi, yang ngurus kebun siapa?”

“Aku sudah minta Ronald kok, katanya dia bisa, yang penting kau gaji saja dia nanti,” jawabnya.

“Terus kalau kau di sana mau hidup gimana?”

“Santai saja, pasti nanti ada jalan kok.”

Setiap pernyataanku untuk mengurungkan niatannya, dibantahnya semuanya. Saat itu aku merasa Kevin seolah semakin jauh dariku. Semakin tak terjangkau olehku. Aku bingung, kenapa aku takut dengan kepergian Kevin? Ada apa dengan perasaanku ini? Tanpa sepatah kata pun setelah itu kutinggalkan Kevin. Tanpa menjawab izinnya, kurasa dia akan tetap pergi ke Leraschap.

Di tengah kebingunganku, malam itu aku memilih untuk berjalan-jalan mengelilingi desa. Sampai-sampai tak terasa aku berjalan hingga pinggir sungai yang ada di utara desa ini. Di sana aku duduk termenung sembari melihat pantulan purnama di permukaan air.

“Hei,” tiba-tiba suara Evelyn muncul di belakangku.

Seketika itu aku kaget dan hampir terjatuh ke sungai. Tanpa komando Evelyn langsung saja berjalan dan duduk di sampingku.

“Ada apa? Kenapa kau ini?” tanya dia dengan tetap menunjukan wajah datarnya.

Kulihat wajahnya di malam itu, benar-benar kuakui dia memang cantik. Apalagi ketika wajahnya diterpa sinar bulan malam itu. Dan itu kuakui membuatku iri sekaligus ragu untuk menjawab pertanyaannya.

“Aku tahu, kau cemburu kepadaku,” jawabnya yang seketika membuat rasanya darahku naik ke kepalaku dengan cepat karena malu.

“Nggak usah malu, wajahmu memerah itu,” katanya dengan datar melihatku.

“Sia… siapa yang malu!”

“Aku Melihatnya, kau suka sama dia kan?” Tanya Evelyn.

“Siapa?”

“Bocah yang di rumahmu itu,” katanya.

“Mm…. mana mungkin a… aaaku suka sama Kevin, hwaaa ha ha…”

“Enggak, aku tahu itu, namun kau terus-menerus mengelak perasaanmu itu. Aku melihat setiap reaksimu ketika aku sedang bersama anak itu. Bahkan di hari setelah aku terpeleset dan ditangkap anak itu, dan saat itu aku tidak bersamanya, aku melihatmu sedang mengamati dia dari balik semak-semak.”

“Kamu melihatnya…!” Seketika itu kututup mukaku dengan tanganku. Tak kuduga saat itu aku dilihatnya ketika sedang mengawasi Kevin.

“Sudahlah jangan kau elak lagi, kau memang mencintainya, katakan saja padanya.”

“Tapi… bukannya kalian…,” belum selesai aku berbicara Evelyn langsung menjawabnya,” Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan dia, lagian mana mungkin aku suka dengan laki-laki yang lebih muda dariku. Kau itu sudah nggak mau jujur, suka berprasangka buruk lagi.”

“Tapi… sebentar lagi dia mau pergi, dan aku tahu dia sudah bulat akan pergi dari sini, aku tak bisa mengehntikannya.”

“Kau masih punya waktu tiga hari kan? dalam waktu itu katakan saja padanya, atau kau tak pernah punya kesempatan lagi,” Katanya sembari bangkit dan meninggalkanku di tepian sungai malam itu.

Aku mencintainya? Mungkin itu alasan yang masuk akal atas perasaanku akhir-akhir ini. Perasaan yang tumbuh sejak kecil itu, merubah perasaanku yang sebelumnya menganggapnya hanya teman, menjadi menginginkan lebih. Menginginkan perasaanya untukku.

Di sisa tiga hari itu, aku menjadi bingung antara akan mengatakannya atau tidak.

“Grr… ini gara-gara Evelyn. Aku jadi tambah bingung mau bilang atau enggak,” gerutuku.

“Apanya yang mau bilang?” Tiba-tiba Kevin yang baru pulang dari kebun, mengejutkanku.

“Hwaa… bu bukan apa… apa…!” Di saat itu pula kulihat Evelyn hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Aku tahu dia bermaksud bukan ini seharusnya yang aku lakukan.

“Ah… Lucy, mukamu memerah, kenapa?” Tanya Kevin.

“Berisik!” kataku sambil reflek memukul Kevin. Lagi-lagi Evelyn hanya menggelengkan kepala melihat apa yang aku lakukan.

Waktu tiga hari itu pun berlalu dengan percuma, karena aku masih bingung akan mengatakannya atau tidak karena rasa maluku ini. Sampai tiba malam sebelum Kevin berangkat. Aku semakin bingung, waktuku semakin sempit, namun aku tak memiliki keberanian sedikit pun.

“Prak-prak,” suara kaca jendela kamarku diketuk. Dan kulihat itu adalah Evelyn, kubuka jendela kamarku,“ Katakan malam ini atau kau tak ada kesempatan lagi,” katanya dengan wajah yang selalu ditunjukkannya itu.

“Tapi…”

“Sekarang atau tidak!”

Akhirnya kuberanikan diriku untuk keluar dari kamarku, walau ada perasaan malu di dalam hatiku. Kulihat Kevin dengan lelapnya masih tidur di tumpukan jerami dekat perapian.

“Vin… a… aku… mencintai… mu…,” Aku mengatakannya. Meskipun aku tau, dia tidak tidak mendengarkannya karena masih tertidur. Kulihat wajahnya baik-baik di ruang yang hanya terterangi oleh lampu minyak ini. Aku mencintainya namun aku tak bisa mengatakannya secara langsung.

Kucoba tuk dekatkan mulutku ke mulutnya. Saat itu entah dari mana bisikan yang mendorongku untuk menciumnya. Wajahku semakin mendekat, semakin terlihat wajahnya yang bodoh itu. Aku pun mulai menutup mataku beberapa centi sebelum bertemu bibir kami.

“Lucy?” Suara itu mengejutkanku. Seketika itu mataku terbuka dan kulihat dia terbangun dari tidurnya. Langsung saja aku menjauh karena malunya setengah mati dan duduk di dipan kamarku. Tak lama Kevin menyusul dan berdiri di pintu kamarku. Meskipun seperti itu, tak ada satu kata pun di antara kami yang terucap.

Sesaat kata-kata Evelyn terniang di kepalaku, “Sekarang atau tidak.”

“Vin, a… aku… aku…”

“Kenapa?”

“Aku mencintaimu, aku menginginkanmu hanya untukku, aku ingin dirimu ada di sisiku selamanya,” Kata-kata itu meluncur dari mulutku, membuat diriku malu setengah mati.

 “Kumohon,” sembari bangkit dari dudukku dan memeluk Kevin.

“E… i… bagaimana ya? Aku kan besok mau pergi?”

“Nggak masalah, aku tahu itu sudah sifatmu, karena itulah dirimu. Aku akan menunggumu di sini sampai kau jadi sarjana. Setelah itu kumohon, bawalah aku ke altar kuil dan nikahi aku,” kataku dengan air mata yang mulai perlahan meleleh. Situasi sunyi muncul di antara kami. Pelukanku saat itu rasanya tak ingin kulepaskan.

“Terima kasih Cy… Ya aku akan membawamu ke altar itu kelak.”

“Janji…” kulepaskan pelukanku sambil melihatnya dengan mataku yang terasa berkaca.

“Heemhh tentu saja,” jawab Kevin dengan satu anggukan dan mengelus-elus rambutku.

Entah bagaimana bisa digambarkannya kebahagiaanku malam itu. Dan seketika itu kuberikan sebuah ciuman yang tertunda tadi.

 

-selesai-

 

Bonus:

Kereta kuda yang membawaku bersama Evelyn telah meninggalkan Desa Gardeux. Akhirnya aku akan pergi belajar pertanian lebih lanjut daripada yang diajarkan ayahku dahulu. Apalagi saat ini merupakan pertama kalinya aku pergi meninggalkan desa. Walaupun tadi pagi Lucy tidak mau mengantarkanku dan hanya bersembunyi di balik selimutnya.

“Hei bocah!” Evelyn memanggilku.

“Kenapa?”

“Aku melihatmu, melakukan itu dengan gadis itu…”

“Kau melihatnyaaaaa!” Teriakku.

“Ya, tak kusangka dia akan memaksamu menerima hadiah yang akan membuatmu terikat dengan gadis itu selamanya.”

Seketika itu kupakai tasku untuk menutupi muka. Ya, semalam, tak kusangka juga, Lucy memaksaku untuk melakukan hal yang seharusnya dilakukan oleh pasangan suami istri.

“Karena itu, cepatlah menjadi sarjana pertanian dan kembali untuk membawanya ke altar pernikahan,” Kata Evelyn.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Robospider_no6
Robospider_no6 at Aku... Mencintaimu... (4 years 24 weeks ago)
40

Perlu pendalaman karakternya.

Writer Robospider_no6
Robospider_no6 at Aku... Mencintaimu... (4 years 24 weeks ago)
40

Perlu pendalaman karakter lagi.

Writer daniswanda
daniswanda at Aku... Mencintaimu... (4 years 26 weeks ago)
80

Anu, pemakaian elipsis di judul itu ngganjel di sayanya. Nggak tau juga boleh apa nggak di ketentuan berbahasa yg baik dan benar. Tapi, ya, ganjel aja. *gak jelas*
.
Ini masuk fantasi nggak sih? Saya selalu kagum sama yg bisa nulis cerita fantasi gini. Soalnya imajinasinya harus lebih detail buat mikirin latarnya. Sementara saya masih blum sanggup ke arah sana. Masih pusing mikirin kapan gajian.
.
Itu aja sih broh yg bisa saya tambahin. Yg lain uda cukup dibantai sama tante editor kita bersama. Yuk mari.

Writer lost_boy
lost_boy at Aku... Mencintaimu... (4 years 26 weeks ago)

emang dunianya aku pakai dari dunianya cerita fantasi punyaku. Total sama cerita ini ada 4 cerita yang pake dunia yang sama. Gampang kok kalo menurut ane mikir latar fantasi ini, sebenernya kalo bisa pasang gambarnya juga, dunianya bentuknya hampir mirip bentuknya sama mapnya RO.

Writer The Smoker
The Smoker at Aku... Mencintaimu... (4 years 26 weeks ago)
70

Serasa nonton anime, ya kalau nggak, sinetron, mungkin.
Udah disatroni sama Kartika Demia deng untuk selebihnya. Karena selebihnya lagi saya nggak tau juga mesti komen apa. Saya another lost boy. Tapi Setidaknya ceritamu ( dan 2 yg lain) lebih masuk ke kriteria tantangan daripada punya saya. Salut!

Writer kartika demia
kartika demia at Aku... Mencintaimu... (4 years 27 weeks ago)
60

Judulnya kurang menarik.
.
inipun seorangpun kesana sedikitpun itupun katapun--> penulisannya semua dipisah
.
Banyak kalimat yang tidak efektif, pengulangan kata, serangan -nya, serangan -ku;
Segera kutinggalkan tempat tidurku dan kulihat sekeliling rumah telah sepi--> Segera kutinggalkan tempat tidur dan melihat sekeliling rumah telah sepi.
.
Tanpa berpikir banyak aku menuju sumur di belakang rumah, untuk mandi menyegarkan diriku. Kutanggalkan semua pakaianku dan mulai menimba air untuk kuguyurkan di tubuhku. ('ku'-nya masih bisa dipangkas ini, jangan ditulis berulang karena membuat pembaca bosan)
.
aku menengokkan kepalaku --> aku menengok
.
Hawa pagi Desa Gardeux yang segar inipun turut menambah paksaan diriku untuk bangun.--> Hawa pagi Desa Gardeux yang segar ini pun memaksa diriku untuk bangun.
.
Dan memang, Aku dan Kevin terlambat, --> 'aku' kenapa ditulis kapital?
.
Silahkan--> silakan
Menghembuskan--> mengembuskan
Nafas--> napas
.
Sampai-sampai tak terasa aku berjalan hingga pinggir Sungai yang ada di utara desa ini. --> 'sungai' kenapa ditulis kapital?
.
Kau masih punya waktu 3 hari kan? --> angka 3 ditulis huruf, kecuali jika urutan/paparan/nominal uang dlsb.

Writer lost_boy
lost_boy at Aku... Mencintaimu... (4 years 26 weeks ago)

haha emang masih banyak yang kurang dalam hal nulis menulis

bentar catet catet dahulu entar malam coba betulin
kalo yang kalimat efektif, itu ennn... antara kebiasaan ato enggak sering banget aku, dan masih belum paham juga gimana supaya efektif.