Anak-anak Lari-lari Telanjang

Revolusi dimulai hari ini. Dimulai oleh anak-anak.

Anak-anak keluar rumah, turun ke jalan membawa krayon dan ketapel.

Mereka menolak mandi, bajunya penuh bercak, mulutnya cemong.

Sebagian membenci sayur, semuanya menyukai es krim.

Mereka bangun lebih pagi karena dipaksa tidur lebih cepat.

Mereka bangun lebih cepat daripada orang dewasa dan kini mereka turun ke jalan. Serentak, bergerak, merangkak menuju revolusi.

 

Mereka tidak tahu apa itu revolusi, orang dewasa yang memberikan nama.

Yang mereka tahu sekeliling perlu direnovasi. Diubah-bentuk, dicat-ulang, dibongkar-pasang.

Iwang mencorat-coret kaca mobil, Ipit membotaki kepalanya sendiri.

Arul melempari kaca-kaca, Chika menumpahkan isi tong sampah.

Obon membuat genangan di atas aspal, Lale menabuh tiang listrik dan bernyanyi.

Riuhnya pagi membangunkan matahari. Memaksa angin berhenti dan kabut tergulung.

 

Revolusi dimulai hari ini. Dimulai oleh anak-anak.

Merekalah yang merubah warna pelangi, mengacak orbit tata surya, menambah kumis pada foto muka raja-raja.

Di mata mereka, gedung pencakar langit adalah robot raksasa, singa hanyalah kucing besar, sekolah adalah arena bermain dengan banyak rambu.

Mereka girang dan tertawa-tawa. Dengan tanpa dosa merombak tatanan.

Mereka melihatnya sebagai keindahan.

Sementara di balik empat sisi dinding kamar, bangkit dari permukaan kasur yang empuk, orang dewasa pertama yang terusik oleh kebisingan menyingkap tirai, dan melalui jendela dia melihat: “Apa makna kekacauan ini?”

 

Berangsur-angsur orang dewasa yang lain terbangun.

Di hadapan jendela kamar masing-masing pertanyaan yang sama menyebar antar kepala.

Satu pikiran, satu rasa, satu dunia. Keseragamannya tak terelakkan.

Tercengang dalam keheranan yang buntu.

Kuping menangkap suara petasan, bola mata menangkap gelembung balon yang mengangkasa.

Anak-anak lari-lari telanjang, asyik-masyuk di balik semak-semak.

Kekacauannya tampak begitu artistik, terdengar begitu melodius.

Sekejap terasa seperti akrab, gema yang bersumber jauh dari sumur yang dalam terbengkalai.

 

Di hadapan jendela kamar masing-masing mereka terbungkam.

Keriangan di luar sana mengundang kebisuan di dalam sini.

Mematunglah mereka yang dulunya para pemburu dinosaurus, penakluk ruang angkasa, dan pembantah logika.

Dan sekarang ujung jari mereka pun tak sanggup menggapai kekacauan itu.

Raga mereka telah terkutuk untuk terkunci di balik pintu dan sekat.

Sekali lagi mereka melihat, anak-anak lari-lari telanjang, asyik-masyuk di balik semak-semak.

Namun tak ada jendela di hadapan, tapi cermin yang memantulkan wajah mereka sendiri.

Anak-anak telah tersapu waktu, dimakamkan pada garis kerut-keriput di kulit.

“Revolusi dimulai hari ini?” tanya mereka penuh harapan.

 “Sekarang hanyalah waktunya bangun pagi,” cermin menjawab dingin.

Pagi datang seperti biasanya, membubuhkan angan-angan ke dalam lubuk.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer nusantara
nusantara at Anak-anak Lari-lari Telanjang (2 years 15 weeks ago)
70

bukan karya sembarangan...
saya aneh sekali bila ternyata hari ini baru berkesempatan membacanya.
SAYA MASIH KEKANAKAN WALAUPUN SEDIKIT, tapi saya tak pernah merasa harus mengakhiri kekanakan itu.
#aku meminta uang pada ibuku untuk ke warnet membaca lagi di
kemudian.com.
usiaku sudah kepala tiga, orang-orang pendengki tak peduli hal itu dan terus menguntit walau orangtuaku tidak tahu.
mungkin mereka berkomentar miring di tentang ini perihal masih minta uang seperti anak usia sd.
banyak yang mereka tidak mengerti tentangku namun mereka berani menghakimi dan menilai dengan miring.
#aku seharusnya juga berhenti merokok setelah bertahun menganggur sementara usaha rintisan belumlah berkembang.
tapi aku berhutang dan ibuku yang membayar bila ia datang kembali ke kampung setelahnya ia melanjtukan usahanya berjualan nasi kuning di Bandung sana.
#wahai para oknum berkepala panas dan tidak berpiir dengan akal sehat yang menguntit dan memitnah, berhentilah menjadi seburuk-buruk manusia dan bantulah aku untuk menjadi orang yang mampu merevolusi diri menuju perubahan sikap ke arah yang lebih dewasa dan lebih bijaksana.

Writer loluji
loluji at Anak-anak Lari-lari Telanjang (5 years 5 weeks ago)
100

Hmm, saya suka bagaimana puisi ini membuat saya berpikir lagi ke bagian awal puisi setelah sampai di akhir. Mungkin karena anak-anak lari-lari telanjang. Ehehe. ^^

Writer Nine
Nine at Anak-anak Lari-lari Telanjang (5 years 16 weeks ago)
100

Puisi yang inspiratif, setidaknya untuk saya sendiri. ^^

Writer Ryan_Ariyanto
Ryan_Ariyanto at Anak-anak Lari-lari Telanjang (5 years 17 weeks ago)
100

cerdas,, suka.

Writer niNEFOur
niNEFOur at Anak-anak Lari-lari Telanjang (5 years 17 weeks ago)
100

wah ini baru puisi.
cerdas dan dalam
#:maaf tidak ada niat balas dendam :3
hanya sedikit mengganjal pada baris ketiga "Mereka menolak mandi, bajunya penuh bercak, mulutnya cemong."
bajunya penuh bercak bertentangan dengan telanjang