Jamur Bumi (Bolesław Prus)

Terjemahan iseng.

***

SUATU KETIKA saya kebetulan ada di Puławy dengan seorang pakar botani kenalan. Kami duduk di Kuil Sibyl pada sebuah bangku di samping sebongkah batu besar yang ditumbuhi lumut-lumutan atau jamur-jamuran yang mana telah beberapa tahun ini diteliti oleh rekan saya yang berpendidikan.

Saya tanyakan apa yang membuatnya tertarik pada bercak-bercak tak beraturan berwarna krem, abu-abu, hiijau, kuning, atau merah itu.

Dia menatap saya ragu tapi, yakin tak ada yang bisa tahu apa yang akan terjadi, dia lanjut menjelaskan:

“Bercak-bercak yang kau lihat ini bukan kotoran tak bernyawa tapi—sekumpulan makhluk hidup. Tak tampak bagi mata telanjang, tapi mereka lahir, melakukan gerak-gerik yang tak kentara bagi kita, masuk dalam ikatan perkawinan, menghasilkan keturunan, dan mati pada akhirnya.

“Yang lebih mengagumkan lagi, mereka seakan-akan merupakan masyarakat yang kau kenal dalam wujud ragam warna bercak-bercak—mereka mengolah tanah di bawah mereka bagi generasi selanjutnya—mereka berkembang biak, menjajah lahan-lahan kosong, bahkan perlu bertempur satu sama lain.

“Bercak abu-abu ini, yang sebesar tangan seorang laki-laki, dua tahun yang lalu tak lebih dari seukuran koin penny. Titik abu-abu mungil yang satu ini, setahun yang lalu, tidak pernah ada dan muncul dari noktah besar yang menguasai puncak bongkah.

“Yang dua ini, yang kuning dan yang merah, mereka bertempur. Satu ketika yang kuning lebih besar, tapi lambat laun wilayahnya direbut oleh tetangganya. Dan coba lihat yang hijau itu—coba lihat bagaimana tetangga-tetangganya yang beruban telah menerobosi wilayahnya—berapa banyak garis, titik, dan gumpal berwarna abu-abu yang ada dalam latar hijaunya...”

“Sedikit mirip dengan kita,” kata saya.

“Tentu tidak,” balas sang pakar botani. “Masyarakat ini tidak memiliki bahasa, kesenian, pendidikan, kesadaran, perasaan—dengan kata lain, mereka tidak memiliki jiwa dan hati, yang dipunyai oleh umat manusia. Dalam masyarakat ini semuanya terjadi secara buta, mekanis, tanpa simpati atau antipati.”

Beberapa tahun kemudian saya kebetulan ada di dekat bongkah batu yang sama pada malam hari, dan melalu sorotan sinar bulan saya menyadari telah terjadi perubahan bentuk dan ukuran dari ragam jamur tersebut.

Tiba-tiba seseorang menyenggol saya. Si pakar botanis itu ternyata. Saya ajak dia duduk; tapi dia berdiri di hadapan saya seolah-olah hendak menghalangi sinar bulan, dan membisikkan sesuatu dengan suara hampa.

Kuil Sibyl, bangku dan bongkahannya lenyap. Saya rasakan dalam diri saya suatu kecemerlangan samar juga kekosongan besar. Dan ketika saya menoleh, saya lihat sesuatu seperti bola dunia sekolahan yang menyinarkan cahaya redup, bola dunia yang sama besarnya dengan bongkahan batu berlumut yang telah kami lihat sebelumnya.

Bola dunia itu berputar perlahan-lahan, menunjukkan area-area baru secara berturut-turut. Ada benua Asia degngan semenanjung kecilnya, Eropa; ada Afrika, dua belah Amerika...

Dengan penuh perhatian, saya bayangkan wilayah-wilayah berpenghuni tersebut serupa bercak-bercak—krem, abu-abu, hijau, kuning, dan merah—pada bongkahan. Wilayah-wilayah ini terbentuk oleh berjuta-juta titik yang sangat kecil, seolah-olah tak bergerak tapi kenyataannya bergerak begitu lamban: seorang yang mewakili satu titik bergerak paling cepat dua-menit busur selama satu jam, dan tidak dalam garis lurus tapi seakan-akan berosilasi terhadap titik pusat geraknya sendiri.

Titik-titik berkumpul, berpisah, menghilang, muncul lagi pada permukaan bola dunia: tapi ini semua tak terlalu berarti. Yang paling berdampak adalah gerakan bercak-bercak secara keseluruhan, yang menghilangkan atau menumbujkan, muncul di tempat-tempat baru, menyusupi atau menggusuri satu sama lain.

Sementara itu bola dunia terus bergerak dan tampaknya siap melakukan ratusan bahkan ribuan putaran lagi.

“Beginikah sejarah umat manusia?” saya bertanya pada pakar botani, yang berdiri di samping saya.

Dia mengangguk mengiyakan.

“Baiklah—lantas di mana letak seni dan pengetahuan?...”

“Dia tersenyum murung.

“Di mana kesadaran, cinta, benci, hasrat?...”

“Ha! Ha! Ha!...” dia tertawa lembut.

“Singkatnya—di mana jiwa dan hati umat manusia?...”

“Ha! Ha! Ha!...”

Saya tersinggung oleh sikapnya.

“Siapa kau ini?...” tanya saya.

Baru kemudian saya menyadari saya telah kembali berada di taman, di samping bongkahan, yang bercak-bercaknya bergelimang di bawah sinar bulan.

Rekan saya sudah lenyap, tapi sekarang saya kenang dia melalui ejekan dan melankolinya.[]

Dia menatap saya ragu tapi, yakin tak ada yang bisa tahu apa yang akan terjadi, dia lanjut menjelaskan:

“Bercak-bercak yang kau lihat ini bukan kotoran tak bernyawa tapi—sekumpulan makhluk hidup. Tak tampak bagi mata telanjang, tapi merek lahir, melakukan gerak-gerik yang tak kentara bagi kita, masuk dalam ikatan perkawinan, mengkhasilkan keturunan, dan mati pada akhirnya.

“Yang lebih mengagumkan lagi, mereka seakan-akan merupakan masyarakat yang kau ketahu di sini dalam bwujud ragam warna bercak-bercak—mereka mengolah tanah di bawah mereka bagi generasi selanjutnya—mereka berkembang biak, menjajah lahan-lahan kosong, bahkan perlu bertempur satu sama lain.

“Bercak abu-abu ini, yang sebesar tangan seorang laki-laki, dua tahun yang lalu tak lebih dari seukuran koin penny. Titik abu-abu mungil yang satu ini, setahun yang lalu, tidak pernah ada dan muncul dari noktah besar yang menguasai puncak bongkah.

“Yang dua ini, yang kuning dan yang merah, mereka bertempur. Satu ketika yang kuning lebih besar, tapi lambat laun wilayahnya direbut oleh tetangganya. Dan coba lihat yang hijau itu—coba lihat bagaimana tetangga-tetangganya yang beruban telah menerobosi wilayahnya—berapa banyak garis, titik, dan gumpal berwarna abu-abu yang ada dalam latar hijaunya...”

“Sedikit mirip dengan kita,” kata saya.

“Tentu tidak,” balas sang pakar botani. “Masyarakat ini tidak memiliki bahasa, kesenian, pendidikan, kesadaran, perasaan—dengan kata lain, mereka tidak memiliki jiwa dan hati, yang dipunyai oleh umat manusia. Dalam masyarakat ini semuanya terjadi secara buta, mekanis, tanpa simpati atau antipati.”

Beberapa tahun kemudian saya kebetulan ada di dekat bongkah batu yang sama pada malam hari, dan melalu sorotan sinar bulan saya menyadari telah terjadi perubahan bentuk dan ukuran dari ragam jamur tersebut.

Tiba-tiba seseorang menyenggol saya. Si pakar botanis itu ternyata. Saya ajak dia duduk; tapi dia berdiri di hadapan saya seolah-olah hendak menghalangi sinar bulan, dan membisikkan sesuatu dengan suara hampa.

Kuil Sibyl, bangku dan bongkahannya lenyap. Saya rasakan dalam diri saya suatu kecemerlangan samar juga kekosongan besar. Dan ketika saya menoleh, saya lihat sesuatu seperti bola dunia sekolahan yang menyinarkan cahaya redup, bola dunia yang sama besarnya dengan bongkahan batu berlumut yang telah kami lihat sebelumnya.

Bola dunia itu berputar perlahan-lahan, menunjukkan area-area baru secara berturut-turut. Ada benua Asia dengan semenanjung kecilnya, Eropa; ada Afrika, dua belah Amerika...

Dengan penuh perhatian, saya bayangkan wilayah-wilayah berpenghuni tersebut serupa bercak-bercak—krem, abu-abu, hijau, kuning, dan merah—pada bongkahan. Wilayah-wilayah ini terbentuk oleh berjuta-juta titik yang sangat kecil, seolah-olah tak bergerak tapi kenyataannya bergerak begitu lamban: seorang yang mewakili satu titik bergerak paling cepat dua-menit busur selama satu jam, dan tidak dalam garis lurus tapi seakan-akan berosilasi terhadap titik pusat geraknya sendiri.

Titik-titik berkumpul, berpisah, menghilang, muncul lagi pada permukaan bola dunia: tapi ini semua tak terlalu berarti. Yang paling berdampak adalah gerakan bercak-bercak secara keseluruhan, yang menghilangkan atau menimbulkan, muncul di tempat-tempat baru, menyusupi atau menggusuri satu sama lain.

Sementara itu bola dunia terus bergerak dan tampaknya siap melakukan ratusan bahkan ribuan putaran lagi.

“Beginikah sejarah umat manusia?” saya bertanya pada pakar botani, yang berdiri di samping saya.

Dia mengangguk mengiyakan.

“Baiklah—lantas di mana letak seni dan pengetahuan?...”

“Dia tersenyum murung.

“Di mana kesadaran, cinta, benci, hasrat?...”

“Ha! Ha! Ha!...” dia tertawa lembut.

“Singkatnya—di mana jiwa dan hati umat manusia?...”

“Ha! Ha! Ha!...”

Saya tersinggung oleh sikapnya.

“Siapa kau ini?...” tanya saya.

Baru kemudian saya menyadari saya telah kembali berada di taman, di samping bongkahan, yang bercak-bercaknya bergelimang di bawah sinar bulan.

Rekan saya sudah lenyap, tapi sekarang saya kenang dia melalui ejekan dan melankolinya.[]

***

Diterjemahkan dari versi Inggris cerpen Mold of the Earth karya penulis Polandia, Bolesław Prus.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
sijojoz at Jamur Bumi (Bolesław Prus) (4 years 4 weeks ago)
80

sebuah kritik halus penulis pada masyarakat jaman itu kan ya?