Telegraf Bernyawa (Bolesław Prus)

Terjemahan iseng.

***

PADA kunjungannya ke panti asuhan, Sang Countess mengamati suatu kejadian yang tak biasa di lorong: empat anak laki-laki bergumul merebutkan sebuah buku lusuh sebegitu bersemangatnya.

“Bocah-bocah, saya lihat kalian bertengkar, ‘kan?” teriak wanita itu cemas. “Karena itu, tak satupun dari kalian mendapat jatah kue rempah-rempah dan kalian semua akan akan dihukum berlutut.”

“Dia mengambil Robinson Crusoe-ku!” salah satu bocah menjelaskan.

“Bohong, dia yang mengambil!” yang kedua menyangkal.

“Lihat betapa jago kau berbohong!” teriak yang ketiga. “Kau yang ambil buku itu dariku.”

Sang biarawati menjelaskan pada Sang Countess, sekalipun dalam pengawasan ketat, kejadian semacam ini cukup sering terjadi karena anak-anak begitu ingin membaca tapi tak ada buku yang dipunyai panti asuhan.

Suatu percikan muncul di hati Sang Countess. Tapi karena dia cenderung gampang letih kalau berpikir, dia lebih memilih melupakannya. Barulah ketika berada di kediaman Konselor, tempat yang pantas untuk membicarakan urusan-urusan saleh nan dermawan, dia meceritakan kejadian di panti asuhan lengkap dengan penjelasan sang biarawati.

Ketika mendengarkan, Sang Konselor juga diterpa suatu perasaan asing dan, karena lebih menguasi seni berpikir, dengan berani menyatakan kalau anak-anak yatim piatu itu patut dibekali buku-buku. Memang, dia ingat di dalam kolset atau koper dia punya setumpuk buku-buku yang dibelinya untuk anak-anaknya sendiri; tapi sekarang... sudah terlalu berat baginya untuk menggeledahi rongsokan-rongsokan.

Petang harinya Sang Konselor mengunjungi kediaman Tuan Z, yang sepanjang hidupnya dihabiskan untuk jasa-jasa kecil kemanusiaan yang merupakan bagian dari hierarki kepejabatan tingkat tujuh dan tingkat tiga. Dengan niat memuaskan, Sang Konselor menceritakan Tuan Z. apa-apa saja yang telah Sang Countess saksikan dan dengar dari biarawati di panti asuhan, ditambah dengan bagiannya sendiri seputar buku-buku yang sebetulnya patut didapatkan oleh anak-anak yatim piatu itu.

“Memang tidak sederhana!” seru Tuan Z. “Akan saya datangi Kantor Berita Kurir besok dan akan saya bujuk mereka menerbitkan suatu pemberitahuan.”

Keesokan harinya Tuan Z. bergegas meluncur ke Kantor Berita Kurir, memohon para editor atas segala sesuatu yang kudus untuk membangkitkan jiwa publik agar menyumbangkan buku-buku pada panti asuhan.

Dia sedang beruntung, sebab koran sedang membutuhkan beberapa baris yang sarat akan hal-hal sensasional. Editor urusan sosial duduk dan menulis:

“Sekelompok anak-anak yang merupakan tanggung jawab publik tengah menderita kekurangan buku.

“Anak-anak kecil yang begitu merindu.

“Ingatlah jiwa-jiwa yang lapar!”

Lantas, sambil bersiul, dia pergi makan siang.

Beberapa hari kemudian, pada hari Minggu, di depan pintu kantor editorial yang tertutup saya bertemu seorang laki-laki miskin berpakaian buruk dengan tangan selegam pembersih cerobong asap, dan bersamanya menyelinap seorang gadis kecil membawa sekotak buku-buku tua.

“Apa yang bisa saya bantu?”

“Laki-laki jembel itu mengangkat topinya dan menjawab malu-malu:

“Kami bawakan beberapa buku untuk anak-anak ‘lapar’ yang kau tulis itu...”

Gadis ramping itu membungkuk dan tersipu-sipu, sebegitu merah sampai-sampai seperti tengah mengidap anemia tahap awal.

Saya ambil buku-buku dari gadis itu dan saya berikan pada pesuruh kantor.

“Siapa nama Anda?” saya bertanya pada laki-laki itu.

“Untuk apa?” tanyanya bingung.

“Kami harus mencetak nama penyumbang.”

“Ah, tak usahlah, tuan; saya cuma laki-laki miskin dari pabrik topi... Tak perlulah...”

Lantas dia pun pergi bersama gadis kecilnya yang kurus.

Berdiri di samping saya seorang profesor Fisika, dan tak perlu diragukan lagi karena inilah saya bayangkan dalam pikiran saya suatu jenis telegraf[1] baru.

Stasiun utamanya adalah panti asuhan, stasiun lainnya adalah pekerja dari pabrik topi; ketika salah satu memberi sinyal “perhatian,” yang lainnya segera merespon. Ketikaa salah satu membutuhkan, yang satu lagi membawakan.

Kita yang lainnya berfungsi sebagai tiang telegraf[2].[]

***

]1] Yang dimaksud telegraf di sini ialah menara/stasiun pemancar yang digunakan untuk transmisi jarak jauh pada abad ke-19 sampai awal abad ke-20.

[2] Tiang pemancar pada statsiun telegraf.

Diterjemahkan dari versi Inggris cerpenThe Living Telegraph karya penulis Polandia, Bolesław Prus.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
sijojoz at Telegraf Bernyawa (Bolesław Prus) (3 years 45 weeks ago)
70

ini baru pertama kayaknya baca sastra polandia. dengar kata polandia mesti inget jerman nazi terus heheh

Writer Rijon
Rijon at Telegraf Bernyawa (Bolesław Prus) (3 years 45 weeks ago)

Boleslaw Prus itu penulis akhir 1800-an, jadi sebelum zaman Nazi. Waktu itu Polandia masih jadi bagian dari Rusia. Kerajaan Rusia.