Suatu Sore di Pesta Ulang Tahun

Apakah hukumnya mengucapkan selamat ulang tahun pada mantan kekasih, Pak Ustadz? Begitulah aku akan memberi pertanyaan pada seorang ahli ulama warga sekitar, namun kuurungkan niat itu karena tiba-tiba aku merasa hal itu adalah hal konyol. Mungkin jika hal ini kutanyakan beberapa tahun yang lalu saat masih bocah, mungkin tidak apa-apa. Lagipula bila Pak Ustadz hanya menjawab ‘tidak tahu’ dan langsung mengusirku dari rumah masih mendingan, daripada ia langsung berceramah soal ta’aruf dan pacaran sesudah nikah, serta hal-hal yang lebih mirip budaya asing daripada jalan agama.

 

Ngomong-ngomong hal ini membuatku menjadi gelisah memikirkannya, hampir tidak pernah kutemukan kaum ulama yang sempat memikirkan bagaimana hukumnya mengucapkan selamat ulang tahun kepada sang mantan. Menurutku hal ini penting untuk dikaji demi kemashalatan kaum-kaum muda yang labil sepertiku.

 

Dan lagi, mengapa aku masih saja mengingat hari ulang tahunnya. Padahal banyak hal yang menyakitkan terjadi pada kita berdua. Namun tidak adil juga untuk tidak menyebut ada kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang saling kita bagi berdua. Menurutku ini lebih mungkin karena aku dulu suka menghafalkan tanggal-tanggal lahir orang-orang terdekatku, dan hari ini aku hampir tidak peduli pada siapapun. Memori tentang tanggal lahir itu seperti terpanggil dari alam barzah, layaknya para pemuda yang terpanggil maju ke medan perang saat perang revolusi ’45.

 

Aku juga sempat bertanya pada teman-temanku soal ini. Pada kesempatan pertama aku bertanya pada Jiwa Matang, anak perantauan Makassar dan juga pegiat literasi. Aku bertanya, apa kau pernah mengucapkan selamat ulang tahun pada mantan kekasihmu? Dia tertawa mengejek. Sialan.

 

“Aku tidak akan membuang waktuku dengan mengucapkan hal-hal seperti itu,” begitu menurutnya.

 

Jawaban Jiwa sebenarnya tidak sesuai dengan perilakunya. Aku tahu ia selalu mengingat mantan kekasihnya yang begitu saja meninggalkannya untuk menikah dengan laki-laki lain. Sungguh menyakitkan memang. Dan ia terus saja berkawan dengan alkohol dan ‘obat-obatan’ untuk menghilangkan ingatannya tentang perempuan itu.

 

Yang kedua, aku berkesempatan bertanya pada Cinta dengan pertanyaan yang sama. Ia adalah seorang pegiat budaya yang berasal dari Jakarta. Apakah kau akan mengucapkan selamat ulang tahun pada mantan kekasihmu?

 

“Mungkin iya, apabila ia tak hilang ditelan rimba kota New York,” begitu jawabannya.

 

Aku sedikit mengetahui bocoran kisah mantan kekasih Cinta dari sahabat-sahabatnya. Konon lebih dari sepuluh tahun yang lalu ia menjalin kisah cinta jarak jauh dengan seorang laki-laki, namun kemudian hubungan Cinta dengan kekasihnya itu berakhir dengan buruk. Cinta diputuskan hanya dengan lewat surat.

 

Selanjutnya aku bertanya pada Margio, seorang lelaki paruh baya. Konon ia berasal dari Lampung yang merantau ke pulau Jawa, menurut desas-desus ia pernah dipenjara karena membunuh seseorang.

 

“Sebenarnya, anak muda. Aku tidak hanya ingin mengucapkan selamat ulang tahun kepada mantan kekasihku itu, tapi juga ingin memenangkan hatinya sekali lagi,” begitu harap orang tua itu.

 

Pada akhirnya aku bertemu dengannya, mantan kekasihku itu di pesta ulang tahunnya. Saat menerima undangannya, aku bingung setengah mati, namun akhirnya aku memutuskan berangkat sendirian. Baik sekali ia mengundangku hari itu, padahal kita berdua hampir tak pernah bertemu, atau mungkin karena lingkaran pertemananku dan ia bersentuhan. Namun ketika aku memasuki acara tempat ulang tahunnya, aku menyadari bahwa pesta ulang tahunnya adalah sebuah acara kecil namun penuh dengan orang-orang dari berbagai macam usia. Orang-orang berpakaian rapi, para laki-laki memakai jas sedangkan para perempuannya memakai gaun pesta yang berwarna-warni. Aku sendiri memakai setelan jas tanpa dasi dan tak terlihat rapi-rapi amat.

 

Ia sendiri menyambut tamu-tamunya, mantan kekasihku itu. Ia membukakan sendiri pintu rumah orang tuanya dan mengantarku langsung ke atas loteng yang disulap menjadi tempat pesta. Aku sempat terpana dan kehilangan fokus, ia seperti bertambah cantik sejak terakhir kali aku bertemu dengannya di suatu pesta, apalagi dress yang ia kenakan benar-benar cocok untuknya. Aku bersalamannya dengan canggung, dan akhirnya mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya. Tak lupa aku memberinya sebuah bingkisan yang dibungkus kertas kado dengan pita norak.

 

“Wah, apa ini??” Ia terkejut memandang kado tipis persegi empat.

 

“Buka saja. Aku membelikanmu sebuah novel lama dari Puthut EA,” jelasku.

 

“Terimakasih, kau tidak perlu repot-repot. Tapi akan kubuka nanti,” jawabnya lalu kemudian ia mempersilahkanku masuk, mengantarkanku ke atas, mempersilahkan aku minum dan kembali untuk menyambut tamu-tamu yang berdatangan.

 

Saat itu sore hari dan angin kering tidak berhembus deras seperti biasanya, namun tetap sejuk karena jejak-jejak panas tropis sejak siang hampir tak terasa. Suatu sore di awal musim kemarau yang bagus, aku ingat sekali bagaimana angin kering berhembus deras kemarin membuat debu beterbangan. Mantan kekasihku itu beruntung bisa mendapat cuaca bagus seperti ini pada acaranya yang berada di ruang terbuka.

 

Tempatnya sendiri benar-benar disulap dengan sangat bagus. Dekorasinya dipenuhi dengan berbagai pot tanaman, lalu lampu-lampu kecil warna-warni berkelap-kelip melingkar di pinggiran loteng itu, meja-meja dan kursi-kursinya sangat retro seperti warisan sebuah rumah jaman Orde Baru, di atasnya dipenuhi makanan dan minuman ringan, dan sebuah band cover yang menyanyikan lagu-lagu The Smiths di ujungnya. Aku seperti dejavu, mengingatkanku pada pesta yang diadakan Summer Finn yang mengundang Tom Hansen.

 

Acara berlangsung lancar, beberapa sambutan dari orang tua dan sahabat-sahabat mantan kekasihku itu dan ditutup dengan tiup lilin dan potong kue. Namun beberapa saat kemudian seorang laki-laki dengan potongan cukup rapi memegang pengeras suara. Lalu dengan ucapan dan intonasi yang terlatih sebelumnya ia mengucapkan lamaran terhadap mantan kekasihku—di hari ulang tahunnya.

 

Kejadiannya kemudian sangat cepat, aku melihat mantan kekasihku itu tersenyum malu-malu sebentar lalu kemudian ia menerima lamaran laki-laki itu. Laki-laki langsung memeluk mantan kekasihku dan mereka berciuman cukup lama—bibir dan bibir—sebelum ditegur oleh kedua orang tua mantan kekasihku. Dan dadaku sakit layaknya dipukul sebuah palu pemecah batu tepat di jantung, mataku kemudian berkaca-kaca dan tubuhku lemas seketika.

 

Aku bertanya-tanya dalam hati, mengapa masih saja aku tetap lemah? Apakah waktu belum cukup memberiku kekuatan untuk menerima kenyataan? Setelah aku menguatkan tubuhku dan perasaanku, aku memutuskan keluar dari rumah itu, tepat ketika band mulai memainkan lagu The Smiths kesekian kali seperti Tom yang buru-buru keluar dari pesta Summer.

 

Apakah aku seperti Tom? Menurutku tidak. Tom memiliki ekspektasi, sedangkan aku sendiri tidak memiliki ekspektasi apa-apa ketika hadir di pesta itu. Tetapi mengapa aku tetap sakit hati ketika melihatnya dengan kekasihnya yang baru?***

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer ikhsandi373
ikhsandi373 at Suatu Sore di Pesta Ulang Tahun (5 years 50 weeks ago)
70

Nah iya, betul kata rusty ... coba dibikin akhir cerita yang jelas. Nggak harus tragis untuk si "aku" juga karena dianya bunuh diri, bisa juga tragis untuk mereka-nya, mungkin si "aku" bisa bikin semacem aksi pembunuhan gitu (contoh doang)

sijojoz at Suatu Sore di Pesta Ulang Tahun (5 years 50 weeks ago)

terimakasih. arahnya malah jadi cerita psikopat kalau begitu heheh. tapi mungkin akan saya edit lagi

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Suatu Sore di Pesta Ulang Tahun (5 years 50 weeks ago)
70

Kurasa aku kurang puas membaca cerita ini.
Dari awal sih jalan ceritanya bisa kunikmati. Mulus, rapi, hanya saja penutupnya "nanggung".
Sejujurnya aku mengharapkan solusi di akhir cerita, entah si "aku" tiba-tiba lompat dari loteng, atau membunuh si yang melamar mantan kekasih, atau apalah. Dan aku cukup kecewa karena di akhir cerita belum ada solusinya.

sijojoz at Suatu Sore di Pesta Ulang Tahun (5 years 50 weeks ago)

terimakasih. hmmm ide untuk melompat dari loteng bagus juga