Bayang-bayang (Bolesław Prus)

Terjemahan iseng.

***

SAAT sinar matahari mulai lenyap dari angkasa, senja terbit di Bumi. Senja: sepasukan tentara malam, dengan ribuan baris tak kasat mata berisi miliaran serdadu. Pasukan perkasa yang sejak dahulu kala telah jadi musuh cahaya, takluk dalam kekalahan tiap fajar, merenggut kemenangan tiap jatuhnya malam, menggengam kuasa dari matahari terbenam hingga terbit, dan pada siang hari, tersebar, mengungsi dalam naungan tempat-tempat persembunyian dan menunggu.

Menunggu di jurang-jurang pegunungan dan gudang-gudang perkotaan, di semak belukar pekat hutan dan kedalaman kelam danau. Menunggu sambil mengintai dari dalam gua-gua kekal Bumi, di pertambangan, parit, sudut-sudut rumah, relung dinding. Tersebar dan tampak tiada, tapi mengisi tiap sudut dan celah. Hadir dalam tiap tiap celah kulit pepohonan, dalam lipatan pakaian orang-orang, bersembunyi di balik bulir pasir paling kecil, menempeli benang laba-laba paling halus, dan menunggu. Terbilas dari tempat yang satu, dalam hitungan kedipan mata berpindah ke tempat yang lain, memanfaatkan sekecil apapun kesempatan agar bisa kembali ke tempat yang telah mengusirnya, membobol masuk rongga-rongga kosong dan memenuhi Bumi.

Sewaktu matahari, tentara senja ini, diam dan waspada, bergerak mendesak-desak dalam barisan keluar dari persembunyian. Mereka memenuhi koridor, lorong-lorong, dan tangga-tangga bangunan yang tak dinaungi sinar dengan baik; dari bawah lemari dan meja mereka merangkak menuju tengah-tengah ruang dan mengepungi tirai-tirai; melalui lubang udara gudang bawah tanah dan melalui jendela-jendela mereka menyelinap menuju jalan raya, menyerbu dalam kehingan dinding-dinding dan atap-atap, mengintai dari puncak atap, dengan sabar menunggu awan kemerahan memudar di barat sana.

Waktu berlalu, dan akan muncul saat ketika suatu kegelapan besar meletus dari Bumi hingga menjangkau angkasa. Binatang-binatang akan bersembunyi di sarang mereka, manusia akan kabur menuju rumah masing-masing; hidup, seperti tanaman tanpa air, akan menegang dan melayu. Warana-warna dan bentuk-bentuk akan larut dalam kehampaan; ketakutan, kesalahan, dan kejahatan akan menggugat kuasa mereka atas dunia.

Pada saat-saat semacam itu, di jalanan Warsawa yang serupa padang pasir, muncullah sewujud laki-laki aneh dengan nyala api kecil di atas kepalanya. Dia berlari menembus trotoar seakan-akan tengah diburu kegelapan, berhenti sejenak pada tiap lampu jalan, lantas, setelah mengobarkan nyala ceria, menghilang seperti bayang-bayang.

Maka begitulah setiap hari sepanjang tahun. Entah di ladang-ladang, ketika musim semi mengembus aroma mekar, atau dalam amukan badai bulan Juli; entah di jalanan, dalam hembusan debu musim gugur yang tak terkendali, atau dalam salju musim dingin yang menggombak di udara—selalu, setiap kali malam tiba, dia turun ke trotoar di seluruh penjuru kota dengan nyala kecilnya, menyalakan lampu, lantas menghilang seperti bayang-bayang.

Dari mana engkau datang, duhai anak manusia, dan di mana kau sembunyikan dirimu, sampai kami tak pernah tahu bagaimana rupa dan suaramu? Apa kau punya istri atau ibu yang menunggu kepulangamu? Atau anak-anak yang, setelah kau siapkan lentera di sudut, akan meloncat ke dalam pelukanmu dan mengelus lehermu? Apa kau punya teman tempat berbagi suka dan duka, atau kenalan yang bisa kau ajak mengobrol urusan sehari-hari?

Apa kau punya rumah yang, tentu saja, bisa dikunjungi? sebuah nama yang panggilan? kebutuhan dan perasaan yang membuatmu sama manusianya seperti kami ini? Atau engkau sunggulah suatu makhluk tanpa wujud, diam dan tak berbentuk yang hanya muncul pada senja, menyalakan lampu, lantas menghilang seperti bayang-bayang?

Saya mendapat kabar kalau dia betulan seorang manusia, dan saya bahkan mendapat alamatnya. Saya datangi apartemennya dan bertanya pada penjaga:

“Apa laki-laki yang menyalakan lampu jalan tinggal di sini?”

“Iya, dia tinggal di sini.”

“Di mana?”

“Di ruang kecil itu.”

Ruang kecil itu terkunci. Saya mengintip melalui jendela tapi hanya melihat sofa yang menempeli dinding dan di sampingnya, pada tiang gantungan tinggi, sebuah lentera. Sang penyala lampu tak ada di dalam sana.

“Paling tidak beritahu saya bagaimana rupanya?”

“Siapa yang tahu?” penjaga mengangkat baju. “Saya bahkan tidak kenal persis dia,” dia menambahkan, “karena dia tidak pernah ada siang hari begini.”

Setengah tahun kemudian, saya datang lagi.

“Apa sang penyala lampu ada hari ini?”

“Oh, tidak ada!” jawab penjaga, “dia tidak ada, dan tidak akan ada. Kemarin mereka menguburkannya. Dia meninggal.”

Penjaga merenung.

Saya tanyakan rinciannya dan pergi ke kuburan.

“Penggali kubur, coba tunjukkan pada saya di mana sang penyala lampu dikuburkan kemarin?”

“Sang penyala lampu?” dia mengulangi. “Siapa yang tahu! Ada tiga puluh orang yang dikuburkan kemarin.”

“Dia dikuburkan di tempat yang paling buruk.”

“Ada dua puluh lima yang seperti itu.”

“Tapi dia dikubur dalam peti yang tak dipelitur.”

“Ada enam belas peti yang seperti itu.”

Maka saya tak pernah tahu bagaimana rupanya atau namanya, atau sekedar kuburannya. Dan dia tetap sama dalam kematian sebagaimana dalam hidup dulu: makhluk yang hanya muncul ketika senja, bisu dan sulit dipahami serupa bayang-bayang.

Di tengah kegelapan hidup, di mana umat manusia yang celaka ini tenah meraba di sepanjang jalannya, di mana sebagiannya menghantam rintangan, yang lainnya jatuh dalam jurang, dan tak ada yang pernah tahu mana jalan yang aman, di mana orang yang terikat takhyul akan jadi mangsa kesialan, penderitaan, dan kebencian—di area gelap dan tanpa arah dari kehidupan, para penyala lampu juga sibuk. Masing-masing membawa nyala kecil dia tas kepalanya, masing-masinya akan menyalakan lampu di sepanjang jalannya, tak dikenal hidupnya, tak terukur jerih payahnya, lantas menghilang seperti bayang-bayang...[]

***

Diterjemahkan dari versi Inggris cerpen Shades karya penulis Polandia, Bolesław Prus.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
50

di paragraf-paragraf awal saya kira deskripsinya fokus pada 'kegelapan' dan akan terus berlanjut sampai paragraf akhir, tapi ternyata di paragraf berikutnya berputar ke 'penyala lampu'.
Keren. Saya jadi ingin baca cerpen aslinya.
Keep writing!

xoxo

Writer kupretist
kupretist at Bayang-bayang (Bolesław Prus) (4 years 3 weeks ago)
70

Keren dialognya