Kematian Ruben

AKHIRNYA Ruben harus tumpas di tanganku. Keputusan ini kuambil setelah sekian lama mengikuti perkembangan dan sepak terjangnya. Manusia dungu itu telah jauh melenceng dari apa yang ia janjikan sendiri. Dan itu sama sekali tak bisa ditolerir.

Kejadiannya cukup singkat. Kebiasaannya bersepeda malam hari sungguh membantu. Aku hanya perlu mengiris sedikit kawat remnya. Hingga pada momen yang pas, di salah satu persimpangan jalan entah di mana, ia tak mampu berhenti tepat waktu. Dan sebuah truk sampah tak berdosa menggilas tubuh gempalnya tanpa ampun. Praktis bukan? Mereka tinggal mengangkut jasad tak berguna tersebut ke bak belakang truk dan membuangnya di salah satu pojokan kota untuk membusuk bersama mimpi-mimpinya yang usang. Mungkin bisa didaur ulang. Mungkin juga tidak. Persetan.

"Kamu seperti enggak bersyukur, Ben," tuduh Inge beberapa waktu yang lalu. "Berapa banyak temen-temenmu yang cuma bisa bermimpi ada di posisi kamu sekarang? Eh, kamu malah mau berhenti."

"Bukan enggak bersyukur, Nge. Tapi aku selalu ngerasa ada yang kurang, ngerasa nggak pas dengan profesi ini." Ruben membelokkan kemudi mobilnya ke pelataran parkir rumah.

"Jutaan orang punya kerjaan yang kurang lebih sama, Ben. Kerja di belakang meja, pendapatan tetap, liburan setahun sekali. Apa yang salah dengan itu?"

Ruben masih tanpa ekspresi ketika mematikan mesin mobil. Udara berubah pengap dengan cepat, seiring kata-katanya yang tertahan di tenggorokan.

"Memangnya kamu mau kerjaan kayak gimana sih? Di mana panggilan hidup kamu itu? Dunia tulis-menulis? Coba, udah berapa banyak tulisanmu yang ditolak penerbit? Mau kita semua makan nasi sama garam?" cecar Inge.

"Setidaknya, aku bisa menikmati apa yang aku lakukan setiap hari— "

"Kalau keluargamu menderita, apa kamu masih bisa menikmati 'profesimu' itu? Aku udah bosan dengar keluhan kamu begini, Ben. Kita punya anak yang butuh banyak biaya. Cicilan rumah yang bunganya naik terus. Sekarang bukan lagi waktunya mengejar idealisme."

Ia makin mati kutu. Istrinya sendiri tak pernah mengerti kegelisahannya. Justru, sialnya, ia yang mengerti alasan kemarahan Inge. Semua argumen istrinya masuk akal. Sedangkan argumennya seolah terlambat beberapa tahun. Ia punya tanggung jawab sekarang. Mengejar mimpi sama artinya dengan lari dari kewajiban yang ia pilih sendiri, sadar maupun tak sadar. Mau tak mau ini adalah satu-satunya pilihan hidup yang tersisa baginya. Menghabiskan umur dengan perlahan, detik demi detik, dalam kemonotonan yang mencekik dan melelahkan.

Ruben tak selalu begini. Betapa dulu, di suatu masa hidupnya yang lampau, ia pernah berbinar, penuh gelora kehidupan. Bukankah begitu adanya pada setiap kawula muda? Masa yang dipenuhi prinsip-prinsip yang berkobar, membakar. Rasanya, seluruh dunia ada dalam genggaman. Ia mampu melakukan apa saja, menjadi siapa saja. Waktu ada di pihaknya, dan bersama-sama, mereka akan menaklukan masa depan.

*

"Ini novel lu yang ketiga, Ben?" selidik Momo tak percaya. "Uda mantep lu mau jadi penulis?"

Puntung rokok di bibir Ruben memendar saat ia menyesapnya penuh khidmat, lantas mengembuskan asap putih ke langit-langit kamar kosnya yang muram. Psikotropika merasuki otak.

"Yang jelas, gue nggak mau terjebak dalam rutinitas, dan segala macam antek-anteknya, Mo," ikrar Ruben.

"Maksud lu?"

"Ya, idup kayak abang lu itu. Pergi pagi pulang malem, cuma buat ngelunasin kredit barang-barang ini-itu yang sebenernya dia nggak butuh-butuh amat."

Momo yang hendak menggilir lintingan dari jemari Ruben jadi berhenti di tempatnya sejenak.

"Tapi abang gue fine-fine aja tuh, Brur. Keliatan hepi-hepi aja dia sama hidupnya."

Ruben menghisap lagi sebatang dosa di jemarinya dalam-dalam, sebelum membinasakan baranya di dalam asbak. Momo merengut. Sohib satu indekosnya tetap cuek dan menyambung ocehannya.

"Itu karena dia nggak sadar kalo dia uda jadi robot, Sob. Diperbudak nafsu dan tuntutan sosial kanan-kirinya. Punya rumah, beli mobil, masukin anak ke sekolah favorit, punya istri yang terawat— "

"Selingkuhan yang makmur," potong Momo.

"Nah, tuh lu paham." Ruben meletakkan handphone-nya di atas ranjang setelah menyerah bertarung dengan seekor Pidgey yang terus-menerus berontak. "Eh, tapi, abang lu beneran selingkuh, Mo?"

Momo mengedikkan bahu, "Kemarenan sih gue mergokin dia jalan sama abg bahenol, nggak tau siapa."

"Mwahahah, enggak nyangka gue, Brur, abang lu punya nyali juga," sembur Ruben sambil melangkah ke kamar mandi. "Eh, ngomong-ngomong soal anak perawan, gimana sepupu lu si Inge? suka sama tulisan gue?"

"Lumayan katanya, gelap dan misterius kayak yang nulis."

"Alhamdullilahhh," senandung Ruben sambil menutup pintu kamar mandi.

"Tumben jam segini udah mandi. Emang ada kelas, Ben?" tanya Momo dari depan kamar mandi.

"Enggak, cuma pingin ngebayangin Inge sambil mandi aja."

"Najis lu."

*

Aku merindukan Ruben yang dahulu, yang selalu optimis dirinya bisa terbebas dari pesimisme dunia. Bukannya malah menyerah pada keadaan, dan terombang-ambing bersama arus sosial, pasrah mau dibawa ke mana. Namun, sekarang ia telah menjadi terlalu jamak. Aku bisa saja menyalahkan Inge, menyalahkan anak-anak mereka. Akan tetapi, aku sadar pilihan sebetulnya ada di tangan Ruben, dan laki-laki tolol itu telah mengambil pilihan yang salah.

Gairah dan mimpi-mimpi Ruben memang hilang dengan perlahan. Seiring tahun-tahun awal perkenalan dan pernikahannya dengan Inge, segala prinsipnya pun luntur, terkikis cinta dan realita. Sayang. Padahal, jika kuingat-ingat lagi, datangnya mimpi-mimpi itu hanya sekejap saja. Mengapa sulit sekali untuk kembali bermimpi?

Semua berawal dari kegemaran orang tuanya membaca. Tak terbilang deretan roman-roman sastra dan karya-karya tulis ternama yang mereka punya. Kebiasaan itu menular begitu saja pada Ruben. Hingga akhirnya pada suatu malam yang tenteram, ia menggetarkan sanubari sang Mama dengan berkata, "Eben mau jadi seperti mama, jadi penulis dongeng."

Saat itu ia masih berumur enam tahun. Baru paham ini-ibu-Budi dan ini-ayah-Tono. Tetapi bisa terlihat pancaran kesungguhan dari kata-katanya, dan mamanya tersentuh oleh kalimat tersebut. Sejak momen itu, ia mulai dibimbing untuk belajar membaca dengan lebih intensif. Bersamaan dengan itu juga, konsumsi bacaannya pun meningkat, dari yang tadinya hanya dongeng lokal, beranjak ke karya-karya Hans Christian Andersen, sampai menjamah The Famous Five-nya Enid Blyton. Semua ia tandaskan dalam waktu singkat.

Di usianya yang kesebelas, Ruben mulai tertarik untuk mencoba menulis. Mama menyarankan agar ia menuliskan hal-hal kecil terlebih dulu dalam catatan hariannya. Sang putra pun menurut. Berkat bimbingan mamanya, kemampuan menulis Ruben terasah dan berbagai kejuaraan menulis anak berhasil ia sabet.

"Eben ingin membaca dan menulis seumur hidup, serta tidak melakukan hal lainnya," ujar bocah itu suatu ketika. Mamanya cuma tersenyum sambil membelai poni Ruben yang mulai panjang.

"Kalau kamu tidak menjalani semua hal lain dalam hidup yang sesungguhnya, dari mana inspirasimu akan datang, Nak?"

"Dari imajinasiku sendiri, Ma," jawabnya mantap.

Jika cita-cita anak-anak lain seusianya bisa berubah lebih cepat dari koalisi partai politik, cita-cita Ruben tetap sama: menjadi sastrawan seperti mamanya. Tidak ada yang bisa mengubah pendirian anak laki-laki itu.

*

"Aku ingin bisa menulis seperti ibu," rengekku suatu hari. Bagaimanapun, kehadiran Ruben dalam hidupku telah memberi inspirasi yang tak ternilai. Aku ingin bisa menulis seperti Ruben. Namun, aku tidak mempunyai bakatnya. Hanya seorang ibu yang di masa mudanya pernah menerbitkan satu buku kurang laku.

"Mulailah menulis buku harian, Dek. Dari situ kemampuan menulismu akan berkembang."

Seperti Ruben, aku pun ikut saran Ibu. Tapi sialnya, hidupku membosankan, hari-hariku tak menarik untuk diceritakan. Lagipula aku ingin menulis cerita-cerita fiksi yang penuh imajinasi dan petualangan. Bukannya catatan harian yang menjemukan seperti ini.

Ibu tahu aku kesulitan. Selama ini, ia belum pernah hilang akal dalam mencarikan jalan keluar bagi semua masalah-masalah dan pertanyaan-pertanyaan anaknya. Tidak juga kali ini.

"Bagaimana kalau kamu kisahkan dirimu seperti tokoh fiksi di dalam catatan harianmu?"

"Maksud Ibu?"

Senyumnya mengembang lagi, menenggelamkan kekesalan atas ketidakpahamanku sendiri.

"Maksud Ibu, kamu ciptakan seorang tokoh yang sebetulnya adalah penjelmaan dirimu sendiri. Nantinya, kegiatan keseharianmu, bisa kamu ceritakan dengan dilebih-lebihkan sedikit biar terasa seru. Bagaimana?"

Menarik.

Aku mulai paham maksud Ibu. Dengan begitu, aku bisa menulis kisah non-fiksi dalam balutan fiksi. Karakter ini adalah tokoh utama dalam bukuku, seorang penulis berbakat yang akan menjadi sastrawan ternama. Persis seperti apa yang kuangan-angankan selama ini.

"Jadi, siapa nama karakter utama buku pertamamu, Dek?" tanya Ibu membuyarkan lamunanku.

Saat itu, senyum yang paling lebar tersungging di bibirku.

"Bagaimana kalau … Ruben?"

 

***

Read previous post:  
55
points
(0 words) posted by daniswanda 5 years 5 weeks ago
78.5714
Tags: Cerita | Cerita Pendek | kehidupan | tantangan | tantangan bintang
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer nusantara
nusantara at Kematian Ruben (2 years 12 weeks ago)
70

CARI POIN AJa

Writer hidden pen
hidden pen at Kematian Ruben (4 years 44 weeks ago)
80

Ettoo... cerita ruben onsu ya ... canda

Engg nikmatin cerita nya serasa kaya kopi

Pahit pahit gitu bagiku sedih ama seremnya berasa
Mungkin juga si ahh sudah lah hihiho

Ok kabbuurrrr,

sijojoz at Kematian Ruben (4 years 46 weeks ago)
80

hmmm gagasan soal mempertanyakan segala rutinitas itu saya suka karena gak terkesan klise. bagus sekali *svngkem

eh! gegara si Ruben ini akhirnya mati, malah jadi inget absurdisme heheh

Writer daniswanda
daniswanda at Kematian Ruben (4 years 46 weeks ago)

Ahahah, makasih apreasiasinya. Kematian Ruben kan sebetulnya cuma analogi dari kematian mimpi si Aku...yah...bisa absurdisme juga sih jadinya :D

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Kematian Ruben (4 years 47 weeks ago)
80

Sampai di 90% cerita saya masih bingung siapa si "aku" dan kenapa tiba-tiba sudut pandangnya jadi orang ketiga. Baru pas di 10% terakhir saya baru ngeh apa maksud cerita ini.
.
Saran aja, mungkin perlu ada pemisah di antara paragraf kedua dan ketiga. Soalnya aneh aja kalau di dua paragraf awal dijelaskan kalau Ruben sudah meninggal tapi di paragraf ketiga tiba-tiba flashback ke saat Ruben masih belum meninggal.

Writer daniswanda
daniswanda at Kematian Ruben (4 years 46 weeks ago)

Pergantian PoV-nya bikin bingung ya. Sebetulnya kepikiran mau kasih jeda spasi disitu, tapi mikir lagi, ini kan satu kesatuan cerita, dimana si aku dan Ruben dan karakter yang lainnya ikut bermain. Karena itu saya urungkan niat tersebut. Makasih sarannya.

Writer Nine
Nine at Kematian Ruben (4 years 47 weeks ago)
100

Narasi dan diksi di sini bisa ane nikmatin. Dijabarkan dengan baik perilaku karakter dan motivasi Ruben serta konflik yang ia hadapi bisa ane tangkap.
.
Cuma, pada plot, di awal-awal saya bisa tangkap, mulai masuk bagian tengah masih bisa, ee tapi pas bagian terakhir saya jadi bengong, Dan. Itu kesan pembacaan awal. Saya jadi nggak ngerti. Mungkin ada maksud terselubung dengan kehadiran bagian terakhir. Seperti sesuatu yang bisa ngasih efek "hoooh" ke pembaca. Cuma ini gak sampe di pembacaan awal saya. Padahal merujuk pada judul dan kalimat pembuka, pertanyaan "kenapa Ruben dibunuh? Siapa pembunuhnya?" masih nyangkut di kepala. Itu pembacaan awal. ^^
.
Dan saya belum membaca untuk kedua kalinya supaya lebih mengerti. Maklum, otak makin lemot gara-gara ngegem mulu.

Writer daniswanda
daniswanda at Kematian Ruben (4 years 46 weeks ago)

Wah kemana aja bang Naen, jarang cekson.
.
Yang bagian terakhir itu ya? iya justru disitu punchlinenya. Mungkin perlu dibaca lagi yang khusyuk.
.
Makasih mampirannya.