Haerul Asoy, si Bintang Juling

ALKISAH di sebuah negeri bernama Indonesia terdapatlah seorang penyanyi dangdut terkenal bernama Haerul Asoy. Ia dikenal bukan hanya sebagai penyanyi, namun juga musisi dan produser musik. Dalam sejarah, Haerul Asoy dikenal sebagai peletak dasar musik dangdut modern di Indonesia, ini karena pakem musiknya masih sering digunakan oleh sebagian besar pekerja musik dangdut. Namanya bergaung bahkan sebelum grup-grup orkes dangdut koplo mulai menaikkan tarif jasanya, sebelum polemik goyang dangdut erotis, sebelum orkes Pallapa vakum dan Sodik memutuskan bergabung dengan orkes dangdut lain, dan jauh sebelum Via Vallen menjadi vokalis Sera. Di dunia musik dangdut sendiri, nama Haerul beserta lagu-lagunya hingga hari ini hampir tak tergantikan oleh siapa pun, bahkan seluruh orang-orang yang berada di dunia persilatan musik dangdut akan bergetar hatinya saat namanya diucapkan dan lagunya dimainkan. Hal-hal ini membuat para kritikus musik Indonesia membuat sosok Haerul Asoy menjadi sebuah mitos sendiri di dunia musik, apalagi setelah lirik lagu-lagunya dimasukkan menjadi soal Ujian Nasional.

 

Haerul Asoy dijuluki juga sebagai si Bintang Juling. Julukan ini bukan berasal dari ciri fisiknya yang memang bermata juling, tapi dari salah satu lagu hitsnya—yang penjual kaset dangdut bajakan pinggir jalan pun hafal lahir-batin lagu ini: Diriku. Lagu ini bercerita  tentang seseorang yang merajuk pada kekasihnya tentang fisik tubuhnya yang berbeda. Pada bagian reffrain yang diulang-ulang, secara langsung orang akan paham bahwa penyanyi ini memiliki mata yang juling. Mungkin karena memiliki fisik yang berbeda inilah, Haerul Asoy seringkali memakai kacamata hitam pada saat manggung—pada akhirnya menjadi ciri khasnya.

 

Diantara kisah-kisah yang membuat nama Haerul Asoy menjadi harum seperti bau bunga kasturi di surga ‘Adn, ada salah satu kisah yang penulis ingin membagikan kepada Bapak-Ibu sekalian. Kisah ini bermula saat muncul sebuah polemik panas antar cendekiawan di dunia musik dangdut, salah satu polemik yang terpanas dari beberapa polemik terpanas dalam sejarah musik dangdut di Indonesia.

 

Polemik ini sendiri berawal dari tulisan salah satu cendekiawan dan juga produser musik dangdut, Takdir Maut. Dalam tulisan itu, ia berpendapat bahwa musik dangdut adalah musik yang baru bagi bangsa Indonesia, tidak ada sangkut pautnya dengan musik-musik dari jaman primitif sebelumnya, seperti musik gamelan dari Jawa ataupun musik-musik dari tanah Melayu maupun dari pelosok pedalaman Sumatra.

 

Tulisan Takdir Maut mendapat tanggapan keras dari salah satu musisi dangdut, Musi Panu. Musi Panu malah berpendapat sebaliknya, bahwa musik-musik yang dihasilkan oleh kebudayaan jaman dahulu bersambung kepada jaman sekarang, tidak ada titik nol dalam musik dangdut. Musi sendiri dikenal sebagai seorang musisi yang berhasil memadukan musik daerah dengan musik dangdut sehingga menghasilkan alunan musik yang segar pada masyarakat masa itu. Sedangkan Takdir Maut sendiri bukan tanpa karya, lagu-lagunya sendiri memadukan musik jazz barat dengan musik dangdut lokal sehingga tak kalah jeniusnya dari Musi.

 

Polemik dari dua orang ini, Takdir Maut dan Musi Panu merembet pada tokoh-tokoh musik dangdut lainnya yang saling berdebat dalam tulisan-tulisan mereka, diantaranya adalah Sutami, Tjingkirketjil, Adienugroho, M. Amore, dan Ki Desotandus. Tulisan-tulisan mereka inilah yang dihimpun oleh Jajang Mujajang dalam Kitab Polemik Musik Dangdut sejumlah delapan jilid. Setiap jilidnya tidak hanya mengumpulkan tulisan-tulisan para tokoh musik dangdut waktu itu, namun juga sejumlah transkrip wawancara, kliping surat kabar, majalah dan sejumlah foto-foto.

 

Di tengah polemik panjang oleh para tokoh-tokoh yang sebagian besar diisi oleh  generasi tua, generasi yang lebih muda seperti Haerul Asoy dan kawan-kawan pekerja musik lainnya juga terbelah menjadi dua kelompok besar yang saling menghujat satu sama lain layaknya Lekra vs Manikebu, namun pada akhirnya kondisi sosial politik lah yang mengarahkan generasi muda ini berubah.

 

Waktu itu Indonesia dilanda krisis ekonomi besar kembali, nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika hancur-sehancurnya, harga sembilan bahan pokok naik semua, pabrik-pabrik tutup, jutaan pekerja dipecat, kredit perumahan macet, dan hal-hal buruk lain yang bisa dibayangkan ketika krisis ekonomi melanda. Namun mimpi buruk ternyata tak berakhir di situ, masyarakat bawah yang paling menderita yang kemudian disadarkan oleh para kaum terdidik pecinta demokrasi yang akhirnya menuntut dilakukannya perubahan terhadap keadaan sosial politik saat itu mendapat hantaman keras dari penguasa saat itu, Orde Baru yang membuka topeng kemunafikannya. Ketika mereka menolak Haji Mamahmud Soeharto sebagai presiden yang sama terpilih lagi pada pemilu yang ke dua puluh satu, mereka difitnah, dihancurkan, dicerai-beraikan, diculik, dipenjara, disiksa dan dihilangkan dengan paksa.

 

Generasi muda seperti Haerul dan kawan-kawan tak tinggal diam. Mereka ikut merobohkan Orde Baru yang lalim, menjatuhkan Haji Mamahmud Soeharto dan mendirikan demokrasi. Dalam periode-periode penuh gejolak pergantian kekuasaan inilah yang membentuk musik-musik dangdut Haerul Asoy. Lirik-lirik lagunya lugas dan tegas tanpa tedeng aling-aling, tidak seperti generasi musik dangdut sebelumnya yang lebih puitis. Keadaan sosial politik yang penuh dengan ketidak-pastian membuat para pekerja musik dan seni pada umumnya tidak butuh lirik yang mengawang-ngawang yang tak menggambarkan keadaan sebenarnya.

 

Setahun setelah Haji Mamahmud Soeharto lengser kejamban, Haerul Asoy beserta kawan-kawannya membangun sebuah radio musik dangdut, radio ini disebut Kerangkeng Negara Militer (Kerangkeng). Radio ini pada dasarnya bertujuan sebagai tempat berkumpul para pekerja musik dangdut, namun tak hanya tempat berkumpul, radio ini juga membawa narasi untuk membuang semua generasi sebelumnya. Generasi sebelumnya oleh para penghuni Kerangkeng diyakini sebagai generasi busuk yang korup dan malah kawin dengan Orde Baru, penguasa yang lalim pada saat itu. Namun Haerul tidak lama membentuk Kerangkeng, hanya tiga tahun. Ia keburu mati dipanggil malaikat maut. Namun jasanya untuk mendirikan Kerangkeng-lah yang membuat ia dikenal sebagai salah satu tokoh yang mengakhiri polemik yang dihasilkan oleh generasi sebelumnya, dan membangun sebuah generasi baru, meskipun Surat Pembebasan Kerangkeng sebagai penanda lahirnya generasi baru musik dangdut ditulis dan diterbitkan setelah Haerul tiada.

 

Haerul Asoy selama masa aktifnya sebagai penyanyi dangdut menulis 75 lagu, merekam hampir setengahnya, dan merilis 3 album. Tiga albumnya sendiri dirilis oleh kawan-kawannya setelah ia meninggal. Haerul sendiri meninggal dunia karena sakit, disebutkan bahwa ia meninggal karena penyakit HIV/AIDS. Hari kematiannya oleh pemerintah dijadikan Hari Dangdut Nasional.

 

Namun seagung-agungnya, sesuci-sucinya nama Haerul Asoy dalam jagat dunia persilatan musik dangdut, tidak bisa tidak pasti ada belangnya. Tak ada gading yang tak retak, begitu sabda salah satu Nabi Tuhan. Lagu-lagu Haerul ditemukan telah menjadi sebuah plagiasi terhadap karya seorang musisi lain di negeri jauh di sana. Ironisnya hal ini ditemukan setelah Haerul telah tiada—toh memang butuh waktu untuk meneliti sesuatu, kan? Seorang sarjana telah membukukan disertasinya mengenai lagu-lagu Haerul beserta lirik dan konsep musiknya dengan beberapa musisi yang ditemukan mirip dengan lagu-lagu milik Haerul.

 

Penemuan kontroversial ini tak membuat narasi untuk mempertanyakan kembali keagungan nama Haerul Asoy menjadi narasi yang utama. Narasi ini hanya menjadi riak kecil di lautan. Narasi betapa hebat dan agungnya karya-karya Haerul tak bergeming sedikitpun dan tetap hegemonik. Kawan-kawan sejawat Haerul di Kerangkeng pun jelas membela almarhum kawannya itu, bahkan mengeluarkan sebuah narasi bahwa karya-karya Haerul disebut sebagai karya yang multi-tafsir. Namun sampai kapan kenyataan dibohongi?[]

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer daniswanda
daniswanda at Haerul Asoy, si Bintang Juling (5 years 12 weeks ago)
80

Ini agak satire ya, dan pemakaian kata-katanya juga fresh. Hanya saja lebih ke bentuk monolog sebab penokohannya minim. Salam.

sijojoz at Haerul Asoy, si Bintang Juling (5 years 12 weeks ago)

salam, akang/teteh. iya kayaknya kurang penokohan, memang setelah selesai kayak datar-datar aja gitu. btw, kalau mau belajar soal penokohan gitu dimana ya? mungkin akang/teteh bisa memberi pertolongan.