Motif dan Ironi

1

Orang pulang membawa beban sehari. Aku lelah, dan kamu sibuk. Lihat, ada pengunjung! Seorang pria jangkung berdiri di depan pintu. Matanya liar menjelajah.

“Selamat datang,” ujar Nyonya pemilik toko.

Siapa di sana?

Pria itu menghela napas. Melonggarkan dasi yang sudah cukup mengikat.

Pergilah Pak! Kau mengganggu pemandangan.

Ya, pria aneh ini. Ia memasuki ruangan, menampik orang-orang yang berjalan melewatinya. Menatap setiap inchi ruangan yang belum membuatnya bosan. Berjalan maju beberapa langkah, ada gundukan mengenai kakinya. Oh bukan. Itu kamu. Gadis kecil, langganan toko.

 

2

“Hei, apa yang sedang Adik lakukan?”

Adapun kamu--Pontang-panting; Rambut berantakan; Kain penuh tambalan; Menggenggam kembang; Wajah kusam. Mungkin sekitar umur sembilan tahunan

“Oh, Aku—sedang mengumpulkan hadiah.”  Pria itu menatap ganjil genggaman bunga ditanganmu. “Aku tidak mencuri!”

Kamu tercekat. “Ini hadiah untuk Ibu. Untuk—ulangtahunnya yang ke-30.”

“Oh, Om tidak menuduhmu mencuri! Santai saja, haha.” Ia mengangkat alis, ganjil .

“Aah, maklumlah. Setangkai saja terlalu berharga.”

Lihat kembang-kembang itu. Bentuknya hampir tidak karuan. Warna-warninya sudah dibumbui debu.

 “Maaf Om tidak sopan. Kalau begitu, ambilah bunga yang Adik mau. Biar Om yang membayarnya.”

Tidak menunggu waktu untuk berpikir, kamu menggeleng keras-keras. “Tidak perlu repot-repot!”

“Wah, jangan bilang begitu. Ibu Om juga mau ulangtahun. Tidak dosa ’lah sama-sama beli kado.”

Berpajangkan senyum kecut, dia bertanya, “Mau beli bunga apa?”

“Ehm, Mawar merah kalau boleh,” kamu menjawab, malu-malu.

Si pria mendekati meja kasir. Menghampiri Nyonya yang sedari tadi menatap curiga.

“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” tanya si perempuan paruh baya pemilik toko.

“Saya ingin membeli 5 mawar merah. Tolong dirangkai ya,” Sayup-sayup aku dengar perbincangan mereka.

“Terima kasih Tuan. Silahkan tunggu sebentar.” Nyonya mengalihkan pandangan. “Untuk gadis itu ya?”

“Gadis, boleh saya pinjam tasmu? Sebentar saja." Nyonya berbicara kepadamu.

“Tentu, silahkan Bi.” Kamu menjawab sembari memberikan tasmu yang bisa dibilang—kosong.

Tangan keriput Nyonya menyambar aku serta empat kawanku. Melampinkan plastik yang kemudian diikat dengan pita merah jambu.

“Hei kawan! Tampaknya aku tidak pergi sendiri ya!” seutas mawar merah lainnya menyapaku. Dia terbaring menggantung paling depan. Ia seniorku. Telah lama ditinggal berdebu di pojok toko. Tampaknya nasib kami berdekatan.

“Hei, senior! Senang berpergian denganmu. Siapa yang tahu nasib akan membawa kita ke mana?” Aku tertawa lepas.

“Haha, kalimatmu sudah seperti kembang tua betina yang ada di pintu masuk toko itu!” balas mawar lainnya.

“Hei, jangan memuji,” jangan menyindirku!

 “Kalian semua kuno bung!” ucap si mawar termuda.

 “Hei! Jangan ganggu orang yang mengantuk. Aku mau tidur,” celetuk mawar yang satu lagi.

“Oh diamlah! Mawar yang lahir di dalam pot macam kalian tahu apa?” si mawar senior menengahi.

3

Nyonya menyelipkan kami ke dalam tas birumu.  Mahkotaku menyembul keluar melalui celah yang menutupi tas. “Dasar orang kaya!” Nyonya mengumpat pelan, memperhatikan kalian yang mempercepat langkah.

“Terima kasih banyak Om. Maaf merepotkan." Kamu tersenyum malu-malu.

 “Ah, jangan bilang begitu. Sama sekali tidak merepotkan tahu! Malah aku senang.”  Pria itu membukakan pintu, menghadap jalan.

“Adik, di mana rumahmu? ” Kalian berjalan bersama.

“Tidak jauh dari Tanah kusir, Om.”

“Kamu naik angkot ke sana?”

“Pastinya.”

“Mau diantar?” Dia bertanya sekali lagi.

“Tidak perlu Om. Lagipula jalanan cukup padat. Om bisa terlambat pulang.”

Mobil hitam merayap bersama puluhan mobil lainnya. Disalip motor yang menderu keras silih berganti. Klakson berbunyi emosional. Sekian menit, datang angkot lapar mencari perhentian untuk menarik penumpang. Gadisku ingin naik, tapi terlanjur diserobot oleh sekumpulan karyawan muda. Angkot sudah penuh. Si pemilik tetap menawarkanmu untuk naik. Tapi mau duduk di mana?

“Dasar bocah! Masih cukup tempat padahal. Kecilnya begitu, apalagi nanti pas besar?” celetuk si sopir, disambut tawaan rekannya. Angkot itu merayap mendahuluimu. Gas hitam menyembul keluar dari si knalpot sialan.

Kamu cuma diam. Pura-pura tidak dengar. Kembali menarik napas—menunggu. Masih setia kehadiran si pria yang menemanimu menonton jalanan.

“Bosan?” Celetuknya.

“Aku sudah biasa berteman dengan jalanan.” Kamu memejamkan mata.

Kini jarum jam telah mengarah ke angka 6; tepat pukul 18.00 sore. 15 menit telah berlalu. Belum ada lagi angkot yang lewat untuk mencari penumpang, sementara suara adzan mulai berkumandang. Asap mobil dan motor menderu-deru seakan mau mengupas habis wajah pejalan kaki. Kamu dan pria itu; hampa.

“Kenapa? Kenapa Om mau menungguiku sampai larut begini?” Parasmu yang sendu menunduk.

“Aah, Om juga lagi tidak ada kerjaan di rumah.  Tidak ada salahnya ‘lah menunggui kamu. Kalau Om ‘kan bisa langsung pulang. Tapi kamu bahkan belum dapat angkot.” Pria itu mengerutkan dahi, melengkungkan alis.

“Sebenarnya bukan masalah kalau kamu mau Om antarkan. Lagipula ini sudah larut. Kalau Om sih tidak ada yang menunggu. Tapi Ibumu pasti sudah khawatir.”

“Tidak ada yang menungguku juga di rumah,” kamu berbisik amat pelan. Bahkan terlalu pelan untuk mencapai telinganya.

“Tapi... Om benar. Ini sudah larut. Aku takut. Sebaiknya aku memberikan hadiah ini besok. Ya, ya..”

Lantas si pria mengambil kendaraannya—mobil putih tua sederhana. Kemudian mereka berangkat, dan roda bergilir.

Mereka merayap hingga melewati tanah pemakaman. Puluhan—ah, bahkan ratusan; atau mungkin ribuan batu-batu nisan dan kayu menancap di sana, memenuhi kiri-kanan jalan.  Kamu diam memandanginya satu per satu.

“Untuk apa Om datang ke toko bunga itu? Akhirnya Om tidak membeli apa-apa,” celetukmu, ketus.

“Ahaha, ya sudahlah, tak apa. Jarang-jarang bisa membantu seperti ini. Lihat ‘kan untungnya. Om jadi bisa bertemu dengan teman baru.” Pria itu tersenyum sumingrah.

“Om tinggal sendiri?”

 “Ya, bisa dibilang begitu.  Om menyewa ruko sekaligus tempat untuk menetap. Memegang banyak tanggung jawab di kantor memang melelahkan. Itu membuatmu super sibuk. Om sampai tidak punya waktu untuk keluarga.”

Kamu menatap nanar dengan pikiran yang liar. Membayangkan kumpulan aktifitas padat yang tumpang-tindih, hingga menggunung dalam sehari. Pria itu tertawa, mendominasi seisi mobil.

“Hahaha, jangan terlalu dipikirkan! Ingat ya pesan Om. Kamu aturlah hidupmu; kegiatanmu; rencanamu; waktumu. Jangan mau menghamba waktu!”  Ia berbicara menggebu-gebu.

“Jadi, Om menghamba waktu?” Menang telak. Pria yang kita bicarakan ini tertawa renyah.

“Hahah, ya begitulah. Tapi Om sedang berusaha berubah! Kau anak pintar. Jangan mengulangi kesalahanku ya, Nak.” Percakapan berhenti sampai di situ.

Gadisku belum berpaling dari jendela. Kamu memejamkan mata, membiarkan AC meniupkan udara dingin ke tangan mungilmu yang gemetaran. Jalanan padat, dan lampu merah belum menyisakan tempat untuk kendaraan melaju. Yang tampak hanya kumpulan rumah miring berpagar triplek di kanan-kiri. Lepas dari hiruk-pikuk jalanan, sepi dalam redup rembulan.

Kamu menarik napas sejenak.  “Hidup di kota ini.. rasanya seperti tidak ada harapan ya?”

“Kenapa kamu bilang begitu?” Si pria terkejut, menaikan nada suaranya; mungkin hingga satu oktaf?

“Ya, coba Om pikirkan saja. Pernah tidak orang-orang kaya itu memikirkan nasib manusia seperti kami? Om pikir, bagaimana susahnya kami selama ini, bertahan hidup?”

Kamu memberi sela pada pikiran.

“Tidak ada orang yang memilih ketika lahir.”

“Ini dunia. Perjuangan,  Nak. But Everything gonna be alright, yaa?” si pria tersenyum kecil.

 “Anda pria yang bijak.” Kamu menjawab singkat, belum puas tampaknya.

 “Jadi di mana rumahmu?”   

“Di sana, gang yang pertama sehabis turunan, belok kanan.”

Mobil tua kembali melaju.  Tanpa percakapan ataupun gurauan. Mereka berhenti di depan sebuah gubuk penuh retakan. Pagar triplek dibelakangnya cuma mendapat pencahayaan dari satu tiang lampu jalan. Pria itu menurunkan jendela mobil. Mengamati si cantik yang terlupakan--bunga rumpai ungu bersama ilalang dan rumput liar lainnya tumbuh di sekitar pintu rumah. Bebatuan di sana hampir lapuk diretas lumut. Atap gubuk tua itu berlubang dengan tekstur yang miring, serasa akan roboh kapan saja. Di dekat rumah itu ada tumpukan sampah gosong; tidak habis terbakar, bersama got mampat berbuih. Dari sana, bau anyir menyerbak ke mana-mana.  Si pria bersusah payah menahan napas, tapi baunya tetap merasuk ke dalam hidung. Kamu kembali mengalungi tas biru yang membawa kami, dan membuka pintu mobil. Kamu berhenti sejenak.

“Tapi Om, soal kata-katamu tadi. Aku bertanya-tanya. Mengapa banyak orang yang menderita sampai pada akhirnya?”

Tidak mendapat tanggapan, lantas membiarkan kaki-kaki cekingmu turun dari mobil. Tulang-tulang itu menonjol keluar, seakan tidak terlapis daging.

Kamu menatap miring. “Bicara memang lebih mudah. Aku tahu Om punya kedudukan yang lumayan di kantor.  Lihat saja jas dan dasi itu. Bahkan aku tidak tahu cara mengikat dasi. Tapi aku tahu Om sampai mengantarku ke mari juga karena kasihan. Atau Anda yang memang kesepian? Oh atau mungkin Anda cuma mau terlihat baik? Betapa menyedihkannya aku?”

Kamu membanting pintu mobil dan berlari kencang, menghilang di balik cahaya tiang lampu yang meredup. Berkedap-kedip, nyaris rusak.

 “Kasihan sekali gadis itu. Dulu ia tidak seperti ini.” Suara si senior mengembalikanku ke tubuhku.

“Apa? Kau berbicara seperti sudah pernah mengenalnya, Senior.”

“Ya memang aku mengenalnya, walau tidak secara langsung.”

Kalimat mawar tua ini semakin membuatku bertanya-tanya. Tapi tubuhku terlanjur kelu. Bukannya apa-apa. Aku sudah cukup jengah. Tuan baruku menangis lagi. Kamu meletakan kami beserta tas biru itu di atas meja tua yang hampir patah. Kamu langsung melompat ke tempat tidur. Memendam muka. Kamu tidak ingin orang lain melihat. Jadi kamu menangis bergemertak di balik selimut tipis yang telah koyak. Setidaknya cukup untuk mengelap air mata.

Aku cuma bisa menonton. Kemudian tidur di dalam tas yang menyembunyikan 5 tangkai kembang ini.

Ada bunyi pintu. Siapa yang masuk? Aku mendengar suara bapak-bapak terbatuk  di luar ruangan. Ah, aku baru ingat. Kamu belum makan malam. Di mana keluargamu?

4

Tok Tok Tok

“Permisi!” Tok Tok

“Permisi!” Tok Tok Tok Tok

“Per—“ Cklek

“Ya—Oh, Om!” Siapa gerangan itu?

 “Hei, kamu ingat aku?” Suara seorang lelaki dewasa terdengar sampai kamar. Pria yang kemarin, ya?

“Om, ada perlu apa berkunjung kemari? Masuk-masuk! Duduklah dulu.” Kamu mempersilahkannya masuk dan menutup pintu.

“Ah iya. Tidak usah repot-repot ‘lah, Dik! Hm, ngomong-ngomong, apa kamu sudah memberikan hadiahnya?”

Kamu meletakan telapak tangan di sandaran kursi.

“Dia tidak ada di sini, Om,” Apa? Mimik pria itu berubah drastis.

“Ah, maaf. Kamu belum memberikan mawar itu ya? Apa Ibumu sedang pergi? Biar Om antarkan ke—“

 “Dia memang sedang pergi. Tapi tidak usah ‘lah. Tidak perlu repot-repot Om!”

“Ah, tidak, tidak! Masa aku membantu setengah-setengah, sih. Harus sampai selesai, haha. Sampai kamu berhasil memberikan mawar itu ke Ibumu. Kita ini mirip, tahu?” Rasanya aku dapat melihat senyuman pria itu. Tapi gadisku tidak akan menerimanya begitu saja.

“Aku sudah cukup banyak merepotkan Om. Ibu tidak akan suka kalau aku terlalu banyak bertopang tangan.”

“Ah, jangan begitu. Kamu tidak kasihan? Om sudah capek-capek datang ke mari.” Pria itu mengambil sela.  “Ah, lihat bajumu. Sudah rapi-rapi begitu. Untung juga ya Om datang?”

Kamu  berjalan cepat ke ruangan sebelah. Kurang dari semenit, dirimu sudah siap berdiri di depan pintu, tanpa lupa mengenakan tas biru itu. Dengan pakaian terbaik, dan yang paling menarik adalah jepit mawar merah yang menghiasi rambut hitammu.

“Sebenarnya bukan masalah, kalau pun Om tidak datang. Aku bisa naik angkot. Tapi terima kasih banyak sudah mau datang.” Kamu membuka pintu.

“Kau cantik.” Pria itu tersenyum, dan berjalan ke mobil.

“Terima kasih. Ah, jarang sekali aku mengenakan pakaian ini. Ya, tapi ini hari istimewa bagiku. Hari ini ulang tahun Ibuku! Aku mau tampil baik!” Gadis itu melompat-lompat kecil, dan menaiki mobil.

Tidak terlalu peduli, Pria itu mengeluarkan telepon genggamnya. Telepon tipis, layar sentuh, mengkilap; serasa akan hancur dalam sekali banting. Ia mengetik cepat.

Ok, tunjukan jalannya ya.” Ia menggas, menarik starter, dan memutar setir. Dengan begitu, roda bergilir dan mobil merayap di jalanan.

“Om, teleponnya bunyi.” Pria itu mengangkat telepon. “Setahuku, menyetir tidak boleh sambil menelpon?” Pria itu mengabaikanmu.

“Halo? Oh Adi. Iya, iya. Seperti yang kita bicarakan kemarin. Haha, ya masa bantu setengah-setengah? Iya, tetap ikuti. Siapkan kamera itu.”

“Ya, ya. Sudah dulu ya. Pastikan mereka melihatku. Sampai jumpa.” Ia mematikan telepon. Menyisakan kamu yang menatap miring.

“Ya, masuk ke sana Om.” Kamu menunjuk pintu masuk pada pagar yang bertuliskan “TPU Tanah Kusir”. Pria itu sedikit terkejut dan tersenyum kecut.

“Akhirnya kita berakhir di tanah pemakaman, ya?” ucap salah satu mawar, kawanku.

“Aku rasa, ini  makam ibunya?” ucap mawar yang lain.

“Tidak bisa ‘kah kita tinggal lebih lama?” Nah, ini ucap mawar yang paling muda.

“Oh diamlah! Mau mati saja kalian pilih-pilih?” balas senior, ketus.

Kamu menunjuk ke depan, lalu ke kiri. Melewati tempat seperti air mancur. “Ya, kiri Om. Itu makam Ibuku.” Kamu dan pria itu turun.

Di belakangmu ada beberapa mobil ikut parkir. Heran, aku pura-pura tidak melihat.

“Ibu!” Kamu berjalan beberapa langkah mendekati makam dan berlutut. “Selamat ulang tahun, Bu!”

“Apa kabar, Bu? Ini mawar-mawar untuk Ibu.” Bibirmu gemetaran. Kamu menunduk sampai keningmu menyentuh batu nisan dan menciumnya. Tidak lama kemudian, air matamu mulai jatuh membasahi tanah pemakaman.

“Om ini yang membelinya. Dia.. pria.. yang baik,” terlintas sedikit keraguan dalam kalimat itu. Tapi lekas luput dalam suasana yang khidmat.

“Ibu, tolong doakan aku ya. Aku.. akan bertahan hidup untukmu. Aku akan sukses. Setelah itu kita bisa bertatap muka kembali. Aku tidak sabar Bu!” kamu tersenyum kecil. Membayangkannya dalam angan. Ya mudah-mudahan itu tidak sekedar angan-angan.

Masih dalam hening, kamu meletakan kepala di atas tanah yang ditumbuhi rumput-rumput liar. Kamu mencabutinya satu-persatu.

Cahaya menyilaukan mendahului suara jepretan kamera. Suara itu benar-benar mengganggu. Kamu menoleh dan membulatkan mata. Kamera TV, reporter, mice, orang-orang berkemeja seragam. Kamu membeku di tempat.

“Bersama saya sudah ada Bapak Dimas, Direktur PT. Lencana Cahaya yang terkenal memegang banyak saham di perusahaan-perusahaan asing. Ya, Pak Dimas. Bisa Anda jelaskan terkait hal ini?” seorang reporter berdiri di depan kami, mewawancarai pria tadi. Pria itu menggaruk punggung lehernya, gelagapan.

Kamu sontak menyalip, “Pada akhirnya, Om membantuku cuma untuk mencari ketenaran ‘kan, tukang pamer.” Kamu menangis. “Aku kira Om orang baik. Ternyata baik karena uang ya?”

Kamu sadar kalau perkataan itu mencapai pengeras suara dan terekam dalam kamera. “Buat apa direkam? Kalian mau tidak ditampilkan dengan keadaan seperti ini?”

“Betapa menyedihkannya aku?” Kamu berteriak kepada mereka, “Buat apa direkam? Matikan kameranya!” Kamu berlari meninggalkan TKP. Meninggalkan si pria yang tercenung menatap seikat mawar di atas makam.

Pria itu mendekat. Mengambilku, dan memotong miring batangku. Dia menanamku ke tanah di dekat batu nisan. Dia mengecup makam itu, dan membubarkan orang-orang di sana. Begitulah aku tumbuh di tanah pemakaman.

Berhari-hari kemudian kudapati kawan-kawanku mati layu, sedangkan aku tumbuh berakar. Pada musimnya, kelopak-kelopakku jatuh gugur menghias tanah. Cerita di pemakaman itu tontonanku sehari-hari. Percakapan akar-akar di dalam tanah, itu berita setiap hari. Entah sampai kapan dan selama apa aku hidup, aku tetap tidak bisa menebaknya. Termasuk tentang kamu. Hingga akhirnya aku mati penasaran. Tapi suara akar itu tetap mencapai jiwaku.

5

Pada tahun pertama setelah hari itu. Aku menemukan kamu dengan kondisi memburuk. Kamu menangis dan memeluk nisan. Tulang-tulangmu menonjol keluar. Di bawah matamu timbul cekungan. Rambutmu acak-acakan. Aku bisa melihat lebam kebiruan di tanganmu.

“Ayah.. Ayah..” Kamu memukul tanah.

Pada tahun kedua setelah hari itu. Aku menemukan kamu kembali. Kamu membawa keranjang bertumpuk koran. Kakimu jatuh, tersungkur-sungkur di tanah.

“Lihat, aku masih hidup Bu.”

Pada tahun ketiga setelah hari itu. Aku menemukanmu datang bersama pria berkemeja. Ia tampaknya bersimpati.

Pada tahun keempat setelah hari itu. Aku menemukanmu datang bersama wanita berblouse hitam, yang mengenakan rok di atas lutut. Wanita karier ya? Kamu selalu datang bersamanya sampai tahun kedelapan. Kadang kudapati kamu memakai seragam sekolah. Itu sudah cukup untuk membuatku puas.

Pada tahun kedelapan setelah hari itu. Kamu datang bersama wanita itu lagi, dan seorang pria berjas berdasi. Kelihatannya kamu sudah menemukan keluarga baru. Kamu datang dengan pakaian layak. Aku lihat tubuhmu sudah mulai berisi.

Pada tahun kesembilan, kamu tidak datang. Kata akar-akar lain, kamu sedang makan malam bersama seorang pemuda di restoran yang cukup ternama.

Pada tahun kesepuluh setelah hari itu. Kamu datang bersama pemuda lain. Pakaiannya menandakan ia orang berada. Aku pun menemukanmu telah tumbuh menjadi perempuan menawan. Kalung mutiara menggantung di lehermu. Anting emasmu berdesir tergoyang bersama angin. Dari mana perhiasan itu?

Pada tahun kelimabelas setelah hari itu. Kamu datang dengan pemuda lain lagi. Tapi kali ini tanpa perhiasan, tanpa baju laundry-an. Pemuda itu bersimpati. Ia datang dengan pakaian berjas.

“Ini makam Ibuku.”

Tak menunggu lama, pemuda itu memberikanmu amplop yang cukup tebal. Kemudian datang orang berjas lain, menyalami pemuda itu. Mereka memujinya, dan kamu meremas uang itu.

Begitulah kamu selalu datang kemari bersama orang yang berbeda-beda. Aku sudah sering mendengar cerita-cerita tentangmu dari akar lain yang ada di tanah.

Pada tahun kesembilanbelas setelah hari itu. Kamu datang bersama seorang pria paruh baya. Ia lebar mulut, melengkungkan alis, menepuk-nepuk pundakmu. Dari jauh orang-orang berkerumun. Ada yang meletakan kamera di pundak mereka, ada juga yang memegang pengeras suara di genggaman mereka.

Pria itu mengeluarkan kata-kata mutiara palsu. Kemudian memberikan amplop tebal kepadamu. Orang-orang mendekat, mengejar informasi. Pria itu memamerkan gigi emasnya di depan kamera. “Terima kasih ya, Nak.”

Pada tahun keduapuluh setelah hari itu. Kamu datang kembali. Kamu sudah menjadi wanita dewasa. Aku menemukanmu datang sendiri. Berpakaian pas-pas an, namun dengan anting emas, berkalung mutiara. Tas dan sepatumu merk ternama, namun hampir robek. Dan aku kembali menemukanmu menangis. Kamu memeluk nisan itu. Wajahmu suram. Tipikal orang putus asa.

“Maafkan aku Bu,” kamu berbisik pelan.

“Aku dengar, ada wanita yang marak diberitakan tahun lalu itu di sini?” ucap seorang pria paruh baya yang tampaknya asing. Ia berkumis putih. Sementara rambutnya masih meninggalkan jejak hitam.

Kamu melemparkan kerikil tanah kepadanya. “Akulah wanita itu. Apa maumu?”

“Sekitar duapuluh tahun lalu, aku bertemu seorang gadis tengah memunguti kembang di toko bunga. Namanya Kalisa. Aku sempat bersalah kepadanya.”

“Lalu kau mau apa?” Kamu menangis, memukul tanah.

“Minta maaf?” Perhatian pria tua itu tertuju pada jepitan mawar tua di rambutmu. Warnanya sudah kabur.

“Percuma! Percuma! Apa yang dapat kau ubah? Lihat aku! Duapuluh tahun aku hidup dari belas kasihan orang. Betapa menyedihkannya aku? Aku ini penipu. Kau pikir salah siapa ini?”

“Tentu salahmu. Ini ‘kan jalan yang kamu ambil? Aku tebak, kamu habis akal dan akhirnya menipu orang-orang sepertiku. Kamu memanfaatkan ego mereka.”

“Dan kalian memanfaatkan kelemahanku! Lihat dirimu, Pak. Di mana mobilmu? Aku yakin, kau sudah kehabisan uang. Kebanyakan pamer ya? Aku sudah sering bertemu manusia sepertimu.” Pertama kamu melepaskan kalung dan menginjaknya. Kemudian kamu melemparkan cincin itu ke tanah.

“Apa manusia memang cuma bisa membantu karena ada keperluan?”

Si pria tua diam, tidak bergeming beberapa detik. Dan beberapa detik kemudiannya lagi, dia kembali berkicau. “Kamu sudah pergi ke mana saja?” tanyanya.

“Apa? Mau pamer lagi? Aku sudah pergi ke banyak tempat sekarang!” serumu, emosional.

“Tapi dari yang kulihat, kamu tidak pergi ke mana-mana. Kamu tetap diam di sana. Terlalu takut bermimpi atau malas berusaha? Mana janjimu waktu itu?”

“Hidupku tidak ada harapan. Semua juga sudah tahu ulahku. Apalah menatap masa depan? Dulu Anda bilang, semua akan baik-baik saja pada akhirnya?”

“Lalu kita salah ambil jalan. Aku sama menyedihkannya denganmu, Nak. ”

“Aku mulai menipu, karena orang kaya seperti kalian juga menipuku. Harusnya aku tidak berakhir begini.”

“Kita sama-sama salah di sini. Lalu apa? Berakhir? Angkat kepalamu Nak. Kamu masih bernapas.”

.

.

.

Selesai

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer nusantara
nusantara at Motif dan Ironi (2 years 43 weeks ago)
90

bagus

Writer FaraniD
FaraniD at Motif dan Ironi (4 years 36 weeks ago)
80

Naomiiiii, lama tidak lihat. Atau saya yang lama tidak muncul ya?
.
Diksinya keren, meskipun ada beberapa plot hole kecil bagi saya dan elipsis yang sedikit kurang.
.
Saat Kalisa pertama kali bertemu dengan si bapak-bapak itu dan sedang memungut bunga, si penjual bunga berkata, "Dasar orang kaya."
Nah, saya tidak paham. Lalu memang kenapa dengan orang kaya yang membeli? Toh itu juga beli dagangan dia. Mungkin bisa dispesifikkan lagi.
.
Saat bapak-bapak tua itu masuk ke toko bunga, apa tujuannya? Apa ia memang sengaja ke toko bunga itu karena memperhatikan Kalisa setiap hari? Atau hanya iseng dan tidak sengaja menemukan Kalisa?
.
Pembohongan yang dilakukan Kalisa saat ia dewasa itu sepeti apa? Menipu? Menipu dengan barang-barang branded dan anting emas?
.
Nah, maaf kalau tidak berkenan. Saya hanya seorang penjelajah yang numpang lewat. Bisa diabaikan bila tidak suka.
.
Terima kasih, salam jauh.
Fara.

Writer Naomi Amaris
Naomi Amaris at Motif dan Ironi (4 years 28 weeks ago)

Haloo Fara, iyaa aku udh lama ga muncul sih hehe -_-"
Sebelumnya terima kasih mau mampir Fara. Maafkan saya yg telat banget reply nya. Gimana kabarnya Far?
.
Hmm, ceritanya masih kurang jelas ya. Itu yg "Dasar orang kaya" maksudku, si penjual bunganya kan dari tadi ngelihatin mereka, terus dia sadar tentang motifnya si bapak2 itu. Iya juga siih, oke2 dispesifikkan lagi ya.
.
Itu ceritanya Bapak-bapak itu ga sengaja ketemu Kalisa, dan mau memanfaatkannya.
.
Itu, sebenarnya Si Kalisa itu kayak pura2 miskin, ngemis2, dan ada yg kasihan dan menolongnya, (Kayak pas adegan dia dikasih uang itu), dan orangnya itu ganti2. Jadi barang branded itu bukan hasil usahanya sendiri. Itu dari hasil penipuan dia (yg ga mau usaha) --> "Duapuluh tahun aku hidup dari belas kasihan orang."
.
Berkenan bangeet kok Far. Makasih banyak atas sarannyaa.
Salam hangat, keep spirit!

Writer ryandachna
ryandachna at Motif dan Ironi (4 years 38 weeks ago)
50

Kata pengganti untuk tokohnya kadang kurang konsisten. Ceritanya bagus, bisa lebih cakep kalo karakter si tokoh utama (bukan si pencerita) lebih nonjol.

Writer Naomi Amaris
Naomi Amaris at Motif dan Ironi (4 years 28 weeks ago)

Baikk Bang, makasih banyak sudah mampir, dan terima kasih juga atas sarannya.
Salam hangat

Writer hidden pen
hidden pen at Motif dan Ironi (4 years 39 weeks ago)
100

Hay Naomi :v salam tersembunyi :v
Hhmm maaf sepertinya aku gak terlalu membantu dalam memberi masukan
Akibat jarang nulis ya beginilah hasilnya kyahahaha

Hhmm sempat berpikir dari sekian banyak cerita yang ku ilhami... hanya ceritamu terkesan unik

Mengapa

Menengok pergantian paragraf ada bentuk angka 1,2,3 kupikir itu mungkin pembeda alur satu sama lainnya...mungkin terkesan mistery bagiku tapi sangat unik koq dan tampil beda koq :v hehe biasanya org org pake bintang untuk pergantian ***

Diksinya aku suka, ehm tetapi mungkin kalo mengingat kalimat ini

Tidak menunggu waktu untuk berpikir, kamu menggeleng keras-keras. “Tidak perlu repot-repot!”
Hhmm menurutku agak berlebihan, dengan kalimat berulang di luar dan dalam dialog kayaq di satukan
Menurutku keras- keras itu cukup letakkan

Kamu menggeleng keras

Oohh satu lagi yang membuat penasaran

Kelimabelas keenambelas keduapuluh

Gak di pisa ya kayaq
Ke lima belas
Ke enam belas

Ok naomi kurasa cukup cuap cuap aku hehe selebihnya cerita ini menyentuh ke gadis bunga :v ehh mangnya bunga itu gadis...ahh auk ah gelap

Kkabbuurrr

Writer Naomi Amaris
Naomi Amaris at Motif dan Ironi (4 years 28 weeks ago)

Salam Kak Hidden! Apaa kabaar? Udah lamaa hehe.
Hmm ga papa kok Kak! Sarannya tetap membantu.
Hehehe :v Bisa aja kak Hidden. Itu cuma awalnya saya baca di beberapa cerpen ada yg memakai tanda pergantiannya begitu.
.
Makasih Kak, padahal itu diksinya ga ngalir, hehe. Hmm, iya ya. Benar juga. Oh iya yg itu harusnya dipisah, bukan disatukan.
.
Hehe makaasih yaa kaaak!
Jangan kabuur mulu :v

Writer citapraaa
citapraaa at Motif dan Ironi (4 years 39 weeks ago)
60

bagus, Naomi.
cuma kalimat2nya kurang terasa mulus. kurang nyambung antara satu dengan yang lain,
sama kesalahan2 kecil seperti sudut pandangnya ada yang kelewat, harusnya "kalian" karena merujuk ke anak2 dan bapak2nya, tapi ditulis "mereka".
gitu sih :D
saya curiganya ini bapak2 mesum, nggak taunya begitu ya...
suka endingnya! u~u "kamu masih bernapas" :"""
semangat

Writer Naomi Amaris
Naomi Amaris at Motif dan Ironi (4 years 39 weeks ago)

Hehehe, iya makasih banyak sudah mau mampir Kak. Oh iyaa, makasih udah ngingetin Kak, sampai kelewatan :v. Hmm, iya sih ada yang ga nyambung. Okee,, akan saya perbaiki :) Semangat juga kak (y)

Writer nusantara
nusantara at Motif dan Ironi (4 years 39 weeks ago)
100

numpang cari poin,
lagi hopeless

Writer Naomi Amaris
Naomi Amaris at Motif dan Ironi (4 years 39 weeks ago)

oalah :v mudah-mudahan cepat terkumpul bang pointnya. Lain waktu kalau mau comment, comment aja bang. Komentarnya kunantikan :) Mohon kritik dan saran, Thanks udah berkunjung