Anagram

Stasia meletakkan cangkir kopinya sedikit kasar. Seandainya kafe sepi, mungkin dentingan keramik itu akan membuat pengunjung yang ada menoleh padanya.

Perempuan di hadapannya baru saja memutuskan Juan, lelaki yang didefinisikan Stasia sebagai Gary Stu dalam dunia nyata. Tampan, baik, kaya, pintar, sebut saja semua kriteria laki-laki idaman, maka kau akan menemukannya pada Juan. Ia tetap kehilangan kata-kata walaupun harusnya kabar ini tak mengejutkan, mengingat Juan bukan Gary Stu pertama yang Dona campakkan.

“Dia menyebalkan,” ucap Dona acuh sambil menyesap tehnya.

Stasia menghela napas berat. Kadang ia bertanya-tanya mengapa ia masih berteman dengan perempuan yang rasanya pantas dilabeli jalang ini. “Karena ia menyuruhmu untuk berhenti mencuri jam istirahat kantor?”

Dona tersenyum, menampakkan lesung pipinya. Kulit sawo matangnya mulus tak bercela, wajahnya mungil dengan hidung mancung dan mata bulat lengkap dengan lipatan serta bibir yang penuh. Kalau Stasia penyuka sesama jenis, Dona adalah target pertamanya.

“Kau memang sangat mengenalku.”

Stasia membuka mulut, kemudian mengatupkannya lagi tanpa mengatakan apa-apa. Ia yakin Dona tahu bahwa yang Juan katakan adalah demi kebaikannya sendiri. Sama seperti Juan-Juan sebelumnya yang juga dicampakkan karena mereka berusaha mengingatkan Dona.

Ia tak habis pikir, mengapa para Juan itu tak ada habisnya muncul di hidup Dona. Mereka sudah mendengar tentang sejarah Dona yang buruk, tapi tetap saja dikejar. Rasanya kalimat ‘cinta itu buta’ tidak cukup untuk menggambarkan kebutaan para Juan yang dimabuk cinta itu.

“Sebenarnya kau mencari pacar yang seperti apa?” tanya Stasia setengah mengejek. “Juan yang baik kau tinggalkan, Portu yang brengsek juga kau putuskan.”

Dona nampak tersinggung, namun ia berusaha menutupinya. “Tentu saja yang bisa memimpin hubungan dengan baik. Dan juga memenuhi semua kebutuhanku.”

Stasia tersenyum tipis. Semua yang dimaksud Dona adalah secara literal. Mulai dari materi hingga kebutuhan di atas ranjang. Sampai hujan uang pun tidak akan Dona temukan pria itu. Yang Dona cari bukan sekadar Gary Stu, tapi Gary Stu bodoh yang akan memanjakan Dona tak peduli walaupun hal itu berakibat buruk bagi gadisnya.

Mendengarkan cerita Dona hanya membuatnya frustasi, tapi tetap saja ia sediakan waktu dan telinga bagi temannya yang satu ini. Stasia juga tak tahu mengapa. Mungkin karena Dona temannya sejak SD, atau paras Dona yang memikat, atau ia berharap ada keajaiban dan Dona akan mengabarkan berita baik.

“Minggu ini mau ikut pergi? Ada Heru dan Naro juga,” bujuk Dona sekaligus mengalihkan topik.

Stasia mendengus, dua lelaki bajingan dengan kelakuan tak keruan juntrungannya. Anehnya Dona masih saja senang pergi dengan lelaki semacam itu di saat ada Juan-Juan sempurna yang berserakkan mengejarnya.

“Tidak, terima kasih.”

Dona sedikit merengut. “Kalau begitu habis ini kita shopping di mall seberang.”

Stasia melirik jam tangannya. “Kau sadar kita harus balik ke kantor sepuluh menit lagi?”

“Ayolah, hari ini Pak Meinsa lagi keluar kota. Terlambat sedikit tak akan dimarahi.”

Stasia menghela napas pelan dan berbisik, “ini sebabnya Juan menasihatimu.”

“Kau bilang apa?” tanya Dona pura-pura tak mendengar.

“Bukan apa-apa.” Stasia melengos dan menghabiskan kopinya hingga tandas.

“Jadi kau mau ikut shopping, kan?” tanya Dona lagi, kali ini sambil menampakkan senyum lebarnya.

 Tanpa menunggu jawaban Stasia, perempuan itu menarik temannya keluar kafe yang terletak di lantai dasar gedung kantornya dan menyeberangi jalan. Stasia bisa menolak, tapi ia pasrah saja diseret Dona.

***

Adipati bersila dan menyenderkan punggung pada pinggir ranjang. Sang pemilik kamar merebahkan diri di atas sofa yang terletak di seberang ranjang.

Adipati berdecih, “apa kubilang, perempuan sepertinya tak pantas untukmu.”

Juan memejamkan mata, membayangkan wajah Dona yang tertawa lepas. “Dia bukan perempuan seperti yang kau kira,” ujarnya tenang.

Pemuda itu tak membalas lagi, kecewa karena gagal memperingatkan temannya. Semua lelaki pasti pernah mendengar tentang Dona. Perempuan dengan fisik sempurna yang berlawanan dengan kepribadiannya.

Ia tak mengerti apa yang membuat Juan menyia-nyiakan waktu dan tenaganya hanya untuk Dona. Banyak perempuan yang jauh lebih baik di luar sana yang mengejar Juan, tapi semua ia tolak hanya demi Dona. Seandainya ia Juan, sudah pasti ia akan memilih Kamira atau mungkin Ganisa yang sudah terjamin baiknya.

“Aku tak akan bertanya lagi kenapa kau memilihnya. Jelaskan saja padaku kenapa kau begitu mencintainya?”

“Karena aku mengenalnya dan kau tidak. Seandainya kau mengenalnya, kau juga pasti akan mencintainya, Di.”

Adipati menatap nanar wajah Juan yang terlihat terlalu tenang untuk orang yang baru saja dicampakkan. Temannya ini benar-benar sudah gila. “Aku tak sudi buang waktu untuk perempuan seperti itu.”

Juan tertawa pelan. “Itu sebabnya kau tak akan mengerti. Kalau kau mau meluangkan waktu sedikit saja, kau akan tahu dia sebenarnya perempuan baik-baik. Kau tak ingat dulu dia suka membagi bekalnya padamu saat kita masih sekolah?”

“Itu sudah lama sekali. Manusia berubah, Juan.” Pemuda berambut panjang itu mengingat kembali masa-masa ia memakai seragam dengan celana pendek merah.

Pandangan Juan menerawang ke langit-langit kamarnya. Waktu sudah mengubah cinta pertamanya begitu rupa, tapi ia tidak akan pernah lupa seperti apa Dona yang sebenarnya. Ia yakin Dona hanya sedang tersesat, ia percaya suatu saat perempuan itu akan kembali menjadi Dona yang dulu.

“Aku tahu, tapi aku tidak akan menyerah. Aku akan tunjukkan pada dunia Dona yang sebenarnya.”

Adipati terkekeh, “sesukamu sajalah. Tapi jangan suruh aku membantumu lagi.”

“Kau tidak percaya padaku?” Tersirat nada kecewa sekaligus menantang di dalamnya.

“Aku seorang realis, bukan pejuang cinta sepertimu.”

Juan hanya tersenyum menantang. Biarpun seluruh dunia menganggapnya gila, ia tak akan mengubah pendiriannya. Ia akan membuktikan bahwa cintanya bukan perempuan sembarangan. Hanya ada satu perempuan sepertinya di seluruh dunia ini. Hanya ada satu Dona Sieni. 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer marioboros
marioboros at Anagram (2 years 13 weeks ago)

asik tulisannya asli, top

Writer kukuhniam
kukuhniam at Anagram (4 years 5 weeks ago)
100

Sori ya Liesl, mampir malah komenin bang sinichi...

Saya kasih poim dulu aja ya, belum baca, jadi belum bisa komen
Maaf yo

Writer Nine
Nine at Anagram (4 years 5 weeks ago)
100

Sebelumnya saya mau bilang kalau saya malah ngabisin baca komentarmu sama bang kudo sebelum bener-bener ngebaca ceritanya ^^ soalnya saya nyangkut di sini gara-gara penasaran ngeliat komentar kalian yang membahas "misteri" dan bukan karena nemu judulnya di kolom judul, hehehehe
.
Pas ngebacanya mulus. Narasinya nyosor, Liesl Meminger.
Cuma, ya menyoal "misteri" yang sempat kalian bahas di kolom komentar saya nggak nangkap. Cuma larut ama narasi ceritamu saja, dan suka sama dialog karakter-karekternya. Kayaknya itu saja, Liesl. Oke keep writing ^^

Writer Liesl
Liesl at Anagram (4 years 5 weeks ago)

Ah.. "misterinya" masih belum nangkap? Sebenarnya ini jadi dilema sih, saya bukan tipe penulis yg suka menyampaikan sesuatu secara gamblang. Tapi kalau saya gagal menyampaikan pesan pada pembaca, apa tulisannya bisa dibilang tulisan yg berhasil? Hahaha

Writer Nine
Nine at Anagram (4 years 5 weeks ago)

Kalau saya tulisan yang berhasil itu, cukup bisa bikin saya terhibur atau terlarut pas ngebacanya. Jadi klo menurut saya ini udah berhasil. Hehehe

Writer Shinichi
Shinichi at Anagram (4 years 6 weeks ago)
80

Saya pikir dialog setelah kalimat pengiringmu tetap diawali huruf kapital ;)

Writer bayonet
bayonet at Anagram (4 years 4 weeks ago)

bang Sinichi pa kabar? nongol lagi nih aku di mari :v

Writer Shinichi
Shinichi at Anagram (4 years 4 weeks ago)

Welkomebek, Masbroooo...
Kabar baik. Btw, jangan cuma reply ini ah. Koment ceritanya juga biar afdol :p
Ahak hak hak

Writer bayonet
bayonet at Anagram (4 years 4 weeks ago)

awaq lagi kesundul ide cerita nih tapi blom jelas mau dibawa kemana, makanya mampir di mari. eheyy

Writer Shinichi
Shinichi at Anagram (4 years 4 weeks ago)

Ke pelaminan saja. Ahak hak hak

Writer Liesl
Liesl at Anagram (4 years 6 weeks ago)

Oh astaga, yg habis koma tetep kapital ya. Nanti dibenerin deh di pc. Ngomong2 kalo boleh tanya apakah bang shinichi nangkep kenapa judulnya anagram? *penasaran aja*

Writer Shinichi
Shinichi at Anagram (4 years 6 weeks ago)

Wah! Sama sekali enggak tertarik pada judulnya. Maksudku, bukan itu alasanku mampir. Do you wanna catch me up? Tapi, jujur, meski bertolak belakang dengan prinsipku pribadi dalam berkomentar, aku sadar kalau nama tokohmu timpang ke sana kemari. Cuma, siapa yang kita becandai di situs yang sekarat ini? Sama halnya dengan judul. Bukan poin display lagi dengan situasi Kekom begini sepi. Saya sudah beruntung nemu tulisan yang "bisa" dibaca. Tapi, saya senang jika dikau berkenan menyalakan lilin :)

Writer Liesl
Liesl at Anagram (4 years 6 weeks ago)

Hmm sebenernya judulnya itu semacam 'clue', dan nama2 yang saya pakai sama sekali bukan merujuk pada user di kekom ini hehe... Dari sekian banyak tokoh, hanya dona yg disebutkan nama lengkapnya, apakah lilinnya cukup terang? :)

Writer Shinichi
Shinichi at Anagram (4 years 6 weeks ago)

Ahak hak hak. Maksud saya, Kekom udah enggak seru lagi untuk tebar misteri ;) Jadi, enggak ada lagi yang bisa kita candai. Btw, kaunya tinggal di mana? Apa ada pengalaman buruk dengan negaramu ini?

Writer kukuhniam
kukuhniam at Anagram (4 years 5 weeks ago)

Iya bang, kekom uda semakin suram... padahal setahun lalu masih senpet rame lagi.... sayang ya...
Sekarang yang rame dimana ya bang?
Ngomong2, apa kabar bang?

Writer Shinichi
Shinichi at Anagram (4 years 5 weeks ago)

kabar baik. um, kurang tau juga rame di mana. Soalnya, jarang ke situs kepenulisan lain.

Writer Liesl
Liesl at Anagram (4 years 5 weeks ago)

Saya tinggal di Jakarta. Bukan pengalaman doang sih, tapi berita2 yg ada mulai dari hal remeh sampai yg besar terkadang bikin gemas.
Ada banyak org baik dan benar, tapi terlalu banyak org brengsek yg menghalangi. Dan sayangnya masih banyak juga masyarakat yg saya kira terlampau lugu. Baru2 ini ada berita ttg cewe yg plagiat tulisan ttg "warisan" dan ternyata tulisan2 dia yg lainnya pun banyak yg merupakan hasil jiplakan, tapi masih banyak org yg ngebelain. Di saat itulah saya merasa frustasi hahaha
Nama2 tokoh saya ambil dari perasaan/golongan yg mewakili lalu dipercantik, makanya namanya aneh2 :D

Writer Shinichi
Shinichi at Anagram (4 years 5 weeks ago)

Hmmm, saya jadi bingung dengan pendekatanmu yang terlampau umum pada cerpen ini, jika merujuk kehebohan masyarakat Dona Sieni terhadap banyak hal remeh yang sedang viral. Sulit bagi pembaca untuk menangkap maksudnya, karena menurut saya, terlalu jauh dan enggak langsung. Saya akan bilang lebih baik mengambil metafora lain atau tiruan dari peristiwa sebenarnya yang mirip. Cuma beda objek saja. Lebih dekat lagi kalau itu muncul sebagai peristiwa. Cinta, terlalu luas, apalagi cuma berakhir seperti cerpen ini saja.
.
Saya punya pengalaman membaca sebuah puisi yg sempat saya tulis ulang dalam bentuk cerpen. Metaforanya sama. Layang-layang. Anak-anak berebut dan berkelahi karena layang-layang. Pada akhirnya, karena perkelahian itu, layang tsb malah lepas, hilang. Kaitkan itu dengan konflik penegakan nilai-nilai kemanusiaan. Wow banget. Puisinya, bukan cerpen saya XD
.
Nah, maksud saya itu kan tiruan yang cukup sempurna. Serupa, tapi beda objek. Nilai-nilai digantikan layang-layang. Benda itu selalu di atas, diterbangkan, ditatap. Dan bukan misteri. Hanya saja, jangan khawatir. Terkait komentar balasanmu untuk Bung Naen, enggak semua pembaca bisa mengerti. Penulis juga punya sasaran tertentu toh.

Writer Liesl
Liesl at Anagram (4 years 5 weeks ago)

Hmm mungkin benar seperti yg bang shinihci bilang, terlalu umum kali ya pemisalannya. Maksud saya sih sebenernya banyak orang yg cinta Dona Sieni, tapi entah kenapa Dona malah selalu aja milih yg brengsek2 dan kurang mengapresiasi peJUANg yg justru berniat baik. Sebagian orang seperti saya jadi fruSTASIa, ada juga akhirnya yg jadi a(di)patis.
Terima kasih saran dan masukannya btw :) sejujurnya saya ga nyangka setelah lama ga bikin cerpen ternyata tata bahasanya masih cukup oke untuk dinikmati pembaca. Mungkin faktor karena suka iseng menulis ulang bagian film/drama yang saya suka.

Writer bayonet
bayonet at Anagram (4 years 7 weeks ago)
80

wah, seperti baca novel translasi luar negeri :)

Writer Liesl
Liesl at Anagram (4 years 6 weeks ago)

Wih masa sih? Hahaha. Anyway terima kasih sudah meninggalkan jejak :)