I Love You in My Silence

Aku sering melakukannya. Sungguh sangat sering sampai aku sudah hafal bagaimana rasanya dan juga apa risikonya atas tindakan yang kulakukan itu. Namun, hal itu justru membuatku ketagihan dan melakukan hal yang serupa walau akhirnya aku harus meneteskan air mata.

Mencintai seseorang secara diam-diam. Hal itu terdengar wajar dan mungkin biasa saja. Tapi, pernahkah kau mencintai seseorang secara diam-diam? Apakah kau merasakan hal biasa? Aku tidak. Aku sungguh tidak menyukai hal itu terjadi padaku namun aku menikmati hal itu terjadi padaku.

Seruni berjalan seorang diri di koridor sekolahnya sambil membawa tumpukan buku yang harus ia serahkan kepada guru Bahasa Indonesia yang sudah menantinya di ruang guru. Seruni merupakan gadis pintar yang selalu menjadi murid kesayangan guru yang mengajarnya. Walau termasuk pintar dalam semua bidang pelajaran, dalam bergaul dan bersosialisasi Seruni tidak sepintar teman-teman yang lain.

Tumpukan buku yang cukup tinggi itu cukup mengganggu jarak pandang Seruni. Namun bukan berarti buku itu dapat menghalangi jarak pandangnya untuk melihat Diar di seberang lapangan sana. Saking sibuknya memperhatikan Diar yang sedang tertawa bersama teman-temannya, membuat kaki Seruni tersandung dan menjatuhkan semua buku yang ia bawa.

            Gerdiar Priatmodjo merupakan seniornya yang saat ini sedang sibuk mempersiapkan diri menghadapi Ujian Nasional. Dari pandangan secara umum, tidak ada yang spesial dari lelaki yang akrab dipanggil Diar itu. Dia bukan seorang pemain basket, bukan ketua Osis, atau ketua ekskul lainnya. Dia juga bukan pria tampan yang berpenampilan keren dengan mobil atau motor sporty ataupun pria pintar dengan segudang prestasi. Itu semua tidak menggambarkan Diar.

            Diar adalah lelaki yang mengenakan kacamata, yang hobi mengenakan kaos dan sepatu converse serta vespa andalannya yang terlihat sederhana namun tidak aneh. Untuk sebagian anak gaul, mungkin penampilan Diar terlihat geeky. Namun tidak untuk Runi. Di matanya Diar nampak tampan apa adanya.

            Melihat buku-buku berhamburan di bawah kakinya, Runi segera mengambil dan merapikannya kembali dibantu seorang teman yang kebetulan melintas di dekatnya. Diar mengalihkan pandangannya ke arah Runi. mereka saling berpandangan satu sama lain. Kemudian Runi menunduk dan tersenyum sendiri sambil berlalu pergi.

Sudah hampir satu tahun Runi memendem rasa untuk Diar. Entah sampai kapan perasaan itu harus ia pendam. Padahal ia tahu sebentar lagi Diar akan lulus dan meninggalkan sekolah itu. Artinya, tak ada lagi Diar di pagi, siang atau sore Runi. Yang tersisa mungkin hanya bayang semu Diar yang mampu digambarkan oleh penglihatan Runi atau doa-doa yang dipanjatkan Runi agar Tuhan mempertemukan mereka di dalam mimpi Runi.

Sudah sering beberapa sahabatnya menyarankan agar Runi bisa mengungkapkan perasaan yang sudah ia pendam untuk Diar. Terlebih lagi ketika salah satu sahabat Runi tahu bahwa Diar dan Runi sama-sama berstatus single, hal itu membuat sahabat-sahabat Runi semakin medesaknya untuk mengungkapkan perasaanya kepada Diar.

“Aku merasa puas walau aku hanya bisa mengagguminya dari jauh. Ketika kamu sudah merasa puas atas apa yang kamu lakukan, adakah hal lain yang akan kamu lakukan?” kata-kata itu selalu dilontarkan Runi apabila sahabatnya mendesaknya untuk mengungkapkan perasaannya kepada Diar.

Vina, salah satu sahabat baik Runi kemudian mengerutkan keningnya sambil menatap Runi secara dalam. “Kamu jahat sama perasaan kamu sendiri dan juga sama Diar.”

Runi hanya balik menatap Vina dengan pandangan yang heran, kemudian Runi mengangkat kedua bahunya tanda tidak mengerti atas pernyataan yang Vina lontarkan untuknya.

“Iya, kamu jahat. Kamu gak ngizinin perasaan kamu untuk jujur. Kamu Cuma membiarkan dia terpendam semakin dalam walau kamu tahu kalau sebentar lagi Diar akan pergi. Perasaan itu bukan Cuma untuk dipendam terus-menerus Run, tetapi juga untuk diungkapkan.”

“Aku takut. Bagaimana kalau Diar gak suka sama aku.?”

“Bagaimana kalau Diar ternyata suka sama kamu?”

“Kalau Diar suka sama aku, pasti dia udah nyatain perasaannya ke aku dari dulu, Vina. Tapi, buktinya sekarang engga kan?”

“Gimana kalau dia juga sama kayak kamu? Dia takut kamu akan nolak dia? Mau sampai kapan kalian tenggelam sama perasaan kalian sendiri yang gak mampu kalian ungkapkan?”

Beberapa saat kemudian, handphone Runi berbunyi. Ternyata itu adalah telepon dari wali kelasnya yang memerintahkan agar Runi segera menemuinya di ruang Guru. Kemudian Runi bergegas menuju ruang guru dan meninggalkan Vina yang masih berdiri di balkon, depan kelasnya.

Di perjalanan menuju ruang Guru, Runi melihat Diar yang sedang asik bercanda dengan teman lelaki ataupun wanitanya. Tiba-tiba saja perkataan Vina barusan kembali memenuhi pikirannya.

Mau sampai kapan kalian tenggelam sama perasaan kalian sendiri yang gak mampu kalian ungkapkan? “Kalian? Apa Diar memiliki perasaan yang sama dengan yang kurasakan? Bagaimana jika Diar melakukan hal yang sama dengan apa yang aku lakukan? Mencintai seseorang secara diam-diam.”, Runi hanya mampu bertanya dalam hati saat melintas di hadapan Diar.

Ada yang aneh dari Diar di penglihatan Runi. Ya, kali ini Diar tidak mengenakan kacamata andalannya itu. “Where is your sunglasses?” tanya Runi dalam hati. Jujur kacamata Diar-lah yang berperan sebagai magnet yang dapat menyedot perhatian Runi saat pertama kali melihat Diar. Tapi kini, tanpa kacamatapun Runi tetap mengaggumi Diar. Diar memang selalu tampan apa adanya.

***

Hari demi hari terus berganti, namun Runi tetap pada pendiriannnya untuk  mengaggumi Diar secara diam-diam. Dua hari lagi merupakan pengumuman kelulusan. Mengingat hal itu, sahabat Runi semakin mendesaknya agar Runi dapat menyatakan cinta kepada Diar. Mereka mengatakan jika Runi tidak segera mengungkapkan rasa yang selama ini dipendam, suatu saat Runi akan menyesal selama hidupnya. Merasa seperti terintimidasi, Runi bersikap seolah tenang. Namun tanpa diketahui yang lain, hati Runi menjadi gundah gulana.

Ya memang benar, sebentar lagi pengumuman kelulusan. Mungkin di saat itulah Runi akan melihat Diar terakhir kalinya di sekolah sebagai siswa sekolah itu. Setelah itu, Runi mungkin tidak bisa lagi mengagumi Diar secara diam-diam, memandangi Diar dari kejauhan, atau sekadar melihat senyuman Diar di setiap sudut sekolah. Dan yang paling memiriskan, tak ada lagi medan magnet dari kacamata Diar yang menarik perhatian Runi. Ya, tidak akan ada lagi.

Mengingat semua itu, pikiran Runi seakan menjadi semerawut. Ia mondar-mandir ke sana ke mari di dalam kamarnya. Jujur, ia tidak siap untuk kehilangan satu sosok yang selalu menyedot perhatiannya di sekolah.

“Mungkin Vina benar. Aku harus mengungkapkan segalanya kepada Diar. Aku tidak bisa menahan rasa ini lebih lama,” ujar Runi seorang diri sambil menghadap ke cermin.

***

Hari yang ditunggu-tunggu sebagian besar siswa akhirnya tiba. Di sekolah Runi, 100%  siswa yang mengikuti ujian dinyatakan lulus. Runi tersenyum ketika mendengar kabar itu. Yang terlintas pertama kali di pikirannya saat itu tentu Diar. Runi segera menghampiri kerumunan siswa kelas tiga yang sedang berkumpul di dekat papan pengumuman kelulusan.

Matanya berkeliaran ke sana- ke mari, namun target yang ia cari tidak dapat ditemukan. Medan magnet yang biasanya dapat menyedot perhatiannya, tidak dapat ia rasakan. “Di mana Diar?”. Rasa cemas perlahan mulai menghampiri Runi saat ia tidak berhasil menemukan Diar. Dari sudut ke sudut sekolah sudah ia jamahi, namun tanda-tanda kehadiran Diar tidak dapat ia rasakan.

Sampai akhirnya ia baru bisa bernafas lega ketika melihat Hans, salah satu sahabat Diar. Biasanya, jika ada Hans itu artinya ada Diar, begitupun sebaliknya. Runi memutuskan untuk menghampiri Hans yang sedang tertawa dengan teman seangkatannya atas kelulusan mereka,

“Kak Hans!”

Hans menoleh ke arah suara itu berasal dan kemudian menghampiri Runi yang berdiri tidak jauh dari tempat Hans dan teman-temannya berkumpul. “Iya, ada apa Runi?”

“Selamat ya atas kelulusan kalian. Semoga kalian semakin sukses.”

“Makasih banyak loh!” dahi Hans mengerut sambil menatap Runi yang celingukan seperti sedang mencari sesuatu. “Kamu cari apa?”

“Engga. Eh itu.. sebenarnya aku mau tanya, Kak Diar di mana ya? Ada yang ingin aku omongin sama dia.”

Hans mengangguk-angguk perlahan. “Oh jadi kamu lagi nyari Diar? Diarnya gak ada. Kamu kayak Diar aja deh. Kerjaannya celingukan. Tapi biasanya yang aku tahu, Diar yang celingukkan nyariin sosok kamu, eh sekarang kamu yang nyariin dia.”

Mata Runi seolah terbelalak menatap tajam lelaki yang berdiri di hadapannya. “Maksud kakak apa? Terus sekarang Kak Diarnya belum datang ya?”

“Ya aku sih gak berhak ngomong apa-apa ke kamu. Seharusnya Diar sendiri yang ngomong, Tapi cowok yang mentalnya sebesar biji kacang kedelai jangan kamu andalin, Run.”

Runi hanya mematung, bingung dan tidak mengerti apa maksud dari perkataan Hans barusan. Namun Hans tetap berbicara semaunya meski banyak pertanyaan yang muncul di pikiran Runi.

“Belum sampai di garis finis, eh tuh orang malah kabur ke Birmingham. Alasannya sih mau ngelanjutin studi, Run. Tapi dadakan gitu sampai aku dan sahabatnya yang lain belum dapat kabar lagi dari dia.”

Runi seolah sulit bernafas. Banyak hal yang mengganggu pikirannya secara tiba-tiba. “Oh, jadi sekarang dia udah di Birmingham?” suara itu jelas terdengar keluar dengan sedikit paksaan. Terdengan serak dan tak beraturan.

Dengan santai, Hans menganggukkan kembali kepalanya. “Ya. Tapi kalau aku jadi dia, mungkin aku akan ngomong ya sebenarnya sama kamu. Run, aku tinggal dulu ya. Bye!”

Hans berlari menghampiri sahabat-sahabatnya yang sedang tertawa kegirangan. Seperti tak ingin ketinggalan momen apapun, Hans segera bergabung dan meninggalkan Runi yang mematung dengan seribu pertanyaan yang muncul di kepalanya.

Mengaggumi seseorang secara diam-diam ternyata tidak semudah yang dipikirkan. Ada banyak hal yang harus kau korbankan tanpa mendapatkan apa-apa selain kebahagiaan yang sementara. Dulu, aku berpikir aku akan bahagia walau hanya melihat senyumnya dari kejauhan. Namun, bukankah dia tidak akan berdiri selamanya, di tempatnya saat ini? Sewaktu-waktu dia akan pergi tanpa pernah kau tahu dan kau mengerti. Tanpa pernah lagi kau bisa mengejarnya atau sekadar menahannya. Selalu ada pengorbanan yang kau korbankan dari mencintai seseorang secara diam-diam. Kau harus rela bahwa ia tidak akan pernah tahu akan kehadiranmu atau kau harus rela saat kau tahu dia telah menjadi milik seseorang yang berani mengungkapkan. Jika cinta memang harus diungkapkan, maukah kau memberikanku kesempatan untuk mengungkapkannya?

 

          

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer nusantara
nusantara at I Love You in My Silence (3 years 10 weeks ago)
80

ini sound tracknya lagu ungu pas ini,
mungkin memang ini jalan takdirku
mengagumi tanpa dicintai
tak mengapa bagiku, mencintaimu pun adalah bahagaia untukku
bahagia untukku

cocok tuh lagu ungu yang itu

Writer Nine
Nine at I Love You in My Silence (4 years 46 weeks ago)
100

"Jujur kacamata Diar-lah yang berperan sebagai magnet yang dapat menyedot perhatian Runi saat pertama kali melihat Diar." ---> Di kalimat ini, subjektif tapi, saya merasa narator terlalu "telling". Untuk saya pribadi, saya nggak mau tahu kalau si Runi itu suka sama Diar karena "kacamata"-nya dari narator. Lebih seru lagi kalau fakta ini, datang ke saya, lewat aksi-reaksi dari karakter itu sendiri--dalam hal ini si Runi. Meski dalam sudut pandang orang ketiga, narator memang serba tahu, cuma nggak enak saja kalau harus dibuat sejelas itu dari narasi narator. Tapi entahlah, hal ini masih bisa diperdebatkan.
.
Setelah membaca, saya masih nggak bisa ngerasain kesedihan si Runi yang sudah kehilangan orang yang dikaguminya. Soalnya tiba-tiba loncat ke fakta kalau si Diar ternyata sudah pergi ke luar negeri. Karakter Hans dan Vina juga saya merasa masih kurang berpengaruh terhadap konflik antara Runi dan Diar. Padahal di sini dikatakan kalau mereka itu adalah sahabat dari karakter utamanya.
.
Untuk penulisan, ini termasuk rapi. Membacanya juga nggak nyangkut.
.
.
Beberapa koreksi (setahu saya):
-Runi seolah sulit berna[f]as. Banyak hal yang mengganggu pikirannya secara tiba-tiba. “Oh, jadi sekarang dia udah di Birmingham?” [s]uara itu jelas terdengar keluar dengan sedikit paksaan. Terdengan serak dan tak beraturan. ---> Huruf "S"-nya ditulis kapital. Huruf "F"-nya diganti "P" ("napas" bukan "nafas")
.
-“Iya, ada apa Runi?” ---> "Iya, ada apa[,] Runi?"
.
Sekian dari saya. Mohon maaf kalau ada pendapat yang salah. Semoga berkenan. Keep Writing!

Writer ziahnuraisyah
ziahnuraisyah at I Love You in My Silence (4 years 46 weeks ago)
100

Mohon kesedian membaca dan memberi komentarnya. Terima kasih