IBUKU

Ibuku seorang nenek bercucu tiga dari kedua adikku yang keduanya sudah menikah dengan lelaki yang menjadi pilihan mereka sendiri. Adikku keduanya perempuan, adik pertama beranak dua, yang ketiga beranak satu. Aku, belum menikah. Sebagai anak pertama, lelaki lagi, seharusnya sudah mampu mandiri dan memberi contoh baik dalam berkehidupan bagi adik-adikku. Namun, nyatanya belum. Semoga saja kedepannya mampu lebih baik dan lebih baik lagi.

Ibuku cukup baik dalam memberi pengarahan, terutama menyoal bagaimana seharusnya seorang kakak pada adik-adiknya. Meskipun aku memberi kekecewaan pada ibuku, pada ayahku juga tentunya, karena putus sekolah akibat sering bolos, tetapi ibuku tetap mengharapkan masa depan yang baik untukku.

Kekecewaan ibuku dan ayahku tentu diawali dari masalah putus sekolah itu dan mereka tetap optimis aku bisa menjadi orang yang memiliki masa depan meski ada kekecewaan. Ibuku sudah sejak lama berusaha membuat kehidupan keluargaku menjadi lebih baik dengan berjualan nasi kuning, ibuku tak tamat sekolah dasar dan tetap memiliki kesempatan untuk bisa mengubah keadaan ekonomi keluarga membantu ayahku yang saat itu masih menjadi seorang pegawai di pabrik kue dan roti. Sekarang, tentu sudah tidak lagi.

Aku mencoba menerka apa yang  ada di pikiran mereka saat rencana mereka tak sesuai harapan ketika anaknya tak tamat sekolah menengah. Mungkin, mereka marah karena waktu itu merasa jerih payah mereka membanting tulang untuk membiayai pendidikan terkesan tak dihargai. Aku ingat saat selulus sekolah dasar mereka mengirimku ke sebuah pesantren sederhana sekali di sukabumi, Daarul ihsan, bukan karena aku nakal tetapi agar pendidikan agama dan umum seimbang dan aku mempunyai bekal untuk masa depan menghadapi tantangan zaman dan lingkungan yang tak cukup baik bagi mental. Nyatanya, tiga tahun menyelesaikan tsanawiyah disana tak cukup membuatku untuk tidak mencoba apa-apa yang dilarang, semisal merokok dan minum minuman keras. Aku mencobanya. Aku masih merokok dan sudah berhenti minum minuman keras.

Pada dasarnya orang tuaku tak menginginkan anak lelaki satu-satunya ini terjerumus kenakalan remaja dan aku terjerumus. Aku tetap berusaha menjadi orang yang lebih baik dan ibuku tahu itu. Ayahku juga. Seputus sekolah aku tetap berusaha berbakti dengan membantu ibuku memarut kelapa untuk diambil santannya untuk persiapan jualan. Waktu demi waktu berjalan dan aku sesekali bekerja dan keluar kerja dan ikut berdagang dan berhenti dan bekerja lagi dan menganggur lagi dan bekerja lagi dan berdagang lagi. Aku bukan anak yang nakal, hanya sedikit nakal, sesekali menjadi anak nakal. Aku tak pernah ingin mengecewakan kedua orangtuaku makanya aku tak ingin menjadi anak yang nakal.

Ibuku berjualan di jalan rajawali timur, bandung. Beliau sangat menyayangiku. Aku juga menyayangi ibuku. Aku berharap bisa lebih mampu membuat ibuku bahagia dengan tidak lagi terlalu dekat dengan teman yang mengajakku melakukan hal yang sebetulnya berlawanan dengan hati semisal meminum minuman keras. Dulu, dulu sekali, dan ibuku tentu tidak tahu dengan pasti masalah kenakalan remaja yang kualami ketika itu, dulu aku sempat berpikir, aku pernah tiga tahun di pesantren dan aku seharusnya tidak melakukan hal ini. Nah, itulah yang membuatku berhenti.

Aku tidak pernah bercerita pada ibuku akan apa-apa saja yang kualami di pesantren. Kepada ayahku juga aku tidak pernah bercerita. Apa pun. Tak pernah sama sekali. Pada saat kelas satu, atau kelas tujuh, ada suatu kejadian yang sangat terkenang hingga kini. Sukar dilupakan. Ustad Hamid memergokiku sedang mengintai asrama putri dengan temanku, namanya Sugito. Tamparan keras mengenai pipiku dan temanku. Setelah itu, rambut dibotak. Lalu, berjalan membawa pamflet bertulisakan bla bla bla. Seperti anak yang sudah berbuat amoral. Sangat salh. Sangat salah. Pada suatu ketika di kelas, ustad Toni bertanya kenapa aku melakukan hal itu dan kujawab ingin melihat santriwati sedang tidur. Teman sekelasku semua tetap memberi support dan memang itulah alasan sebenarnya bukan karena ingin mengintip. Dan aku tetap menjadi santri yang berprestasi di kelas.

Aku tak pernah menceritakan hal itu pada ibuku. Ibuku hanya tahu nilai-nilaiku saja yang tertera di raport. Nilainya bagus-bagus dan ibuku senang. Ibuku bahagia melihat anaknya juara kelas. Aku sangat menyesalkan tindakan ustad Hamid itu karena ketika itu baru saja niat dan belum sampai melihat asrama putri. Seharusnya tak perlu melakukan tindakan penamparan seperti menghukum anak yang sudah berbuat asusila. Dan temanku, Ujang wahyudin, suatu ketika pernah mengadu pada ibunya ketika dia dihukum dan ditampar tentunya. Entah oleh ustad siapa, lupa lagi. Lalu sejak saat itu hukuman tampar jadi lebih ringan, dengan peci dan pelan-pelan.

Ibuku kalau tahu anaknya diperlakukan seperti itu tentu juga akan marah. Aku ini anak yang baik. Semasa sekolah dasar aku takut untuk mengeluarkan kata-kata kasar semisal anjing. Aku tidak pernah berkata anjing kepada temanku saat aku usia sekolah dasar. Barulah setelah pindah lagi ke bandung dan terbiasa dengan pergaulan yang sering menggunakan kata anjing maka aku jadi berkata anjing. "Anjing, sia mah uwuh ti dituna kudu kitu. Asa teu kudu."

Sepertinya aku terkesan anak yang nakal padahal tidak. Tentunya karena aku dibekali pengetahuan agama sejak dini. Aku mengikuti pendidikan TPA Alfalah di dekat pasar ciroyom. Ustadzah favoritku ibu Rima, rumahnya di rajawali timur. Walaupun aku belajar membaca dan menulis Alquran itu diajarkan oleh orang lain karena pada waktu itu ibuku belum bisa membaca dan menulis Alquran, bagiku beliau perempuan nomor satu di hati, setelah itu ibu Rima.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post