MENJADI MURID BARU SEHARI SAJA

Tentu tak ada yang harus berpikir bahwa aku adalah anak yang sedikit aneh. Aku menjadi anak kecil yang normal yang tidak mencolok karena tak pernah bertingkah yang aneh-aneh. Justru, anak-anak yang usianya lebih tua dariku banyak yang bertingkah aneh lebih aneh dariku yang oleh beberapa orang dianggap aneh.

Aku pernah mengalami situasi buruk ketika dikerjai oleh kedua anak-anak yang usianya lebih tua dariku di dekat tempat tinggalku ketika kecil di daerah dungus cariang, tepatnya di gang barnas. Kedua orangtuaku mengontrak rumah sederhana sekali di daerah itu. Aku memerhatikan kedua anak-anak itu yang sedang asik bermain petasan. Aku sedang bermain sendirian ketika itu. Singkat cerita mereka berdua memanggilku untuk sama-sama bermain bersama mereka.

"Sini. Kita main petasan." Kata salah satu dari mereka dan aku mendekati mereka perlahan.

Rupanya mereka sudah menyusun rencana buruk padaku tanpa kuketahui.

"Kau duduk disini, ya. Jangan kemana-mana. Perhatikanlah petasan itu. Jangan beranjak pergi sebelum kami datang." Kata salah satu dari mereka. Mereka tertawa cekikikan menahan tawa. Aku mengangguk saja. Mereka berdua berlari ke jalan raya di depan gang. Bersembunyi.

Aku berjongkok di depan selokan kecil. Di depanku, petasan yang sudah disulut menggunakan kertas papir buat melinting rokok sudah mengepulkan asap. Petasan berada tepat di tengah-tengah kotoran tinja yang setengah mengering. Aku tetap berjongkok sambil sesekali menengok ke arah jalan raya dimana kedua anak-anak yang lebih tua dariku itu juga sesekali menoleh ke arahku dari tempat mereka bersembunyi. Dan, saat yang di tunggu-tunggu tiba.

DUARRRRR!!

Petasan didepanku meledak dan kotoran tinja menyepreti bajuku. Aku mendengar suara tertawa mereka yang bersembunyi itu. Lalu, aku berdiri dari tempatku berjongkok mengusap bajuku yang ada serpihan kotoran dan mendekatkannya ke hidungku. Baunya tidak sedap.

Aku tak berlari ke arah mereka yang menertawaiku itu. Bagiku mereka anak nakal yang aneh yang mengerjai anak yang mereka anggap bodoh, itu saja. Aku memikirkan ibuku ketika itu. Aku harus bilang apa agar tidak dimarahi. Lalu, aku pulang dan dimarahi. Aku diam dan tak bilang soal kedua anak yang mengerjaiku karena aku tak mengenal siapa mereka.

Ada cerita lain yang sering kuingat-ingat dan membuatku tertawa sendiri ketika mengingatnya. Kurang lebih sewaktu kelas dua atau tiga sekolah dasar. Aku bersekolah di Karang Mulia 1 dan aku bukan murid yang menonjol karena prestasiku hampir tak ada hingga kelas 5.

Seperti biasa aku menghabiskan sarapanku dengan lambat. Setelah itu aku berangkat ke sekolah dengan tenang. Sesampainya di sekolah aku langsung masuk ke ruang kelas. Murid-murid belum hadir semua. Aku duduk dengan tenang menggeser kursi untuk kududuki. Aku memerhatikan sekitar dan ada murid baru, begitu pikirku. Aku melihat ke arah pintu kelas dan murid yang masuk tak kukenali sedikitpun. Banyak sekali murid baru, begitu pikirku. Teman-temanku yang sekelas pada kemana? mereka pindah semua? Begitu pikirku dalam hati bertanya-tanya. Aku gugup dan diam saja. Lalu aku melihat kesebelah kiri. Itu si Nono, kenapa dia sekelas denganku? Aku bertanya-tanya dalam hati. Masuklah bu guru wali kelas, aku tak mengenalnya. Wah, ada guru baru. Pikirku dalam hati.

Jam istirahat tiba. Rupanya, bu guru itu sempat menganggapku murid baru. Setelah beberapa waktu bertanya dengan guru yang lain barulah kesalah-pahaman itu jelas. Aku ini ternyata salah masuk kelas. Aku masuk ke kelas Karang Mulya 3 sedangkan aku murid Karang Mulia 1. Aku kurang memerhatikan kata-kata guru sebetulnya karena seharusnya masuk siang. Pada waktu itu jam masuk bergantian. Sdn Karang Mulya itu ada 1,2 dan 3.

Aku tak menceritakan hal itu pada ibuku. Bu guru di Karang mulya 3 itu memberitahu hari itu ikut saja belajar sampai beres dan besok berangkat siang dan jangan salah masuk kelas lagi.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post