PERCAYA TIDAK PERCAYA

Entah apa yang harus kuceritakan soal berdatangannya murid baru di kelasku. Apakah ada hubungannya ketika tahun-tahun sebelumnya aku salah masuk kelas dan mengira banyak murid baru di kelasku?

Aku ingat Agus sudrajat dan Indra setiawan, aku juga ingat Jaya yang anak tentara, ada juga siswi perempuan dan aku lupa namanya, ada juga yang tinggi besar putih yang tulisannya seperti anak kelas dua dan aku juga lupa namanya. Ada juga yang waktu itu siswa lelaki yang menggunakan celana dalam perempuan waktu pipis ketahuan dan diejek oleh anak-anak yang lain. Ada juga siswa baru lain, tapi karena tinggal kelas dan menjadi sekelas denganku. Semuanya murid baru di kelasku. Dan ketika kelas enam, ad guru baru yang bernama bapak Hartono.

Ketika itu aku tak memikirkan apapun dan saat sudah kelulusan dan semua berpencar ke sekolah lanjutan menurut pilihan masing-masing barulah aku memikirkan soal itu.

Di antara semua murid baru di kelasku yang paling menonjol adalah Indra setiawan. Aku tidak tahu di sekolahnya dahulu di Tasikmalaya, apakah dia termasuk murid cerdas atau biasa-biasa saja. Anehnya juga adalah aku juga menjadi menjadi lebih baik dalam nilai raport hingga kelas enam, padahal aku termasuk golongan murid yang kurang bagus nilai raportnya hingga kelas empat.

Aku ingin bercerita bahwa ada suatu musim permainan menyambat, entah siap yang memulai tetapi hampir semua anak-anak dari setiap kelas memainkan permainan menyambat kerasukan pak monyet, pak macan, dan sebagainya. Aku tidak percaya anak-anak usia sekolah dasar sanggup memainkan hal itu dan aku tidak percaya. Namun, meskipun aku tidak percaya hal itu aku sering ikut bermain dengan teman-temanku. Ari muslim, Indra setiawan, Dendi, Angga, mungkin juga Agus sudrajat, aku sedikit lupa.

Jujur saja, waktu itu aku menganggap teman-temanku hanya pura-pura kerasukan dan bertingkah seperti monyet atau macan juga ninja. Sepertinya aku sedikit melupakan saat-saat itu ketika sudah ke sekolah lanjutan di Daarul ihsan, Sukabumi. Aku punya teman baru dan setiap hari bersama mereka siang dan malam dan aku sedikit melupakan permainan-permainan saat sekolah dasar ketika jam istirahat tiba. Atau, sepulang sekolah. Tentu tak setiap hari dan tidak sering juga. Permainan kesurupan semacam itu hanya orang dewasa saja yang bisa dan anak-anak hanya bertingkah seperti itu agar terlihat sedang kerasukan. Aku meyakini hal itu saat itu. Saat aku usia sekolah dasar.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Putri_Pratama
Putri_Pratama at PERCAYA TIDAK PERCAYA (1 year 50 weeks ago)
70

Jalan cerita berjalan perlahan tanpa kesan membosankan.

Writer nusantara
nusantara at PERCAYA TIDAK PERCAYA (1 year 49 weeks ago)

iya tapi kan susah biar tidak membosankan tapi ini keheranan beberan kalau dipikir-pikir sebab emang beneran banyak murid baru, hehe di kelas saya waktu sd, keheranan itu berlanjut waktu di daarul ihsan pernah ingat waktu di kelas itu ada murid laki-laki yang pecinya agak miring, celana biru panjang, ada guru lagi ngajar matematika, itu semacam mimpi waktu di sd dan ketika di daarul ihsan itu gimi, ih ini kayak pernah ngalamin begini, oh ini yang di bangku depan saya si imam syafaat, oh itu bu ai ngajar matematika.
kayak gitu, mirip-mirip dejavu tapi mimpi aja, kayak saya itu emang udah harusnya ke daarul ihsan.