CERMIN HATI 4

Di sebuah jalan yang sepi di tepi hutan terlihatlah sebuah mobil polisi melintasi dengan santai. di dalamnya ada seseorang yang diborgol duduk di belakang sedangkan sopirnya yang tak lain pak polisi mendengarkan lagu sambil bersiul-siul. Tiba-tiba mobil mengerem mendadak karena ada perempuan yang tak lain adalah penyihir tetapi pak polisi tidak tahu.

"Selamat sore, pak polisi." Kata penyihir cantik itu.

"Sore. Ada apa, ya? Bidadari ya? Cantik amat." Kata pak polisi dan bersiul lagi. Siulan menggoda tapi tidak genit.

"Aku penyihir yang baik hati. Berikan penjahat itu padaku dan aku akan membawanya ke hutan. Kau tak perlu sibuk memenjarakannya. Penjahat itu akan kuubah menjadi singa." Kata penyihir.

"Oh, jadi penjahat-penjahat yang hilang itu juga itu bidadari cantik yang nyulik?" Kata pak polisi.

"Iya, aku yang nyulik. Membantu membuat ketentraman. Hehehe. Tapi aku bukan bidadari cantik. Aku penyihir baik." Kata penyihir.

"Tapi, begini, sepertinya tidak bisa. Dia milikku dan aku akan membawanya ke tempat binaan. Menjadi warga binaan di lembaga pemasyarakatan." Kata polisi.

"Dia itu penjahat. Tak layak mendapatkan kesempatan kedua. Apakah kau bisa memastikan setelah keluar dari LP dia akan menjadi orang baik?" Kata penyihir.

"Aku bukan teroris yang meledakkan gedung kembar berlantai 99 itu. Aku hanya menjambret. Kau mau jadikan aku singa gara-gara menjambret? Penyihir setan!" Kata penjambret yang diborgol.

"Kata-katamu kasar sekali. Kau tidak lihat aku ini cantik. Tidak sopan." Kata penyihir.

"Kalau kau jelek, boleh kumaki-maki? Penyihir setan!" Kata penjambret.

Kemudian polisi mengajak berunding penyihir.

"Manusia tidak diprogram untuk berbuat keji. Seorang kriminal tentu berbuat keji. Walaupun menjambret. Iblis menjadikannya melakukan perbuatan yang tidak lurus. Menyesatkan manusia. Setiap kriminal berhak untuk dibina menjadi warga yang baik dengan diberi pendidikan dan pengetahuan dan keahlian untuk menunjang hidupnya setelah keluar dari LP." Kata polisi.

"Iya, betul itu. Baca saja keterangannya di surat AL-A'RAF. Buka ayat 16-17. Iblis menggoda anak Adam supaya keluar dari jalan yang lurus. Menjadi berbuat kriminal. Menjambret, membunuh, merampok dan lain-lain." Kata penjambret.

"Widih, tahu ayat kau ini. Kau ini kenapa bisa menjambret?" Kata polisi.

"Buka ayat 28. Sesungguhnya Allah tidak menyuruh manusia berbuat keji. Bukan Allah yang menciptakan kondisi kejahatan ada dimana-mana. Tapi manusia itu sendiri akibat digoda atau dijebak Iblis agar terjerumus masuk dunia kriminal." Kata penjambret.

"Wih, pintar juga kau." Kata polisi.

"Buka juga ayat 33. Allah mengharamkan manusia berbuat keji." Kata penjambret.

"Kecuali dengan alasan yang benar atau demi hal yang benar. Itu boleh." Kata penyihir.

"Tidak begitu. Kau salah paham. Pahami dengan benar." Kata penjambret.

"Kenapa kau jadi jambret?" Kata penyihir.

"Terpaksa." Kata penjambret.

"Kalau begitu, aku juga terpaksa meyihirmu menjadi singa!!!!! Ahahahahahahahahaha. Ahahahahahahahaha." Kata penyihir tertawa menyeringai.

"Sialan, lu! Air liurmu sampai muncrat ke wajahku ini. Maaf, bilang 'sialan, lu'. Maaf. Penyihir yang baik jangan marah, ya...." Kata polisi.

"Terkadang banyak orang melakukan pembenaran. Merasa benar melakukan sesuatu yang mungkin merugikan orang lain dan tak merasa melakukan hal yang buruk. Tak merasa berbuat jahat padahal sudah jahat. Itulah minusnya manusia yang memiliki sisi hitam. Pergilah penyihir. Kau juga melakukan pembenaran. Kembaikan wujud penjahat di hutan yang sudah kau culik menjadi manusia lagi dan bawa ke kantor polisi. Itu baru penyihir yang baik. Secantik apapun kamu kalau jahat ya tidak cantik. Bercerminlah dan tanya cermin ajaib. Apakah aku cantik? Pasti cermin ajaib akan bilang tidak. Berbuat baiklah dengan benar. Oke?!" Kata polisi.

"Baiklah kalau begitu. Terima kasih." Kata penyihir

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer nusantara
nusantara at CERMIN HATI 4 (3 years 2 weeks ago)

baca tulisan kemalbarca yang pisi baik dan polisi buruk,
jadi saya juga nulis karakter polisi baik di cerpen ini bukan biar disangka polisi atau ngaku-ngaku polisi,
malah saya berharap ada polisi baik yang mengusut kasus kamera sembunyi-sembunyi di rumah saya,
betul-betul dikamera atau perasaan aja,
nguras energi dan emosi bertahun-tahun.
hehehehe, tanya indra setiawan.