Gegap Gempita

Gerak bibirnya perlahan melebar melukiskan senyuman manis, membuka celah lisan penentu kata yang mengalir lembut bersama udara sejuk di rongga mulutnya. Tentu menampakkan barisan gigi putih berseri miliknya juga. Kata itu keluar menghiasi lisan berbudi dengan gerak garis manis pipi, mimik anggun bersopan santun.

"Assalamu 'alaikum. Pagi, kisanak."

Balas ku tersenyum mengangguk tanpa kata sebab mulutku terkunci oleh luka. Bukan ku tak ingin bicara.

"Terima kasih", ucapku dalam hati.

Bilakah ia mendengar kata hatiku, tentu ia tahu. Aku sangat berterima kasih atas kebaikan hatinya mau menolongku di tepi sungai itu, kemarin.

Perompak sungai mengambil alih perahu dagangku dan mencuri semuanya dan membuangku ke sungai. Aku berenang penuh luka ke tepian dan ku hilang kesadaran.

Tapi, hanya sebentar saja ku rasa bahagia itu kala ku tahu perompak sungai itu ternyata kakak lelaki dari perempuan berbudi pekerti, sang penolongku. Rupanya aku berada di kampung perompak sungai yang merampokku.

Hari pun berganti.

Aku tak bisa mengabari siapa pun.

Konon katanya, ku dengar perahu dagang kerajaan pun tak luput dari aksi mereka dan pasukan pembasmi perompak dari kerajaan pun tak kuasa atas mereka. Aku terheran dengan keputusanku melewati jalur sungai berbahaya itu dengan sedikit pengawalan dari pasukan kerajaan. Ku pikir aman saat sedang musim penghujan. Ternyata sama saja. Berbahaya.

Terlalu jauh bila tak melalui jalur sungai, memang. Perbekalanku bisa habis. Menyusuri sungai itu mempersingkat waktu dan tenaga. Tapi, seolah sia-sia saja. Perompak sungai itu tahu saja dan bisa saja.

Lantas kenapa aku di sini? Seperti ini? Lebih baik mati saja. Aku pun berhari-hari tak bicara. Tak pernah bicara.

Mereka memberiku makanan dan minuman, seolah itu milik mereka padahal itu semua milikku yang ada di perahu dagangku. Porsinya sedikit sekali untukku karena aku dalam kondisi sakit dan bukan bagian kelompok mereka.

Senyum perempuan itu, sang penolongku, sedikit mengobati luka hati yang tak terperi.

Apakah aku harus menjadi bagian dari mereka dan hidup sebagai perompak sungai juga?

Hari terus berganti hari.

Aku masih enggan bicara. Mereka sepertinya menganggapku tak bisa bicara dan mereka menjadi sangat baik padaku. Aku pun bisa berbagi tawa dengan mereka. Tak lagi ku lihat tatapan mata buas dan makian kotor mereka seperti awal tempo lalu. Aku seperti teman mereka yang lebih dari teman. Padahal mereka hampir membunuhku di sungai itu pada waktu itu.

Tampak hal itu seolah tak pernah terjadi.

Suatu ketika ku sendiri. Satu lelaki dewasa sendiri. Selainku semua pergi. Tentu merompak lagi.

Aku hidup tak enak hati. Aku ingin bicara agar mereka tahu ku bisa bicara. Tapi tak kulakukan segera. Mungkin nanti.

Dan, tampak olehku sesuatu itu.

Aku menangis bahagia kala ku dapati lagi lembaran-lembaran mushaf Al-Quran itu. Sempat ku kira hilang terbawa arus sungai. Buru-buru ku ambil dan ku membacanya dalam hati.

Aku membaca dalam hati dan itu tetap membaca. Tak perlu rumit memikirkan jalan pikiran mereka yang tak sejalan denganku. Tapi, aku pun menyayangi mereka sejak kini, karena ini. Mereka tak membuangnya. Mushaf-mushaf Al-Quran ini masih lengkap semua. Aku menangis terharu. Sedang perempuan-perempuan itu memandangiku dengan senyum mereka yang tak bisa ku lupa. Aku kini mengerti. Kebuasan tak abadi bila hati tanpa dengki.

Aku meminta izin pada mereka untuk membawanya ke tempat tinggalku dan ku merasa bahagia.

Hari berganti hari.

Pada suatu ketika, di kala mana aku sedang membaca dalam hati, perempuan itu, sang penolongku, memandangiku dari jauh. Kemudian ia mendekat.

Aku terus membaca dalam hati. Waktu itu, aku sedang membaca Al-'Ankabut:45.

"Bacalah (kajilah) apa yang diwahyukan kepadamu (Muhammad) yaitu kitab (Al-Quran) dan dirikanlah salat (satu pembinaan iman dengan surat Al-Fatihah yang wajib dibaca dalam salat itu). Sesungguhnya salat itu satu teknik pembina diri untuk beriman mampu mencegah diri dari berbuat perbuatan keji (jahat sekali) dan munkar (cenderung buruk/tidak jahat sekali tapi jelek/keburukan sikap). Dan sungguh pada salat itu membangun kesadaran akan adanya Allah dengan ke-MahaBesar-an kekuasaan-Nya meliputi seluruh alam raya (langit dan Bumi), dan salat itu lebih besar keutamaannya ketimbang ibadah-ibadah yang lain. Dan Allah mengetahui apa pun yang kamu kerjakan."

Tiba-tiba perempuan itu bertanya: "Kisanak mau salat? Ini sudah tengah hari."

Aku kaget. Dia tidak melihat apa yang ku baca dan aku membacanya dalam hati. Aku buru-buru menutup mushaf dan mengangguk.

Lalu, ia mengantarku ke tempat mata air untuk berwudhu. Aku mengucap terima kasih dalam hati.

Lalu, aku salat di tepi ladang tak bertanaman yang rimbun oleh batang pohon berdedaunan. Aku terhindar dari terik.

Aku membaca dalam hati semua bacaan salat sampai selesai. Perempuan itu kemudian berkata: "Aku mendengar semua yang kau katakan dalam hati."

"Ini rahasiaku. Hanya kau yang tahu." Kata perempuan itu lagi.

Aku mengangguk. Lalu, aku berkata: "Allah Maha Mendengar. Kau dianugerahi kemampuan mendengar kata hati oleh Allah. Gunakan untuk kemuliaan dan memuliakan Allah."

"Aku tahu kau bisa bicara. Aku tahu rahasiamu dan kau tahu rahasiaku. Kita sama jaga rahasia kita." Kata perempuan itu.

"Apa Allah sepertiku mampu mendengar kata hati?" Tanya perempuan itu.

"Tidak. Allah Maha segalanya darimu dan dariku." Jawabku dalam hati.

Ia tersenyum dan mengangguk. Ia benar-benar mendengar kata hatiku.

"Kata hati dan perasaan hati (suara hati) adalah dua hal berbeda. Nanti kau tahu." Kataku dalam hati.

"Aku mendengarmu." Kata perempuan itu tersenyum lagi.

Mereka berpisah kemudian saat di keramaian.

Kampung dalam hutan itu ramai ada 3 kampung perompak di tengah hutan jauh dari tepian sungai. Dan merompak itu bukan kejahatan bagi mereka. Sebab mereka juga dahulunya merasa dirampas dan terusir karena kalah dan bertahan hidup dalam pelariannya.

Hari pun berganti hari.

Suatu ketika, di kala mana para lelaki dewasa bersiap merompak lagi, aku melarang mereka. Mereka tampak bingung dengan sikapju yang tak biasanya melarang. Mereka pun tahu aku salat dan untuk apa aku salat. Agar tak berbuat keji dan munkar. Dan merompak itu tentu sebetulnya perbuatan keji.

Sebagian mereka marah pada perempuan itu yang terlihat mendukungku. Aku berkata dalam hati: "Kali ini tak mudah. Ini jebakan. Aku mendengar orang berkata-kata dari jauh. Akan membunuhi semua perompak. Jumlah mereka tak sedikit. Kalah jumlah. Jangan merasa tahu medan. Larang mereka pergi!"

Perempuan itu berusaha melarang dengan terisak dan terus menangis. Tapi mereka bersikukuh. Akhirnya sebagian berangkat sebagian tinggal.

Yang tinggal ternyata meluapkan kemarahan padaku. Mereka berkata kasar bahwa aku juga makan dari hasil merompak yang mereka bagi tak terkecuali. Lalu, aku dihakimi dan diikat di tengah lapang. Semacam lapang. Tiga hari.

Sebagian yang pergi tak kunjung pulang. Tersiar kabar telah tinggal nyawa. Miris sekali.

Aku dilepas. Aku berkata dalam hati: "Tolong aku." Begitu berulang kali. Perempuan itu tiba, datang menolongku.

Seperti awal berjumpa saat membuka mata. Begitu adanya. Aku berkata dalam hati: "Terima kasih."

Hari pun berganti.

Kukatakan padanya dalam hati bahwa aku bisa mendengar semua ucapannya kepada siapa pun. Dan ia kaget juga senang. Ia senang mendapat rahasia baru untuk dia simpan.

Kujelaskan padanya dalam hati bahwa kemampuan mendengar itu banyak tingkatannya. Ada yang mendengar kata hati dan ada yang mendengar jarak jauh. Manusia tak bisa keduanya sekaligus. Allah bisa melebihi kemampuan manusia. Allah Maha segalanya.

Allah itu memiliki julukan yang banyak dalam Asmaul Husna. As-Sami' itu salah satunya. Maha Mendengar. Semua manusia di seluruh permukaan Bumi. Malaikat pun bekerja patuh pada Allah. Manusia hanya mampu mendengar kata hati segelintir orang saja. Mampu mendengar jarak jauh pun dalam jarak tertentu saja. Allah itu mengawasi semua, tak ada yang luput dari pengawasannya.

Perempuan itu bertanya: "Kenapa Allah tidak menolongmu saat kakak lelakiku melukaimu? Kenapa Allah tidak menolongmu saat kau hilang kesadaran di tepi sungai? Aku yang menolongmu beserta keponakanku yang lelaki. Kemana Allahmu yang Maha Segalanya?

Aku menjawab dalam hati: "Allah menolongku melalui kamu. Allah dan Malaikat berbisik ke hatimu agar berbelas kasih padaku. Dan kamu menolongku karena Allah."

Perempuan itu bertanya: "Kenapa tidak ada orang yang dibisiki hatinya oleh Allah dan Malaikat untuk tidak membunuh kakak lelakiku yang pergi dan tak lagi kembali? Apakah pasukan kerajaan tak bisa dibisiki Allah dan Malaikat? Aku sekarang hidup sendiri. Kakak lelakiku itu pengganti orang tua yang sudah tiada sejak ku kecil. Allah mengambil kakak lelakiku dan menghukumnya di neraka? Kakak lelakiku orang baik bagiku dan harusnya surga untuknya. Kenapa ajaranmu membuatku pusing?"

Kujawab dalam hati setelah ia berhenti menangis. Ia menangisi kakaknya cukup lama.

"Jangan pikirkan surga dan neraka seperti tempat dalam bayang pikirmu. Semua orang pasti berpikir begitu. Anggap saja Allah mengampuni kesalahan kakak lelakimu. Kakakmu orang baik. Aku tahu. Allah juga tahu. Allah Maha Pengampun." Begitu kataku dalam hati.

"Benarkah? Kakak lelaki ke surga? Orang tuaku? Kakek moyangku?" Tanya perempuan itu kegirangan dan berhenti menangis.

"Ya. Asal kau bersikap patuh kepada Allah. Semua kakek moyangmu ke surga. Patuhlah pada perintah untuk berbuat kebaikan. Dan, kau patuh. Kau orang baik. Kau patuh pada Allah." Jawabku dalam hati.

Beberapa orang mengira perempuan itu sedikit gila atau terguncang setelah kepergian kakaknya sebab senang berbicara dengan orang yang tak bisa bicara. Begitu pikirnya mereka.

Hari pun berganti.

Perempuan itu berlari menemuiku tergesa. Harus pindah, katanya. Dan semua tiba-tiba bergegas.

Tersiar kabar dari beberapa orang yang dituakan di kampung tengah hutan itu bahwa ternyata sudah terlihat pasukan kerajaan dari jauh. Dalam beberapa hari akan sampai di kampung tengah hutan itu. Ada orang lebih sakti di pasukan kerajaan yang hendak membasmi kampung perompak tengah hutan itu.

Dan semua berpindah lebih jauh ke dalam hutan untuk menyelamatkan hidup mereka dari pembantaian.

Bersambung...

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer jarangadus
jarangadus at Gegap Gempita (2 years 43 weeks ago)

Sedikit gemuk di pragaraf pertama

Writer nusantara
nusantara at Gegap Gempita (2 years 43 weeks ago)

iya, sengaja...
tapi yang lucu itu ga berapa lama lihat di tv ada orang berjari enam, dan normal, bisa jadi lama-lama semua manusia berjari enam..
hehehehe, ah becanda ini mah..

Writer nusantara
nusantara at Gegap Gempita (2 years 43 weeks ago)

mau kw warnet ndeso tapi tutup jadi ke alun-alun.
pengen nulis gini aja,
jauh banget gitu loh...
lihat aja di google map jaraknya dari jalan sawangan hadi, tipar, piasa, somagede, dll... ke alun-alun...