Pikiran Hamba/Servant's Mind/'Abdullah's Mind (tak seterang matahari namun seterang kunang-kunang di gelap malam)

Pagi datang tanpa sinar hangat mentari-Nya. Sekujur tubuh pun dingin terasa dikelilingi panasnya hati manusia-manusia pendengki yang mencerca dan mencela-Nya.

Allah diam saja melihat hamba-Nya disiksa. Begitu pikir segelintir orang dengan iman seadanya. Tapi, tidak bagi hamba-Nya. Ia tegar dalam deritanya.

Sahabat Rasulullah di awal ke-Islam-an-nya, Bilal, percaya dan yakin bilakah ia mati tentu akan berada di pelukan Tuhannya. Mati sebagai syuhada berjuang demi imannya.

Dalam terik panas terbakar, ia merasa dingin. Ia yakin sinar hangat mentari-Nya akan tiba menghapus gelap di hidupnya yang diikat terikat, ditindih tertindih, tak sanggup berbuat apa-apa.

Sinar mentari-Nya itu tiba juga, seketika ia merasa pagi telah tiba dalam kehidupannya menghapus gelap kelam hidupnya. Ia dibeli untuk di-merdeka-kan dan terbebas dari deritanya.

Manusia pun mengerti harus menolong karena Allah membela yang diperlakukan tidak adil oleh sesamanya. Manusia tak boleh menanti, diam menunggu Allah datang karena Dia tidak akan datang. Manusia sudah diberi hati. Dengan hati itu Allah menghendaki per-tanggung-jawab-an akan hatinya. Maka dengan hati itu saling tolong menolonglah kalian sesama manusia.

Kenali ketidak adilan itu dalam bentuk yang jelas agar tak terjerumus berbuat tak adil karena mati hati. Hati-hati punya hati.

Coba lihat itu, berabad kemudian, orang masih belum mengerti juga soal hati. Allah memberi hati kepada manusia dan membuat manusia saling tolong menolong dengan hati. Jadi, Allah tidak akan datang mencampuri urusan manusia. Sesiapa tak hati-hati di jalan kehidupan, celaka ia bisa celaka dan jadi mati.

Bahkan, bayi yang lahir pun selamat oleh manusia yang punya hati dan mati oleh manusia yang punya dengki.

Jangan merasa Tuhan merasa adi daya. Berbuat semena-mena senang menyakiti senang menzhalimi. Sebab Tuhan itu memberi hati dan dengan hati itu manusia mampu mengabdi.

Orang merasa Tuhan bukan pengabdi. Allah tahu itu, pasti.

2000 tahun kemudian, di tempat lain...

Di sebuah sekolah anak-anak, tampaklah dua orang anak sekolah sedang belajar dialog untuk pementasan akhir tahun acara panggung sekolah.

Anak 1: "Hey, pemahat patung Dewa atau Tuhan! Aku tidak sudi menjadikan patung buatanmu sebagai sesembahanku! Engkau yang mencipta Dewa atau Tuhan?! Engkau lebih Dewa dari Dewa, lebih Tuhan dari Tuhan! Biarkan aku menyembahmu saja, tuan pemahat!"

Anak 2: "Jangan. Aku tidak patut disembah. Sembahlah Dewa atau Tuhan. Aku bukan Dewa bukan Tuhan."

Anak 1: "Itu patung Dewa atau Tuhan tidak bisa memahat dirinya sendiri. Engkaulah yang maha kuasa sang pemahat. Aku ingin menyembahmu."

Anak 2: "Jangan. Aku tidak patut disembah. Sembah sujud pada raja saja. Aku ini rakyat jelata."

Anak 1: "Raja itu tidak patut disembah. Dia membeli patung Dewa atau Tuhan untuk dipuja rakyatnya sedang sang raja sendiri merasa Dewa atau Tuhan."

Anak 2: "Aku tidak mungkin memahat patung Raja dan menyebutnya Dewa atau Tuhan. Nanti, Dewa yang asli marah."

Anak 1: "Aku pecahkan kepala patung Dewa, ya?!"

Anak 2: "Jangan. Kau tidak menghargai seni pahatku!"

Anak 1: "Buatlah dari emas, harganya lebih mahal. Kau untung lebih besar. Aku akan menyembahmu pencipta Dewa atau Tuhan."

Anak 2: "Jangan. Nanti dicuri bukannya dibeli."

Anak 1: "Biarkan Dewa memahat dirinya sendiri. Kau cari Dewa atau Tuhan lain saja. Lihat itu Matahari. Kau bisa buat patungnya?"

Anak 2: "Aku tidak tahu bentuknya. Melihatnya begitu silau."

Anak 1: "Matahari lebih sakti dari omong kosong Dewa atau Tuhanmu. Tidak ada matahari kau tidak bisa makan tidak bisa hidup."

Anak 2: "Kau penyembah matahari?"

Anak 1: "Bukan. Aku sedang menyindirmu. Ternyata kau bodoh. Kau bukan pencipta Dewa atau Tuhan."

Mereka berdua selesai latihan sore hari. Mereka kesal terlalu banyak kata "jangan". Tapi mau tidak mau tak boleh menolak bilang "jangan", suka atau tidak suka harus mau bilang "jangan". Mereka berdua anak perempuan dan tertawa-tawa sendiri.

Keesokan harinya mereka melanjutkan latihan dialognya.

Anak 1: "Kau silau seperti matahari. Bersinar dengan pengetahuanmu. Kau bisa memahat patung. Kau ku sembah. Sembah sujud Dewa pemahat Dewa."

Anak 2: "Jangan. Wajah Dewa itu bukan wajahku. Aku tidak silau. Kau yang silau. Kau bersinar dengan pengetahuanmu."

Anak 1: "Ilmu itu seperti cahaya. Cahaya itu bersumber dari Wahyu Al-Quran. Mengisi hati dan menerangi hati. Manusia berilmu terang jalannya."

Anak 2: "Aku tahu. Aku memahat karena ilmu memahat. Ilmu dari sumbernya yang bersifat matahari. Kau pencerah. Aku akan menyembahmu."

Anak 1: "Jangan. Aku tidak patut disembah. Aku diciptakan. Matahari diciptakan. Cahaya diciptakan. Allah Pencipta segalanya."

Anak 2: "Baiklah, aku akan memahat Surah dan ayat pada lempeng batu. Dan akan ku sembah."

Anak 1: "Jangan. Benda tak patut disembah. Bacalah. Bacalah. Bacalah."

Anak 2: "Oh, begitu. Baiklah. Aku akan buat robot yang bisa bicara mengucapkan ayat dan surah. Dan robot itu berfirman."

Anak 1: "Jangan. Ayat dan surah tak bisa membuat benda itu menjadi suci. Itu tetap berhala. Kau pahat pintu rumahmu dengan ayat dan surah, dan tetap itu pintu biasa saja. Sifat suci Tuhan tak menempel pada benda yang disifatkan memiliki kesucian Tuhan."

Anak 2: "Kau menyindir patung Yesus dan patung Dewa Hindu dan patung Buda. Benda tetap benda. Tak bisa suci karena disifatkan kesucian Tuhan."

Anak 1: "Allah itu Mencipta segala yang nampak dan tak tampak. Kau bisa gambarkan angin? Pahatlah bentuk angin dan kau kebingungan. Bila kau menggunakan simbol gambar angin dengan garis setrip baris tiga sejajar, itu tetap hanya gambaran yang tak sesuai dengan yang tak nampak itu. Dan Allah mencipta yang tak nampak itu."

Anak 2: "Gambar angin wujud Dewa angin sesuai seleramu adalah kebohongan tidak ilmiah. Dewa angin tidak ada."

Anak 1: "Tak perlu simbol wujud Dewa dalam patung rupa manusia. Lebih baik tidak. Angin adalah ciptaan Allah."

Anak 2: "Patung itu boleh dibuat asal jangan serupa apa saja dan jangan terbuat dari apa pun itu. Bisa?"

Anak 1: "Tidak bisa. Kau mulai paham. Apa aku menghinamu?"

Anak 2: "Tidak. Aku senang dikritik. Biarkan patung yang sudah ada sebagai dokumentasi peradaban. Bukan untuk dijadikan simbol Tuhan."

Anak 1: "Wah, kau bersinar karena berpengetahuan. Sampai sejuta tahun lagi, patung-patung simbol Dewa atau Tuhan tak akan memberimu pengetahuan untuk menguak misteri matahari. Kau harus membuat selain patung untuk menguak misterinya. Tanyalah patung dan dia akan diam saja."

Anak 2: "Aku akan bertanya kepada Allah, apakah dia akan menjawab tanyaku tentang matahari?"

Anak 1: "Tidak begitu caranya mencari jawab tanya. Bacalah. Bacalah. Bacalah."

Anak 2: "Aku tidak bisa membaca."

Anak 1: "Semua pun sama. Kita manusia. Mahluk yang tidak tahu apa-apa dan mencari tahu lalu diberi tahu dan menjadi tahu dan disebut berpengetahuan."

Mereka pun mengakhiri latihan dialog mereka. Menghapal juga. Sebab tak mungkin manggung dengan dialog masih tertempel di kertas. Harus berpindah ke ingatan.

Dua anak itu tertawa sendiri menggunakan peraga seadanya. Mereka bertanya-tanya, 5000 tahun ke depan, alat komunikasi akan seperti apa? Satu titik bisa berisi file satu planet. Video kehidupan yang terdokumentasikan dalam satu titik. Aplikasi ponsel entah seperti apa? Bagaimana kemudian semua manusia seolah terkoneksi begitu saja. Mungkin anak usia sekolah dasar sudah mampu membuat sistem aplikasi. Mungkin saja.

Bella dan Cinta adalah dua anak perempuan yang cerdas. Mereka bertanya terlebih dahulu apakah dialog itu dibuat untuk mencerdaskan anak-anak. Dijawab: "Iya. Tentu saja." Pengajar mereka menjawab begitu santainya. Tidak ambil pusing.

Bella: "Jadi wahyu itu membuat kita berpikir bahwa manusia tanpa ilmu adalah hewan."

Cinta: "Manusia itu paham karena membaca dan menulis."

Bella: "Manusia purba tidak bisa membaca. Tidak bisa menulis."

Cinta: "Manusia purba modern di jaman ini bisa membaca tapi bisa jadi sulit mengerti. Dialog kita yang tadi, bisa disalah pahami bahwa kita merusak cerita tentang Nabi, bahwa Nabi adalah pembuat patung sebelum dapat wahyu 1. Bacalah. Bacalah. Bacalah."

Bella: "Manusia purba modern tidak paham isi dialog yang kita hapalkan untuk manggung itu. "Bacalah. Bacalah. Bacalah." Itu sudah jadi jargon untuk LITERASI. Sudah bukan untuk isi ceramah saja. Sudah bukan untuk kisah penurunan wahyu 1 saja. Kita manusia modern cerdas. Mereka manusia purba di abad modern.

Cinta: "Bella Negara. Kau cocok punya nama itu."

Bella: "Cinta Negara. Kau juga cocok punya nama itu."

Mereka berdua tertawa-tawa sendiri. Mereka adalah dua anak perempuan yang berbeda sifat dan watak tapi namanya hampir mirip. Negara itu nama ibu mereka. Kakak beradik Puja Negara dan Puji Negara. Nama yang unik sekali.

Kedua anak perempuan itu lantas menonton rekaman pertandingan tinju tarung bebas antara bejurnalitan.wordpress.com VS nusantara kemudian.com yang dimenangkan nusantara kemudian.com.

Pukulan cerpen Pikiran Hamba membuatnya terhantam seperti pukulan mematikan yang membuatnya koma. Pertandingan tinju tarung bebas dimenangkan korban konspirasi yang mengalahkan salah satu pelaku konspirasinya.

Tarung bebas tanpa wasit, suporternya milik bejurnalitan.wordpress.com semua. Hebat, nusantara kemudian.com bisa memenangkan pertandingan tanpa piala.

Bella kemudian membaca puisi.

SETERANG KUNANG-KUNANG

MISTERI TERANG KUNANG-KUNANG
TERBAYANG TERBANG TAK MENGAWANG

DALAM SETITIK BINTANG TERANGNYA HILANG
DALAM GEPAP PENUH AWAN BERBAYANG,
NAMPAK IA UMPAMA BINTANG

Cinta kemudian membalas puisi.

TERTEKAN DALAM BEBAN
BANGKIT TERDIAM TANPA JERITAN

MALAS, TINGGALKAN
BOSAN, SINGKIRKAN

HILANG
HILANG
HILANG

TAK ADA BEBAN TAK ADA TERTEKAN.

Bella berkomentar: "Puisi apaan itu, jelek. Bagus puisiku."

Cinta balas komentar: "Biarin, jelek juga karyaku. Nanti juga bisa diperbaiki."

Mereka lalu tertawa-tawa sendiri menertawakan orang-orang yang berkelahi gegara saling mencela sedangkan mereka tidak. Mereka tetap akur. Luar biasa hebat. Tanpa debat.

(Bersambung ke arsip agustus 2019 yang mengisahkan Bella di tengah hutan rimba di pulau Tera...)

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post