Pernah Kita

Awan tipis
Biru langit
Petani mengusir pipit dengan klenengan
Matahari di atas kepala
Semua ini pernah berkesan di dada
kala kita menjadi raja

Kala kita menjadi raja
lagu-lagu tercipta dari semburat pagi-siang-senja
gelap malam terperangkap dalam sajak
sengketa dengan sendirinya reda
gelora di pantai akan memecah
dan lengang tetap di lubuk

Hati tercemar
Paras mendung
Tak apa melahap sisi buah yang masih segar
Bumi boleh berhenti berputar
segala dosa akan ditanggung dengan bersahaja
kala kita menjadi raja

Kala kita menjadi raja
tak masalah kau dari Mars atau Venus
asalkan tahu saat tepat mengelus luka
bintang tetap di tempatnya, siang dan malam
Kini penghuni Pluto mendiami negeri sejak hari esok
tapi tak pernah tumbuh dewasa sejak hari kemarin

Murai berkicau di ranting pohon
Belalang berayun di wajah daun
Anak tetangga berlarian mengejar diri sendiri
Bayang-bayang memanjang bersama waktu
Kursi beranda menatap detik yang sebentar lagi
Belum lama kita sanggup larut dalam itu semua
kala kita menjadi raja

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer ezra
ezra at Pernah Kita (21 weeks 1 hour ago)

nais..

Writer samalona
samalona at Pernah Kita (19 weeks 20 hours ago)

Sangkyu, ezra.

Writer nusantara
nusantara at Pernah Kita (38 weeks 20 hours ago)

Wah, ini cocok jadi puisi di cerpen KALA, tears...
beneran sama puisi "jangan serahkan" hiutara-baz.

Writer samalona
samalona at Pernah Kita (19 weeks 20 hours ago)

Terima kasih sudah mampir, nusantara.
Tentang referensinya itu, saya catat dulu ya. Maaf, karena saya belum baca cerpen dan puisi tersebut.