Metafiksi

Tulisan ini pernah dimuat di Jakartabeat, 23 September 2014.

 

            —Jadi si Aktris X. ini delapan belas kali masuk nominasi.

            —Oke. Meryl Streep.

            —Bukan. Ceritanya Aktris X. ini sudah delapan belas kali masuk nominasi Oscar, tapi gak menang-menang. Meryl Streep tahun ini dapat delapan belas nominasi Oscar, tiga di antaranya menang[1]. Beda.

            —Oke. Bukan Meryl Streep. Cuma terinspirasi dari Meryl Streep.

            —Nah, pokoknya si Aktris X. ini hampir tiap tahun masuk nominasi.

            —O, lebih mirip Susan Lucci daripada Meryl Streep. Susan Lucci tiap tahun masuk nominasi, tapi bukan Oscar sih, nominasi Daytime Emmy, untuk aktingnya di drama seri All My Children[2]. Kalau gak salah waktu nominasi ke-18 dia baru menang. Aku nonton videonya di YouTube, dia sampai nangis waktu menang. Eh, kayaknya dia gak tiap tahun banget sih dapat nominasi, tapi ada memang yang dia sampai tiap tahun berturut-turut masuk nominasi; hampir tiap tahun lah dia masuk nominasi. Tapi tokohmu ini, si Aktris X. ini, gak menang juga waktu nominasi ke-18 kan?

            —Ya, ya. Nah, jadi ceritanya Aktris X. ini sudah delapan belas kali masuk nominasi. Umurnya baru 35 dan dia sudah dapat delapan belas nominasi, sudah diganjar rekor yang paling banyak dapat nominasi.

            —Sekaligus rekor paling sering gagal menang. Tunggu dulu, Meryl Streep juga pegang delapan belas nominasi tahun ini, keliru kalau kamu bilang Aktris X. ini yang pegang rekor paling banyak dapat nominasi; rekor paling banyak dapat nominasi di usia kurang dari 40 tahun mungkin, kalau ada yang mau bikin rekor itu juga tapinya.

            —Pokoknya Aktris X.-ku ini harus yang paling banyak dapat nominasi, biar ada kesan dramatisnya. Ceritanya agak-agak hiperbolis gitu, komedi-lebay, semacam parodi, atau satir.

            —Berarti bukan Oscar, bukan juga Emmy. Cannes[3] barangkali? Tapi Cannes kan festival film, bukan penghargaan film, semua aktris yang filmnya masuk kategori kompetisi Cannes ya punya potensi buat menang penghargaan aktrisnya. Yang kamu maksud di ceritamu kayaknya lebih penghargaan film.

            —Oke, oke. Anggap saja ceritaku ini setting-nya di realita lain, setting-nya realita alternatif yang sekilas mirip dunia kita. Nah, di dunia setting ceritaku ini ada penghargaan film paling bergengsi yang sekilas mirip Oscar. Nah, si Aktris X. ini yang pegang rekor paling banyak masuk nominasi.

            —Hahaha. Apa di dunia paralelmu itu juga ada fashion bible yang sekilas mirip Vogue dan editor kepalanya sekilas mirip Anna Wintour dan Aktris X.-mu itu pernah akting jadi tokoh yang terinspirasi dari editor kepala yang sekilas mirip Anna Wintour itu[4]?

            —Ya, ya, ya. Lanjut saja, nah waktu nominasi ke-18 sebetulnya Aktris X. kita ini sudah gak berharap bakal menang juga. Bukan dia gak kepengin menang lo ya, dia sebetulnya kesal banget karena gak menang-menang, coba bayangkan 18 nominasi hampir tiap tahun berturut-turut, tapi gak satupun menang! Sebetulnya dalam hati dia memaki-maki para juri dan pemilih penghargaan tersebut. Tapi dia tetap hadir, dan berpose di karpet merah, dan waktu diwawancari dia tetap bicara sok bijak, seolah-olah gak masalah kalau gak menang lagi, yang penting kerja dan kayanya diapresiasi, menang itu tetap bonus. Dia aktris yang regal, royal, aristokratik, dan terkenal diva banget.

            —Aku kok malah membayangkan Bette Davis[5] ya?

            —Ya, yang kayak begitulah. Nah, ceritanya di nominasi ke-18 ini dia dikalahkan oleh aktris pendatang baru, katakanlah Aktris Y., umurnya belum juga 18 tahun dan ini nominasi pertamanya, langsung menang juga. Aktris X. kita kesal juga sebetulnya nominasi ke-18, belum pernah menang satu kalipun, dikalahkan oleh anak bau kencur yang baru pertama kali main film pula, lulus dari sekolah seni pertunjukan pun belum; tapi percayalah, Aktris X. kita ini sebelum-sebelumnya, dalam rentang 18 kali nominasi hampir tiap tahun berturut-turut itu, bukan cuma satu kali ini dia dikalahkan oleh pendatang baru yang masih bau kencur, yang bikin Aktris X. kita ini sangat kesal sebetulnya karena dia dikalahkan oleh pendatang baru yang sudi telanjang bulat di film perdananya. Hampir di sepanjang durasi filmnya si Aktris Y. itu telanjang bulat, bayangkan! Dari film yang total durasinya hampir dua jam itu si Aktris Y. cuma punya dua adegan yang gak telanjang bulat: di awal dan di akhir film.

            —Waduh.

            —Waktu dapat nominasi ke-21, tiga tahun berikutnya, Aktris X. kita ini dihadapkan dengan Aktris Y. lagi. Itu nominasi kedua Aktris Y., film kedua dan langsung dapat nominasi Pemeran Utama Perempuan Terbaik lagi.

            —Dan si Aktris Y. menang lagi?

            —Iya Aktris Y. menang lagi.

            —Jangan bilang Aktris Y. ini menang di film yang dia telanjang bulat lagi.

            —Ya, begitulah. Ketebak ya?

            —Hahaha.

            —Tapi itu kan baru awal-awal cerita. 

            —Tapi jangan bilang juga Aktris Y. ini tiap kali masuk nominasi bakal menang, dan jangan bilang juga dia menangnya karena dia telanjang bulat doang.

            —Tapi ini kan parodi. Satir-lebay gitu.

            —Lanjut coba.

            —Singkat ceritanya, Aktris X. ini sudah 27 kali dapat nominasi dan lima kali berhadapan dengan Aktris Y., tiga kali dia dikalahkan oleh Aktris Y., bisa bayangkan gimana kesalnya Aktris X. ini kan? Dalam satu wawancara dia sampai bilang: “Biarlah saya tidak menang, asalkan kualitas saya terbukti, lihat saja, tanpa perlu berbugil ria saya bisa jadi begini sampai di sini, saya merintis karir saya dari bawah tanpa perlu jadi jalang murahan.”

            —Wah, dia diva banget ya. Diva kolot. Haha.

            —Tapi sebetulnya si Aktris X. ini kepengin juga menang. Coba saja bayangkan, untuk orang yang sediva dia, 27 kali nominasi tapi gak pernah menang sekalipun itu coreng besar buat nama besarnya. Sampai-sampai, di wawancara lain Aktris X. berceletuk sinis: “Aktris-aktris muda zaman sekarang kok kalau tidak telanjang bulat kesannya tidak bisa apa-apa ya? Kualitas dan bugil itu dua hal yang berbeda lo.” Dan yang mewawancara dengan jahil bertanya: “Kalau Anda ditawari telanjang bulat dalam film, bagaimana?” Aktris X. menjawab, “Oh, berpikiran ke arah sana pun saya tidak.” Padahal sebetulnya Aktris X. kita ini tergoda juga, barangkali kalau main di film yang ada adegan telanjangnya, tidak perlu sampai telanjang bulat di hampir seluruh durasi film, totalitasnya akan diakui, dan dia bisa dapat pengakuan puncak yang sudah dia tunggu bertahun-tahun.

            —Wah, terus?

            —Aktris X. jadi galau. Hahaha. Berkali-kali muncul dorongan dalam pikirannya: “Ini zaman baru, zaman sudah berubah, buka-bukaan sedikit tidak apa-apa. Anggap saja tantangan untuk kemampuan aktingmu. Tunjukkan kalau sekalipun kamu buka-bukaan kamu tetap menonjolkan kualitas aktingmu, bukan sekedar asal buka-bukaan semata.” Tapi dia sudah terlanjur dengan sombongnya koar-koar gak akan main buka-bukaan di film. Tapi godaan itu membisik lagi: “Kamu sudah bertahun-tahun ‘main bersih,’ memerankan peran-peran agung, adilihung, menantang, tingkat tinggi, bukan ecek-ecek. Kamu pernah main jadi orang Polandia yang kabur ke Amerika setelah berhasil lolos dari kamp pembantaian Nazi, kamu pernah jadi aktivis buruh di pabrik nuklir yang kena kontaminasi, kamu pernah jadi istri yang terpaksa harus meninggalkan suami dan anaknya karena tidak bahagia dengan hidupnya, kamu pernah jadi perempuan yang harus berjuang melawan tudingan hukum dan publik atas kematian bayimu sendiri, kamu berhasil memerankan karakter-karakter yang kompleks, yang rumit, kamu sukses menonjolkan pergolakan batin mereka, perjuangan mereka, fisik maupun psikis, semua peranmu disambut hangat oleh kritikus, pengamat, dan penonton, tapi kamu belum juga mendapat pengakuan tertinggi itu. Coba lihat si jalang-bugil itu, cuma dengan modal telanjang bulat saja dia sudah sukses merebut kemenanganmu.” Tapi masa iya dia harus menjilat ludah sendiri. Bagaimana kabar harga dirinya nanti?

            —Referensi tokohmu buat Aktris X. ini Meryl Streep semua[6], tapi Meryl Streep kayaknya gak nge-diva deh. Dan kamu gak konsisten tuh, kamu bilang setting-nya di dunia paralel, tapi kok ada Polandia, Nazi, dan Amerika?

            —Kan “dunia alternatif yang sekilas mirip dunia kita,” ya anggap saja di dunia alternatif ini ada juga yang namanya Polandia, Nazi, dan Amerika.

            —Ngeles aja! Agak menarik tokoh Aktris X. ini sebetulnya. Agak konyol, dan agak gak masuk akal, tapi karena kamu bilang ceritanya mau dibikin satir-lebay, ya gak masalah sih. Tergantung gimana kamu bangun ceritamu nanti.

            —Tapi akhirnya Aktris X. ini betulan main buka-bukaan juga.

            —Aku sudah bisa tebak bakal begitu.

            —Si Aktris X. ini betulan tergoda buat main buka-bukaan waktu kalah sekali lagi, di nominasi yang ke-28, oleh Aktris Y., yang sekali lagi main panas juga, malah lebih panas dari sebelumnya, mungkin semacam filmnya Pasolini[7] gitu, ada adegan orgi, gangbang, dan bukake segala, film paling kontroversial tahun itu lah. Aktris X. kita ini semakin kesal dan godaan buat main buka-bukaan juga semakin kuat sewaktu Aktris Y. menyampaikan pidato kemenangan di podium: “Ini kemenangan keempat saya, empat kali menang dalam usia karir yang masih muda, sungguh sebuah apresiasi yang tidak akan pernah bisa saya ucapkan dengan kata-kata, bahkan terima kasih pun tidak cukup untuk menunjukkan betapa saya sangat bersyukur atas semua apresiasi yang tak terduga ini. Meski demikian, kawan-kawan sekalian, di kesempatan ini juga dengan berat hati saya ingin menyatakan keinginan saya untuk istirahat dari dunia keaktoran, saya tidak tahu apakah istirahat yang saya maksud ini sifatnya permanen atau sekedar sementara. Boleh jadi saya jenuh dengan peran-peran yang telah saya mainkan sampai saat ini, tapi bukan berarti saya tidak bersyukur pada kawan-kawan yang telah mendorong dan membantu saya dalam peran-peran yang telah saya lakukan; mungkin saya ingin mencari tantangan baru, siapa tahu kelak saya akan kembali sebagai sutradara, atau penulis skenario, misalnya. Saya harap kawan-kawan sekalian tidak mengartikan ....” Aktris X. kita spontan mencibir dalam hati, “Sombong betul jalang ini. Mentang-mentang sudah empat kali menang!” Dan dia terus mencibir dan mencibir, sampai pidato Aktris Y. selesai dan dia harus pura-pura tersenyum dan tepuk tangan.

            —Hahaha. Margo Channing gak segitunya deh[8].

            —Jadi si Aktris X. ini nekat untuk main buka-bukaan. Tahun berikutnya, sewaktu ada sutradara yang memang terkenal kontroversial, terkenal sering angkat cerita-cerita seksual yang gak lazim, eksplisit, dan menganggu. Dia punya rencana mau bikin film tentang maniak seks, dan Aktris X. kita ini ngotot pengin main jadi peran utamanya, si cewek yang yang maniak seks itu.

            —Dan Aktris X. ini akhirnya menang lewat film tentang maniak seks itu?

            —Peran Aktris X. di film itu jelas menghebohkan, dia dapat pujian sekaligus kecaman. Banyak pengamat dan kritikus yang memuji kedalaman yang dia tampilkan untuk seorang maniak seks, mereka menggarisbawahi adegan-adegan riskan dan gamblang dan menekankan bahwa Aktris X. ini telah berhasil membiaskan batasan antara porno dan berkelas, membuat yang menganggu dan menjijikkan jadi menarik untuk disimak. Tapi ada juga majalah dan portal berita yang mencibirnya, misalnya, ada judul-judul artikel yang bunyinya: “Kejatuhan Sang Diva Sinema Konservatif,” atau “Nominasi Dekandensi: Gebrakan Sang Nominator-Abadi dalam Upayanya Meraih Patung Emas Pemeran Utama Perempuan Terbaik,” bahkan ada yang terang-terangan berbunyi: “Bugil demi Menang Penghargaan? Siapa yang Tidak Sudi Melakukannya Sekarang Ini?” Dan, betul, dia dapat nominasi yang ke-29 untuk peran bugilnya yang perdana itu. Dia yakin sekali pada peluangnya, banyak pengamat dan kritikus yang menggadang-gadang dia akhirnya bakal menang, dia yakin bakal menang, apalagi Aktris Y. gak ada dalam nominasi kali ini, meski bukan berarti keyakinannya akan turun juga kalau Aktris Y. ada dalam nominasi.

            —Dan Aktris X. ini akhirnya menang lewat film tentang maniak seks itu?

            —Sayangnya dia gak menang. Tapi kekalahnya itu gak lantas bikin dia kapok main di film yang buka-bukaan, dia malah jadi muse-nya sutradara yang bikin film tentang maniak seks itu, tiga tahun berikutnya dia tampil sebagai aktris utama di tiga film garapan sutradara itu. Di tiga film itu dia bugil semua: satu sebagai ibu yang menjalin cinta terlarang dengan anak laki-lakinya yang masih remaja, lalu sebagai perempuan masokis-akut yang membunuh dan memutilasi selingkuhannya, dan terakhir sebagai pecandu narkoba yang menjalani ménage à trois dengan seorang pengedar dan satu pecandu lain.

            —Biar aku tebak, Aktris X. dapat tiga nominasi berturut-turut lewat tiga film itu?

            —Betul.

            —Tapi gak ada satupun yang menang?

            —Gak satupun menang.

            —Wah, wah, 32 nominasi dan gak satupun menang. Susan Lucci bisa-bisa bunuh diri.

            —Empat kali mencoba main buka-bukaan dan empat kali gagal, selanjutnya dia balik ke habitat awalnya, dia main di peran-peran yang agung, yang adiluhung, gak tanggung-tanggung, dia main sebagai penyair ternama yang harus berjuang melawan kegilaan dan dorongan untuk bunuh diri. Ada adegan buka-bukaannya juga, tapi gak seliar dan segila film-filmnya sebelumnya. Jadi di tahap ini si Aktris X. sudah mulai memasuki fase pasrah dan mengalir saja, sudah gak konservatif lagi, tapi juga gak “jalang” lagi, bisa dibilang begitulah, walaupun, ya, masih ada bekas-bekas diva dalam dirinya. Waktu tercatatat lagi dalam nominasi, masih ada sedikit harapan untuk menang, dan sebetulnya masih ada sediikit kekecewaan ketika kalah. Dia bahkan masih sempat mencibir aktris yang menang, tapi gak sesadis dan sesinis sebelumnya.

            —Kasihan juga ya, aku jadi mulai sedikit simpati nih sama Aktris X.

            —Dan sampai akhir cerpen pun Aktris X. gak akan menang, selalu masuk nominasi dan dia gak menang. Nah, waktu nominasi ke-35, umurnya sudah 40-an tahun, dia kembali disandingkan dengan Aktris Y., tapi kali ini Aktris Y. gak masuk nominasi dalam film yang buka-bukaan, gak bugil, bahkan gak tentang seks sama sekali. Dia jadi biarawati! Bayangkan aktris yang biasanya tampil bugil-bugilan di film sekarang berperan jadi biarawati! Aktris X. kita agak kaget juga sebetulnya, tapi dia kan sudah bukan Aktris X. yang dulu, dia sudah lebih bijak, lebih pasrah dan mengalir saja, jadi dia gak sampai mencibir lagi, dia menonton film tersebut dan sempat terpukau juga dengan penampilan Aktris Y. sebagai biarawati, terutama bagian-bagian ketika Aktris Y. harus menampilkan kegundahan dan keraguan pada imannya sendiri, sekalipun, ya, sekalipun dia masih berpikiran: “Ah, mustahil dia bisa menang.” Tapi Aktris Y. menang. 

            —Terus?

            —Ya, Aktris X. sempat kesal juga, dia tidak percaya dan kesal melihat Aktris Y. sekali lagi naik ke podium, menerima piala, dan kembali berpidato tentang rasa syukurnya yang tidak bisa ditunjukkan sekedar dengan ucapan terima kasih. Tapi Aktris X. sudah lebih mampu menerima kekalahan. Dan pada akhirnya dia menyalami Aktris Y., memberi ucapan selamat atas kemenangannya, atas semua kemenangannya. Tamat.

            —Tamat?

            —Tamat.

            —Begitu doang?

            —Begitu doang.

            —Gak seru banget ide ceritanya.

            —Gak seru gimana?

            —Ya, masa segampang itu Aktris X. menerima kondisinya sebagai nominator yang gak pernah menang-menang, masa segampang itu dia berubah dari seorang yang cetus, sinis, sadis, diva-is, jadi seorang yang legowo?

            —Ya, kan itu baru garis besar idenya, nanti akan ada penjabaran konflik batinnya sampai dia berubah jadi orang yang legowo gitu.

            —Tetap saja gak seru dan terlalu gampang. Harus ada faktor-faktor yang meyakinkan perubahannya itu.

            —Begitu ya. Gimana kalau aku bikin Aktris X. pada akhirnya menang? Happy ending? Semua senang?

            —Yang gak seru itu bukan cuma ending-nya, tapi konflik tokohnya. Idenya menarik, tapi konfliknya cetek.

            —Wah, susah juga ya. O iya, kalau aku bikin Aktris X. tetap terobsesi menang dan akhirnya bunuh diri karena gak menang-menang?

            —Menurutku itu lebih menarik, tapi kamu harus perdalam lagi juga konfliknya.

            —Wah, aku jadi pesimis dengan ide ini. Mungkin aku cari ide lain saja ya?

            —Hahaha. Aku malah dapat ide dari ceritamu.

 

Didedikasikan untuk J.R.,

ide cerpen ini lahir dari obrolan dengan kawan yang satu itu.

9:32 28-08-2014

 

[1] Setidaknya sampai tahun 2014 ini, Meryl Streep masih tercatat sebagai peraih nominasi Oscar terbanyak: 18 nominasi, memenangkan tiga di antaranya—satu kemenangan lagi dan beliau akan seri dengan Katharine Hepburn sebagai pemenang Oscar paling banyak dalam kategori akting.

[2] Susan Lucci terkenal dengan perannya sebagai Erica Kane dalam drama seri All My Children yang ditayangkan di stasiun televisi ABC sepanjang 41 tahun; Susan Lucci terus tampil dalam drama seri tersebut dari 1970 sampai 2011, dan hampir tiap tahunnya diganjar nominasi Dailytime Emmy untuk pemeran utama perempuan terbaik dalam drama seri. Tokoh dalam cerpen ini keliru: Susan Lucci baru memenangkan Dailytime Emmy pada nominasi ke-19 (pada tahun 1999), bukan 18. Ditambah dua nominasi setelah kemenangannya, Susan Lucci tercatat sebagai aktris dengan nominasi terbanyak, semuanya dengan peran yang sama. Meryl Streep juga kadang-kadang dijuluki “Susan Lucci-nya Oscar.”

[3] Festival Film Cannes, festival film tahunan yang diselenggarakan di Cannes, Perancis sejak tahun 1946, salah satu festival film yang dianggap paling prestisius sampai saat ini.

[4] Anna Wintour, sang editor kepala majalah Vouge Amerika. Lauren Weisberger, bekas asisten pribadinya, menulis novel berjudul The Devil Wears Prada, dengan tokoh Miranda Priestly, seorang editor kepala sebuah majalah fashion, yang konon diinspirasi dari Anna Wintour sendiri. Dalam adaptasi filmnya, Meryl Streep memerankan Miranda Priestly dan diganjar dengan nominasi Oscar. Anna Wintour hadir dalam premiere film tersebut, mengenakan Prada.

[5] Bette Davis, salah satu aktris ternama pada Era Keemasan Hollywood. Bette Davis unik dibanding bintang-bintang di zamannya karena beliau sudi dan piawai memerankan tokoh-tokoh yang minim simpati, sinis, dan sarkastik. Bette Davis tercatat sebagai orang pertama yang berhasil meraih 10 nominasi Oscar untuk akting, memenangkan dua di antaranya.

[6] Tokoh ini merujuk pada peran Meryl Streep di film Sophie’s Choice, Silkwood, Kramer vs. Kramer, dan A Cry in the Dark. Meryl Streep mendapatkan nominasi Oscar untuk semua perannya di film-film tersebut (beliau menang di Sophie’s Choice dan Kramer vs. Kramer).

[7] Pier Paolo Pasolini, sutradara Italia, yang kebanyakan filmnya befokus pada aktivitas seksual manusia, beberapanya bahkan menampilkan aktivitas seksual secara sangat telanjang dan gamblang. Film terakhir dan barangkali yang paling kontroversial darinya berjudul Salo, or the 120 Days of Sodom, diadaptasi dari novel 120 Days of Sodom karya Marquis de Sade.

[8] Lelucon tokoh kita ini mengacu pada tokoh yang diperankan oleh Bette Davis dalam film All About Eve: bintang Broadway tersohor yang mulai merasa terancam oleh usianya yang mulai tua, dan makin terancam ketika muncul bibit-bibit baru di Broadway yang, tentu saja, masih muda. Penampilan ikonik Bette Davis di film ini diganjar dengan nominasi Oscar.

 

 

            —Oi, Johan, bajingan! Obrolan tentang ide cerpenku malah dijadikan cerpen.

            —Taktir lah, royalti itu.

            —Mau traktir apaan? Honor media lokal dikit cuk! Makan berdua di Pizza Hut aja sudah habis. 

            —Bajingan lah! Kok bisa-bisanya obrolan kayak gitu dijadiin cerpen.

            —Hehe. Komentari dong.

            —Kalau diliat-liat jadi agak mirip cerpen-cerpen Barthelme ya.

            —Donald Barthelme? Wah aku belum baca banyak cerpennya.

            —Ada beberapa cerpennya yang agak-agak mirip begini di Sixty Stories. Agak ngingetin sama Kiss of the Spider Woman juga, apalagi kita ngobrol tentang aktris fiktif gitu, tapi beda motif ceritanya. Hahaha. Eh, tapi kayaknya kamu gak ada deh ngomong tentang Anna Wintour dan Bette Davis. Wah manipulasi ini.

            —Kan ini fiksi, bro!

            —Kenapa judulnya metafiksi?

            —Biar keren. Haha. Bukan, maksudku kasih judul itu karena kan mereka ngobrolin cerita fiksi.

            —Lebih cocok judulnya: “Cerita dalam Cerita” ketimbang “Metafiksi.” Kalau metafiksi kan fiksimu sadar kalau dia fiksi, di cerpenmu gak ada bagian tokohmu sadar kalau mereka tokoh cerpen.

            —O, gitu ya. Sudah terlanjur dimuat sih, gimana dong?

            —Itu juga catatan kaki bertele-tele banget, buat apa coba. Males banget coba bacanya. Gak pakai catatan kaki itu pun orang sudah bisa ngikutin cerpenmu ini kok. Orang yang gak paham siapa itu Bette Davis juga tetap bisa ngikutin alur cerita cerpenmu kok. Itu yang kamu jelasin di catatan kaki cuma bumbu-bumbu remeh-temeh doang.

            —Aku pikir catatan kaki itu malah memperkuat cerita dalam ceritanya lo. Kan mereka ngobrol tentang nominasi-nominasi gitu.

            —Di Kiss of the Spider Woman, Manuel Puig juga bikin catatan kaki yang panjang-gila sampai berlembar-lembar, tapi catatan kakinya punya kaitan penting dengan ceritanya. Nah, catatan kakimu ini cuma remeh-temeh menurutku. Kaitannya gak kuat.

            —Ya, ya, ya.

            —Terus traktirnya gimana?

            —Komentari lagi dulu, komentar yang kritis, rinci, dan menyeluruh, masa cuma catatan kaki doang yang dikomentari!

            —Aku gak suka ending-nya.

            —Komentar komplit dong!

            —Traktir dulu, lah.

            —Eh, aku kepikiran bikin sequel, ceritanya dua tokoh yang ngobrol di cerpen ini bakal bahas tentang cerpen ini. Komentar kamu tentang cerpen ini akan aku jadikan basis sequel-nya. Masuk metafiksi gak ya kalau begitu? Mungkin nanti judulnya Metafiksi 2.0.

            —Ya ampun![]                    

 

Surakarta, 6 September 2014

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer nusantara
nusantara at Metafiksi (15 weeks 3 days ago)

saya orang bodoh, ga tahu Meryl Streep...
untung ada google.
buka google dulu..
ya, saya paham tentang kepiawaian Meryul Streep.
Hhmmmm, Susan Lucci....
Ya yayaya. Paham saya paham.
Eumh, saya cari informasi juga fashion bible...
owh, ternyata itu...
Saya juga cari info Donald Barthelme,
untung ada google, jadi tambah informasi...
Rupanya, informasi yang banyak ini dikemas dalam cerpen..
Heumh, menyuguhkan informasi lewat cerpen.
eumh, Pier paolo pasolini, ada info baru buat saya...
ketelanjangan ya???
wah wah wah....
saya bingung soal ini, bagaimana aktor dan aktris berakting dalam keadaan tanpa busana...
saya bukan komentator film jadi tak perlu berkomentar...
banyak info menarik tapi kenapa saya yang dihakimi habis-habisan?!
##################
BANGSA YANG MAJU ADALAH BANGSA YANG TIDAK SUKA MENGINTIP DENGAN KAMERA SEMBUNYI-SEMBUNYI DI KAMAR MANDI DAN KAMAR TIDUR DAN RUANG TV DAN SEISI RUMAH.
##################
Saya pribadi pernah menonton film yang ada adegan telanjangnya. Dan saya rasa bukan saya saja. Hampir semua orang yang pernah pasti pernah.
Yang ada dalam benak pikiran saya adalah bagaimana mereka akting dalam keadaan tanpa pakaian atau pakaian minim atau apa lah gitu namanya....?????
###############
SAYA SENDIRI RISIH MERASA DIKAMERA SEMBUNYI-SEMBUNYI DI KAMAR TIDUR DAN KAMAR MANDI BERTAHUN-TAHUN.
###############
PADAHAL SAYA BUKAN AKTOR DAN ARTIS DAN TIDAK PERNAH KEPENGEN DITONTON BANYAK ORANG!!!!!!!!!!!!!!
###############
SAYA SENANG MENULIS EH MAKSUDNYA BELAJAR MENULIS DAN DIHAKIMI. HALO????????????????????????

Writer nusantara
nusantara at Metafiksi (14 weeks 5 days ago)

WATCH SILKWOOD.....

Writer nusantara
nusantara at Metafiksi (15 weeks 6 days ago)

saya belum ngeuh.
nanti saya baca lagi deh....

Writer cat
cat at Metafiksi (16 weeks 1 day ago)

saya singgah