ORANG HILANG

Cerita 1.

PETIR GETIR

Gemuruh merambati udara di pekat langit. Tak seperti jerit, hanya seperti sendu yg pelik; seolah sirna sudah rasa rindu kepada kekasih sebab menghadapi kematian di tengah peperangan yg tersengit ini.

Kilat cahaya berjeda sesaat demi sesaat, berkali berganti sekali demi sekali lalu sekali lagi sebelum aku tak sadarkan diri. Sedari tadi sebuah anak panah ini menancap di dada kiri membuatku hendak mati.

Sekilas bayang kekasih berganti wajah sendu ibu dan pula ibu pertiwi. Lalu hujan pun jatuh perlahan basahi diri yg hendak pergi.

Aku tak sadar menjadi satu dari seribu daun yg jatuh berguguran. Menyentuh tanah yang basah dengan wajah yg terluka dan dada beranak panah. Kini, musim hujanku berakhir dengan irama rintik hujan dalam senduku yg diam menuju lain alam. Aku lelah. Aku jengah. Aku kalah lagi. Mungkin ini kekalahan terakhir kali untuk mengakhiri perang ini.

Aku prajurit yang mati memperjuangkan diriku sendiri. Aku melihat panglimaku mati, kawan prajuritku mati. Mereka mati untuk raja dan ratu mereka serta keluarga dan tanah air mereka. Mereka berjuang untuk itu. Aku memperjuangkan diriku sendiri. Untuk tubuhku sendiri. Agar tetap berdiri sampai titik darah penghabisanku. Sampai ku mati. Mati.

Aku disisakan sendiri agar ku mati oleh hewan-hewan buas yg lapar merindu amis darah. Inginnya mereka, ku mati oleh hewan pemangsa liar yang kan buat ku terkapar tanpa mimpi. Tercabik sendiri.

Kedua kaki terantai berat besi. Rantai berat besi (rantai pemberat besi) buat ku tak bisa lari. Hanya selangkah lagi dan selangkah lagi, ku melangkah lagi; menjauhi aroma busuk raga-raga terkoyak hingga petang ini. Hingga petang ini tiba. Tiba. Tiba. Dan dalam gelapku, ku menanti serigala-serigala tengkurap berdiri. Ku tunggu ia. Ku tunggu mereka. Ku tunggu serigala-serigala berkaki dua itu. Mereka pun datang. Mereka pun menyeringai. Mereka pun berlari. Mereka pun menyerang. Cepat sekali. Buas sekali. Dan ku tak mati. Ku masih berdiri. Ku bantai habis sendiri.

Pagi lagi. Ku melangkah lagi. Selangkah demi selangkah sekali lagi. Selangkah demi selangkah sekali lagi. ku langkahkan berat kaki menjauhi raga-raga terkoyak itu lagi.

Petang tiba lagi. Ku masih berdiri. Pagi lagi. Petang lagi. Ku masih berdiri. Hingga ku sadari mungkin hari ini. Mungkin hari ini. Mungkin hari ini. Ku akan mati.

Beberapa auman memecah konsentrasi. Aku sendiri sekarang. Memang sendiri. Hanya seorang. Sendirian mencoba bertahan dari beberapa orang. Beberapa orang serigala tengkurap berdiri. Tengkurap berdiri. Serigala-serigala berkaki empat yang berubah tegak berdiri membesar berjalan dua kaki sebulan empat kali. Apakah ku kan mati ini hari?

Sebulan empat kali pada masa bulan purnama. Serigala-serigala monster berubah menjadi manusia berkepala serigala berbulu domba bagai musang berbulu ayam, mencari mangsa sebab merindu amis darah di sela daging terkoyak jasad manusia lelaki. Hanya memangsa lelaki. Apakah ku kan mati ini hari?

Teriakku: "Tuhan, cabut nyawaku hari ini!!!"

***
(Monster-monster buas pun datang menyerang, menerkam, mencabik, mengoyak bersamaan. Dan sisa sang prajurit hanya teriakan di tengah gelap malam yang sunyi. AAAAAAAAAAARRRGGGGHHHHHH!!!!!!!)
***

Beruntungnya prajurit itu bisa tahu wajah ibu kandungnya, dibesarkan dengan kasih sayang di buaian ibunya, berwajah rupawan dicintai kekasihnya. Betapa ia lebih beruntung ketimbang bayi-bayi terbuang yang tak dirindukan, yang tak diinginkan, yang tak disayangi. Seperti bayi Bintang di cerita pendek Beautiful Girl yang dibaca orang berulang kali.
***

Cerita 2.

THE SUPREMAN

EPISODE 01

DI TENGAH HUTAN RIMBA, DI SITU ADA SEORANG PEREMPUAN SUKU PEDALAMAN MAU MELAHIRKAN. SETELAH LELAH MENARIK NAFAS LALU LAHIRLAH BAYINYA. TANGISAN BAYI MENGISI RUANG DITAMBAH JERITAN DAN TANGISAN. BAYI KEPALANYA BESAR KARENA HIDRO SEPALUS, MATANYA BUTA, JEMARINYA DEMPET, KAKINYA KECIL SEBELAH DAN BESAR SEBELAH.

OBOR DIDEKATKAN PADA BAYI YANG MENANGIS.

"INI BAYI IBLIS.. INI BAYI IBLIS.. KITA HARUS MEMBUNUHNYA.."

LALU SI IBU MERONTA MERANA MERASA DIJAHATI IBLIS. DAN AYAHNYA BAYI MELEMPARKANNYA KE LUAR JENDELA RUMAH SUKU PEDALAMAN ITU. DIMAKAN ITU BAYI OLEH ANJING-ANJING PEMBURU MILIK SUKU PEDALAMAN TERSEBUT.

SEMENTARA ITU...

DI TENGAH GUNUNG BERSALJU, DI SITU ADA SEORANG PEREMPUAN SUKU PEDALAMAN MAU MELAHIRKAN. SETELAH LELAH MENARIK NAFAS LALU LAHIRLAH BAYINYA. TANGISAN MENGISI RUANG DITAMBAH JERITAN DAN TANGISAN. BAYI KEPALANYA BESAR KARENA HIDRO SEPALUS, MATANYA BUTA, JEMARINYA DEMPET, KAKINYA KECIL SEBELAH DAN BESAR SEBELAH.

OBOR DIDEKATKAN PADA BAYI YANG MENANGIS.

"DOSA APA YANG KAU LAKUKAN.. ORANG JAHAT MACAM APA KAU DI KEHIDUPAN MASA LALUMU.. TERKUTUKLAH KAU.."

LALU SI IBU MEMUKUL KEPALA BAYI ITU. AYAHNYA MENENDANGNYA HINGGA BAYI ITU BERHENTI MENANGIS. LALU RAMAI-RAMAI DIINJAK SEMUA SUKU PEDALAMAN. DAN SRIGALA MELAHAP SISA-SISA DAGING BAYI TAK BERDOSA ITU.

DI KOTA BESAR PUN ADA...

SEORANG BAYI CACAT SERUPA TERBUANG DI PINGGIR JALAN DEKAT TONG SAMPAH. MEREKA DIAMBIL DINAS SOSIAL PALSU MILIK PENJAHAT. LALU MEREKA DIBESARKAN SAMPAI KELAK ADA YANG MEMBUTUHKAN ORGAN DALAM TUBUH MEREKA. TENTU DIJUAL DI PASAR GELAP.

DAN DI SUATU TEMPAT DI PLANET LAIN...

BAYI CACAT SERUPA TERLIHAT MENANGIS DI TENGAH HUJAN DERAS MEMINTA DITOLONG DENGAN TERIAKANNYA YANG BEGITU KERAS..
ADA SESEORANG MENGHAMPIRI DAN MENGAMBILNYA.

EPISODE 2

BAYI CACAT SERUPA ITU DIBESARKAN DENGAN KASIH SAYANG. SAMPAI MERASA BERADA DI SURGA. IA SELALU MEMANGGIL PEREMPUAN YANG MERAWATNYA DENGAN SEBUTAN IBU. DAN LELAKI YANG MERAWATNYA IA SEBUT AYAH.

IA SUDAH DEWASA. BERTANYA KEPADA IBUNYA KAPAN BISA MELIHAT. IBUNYA MENJAWAB DENGAN TENANG, IA PUN TENANG.

"SEBENTAR LAGI, AYAHMU AKAN MEMPERBAIKIMU DENGAN BENAR. AYAHMU MEMOTRET SETIAP SAAT UNTUK DOKUMENTASI. VIDEO OPERASIMU JUGA ADA UNTUK DOKUMENTASI. KELAK KAU AKAN MELIHAT."

LALU SINGKAT CERITA IA MEMBUKA MATA UNTUK PERTAMA KALINYA. IA SENANG BISA MELIHAT AYAH DAN IBUNYA YANG TERNYATA ORANGTUA ANGKAT, PROFESI MEREKA ITU PROFESOR DAN DOKTOR ILMU SAINS DAN TEKNOLOGI.

KEDUANYA MEMBERI BAYI CACAT SERUPA ITU HARAPAN LUARBIASA. TANGANNYA DIAMPUTASI BERGANTI TANGAN ROBOT. KAKINYA JUGA. JANTUNGNYA SERUPA JANTUNG LISTRIK IRONMAN.

"KAU TIDAK MENGALAMI SAKITNYA DIEJEK, ANAKKU. KAU JUGA TIDAK MENGALAMI MENGEJEK. KAU STERIL. KAMI MENYELAMATKANMU. SUPERMAN. KAU SUPERMAN. ANAKKU YANG HEBAT."

PROFESOR DAN DOKTER ITU MEMELUKNYA.

EPISODE 03

"PERGILAH KE PLANET 164GZ ORANG DISANA MENYEBUTNYA BUMI. ITU PLANET SERUPA PLANET KITA. DATANGLAH KESANA DAN CARILAH SUPERMAN SI BIRU MERAH. TANYAKAN PADANYA: Apakah jadinya bila kami tidak menemukanmu SUPERMAN SI BIRU MERAH, kami orangtua angkat SUPERMAN SI BIRU HIJAU memberinya harapan luar biasa. Ikutlah bersamanya bekerja bersama kami di planet kami. Kami butuh superman si biru merah. Maukah ikut?"

PROFESOR MENYURUH BEGITU.

LALU SUPERMAN SI BIRU HIJAU BERTANYA:"KALAU DIA TIDAK MAU, LALU BAGAIMANA?"

PROFESOR MENJAWAB: "PLANET INI AKAN BINASA TANPA SUPERMAN SI BIRU MERAH. PAKSA DIA. DIA DI SANA DISEBUT SUPERMAN SAJA. LEBIH BAIK KAU MENGGANTI NAMAMU SUPREMAN SAJA. SUPERMAN DAN SUPREMAN."

LALU SUPREMAN PERGI MENCARI SUPERMAN.

SAMPAI DI BUMI CERITANYA TAPI EMPAT TAHUN LAMANYA PERJALANAN. DAN SUPERMAN SUDAH MENINGGAL TIGA TAHUN YG LALU. BANYAK PENJAHAT DI BUMI. DAN SUPREMAN MEMILIH MENJADI PAHLAWAN DI BUMI DAN TAK KEMBALI KE PLANETNYA. IA MENGGANTI NAMANYA MENJADI SUPARMAN DAN BERGELAR SUPERHUMAN. SUPERHUMAN ADALAH NAMA SUPERHERO SEBUTAN UNTUK DIRINYA. LALU IA INGAT PESAN ORANG TUA ANGKATNYA DAN MEMPERKENALKAN KEMBALI NAMA SUPREMAN.

EPISODE 04

TELAH TERJADI SEBUAH KEJADIAN DIMANA SUPARMAN MENYELAMATKAN PENYEBRANG JALAN YANG CACAT DARI HANTAMAN MOBIL YANG KEJAR-KEJARAN UGAL-UGALAN ANTARA POLISI DAN PENJAHAT.

SUPARMAN ATAU SUPREMAN TIBA-TIBA DATANG ENTAH DARIMANA MENAHAN MOBIL PENJAHAT SEPERTI DI FILM. BAN DEPAN TERLEMPAR. MOBILNYA LALU DIANGKAT DAN PENJAHAT DITANGKAP.

"JANGAN SALAHKAN TUHAN ATAS KEADAANMU YANG CACAT INI. JANGAN PULA MENYALAHKAN KEADAAN. KAMU BERUNTUNG ADA AKU DAN AKU BERUNTUNG ADA KAMU." KATA SUPREMAN.

"WAH, TANGAN DAN KAKI YANG KEREN. KEPALAMU KEREN. MATAMU KEREN. AKU INGIN MENGGANTI KAKI CACATKU SEPERTIMU." KATA YANG DITOLONG.

"TIDAK BISA. AKU DARI PLANET LAIN. YANG PENTING KAU SELAMAT. SUKURILAH. SELAMAT TINGGAL." KATA SUPARMAN.

"TERIMA KASIH SUPER HUMAN." KATA YANG DITOLONG.

"SUPREMAN SAJA. JAWAB SUPREMAN.

*

LALU SUPARMAN DI JADIKAN IKON KOTA.

DIBUATKAN PATUNG TINGGI BESAR.

SUPARMAN MEMBERANTAS PENJAHAT PENJUAL ORGAN TUBUH YANG SUKA MENCULIK ORANG CACAT, MEMBUNUH ANAK CACAT DAN ORANG DEWASA CACAT YANG DIBESARKAN DI TEMPAT TERSEMBUNYI. BERES SEMUA DIHAJAR SUPREMAN.

LALU SUPREMAN MENGGUNAKAN BAJU PENINGGALAN SUPERMAN YANG TELAH MENINGGAL.

EPISODE 05

PENJAHAT HABIS. SUPREMAN HANYA KELILING KOTA SEPERTI SELEBRITIS ATAU ELIT POLITIK. TIDAK ADA KEJAHATAN. SUPREMAN MENJADI SUPERMAN YANG TIDAK BISA TERBANG. IA TAPI LEBIH KUAT DARI SUPERMAN YANG DULU. SUPERMAN YANG DULU PUNYA KELEMAHAN BATU KRIPTON. SUPREMAN TIDAK. TIDAK DIKETAHUI KELEMAHANNYA. MAKA PENJAHAT HABIS PIKIR BUAT MENGALAHKAN.

TIDAK ADA PENJAHAT DI KOTA, SUPREMAN LALU PERGI KE SUKU PEDALAMAN DI RIMBA RAYA DAN GUNUNG BERSALJU UNTUK MELAKUKAN PENYULUHAN TENTANG BAYI CACAT DAN ORANG CACAT. AGAR PANDANGAN MEREKA BENAR DAN SIKAP MEREKA LURUS DALAM MENYIKAPI KEJADIAN KELAHIRAN BAYI CACAT.

TETAPI. BANYAK MUSUH BARU DI RIMBA RAYA DAN GUNUNG BERSALJU. DI SITU SUPREMAN MENDAPAT PETUALANGAN DAN TANTANGAN BARU.

SEMENTARA ITU KARENA SUPREMAN TIDAK ADA. PENJAHAT DI KOTA BERULAH KEMBALI.

EPISODE 06

SUPREMAN MENJELASKAN KEPADA SUKU PEDALAMAN BAHWA PANDANGAN KEILMUAN ITU ADALAH WAJIB SEBAB BILA PANDANGAN KLENIK DIGUNAKAN AKAN MEMBAWA KESESATAN. PANDANGAN KEILMUAN DINAMAKAN PANDANGAN OBJEKTIF SEDANG PANDANGAN KLENIK DISEBUT PANDANGAN SUBJEKTIF. MAKA ORANG MODERN HARUS BERPANDANGAN OBJEKTIF. SUPREMAN MENGATAKAN IA DATANG BUKAN UNTUK MENJADI TARZAN DI BELANTARA HUTAN DAN MENJADI PENAKLUK TINGGINYA PEGUNUNGAN. IA HANYA INGIN MEMBERI PANGAJARAN. ILMU PENGETAHUAN SANGATLAH BERGUNA. TUNTUTLAH ILMU SETINGGI MUNGKIN.

SUKU PEDALAMAN GERAM. TIDAK SUKA BAHASA KEILMUAN. SUPREMAN MENJELASKAN BAHWA BAYI KEPALA BESAR ITU HIDRO SEPALUS BUKAN ANAK IBLIS YANG HARUS DIBUNUH. SAMA DENGAN BAYI CACAT FISIK LAINNYA. BUKAN PRODUK RIJEK IBARAT HAPE RUSAK SALAH PASANG DALEMAN DENGAN KESING TAK ENAK DILIHAT. TIDAK BEGITU.

SUKU PEDALAMAN MARAH. "KAMI TAHU KAMI DICIPTAKAN!! KAMI TAHU TUHAN. BAYI CACAT HASIL IBLIS. KARYA IBLIS. MERUSAK. JELMAAN IBLIS!!" KATA SUKU PEDALAMAN.

"ITU SUBJEKTIF. ASUMSI BELAKA. MENURUT ILMU KEDOKTERAN MODERN ITU HIDRO SEPALUS. BISA DIBUKTIKAN. ITULAH PENDAPAT OBJEKTIF." KATA SUPREMAN.

"PERGI!! PERGI!!" SUKU PEDALAMAN TIDAK SUKA BAHASA KEILMUAN.

"PANDANGAN KALIAN SESAT. BILA KALIAN MAU TAHU, PANDANGAN TENTANG TUHAN YANG OBJEKTIF ILMIAH HARUS MELALUI TAHAP PENGENALAN YANG DISEBUT MA'RIFATULLAH. ILMU MA'RIFAT ILMU MENGENAL ALLAH." KATA SUPREMAN.

"APA ITU ALLAH? SIAPA ALLAH ITU? APAKAH SEPERTIMU ATAU SEPERTI KAMI??!!" KATA KETUA SUKU PEDALAMAN.

"TIDAK SEPERTI APAPUN." KATA SUPREMAN.

"TIDAK SEPERTI SIAPAPUN." LANJUT SUPREMAN.

"PANDANGAN SETAN! TUHAN APA ITU ALLAH!" KATA SUKU PEDALAMAN.

"KAMI PERCAYA TUHAN KAMI. ITU SUDAH CUKUP. KAMI TIDAK SUKA BAHASA KEILMUAN. PERGI!" KATA SUKU PEDALAMAN.

SUPREMAN MARAH MELOMPAT MENDEKATI HUTAN POHON BESAR LALU MENGAMUK. POHON BERTUMBANGAN. SUKU PEDALAMAN KETAKUTAN. MAU LARI TAPI TIDAK JADI. SUPREMAN BALIK KEMBALI NGOS-NGOSAN. CAPEK. CAPE DEEEEEH.

"PANDANGAN KALIAN TENTANG TUHAN SANGAT SESAT DAN TERUS MENYESATKAN!! PANTAS SIKAP KALIAN BEGITU BURUK. LEBIH BURUK DARI BURUK. KEJI!! ANAK KALIAN YANG CACAT YANG KALIAN ANGGAP HINA ITU KARENA KESESATAN KALIAN. SIKAPI DENGAN KEBIJAKSANAAN. SAYANGI SEHARUSNYA!! KALIAN LEMPARKAN KE ANJING-ANJING KELAPARAN. BACA BUKU!!!! PUNYA BUKU TIDAK!!!!" SUPREMAN MARAH.

"KAU MAU MENGENALKAN TUHANMU? KENALAN DULU DENGAN TUHAN KAMI. NAMANYA OE OE TEKDUNG. PATUNG TUHAN KAMI DIBUAT DARI KAYU TERTUA DI HUTAN INI. JANGAN MARAH. MARAHMU MERUSAK HUTAN KAMI." KATA SUKU PEDALAMAN.

"TUHAN ITU ALLAH. BUKAN OE OE TEKDUNG." KATA SUPREMAN. AMARAHNYA MEREDA.

"ITULAH PANDANGAN YANG BENAR. TUHAN ITU ALLAH BUKAN OE OE TEKDUNG." KATA KETUA SUKU PEDALAMAN.

"KETUA GOBLOK. BARU SEGITU SUDAH MENYERAH. LAWAN DULU ARGUMENTASINYA. KITA PUNYA TUHAN BERNAMA OE OE TEKDUNG." KATA WAKIL KETUA SUKU PEDALAMAN.

EPISODE 07

Supreman marah luar biasa dan semakin ingin mengamuk karena geram kepada wakil ketua suku pedalaman. Ia hampir kalap karena ada yang melemparnya dengan batu dan menghujaninya anak panah. Mengenai tangan besinya. Ditangkis semua.

PLENTANG! PLENTANG! PLENTANG!

*

Ia pun mengepalkan tangan lalu meninju pohon besar hingga tumbang. Ia berteriak: "ini bukan tangan kaleng-kaleng!!!"

"Kalian akan dihancurkan dengan kekuatanku dan amarahku!!" Kata Supreman.

Tiba-tiba terdengar teriakan melengking menggema sepenjuru hutan rimba.

AUO.. UO.. AUO... UO....

TARZAN datang. Ternyata Tarzan datang.

*

"Sabar, Supreman. Kalau kau habisi mereka. Kau gagal. Mau kepada siapa kau bicara. Kepada kera? Aku disini lebih dulu. Dan aku menghargai Tuhan mereka itu yaitu OE OE TEKDUNG. Jangan marah Supreman. Gara-gara marahmu banyak pohon tumbang dan aku tidak bisa bergelantungan di sulur-sulur hingga membuatku terlambat ini. Aku jalan kaki ini. Gara-gara marahmu, lho. Aku jalan kaki." Kata Tarzan.

EPISODE 08

Waktu terasa hening. Tapi sebentar saja heningnya.

Supreman tak sadar hampir semua pohon tumbang. Kasihan Tarzan jalan kaki, tak bisa melompati pepohonan berayun-ayun di sulur-sulurnya.

Supreman malu sama Tarzan akhirnya.

EPISODE 09

Supreman mendapat maaf dari Tarzan. Lalu bercerita panjang lebar.

"Aku minta maaf benar-benar dan semoga dimaafkan benar-benar. Kau tahu itu. Apalagi Tuhan. Allah tahu aku tidak mau banyak buat kesalahan." Kata Supreman.

"Bagus, harus gitu. Jangan sama seperti manusia pedalaman. Aku Tarzan, lebih maju dari mereka walaupun pakaianku sama seperti mereka. Maksudku semacam celana rombeng kulit hewan ini. Tentu saja aku tak berpakaian. Tarzan namanya juga." Kata Tarzan.

"Cara pandang mereka tidak benar. Entah dari sudut pandang apa sampai hati membuang bayi cacat sebab percaya itu bayi iblis membawa kutukan." Kata Supreman.

"Yang jelas sudut pandang mereka subjektif. Berdasarkan kepercayaan turun temurun. Kau melihat mereka pun harus dengan sudut pandang objektif. Mereka belum mengenal ilmu. Kau sudah. Aku sudah. Karena kita lebih modern dalam cara pandang. Itu juga setelah aku diajari oleh Jane atau Jeni. Semua orang diajari dulu baru dia bisa. Kau pun diajari orang lain baru tahu setelah diajari, bukan?" Kata Tarzan.

"Tak apa lah aku marah. Itu pepohonan bisa ditanam lagi." Kata Supreman.

"Betul juga. Mereka akan lebih paham. Selama hidup mereka tidak pernah nanam pohon. Makanya di sembah. Pohon tertua sering diambil kayunya dan dijadikan patung. Mereka tidak tahu kalau OE OE TEKDUNG itu ciptaan pikiran mereka sendiri. Pohon tetaplah pohon. Memang udara dari dedaunan yang menghasilkan oksigen. Kita bergantung pada oksigen. Tapi Allah yang menciptakan pohon itu." Kata Tarzan.

"Aku tertipu cara berpakaianmu. Smart sekali kamu, Tarzan." Kata Supreman.

"Sudah kubilang pakaianku boleh sama dengan suku pedalaman tapi cara pandangku lebih maju." Kata Tarzan.

Tiba-tiba ada anak panah melesat ke arah mereka lalu ditangkap oleh Supreman. Ada provokator suku pedalaman melempar anak panah. Lau berkatalah provokator itu yang tak lain adalah wakil ketua suku pedalaman: "Jangan ajari kami soal cara pandang!"

Supreman mematahkan anak panah yang ditangkapnya. Lalu berkata: "Allah melihat perbuatan kalian. Perbuatan kalian jahat!" Kata Supreman.

"Tuhanmu punya mata? Bisa lihat kami?" Kata wakil kepala suku pedalaman.

"Itulah kenapa orang harus punya pandangan yang benar tentang Tuhan. Tuhan tidak kelihatan. Allah itu tidak kelihatan tapi melihat kita." Kata Supreman.

"HAHAHA. Semua tertawa menertawakanmu Supreman." Kata Tarzan.

"Hantu ya hantu, itu namanya bukan Tuhan. Yang tidak kelihatan itu hantu." Kata suku pedalaman.

"Kalian harus punya pandangan yang benar tentang Tuhan. Kalian harus mengenal Tuhan." Kata Supreman.

"Kenapa Tuhanmu tidak datang sendiri ke tempat kami. Kenapa harus kamu yang mengenalkan?" Kata semua suku pedalaman dan semua tertawa.

Supreman marah dan ia mendekati yang berkata itu, satu persatu ditatap. Lalu ia memukul wakil ketua suku pedalaman. Terpentallah wakil ketua itu dan mati. Semua suku pedalaman panik dan kabur dari Supreman. Tarzan diam saja. Bersedih sesaat.

Tarzan berniat pergi meninggalkan Supreman. Diam sebentar. Sekali sekali melihat Supreman yang mulai menangis. Suprema itu waktu bayi cacat seperti bayi cacat yang selalu dibuang suku pedalaman. Lalu Tarzan berkata: "Kau bukan Tuhan. Kenapa kau ambil nyawa wakil ketua suku pedalaman itu?" Kata Tarzan. Lalu Tarzan pergi jalan kaki. Menangislah Tarzan sembari jalan kaki.

"Kalau butuh bantuan hubungi aku, kata Tarzan." Ia berbalik menoleh ke arah Supreman sebentar lalu jalan kaki semakin jauh saja.

EPISODE 10

Tiba-tiba Supreman dikagetkan oleh sesuatu. Ia berhenti menangis. Ia melihat seketika ada pintu di depannya. Ia terjengkang ke belakang setengah takut sedang pintu perlahan terbuka. Seperti film horor saja.

Dan...

EPISODE 11

Dan pintu ajaib itu terbuka...

Dan muncullah anak-anak dan kucing biru bundar. Wah, ternyata Nobita dan Doraemon beserta Sizuka, Suneo dan Giant salah main pintu ajaib. Mereka minta maaf pada Supreman salah masuk cerita dan baliklah kembali lagi masuk ke pintu ajaib.

EPISODE 12

Supreman lupa kalau dia super human. Lalu dia mengejar semua penduduk suku pedalaman yang lari. Ingat juga kalau dia si super human. Semua penduduk suku pedalaman diikat di pohon-pohon. Tak bisa melawan itu semua.

"Lepaskan kami, Supreman setan!" Kata mereka berteriak bersautan.

"Mintalah tolong pada OE OE TEKDUNG. Ayo, minta tolong saja. Aku yakin OE OE TEKDUNG tidak akan menolong kalian." Kata Supreman.

"Kau pun bisa kami ikat. Dan kami suruh Allah menolongmu dan Allah tidak akan datang menolongmu!" Kata ketua suku pedalaman.

"Oh, iya begitu. Maaf, ya. Tuhan menolong itu bukan begitu maksudnya. Aku minta maaf, ya." Kata Supreman.

"Ya, kami maafkan. Lepaskan ikatan tali kami ini. Bisa mati kami diikat begini." Kata suku pedalaman.

"Syaratnya harus dipenuhi dulu. Baru aku setuju lepas. Tanam pohon untuk setiap yang sudah ditebang." Kata Supreman.

"Ya, kami setuju." Kata suku pedalaman.

Tiba-tiba ada yang marah. Bukan suku pedalaman. Tapi si raksasa hijau. Apakah Hulk?

Si raksasa hijau mengamuk. Penduduk suku pedalaman ketakutan. "Ada OE OE TEKDUNG!!!" Kata semua anggota suku pedalaman yang diikat.

Super human langsung mendekati raksasa hijau itu dan berkelahi. Lalu kalah itu si raksasa hijau. Tambah rusak itu hutan. Lalu Tarzan datang terlambat sekali. Karena jalan kaki semakin jauh saja tidak ada sulur-sulur untuk meloncat bergelantungan. Maksud kedatangan mau mendamaikan tap tidak jadi. Si raksasa hijau kalah sudah babak belur.

"Hey, Supreman dia itu Buto Ijo. Yang disebut OE OE TEKDUNG. Dikasih tahu namanya Buto Ijo juga tetap akan mereka panggil OE OE TEKDUNG." Kata Tarzan.

"Oh, begitu." Kata super human. Supreman si super human.

"Aku gagal mendapatkan Timun Mas. Aku marah tak berhasil menyelamatkan Timun Mas. Lalu datang si besi kaleng rombeng ini tiba-tiba mengajak berkelahi si Buto Ijo dan menang." Kata Tarzan.

"Timun mas ga dapet ya gapapa. Masih ada timun perak dan perunggu." Kata Supreman.

Tarzan tertawa terbahak.

"Timun mas, Woy. Timun mas. Itu tidak ada timun perak dan perunggu. Hahaha." Kata tarzan.

Melihat OE OE TEKDUNG kalah. Suku pedalaman menganggap Supreman itu Tuhan.

"Tuhan Supreman sudah datang. Tuhan Supreman datang!" Kata suku pedalaman.

Supreman geleng-geleng kepala. Tarzan angguk-angguk. Manggut-manggut.

Pusing deh Buto Ijo.

EPISODE 13

Supreman terus saja dipanggil Tuhan oleh suku pedalaman. Pusing jadinya. Lalu Supreman kembali ke kota untuk ngedugem. Leng geleng geleng geleng geleng.. leng geleng geleng geleng.. anak dugem.

Tarzan ikut Supreman ke kota jadi anak metal, rocker. Angguk-angguk angguk angguk guk. Guk angguk angguk angguk. Anak metal.

Manggut manggut manggut manggut gut. Gut manggut manggut manggut. Anak metal. Rocker. Yeaaach.

Lagu project pop menjadi back sound mereka saat stres menghadapi sikap bodoh suku pedalaman. Mereka minum es teh di tempat dugem.

EPISODE 14

Supreman dan Tarzan kembali ke pedalaman hutan dengan semangat baru akhirnya.

Supreman tidak mabuk di tempat dugem. Supreman memesan es jeruk dan sirop. Main dije. Menghilangkan stress. Tapi bohong, minum es teh saja.

Kembali ke pedalaman, Supreman bersikap lebih sabar walau dipanggil Tuhan Supreman. Ia tidak marah. Tarzan dipanggil suku pedalaman sebagai wakil Tuhan. Manusia pedalaman yang aneh. Tarzan tidak mau marah. Sama akhirnya memilih bersikap lebih sabar agar pandangan tentang Tuhan suku pedalaman berubah. Mengajari suku pedalaman tentang Tuhan itu susah. Mengubah pandangan primitif mereka memang susah.

Ma'rifat itu ilmu mengenalkan Allah kepada orang yang belum memahami Allah itu Tuhan seperti bagaimana. Banyak orang salah memahami Tuhan tetapi mereka merasa dekat dengan Tuhan. Supreman juga belum paham benar bagaimana menerangkan Tuhan yang ghaib yang tidak kelihatan.

EPISODE 15

Supreman mengumpulkan perempuan suku pedalaman. "Dada kalian harus tertutup. Pandangan primitif kalian yang menyebabkan kalian memiliki penilaian yang salah bahwa tak menutup dada tidak perlu dan tidak apa-apa. Pandangan kalian harus diperbaiki dengan pandangan modern bahwa dada harus ditutupi. Agar lebih steril untuk bayi kalian. Dan itu adalah pandangan yang benar. Itu perintah Tuhan. Perintah Allah." Kata Supreman.

"Kapan kau bertemu Allah dan Dia menitipkan pesan itu padamu. Kenapa Dia tidak berbicara langsung kepada kami?" Tanya perempuan pedalaman.

"Pesan Allah tertulis di kitab Alquran. Itu berisi perkataan Allah. Memuat petunjuk atau pedoman hidup. Bila kalian membacanya kalian akan memiliki pandangan tentang Tuhan secara benar dan memiliki penilaian terhadap apa yang baik dan buruk dalam kehidupan kalian. Lalu kalian akan lebih mampu memilih sikap yang positif dalam menghadapi persoalan hidup kalian. Kalian akan menuntut ilmu jadinya. Iman tanpa ilmu adalah kosong." Kata Supreman.

"Ooooh..." Kata semua perempuan suku pedalaman.

"Kalian mengerti....?" Kata Supreman bertanya.

"Tidaaaaak." Jawab mereka.

Supreman diam. Lalu meneteskan airmata.

Ternyata ada yang sedang mengiris bawang merah mau masak.

EPISODE 16

Supreman didatangi Tarzan menjelaskan kenapa Supreman disebut Tuhan.

"Hey, Supreman. Mereka itu menghargai kata-katamu. Mereka mengira kau merendah dan tak ingin bilang itu kata-katamu. Kau selalu bilang kata Allah begini dan begitu. Mereka tidak paham soal Tuhan tidak kelihatan. Makanya kau dipanggil Tuhan. Mereka mengira Allah itu semacam karanganmu saja agar kata-katamu dianggap kata-kata Allah. Seperti begini, aku Tarzan bilang ke mereka kata Supreman kalian harus potong kuku. Padahal aku yang bilang tapi kubilang kata Supreman. Semacam begitu." Kata Tarzan.

"Itu namanya catut nama, dong." Kata Supreman.

"Haha. Begitulah pikiran primitif, bung." Kata Tarzan.

Lalu Supreman menyuruh perempuan pedalaman yang mengiris bawang untuk pergi masak.

"Hey, kamu. Masak sana. Jangan iris bawang disini." Kata Supreman.

Lalu, semua mendatangi Tarzan dan Tarzan ditangkap diikat dan mau dimasak. Lalu Supreman menahan dan melepaskan Tarzan dari tangkapan perempuan-perempuan suku pedalaman.

"Tidak boleh makan orang. Woy, tidak boleh. Pandangan sesat. Makan orang itu kanibalisme. Tidak boleh." Kata Supreman.

"Kami cuma akting, Tuhan Supreman. Prank. Tarzan ngajarin ngeprank ke kami. Hahaha." Kata semuanya.

Supreman tertawa. Tarzan bertingkah genit dikelilingi perempuan-perempuan bertelanjang dada.

Dan Supreman tambah tertawa lagi lihat gorila lewat pake sarung. Hahaha.

"Dulu, ada ustad kesini. Kami makan. Sarungnya itu dipakai gorila. Hahaha." Kata perempuan suku pedalaman. Semua tertawa kecuali Supreman.

EPISODE 17

Supreman ingin menjelaskan tentang Tuhan yang tidak kelihatan kepada suku pedalaman dengan menceritakan sebuah cerita dari nusantara, bergaya filsafat. Cerita itu dibikin 2014 lalu. Mohon disimak.

Supreman bercerita sebuah cerita karangan yang berbobot kepada suku pedalaman. Cerita itu berjudul, AKU DAN NELAYAN PESISIR PULAU BIRU.

Seorang nelayan mengajakku berkeliling sekitar pulau biru. Beliau ingin menunjukanku lokasi penyelaman yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Nelayan:"Sore ini langit sedang cerah. Apa yang kau lihat?"

Aku:"Matahari, langit biru dan awan putih."

Tak berapa lama hujan pun turun...

Nelayan:"Sekarang apa yg kau lihat?"

Aku:"Langit gelap."

Nelayan:"Matahari kemana?"

Aku:"Tak kemana."

Nelayan:"Hilang atau tertutupi awan?"

Aku:"Tertutupi."

Dan malam menjelang...

Nelayan:"Malam ini langit sangat cerah. Apa yg kau lihat?"

Aku:"Bulan dan bintang."

Tak berapa lama hujan turun lagi...

Nelayan:"Sekarang apa yg kau lihat?"

Aku:"Langit pekat."

Nelayan:"Bulan dan bintang kemana?"

Aku:"Tak kemana."

Nelayan:"Hilang atau tertutupi?"

Aku:"Tertutupi."

Nelayan:"Apa artinya semua itu untukmu?"

Aku:"Tak berarti apa-apa."

Nelayan:"Hahaha. Sesuatu itu akan berarti bila kau menganggapnya berarti. Begitupun sebaliknya."

Aku:"Apa maksudnya?"

Nelayan:"Esensi. Apa yg tak kau lihat bukan berarti tidak ada. Jadilah pengamat yg baik. Karena Dia Sang Pencipta segala mengamati kita."

Nelayan menghentikan perahu...

Nelayan:"Kita sudah sampai. Disinilah tempatnya. Persiapan menyelammu sudah siap?"

Aku:"Sudah."

Nelayan:"Ingat, oksigenmu memiliki batas waktu. Bila sudah menipis segeralah naik ke permukaan. Kita lanjut esok hari."

Aku:"Oke. Tapi tunggu dulu, ada satu pertanyaan lagi. Sesuatu yg tak kau lihat bukan berarti tidak ada. Apakah itu juga bermakna sebaliknya? Apakah yg kita lihat jg belum tentu ada?"

Nelayan:"(Tersenyum) Ya, fatamorgana. Fatamorgana kehidupan."

Aku:"(Mengangguk sambil balas tersenyum).

Nelayan:"Hakikat dunia, anak muda. Apa kau bisa membedakan mana yg fatamorgana dan mana yg bukan?'

Aku:"Belum."

Nelayan:"Belajarlah."

Aku mengangguk bersemangat sambil mengangkat dua jempil eh jempul eeeeh jempol. Dua jempol. Dan...

BYURZZZ!!!!

KECEBUR...

EH NYEBUR... BASAH DEH...

Aku memulai menyelam.

Nelayan:"(Teriak) Nak, lampumu ketinggalan!!"

Tak berapa lama aku naik lagi ke permukaan. Lalu melambaikan tangan. Nelayan itu kemudian melemparkan lampu kepadaku. Tamat.

Tamat.

Bagaimana dengan cerita bayi-bayi lain yang dibesarkan ibu-ibu mereka sampai dewasa dan menjadi individu-individu dengan beragam watak dan sifat juga status sosial?!

Tentu banyak cerita yang bisa ditulis. Diantaranya itu cerita berikut ini:

Cerita 3.

SEVEN DAYS BEFORE

Scene 01

26 DESEMBER 2004.

Bumi bergetar. Langit gundah gulana menunggu sesuatu yang hendak mengejar. Awan telah tahu yang hendak mengejar itu namun enggan sesumbar. Sementara itu, sebagian anak manusia mampu melihat akan ada banyak manusia lain yg akan terkapar sembarang tergeletak menggelar siaran berita gempar.

Gempa pun usai dan angin menampar raga setiap yang tak diam yang iri pada camar. Angin menampar raga menusuk-nusuk hidung menyebar aroma tak sedap yang membuat semua rasa menjadi hambar. Apa yang berubah seketika adalah suasana hati yang dirasa bagai terlempar.

Oh, apa gerangan? Siapa yang berkehendak? Mengapa terjadi? Begitu hati bertanya gencar.

Seperti kemarin waktu bergulir. Namun, suasana tak sama dirasa mengikuti pikiran liar yang teracuni tanpa ada penawar. Siapa sangka kesedihan akan menghiasi mereka yang mendapatkan luka bukan memar. Ya, bukan memar. Terluka karena kehilangan saudara yang tersamar. Tersamar dalam senyum dan tawa palsu yang menipu besar.

Dan saat teriakku jelma gempa dalam diam, teriakku bak gelegar halilintar yang tak terdengar dan tak didengar.

Dan akhirnya, setelah ombak tinggi menyapu daratan tak henti mengejar; keesokan harinya, dari hari ke hari, manusia bijaksana terus belajar dan mampu belajar. Belajar akan kuasa-Nya yang maha segala di atas mahluk-Nya yang paling pintar. Mengingatkan mahluknya akan ajar. Agar berani dan tak gentar. Tak gentar melawan kebodohan yang cemar.

Dan akhirnya, manusia bijaksana mampu belajar; bila kebodohan adalah sesuatu yang cemar, bisa dipastikan kesombongan adalah baunya yang tak segar. Maka pantaslah kerendah hatian itu nyatanya mewangi seharum mawar. Dan kata-kata buruk tak seharusnya diujar.

Tuhan mendengar teriakku yang tak terdengar dan didengar.

*

Scene 02

19 DESEMBER 2004

"Serbuuu!"

Teriakanku disambut gelegar halilintar. Kilat-kilat petir disela-sela awan hitam menggambarkan percikan dari pedang-pedang yang beradu di bawah hujan. Dan pasukanku menebas, terus menyincang, tak henti menusuk, bebas membantai mahluk-mahluk demit itu yang semakin gentar.

Tak butuh waktu lama semua musuh sudah binasa. Aku sukses hari ini namun tak berbangga sebab esok belum pasti adanya. Mahluk-mahluk cahaya pun kembali terbang meninggi dan menghilang meski tinggal sebagian. Pasukan kegelapan menghabisi separuhnya namun tak sia-sia. Tak sia-sia mahluk bercahaya membantuku melawan pasukan kegelapan itu meski mereka harus gugur dan menjadi tiada. Mahluk-mahluk demit mengabu terbakar dan berita kemenangan kami pun tersebar.

Aku menoleh ke arah 'dinding waktu' dekat mulut gua tampak berubah-ubah, maka aku segera berlari, meloncat, berlari, meloncat, berlari menabrakkan diri ke 'dinding waktu' itu agar keluar dari dimensi lain ini menuju dimensi duniaku. Ternyata telat dan aku terjatuh kesakitan di pinggir kanan depan mulut gua itu. Lalu, keluarlah dari mulut gua seorang perempuan mahluk bercahaya penunggu gua yang mirip Laudya Cinthia Bella. Mirip benar tak bisa ditawar.

"Sudah kuduga. Kau akan telat dan pintu dimensi tertutup sebelum kau bisa menembusnya. Ikuti aku, kutunjukan jalan lain." Kata perempuan mahluk bercahaya itu memintaku mengikutinya menuju jalan keluar.

"Memangnya harus sambil berlari menabrakan diri ke dinding terus? Kalau waktunya tak pas bisa remuk badan ini menabrak dinding batu!" Kataku sambil mengerang kesakitan. Lalu aku mengikutinya ke dalam gua dengan wajah yang sangar penuh memar.

"Kami tidak menyukaimu. Tapi keputusan sudah dibuat bahwa kami harus mau dipimpin oleh orang aneh sepertimu. Sebagian dari kami menganggap kepemimpinanmu adalah awal dari kehancuran pasukan bercahaya. Mereka memberontak sebab tak setuju dengan keputusan yang sudah dibuat. Aku sebetulnya juga ragu padamu. Kau terlalu sering menggerutu. Itu bukan tipikal pemimpin yang baik." Katanya panjang lebar.

"Aku bisa sehitam kegelapan namun pula bisa seterang cahaya. Mungkin nanti, aku bisa memusuhimu tapi sekarang aku adalah pemimpinmu dan tentu juga kawanmu. Jadi, sekarang jangan bicara sembarangan. Kelak, saat itu terjadi nanti, ketika pada waktunya kita berhadapan, bila aku menjadi sehitam kegelapan dan menjadi musuhmu yang kejam, maka terangi aku agar aku mengingat kembali terangnya cahaya itu. Sinar itu. Dan aku akan kembali seterang cahaya lagi yang bahkan akan melebihi terangmu dari cahayamu." Kataku padanya dengan tegas tanpa panjang lebar tetapi panjang lebar.

Perempuan mahluk bercahaya itu tersenyum dan terus berjalan menuju 'dinding waktu' dimensi. Setelahnya sampai di 'dinding waktu' itu ia berpesan: "Hari ini kita menang dan aku menyebutmu pemimpin sejati. Besok bila kita kalah, kau tetap pemimpin sejati. Namun bila lusa kalah lagi, kau bukan pemimpin sejati." Begitulah ia berpesan. Dan aku kembali ke duniaku dan tetap hidup wajar.

*

Di duniaku tentu saja aku bukan siapa-siapa dan menjadi manusia biasa yang tak berjiwa pemimpin, tak dewasa sebab kekanakan, dan tampak tak memiliki masa depan. Sangat menyedihkan hidup seumpama pecundang yang tak pernah memenangkan sesuatu apapun. Aku tidak suka berkompetisi. Itulah yang menyebabkan aku tak pernah memenangkan apapun. Menang lomba chef masakan? tidak. Menang balap motor? tidak. Menang tinju? tidak. Menang balap mobil? tidak. Menang lomba nyanyi? tidak. Karena memang tidak ikut kompetisi apapun. Aku memang tidak suka berkompetisi. Aku tidak pernah merasa punya kompetitor. Bahkan saat pedekate lawan jenis pun aku akan mengalah bila ada orang lain pedekate. Silahkan dekati dan aku pergi. Aku tak suka berkompetisi. Aku bukan pemenang bukan pula pecundang. Hanya dianggap pecundang. Dan parahnya banyak yang menganggapku begitu. Jadi, bukan salahku bila aku disebut pecundang. Dan itulah kehidupanku yang wajar. Wajar tetapi tidak wajar.

*

Scene 03

20 DESEMBER 2004

Des Gandes berkata: "Aku tidur maka aku bermimpi maka aku ada."

Aku berada di dunia mimpi dengan raga yang lain. Aku menjadi seseorang berseragam tempur dengan beberapa luka dalam yang berada di tengah-tengah pertempuran. Aku disebut komandan oleh orang-orang yang ketakutan di sekelilingku. Mereka rupanya anak buahku. Prajurit-prajurit ini ketakutan teramat sangat tersudutkan. Kami dihujani tembakan. Kami menyerah setelah bendera putih berkibar. Kami gentar.

Deru peluru berhenti. Hening agak lama berganti suara derap langkah sepatu yang beradu dengan debu dan batu. Mereka semakin mendekat dan kami berharap diampuni. Ternyata mereka musuh berhati sekeras batu. Mereka memberondong semua prajuritku di depanku lalu membawaku. Aku berteriak-teriak memaki dan mengutuki mereka yang menyeretku sepanjang 200 meter. Aku membawa meteran dan mengukurnya. Ini cerita komedi jadi wajar walaupun sebetulnya bukan komedi. Ini tetap cerita lucu yang wajar. Dan kata-kata buruk tak harus diujar.

Aku disiksa lalu ditawan. Begitulah singkat ceritanya dan ragaku tetap bugar.

Aku dikurung bersama seorang sandera perempuan mirip Laudya Chintia Bella yang jadi mahluk cahaya penghuni gua itu. Pakaian sudah pasti compang-camping, robek-robek. Jangan bayangkan rok robek sepaha, ya?. Lalu, seragamku yang belum sobek sengaja kusobek. Tampak badanku penuh memar.

"Kita sama tercabik-cabik. Kita adalah hewan buruan dan mereka hewan pemangsa yang akan mencabik-cabik kita." Kataku padanya memberi kabar. Kabar buruk pun tetap kabar. Kabar tentang hewan pemangsa yang lapar.

"Kau komandan yang akan menyelamatkan aku, ya? Seperti Rambo?!" Tanya perempuan itu dengan senyum lebar.

"Oh, tidak. Jangan. Jangan aku. Jangan. Tolong. Tolong, jangan. Jangan pilih aku untuk menolongmu. Aku tidak siap disiksa. Kau harus berpikir realistis. Bagaimana mungkin aku bisa menolongmu sedang aku sendiri butuh pertolongan?" Kataku menangis karena luka memar.

"Perih sekali luka tembak dan luka sayat bercampur dengan luka hati ditolak cinta. Aku si komandan yang putus hubungan dengan perempuan yang tidak ada status hubungan. Hate-es (HTS=hubungan tanpa status & hati sedingin es & benci S). Begitu. Ceritanya, perempuan itu memilih prajuritku. Ia yang meninggal diberondong peluru itu. Sebelum berangkat perang, aku pedekate dan dia pilih dia yang jadi prajuritku yang mati itu. Padahal aku komandan tapi dia si perempuan itu pilih prajuritku. Pergi peranglah kami ini. Lalu menyerah kalah dan prajuritku yang dipilih perempuan yang kucintai itu mati diberondong bersama prajuritku yang lain. Aku bingung. Sedih tapi senang. Senang tapi sedih. Apa aku bisa selamat dan lari untuk kembali bisa pedekate perempuan itu lagi? Aku sudah menyerahkan nasib pada Yang Punya Kehiduan. Aku menangis. Si komandan yang menangis." Kataku berbohong seperti remaja tolol kurang ajar.

Perempuan sandera yang ditawan bersamaku berbicara seperti seorang motivator. Dengan tenang ia berkata: "Jadilah yang kuat, larilah ke hutan, pecahkan gelas-gelas kaca, ku akan ikut lari ke hutan, lalu berlarilah sekencang mungkin menabrakan diri ke 'dinding waktu' sebelah kanan mulut gua. Jadilah kuat, pemimpinku." Kata perempuan itu dengan senyum lebar yang hambar tapi tetap mampu membuatku lebih bugar walau tidak kekar.

Lalu aku jadi seperti pasukan kegelapan yang berhati terang seterang cahaya lebih terang dari mahluk cahaya. Aku menjadi monster yang besar tetapi baik hati. Aku ditunggangi perempuan sandera tawanan dan berhasil kabur serta lolos dari kejaran berlari pergi ke hutan. Dan tentu menabrakan diri ke 'dinding waktu' sebelah kanan mulut gua. Aku kabur dan dikejar.

Jreng jreng jreng!! Dar!!!

Eng ing eng!!! Dar!!!!

Tok tok tik tik tek tek tuk tak. Detik waktu berdetak seperti detak jantung berdetak tak wajar.

Tiba-tiba, seperti ada kilatan halilintar...

"Peter!! Peter pan!! Terbang!! Terbang!! Kau bisa terbang!! Kau ingat film kartun Peter Pan!! Terbang!!" Kata perempuan bersayap mirip peri berwajah mirip Laudya Chintya Bella berteriak mengingatkanku saat ternyata ku terjatuh dar langit melewati jalan keluar 'dimensi waktu' saat ku dikejar.

Kujawab berteriak juga:"Ku dapat melukis langit!! Ku dapat hitamkan pelangi!! Tapi buka dulu topengmu!! Buka dulu topengmu!! Pernah ku merasa angkuh!! Terbangkan anganku jauh!! Langit kan menangkapku walau ku terjatuh!!" Ku jawab teriak juga menyanyi-lagukan lirik lagu akibat salah dengar. Salah paham maksudnya. Tapi biar belakangnya berima 'ar' maka jadinya salah dengar. Menghibur diri kala terjatuh bukan hal kurang ajar.

"Wah, kau memang orang gila. Hahaha." Kata perempuan itu tertawa lebar.

Lalu aku terbang bersamanya ke tengah lautan. Kami memasuki alam aqua. Bukan merek minuman air mineral, lho. Dan, perempuan itu jadi little mermaid si putri duyung dan aku jadi si putra duyung. Kami bersama pasukan bercahaya melawan pasukan kegelapan bawah laut di palung dan lembah laut. Di mana pun di bawah kegelapan laut. Kami berjuang dan menang bersisa belasan. Bersisa belasan dari yang tadinya ribuan. Dan itu pengorbanan yang besar.

Perempuan itu bilang: "Hari ini kita menang, karena itulah kau kusebut pemimpin sejati. Bila esok kalah kau tetap pemimpin sejati. Bila lusa kalah lagi maka kau adalah musuh sejati. Lawanku. Kau harus mati ditanganku bila jadi lawanku. Mengalahkanmu butuh waktu sebentar."

Ku bilang: "Wah, kau lupa. Bila kini aku kawanmu maka esok bisa jadi sebagai lawan terberatmu. Saat kau jadi lawanku kelak, ingatkan aku pernah jadi kawanmu agar aku bisa menjadi kawan yang lebih tahu kawan darimu. Aku bisa memperlakukanmu sebagai kawan melebihi perlakuanmu kepada kawanmu. Jadi jangan bunuh aku bila besok kalah dan lusa kalah lagi. Tak perlu sesumbar."

*

Obrolan tak wajar berkembang tak henti, terus saja dan terus saja dan terus begitu, membicarakan kelemahan yang tak perlu di katakan dan membicarakan kelebihan dan keunggulan masaing-masing diri. Obrolan partner yang tak wajar yang berujung pada perseteruan tak berimbang. Kata demi kata berubah nada. Semakin tinggi dan semakin tinggi saja. Mereka pun akhirnya bertengkar.

Obrolan partner yang tak wajar.

*

"Kau ini tidak punya taktik apa-apa! Tidak punya strategi apa-apa! Aku yang berpikir! Kau yang jadi pemimpin dan kau yang dapat pujian! Kau kira ku iri! Aku tidak iri! Hanya heran saja!" Katanya sambil menangis seperti ditampar.

"Kau itu penasihat. Penasihat harus berpikir. Kau dapat pujian juga. Tapi tidak ada yang bilang. Tidak usah risau! Ingin dipuji?! Memang Tuhan dipuji?! Puji Tuhan, segala puji bagi Allah. Kau Allah juga bukan!" Kataku ingin menampar.

Menampar dengan kata-kata tentu tetap menampar.

"Dimana kau punya hati!" Kata perempuan itu marah ingin menampar. Ingin menampar benar. Dengan tangan ingin menampar.

"Di dada! Dimana kau punya mata?!" Tanyaku dengan kata-kata menampar.

"Dadar orang gila! Eh, dasar orang gila!" Katanya marah besar sampai salah ucap. Maklumlah perempuan dengan emosi terbakar.

"Iya. Aku orang gila! Sudahlah. 'Dinding waktu' sudah kelihatan berubah-ubah di permukaan laut. Terimakasih. Besok aku akan kalah. Dan lusa akan kalah juga. Jadi aku tidak akan datang. Kau, cari pemimpinmu sendiri untuk besok dan lusa. Bila tak ada selainku kau dapat angkat dirimu sendiri jadi pemimpin!!!" Kataku dengan emosi terbakar.

Memangnya sate terbakar?! Eh, salah. Memangnya roti dibakar?! Roti tentu enak tapi hati terbakar ya tidak enak. Amarah tak pernah tersamar.

"Keputusan sudah dibuat!! Aku hanya menuruti perintah!! Andai saja kau tahu!! Pemberontak yang bergabung dengan pasukan kegelapan itu tentu tak sama denganku. Tak sama!! Aku bukan dia!! Mereka senang melihatmu gagal dan akan membuatmu gagal. Aku tidak seperti dia dan mereka!! Aku ingin kau tidak gagal dan tidak akan membuatmu gagal!!" Katanya sampai menangis penuh tipuan tak wajar.

Pura-pura menangis memang tak wajar. Dia akting. Pasti pura-pura manangis. Perempuan dengan tangisan tak wajar.

Bagiku itu tipuan tak wajar. Dia ingin memberi perintah alias ingin memimpin dan bosan diperintah. Perempuan tidak wajar.

"Aku tidak mendengarnya!!!! Simpan saja kata-katamu di hatimu!!!! Itu kalimat tulus dari hati maka simpan dihatimu!!!! Penasihat yang suka menjilat!!!! Ingin memberi perintah!!!! Ingin jadi pemimpin!!! Aku tak mendengarnya!!!!! Aku akan melupakan semua kata-katamu itu!!! Kemenanganku terlalu mudah!!! Aku takut ini semua jebakan!!! Aku takut ini kemenangan palsu yang semu!! Taktikmu untuk kelak menjatuhkanku!!!" Kataku teriak kasar.

"Sampai jumpa besok." Katanya pelan tak ikut teriak kasar. Sudah bosan pura-pura menangis tak wajar.

Aku tidak membalas salam perpisahan itu. Peduli setan! Peduli amat! Masa bodoh! Aku pusing dia bicara soal 'aku bukan dia'. Apa dia kembaran penguasa kegelapan? Perempuan kembar??? Kembar??? Ah, tidak mungkin. Pikiranku tidak benar.

Biar dia mengangkat diri jadi pemimpin pasukan. Menang ingin dipuji. Taktik sendiri, strategi sendiri, dipuji sendiri. Kalah tentu dia menyalahkan dirinya sendiri. Lawan saja diri sendiri karena kalah dua kali. Pikirannya tidak benar.

*

Aku meninggalkannya sambil menggerutu mendekat ke 'dinding waktu' di permukaan laut. Dan ku muncul di hutan. Ku pun segera berlari menabrakan diri ke 'dinding waktu' sebelah kanan mulut gua. Dan, telat lagi. Aku terjatuh kesakitan dan terus meringis kesakitan. Sial, prrempuan itu sengaja mengulur waktu agar ku tak bisa keluar. Maka, keluarlah perempuan mahluk cahaya penghuni gua itu. Berkata-kata seperti kemarin menuntunku kedalam gua menuju jalan lain 'dinding waktu'. Perempuan tidak wajar. Sudah tidak marah lagi. Marah-marah di air saat jadi putri dan putra duyung itu sepertinya kenyang makan air dan buat banyak gelembung. Amarah yang tak wajar cepat pudar berganti senyum hambar.

*

Scene 04

21 DESEMBER 2004

Ceritanya itu, ku tak tidur maka ku tak mimpi maka ku tak ada. Ku tak datang. Des Gandes bukan Des Cartes. Berpikirlah wajar. Ini bukan cerita orang kurang ajar.

22 DESEMBER 2004

Ceritanya itu, ku tak tidur maka ku tak mimpi maka ku tak ada. Ku tak datang. Des Gandes tak tiba. Itu sangat wajar.

23 DESEMBER 2004

"Aku datang. Aku tidur maka aku mimpi maka aku ada." Des Gandes berujar.

Ternyata ku benar. Perempuan itu tak wajar.

Pasukan bercahaya hampir habis. Kalah telak separuh menangis. Kekalahan yang tak wajar.

Perempuan seperti Laudya Chintia Bella itu katanya meninggal gugur di medan laga, sebelum ku tiba. Medan laga atau medan tempur tentu sama benar.

Ku cari ia tak ku temui. Dimana ia, entah dimana. Hilang jasadnya. Ku pun tak tegar. Ku gentar.

Ia meninggal disiksa pasukan kegelapan dan pemimpin kegelapan mengalahkan pasukanku dengan mudah setelahnya. Tentu sebelum ku tiba. Penguasa kegelapan itu kurang ajar.

Ku cari ia, dimana ia, entah dimana. Hilang jasadnya. Ku tak tegar. Ku gentar.

Tidak mungkin. Aku merindukannya setelah ia tiada. Apa aku terlalu membohongi rasa dan terlalu kasar bersikap menipu agar ku tak sadar. Kubenci untuk mencintainya. Aku kurang ajar. Dimana ia, entah dimana. Hilang jasadnya. Ku tak tegar. Ku pun gentar.

*

24 DESEMBER 2004

Aku tidur maka aku mimpi maka aku ada. Sendiri ku kalah dan kalah lagi. Yah, pasrah deh. Kalah lagi buat ku tak sangar. Sudah tak kekar, tak bugar, tak sangar. Ku siap terkapar.

Tapi, aku harus tegar dan tak boleh gentar.

*

25 DESEMBER 2004

AKU BERPIKIR MAKA AKU ADA. Itu orang lain. Des Cartes yang wajar.

Aku mimpi maka aku tidur. Eh, aku tidur maka aku mimpi maka aku ada. Itu aku, Des Gandes yang tak wajar.

Aku berperang melawan pasukannya tanpa gentar dan terus menyudutkannya hingga mereka mundur lagi dan terus mundur lagi dan hampir kalah. Pasti semua terkapar.

Tapi keadaan mulai berbalik. Belum ku makan dan ku sangat lapar.

Lalu, saatnya tiba. Pemimpin kegelapan yang berhadapan denganku berdiri tak gentar. Ia mengajakku berduel. Dan topengnya ia buka sembari tersenyum lebar. Seperti pesona aktris layar lebar. Aku gentar.

Tampaklah itu rupa si pemimpin kegelapan. Rambutnya terurai disapu angin kegelapan. Dia? Kembar? Tidak mungkin. Penipu kurang ajar. Pura-pura kembar.

Ternyata mirip Laudya Chintia Bella yang yang di scene 02 itu, yang jadi pembimbing dan penunjuk arahku untuk masuk dan keluar. Orang yang ku cari ia, dimana ia, entah di mana, hilang jasadnya. Sangat tak wajar.

Wah, aku kaget. Ternyata?! Kembar!

Ternyata kembar saling membunuh dan aku gentar.

Yach, kalah dech... Dar!!

Ya, kalah aja lah... Dar!!

Ya, udah deh tamat ceritanya. Dar!!

"Ku mati, ku bangun tidur ku tak mimpi ku tak ada." Kata Des Gandes yang tak wajar.

*

Aku bangun dan lupa mandi dan gosok gigi. Ku pun lupa tolong ibu membersihkan tempat tidurku.

Lalu, aku memanjatkan do'a minta jodoh:

"YA ALLAH AKU MINTA JODOH YANG GA CANTIK DAN GA KAYA DAN GA SOLEHAH DAN GA BAIK."

Lalu ada yang bertanya: "KOK DOANYA GITU?!"

Ku jawab: "ALLAH TIDAK AKAN MEMBERIKAN APA YANG KAU MINTA TAPI AKAN MEMBERIKAN APA YANG KAU BUTUHKAN."

Yang bertanya tertawa: "HUAHA HUAHA. HAHAU. HEHE. HOHEHE. HIHEHE. AHAK. AHAK WKWK. WKWK. KWKW. KWKW."

Percayalah itu tawa karena lucu bukan tawa kuntilanak yang tak wajar.

Aku ikut tertawa lebar.

Lalu setelahnya, berhari-hari aku menangis bertanya-tanya tentang aku, kamu, dia dan mereka. Cerita absurd yang tak wajar.

Des Gandes marah besar. Tak diketahui siapa yang bertanya dan siapa yang tertawa. Tak diketahui kenapa ia tak melawan dan gentar pada pemimpin kegelapan yang tak wajar.

26 DESEMBER 2004.

Kembali ke scene 01.

Tamat.

Kemudian, bagaimana cerita bayi-bayi lainnya yang mendewasa menjadi manusia-manusia baik maupun jahat, baik di bawah pengasuhan orang tua dan mendapat cinta keluarga atau pun tidak?! Bagaimana?!

Hitam dan putih individu manusia seperti dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan. Sisi positif dan negatif melekat mewujud rasa cinta dan benci di hati. Orang baik bisa jadi jahat. Orang jahat bisa jadi baik. Ada orang pura-pura baik. Ada orang pura-pura jahat. Seberapa sanggup kalian sebagai anak manusia membawa diri mengarungi kehidupan di antara Malaikat dan Iblis?!

Anak-anak Adam hidup di antara Malaikat dan Iblis. Bisa seterang Malaikat pun segelap Iblis si penguasa kegelapan.

Kau bisa menjadikan orang lain menjadi monster yang kejam. Kau bisa menjadikan monster yang kejam menjadi selembut manusia berpengertian.

Kau memilih menjadikan dirimu seperti apa maumu dalam kehidupanmu sesuai rasa hatimu. Cinta atau benci bergantian menguasai hati. Apakah kau pikir cinta itu membawa terang dan benci itu mengundang kegelapan?! Bagi siapa?! Bagi dirimu?! Atau orang lain yang kau cinta?! Atau orang lain yang kau benci?!

Kehilangan seseorang yang terkasih itu biasa. Itu wajar. Tapi kehilangan iman itu tak wajar. Jangan kehilangan iman karena kehilangan seseorang atau beberapa orang tersayang. Jika kehilangan iman, cinta pun mengundang kegelapan tak membawa terang bagi si empunya. Itulah cintanya orang gila. Cinta yang merusak. Bukan cinta sebenarnya. Cinta palsu bercampur dengki hingga tak bernilai suci lagi.

Kau, mencintai seseorang. Sangat cinta. Dengan cinta yang merusak itu, cinta gila, cinta buta, kau lakukan segalanya untuk cintamu. Kau lakukan segalanya untuk cintamu. Kau membunuh orang lain untuk cintamu. Kau menghina orang lain untuk cintamu. Kau mengolok orang lain untuk cintamu. Kau hancurkan orang lain untuk cintamu. Itu cintanya orang gila.

Tamat.

Semoga tercerahkan.

Tamat.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer bayonet
bayonet at ORANG HILANG (2 years 19 weeks ago)

astaga gw kira cerita fiksi