ORANG HILANG

#1 PETIR GETIR

Gemuruh merambati udara di pekat langit. Tak seperti jerit, hanya seperti sendu yg pelik seolah sirna sudah rasa rindu kepada kekasih sebab menghadapi kematian di tengah-tengah peperangan yg sangat sengit.

Kilat cahaya sesaat demi sesaat berkali berganti sekali demi sekali lalu sekali lagi sebelum aku tak sadarkan diri. Sebuah anak panah ini menancap di dada kiri membuatku hendak mati.

Sekilas bayang kekasih berganti wajah sendu ibu dan pula ibu pertiwi. Lalu hujan pun jatuh perlahan basahi diri yg hendak pergi.

Aku tak sadar menjadi satu dari seribu daun yg jatuh berguguran. Menyentuh tanah yang basah dengan wajah yg terluka dan dada beranak panah. Aku dengar irama rintik hujan dalam senduku yg diam menuju lain alam. Aku lelah. Aku jengah. Aku kalah.

Aku prajurit yang mati memperjuangkan diriku sendiri. Aku melihat panglimaku mati, kawan prajuritku mati. Mereka mati untuk raja dan ratu mereka serta keluarga dan tanah air mereka. Mereka berjuang untuk itu. Aku memperjuangkan diriku sendiri. Untuk tubuhku sendiri. Agar tetap berdiri sampai titik darah penghabisanku. Sampai aku mati. Mati.

Aku dibiarkan sendiri hinggaku mati oleh hewan-hewan buas yg lapar. Hewan pemangsa yang buat ku terkapar.

#2 THE SUPREMAN

EPISODE 01

DI TENGAH HUTAN RIMBA DI SITU ADA SEORANG PEREMPUAN SUKU PEDALAMAN MAU MELAHIRKAN. SETELAH LELAH MENARIK NAFAS LALU LAHIRLAH BAYINYA. TANGISAN BAYI MENGISI RUANG DITAMBAH JERITAN DAN TANGISAN. BAYI KEPALANYA BESAR KARENA HIDRO SEPALUS, MATANYA BUTA, JEMARINYA DEMPET, KAKINYA KECIL SEBELAH DAN BESAR SEBELAH.

OBOR DIDEKATKAN PADA BAYI YANG MENANGIS.

"INI BAYI IBLIS.. INI BAYI IBLIS.. KITA HARUS MEMBUNUHNYA.."

LALU SI IBU MERONTA MERANA MERASA DIJAHATI IBLIS. DAN AYAHNYA BAYI MELEMPARKANNYA KE LUAR JENDELA RUMAH SUKU PEDALAMAN ITU. DIMAKAN ITU BAYI OLEH ANJING-ANJING PEMBURU MILIK SUKU PEDALAMAN TERSEBUT.

SEMENTARA ITU...

DI TENGAH GUNUNG BERSALJU, DI SITU ADA SEORANG PEREMPUAN SUKU PEDALAMAN MAU MELAHIRKAN. SETELAH LELAH MENARIK NAFAD LALU LAHIRLAH BAYINYA. TANGISAN MENGISI RUANG DITAMBAH JERITAN DAN TANGISAN. BAYI KEPALANYA BESAR KARENA HIDRO SEPALUS, MATANYA BUTA, JEMARINYA DEMPET, KAKINYA KECIL SEBELAH DAN BESAR SEBELAH.

OBOR DIDEKATKAN PADA BAYI YANG MENANGIS.

"DOSA APA YANG KAU LAKUKAN.. ORANG JAHAT MACAM APA KAU DI KEHIDUPAN MASA LALUMU.. TERKUTUKLAH KAU.."

LALU SI IBU MEMUKUL KEPALA BAYI ITU. AYAHNYA MENENDANGNYA HINGGA BAYI ITU BERHENTI MENANGIS. LALU RAMAI-RAMAI DIINJAK SEMUA SUKU PEDALAMAN. SRIGALA MELAHAP SISA-SISA DAGING BAYI TAK BERDOSA ITU.

DI KOTA BESAR PUN ADA...

SEORANG BAYI CACAT SERUPA TERBUANG DI PINGGIR JALAN DAN TONG SAMPAH. MEREKA DIAMBIL DINAS SOSIAL PALSU MILIK PENJAHAT. LALU MEREKA DIBESARKAN SAMPAI KELAK ADA YANG MEMBUTUHKAN ORGAN DALAM TUBUH MEREKA. DIJUAL DI PASAR GELAP.

DAN DI SUATU TEMPAT DI PLANET LAIN...

BAYI CACAT SERUPA TERLIHAT MENANGIS DI TENGAH HUJAN DERAS MEMINTA DITOLONG DENGAN TERIAKANNYA YANG BEGITU KERAS..
ADA SESEORANG MENGHAMPIRI DAN MENGAMBILNYA.

EPISODE 2

BAYI CACAT SERUPA ITU DIBESARKAN DENGAN KASIH SAYANG. SAMPAI MERASA BERADA DI SURGA. IA SELALU MEMANGGIL PEREMPUAN YANG MERAWATNYA DENGAN SEBUTAN IBU. DAN LELAKI YANG MERAWATNYA IA SEBUT AYAH.

IA SUDAH DEWASA. BERTANYA KEPADA IBUNYA KAPAN BISA MELIHAT. IBUNYA MENJAWAB DENGAN TENANG, IA PUN TENANG.

"SEBENTAR LAGI, AYAHMU AKAN MEMPERBAIKIMU DENGAN BENAR. AYAHMU MEMOTRET SETIAP SAAT UNTUK DOKUMENTASI. VIDEO OPERASIMU JUGA ADA UNTUK DOKUMENTASI. KELAK KAU AKAN MELIHAT."

LALU SINGKAT CERITA IA MEMBUKA MATA UNTUK PERTAMA KALINYA. IA SENANGBISA MELIHAT AYAH DAN IBUNYA YANG TERNYATA ORANGTUA ANGKAT, PROFESOR DAN DOKTOR ILMU SAINS DAN TEKNOLOGI.

KEDUANYA MEMBERI BAYI CACAT SERUPA ITU HARAPAN LUARBIASA. TANGANNYA DIAMOUTASI BERGANTI TANGAN ROBOT. KAKINYA JUGA. JANTUNGNYA SERUPA JANTUNG LISTRIK IRONMAN.

"KAU TIDAK MENGALAMI SAKITNYA DIEJEK, ANAKKU. KAU JUGA TIDAK MENGALAMI MENGEJEK. KAU STERIL. KAMI MENYELAMATKANMU. SUPERMAN. KAU SUPERMAN. ANAKKU YANG HEBAT."

PROFESOR DAN DOKTER ITU MEMELUKNYA.

EPISODE 03

"PERGILAH KE PLANET 164GZ ORANG DISANA MENYEBUTNYA BUMI. ITU PLANET SERUPA PLANET KITA. DATANGLAH KESANA DAN CARILAH SUPERMAN SI BIRU MERAH. TANYAKAN PADANYA: apakah jadinya bila kami tidak menemukanmu, kami orangtua angkatmu memberimu harapan luarbiasa, datanglah bersamaku bekerja bersama kami di planet kami. Kami butuh superman. Maukah ikut?"

PROFESOR MENYURUH BEGITU.

LALU SUPERMAN BERTANYA:"DIA TIDAK AKAN MAU LALU BAGAIMANA?"

PROFESOR MENJAWAB: "PLANET INI AKAN BINASA TANPA SUPERMAN. PAKSA DIA."

LALU SUPERMAN PERGI MENCARI SUPERMAN.

SAMPAI DI BUMI CERITANYA TAPI EMPAT TAHUN LAMANYA PERJALANAN. DAN SUPERMAN SUDAH MENINGGAL 3 TAHUN YG LALU. BANYAK PENJAHAT DI BUMI. DAN SUPERMAN MEMILIH MENJADI PAHLAWAN DI BUMI DAN TAK KEMBALI KE PLANETNYA. IA MENGGANTI NAMANYA MENJADI SUPARMAN DAN BERGELAR SUPERHUMAN. SUPERHUMAN ADALAH NAMA SUPERHERO SEBUTAN UNTUK DIRINYA.

EPISODE 04

TELAH TERJADI SEBUAH KEJADIAN DIMANA SUPARMAN MENYELAMATKAN PENYEBRANG JALAN YANG CACAT DARI HANTAMAN MOBIL YANG KEJAR-KEJARAN UGAL-UGALAN ANTARA POLISI DAN PENJAHAT.

SUPARMAN TIBA-TIBA DATANG ENTAH DARIMANA MENAHAN MOBIL PENJAHAT SEPERTI DI FILM. BAN DEPAN TERLEMPAR. MOBILNYA LALU DIANGKAT DAN PENJAHAT DITANGKAP.

"JANGAN SALAHKAN TUHAN ATAS KEADAANMU YANG CACAT INI. JANGAN PULA MENYALAHKAN KEADAAN. KAU BERUNTUNG ADA AKU DAN AKU BERUNTUNG ADA KAU." KATA SUPARMAN.

"WAH, TANGAN DAN KAKI YANG KEREN. KEPALAMU KEREN. MATAMU KEREN. AKU INGIN MENGGANTI KAKI CACATKU SEPERTIMU." KATA YANG DITOLONG.

"TIDAK BISA. AKU DARI PLANET LAIN. YANG PENTING KAU SELAMAT. SUKURILAH. SELAMAT TINGGAL." KATA SUPARMAN.

"TERIMA KASIH SUPER HUMAN." KATA YANG DITOLONG.

LALU SUPARMAN DI JADIKAN IKON KOTA.

DIBUATKAN PATUNG TINGGI BESAR.

SUPARMAN MEMBERANTAS PENJAHAT PENJUAL ORGAN TUBUH YANG SUKA MENCULIK ORANG CACAT, MEMBUNUH ANAK CACAT DAN ORSNG DEWASA CACAT YANG DIBESARKAN DI TEMPAT TERSEMBUNYI. BERES SEMUA.

LALU SUPARMAN MENGGUNAKAN BAJU PENINGGALAN SUPERMAN.

EPISODE 05

PENJAHAT HABIS. SUPARMAN HANYA KELILING KOTA SEPERTI SELEBRITIS ATAU ELIT POLITIK. TIDAK ADA KEJAHATAN. SUPARMAN MENJADI SUPERMAN YANG TIDAK BISA TERBANG. IA TAPI LEBIH KUAT DARI YANG DULU. SUPERMAN YANG DULU PUNYA KELEMAHAN BATU KRIPTON. SUPARMAN TIDAK. TIDAK DIKETAHUI KELEMAHANNYA. MAKA PENJAHAT HABIS PIKIR BUAT MENGALAHKAN.

SUPARMAN LALU PERGI KE SUKU PEDALAMAN DI RIMBA RAYA DAN GUNUNG BERSALJU UNTUK MELAKUKAN PENYULUHAN TENTANG ORANG CACAT. AGAR PANDANGAN MEREKA BENAR DAN SIKAP MEREKA LURUS DALAM MENYIKAPI KEJADIAN KELAHIRAN BAYI CACAT.

TETAPI. BANYAK MUSUH BARU DI RIMBA RAYA DAN GUNUNG BERSALJU. DISITU SUPARMAN MENDAPAT PETUALANGAN BARU.

SEMENTARA ITU KARENA SUPERMAN TIDAK ADA. PENJAHAT DI KOTA BERULAH KEMBALI.

EPISODE 06

SUPARMAN MENJELASKAN KEPADA SUKU PEDALAMAN BAHWA PANDANGAN KEILMUAN ITU ADALAH WAJIB SEBAB BILA PANDANGAN KLENIK DIGUNAKAN AKAN MEMBAWA KESESATAN. PANDANGAN KEILMUAN DINAMAKAN PANDANGAN OBJEKTIF SEDANG PANDANGAN KLENIK DISEBUT PANDANGAN SUBJEKTIF. MAKA ORANG MODERN HARUS BERPANDANGAN OBJEKTIF. SUPARMAN MENGATAKAN IA DATANG BUKAN UNTUK MENJADI TARZAN DI BELANTARA HUTAN DAN TINGGINYA PEGUNUNGAN. IA HANYA INGIN MEMBERI PANGAJARAN. ILMU PENGETAHUAN SANGATLAH BERGUNA. TUNTUTLAH ILMU SETINGGI MUNGKIN.

SUKU PEDALAMAN GERAM. TIDAK SUKA BAHASA KEILMUAN. SUPARMAN MENJELASKAN BAHWA BAYI KEPALA BESAR ITU HIDRO SEPALUS BUKAN ANAK IBLIS YANG HARUS DIBUNUH. SAMA DENGAN BAYI CACAT FISIK LAINNYA. BUKAN PRODUK RIJEK IBARAT HAPE RUSAK SALAH PASANG DALEMAN. TIDAK BEGITU.

SUKU PEDALAMAN MARAH. "KAMI TAHU KAMI DICIPTAKAN!! KAMI TAHU TUHAN. BAYI CACAT HASIL IBLIS. KARYA IBLIS. MERUSAK. JELMAAN IBLIS!!" KATA SUKU PEDALAMAN.

"ITU SUBJEKTIF. ASUMSI BELAKA. MENURUT ILMU KEDOKTERAN MODERN ITU HIDRO SEPALUS. BISA DIBUKTIKAN. ITULAH PENDAPAT OBJEKTIF." KATA SUPARMAN.

"PERGI!! PERGI!!" SUKU PEDALAMAN TIDAK SUKA BAHASA KEILMUAN.

"PANDANGAN KALIAN SESAT. BILA KALIAN MAU TAHU, PANDANGAN TENTANG TUHAN YANG OBJEKTIF ILMIAH HARUS MELALUI TAHAP PENGENALAN YANG DISEBUT MA'RIFATULLAH. ILMU MA'RIFAT ILMU MENGENAL ALLAH." KATA SUPARMAN.

"APA ITU ALLAH? SIAPA ALLAH ITU? APAKAH SEPERTIMU ATAU SEPERTI KAMI??!!" KATA KETUA SUKU PEDALAMAN.

"TIDAK SEPERTI APAPUN." KATA SUPARMAN.

"TIDAK SEPERTI SIAPAPUN." LANJUT SUPARMAN.

"PANDANGAN SETAN! TUHAN APA ITU ALLAH!" KATA SUKU PEDALAMAN.

"KAMI PERCAYA TUHAN KAMI. ITU SUDAH CUKUP. KAMI TIDAK SUKA BAHASA KEILMUAN. PERGI!" KATA SUKU PEDALAMAN.

SUPARMAN MARAH MELOMPAT MENDEKATI HUTAN POHON BESAR LALU MENGAMUK. POHON BERTUMBANGAN. SUKU PEDALAMAN KETAKUTAN. MAU LARI TAPI TIDAK JADI. SUPARMAN BALIK KEMBALI NGOS-NGOSAN. CAPEK. CAPE DEEEEEH.

"PANDANGAN KALIAN TENTANG TUHAN SANGAT SESAT DAN TERUS MENYESATKAN!! PANTAS SIKAP KALIAN BEGITU BURUK. LEBIH BURUK DARI BURUK. KEJI!! ANAK KALIAN YANG CACAT YANG KALIAN ANGGAP HINA ITU KARENA KESESATAN KALIAN. SIKAPI DENGAN KEBIJAKSANAAN. SAYANGI SEHARUSNYA!! KALIAN LEMPARKAN KE ANJING-ANJING KELAPARAN. BACA BUKU!!!! PUNYA BUKU TIDAK!!!!" SUPARMAN MARAH.

"KAU MAU MENGENALKAN TUHANMU? KENALAN DULU DENGAN TUHAN KAMI. NAMANYA OE OE TEKDUNG. PATUNG TUHAN KAMI DIBUAT DARI KAYU TERTUA DI HUTAN INI. JANGAN MARAH. MARAHMU MERUSAK HUTAN KAMI." KATA SUKU PEDALAMAN.

"TUHAN ITU ALLAH. BUKAN OE OE TEKDUNG." KATA SUPARMAN. AMARAHNYA MEREDA.

"ITULAH PANDANGAN YANG BENAR." KATA KETUA SUKU PEDALAMAN.

"KETUA GOBLOK. BARU SEGITU SUDAH MENYERAH. LAWAN DULU ARGUMENTASINYA. KITA PUNYA TUHAN BERNAMA OE OE TEKDUNG." KATA WAKIL KETUA SUKU PEDALAMAN.

EPISODE 07

Suparman marah luar biasa dan semakin ingin mengamuk karena geram kepada wakil ketua suku pedalaman. Ia hampur kalap karena ada yang melemparnya dengan panah. Mengenai tangan besinya.

Ia mengepal lalu meninju pohon besar hingga tumbang. Ia berteriak: "ini bukan tangan kaleng-kaleng!!!"

"Kalian akan dihancurkan dengan kekuatanku dan amarahku!!" Kata Suparman.

Tiba-tiba terdengar teriakan.

AUO.. UO.. AUO... UO....

TARZAN datang. Ternyata Tarzan datang.

"Sabar, Suparman. Kalau kau habisi mereka. Kau gagal. Mau kepada siapa kau bicara. Kepada kera? Aku disini lebih dulu. Dan aku menghargai Tuhan mereka itu yaitu OE OE TEKDUNG. Jangan marah Suparman. Gara-gara marahmu banyak pohon tumbang dan aku tidak bisa bergelantungan di sulur-sulur yang membuatku terlambat ini. Aku jalan kaki ini. Gaara-gara marahmu lho aku jalan." Kata Tarzan.

EPISODE 08

Waktu terasa hening. Tapi sebentar saja heningnya.

Suparman tak sadar hampir semua pohon tumbang. Kasihan Tarzan jalan kaki, tak bisa melompati pepohonan berayun-ayun di sulur-sulurnya.

Suparman malu sama Tarzan akhirnya.

EPISODE 09

Suparman mendapat maaf dari Tarzan. Lalu bercerita panjang lebar.

"Aku minta maaf benar-benar dan semoga dimaafkan benar-benar. Kau tahu itu. Apalagi Tuhan. Allah tahu aku tidak mau banyak buat kesalahan." Kata Suparman.

"Bagus harus gitu. Jangan sama seperti manusia pedalaman. Aku Tarzan, lebih maju dari mereka walaupun pakaianku sama seperti mereka. Maksudku semacam celana rombeng kulit hewan ini. Tentu saja aku tak berpakaian. Tarzan namanya juga." Kata Tarzan.

"Cara pandang mereka tidak benar. Entah dari sudut pandang apa sampai hati membuang bayi cacat sebab percaya itu bayi iblis membawa kutukan." Kata Suparman.

"Yang jelas sudut pandang mereka subjektif. Berdasarkan kepercayaan turun temurun. Kau melihat mereka pun harus dengan sudut pandang objektif. Mereka belum mengenal ilmu. Kau sudah. Aku sudah. Karena kita lebih modern dalam cara pandang. Itu juga setelah aku diajari oleh Jane atau Jeni. Semua orang diajari dulu baru dia bisa. Kau pun diajari orang lain baru tahu setelah diajari, bukan?" Kata Tarzan.

"Tak apa lah aku marah. Itu pepohonan bisa ditanam lagi." Kata Suparman.

"Betul juga. Mereka akan lebih paham. Selama hidup mereka tidak pernah nanam pohon. Makanya di sembah. Pohon tertua sering diambil kayunya dan dijadikan patung. Mereka tidak tahu kalau OE OE TEKDUNG itu ciptaan pikiran mereka sendiri. Pohon tetaplah pohon. Memang udara dari dedaunan yang menghasilkan oksigen. Kita bergantung pada oksigen. Tapi Allah yang menciptakan pohon itu." Kata Tarzan.

"Aku tertipu cara berpakaianmu. Smart sekali kamu Tarzan." Kata Suparman.

"Sudah kubilang pakaianku boleh sama dengan suku pedalaman tapi cara pandangku lebih maju." Kata Tarzan.

Tiba-tiba ada anak panah melesat ke arah mereka lalu ditangkap oleh Suparman. Ada provokator suku pedalaman melempar anak panah. Lau berkatalah provokator itu yang tak lain wakil ketua suku pedalaman. "Jangan ajari kami soal cara pandang!"

Suparman mematahkan anak panah yang ditangkapnya. Lalu berkata: "Allah melihat perbuatan kalian. Perbuatan kalian jahat!" Kata Suparman.

"Tuhanmu punya mata? Bisa lihat kami?" Kata wakil kepala suku pedalaman.

"Itulah kenapa orang harus punya pandangan yang benar tentang Tuhan. Tuhan tidak kelihatan. Allah itu tidak kelihatan tapi melihat kita." Kata Suparman.

"HAHAHA... semua tertawa menertawakanmu Suparman." Kata Tarzan.

"Hantu itu namanya bukan Tuhan." Kata suku pedalaman.

"Kalian harus punya pandangan yang benar tentang Tuhan. Kalian harus mengenal Tuhan." Kata Suparman.

"Kenapa Tuhanmu tidak datang sendiri ke tempat kami. Kenapa harus kamu yang mengenalkan?" Kata semua suku pedalaman dan semua tertawa.

Suparman marah dan ia mendekati yang berkata itu, satu persatu ditatap. Lalu ia memukul wakil ketua suku pedalaman. Terpentallah wakil ketua itu dan mati. Semua suku pedalaman panik dan kabur dari Suparman. Tarzan diam saja.

Tarzan berniat pergi meninggalkan Suparman. Diam sebentar lagi melihat Suparman menangis. Lalu Tarzan berkata: "Kau bukan Tuhan, kenapa kau ambil nyawa wakil ketua suku pedalaman itu?" Kata Tarzan. Lalu Tarzan pergi jalan kaki.

"Kalau butuh bantuan hubungi aku, kata Tarzan." Ia jalan kaki semakin jauh saja.

EPISODE 10

Tiba-tiba Suparman dikagetkan oleh sesuatu. Ia berhenti menangis. Ia melihat seketika ada pintu di depannya. Ia terjengkang ke belakang setengah takut sedang pintu perlahan terbuka.

Dan...

EPISODE 11

Pintu ajaib itu terbuka. Dan muncullah anak-anak dan kucing biru bundar. Wah, ternyata Nobita dan Doraemon salah main pintu ajaib. Mereka minta maaf pada Suparman dan balik lagi masuk ke pintu ajaib.

EPISODE 12

Suparman lupa kalau dia superhuman. Lalu dia mengejar semua penduduk suku yang lari tadi. Ingat juga kalau dia si superhuman. Semua penduduk suku pedalaman diikat di pohon-pohon. Tak bisa melawan itu semua.

"Lepaskan kami, Suparman setan!" Kata mereka berteriak bersautan.

"Mintalah tolong pada OE OE TEKDUNG. Hayo minta tolong saja. Aku yakin OE OE TEKDUNG tidak akan menolong kalian." Kata Suparman.

"Kau pun bisa kami ikat. Dan kami suruh Allah menolongmu dan Allah tidak akan datang menolongmu!" Kata ketua suku pedalaman.

"Oh, begitu. Betul juga. Tuhan menolong itu bukan begitu msksudnya. Aku minta maaf, ya..." Kata Suparman.

"Ya kami maafkan. Lepaskan ikatan tali kami ini. Bisa mati kami diikat begini." Kata suku pedalaman.

"Syaratnya harus dipenuhi dulu. Baru aku setuju lepas. Tanam pohon untuk setiap yang sudah ditebang." Kata Suparman.

"Ya, kami setuju." Kata suku pedalaman.

Tiba-tiba ada yang marah. Bukan suku pedalaman. Tapi si raksasa hijau. Apakah Hulk?

Si raksasa hijau mengamuk. Penduduk suku pedalaman ketakutan. "Ada OE OE TEKDUNG!!!" Kata semua.

Superhuman langsung mendekati raksasa hijau itu dan berkelahi. Lalu kalah itu si raksasa hijau. Tambah rusak itu hutan. Lalu Tarzan datang terlambat. Karena jalan kaki. Maksud mau mendamaikan tapu ga jadi. Si raksasa hijau kalah.

"Hey, Suparman dia itu Buto Ijo. Yang disebut OE OE TEKDUNG. Dikasih tahu namanya Buto Ijo juga tetap akan mereka panggil OE OE TEKDUNG." Kata Tarzan.

"Oh, gitu." Kata superhuman. Suparman si superhuman.

"Aku gagal mendapatkan Timun Mas. Aku marah. Lalau besi kaleng ini tiba-tiba mengajak berkelahi." Kata Buto Ijo.

"Timun mas ga dapet ya gapapa.. masih ada timun perak dan perunggu.." Kata Suparman.

Tarzan tertawa terbahak.

"Timun mas, Woy. Timun mas. Itu ga ada timun perak dan timun perunggu. Hahaha." Kata tarzan.

Melihat OE OE TEKDUNG kalah. Suku pedalaman menganggap Suparman itu Tuhan.

"Tuhan Suparman sudah datang. Tuhan Suparman datang!" Kata suku pedalaman.

Suparman geleng-geleng kepala. Tarzan manggut-manggut.

Pusing deh Buto Ijo.

EPISODE 13

Suparman terus saja dipanggil Tuhan Suparman oleh suku pedalaman. Pusing jadinya. Lalu Suparman kembali ke kota untuk ngedugem. Leng geleng geleng geleng geleng.. leng geleng geleng geleng.. anak dugem.

Tarzan ikut Suparman ke kota jadi anak metal, rocker, guk angguk angguk angguk guk.. guk angguk angguk angguk.. anak metal. Gut manggut manggut manggut manggut.. gut manggut manggut manggut. Anak metal. Rocker. Yeaaah.

Lagu project pop menjadi back sound mereka saat stres menghadapi sikap bodoh suku pedalaman.

EPISODE 14

Suparman dan Tarzan kembali ke pedalaman hutan dengan semangat baru.
Suparman tidak mabuk di tempat dugem. Suparman memesan es jeruk dan sirop. Main dije. Menghilangkan stress.

Kembali ke pedalaman Suparman bersikap lebih sabar walau dipanggil Tuhan Suparman. Ia tidak marah. Tarzan dipanggil suku pedalaman sebagai wakil Tuhan. Manusia pedalaman yang aneh. Tarzan tidak mau marah. Sama akhirnya memilih bersikap lebih sabar agar pandangan tentang Tuhan suku pedalaman berubah. Mengajari suku pedalaman tentang Tuhan itu susah. Mengubah pandangan primitif mereka memang susah.

Ma'rifat itu ilmu mengenalkan Allah kepada orang yang belum memahami Allah itu Tuhan seperti bagaimana. Banyak orang salah memahami Tuhan tetapi mereka merasa dekat dengan Tuhan. Suparman juga belum paham benar bagaimana menerangkan Tuhan yang ghaib yang tidak kelihatan.

EPISODE 15

Suparman mengumpulkan perempuan suku pedalaman. "Dada kalian harus tertutup. Pandangan primitif kalian yang menyebabkan kalian memiliki penilaian yang salah bahwa tak menutup dada tidak perlu dan tidak apa-apa. Pandangan kalian harus diperbaiki dengan pandangan modern bahwa dada harus ditutupi. Agar lebih steril untuk bayi kalian. Dan itu adalah pandangan yang benar. Itu perintah Tuhan. Perintah Allah." Kata Suparman.

"Kapan kau bertemu Allah dan Dia menitipkan pesan itu padamu. Kenapa Dia tidak berbicara langsung kepada kami?" Tanya perempuan pedalaman.

"Pesan Allah tertulis di kitab Alquran. Itu berisi perkataan Allah. Memuat petunjuk atau pedoman hidup. Bila kalian membacanya kalian akan memiliki pandangan tentang Tuhan secara benar dan memiliki penilaian terhadap apa yang baik dan buruk dalam kehidupan kalian. Lalu kalian akan lebih mampu memilih sikap yang positif dalam menghadapi persoalan hidup kalian. Kalian akan menuntut ilmu jadinya. Iman tanpa ilmu adalah kosong." Kata Suparman.

"Ooooh..." Kata semua perempuan suku pedalaman.

"Kalian mengerti....?" Kata Suparman bertanya.

"Tidaaaaak." Jawab mereka.

Suparman diam. Lalu meneteskan airmata.

Ternyata ada yang sedang mengiris bawang merah mau masak.

EPISODE 16

Suparman didatangi Tarzan menjelaskan kenapa Suparman disebut Tuhan.

"Hey, Suparman. Mereka itu menghargai kata-katamu. Mereka mengira kau merendah dan tak ingin bilang itu kata-katamu. Kau selalu bilang kata Allah begini dan begitu. Mereka tidak paham Tuhan tidak kelihatan. Makanya kau dipanggil Tuhan. Mereka mengira Allah itu semacam karanganmu saja agar kata-katamu dianggap kata-kata Allah. Seperti begini, aku Tarzan bilang ke mereka kata Suparman kalian harus potong kuku. Padahal aku yang bilang tapi kubilang kata Suparman. Semacam gitu." Kata Tarzan.

"Itu namanya catut nama, dong." Kata Suparman.

"Haha. Begitulah pikiran primitif, bung." Kata Tarzan.

Lalu Suparman menyuruh perempuan pedalaman yang mengiris bawang untuk pergi masak.

"Hey, kamu. Masak sana. Jangan iris bawang disini." Kata Suparman.

Lalu, Tarzan ditangkap dan mau dimasak. Lalu Suparman menahan dan melepaskan Tarzan dari tangkapan.

"Tidak boleh makan orang. Pandangan sesat. Makan orang itu kanibalisme. Tidak boleh." Kata Suparman.

"Kami cuma akting. Prank. Tarzan ngajarin ngeprank ke kami. Hahaha." Kata semuanya.

Suparman ketawa.

Suparman tambah ketawa lagi lihat gorila lewat pake sarung. Hahaha.

"Dulu, ada ustad kesini. Kami makan. Sarungnya itu dipakai gorila. Hahaha." Kata suku pedalaman. Semua tertawa kecuali Suparman.

EPISODE 17

Suparman ingin menjelaskan tentang Tuhan yang tidak kelihatan kepada suku pedalaman dengan menceritakan sebuah cerita dari nusantara, bergaya filsafat. Cerita itu dibikin 2014 lalu. Mohon disimak.

Suparman bercerita sebuah cerita karangan yang berbobot kepada suku pedalaman. Cerita itu berjudul, AKU DAN NELAYAN PESISIR PULAU BIRU.

Seorang nelayan mengajakku berkeliling sekitar pulau biru. Beliau ingin menunjukanku lokasi penyelaman yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Nelayan:"Sore ini langit sedang cerah. Apa yang kau lihat?"

Aku:"Matahari, langit biru dan awan putih."

Tak berapa lama hujan pun turun...

Nelayan:"Sekarang apa yg kau lihat?"

Aku:"Langit gelap."

Nelayan:"Matahari kemana?"

Aku:"Tak kemana."

Nelayan:"Hilang atau tertutupi awan?"

Aku:"Tertutupi."

Dan malam menjelang...

Nelayan:"Malam ini langit sangat cerah. Apa yg kau lihat?"

Aku:"Bulan dan bintang."

Tak berapa lama hujan turun lagi...

Nelayan:"Sekarang apa yg kau lihat?"

Aku:"Langit pekat."

Nelayan:"Bulan dan bintang kemana?"

Aku:"Tak kemana."

Nelayan:"Hilang atau tertutupi?"

Aku:"Tertutupi."

Nelayan:"Apa artinya semua itu untukmu?"

Aku:"Tak berarti apa-apa."

Nelayan:"Hahaha. Sesuatu itu akan berarti bila kau menganggapnya berarti. Begitupun sebaliknya."

Aku:"Apa maksudnya?"

Nelayan:"Esensi. Apa yg tak kau lihat bukan berarti tidak ada. Jadilah pengamat yg baik. Karena Dia Sang Pencipta segala mengamati kita."

Nelayan menghentikan perahu...

Nelayan:"Kita sudah sampai. Disinilah tempatnya. Persiapan menyelammu sudah siap?"

Aku:"Sudah."

Nelayan:"Ingat, oksigenmu memiliki batas waktu. Bila sudah menipis segeralah naik ke permukaan. Kita lanjut esok hari."

Aku:"Oke. Tapi tunggu dulu, ada satu pertanyaan lagi. Sesuatu yg tak kau lihat bukan berarti tidak ada. Apakah itu juga bermakna sebaliknya? Apakah yg kita lihat jg belum tentu ada?"

Nelayan:"(Tersenyum) Ya, fatamorgana. Fatamorgana kehidupan."

Aku:"(Mengangguk sambil balas tersenyum).

Nelayan:"Hakikat dunia, anak muda. Apa kau bisa membedakan mana yg fatamorgana dan mana yg bukan?'

Aku:"Belum."

Nelayan:"Belajarlah."

Aku mengangguk bersemangat sambil mengangkat dua jempil eh jempul eeeeh jempol. Dua jempol. Dan...

BYURZZZ!!!!

KECEBUR...

EH NYEBUR... BASAH DEH...

Aku memulai menyelam.

Nelayan:"(Teriak) Nak, lampumu ketinggalan!!"

Tak berapa lama aku naik lagi ke permukaan. Lalu melambaikan tangan. Nelayan itu kemudian melemparkan lampu kepadaku. Tamat.

#3 SEVEN DAYS BEFORE

Scene 01

26 DESEMBER 2004.

Bumi bergetar. Langit gundah gulana menunggu sesuatu yang hendak mengejar. Awan telah tahu yang hendak mengejar itu namun enggan sesumbar sementara sebagian anak manusia mampu melihat akan ada banyak manusia lain yg akan terkapar sembarang tergeletak menggelar siaran berita gempar.

Gempa usai dan angin menampar raga setiap yang tak diam yang iri pada camar. Angin menampar raga menusuk-nusuk hidung menyebar aroma tak sedap yang membuat semua rasa menjadi hambar. Apa yang berubah seketika adalah suasana hati yang dirasa bagai terlempar.

Oh, apa gerangan? Siapa yang berkehendak? Mengapa terjadi? Begitu hati bertanya gencar.

Seperti kemarin waktu bergulir namun suasana tak sama dirasa mengikuti pikiran liar. Siapa sangka kesedihan akan menghiasi mereka yang mendapat luka bukan memar. Ya, terluka karena kehilangan saudara yang tersamar. Tersamar dalam senyum dan tawa palsu yang menipu besar. Dan akhirnya, teriakku dalam diam bak gelegar halilintar yang tak terdengar dan didengar.

Dan akhirnya, setelah ombak tinggi menyapu daratan tak henti mengejar; keesokan harinya, dari hari ke hari, manusia bijaksana terus belajar dan mampu belajar. Belajar akan kuasa-Nya yang maha segala di atas mahluk-Nya yang paling pintar. Mengingatkan mahluknya akan ajar. Agar berani dan tak gentar. Tak gentar melawan kebodohan yang cemar.

Dan akhirnya, manusia bijaksana mampu belajar; bila kebodohan adalah sesuatu yang cemar bisa dipastikan kesombongan adalah baunya yang tak segar. Maka pantaslah kerendah hatian itu nyatanya mewangi seharum mawar. Dan kata-kata buruk tak harus diujar.

Scene 02

19 DESEMBER 2004

"Serbuuu!"

Teriakanku disambut gelegar halilintar. Kilat-kilat petir disela-sela awan hitam menggambarkan percikan dari pedang-pedang yang beradu di bawah hujan. Dan pasukanku menebas, terus menyincang, tak henti menusuk, bebas membantai mahluk-mahluk demit itu yang semakin gentar.

Tak butuh waktu lama semua musuh sudah binasa. Aku sukses hari ini namun tak berbangga sebab esok belum pasti adanya. Mahluk-mahluk cahaya pun kembali terbang meninggi dan menghilang meski tinggal sebagian. Pasukan kegelapan menghabisi separuhnya namun tak sia-sia. Tak sia-sia mahluk bercahaya membantuku melawan pasukan kegelapan itu meski mereka harus gugur dan menjadi tiada. Mahluk-mahluk demit mengabu terbakar dan berita kemenangan kami pun tersebar.

Aku menoleh ke arah 'dinding waktu' dekat mulut gua tampak berubah-ubah, maka aku segera berlari, meloncat, berlari, meloncat, berlari menabrakkan diri ke 'dinding waktu' itu agar keluar dari dimensi lain ini menuju dimensi duniaku. Ternyata telat dan aku terjatuh kesakitan di pinggir kanan depan mulut gua itu. Lalu, keluarlah dari mulut gua seorang perempuan mahluk bercahaya penunggu gua yang mirip Laudya Cinthia Bella. Mirip benar tak bisa ditawar.

"Sudah kuduga. Kau akan telat dan pintu dimensi tertutup sebelum kau bisa menembusnya. Ikuti aku, kutunjukan jalan lain." Kata perempuan mahluk bercahaya itu memintaku mengikutinya menuju jalan keluar.

"Memangnya harus sambil berlari menabrakan diri ke dinding terus? Kalau waktunya tak pas bisa remuk badan ini menabrak dinding batu!" Kataku sambil mengerang kesakitan. Lalu aku mengikutinya ke dalam gua degan wajah yang sangar penuh memar.

"Kami tidak menyukaimu. Tapi keputusan sudah dibuat bahwa kami harus mau dipimpin oleh orang aneh sepertimu. Sebagian dari kami menganggap kepemimpinanmu adalah awal dari kehancuran pasukan bercahaya. Mereka memberontak sebab tak setuju dengan keputusan yang sudah dibuat. Aku sebetulnya juga ragu padamu. Kau terlalu sering menggerutu. Itu buksn tipikal pemimpin yang baik." Katanya panjang lebar.

"Aku bisa sehitam kegelapan namun bisa seterang cahaya pula. Mungkin kelak aku bisa memusuhimu tapi sekarang aku adalah pemimpinmu dan juga kawanmu. Jadi sekarang jangan bicara sembarangan. Kelak, bila aku sehitam kegelapan dan menjadi musuhmu maka terangi aku agar aku mengingat kembali terangnya cahaya itu. Sinar itu. Dan aku akan kembali seterang cahaya lagi yang bahkan akan lebih terang dari cahayamu." Kataku padanya dengan tegas tanpa panjang lebar padahal panjang lebar.

Perempuan mahluk bercahaya itu tersenyum dan terus berjalan menuju 'dinding waktu' dimensi. Setelahnya sampai di 'dinding waktu' itu ia berpesan:

"Hari ini kita menang dan aku menyebutmu pemimpin sejati. Besok bila kita kalah, kau tetap pemimpin sejati. Namun bila lusa kalah lagi, kau bukan pemimpin sejati." Begitulah ia berpesan. Dan aku kembali ke duniaku dan tetap hidup wajar.

Di duniaku tentu saja aku bukan siapa-siapa dan menjadi manusia biasa yang tak berjiwa pemimpin, tak dewasa sebab kekanakan, dan tampak tak memiliki masa depan. Sangat menyedihkan hidup seumpama pecundang yang tak pernah memenangkan sesuatu apapun. Aku tidak suka berkompetisi. Itulah yang menyebabkan aku tak pernah memenangkan apapun. Menang lomba chef masakan tidak, menang balap motor tidak. Menang tinju tidak. Menang balap mobil tidak. Menang lomba nyanyi tidak. Karena memang tidak ikut kompetisi apapun. Aku memang tidak suka berkompetisi. Aku tidak pernah merasa punya kompetitor. Bahkan saat pedekate lawan jenis pun aku akan mengalah bila ada orang lain pedekate. Silahkan dekati dan aku pergi. Aku tak suka berkompetisi. Aku bukan pemenang bukan pula pecundang. Hanya dianggao pecundang. Dan parahnya banyak yang menganggapku begitu. Jadi, bukan salahku bila aku disebut pecundang. Dan itulah kehidupanku yang wajar. Wajar tetapi tidak wajar.

Scene 03

20 DESEMBER 2004

Aku tidur maka aku bermimpi maka aku ada.

Aku berada di dunia mimpi dengan raga yang lain. Aku menjadi seseorang berseragam tempur dengan beberapa luka dalam yang berada di tengah-tengah pertempuran. Aku disebut komandan oleh orang-orang yang ketakutan di sekelilingku. Mereka rupanya anak buahku. Prajurit-prajurit ini ketakutan teramat sangat tersudutkan. Kami dihujani tembakan. Kami menyerah setelah bendera putih berkibar. Kami gentar.

Deru peluru berhenti. Hening agak lama berganti suara derap langkah sepatu yang beradu dengan debu dan batu. Mereka semakin mendekat dan kami berharap diampuni. Ternyata mereka musuh berhati sekeras batu. Mereka memberondong semua prajuritku di depanku lalu membawaku. Aku berteriak-teriak memaki dan mengutuki mereka yang menyeretku sepanjang 200 meter. Aku membawa meteran dan mengukurnya. Ini cerita komedi jadi wajar walaupun sebetulnya bukan komedi namun tetap cerita lucu yang wajar. Dan kata-kata buruk tak harus diujar.

Aku disiksa lalu ditawan.

Aku dikurung bersama seorang sandera perempuan mirip Laudya Chintia Bella yang jadi mahluk cahaya penghuni gua itu. Pakaian sudah pasti compang-camping, robek-robek. Lalu seragamku yang belum sobek sengaja kusobek. "Kita sama tercabik-cabik. Kita adalah hewan buruan dan mereka hewan pemangsa yang akan mencabik-cabik kita." Kataku padanya.

"Kau komandan yang akan menyelamatkan aku, ya? Seperti Rambo?" Tanya perempuan itu.

"Oh, tidak. Jangan. Jangan aku. Aku tidak siap disiksa. Kau harus berpikir realistis. Bagaimana mungkin aku bisa menolongmu sedang aku sendiri butuh pertolongan?" Kataku menangis karena luka. Perih sekali luka tembak dan luka sayat bercampur dengan luka hati ditolak cinta. Aku si komandan yang putus hubungan dengan perempuan yang tidak ada status hubungan. Hate-es gitu. Ceritanya perempuan itu milih prajuritnya yang sudah meninggal sebab diberondong peluru padahal sudah menyerah. Aku menangis si komandan menangis.

Perempuan sandera yang ditawan bersamaku berbicara seperti seorang motivator. Dengan tenang ia berkata: "Jadilah yang kuat, larilah ke hutan, pecahkan gelas-gelas kaca, ku akan ikut lari ke hutan, lalu berlarilah sekencang mungkin menabrakan diri ke 'dinding waktu' sebelah kanan mulut gua. Jadilah kuat, pemimpinku."

Lalu aku jadi seperti pasukan kegelapan yang berhati terang seterang cahaya lebih terang dari mahluk cahaya. Aku menjadi monster yang besar tetapi baik hati. Aku ditunggangi perempuan sandera tawanan berhasil kabur dan lolos dari kejaran dan pergi ke hutan dan menabrakan diri ke 'dinding waktu' sebelah kanan mulut gua.

Jreng jreng!!!

Eng ing eng!!!

Aku terjatuh dari langit bersama perempuan bersayap mirip peri berwajah seperti Laudya Chintia Bella. Dia berteriak mengingatkan:"Peter!! Peter pan!! Terbang!! Terbang!! Kau bisa terbang!! Kau ingat film kartun Peter Pan!! Terbang!!"

Kujawab berteriak juga:"Ku dapat melukis langit!! Ku dapat hitamkan pelangi!! Buka dulu topengmu!! Buka dulu topengmu!! Pernah ku merasa angkuh!! Terbangkan anganku jauh!! Langit kan menangkapku walau kuterjatuh!!"

"Wah, kau memang orang gila. Hahaha." Kata perempuan itu.

Lalu aku terbang bersamanya ke tengah lautan. Kami memasuki alam aqua. Perempuan itu jadi little mermaid si putri duyung dan aku jadi putra duyung. Kami bersama pasukan bercahaya melawan pasukan kegelapan bawah laut di palung dan lembah laut. Dimanapun di bawah kegelapan laut. Kami menang bersisa belasan saja dari yang tadinya ribuan. Perempuan itu bilang:"Hari ini kita menang karena itulah kau kusebut pemimpin sejati. Bila esok kalah kau tetap pemimpin sejati. Bila lusa kalah lagi maka kau adalah musuh sejati. Lawanku. Kau harus mati ditanganku bila jadi lawanku."

"Wah, kau lupa. Bila kini aku kawanmu maka esok bisa jadi sebagai lawanmu. Saat kau jadi lawanku kelak, ingatkan aku pernah jadi kawanmu agar aku bisa menjadi kawan yang lebih kawan darimu. Aku bisa memperlakukanmu sebagai kawan melebihi perlakuanmu kepada kawanmu. Jadi jangan bunuh aku bila besok kalah dan lusa kalah lagi. Begitu." Kataku.

"Kau ini tidak punya taktik apa-apa, tidak punya strategi apa-apa, aku yang berpikir. Kau yang jadi pemimpin dan kau yang dapat pujian. Aku tidak iri. Hanya heran saja." Katanya sambil menangis.

"Kau itu penasihat. Penasihat harus berpikir. Kau dapat pujian juga tapi tidak ada yang bilang. Tidak usah risau." Kataku.

"Dimana kau punya hati!" Katanya marah.

"Di dada. Dimana kau punya mata?" Tanyaku.

"Dadar orang gila! Eh, dasar orang gila!" Katanya.

"Iya. Aku orang gila. 'Dinding waktu' sudah kelihatan berubah-ubah di permukaan laut. Terimakasih. Besok aku akan kalah. Dan lusa akan kalah juga. Jadi aku tidak akan datang. Kau, cari pemimpinmu sendiri untuk besok dan lusa. Bila tak ada selainku kau dapat, angkatlah dirimu sendiri jadi pemimpin." Kataku.

"Keputusan sudah dibuat. Aku hanya menuruti perintah. Bila kau tahu pemberontak yang bergabung dengan pasukan kegelapan itu tentu tak sama denganku. Mereka senang melihatmu gagal dan akan membuatmu gagal. Aku tidak seperti mereka. Aku ingin kau tidak gagal dan tidak akan membuatmu gagal." Katanya.

"Aku tidak mendengarnya. Simpan saja kata-katamu di hatimu. Itu kalimat dari hati maka simpan dihatimu. Aku tak mendengarnya. Aku akan melupakan kata-katamu itu. Kemenanganku terlalu mudah. Aku takut ini semua jebakan. Aku takut ini kemenangan palsu yang semu." Kataku.

"Sampai jumpa besok." Katanya. Dan aku tidak balas salam perpisahan itu.

Aku ke 'dinding waktu' permukaan laut dan muncul di hutan lalu berlari menabrakan diri ke 'dinding waktu' sebelah kanan mulut gua. Dan telat lagi. Aku terjatuh kesakitan dan terus meringis. Maka keluarlah perempuan mahluk cahaya penghuni gua itu. Berkata-kata seperti kemarin menuntunku kedalam gua menuju jalan lain 'dinding waktu'.

Scene 04

21 DESEMBER 2004

Ceritanya itu ku tak tidur maka ku tak mimpi maka ku tak ada. Ku tak datang.

22 DESEMBER 2004

Ceritanya itu ku tak tidur maka ku tak mimpi maka ku tak ada. Ku tak datang.

23 DESEMBER 2004

Aku datang. Aku tidur maka aku mimpi maka aku ada.

Pasukan bercahaya hampir habis. Kalah telak separuh menangis. Perempuan seperti Laudya Chintia Bella itu meninggal gugur di medan laga, sebelum ku tiba.

Ku cari ia tak ku temui. Dimana ia, entah dimana. Hilang jasadnya.

Ia meninggal disiksa pasukan kegelapan dan pemimpin kegelapan mengalahkan pasukanku dengan mudah setelahnya. Tentu sebelum ku tiba.

Ku cari ia, dimana ia, entah dimana.

24 DESEMBER 2004

Aku tidur maka aku mimpi maka aku ada. Yah, pasrah deh. Kalah lagi, deh.

25 DESEMBER 2004

AKU BERPIKIR MAKA AKU ADA. Itu orang lain.

Aku mimpi maka aku tidur. Eh, aku tidur maka aku mimpi maka aku ada. Itu aku.

Aku berperang melawannya tanpa gentar dan terus menyudutkannya hingga ia mundur lagi dan terus mundur lagi dan hampir kalah.

Tapi keadaan mulai berbalik.

Lalu, pemimpin kegelapan berhadapan denganku, ia mengajakku berduel. Topengnya dibuka.

Tampaklah itu rupa si pemimpin kegelapan. Rambutnya terurai disapu angin kegelapan.

Ternyata mirip Laudya Chintia Bella yang yang di scene 02 itu, yang jadi pembimbing dan penunjuk arahku untuk masuk dan keluar. Orang yang ku cari ia, dimana ia, entah di mana?!

Wah, aku kaget. Ternyata?!

Ternyata...

Yach, kalah dech...

Ya, kalah aja lah...

Ya, udah deh tamat ceritanya.

Ku mati, ku bangun tidur ku tak mimpi ku tak ada.

Aku bangun dan lupa mandi dan gosok gigi. Ku pun lupa tolong ibu membersihkan tempat tidurku.

Lalu, aku memanjatkan do'a minta jodoh:

"YA ALLAH AKU MINTA JODOH YANG GA CANTIK DAN GA KAYA DAN GA SOLEHAH DAN GA BAIK."

Lalu ada yang bertanya: "KOK DOANYA GITU?!"

Ku jawab: "ALLAH TIDAK AKAN MEMBERIKAN APA YANG KAU MINTA TAPI AKAN MEMBERIKAN APA YANG KAU BUTUHKAN."

Yang bertanya tertawa: "HUAHA HUAHA. HAHAU. HEHE. HOHEHE. HIHEHE. AHAK. AHAK WKWK. WKWK. KWKW. KWKW."

Percayalah itu tawa karena lucu bukan tawa kuntilanak.

Aku ikut tertawa.

Lalu setelahnya, berhari-hari aku menangis bertanya-tanya tentang aku, kamu, dia dan mereka.

26 DESEMBER 2004.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer bayonet
bayonet at ORANG HILANG (2 years 13 weeks ago)

astaga gw kira cerita fiksi