Pedang Bermata Dua

Sikap Risky terhadap adiknya berubah-ubah. Kadang sayang, kadang benci. Kadang ingin memeluk, kadang ingin membanting.

Yang pasti, ia tidak ingin menghancurkan kepercayaan anak itu kepada dirinya. Ia tidak mau bertambah orang yang mencela dirinya.

Apalagi, selama ini, justru adiknya lah yang selalu memberikan kesempatan kedua untuk dia. Bukan, bukan kedua. Tapi kesekian. Seperti kali itu.

Pintu kamarnya membuka. Risky menoleh ke belakang. Ia mendapati adiknya mengintip dari balik kosen pintu, takut-takut. Belum lama, anak itu kena luapan amarahnya lagi.

Tangannya bergerak, mengisyaratkan adiknya untuk masuk. Adiknya mendekat ke sisi Risky, yang sedang duduk di balik meja. Risky mengambil kertas dan pulpen, lalu mulai menggambar.

Adiknya terbelalak mendapati yang digambar Risky, terus menatap antusias. Begitu Risky selesai, gambar itu diambilnya. Ia membawanya keluar kamar, berlari-lari dan berteriak-teriak.

“Mama! Liaaat! Satria Baja Hitam!”

Begitu mudah membahagiakan anak itu.

Tidak seperti orang tuanya.

“IKIII! BUKANNYA BELAJAR, MALAH GAMBAR-GAMBAR!”

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post