Sebuah Ketakutan

Oh, God! Please, I can’t do this.

 

Bunyi suara seorang perempuan setengah menangis—yang dibarengi dengan sepenggal musik bernuansa tegang—terpancar dari balik dua buah sepiker yang mengapit televisi berlayar datar di salah satu meja panjang dalam sebuah ruangan berukuran kurang lebih lima belas meter persegi. Dari balik layar televisi itu sendiri saat ini sedang menayangkan sebuah adegan di mana seorang laki-laki yang sepantar dengan perempuan tadi memegang kedua bahu perempuan itu dan berusaha memberikan kalimat penyemangat.

 

"I know you can do it. I believe in you! We can win that one million dollars."

 

Seusai mengusap air mata di pipinya, sang perempuan itu berjalan mendekati tepian jembatan yang berada cukup tinggi dari sungai di bawahnya. Kedua tangannya memegang kencang-kencang tali pengaman yang melingkari erat di tubuhnya itu. Dipandu hitungan mundur oleh salah seorang petugas, perlahan ia menjatuhkan badannya ke depan dan berteriak sekuat tenaga.

 

I’ll never do this again in my life!” seru perempuan itu selagi tali elastis yang terpasang di kedua kakinya melontarkan tubuhnya naik dan turun berulang kali.

 

Di seberang layar televisi, Tampak Elisa tengah menonton tayangan yang ada sembari duduk santai di sofa: melipat kedua kaki, menyandarkan kepala pada bahu seorang pria di samping, dan memeluk sebungkus makanan ringan berukuran besar di pangkuannya. Sambil mengunyah sekeping keripik kentang yang baru saja diambil dari bungkusan itu, ia pun berkomentar, “Ah, kalau gue jadi dia, gue malah bersyukur bisa nyobain bungee jumping kayak gitu.”

 

Seriusan?” tanya Rama, pria yang bahu kanannya saat ini dipakai sebagai pengganti bantal oleh Elisa. “Kalau misal tiba-tiba talinya putus bagaimana? Kamu enggak takut?”

 

“Kalau putus, ya udah takdir berarti. Ngapain harus takut?” jawab Elisa yang dilanjutkan dengan tawa kecil.

 

“Yah, masalahnya enggak sedikit orang di dunia ini yang takut dengan ketinggian. Contohnya si peserta itu.”

 

“Iya, sayang banget. Mestinya tadi si partnernya aja yang ambil tantangannya,” tutur Elisa seraya menegakkan badan, mengambil segelas minuman bersoda yang ada di sebelah kanannya, menyeruput minuman itu dengan sedotan di tengahnya, dan kembali menyandarkan kepalanya di bahu Rama. “Ngomong-ngomong, elu sendiri takut ketinggian, enggak?”

 

“Kurang tahu juga, ya. Soalnya jarang juga dihadapkan pada situasi seperti itu. Sekarang aku bisa saja bilang kalau aku berani untuk nyobain bungee jumping, tapi kalau sudah di tempatnya, belum tentu berani juga. Dan kurasa banyak orang yang seperti itu,” jawab Rama sambil menjumput dua keping keripik kentang di pangkuan Elisa.

 

“Kalau fobia yang lain ada?”

 

Rama terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan itu dengan lirih. “Eng ... kayaknya enggak ada sih.”

 

Elisa seketika menegakkan badannya. Ia menatap lurus ke pria yang matanya masih terpaku pada layar televisi. Baru saja ia menerima beberapa sinyal yang membuatnya sedikit skeptis dan perlu menanyakannya lebih lanjut: suara kunyahan yang sempat terhenti, gerakan otot bahu yang sedikit menegang, dan verba filler yang diikuti dengan intonasi suara yang pelan.

 

“Ah, bohong! Elu pasti punya fobia yang lain, kan?” tanya Elisa, penasaran, sambil memukulkan bantal sofa ke wajah Rama.

 

“Aduh, iya, iya ... aku jawab. Tapi jangan ditertawakan, ya.” jawab Rama sambil memindahkan bantal yang dipukulkan padanya itu ke sisi lain sofa. Melihat Elisa yang mengangguk-anggukkan kepala, tanda setuju, Rama seketika menggaruk-garuk kepalanya dan membuang muka ke samping, menghindari tatapan mata Elisa yang sedang berbinar-binar itu. Sedetik kemudian, ia pun melanjutkan, “Aku ... sebenarnya cukup takut dengan serangga.”

 

Seolah lupa dengan janjinya barusan, Elisa tertawa terpingkal-pingkal mendengar jawaban itu. Sekali lagi Rama menerima bantal sofa lain yang dilemparkan Elisa ke kepalanya. Namun, kali ini ia biarkan bantal itu terjatuh ke karpet di lantai.

 

“Badan doang tinggi, tapi sama serangga yang kecil aja takut,” ujar Elisa, di sela-sela tawanya. Dengan perawakan yang cukup tinggi namun kerempeng, Elisa sama sekali tidak mengira kalau pria yang baru dikenalnya satu tahun belakangan ini mempunyai ketakutan terhadap serangga.

 

“Ah, kamu ini. Kan sudah kubilang jangan ketawa. Lagian enggak heran kok kalau ada cowok yang takut dengan serangga. Apalagi kecoak terbang. Kamu tahu ruang database di lantai tiga yang sempit itu? Pernah suatu ketika kami di sana ada enam orang, cowok semua. Kami lagi asyik kerja dan tiba-tiba ada yang teriak, ngasih tahu kalau ada kecoak. Awalnya sih semua pada santai saja, tapi begitu kecoak itu mulai terbang, beuh ... itu semua cowok satu ruangan langsung pada teriak sambil lari-larian. Panik. Apa saja yang ada di meja dilempar dan kami semua berebut keluar ruangan. Let me tell you: it was a hell.

 

Gelak tawa Elisa makin menjadi-menjadi tatkala membayangkan situasi menggelitik yang diceritakan Rama barusan, sampai-sampai ia memegangi perutnya dan sesekali mengusap air mata yang berulang kali menggenangi kelopak matanya.

“Oke, oke. Gue percaya, gue percaya. Aduh sampai sakit perut, mau kencing.” Elisa pun berdiri dan melangkah ke arah belakang sofa. “Gue pinjam kamar mandinya, ya.”

 

“Ah, iya. Santai saja. Enggak usah kayak orang baru di sinilah,” sahut Rama yang juga beranjak dari sofa begitu menyadari posisi kedua jarum pada jam dinding di atas televisi, berpindah menuju ke sudut lain ruangan yang merupakan sebuah dapur mini. “Ngomong-ngomong, kamu mau makan apa?” tanya Rama seraya membuka pintu kulkas.

 

Hmm ... terserah deh. Tapi jangan yang terlalu berat, soalnya baru aja ngemil snack.”

 

Seusai memberikan jawaban, Elisa menutup pintu kamar mandi hingga terdengar suara “klik” dari pengunci pada kenop pintu. Rama pun memberikan sahutan “Oke!” dengan suara yang agak dikeraskan sebagai afirmasi sembari melihat-lihat bahan makanan yang tersisa di dalam lemari pendinginnya.

 

Di dalam kamar mandi, Elisa masih berusaha menahan tawa dari apa yang tersisa di bayangan pikirannya selagi bersandar pada pintu.

 

Heh, takut serangga, ya?” ucap Elisa pelan. Sejurus kemudian berbagai skenario usil untuk mengerjai teman dekatnya itu memenuhi alam imajinasinya. Mulai dari mainan plastik berbentuk serangga, hingga serangga betulan. Ia pun tersenyum kecil ketika membayangkan setiap ide menarik yang terlintas dalam pikirannya itu. Pokoknya, siap-siap aja, ya, Ram, tambahnya dalam hati.

 

Setelah puas bermain dengan imajinasi dan urusannya di kamar mandi, Elisa memutar keran wastafel dan mengguyurkan setangkup air di tangan ke wajahnya. Masih dengan wajah yang basah, ia mengambil lap wajah yang tergantung di samping wastafel dan mengusap-usapkannya ke muka sambil memandang lurus ke arah cermin—berukuran kira-kira sebesar komputer tablet yang biasa ia gunakan—yang sengaja sudah ia persiapkan untuk dibawa sebelumnya. Biasanya ia selalu menyimpan cermin yang berukuran jauh lebih kecil ketika bepergian. Namun untuk hari ini ia merasa perlu menyiapkan sesuatu setelah menyadari apa yang belum tersedia dari pengalamannya datang ke apartemen Rama sebelumnya.

 

Rama, yang baru saja selesai menyiapkan hidangan untuk Elisa, menyodorkan piring berisi setangkup roti lapis dan beberapa potongan buah avokad kepada Elisa yang baru saja keluar dari kamar mandi. “Maaf, ya, malam ini cuma ada ini. Kamu datang tiba-tiba sih. Aku belum sempat belanja.”

 

“Wow, ini aja udah cukup kok. Makasih, ya!” ujar Elisa seraya menyambar piring itu dan kembali duduk di sofa, mengganti saluran televisi yang kini tengah menampilkan gambar sebuah rumah tua di malam hari. “Oh, iya. Gue ninggalin sesuatu di wastafel. Gue rasa elu bakal butuh itu,” kata Elisa sambil mengunyah bagian ujung roti lapis yang baru saja ia gigit sedetik sebelumnya.

 

“Eh, memangnya kamu bawa apa?”

 

Setelah mencuci tangan di tempat cuci piring, Rama—dengan rasa setengah penasarannya—langsung menuju ke kamar mandi. Hanya berselang sekitar lima sampai sepuluh detik dari suara keran air dimatikan di dapur tadi, Rama berlari keluar dari kamar mandi sambil berteriak hebat. Di sisi lain, Elisa yang sedang menyeruput minuman bersodanya sempat tersedak saat mendengar seruan yang tak diduga-duga itu. Di sampingnya kini sudah ada Rama yang menelungkupkan mukanya di salah satu bantal dan melipat kedua kakinya di atas sofa.

 

“Lah, elu kenapa?”

 

Meski ditanya seperti itu, Rama tidak menjawab. Tubuhnya terlihat bergetar seperti menggigil kedinginan—atau ketakutan. Penasaran, Elisa bangkit dan mengecek situasi di kamar mandi. Kalau saja ia menemukan kecoak atau serangga lainnya, mungkin hal itu sudah menjawab pertanyaannya tadi. Hanya saja ia tidak menemui sesuatu pun yang aneh di sana. Masih sama seperti kondisi saat ia tinggalkan beberapa saat yang lalu. Elisa kembali mengecek Rama. Pria itu masih tetap mematung di sofa, dengan lengan yang mulai dibasahi oleh keringat walau suhu di ruangan ini menurut Elisa tidaklah panas.

 

“Memangnya elu ngelihat apa sih barusan? Gue cek di kamar mandi enggak ada apa-apa kok,” ujar Elisa, berusaha menenangkan.

 

“Cermin,” jawab Rama pelan, masih dengan kepala yang tertutup bantal. Elisa mengerutkan dahi, heran sekaligus bingung. Belum sempat ia berkomentar, Rama sudah balik bertanya, “Kenapa ada cermin di sana?”

 

“Oh, maksud elu cermin yang ada di kamar mandi? Itu sengaja gue tinggalin di sini. Habisnya kalau gue perhatiin, ya, di apartemen elu ini enggak ada cermin sama sekali.”

 

“Bisa tolong disimpan lagi cerminnya?” pinta Rama. “Ada alasan tersendiri kenapa aku enggak punya cermin.”

 

Dari balik bantal, Rama merasakan bagian sofa yang legok karena diduduki Elisa kembali ke posisi semula. Tak lama, ia mendengar dengan samar suara Elisa yang berkata, “Udah gue simpan lagi, nih, cerminnya.” Setelah mendengar itu, Rama memberanikan diri untuk mengangkat bantal yang sedari tadi menutupi kepalanya.

 

Ketakutan hebatnya tadi membuat sekujur tubuhnya bergidik. Keringat dingin yang membekas di tubuhnya dapat terlihat jelas membasahi kaus yang ia kenakan, terutama pada bagian leher dan lengan yang pendek. Mendekap erat bantal sofa tadi juga membuat matanya sempat buram selama sekian detik sebelum akhirnya beradaptasi kembali dengan cahaya yang berpijar di ruangan. Begitu pandangannya sudah kembali normal, Rama mendapati Elisa berdiri di depan pintu kamar mandi, mengayun-ayunkan benda pipih seperti papan di tangannya itu layaknya sebuah kipas. Itu cermin yang dilihat Rama tadi.

 

“Jadi, elu takut sama cermin, Ram?” tanya Elisa disertai dengan seringai di wajahnya.

 

Rama yang baru saja mengatur napasnya kini kembali merasakan adrenalin yang kembali berpacu dalam dirinya. “Elisa ... apa pun yang kamu pikirkan sekarang, tolong hentikan!”

 

Alih-alih menuruti keinginan sang tuan rumah, Elisa malah mengarahkan bagian muka cermin di tangannya itu ke Rama sambil melepas tawa. Kesempatan. Tidak perlu menunggu lama dan mempersiapkan sejumlah properti tambahan untuk menakut-nakuti Rama, pikir Elisa. Melihat Rama yang membuang muka ke samping sambil berulang kali memohon, Elisa merasa tidak puas dan berusaha menjalankan rencana berikutnya. Dengan cepat ia mengambil langkah mendekati pria di depannya itu yang juga ikut mengambil langkah ke arah yang berlawanan untuk menghindari kejarannya.

 

Tidak butuh waktu yang cukup lama bagi Elisa untuk mengejar Rama di ruangan yang tidak begitu luas ini. Elisa berhasil menangkap ujung kaus Rama sebelum pria itu berhasil masuk ke kamar tidurnya. Tersandung, keduanya pun terjatuh ke lantai. Elisa berhasil bangkit lebih dulu dan seketika menduduki punggung Rama yang masih kewalahan mengatur napas.

 

“Baiklah, aku menyerah,” kata Rama, masih dengan napas yang terengah-engah.

 

“Jadi, sebenarnya elu itu bukannya takut sama serangga, tapi sama cermin, ya?” tanya Elisa, setengah tertawa lega. “Kenapa enggak bilang dari awal aja? Tahu begini kan enggak gue keluarin ini cermin.”

 

“Bukan soal cerminnya,” jawab Rama. “Tapi soal bayangannya. Aku tak boleh melihat pantulan wajahku sendiri di cermin.”

 

“Elu takut sama muka elu sendiri? Padahal elu enggak jelek-jelek amat kok.” Sejauh ingatan Elisa, ia tidak pernah menemui laki-laki yang tidak suka melihat dirinya sendiri di cermin. Bahkan aneh kalau ada orang—terlepas dari gender orang tersebut—yang tidak mau bercermin.

 

“Kau tidak mengerti,” sangkal Rama. “Sesuatu yang buruk mungkin akan terjadi.”

 

“Ah, ada-ada saja.” Elisa akhirnya memutuskan untuk berdiri dan mengambil dua langkah ke belakang, membiarkan Rama bangkit membelakangi Elisa dari posisi telungkupnya tadi. “Baru kali ini gue kenal orang yang takut banget sama cermin, atau bayangannya sendiri. Elu enggak pede aja kali?”

 

“Soal itu ... anggap saja aku seperti peserta di TV yang tidak berani melompat tadi,” kata Rama tanpa membalikkan badannya sedikit pun.

 

Dari belakang, Elisa hanya mampu melihat pria di depannya itu memeluk erat kedua lengannya seperti sedang menggigil. Apa pun itu, Elisa merasa ketakutan Rama ini cukup serius. Tanpa berpikir lebih jauh, Elisa melingkarkan kedua tangannya di pinggang Rama. Perlahan, ia bisa merasakan otot-otot kecil di tubuh yang tegang itu mulai mengendur relaks.

 

“Maaf, ya, gue udah bikin elu ketakutan setengah mati begitu. Gue ini teman yang buruk, ya?” Keduanya terdiam sejenak. Suara yang terdengar hanyalah suara iklan yang sedang diputar di televisi. Meski tidak mendengar jawaban atau pun melihat wajah Rama secara langsung, Elisa masih dapat mendengar pria itu menghela napas yang agak panjang.

 

“Sudahlah, tak usah dipikirkan. Aku hanya minta tolong kamu simpan lagi cermin itu, setidaknya untuk malam ini.”

 

Kali ini Elisa mengiakan permintaan Rama itu. Dikendurkannya kedua tangan yang melingkar di pinggang Rama dan Elisa pun berjalan menghampiri tas tangan miliknya yang tergantung di sederet gantungan yang menempel pada tembok di samping pintu masuk, selagi Rama hanya bisa terpaku memandangi punggung wanita yang tak sanggup ia benci itu.

 

Ketika baru setengah jalan menuju arah pintu masuk, Elisa menghentikan langkahnya dan berkata, “Ram, bisa ke sini sebentar?”

 

Rama tersentak dari lamunan singkatnya dan perlahan berjalan ke arah Elisa. Tanpa menyadari ada sesuatu yang janggal dari nada bicara Elisa, Rama mendapati wajahnya yang cukup payah dan berantakan terpantul dari balik cermin berbentuk persegi panjang yang dengan cepat diulurkan tepat di depan wajahnya. Matanya mengunci begitu tajam pada sosok yang terpantul di sana, hingga ia tidak menyadari senyuman licik yang tersimpan di wajah Elisa saat itu.

 

“Kalau enggak karena dipaksa, sampai kapan pun elu enggak bakalan sembuh dari fobia elu ini. Lihat, aman-aman aja kan?” ujar Elisa sambil tersenyum kecil.

 

Selang beberapa detik kemudian, Elisa masih belum menerima respons apa pun. Ia berharap Rama akan berkata sesuatu, atau paling tidak berteriak seperti tadi, namun begitu ditariknya cermin yang ia ulurkan tadi, ia malah mendapati air muka Rama yang jauh lebih pucat dari sebelumnya. Air keringat kembali membasahi wajahnya. Kedua bola matanya terbelalak. Bibirnya yang setengah terbuka terlihat bergetar seperti ingin mengucap sesuatu namun tertahan oleh sesuatu yang tak diketahuinya.

 

Elisa mengayun-ayunkan telapak tangannya di depan wajah Rama seraya bertanya, “Hei, Ram, elu baik-baik aja kan?”

 

“E ... lisa. Cepat ... pergi.”

 

Suara patah-patah yang terdengar dari mulut Rama terdengar berat dan serak, diikuti dengan tatapan dari kedua bola mata yang perlahan berubah memerah. Menyadari ada yang tidak beres, Elisa spontan menarik badannya ke belakang. Meski perintah Rama tadi terdengar jelas di telinganya, Elisa masih belum sanggup bergerak dari tempatnya. Antara takut dan bingung.

 

Tak lama berselang, Rama memegangi kepalanya dengan kedua tangan, menunduk sambil berteriak parau. Hal itu diikuti oleh perubahan nyata pada fisik Rama yang tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Elisa. Perubahan itu diawali dengan rambut-rambut lebat yang bermunculan menutupi sekujur tubuh, kemudian diikuti oleh kuku di ujung jari yang memanjang, daun telinga yang meruncing, hingga sederet gigi yang berubah membesar layaknya taring hewan buas.

 

Tak kuasa menyaksikan apa yang terjadi di depan matanya, Elisa terduduk lemas. Cermin yang dipegangnya erat tadi lolos dari genggamannya dan ikut terjatuh hingga terdengar bunyi prang yang cukup keras. Namun suara cermin yang pecah itu tidak ada artinya dibandingkan dengan suara lolongan yang memekik telinga, bergaung di seisi ruangan. Syok, Elisa sampai tidak bisa mengenali dari mana asal suara itu. Ia masih berharap kalau suara itu berasal dari tayangan di televisi, bukan dari sosok menyeramkan yang tatapannya kian menusuk itu. Di malam itu, Elisa mendapatkan sebuah ketakutan baru yang akan terus menghantuinya entah sampai kapan.

 

~ *** ~

Fin

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post