Dalam Celana Dalam

"DALAM CELANA DALAM"

"Apa kau sudi menjadi perawan tua?"

SETELAH jauh berjalan, mengusung usia untuk kesetaraan jender, tiba-tiba hatiku luruh berserakan disapu sepi. Selain usia yang sudah berkepala empat, nasehat ibu akhir-akhir ini benar-benar menusuk jiwaku. Luka dan menganga.

Sejujurnya, aku merasakan sudah waktunya memiliki pendamping hidup. Jadi istri dari seorang suami yang mengayomi dan pengertian dengan keadaanku saat ini. Apakah ada laki-laki yang mau singgah di hatiku? Hingga saat ini, itulah yang tidak terjadi. Tersebab aku membenci laki-laki. Lihatlah ayah yang mengkhianati ibu. Kawin lagi dengan wanita seusiaku waktu di SMA. Dari situ berawal benci beranak pinak menjadi beku membatu.

Demikianlah, selama ini aku menutup kesempatan semua laki-laki yang mencoba iseng ataupun serius merayuku. Bisa jadi, ini membuat aku tak punya dan tak pernah ada teman laki-laki yang dekat dan serius. Aku merasakan mereka sama. Sebagai kolega, rekan kerja dan semacamnya. Mereka amat segan dengan profesiku sebagai aktivis perempuan, memiliki visi dan perjuangan yang jelas terhadap kaum perempuan. Apakah mereka tidak melihat aku sebagai wanita yang juga butuh sentuhan laki-laki? Hingga saat ini, itulah yang tidak terjadi.

"Ana, apa yang kau cari? Kuliah sudah menamatkan S2. Mobil, rumah dan kebutuhan hidup sudah terpenuhi. Jabatan sudah kau dapati, nama besar sudah kau raih. Sudah waktunya kau punya suami. Aku ingin mengendong cucu. Kapan lagi? Ibu sudah semakin tua."

Dek! Ibu tampak serius. Biasanya hanya menyindir dan bergurau saja. Sekarang suaranya mantap dan harap. Kalimat itu seperti belati yang menghujam jantungku. Sakit sekali.

Jangankan punya calon suami, kekasih saja tidak ada. Sehari-hari aku tak pernah memikirkan itu. Aku bekerja meniti karier dan memperjuangkan kepentingan kaum perempuan. Memang, kepentingan pribadi terbengkalai untuk itu. Bukankah perjuangan butuh pengorbanan?

Ah ibu, selama ini aku memang alpa untuk yang satu ini. Bu, maafkan anakmu. Aku memang tak pernah hadir sebagai wanita pemikat atau paling tidak sebagai wanita yang membutuhkan laki-laki. Bukan soal aku tak terlalu cantik, tapi memang pemikiran dan pendidikanku mengajarkan agar aku tampil sebagai wanita yang tegar dalam memperjuangkan segenap visi dan misi sebagai aktivis perempuan.

"Ibu tak mengerti, apa yang membuatmu tak ada impian untuk hidup berumah tangga? Seperti impian semua wanita. Apakah semua wanita karier dan sukses akan sepertimu?"

Ibu aku ajak ke kota sejak ayah pergi entah ke mana beberapa tahun silam. Sehari-hari ibu mengurus rumah bersama Bik Inah, pembantuku. Ibu dengan setia memasak makanan kesukaanku pada hari libur. Ibu juga mengurus keperluan-keperluan hidupku. Sepertinya aku salah, memperlakukan ibu sebagai pembantu. Tapi ibu tak merasakan sebagai pembantu. Ia melakukan itu karena ia sayang kepadaku.

"Sudah beberapa tahun Ibu di sini, tak pernah aku melihat ada laki-laki yang mengunjungi pada malam Minggu. Apakah kau tak mau mengenalkannya kepada Ibu?"

Dup! Kali ini pertanyaan ibu tepat pada sasaran. Tepat pada ulu hatiku. Berdarah. Rasa bersalah keluar dari situ. Entah mengapa, di depan ibu aku tak mau menyatakan apa yang selama ini aku lakukan, berjuang melawan hegemoni laki-laki.

"Aku tak punya teman laki-laki, Bu," ujarku memberanikan diri.

"Ah, Mariana, masak tak ada. Orang secantik dan seanggun kamu, mana mungkin tidak menjadi perhatian laki-laki. Kau saja yang tidak pernah memikirkannya."

Ibu menyodok kembali ulu hatiku.

"Teman laki-laki banyak. Tapi tak ada yang serius ke arah itu," jawabku kalah.

Ah ibu, anakmu ternyata tak punya selera romantis. Mungkin sudah mati menemui ajal karena kesibukan sehari-hari dan tidak pernah aku beri makan. Aku memang tak membutuhkannya.

Sejak SMP hingga SMA, aku dikenal sebagai gadis tomboi. Temanku banyak laki-laki daripada perempuan. Ayah dan ibu kadang-kadang memperingatkan agar mengurangi aktivitasku dengan anak laki-laki. Tapi aku tak menggubrisnya. Aku jalani saja semauku dan sebebas merpati. Sesering peringatan itu datang, sebanyak itu pula aku tingkatkan intensitas pergaulanku dengan laki-laki.

Aku tak menemukan cinta monyet. Aku lebih gila dari cinta monyet. Amat banyak teman laki-laki yang memeluk, mencium, dan merabaku. Aku membenci nafsu mereka tapi aku butuh mereka, tanpa mereka aku tak punya teman. Teman perempuan kadang-kadang terlalu manja dan romantis. Aku muak. Karena dengan pergaulan sehari-hari, aku amat tahu siapa sebenarnya makhluk laki-laki, sedikit lebih baik dari seekor anjing. Mau buktinya, lihatlah ayah yang kawin lagi. Bacalah koran, ada ayah yang membuntingi anak gadisnya. Dan, ternyata, rahasia seorang laki-laki amat murah dicari. Laki-laki amat lemah dan tak mau jujur dengan kelemahannya. Laki-laki tak akan kuat dan besar kalau tidak ada perempuan. Menutup kelemahan itulah mereka menjajah perempuan. Aku tak mau dijajah laki-laki tapi aku kini butuh laki-laki.

Sampai buah dadaku ranum dan ada sesuatu yang mengalir dari dalam celana dalamku aku masih seperti itu. Hanya saat kuliah aku mencoba untuk lebih feminim. Lebih-lebih setelah kuliah, menjadi dosen, jadi aktivis perempuan, aku sudah sangat feminim. Tetapi, terus terang, aku tak berminat dengan laki-laki. Sungguh. Kalaupun ada laki-laki yang berminat kepadaku, aku tolak dan kalaupun mereka macam-macam merayuku, mereka menyesal sendiri. Lidahku akan mengeluarkan api sampai mereka mundur teratur.

Semenjak ungkapan-ungkapan ibu masuk ke telingaku, ada yang luka pada tubuhku. Jantung dan hatiku berdarah. Mengalir ke dalam celana dalamku. Ia tak basah, tapi membuatku gatal. Kadang juga membuatku binal dan bertingkah nakal. Ini membuat gairah yang berbeda, bukan gairah untuk mengajar, menjalankan tugas, tapi entah apa namanya. Tiba-tiba aku ingin memakai lipstik tebal. Ingin merokok. Duduk di tepi jalan. Aku ingin mencobanya beberapa kali. Tapi takut-takut.

Aku juga sering melamun sembari menggosok tanganku ke selangkangan. Pada waktu seperti itu, semua jadi terbalik, aku benci jabatan, aku benci profesi yang selama ini menjadi bagian hidupku dan teman-teman. Aku gatal. Seperti ada tekanan pada kodratku sebagai seorang perempuan, butuh belaian laki-laki pada detik-detik tertentu. Aku tak sanggup hidup sendiri. Amat sepi. Dan aku memanggil dan membayangkan siapa saja asalkan laki-laki untuk merabaku. Tak perlu ia seorang kepala negara, bintang film atau lainnya. Mereka meraba sesuatu dalam celana dalamku. Aku biarkan liar nalar berkobar agar segera menjadi kenyataan kenikmatan seperti selapis gelap menghadangnya. Aku ingin meraihnya. Setelah mendapatkannya, aku menyesalinya, membuangnya jauh-jauh dengan segenap kebencian, muak dan jijik. Puih!!

Di kamar mandi, aku telanjang dan menikmati lekuk indah tubuhku yang ranum dan nyaris kelewat matang. Tapi aku tetap bangga pada tubuhku. Sayang, aku dipeluk kesepian hingga membuatku benci pada diri sendiri. Benci sekali.

"Apa kau sudi menjadi perawan tua?" kata ibu suatu waktu.

Ah ibu. Terlambat ibu mengingatkan aku. Sudah tak ada lagi kepastian tentang laki-laki yang mau singgah di peraduan ini. Ada sesal menghujam tubuhku berkali-kali. Membuat aku menggelinjang hebat. Mereka menghujamku berkali-kali. Benarkah perjalananku selama ini? Kenapa aku begitu rapuh? Apakah semua perempuan merasakan seperti ini? Apakah semua aktivis perempuan seperti ini? Auh! Aku tak kuat.

Tubuhku luka. Mengalirkan darah ke dalam celana dalamku. Melimpah ruah dan menetes ke lantai. Aku cemas. Tapi ada kenikmatan dari aliran-aliran itu. Aku biarkan saja agar bisa melepas kebingungan dan kesepian.

"Apakah kau tak butuh laki-laki?" Suara ibu datang entah dari mana masuk ke telinga membuat tubuhku merekah, membelah, menganga, aku memejamkan mata. Aku merasakan kematangan jiwa dalam kearifan dan kemunafikan. Mengigil menuju puncak keabadian entah di mana. Nikmat sekali.

"Ah, Ibu, maafkan aku," ujarku sambil melepas tanganku dari dalam celana dalamku.

Tiba-tiba ibu muncul dengan senyuman paling sempurna sembari memperhatikan tingkah polahku. Aku amat malu. Uh!***

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer amelia07
amelia07 at Dalam Celana Dalam (15 years 10 weeks ago)
80

vulgar tapi asik, ada cerita yang lebih sakit lagi gak...?

Writer mey
mey at Dalam Celana Dalam (15 years 10 weeks ago)
50

kalo kubilang,,

bahasanya ga terlalu vulgar kok
[nanggepin komen farah]

dibilang merawanin diri sendiri,,
Qu jadi bertanya2,
sebenarnya tidak perawan itu, uda pernah "gituan" ama cowo, ato sekedar robeknya "itu"
[alah...!!]

^^

Writer heripurwoko
heripurwoko at Dalam Celana Dalam (15 years 16 weeks ago)
80

Jadi gmn gitu. apalagi bacanya udah tengah malam. hehe,....

Writer Azarya Mesaya
Azarya Mesaya at Dalam Celana Dalam (15 years 18 weeks ago)
10

salam kenal. Aku belum menemukan realitas fiksi dalam cerita ini. Ok, misalnya tanpak nyata atau berdasar kisah nyata, but tak kutemukan dunia berkabut di sini. Bahkan eksplorasi tentang seks dalam urusan ini nyaris tak ada estetika, yang ada hanya bentuk pengakuan yang malah menurutku terlalu dipaksakan. Kayanya butuh referensi bacaan yang bagus, cobalah baca "Pengakuan Pariyem" nya Linus Suryadi.

Writer anty
anty at Dalam Celana Dalam (15 years 18 weeks ago)
40

jujur sekali

Writer Farah
Farah at Dalam Celana Dalam (15 years 20 weeks ago)
50

pertanyaan aku sama nih ma kamelita, penjahat tuh cowok yg berbicara ttg cewek ato cewek yg feminis??? klo memang feminis, ko ga berasa kekuatan feminisnya yah? tapi justru yg ditampilkan adalah kelemahan perempuan yg butuh belalai (ups,,,belaian maksudnya ;p) laki2.
...
yep,emang kata2 di cerpen ini vulgar, dalam arti ko terlalu blak-blakan bgt yah, jadinya aku ngeliatnya bukan karya seni, tapi semacam stensilan (maap yah honey)...
...
soal judul sih aku gak terlalu masalah,bikin penasaran bow ;p.
ada lagi neh (idem ma vivaldi), masak sih para laki2 itu gak pernah nyoba untuk 'masuk'? n masa sih pertahanan si 'aku' sebegitu kuatnya sampe ga pernah ngijinin, sedangkan pertentangan batin dlm cerpen ini jelas2 ngasih tahu kalo si 'aku' sangat butuh laki2 sampe dia merawanin dirinya sendiri (sounds impossible to me) huehue,,,
...
but,,,but,,,ada but nya neh,,,asli ide kamu bagoooouuuuwwwwssssss,,,apalagi yg kejadian dia merawanin dirinya sendiri supaya pertanyaan2 sang ibu gak ngebebanin dia (gileeeeeeeee),,,cuman kurang indah ajah kemasannya. ganbatte

Writer k4melita
k4melita at Dalam Celana Dalam (15 years 20 weeks ago)
70

Penjahat ini cowok yg memandang dari segi cewek, atau emang cewek? ^_^
hidup feminisme.

Writer ilmastory
ilmastory at Dalam Celana Dalam (15 years 20 weeks ago)
50

ah gak semua feminis...
ah, gak semua aktivis perempuan seperti itu...
tapi, setuju, judulnya agak 'gak enak'... boleh tuh..untuk cerpen yang dibuat pertama kali...
tetep semangat yuh! ciaaaooouuu!!!!

Writer v1vald1
v1vald1 at Dalam Celana Dalam (15 years 20 weeks ago)
70

Well, tidak juga menohok kaum feminis. Karena karakter di tulisan ini masih ambigu dengan feminitasnya. Dia bilang:
"Tersebab aku membenci laki-laki. Lihatlah ayah yang mengkhianati ibu. Kawin lagi dengan wanita seusiaku waktu di SMA. Dari situ berawal benci beranak pinak menjadi beku membatu."
Tetapi dia juga yang bilang:
"Aku lebih gila dari cinta monyet. Amat banyak teman laki-laki yang memeluk, mencium, dan merabaku. Aku membenci nafsu mereka tapi aku butuh mereka, tanpa mereka aku tak punya teman."
Dan ambiguitas ini jelas terlihat dari beberapa kalimat ambigunya: antara "merasa" benci laki2; tetapi "membiarkan dirinya dibelai"
---(Pembenci laki2 sesungguhnya akan jijik pula dengan belaian laki2 meski tidak harus juga menjadi lesbi/bi)---
Mengenali karakter ini siapa (bukan feminis jelasnya) tergambar pada kalimat ini:
"Apakah ada laki-laki yang mau singgah di hatiku?"
Si karakter hanyalah seorang wanita yang traumatis, yang berlindung di balik kedok "benci terhadap laki2"nya sebagai alasan untuk tidak menikah; padahal sesungguhnya, ia hanya takut "sakit" karena sebuah komitmen dalam lembaga yang memang mengekang kebebasan individulis (yang tentunya egoistic pula)itu.
--
Komen Meier hampir seia sekata denganku kalo soal penggunaan kata2 vulgarnya.
--Namun ide cerita; dengan "darah perawannya" bagus--
But "Penjahat", selaput daranya rentan sekali ya? Dengan jari sudah "bocor"? Pasti jarinya tidak satu!:P Dan membiarkan laki2 hanya "meraba" tanpa sedikit niat untuk "masuk"? Masaaak sieeeh...!

Writer KD
KD at Dalam Celana Dalam (15 years 20 weeks ago)
100

mengulang kata 'darah' beberapa kali, dimana masing-masing artinya tidak sama; pembaca jadi agak mikir nih.

Namun kalau tujuanmu untuk menohok para feminis, mungkin itu agak tersampaikan.

Writer Valen
Valen at Dalam Celana Dalam (15 years 20 weeks ago)
60

Bingung. Antara terangsang dan ngeri membayangkan darah yang keluar. Jadi mengurangi kenikmatan bacanya.

Writer Super x
Super x at Dalam Celana Dalam (15 years 20 weeks ago)
50

?_? - aktifis - masturbasi - seks - nikah - ?_? cerita lumayan namun judul terkesan murahan :) ada yg bergejolak di balik celana dalam ketika membacanya. lol

Writer meier
meier at Dalam Celana Dalam (15 years 20 weeks ago)
30

datar...idenya bagus cm eksekusinya buruk. kalimat kalimatnya vulgar pdhl menurut g cerita ini harusnya eksotis, sexy.maaf ya, g berharap lebih saat membacanya...tp sayangnya gitu deh.