Read1 dan Read2 (Ridwan dan Ratu)

R1

Maret tahun lalu aku merayakan pesta kecil di sebuah pantai tanpa nama. Bersama kamu yang tak pernah memandangku dengan angkuh seperti saat ini. Kamu yang selalu bertanya kenapa, bagaimana dan apapun tentang diriku.

Tentu kaupun tak pernah menyangka kalau kita akan menjadi musuh bebuyutan di masa depan. Mencari kesempatan saling menghancurkan. Sama-sama kerja dan bukan bekerja sama seperti Maret itu.

Darah segar tak pernah berhenti mengalir bersama anyir dendam kita. Sepertinya maaf bagai dongeng anak-anak tanpa relevansi sekarang. Berlanjut sampai kapan? Entahlah.

Mungkin selamanya.

Kalau boleh jujur, aku sekarang sudah lelah dan tak lagi berharap apapun kecuali kembalinya persahabatan. Aku benar-benar lelah.

Kalau kau mau, sekarang juga hentikanlah semua nadiku, puaskan dendammu jika itu cukup.

Aku tunggu…

R2

Deburan ombak itu adalah saksi bahwa kita pernah tersenyum bersama, saling menghibur walau hanya dengan cerita. Tentang Azra buyutmu, tentang pedihnya luka hati, empu Prapanca dan tanah Jawa.

Di tempat ini kau nyalakan Dji Sam Soe seusai melempari laut biru dengan batu. Setiap lemparan kau teriakkan dua kalimat syahadah. Untuk saksi nanti di alam sana, ucapmu ketika itu. Terang sekali kalau kau bahagia. Tak pernah aku membantah.

Tak pernah kukeluhkan keseharianmu yang penuh asap. Tak pernah. Meski betapapun mengganggunya kebiasaan itu. Tapi masa lalu hanyalah lalu yang takkan pernah terlahir kembali meski dalam sajian baru.
Kau sekarang adalah musuhku. selamanya

R1

'Mau menang harus tenang' adalah kalimatmu. Tentu kaupun mengingatnya. Aku bahkan masih melihatnya lekat dalam tatapanmu yang kokoh itu. Meski aku terlanjur menyukaimu, bukan berarti bersama ialah kebaikan yang sempurna.
Kau terlalu angkuh selaku wanita. Selalu berfikir bahwa seni itu absolutnya rasa sementara yang nyata hanyalah refleksi belaka. Kau selalu menghentikan seni hanya sampai tingkat konsep dan tak lebih.

Hingga kau membenci pertemuan, sanjungan, hadiah dan apapun dari cinta. Dan kita kemudian jarang bertemu, menyanjung, dan memberikan sesuatu yang berharga meski hanya kata sekalipun.

Bagimu cinta benda tak nyata, kau selalu menulisnya di rentetan waktu. Cinta di matamu adalah statis dan tak pernah jujur.

Diam.

R2

Ciuman itu yang menghentikan semua rasaku padamu. Kau pikir cinta itu apa?! Ciuman? Pertemuan? Pemberian? Aku pikir kau orang yang pandai Azura. Aku pikir jiwa asket yang dimiliki leluhurmu Azra bisa kutemukan dalam dirimu. Kau naïf Azura.

Aku menyukai namamu yang berarti biru, tapi aku tak pernrah suka sifatmu yang biru.

Kau tahu kenapa sifatmu biru? Biru adalah hal yang sering menipu demi menutup jejak warna lain yang lebih indah dan buruk. Tengadahkan mukamu, kau akan melihat biru di sana, tapi apa langit itu biru?

Tataplah lautan yang tampak biru, tapi coba kau ciduk airnya dengan tanganmu yang kokoh. Apakah air itu tetap biru?

Sibaklah biru Cermai dari Dusun Indramayu, bukankah ia juga tampak biru?
Lagi-lagi ia menipu.
Kau adalah komplotan penipu!

R1

Aku tak pandai memaknai, kau tahu itu. Kau benci aku yang acuh pada makna tersembunyi. Kau benci aku yang menutup halaman-halaman filosofi serta semua aksesorinya. Kau kesal akan pendeknya pikiranku pada fenomena.

Tapi herannya kau menyatakan iya saat kutanya cinta.

Tak kumengerti kenapa kau tiba-tiba berpaling membenciku setelah beberapa lama kita mengunyah bahagia bersama. Tak pernah kumengerti mengapa semua ini ada, kenapa tipis sekali pembeda antara cinta dan benci?

Dan kau membenci namaku yang terlalu banyak dipuja, Azura.

Kenapa Azura menjadi kesalahan? Dan kenapa ia menjadi alasan bahwa aku adalah palsu bahkan sampai cintakupun termakan olehnya. Kemudian kau menjauh. Menyilangi semua kebenaran rasa ini.

Salahkan aku karena Azura…

Salahkan aku karena Biru…

Padahal rumah, pakaian, dan semua aksesorimu serba biru. Bahkan julukanmu sendiri adalah bidadari biru. Oh, kenapa kau lantas begitu membenci biru?

Apa biru hanya metafora?

R2

Kemudian kau membanggakan bualan itu

R1

Kau lantas memusuhiku lewat kiriman pembunuh bayaran, berkali-kali. Tapi aku tidak mati. Aku tak menyerah sampai pertanyaan ini sampai ke telingamu: “Kenapa kau memusuhiku?”

R2

Tintaku habis, dendamku semakin bengis: “Aku membencimu karena dosa yang pernah kau rasa”

R1

Penaku jatuh sebelum kau memungutnya.

R2

Kebencian memuncak saat sebuah pena jatuh di depanku dan kupungut.

R1 dan R2

Huh! Mantanku…

Nashr City, 20 June 2007

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer nissa
nissa at Read1 dan Read2 (Ridwan dan Ratu) (13 years 4 days ago)
60

ok dech... saat ini aku memang dendam dengan mantanku

90

woow...salut sama gaya tulisanmu yang ini. so different, so unique. azura, kayanya aku ngerti kenapa kamu pernah bilang kalo karakter Dana di cerpenku terinspirasi sama kamu. entah kenapa, tiba2 aku bisa ngeliat karakter Dana di Ridwan. Azura, would u do me a favor? ada yang minta aku bikin versi sudut pandang Dana dari cerpenku yang "Sepotong Doa Buat Dana", tapi aku bener2 clueless sama karakter Dana sebenernya. Bisa kamu tolong aku bikin versi cerita itu dari sudut pandang Dana? plisss.....btw, sorry yah permintaan ini aku posting di sini. ga tau imelmu sih ;)

Writer brown
brown at Read1 dan Read2 (Ridwan dan Ratu) (13 years 27 weeks ago)
90

sangat berbeda dari tulisan2 yg pernah kubaca sebelumnya. aku sangat menikmatinya.

Writer Chatarou
Chatarou at Read1 dan Read2 (Ridwan dan Ratu) (13 years 27 weeks ago)
90

keren bok...
sebegitunya cinta menorehkan dendam...
gara Azura7 sih..

dimasrio at Read1 dan Read2 (Ridwan dan Ratu) (13 years 27 weeks ago)
80

I find it very different from anything i've read before. It's (almost) mindblowing.

Writer yoshe
yoshe at Read1 dan Read2 (Ridwan dan Ratu) (13 years 27 weeks ago)
60

jujur, aku bingung mesti bilang apa. mungkin karena aku ngga terlalu mengerti bahasa2 sastra. yang pasti, aku cukup merasa terhanyut akan keadaan kedua tokohnya.
tapi, mengapa cinta bisa begitu salah paham?

80

Sebagus ini.....Ratu dan Ridwan.R1 dan R2 itu ya.
Btw Azura itu nama sebenarnya siapa ya ?

Writer hege
hege at Read1 dan Read2 (Ridwan dan Ratu) (13 years 27 weeks ago)
70

tajam... dan menggigit